Selasa, 23 Mei 2017

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP IPA
 BAGI SISWA KELAS VII SMPN I TUREN KABUPATEN MALANG

Saripah Purwaningsih

Abstrak:  Rendahnya pemahaman konsep IPAkemungkinan karenacara mengajar yang selama ini kurang menarik. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika, maka perlu  menerapkan pembelajaran kontekstual  model siklus belajar.  Pengambilan data menggunakan metode observasi, angket, tes tulis dan  dilakukan dengan dua siklus. Setiap siklus dilakukan perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Model pembelajaran yang digunakan  terdiri  3 fase yang disusun  dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran kemudian diterapkan sebagai panduan dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Pelaksanaan siklus belajar yang dapat meningkatkan pemahaman konsep  IPA adalah(a) Fase  Pendahuluan (Engagement),untuk membangkitkan semangat  dan memulai pembelajaran dengan baik, guru melakukan demonstrasi yang dapat menarik perhatian siswauntuk memotivasi siswa.(b) Fase Eksplorasi, untuk mengekspor pengetahuan dan keterampilan siswa secara kelompokuntuk mengoptimalkan keterampilan proses IPA.(c) Fase Eksplanasi, dilakukan diskusi kelas dengan bimbingan guru sebagai fasilitator dan mativator bagi siswa untuk menjelaskan konsep dan aspek berkomunikasi.


Kata Kunci: Pembelajaran Kontekstual, Siklus Belajar, Pemahaman Konsep IPA.

PENDAHULUAN
Proses belajar mengajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja terlepas ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar dapat terjadi karena interaksi individu dan lingkungannya.Seseorang telah belajar kalau terdapat perubahan tingkah laku dalam dirinya. Agar perubahan tersebut bersifat permanen, tahan lama dan menetap, maka dalam kondisi tertentu memberikan pengalaman mengamati  benda/obyek/peristiwa sebenarnya ke siswa. 
            Sekolah sebagai salah satu bentuk pendidikan formal harus dapat bertindak sebagai lingkungan yang dapat memberikan dan menambah pengalaman sosial. Melalui proses pendidikan IPA khususnya Fisika di SMP diharapkan siswa mampu mencapai tingkat berpikir secara formal. Proses formal terbentuk melalui pola berpikir formal yang kadang-kadang menimbulkan kesulitan bagi sebagian siswa. Untuk menanggulangi kesulitan ini maka alangkah baiknya kalau selalu dimulai dari konsep konkret agar siswa dapat memahami konsep formal. Disinilah manfaat adanya pengulangan materi, kegiatan demontrasi atau percobaan, untuk menunjukkan konsep konkret, dan dijadikan acuan untuk penemuan konsep formal.
Belajar IPA berarti harus mengembangkan cara berpikir abstrak, deduksi, berhipotesa, berpikir luas dan menyeluruh menggunakan pengetahuan yang sudah ada, melihat hubungan antar variable, dan berpikir secara terarah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Siswa tidak hanya sekedar memperoleh pengetahuan, tetapi juga menemukan sendiri pengetahuan tersebut sebagai penghargaan bagi dirinya, sehingga dapat menimbulkan kepuasan diri dan jika dikembangkanakan terbentuklah konsep diri pada siswa.
Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri I Turen Kabupaten Malang adalah rendahnya  pemahaman konsep. Hal ini diduga kuat karena pembelajaran yangselama ini diterapkan sepertidiskusi  dan latihan soal cenderungabstrak sehingga siswa sukar untuk memahami konsep. Oleh karena itu, perlu dicari cara mengajar yang mengajak siswa berinteraksi langsung denganobyek konkrit. Melalui pengamatan obyek konkrit dan gejala fisis maka akan lebih mudahbagi siswa untuk memahami konsep. Sebab dengan menghadirkan mediasebagai obyek konkrit pembelajaran menjadi tidak lagi abstrak dan ini memudahkan siswauntuk menangkap konsep dari pada sekedar diskusi.
Dalam Penelitian ini diterapkan pembelajaran kontekstual model siklus belajar  sebagai cara untuk mengatasi rendahnya pemahaman konsep didasarkan pada: (1) memberi peluang bagi siswa untuk melakukan percobaan sehingga memudahkan siswa untuk memahami konsep, (2) adanya interaksi diantara teman dalam kelompok kerja (3)  siswa mengekplorasi konsepsinya yang kemudian mereka kembangkan.
Berdasarkan permasalahan sebagaimana disebutkan di atas, maka yang dapat dipecahkan dalam permasalahan ini adalah :
1.      Bagaimanakah menerapkan pembelajaran model siklus belajar untukmeningkatkan pemahaman konsep fisika siswa?
2.      Sejauh manakah dampak  pembelajaran siklus belajar dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika siswa?
Sedangkan tujuan penelitian ini adalah:
1.       Mendiskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual model siklus  sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep fisika siswa kelas VII SMP Negeri I Turen Malang
2.      Mengetahui sejauh manakah pembelajaran kontekstual model siklus meningkatkan pemahaman konsep perubahan materi bagi  siswa kelas VII SMP Negeri 1 Turen
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat antara lain :
1.      Bagi guru penelitian ini menambah pengetahuan dan ketrampilan terutama dalam mengimplemetasikan pembelajaran kontekstual model silkus sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan kelas yang rendah pemahaman konsep fisikanya.
2.      Bagi siswa, pembelajaran yang menekankan pengamatan gejala fisis ini, membuat siswa lebih tertarik pada pelajaran fisika. Hal in akan membuat siswa dapat menikmati pelajaran fisika dan bukan takut terhadap pelajaran fisika sebagaimana selama ini mereka rasakan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas(PTK). Rancangan penelitian ini digunakan sesuai dengan masalah yang dipecahkan dari praktik pembelajaran dikelas sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran secara professional dengan menggunakan metode Contectual Teaching and Learning(CTL).
Metode penelitian menggunakan model penelitian tindakan kelas (PTK). Setidaknya ada dua siklus untuk dapat memperoleh temuan-temuan dalam pembelajaran. Berikut disajikan rancangan PTK dengan menggunakan dua siklus tindakan.





                        SIKLUS I
                        - Perencanaan Tindakan I
a.    Identifikasi masalah dan alternative pemecahannya
b.   Pengembangan program tindakan
                        - Implementasi dan monitoring/Observasi
a.    Penerapan dan observasi pembelajaran
                        - Refleksi : Identifikasi permasalahan


                        SIKLUS II
                        - Perencanaan Tindakan II
a.    Identifikasi masalah dan alternative
pemecahannya (perbaikan)
b.   Pengembangan program tindakan
                        - Implementasi dan monitoring/observasi
a.    Penerapan dan observasi pembelajaran
                        - Refleksi : Identifikasi permasalahan
           
Gambar –1 Diagram Pola Penelitian Tindakan KelasSiklus I dan II

Pada perencanaan awal mempersiapkan:a.Rencana pembelajaran termasuk lembar kerja siswa, evaluasi dan alat/media). b.  Pada tahapImplementasi  dilakukan penerapan pembelajaran dengan mengacu pada Rencana Pembelajaran (RP). Selama pembelajaran dilakukan observasi  tentang situasi kelas/siswa pada saat mengikuti pembelajaran dan dampak pembelajaran terhadap pemahaman konsep Perubahan Materi
Berdasarkan data observasi  kemudian dilakukan evaluasi melalui kegiatan refleksi (reflection). Hasil evaluasi dan observasi digunakan untuk menentukan perbaikan pembelajaran yang harus dilakukan untuk siklus berikutnya. Berdasar data hasil perekaman observasi aktivitas guru dan siswa kemudian diidentifikasi permasalahan yang muncul saat pembelajaran. Berdasarkan identifikasi  permasalahan tersebut dilakukan perencanaan perbaikan untuk Siklus II.
Pada siklus II dilakukan perencanaan tindakan II dengan berdasarkan pada hasil refleksi siklus I utamanya dalam memahami konsepdan dilakukan perbaikan.Sebagaimana telah dilakukan pada siklus I, pada tahap ini dilakukan penerapan pembelajaran sesuai dengan RPP dan LKS yang telah direvisi. Selama pembelajaran dilakukan observasi. Berdasarkan data observasi dilakukan evaluasi dan hasil evaluasi digunakan sebagai bahan rekomendasi dari penelitian ini.
Penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Turen Malang.  Subyek penelitian adalah siswa kelas VII G SMPN  1 Turen Malang yang berjumlah 34 siswa. Penelitian ini dilaksanakaan pada bulan Oktober  sampai bulan Nopember 2015. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif berupa nilai siswa pada Tes Formatif. Instrumen yang dikembangkanadalah yang terkait dengan perangkat pembelajaran (RP, LKS dan alat evaluasi). Untuk mengetahui seberapa jauh dampak pembelajaran terhadap pemahaman konsep dikembangkan soal post-test dan dapat diketahui dari kenaikan mean post-test pada siklus I dan siklus II.
Instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah: 1) lembar observasi pelaksanaan pembelajaran siklus belajar  dan 2) hasil belajar siswa dengan menggunakan tes tertulis.
Analisa data dalam penelitian ini menggunakan modul aluryang terdiri dari komponen kegiatan yang dilakukan secara bersamaaan, yaitu (1) reduksi data, (2) menyajikan data dan (3) penarikan kesimpulan dan refleksi.Data yang diperoleh dari observasi, ditulis dalam bentuk rekaman data kemudiandikumpulkan, dirangkum dan dipilih hal-hal yang pokok kemudian dicari tema dan polanya.
Tehnik analisis data yang dilakukan adalah :1) data hasil observasi pelaksanaan pembelajaran siklus belajar dilakukan analisis kualitatif, yaitu memfokuskan hal-hal pokok dan penting yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran dan dideskripsikan dalam paparan data secara naratif. Analisis kualiatif ini memperoleh data penelitian yang berupa indikator-indikator perilaku guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang dapat menyumbang besar pada peningkatan Pemahaman Konsep. Indikator keberhasilan sesuai dengan kriteria Ketuntasan  Minimal  (KKM) di SMP N 1 Turen Malang yaitu 75%, dan  2)Kriteria keberhasilan ini digunakan sebagai acuan tingkat keberhasilan tiap siklus dengan skor ketuntasan Klasikal 85% dengan KKM  75.

Tahapan PenelitianSIKLUS I
Observasi Awaluntuk memperoleh informasi mengenai keadaan kelas penelitian saat kegiatan belajar mengajar digunakan sebagai acuan untuk menyusun rencana tindakan pada siklus I, selanjutnya dilakukan perencanaan tindakan I disusun berdasarkan masalah-masalah yang ditemukan selama studi pendahuluan. Persiapan yang diperlukan adalah menentukan materi pembelajaran yaitu: Perubahan Materi tiga  kali pertemuan dan tiap pertemuan dua jam pelajaran. Beberapa hal yang dilakukan pada tahap ini adalah:a) Mengidentifikasi masalah yang dihadapi guru dan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran IPA berdasarkan observasi awal, b) Menyusus jadwal penelitian, 3) Menyususn perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP dan LKS, 4) Menyusun alat perekam data yang berupa lembar observasi pelaksanaan pembelajaran dan soal tes, 5) Menyiapkan nomor dada siswa sesuai nomor absen untuk memudahkan pengamatan.
Tindakan/observasi Isebagai kegiatan pengumpulan data melalui pengamatan secara langsung pada proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari awal pembelajaran hingga akhir proses pembelajaran untuk mendapatkan data dengan menggunakan lembar observasi terlaksananya pembelajaran dengan model siklus belajardan fase-fase pembelajarannya yaitu: a) Fase Pendahuluan(Engagement), pada fase ini, guru menanyakan pada siswa tentang materi sebelumnya untuk menggali pengetahuan awal dan menimbulkan permasalahan pengetahuan pada diri siswa, b) Fase Ekplorasi ( Exploration), guru meminta siswa membentuk kelompok sesuai pilihan sendiri dengan jumlah 4 siswa dan setiap kelompok terdiri dari putra-putri. Siswa melakukan percobaan untuk menemukan fenomena yang ditunjukkan secara langsung sesuai petunjuk yang telah disediakan oleh guru. c) Fase Eksplanasi (Explanation), setelah siswa memperoleh data dari hasil percobaan, menjawab pertanyaan,  mengambil kesimpulan dengan bekerja sama dan berdiskusi seraca berkelompok, salah satu kelompok maju kedepan untuk mempresentasikan hasil dari kerja kelompok dan kelompok yang lain menanggapi. Guru membimbing agar tidak terjadi kesalahan konsep.
Selanjutnya evaluasi I dan Analisis I, merupakan proses penyimpulan, pemaknaan dan     pengambilan keputusan terhadap usaha yang dilakukan. Analisis data menurut Patton (2002:103) adalah proses mengatur aturan data, mengorganisasikannya ke dalam satu pola, katagori, satuan uraian dasar. Evaluasi perupakan proses penyimpulan, pemaknaan, dan pengambilan keputusan terhadaap usaha yang dilakukan. Evaluasi dilakukan untuk mengukur sejauh pemberian tindakan dalam proses pembelajaran dapat mencapai tujuan.
Refleksi Imerupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi dan tahap eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini dilakukan diskusi antara guru pengajar dan guru pengamat untuk mengetahui hal-hal  yang terjadi sebelum, selama dan sesudah proses pembelajaran dan memberi kesempatan bagi siswa untuk menyampaikan keluhan-keluhan yang dihadapi selama proses pembelajaaran. Setelah melakukan evaluasi dan analisis, peneliti mendapat beberapa hal berupa kelemahan dan kelebihan dalam pembelajaran. Kelebihan dalam pembelajaran terus dilanjutkan pada siklus berikutnya, sedangkankelemahan-kelemahan siklus I diperbaiki pada siklus II.

Tahapan PenelitianSIKLUS II
Perencanaan II, antara lain : a) Mengidentifikasi kekurangan-kekurangan pada siklus I yaitu tujuan yang belum tercapai pada saat refleksi, b) merencanakan tindakan yang akan dilakukan berdasarkan identifikasi hasil refleksi I, c) menentukan materi pembelajaran, d) Menyusun instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan II berupa rancangan pembelajaran, alat evaluasi, media pembelajaran, pedoman observasi dan perekaman proses pembelajaran.
Tindakan/Observasi II, siswa mulai diberi tindakan-tindakan untuk memecahkan persoalan yang berkaitan materi yang disampaikan. Guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan perangkat pembelajaran yang telah disusun sebelumnya dengan fase-fase pembelajarannya:a) Fase Pendahuluan(Engagement) , setelah membuka pelajaran, guru memperlihatkan cara menentukan massa jenis suatu benda, b) Fase Eksplorasi(Exploration),siswa duduk berkelompok dan guru membagi gambar pengamatan dan meminta siswa untuk mengerjakan LKS dalam kelompok dan mulai mengerjakan  berdasarkan gambar yang tersedia, c) Fase Eksplanasi(Explanation), pada fase inisetelah waktu yang telah disepakati habis, meminta semua kelompok untuk mempresentasikan pekerjaannya secara bergiliran dan kelompok lain menanggapinya, guru membimbing diskusi kelas dan membuat kesimpulan yang benar.
Evaluasi II dan Analisis II, dilakukan untuk mengetahui pemahaman dan ketrampilan siswa siklus IIdan melakukan analisis yang kedua. Selanjutnya dilakukan refleksi II terhadap pelaksanaanpembelajaran berdasarkan lembar observasi, analisis hasil datauntuk mengetahui tercapainya tujuan pembelajaran.
Refleksi keseluruan dilaksanakan pada akhir kegiatan dari siklus I dan siklus II, untuk membuat kesimpulan, mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan tindakan yang dilakukan.Indikator keberhasilan atau aspek yang diukur dalam penelitian ini yakni Pemahaman konsep fisika. Keterampilan proses belajar siswa dikatakan berhasil jika ketrampilan proses belajar siswa terjadi peningkatan 75% masing-masing aspek dari siklus sebelumnya, terjadi peningkatan ketrampilan proses  dari siklus I ke siklus II dan jumlah siswa yang prestasi belajarnya mencapai KKM (68) adalah sebesar 85%.Apabila keterampilan proses belajar siswa siklus II belum mencapai 75%, tidak terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II dan siswa  mencapai KKM 85% maka tindakan yang dilakukan belum berhasil dan masih perlu dilanjutkan ke siklus III. Apabila ketrampilan proses siswa telah mencapai 75%terjadi peningkatan ketrampilan proses dari siklus I dansiklus II dan siswa yangmencapai KKM sudah  85% maka tindakan yang dierikan sudah dapat dikatakan berhasil dan dapat dihentikan.

HASIL PENELITIAN
Hasil pengamatan proses pembelajaran  Fisika kelas VII G SMPN 1 Turen  Malang  ditemukan bahwa sebagian siswa kurang antusias dalam mengikuti pelajaran IPA,beberapa siswa berbicara dengan temannya, hanya siswa tertentu yang aktif menjawab pertanyaan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa menjadi lebih antusias ketika guru mengajak siswa melakukan percobaan, namun  kondisi ini belum dapat dimanfaatkan siswa secara optimal. Sebagian besar siswa hanya bermain-main dengan temannya dan tidak berkelompok. Keberanian bertanya siswa dikelas juga masih rendah. Hal ini teramati ketika guru memberi kesempatan  bertanya pada siswa, suasana kelas menjadi sepi. Hal ini merupakan indikator rendahnya pemahaman konsep  siswa.
Refleksi Awal, dari hasil observasi terdapat beberapa kekurangan dalam proses pembelajaran, yaitu: guru kurang variatif dalam melaksanakan proses pembelajaran dan sering menggunakan metode ceramah, yang cenderung mengarah pada kemampuan aspek kognitif saja sehingga  kemampuan siswa untuk mengamati, menafsirkan dan berkomunikasi pada saat kegiatan pembelajaran masih rendah.Dari kekurangan tersebut yang harus dilakukan guru adalah menentukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa.

Hasil Penelitian SIKLUS I
Pada perencanaan tindakan I, pembelajaran yang diterapkan adalah pembelajaran dengan model siklus belajar  yang terdiri dari 3 fase, yaitu:  pendahuluan (engagement), eksplorasi(exploration), eksplanasi  (explanation). Rencana pelaksanaaan pembelajaran dan lembar kerja siswa disesuikan dengan model siklus belajar, berlangsung di ruang kelas VII G SMPN 1 Turen Malang yang berjumlah  34 siswa.
Pelaksanaan tindakan I dan Observasi I , didasarkan pada rencana yang telah disusun pada tahap perencanaan pada materi Perubahan Materi  dengan model  siklus belajar yang terdiri  3 fase. Ketiga fase model pembelajaran tersebut disusun  dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai panduan dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Selama proses berlangsung, dilakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun pada tahap perencanaan. Dalam melakukan observasi peneliti dibantu oleh observer yang dilakukan oleh guru IPA yang lain kemudian diadakan penelitian dan refleksi terhadap pelaksanaan penelitian.
Hasil penelitian siklus I dan Evaluasi I diperoleh dari data hasil pengamatan selama kegiatan pembelajarn berlangsung. Data tersebut diorganisasi dan dianalisis berdasarkan teknik analisa data yang sesuai dengan data pemahaman konsep, dan data keterlaksanaan pembelajaran siklus belajar .Pemahaman konsep  diperoleh dari hasil Post test . Adapun ketercapaian pemahaman konsep  siswa pada siklus I adalah sebagai berikut:Skor tertinggi 84,Skor terendah48,Skor rata-rata 66,67, Jumlah yang memenuhi KKM  10 dan jumlah yang tidak memenuhi KKM  24. Beberapa kekurangan dalam proses pembelajaran, yaitu : Penguasaan konsep masih kurang dari KKM 66,67% atau< 75%, masih ada beberapa siswa bingung menemukan kelompoknya, belum mengerti petunjuk pengamatan, banyak siswa yang bermaian/ kurang aktif dalam pengamatan, sebagian besar siswa tidak punya buku paket hanya punya LKS, guru kurang efisien dalam meminit waktu, guru kurang penguasaan kelas, guru tidak menulis kesimpulan di papan tulis.
Tahap refleksi penguasaan konsep belum memcapai KKM karena siswa belum terbiasa dengan tindakan pembelajaran dengan model siklus belajar, pembentukan kelompok kurang heterogenhanya  berdasarkan penyebaran siswa perempuan dan laki-laki dengan ketentuan jumlah anggota 4, sebagian siswa ada yang kesulitan dalam melakukan pengamatan/percobaan, kerja sama kelompok masih belum optimal, masih ada siswa yang pasif dan bermain-main sendiri ketika melalukan percobaan meskipun temannya sudah melakukan percobaan, siswa kesulitan mengambil kesimpulan, sebagian besar siswa tidak menulis kesimpulan karena dan hal-hal yang penting yang telah dibahas.


Hasil Penelitian SIKLUS II
Perencanaaan Tindakan II dilakukan berdasarkan kekurangan-kekurangan pada siklus I, dandilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus II. Pembelajaran yang diterapkan pada siklus II  masih sama seperti siklus I, yaitu pembelajaran dengan model siklus belajar . Kompetensi dasar yang sama yaituPerubahan materi.Perangkat pembelajaran yang digunakan pada siklus II sama dengan yang digunakan pada siklus I, yaitu berupa rencana pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan model siklus belajar dan dilengkapi dengan LKS serta peralatan yang digunakan dalam pembelajaran.Pada siklus II, aspek yang diamati sama dengan siklus I yaitu pemahaman konsep dan keterlaksanaan model siklus belajar  .
Pelaksanaan tindakan II didasarkan pada tahap perencanaan tindakan II yang telah disusun. Peneliti melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi tahapan pembelajaran. Adapun pelaksanaan tindakan II dan observasi II pada materi  disajikan pada Siklus II  yaitu: Fase Pendahuluan (Engagement), guru membuka pelajaran, dengan mengingat kembali materi yang lalu, Fase Eskplorasi (Exploratian)guru meminta siswa untuk duduk sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan sebelumnya. Guru memberi nomer dada dan nomer kelompok, Fase Eksplanasi (Explanation guru meminta setiap kelompok ada yang mewakili maju ke depan mencataan hasil kerja kelompoknya,

Analisis II dan Evaluasi IIyang meliputi: kemampuan mengamati, menafsirkan, berkomunikasi alat pengumpul data pada siklus II masih sama dengan yang digunakan pada siklus I. Data hasil pengamatan diorganisasikan dan dianalisa dengan tehnik yang sesuai.Ketercapaian pemahaman konsep  pada siklus II adalah sebagai berikut:Skor tertinggi 88,Skor terendah 68, Skor rata-rata78,9, siswa yang tuntas 30, yang tidak tuntas 4 anak. Hasil observasi pelaksanaan pembelajaran guru telah melaksanakan semua sintaks siklus belajar  dengan baik.Dari hasil angket respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran model siklus belajar didapatkan untuk fase pendahuluan 75.2 %, fase eksplorasi 88,8%, fase eksplanasi 88 %. Dari sini nampak bahwa pada fase eksplorasi paling tinggi, sedang fase pendahuluan paling rendah.
Pada Refleksi IIdiketahui bahwa pemahaman konsep  siswa mengalami peningkatan diantaranya: 1). Kerjasama siswa sudah cukup baik, hal ini terlihat bahwa sebagian besar siswa terlibat dalam melakukan percobaan dan berbagi tugas dengan semua anggota kelompok, 2) Keberanian berkomunikasi juga meningkat, 3) Kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan meningkat, siswa dapat menyimpulkan hasil percobaan dengan baik dan sesuai dengan tujuan percobaan, 4) Secara keseluruhan semua aspek ketrampilan proses siswa mengalami kenaikan  dari siklus I ke siklus II dan telah memenuhi standar ketuntasan minimum (KKM) yang telah ditetapkan.
Peneliti telah melaksanakan pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep  siswa kelas VIIG SMP Negeri 1 Turen Malang dengan melakukaan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Perencanaan proses pembelajaran  dalam bentuk RPP yang berisi rumusan indikator pembelajaran, pokok bahasan, kegiatan pembelajaran, metode pembelajaran, menyiapkan LKS, menyiapkan lembar pengamatan  siklus belajar (3E ).Secara keseluruhan, keterlaksanaan pembelajaran pada siklus II lebih baik daripada siklus I. Pada siklus II, ditemukan bahwa aspek-aspek yang tercantum dalam lembar observasi pembelajaran teramati semua. Siswa melakukan kegiatan untuk menjawab pertanyaan dalam LKS, berdiskusi dan menyimpulkan tujuan pembelajaran dengan benar sesuai dengan tujuan pembelajaran.Keaktifan siswa ini dengan bimbingan guru membantu siswa memahami tujuan dan prosedur pengamatan/percobaan dan pada fase evaluasi siswa sudah mempunyai kepercayaan diri untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan guru.Dengan demikian ketrampilan proses berkomunikasi siswa meningkat.
Aspek Siklus I Siklus II, pada siklus I rata-rata pemahaman  konsep 32%, sedangkan siklus II rata-rata pemahaman konsep 84%. Ini berarti antara siklus I dan siklus II terjadi peningkatan pemahaman konsep sebesar 52%. Peningkatan pemahaman sebesar 52 % merupakan dampak yang berarti. Ini menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran dari siklus I ke siklus II memberikan dampak yang besar. Berdasar data nampak pada siklus II rata-rata pemahaman konsep 84% ini berarti telah mencapai batas kelulusan sebesar 84%. Oleh karena itu, direkomendasikan perlunya melatih guru untuk menerapkan pembelajaran CTL dengan siklus model belajar sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep IPA pada siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: (1) Penerapan pembelajaran dengn model siklus belajar (3E ) dapat meningkatkan pemahaman konsep  IPA siswa kelas VIIG SMP Negeri 1 Turen Malang,(2)Pelaksanaan siklus belajar dapat meningkatkan pemahaman konsep  IPA yaitu: Fase  Pendahuluan (Engagement)untuk membangkitkan semangat  dan memulai pembelajaran, Fase Eksplorasiuntuk mengekspor pengetahuan dan keterampilan siswa secara kelompok, dan Fase Eksplanasidilakukan diskusi kelas dengan bimbingan guru.
Sedangkan saran dari penulis berdasarkan hasil penelitian adalah:(1) Model siklus belajar (3E)  dapat diterapkan pada materi IPA yang lain meningkatkan pemahaman konsep , (2) Agar dapat membangkitkan semangat dan menarik perhatian siswa pada awal pelajaran, guru dituntut terampil dalam mencari model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disajikan, (3) Pembagian kelompok-kelompok dalam pelaksanaan model siklus belajar (3E) sebaiknya berjumlah empat orang secara heterogen supaya pembelajaran menjadi lebih efektif.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. PT Rineka Cipta.

Budiasih, E, widarti, H.R. 2004. Penerapan Pendekatan Daur Belajar (LC) dalam Pembelajaran Mata Kuliah Praktikum Kimia Analisis Instrumen. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran hal 70-78.

Depdiknas. 2006 Kurukulum 2004  Standar Kompetensi. Jakarta

Dasna, I, W dan Rahayu. 2005. Model Pembelajaran LC. FPMIPA UM

Dahar,W dan  Liliasari. 1986. Interaksi Belajar Mengajar IPA. Jakarta: Universitas Terbuka Depdiknas.

Fajaroh, F dan Dasna, I.W. 2007.Pembelajaran dengan Siklus Belajar (Learning Cycle). Jurusan Kimia FMIPA UM.

Moleong, J Lexi. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT Remaja Rosda Karya.

Rochiati, W. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. PT. Remaja Rosda Karya.

Susilo, H, Chotimah, K. Dwitasa, Y.2008. Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Sarana Pengembangan Keprofesionalan Guru  dan Calon Guru. Bayumedia Publishing. Malang.

Soebagio. 2000. Penggunaan Siklus Belajar dan Peta Konsep untuk Peningkatan Kualitas PembelajaranKonsep Larutan Asam-Basa. PPGSM

Sutarman, 2003Pengembangan Buku Ajar dan Pembelajaran Berbasis Kontekstual Sebagai Upaya Meningkatkan Dampak Instruksional dan Dampak Sertaan Bagi Mahasiswa Pada Perkuliahan Fisika Dasar I, TPSDP.

Handayanto, S.K. Parno, Purwaningsih,P. 2004. Pedoman Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Bidang Studi Fisika. UPT PPL UM.

Wartono dkk, 2004. Materi Pelatihan TerintegrasiSains.Jakarta: Depdiknas.