Selasa, 09 Mei 2017

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN DIRECTED READING ACTIVITY (DRA) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI AJAR “LAPORAN HASIL PENGAMATAN”



PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN DIRECTED READING ACTIVITY (DRA) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI AJAR “LAPORAN HASIL PENGAMATAN” 

Tri  Ekowati

Abstrak:  Penelitian Tindakan Kelas ini, bertujuan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Laporan Hasil Pengamatan”  Siswa Kelas VI SD Negeri Sukowono 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014 melalui Penerapan Strategi Pembelajaran Directed Reading Activity (DRA). Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan hasil belajar dari kondisi awal  ketuntasan belajar siswa baru 62% %, Pada siklus pertama meningkat menjadi 76  %, pada siklus  dua menjadi  90  %.

          Kata Kunci :  Strategi Pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) Dan Hasil   
                                  Belajar

PENDAHULUAN
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Karakteristik sangat dipengaruhi oleh sifat keilmuan yang terkandung pada masing-masing mata pelajaran. Perbedaan karakteristik pada berbagai mata pelajaran akan menimbulkan perbedaan cara mengajar dan cara siswa belajar antar mata pelajaran satu dengan yang lainnya. Ilmu Pengetahuan Alam memiliki karakteristik tersendiri untuk membedakan dengan mata pelajaran lain.
Pembelajaran akan berhasil apabila terjadi proses mengajar dan proses belajar yang harmoni. Proses belajar mengajar tidak dapat berlangsung hanya dalam satu arah, melainkan dari berbagai arah (multiarah) sehingga memungkinkan siswa untuk belajar dari berbagai sumber belajar yang ada. Ilmu Pengetahuan Alam sebagai disiplin ilmu dan penerapannya dalam masyarakat membuat pendidikan IPA menjadi penting. Struktur kognitif anak tidak dapat dibandingkan dengan struktur kognitif ilmuwan. Anak perlu dilatih dan diberi kesempatan untuk mendapatkan keterampilan-keterampilan dan dapat berpikir serta bertindak secara ilmiah.
Kualitas hasil pembelajaran Bahasa Indonesia dipengaruhi berbagai faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah strategi dalam proses pembelajaran  yang terjadi di dalam kelas. Proses tersebut menyangkut materi ajar  yang digunakan, kegiatan  guru dan  peserta didik, interaksi peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan guru, dan bahan  ajar,  alat,  lingkungan  belajar,  cara   dan  alat  evaluasi, serta kesesuaian dengan kebutuhan perkembangan peserta didik itu sendiri. Strategi pembelajaran sangat diperlukan untuk dapat memfasilitasi siswa dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa sehingga tujuan membaca dapat tercapai dengan optimal dan pada akhirnya hasil serta prestasi belajar siswa dapat meningkat.
Guru sebagai pelaku pembelajaran harus mempunyai metode-metode dan strategi yang variatif untuk membuat suasana belajar tidak membosankan bagi siswa yang nantinya akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar  siswa adalah melalui penelitian tindakan kelas.
Salah satu bidang aktivitas dan materi pengajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar yang memegang peranan penting ialah pembelajaran membaca. Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis, yang reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca, seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman baru (Darmiyanti Zuchdi dan Budiasih, 2001: 56).
Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek, yakni (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis (St.Y. Slamet, 2008). Keempat aspek tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam pengajaran bahasa. Keterampilan membaca dan menyimak merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat reseptif, sedangkan keterampilan berbicara dan menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif.
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis (H.G. Tarigan, 1986: 7). Membaca merupakan keterkaitan antara aktivitas fisik dan mental. Secara fisik membaca memerlukan indera penglihatan dan secara mental membaca memerlukan pemahaman dan daya ingat.
Adapun tujuan akhir dari membaca adalah untuk memahami isi bacaan, tetapi kenyataannya belum semua siswa dapat mencapai tujuan tersebut. Banyak anak yang dapat membaca secara lancar suatu bahan bacaan tetapi tidak memahami isi bahan bacaan tersebut (Mulyono Abdurrahman, 2003: 201).
Menurut Rahim (2005:44) Strategi Directed Reading Activity (DRA) adalah suatu strategi yang digunakan untuk memperluas dan memperkuat kemampuan membaca siswa. Strategi Directed Reading Activity (DRA) mempunyai lima komponen sebagai berikut:
1)      Motivasi dan pengembangan latar belakang. Guru berusaha membangkitkan minat membaca siswa pada suatu topik dengan membantu siswa menghubungkan mata pelajaran dengan pengalaman mereka sendiri atau dengan menggunakan alat peraga untuk membangkitkan minat pada pelajaran yang kurang akrab dengan siswa. Pada poin ini guru bisa menentukan apakah siswa mempunyai latar belakang pengalaman dan bahasa yang diperlukan untuk memahami cerita dan jika perlu anak mengembangkan konsep dan kosa kata baru sebelum mereka membaca cerita.
2)      Membaca cerita secara langsung (dalam hati dan bersuara). Sebelum anak-anak membaca cerita dalam hati, guru menyediakan tujuan pertanyaan (atau suatu petunjuk belajar) atau menolong siswa menentukan tujuan mereka sendiri (dengan menanyakan atau memprediksi) untuk mengarahkan kegiatan membaca mereka. Kegiatan membaca berikutnya adalah membaca nyaring jawaban mereka, untuk pertanyaan tuntunan jawaban, membaca nyaring untuk membuktikan atau menolak prediksi mereka. Kegiatan berikutnya adalah membaca nyaring bahan bacaan, yaitu anak membaca cerita dengan nyaring sesuai dengan intonasinya.
3)      Strategi atau kegiatan yang membangun keterampilan. Pada beberapa hal selama pelajaran berlangsung, guru menyediakan pengajaran langsung dalam satu atau lebih strategi atau keterampilan memahami.
4)      Latihan tindak lanjut. Anak-anak melatih (mempraktekkan) strategi dan keterampilan yang telah dipelajari. Dalam kegiatan ini anak-anak mengerjakan soal-soal latihan.
5)      Kegiatan–kegiatan pengayaan. Dalam kegiatan ini dapat dilakukan kegiatan menghubungkan cerita dengan seni, misalnya seni drama.

DRA sebagai salah satu jenis strategi pembelajaran, dalam pelaksanaanya memiliki langkah-langkah pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran dilakukan untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Langkah-langkah strategi pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) yang diuraikan oleh Ennes dalam Rahim, (2005:44), terdiri dari:
1)      Membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 secara heterogen.
2)      Guru memberikan wacana/ kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
3)      Membaca dalam hati wacana yang sudah disediakan oleh guru.
4)      Guru memonitor siswa selama membaca dalam hati.
5)      Siswa bekerja sama saling membacakan dan menanggapi isi materi bacaan/ide pokok dan ditulis dilembar kertas.
6)      Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok
7)      Guru membuat kesimpulan bersama dan memberikan penguatan terhadap tanggapan siswa dan memperluas gagasan-gagasan.
Kelebihan menggunakan strategi pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) adalah siswa mempunyai tujuan membaca yang jelas dengan menghubungkan berbagai pengetahuan yang telah dipunyai siswa sebelumnya untuk membangun pemahaman sebelum dan sesudah membaca. Kelemahan menggunakan strategi Directed Reading Activity (DRA) adalah kurang memperhatikan keterlibatan siswa berfikir tentang bacaan.
Dengan mengetahui pentingnya tujuan membaca maka kita perlu membiasakan budaya membaca dalam keseharian serta dalam proses pembelajaran perlu memperhatikan strategi pembelajaran yang digunakan sehingga kemampuan membaca siswa dapat dikembangkan secara optimal.
Berdasarkan hal tesebut diatas, peneliti yang juga sebagai guru bahasa Indonesia di kelas VI, mengadakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang selama ini masih relatif rendah, yaitu dari 29 siswa yang mencapai ketuntasan hanya 18 siswa atau sebanyak 62%, sehingga secara klasikal dinyatakan belum tuntas belajar.
Penelitian tindakan kelas adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif, dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik. Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar. Karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
Berdasarkan uraian diatas , maka permasalahan penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut : Penerapan Strategi Pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Laporan Hasil Pengamatan”  Siswa Kelas VI SD Negeri Sukowono 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember  ?
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan mengkaji tentang : Penerapan Strategi Pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Laporan Hasil Pengamatan”  Siswa Kelas VI SD Negeri Sukowono 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan bermanfaat :
a)        Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia,
b)        Bagi guru, dapat memperkaya strategi belajar mengajar dalam upaya meningkatkan melalui pencapaian hasil belajar siswa,
c)        Bagi Sekolah, dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan sebagai upaya untuk meningkatkan kualiatas guru dan siswa.
Agar tidak menimbulkan kerancuan dalam memahami judul maka peneliti menjelaskan bahwa  :
a)     Strategi Directed Reading Activity (DRA) adalah suatu strategi yang digunakan untuk memperluas dan memperkuat kemampuan membaca siswa. (Rahim (2005:44))
b)     Hasil belajar dalam penelitian ini adalah suatu pencapaian dari suatu penguasaan materi secara maksimal baik secara perorangan maupun secara kelompok. Bila dalam belajar mengajar sudah diperoleh ketuntasan belajar maka proses belajar mengajar dikatakan efektif.
   
METODE PENELITIAN
            Penelitian ini dilaksanakan pada semester Ganjil tahun pelajaran 2013/2014 bertempat di SD Negeri Sukowono 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten  Jember. Subyek  dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI semester Ganjil tahun pelajaran 2013/2014  SD Negeri Sukowono 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten  Jember yang berjumlah 29 siswa.
Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection). Alur pelaksanaan tindakan kelas dalam setiap siklus dapat dilihat dari gambar 1 , dengan tahap-tahap sebagai berikut :
1)         Tahap Persiapan dan Perencanaan Tindakan
Dalam tahap ini tindakan kegiatan penelitian yang dilakukan yaitu menentukan kelas dan subyek penelitian yang sesuai dengan hakikat dan masalah penelitian tindakan kelas. Kemudian melakukan pendekatan pembicaraan dengan kepala sekolah Kegiatan berikutnya adalah merencanakan tindakan yang akan dilakukan penelitian.
Langkah-langkah yang harus ditempuh adalah membuat skenario pembelajaran dengan penerapan Strategi Pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) yang mencakup langkah-langkah yang akan dilaksanakan oleh guru (peneliti) dan apa yang akan dilakukan oleh siswa dengan terlebih dahulu menganalisis kurikulum atau bahan pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VI Sekolah Dasar. Mempersiapkan sarana dan fasilitas serta sumber belajar yang diperlukan dalam kelas serta mempersiapkan bagaimana cara mengobservasi dan alat untuk mengobservasinya.

Gambar 1. Spiral Penelitian Tindakan Kelas
(Adaptasi dari Hopkins,1993:48)























2). Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan penelitian yang berupa pelaksanaan kegiatan atau rancangan pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu perancangan pembelajaran dengan Penerapan Strategi Pembelajaran Directed Reading Activity (DRA). Langkah-langkah strategi pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) yang yang dilaksankan yaitu :
1)Membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 secara heterogen.
2)Guru memberikan wacana/kliping yang berupa tek pendek sesuai dengan topik pembelajaran.
3)Membaca dalam hati wacana yang sudah disediakan oleh guru.
4)Guru memonitor siswa selama membaca dalam hati.
5)Siswa bekerja sama saling membacakan dan menanggapi isi materi bacaan/ide pokok dan ditulis dilembar kertas.
6)Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok
7)Guru membuat kesimpulan bersama dan memberikan penguatan terhadap tanggapan siswa dan memperluas gagasan-gagasan.
8)Tahap Observasi
Pada kenyataannya tahap observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi merupakan semua kegiatan untuk mengenal, merekam, dan mendokumentasikan setiap hal dari proses dan hasil yang dicapai dari tindakan yang direncanakan.
4). Tahap Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu melakukan analisis, sintesis, interprestasi dan eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh. Dengan demikian data yang berhasil diperoleh melalui alat pengumpul data yang terekam oleh peneliti dan observer akan dikonfirmasikan, dianalisis dan dievaluasi agar dapat diketahui apakah pelaksanaan tindakan tersebut telah sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya.
Kegiatan refleksi dilakukan berkelanjutan sehingga kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan selalu dapat ditingkatkan efektivitas dan efisiensinya. Berfikir reflektif sebagai kegiatan berpikir yang dilakukan secara berulang-ulang melalui kegiatan mencermati kenyataan empiris dan mencernakan kenyataan empiris itu dengan pemikiran abstrak, adalah salah satu modal penting bagi seorang peneliti dalam memudahkan penelitiannya.
5). Tahap Perencanaan Tindakan Lanjutan
Tahap ini merupakan tahap untuk merencanakan tindakan lanjutan bila hasil refleksi pada tindakan sebelumnya belum memuaskan. Perencanaan tindakan lanjutan ini merupakan jawaban dari hasil refleksi tindakan  sebelumnya  yang  belum  terpecahkan  sehingga  perlu adanya
tindakan lanjutan untuk memperbaiki atau memodifikasi tindakan sebelumnya yang memang belum dapat mengatasi masalah sesuai dengan yang diharapkan.

Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam setiap penelitian dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini metode yang digunakan meliputi tes observasi, dukumentasi dan wawancara.

Tes
Salah satu cara untuk mengetahui tingkat penguasaan dan pemahaman siswa terhadap suatu materi pelajaran diperlukan alat ukur yang berupa tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes akhir (post tes) dalam bentuk obyektif dan subyektif. Tes akhir digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dari aspek kognitif. Tes yang digunakan mengacu pada validasi isi, yaitu adanya kesesuaian antara tes dengan materi yang telah diajarkan.

Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan jalan mencatat secara sistematika dan fenomena-­fenomena yang diselidiki. Observasi dilaksanakan antara lain untuk mengetahui tentang keadaan atau lokasi sekolah, proses pembelajaran didalam kelas, serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
 Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang­-barang tertulis, jadi metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, maja!ah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Berdasarkan itu dapat disimpulkan bahwa metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data melalui sumber-­sumber dokumen yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku atau dalam bentuk lain.
Wawancara
Wawancara langsung adalah wawancara yang dilakukan secara langsung dengan orang yang diwawancarai tanpa melalui perantara. Sedangkan wawancara tidak langsung pewancara dan orang yang diwawancarai tidak bertemu secara langsung melainkan melalui perantara.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia dengan mengetahui apakah mereka tertarik dengan metode pembelajaran tersebut. Wawancara juga dilakukan dengan guru Bahasa Indonesia untuk mengetahui pendapat guru tentang penerapan Strategi Pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Wawancara dilakukan setelah penulis melakukan penelitian.

Metode Analisis Data
Metode Analisis merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana dengan baik tetapi jika analisa datanya tidak relevan, maka kesimpulan yang diperoleh bisa salah dan tidak relevan.
Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat eksploratif atau developmental. Dua kelompok data yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka dan data kuantitatif yang dinyatakan dengan kata-kata atau simbol. Analisis deskriptif menggambarkan bahwa dengan tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan adanya perbaikan, peningkatan dan perubahan ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

 Indikator Kinerja
Meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah di ukur dari nilai ketuntasan belajar siswa dengan standar nilai 65 secara individual dapat dikatakan telah tercapai ketuntasan dalam belajar khusunya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Secara klasikal mencapai ketuntasan minimal 85 % dari total siswa.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Hasil analisa data yang dilaksanakan pada pembelajaran yang selama ini diterapkan , yaitu dengan metode ceramah. Peneliti mengamati, siswa terlihat tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, bahkan ada yang mengantuk. Keadaan ini tentu sangat berpengaruh terhadap pemahaman materi yang diajarkan oleh guru.
Hal ini terbukti dari hasil belajar pada kondisi awal yang masih rendah, karena  dari 29 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 11 siswa atau sebesar 38% dan yang mendapat nilai 65 – 100 hanya sebanyak 18 siswa atau sebesar 62%. Hasil belajar pada kondisi awal ini, menjadi titik tolak perlu tidaknya penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan.
Selanjutnya peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran pada penelitian tindakan kelas siklus I dengan menerapkan Strategi Pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi ajar “Laporan Hasil Pengamatan”.  Pada siklus I ini peneliti melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas melalui tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi . Tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran telah dijelaskan pada bab III.  Setelah pembelajaran selesai diadakan evaluasi yang hasilnya dapat dilihat pada tabel  dibawah ini.

Tabel 1 : Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VI SDN Sukowono 02 Pada Siklus I .
Kriteria
Jumlah siswa
Presentase (%)
< 65
7
24%
65-100
22
76%
Total
29
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas , dapat diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar pada siklus I dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 siswa atau sebesar 24% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 76%. Namun pada siklus I, ketuntasan hasil belajar siswa masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal. Untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti melanjutkan pembelajaran dan analisa data pada siklus II.
Proses pembelajaran pada siklus II, hanya mengulangi apa yang sudah dilaksanakan pada siklus I, tetapi dengan memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada Siklus I. Hasil belajar pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VI SDN Sukowono 02 Pada Siklus II .
Kriteria
Jumlah siswa
Presentase (%)
< 65
3
10%
65-100
26
90%
Total
29
100%
Sumber : Data yang diperoleh
Hasil belajar pada siklus II secara klasikal dikatakan tuntas belajar, karena siswa yang mendapat nilai < 65 hanya  3 siswa atau sebesar  10% dan siswa yang mendapat 65-100 sebanyak 26 siswa atau sebesar 90%. Maka analisa data tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas perbandingan hasil belajar dari mulai Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II, dapat disajikan pada tabel 4 dan grafik 1 sebagai berikut :






Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VI SDN Sukowono 02Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II .

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus II
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
11
 38%
7
 24%
3
 10%
65 – 100
18
 62%
26
 76%
26
 90%
Jumlah
29
100 %
29
100 %
29
100 %
Sumber : data yang diolah


Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VI SDN Sukowono 02 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II .

Sumber : Data yang diolah

 Pembahasan
Salah satu yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dimana pengajar lebih merupakan obtek dalam pembelajaran, sedangkan siswa hanya sebagai subyek penerima materi. Sehingga siswa aktif dan produktif karena cenderung bersifat aktif dalam mengikuti pembelajaran.
Berdasarkan hasil belajar pembelajaran Bahasa Indonesia dengan strategi pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) diperoleh hasil belajar yang meningkat antara siklus I, siklus II  yang diperoleh melalui lembar pedoman observasi penelitian keaktifan siswa dengan maksud untuk membantu peneliti mengamati dan manual proses belajar mengajar pada awal hingga akhir proses pembelajaran.
Kelebihan menggunakan strategi pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) adalah siswa mempunyai tujuan membaca yang jelas dengan menghubungkan berbagai pengetahuan yang telah dipunyai siswa sebelumnya untuk membangun pemahaman sebelum dan sesudah membaca.
Bentuk soal yang diberikan bentuk dan isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran kompetensi yang iingin dicapai. Dalam penelitian ini menggunakan LKS dengan materi yang berbeda pada tiap pertemuan atau pada tiap siklus sasuai dengan materi yang akan disampaikan. Tugas diberikan sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan. Hal ini bertujuan agar siswa dapat terlebih dahulu mempelajari materi yang akan disampaikan, dengan demikian siswa telah mempelajari materi yang akan diajarkan.
Pada Siklus I ,hasil belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi awal yaitu hasil belajar pada siklus I dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 siswa atau sebesar 24% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 76%. Namun pada siklus I, ketuntasan hasil belajar siswa masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal. Untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti melanjutkan pembelajaran dan analisa data pada siklus II.
Proses pembelajaran pada siklus II, hanya mengulangi apa yang sudah dilaksanakan pada siklus I, tetapi dengan memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada Siklus I.
Hasil belajar pada siklus II secara klasikal dikatakan tuntas belajar, karena siswa yang mendapat nilai < 65 hanya  3 siswa atau sebesar  10% dan siswa yang mendapat 65-100 sebanyak 26 siswa atau sebesar 90%. Maka analisa data tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Menurut ketentuan Depdlknas seorang peserta didik dikategorikan tuntas beiajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 6,5. Suatu kelas disebut tuntas belajar bila kelas tersebut terdapat 85% peserta didik yang telah mencapai daya serap 85% (Kustantini,2001:10).

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data tersebut diatas, maka hasil penelitian tindakan kelas peneliti simpulkan sebagai berikut : Penerapan Strategi Pembelajaran Directed Reading Activity (DRA) Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Laporan Hasil Pengamatan”  Siswa Kelas VI SD Negeri Sukowono 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember . Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan hasil belajar dari kondisi awal  ketuntasan belajar siswa baru 62% %, Pada siklus pertama meningkat menjadi 76  %, pada siklus  dua menjadi  90  %.

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, maka peneliti memberi saran-saran sebagai berikut :
a)        Untuk Guru, hendaknya aktif untuk mengadakan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran yang variatif untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa,
b)        Bagi Sekolah, hendaknya mendukung penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN
Hamzah. 2010. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Pt. Bumi Aksara.

Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Moedjiono dan Dimyab. 1992. Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem.Jakarta: Rineka Cipta.

Mulyono Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Pt. Rineka Cipta.

Rahim. Farida. 2005. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Slamet. 2008. Dasar-dasar ketrampilan Berbahasa Indonesia. Surakarta: UNS Press.

Syaiful Bahari Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, Hlm. 185

Tarigan: Henry Guntur. 1986. Membaca sebagai suatu ketrampilan berbahasa. Bandung: CV Angkasa.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivis. Surabaya. Penerbit Pustaka Publisher

Zuchdi, Darmiyati dan Budiasih. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Yogyakarta: PAS.