Selasa, 23 Mei 2017

PENERAPAN  PAIKEM DENGAN MODEL PEMBELAJARAN EVERYONE IS A TEACHER HERE  UNTUK  MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL MATERI AJAR “PENGETAHUAN PETA KABUPATEN/PROPINSI” SISWA KELAS IV SD NEGERI CURAH KALONG

Nining Dianita

Abstrak:  Penelitian ini  bertujuan untuk mengkaji tentang: Penerapan  PAIKEM  dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi” Siswa Kelas IV SD Negeri Curah Kalong 04. Desain penelitian ini adalah  Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian, hasil belajar  pada siklus I mengalami  peningkatan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%. Selanjutnya  pada siklus II  mengalami  peningkatan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 92% berarti. dinyatakan tuntas belajar.

Kata Kunci: PAIKEM, Hasil Belajar


PENDAHULUAN
Pembelajaran merupakan salah satu unsur penentu baik tidaknya lulusan yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan. Pembelajaran ibarat jantung dari proses pendidikan. Pembelajaran yang baik cenderung menghasilkan lulusan dengan hasil belajar yang baik pula, demikian pula sebaliknya.
Pada kenyataan dilapangan hasil belajar siswa selama ini masih kurang dan belum sesuai dengan yang diharapkan, baik secara intelektual maupun sikap. Siswa belum mencapai tahap kompetensi yang ideal. Oleh karena itu perlu adanya perubahan dalam proses pembelajaran dari kebiasaan yang sudah berlangsung selama ini. Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis akan mencoba membahas Model PAIKEM karena pembelajaran ini dirancang agar mengaktifkan anak, mengembangkan kreativitas sehingga efektif namun tetap menyenangkan.
Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaraan. (Depdikbud Standar Kompetensi mata pelajaran Pengetahuan Sosial, 2004:7). Ilmu Pengetahuan Sosial di SD dan MI berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan siswa tentang masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia.
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, perlu adanya penerapan model pembelajaran yang sesuai.  Dengan penerapan Metode PAIKEM Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here pada penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas IV SD Negeri Curah Kalong 04.
            Hasil observasi awal yang dilaksanakan, menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi ajar ”Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi”  masih rendah, yaitu dari 24 siswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya sebanyak 14 siswa atau hanya sebesar 58%. Rendahnya ketuntasan hasil belajar siswa disebabkan oleh pembelajaran yang dilakukan guru monoton. Guru jarang menggunakan model  pembelajaran yang bervariasi, sehingga siswa sulit memahami materi yang diajarkan.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan menerapkan PAIKEM. PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Sedangkan metode  PIKEM yang peneliti terapkan adalah model Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here.
Metode everyone is a teacher here yaitu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan proses pembelajaran siswa, dan dapat disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pembelajaran pada berbagai mata pelajaran, khususnya mencapaian tujuan yaitu meliputi aspek : kemampuan mengemukakan pendapat, kemampuan menganalisa masalah, kemampuan menuliskan pendapat-pendapatnya (kelompoknya) setelah melakukan pengamatan, kemampuan menyimpulkan, dan lain-lain.
Metode “every one is a teacher here“ menunjukkan bahwa metode ini sangat baik, sehingga siswa dapat dengan mudah mengikuti proses belajar mengajar, karena metode tersebut dapat melibatkan siswa secara aktif dan memiliki keberanian mengemukakan pendapatnya.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut : Penerapan  PAIKEM Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi” Siswa Kelas IV SD Negeri Curah Kalong 04 ?

Tujuan Penelitian
Penelitiian ini  bertujuan untuk mengkaji tentang : Penerapan  PAIKEM  Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi” Siswa Kelas IV SD Negeri Curah Kalong 04.

Manf Hasil Penelitian
Penelitan Tindakan Kelas (PTK) ini diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah sebagai berikut :
a)      Bagi siswa, menjadi lebih mudah dalam mengembangkan kemampuan berhitung, mengukur, menurunkan rumus dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari,
b)      Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk meningkatkan proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya di kelas V dan semua siswa pada umumnya,
c)      Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian selanjutnya




METODE PENELITIAN

Tempat Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di SDN Curahkalong 04 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.

Subyek Penelitian
Subyek  dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV  di SDN Curahkalong 04 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember  berjumlah 24 siswa dan proses pembelajaran materi ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi” dengan penerapan  PAIKEM dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here.

Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian                                                                          
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran dikelas.
Penelitian ini menggunakan model skema PTK "Kemmis dan Mc. Taggart", kedua tokoh ini mengembangkan teori/skema yang diciptakan oleh "Kurt Lewin" yaitu perencanaan, perlakuan, refleksi dan pengamatan dengan menambah komponen tindakan (action) di dalamnya.


a.         Tahap Perencanaan Tindakan (Planning)
Perencanaan tindakan adalah perencanaan mengenai implementasi tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian.
Pada dasarnya perencanaan ini merupakan langkah-langkah prosedural yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penelitian yang direncanakan terlebih dulu.
Pada tahap perencanaan merupakan tahap awal dimana peneliti disini sebagai pengajar mempersiapkan segala sesuatunya untuk jalannya pembelajaran. Seperti mempersiapkan sarana dan prasarana untuk melakukan pembelajaran IPS. Selain itu yang terpenting yaitu guru harus memberikan informasi/penjelasan tentang materi yang diajarkan disamping mempersiapkan kondisi belajar siswa.
b.        Tahap Pelaksanaan atau Implementasi Tindakan (Action)
Dalam implementasi tindakan bertujuan untuk memperbaiki keadaan yaitu pembelajaran. Pada tahap Implementasi peneliti selaku guru bertindak untuk mengarahkan siswa seperti untuk tahap awal, yaitu memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari serta model pembelajaran yang akan diterapkan, yaitu model PAIKEM dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here (Setiap Murid Sebagai Guru).
Adapun tahap-tahap pembelajaran yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :
-      Diawali dengan memberikan bahan/sumber bacaan yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, yaitu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi”.
-      Siswa kemudian ditugaskan untuk membaca dan membuat sebuah pertanyaan dari materi/bahan yang sedang akan diajarkan. Pertanyaan tersebut dibuat dalam suatu kartu yang sebelumnya telah kartu tersebut dituliskan nomor absensi siswa yang dipersiapkan oleh guru. Setelah selesai siswa membuat pertanyan, kartu pertanyaan (card quest) tersebut dikumpulkan untuk kemudian dibagikan kembali kepada siswa secara acak.
-      Selanjutnya, yaitu siswa dari masing-masing kelompok diberi tugas untuk melakukan presentasi dengan membaca pertanyaan dan menjawabnya, ditunjuk yang disesuaikan dengan nomor absensinya dan siswa lain diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. Guru pada tahapan ini dapat mengevaluasi (memberikan penilaian).
c.         Tahap Observasi/Pengamatan (Observation)
Menurut "Kerlinger' mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukur dan mencatat. Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar.
Dalam tahap observasi mengamati proses jalannya pembelajaran melalui diskusi. Dari observasi ini dapat diketahui berhasil tidaknya metode diskusi dan kelompok dalam meningkatkan minat belajar siswa.
d.        Refleksi (reflection)
            Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai dasar langkah berikutnya yakni apakah hasil yang didapatkan sudah sesuai dengan kriteria ketuntasan atau tidak. Jika iya maka penelitian selesai yang berarti penelitian hanya sampai pada siklus I namun jika tidak maka akan dilanjutkan pada siklus II, yakni diawali dengan merevisi kembali perencanaan, kemudian melakukan kembali poin 2, 3, 4 dan seterusnya.
Penelitian ini direncanakan menggunakan 2 siklus jika pada siklus pertama hasil belajar sudah mencapi ketuntasan maka siklus akan dihentikan begitu sebaliknya.

Metode Dan Instrumen Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan documenter. Teknik observasi digunakan untuk menggali berbagai kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang berkaitan dengan system yang berlangsung pada proses pembelajaran di kelas. Jadi observasi dipakai untuk menggali data yang terlihat, terdengar, atau terasakan dimana kesemuanya dipandang sebagai suatu hamparan kenyataan (Stuart, 1977) yang mungkin saja diangkat sebagai aspek penting terkait dengan system pembelajaran di sekolah.
Teknik wawancara mendalam (in depth interview) digunakan untuk menggali apa yang ada di dalam proses pembelajarnnya baik bagi guru maupun bagi siswa. Sedangkan documenter digunakan untuk menggali data yang bersifat dokumen.


Metode Analisis Data
Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dua tahap. Tahap pertama untuk data kuantitatif dianalisis dengan statistic deskriptif selanjutnya dimaknai dengan analisis kualiatif. Ketika pengumpulan data berlangsung, peneltian akan dengan sendirinya terlibat melakukan perbandingan-perbandingan dalam rangka memperkaya data bagi tujuan konseptual, kategori dan teorisasi. Reduksi data dilakukan untuk memastikan data terkumpul dengan selengkap mungkin untuk kemudian dipilah-pilahkan ke dalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu (Muhajir, 1989).
Kategori yang peneliti maksud adalah skala yang digunakan untuk dapat memasukkan data sehingga data tersebut dapat dianalisis untuk memudahkan dalam data kuantitatif.
Setelah mendapatkan data dan dianalisis maka data tersebut bisa dibaca secara deskriptif untuk memudahkan dalam membaca laporan hasil penelitian tindakan kelas. Pada saat melakukan penelitian siklus yang digunakan adalah dua siklus dalam dua kali pertemuan untuk melaksanakan penelitian ini.

 Indikator Keberhasilan
            Indikator yang dapat dicapai dari penelitian ini antara lain :
a)      Siswa berani mengemukakan pendapat (menyatakan dengan benar) melalui jawaban atas pertanyaan yang telah dibuatnya berdasarkan sumber bacaan yang diberikan;
b)      Mampu mengemukakan pendapat melalui tulisan dan menyatakannya di depan kelas
c)      Siswa lain, yang berani mengemukakan pendapat dan menyatakan kesalahan jawaban dari kelompok lain yang disanggah
d)     Terlatih dalam menyimpulkan masalah dan hasil kajian pada masalah yang dikaji.
e)      Adanya interaksi antara guru dan murid yang lebih aktif jika menggunakan  PAIKEM dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here (Setiap Murid Sebagai Guru).
f)       Siswa lebih mudah memahami dan menerima materi belajar dengan  PAIKEM dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here (Setiap Murid Sebagai Guru).
g)      Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65 % dan secara maksimal 100 %.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pada pertemuan pra tindakan (kondisi awal), pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dilaksanakan dengan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konvensional, yaitu guru menjelaskan materi yang diajarkan, siswa hanya duduk mendengarkan , mencatat, dan selanjutnya diadakan evaluasi berupa tes.  Hasil dari test ini, dijadikan sebagai dasar pijakan awal untuk mengetahui perkembangan proses belajar mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Adapun hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial materi ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi”  sebelum penerapan  Metode PAIKEM Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here dapat diketahui, secara klasikal dikatakan belum tuntas karena dari 24 siswa, yang mendapat nilai < 65 sebanyak  10 siswa atau sebesar  42% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 14 siswa dengan atau sebesar 58%.
Selanjutnya dilaksanakan perbaikan pembelajaran dengan penerapan Metode PAIKEM Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here pada siklus I. Pada saat penerapan Metode PAIKEM Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here siswa kelihatan sangat antusias, berbeda jauh dengan yang menggunakan pembelajaran konvensional atau kondisi sebelumnya.
Hasil wawancara dengan siswa di dapatkan bahwa belajar dengan penerapan Metode PAIKEM Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here dapat membuat siswa semangat dan mendapat suasana pembelajaran yang menyenangkan. Sehingga materi yang disampaikan lebih mudah diingat dan siswa juga dapat menghilangkan kebosanan dalam belajar. Metode ini juga mendorong siswa lebih aktif dalam belajar.
Selanjutnya peneliti mengadakan analisa data melalui evaluasi berupa tes tentang materi ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi”, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini :.

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi”  Siswa Kelas IV SDN Curah Kalong 04 Pada    Siklus I.

Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
5
21%
65 – 100
19
79%
Jumlah
24
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat diketahui pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%.
Berdasarkan analisis data di atas , pembelajaran siklus I diperoleh data bahwa 19 siswa (79%) dari 24 siswa telah tuntas belajar, berarti masih ada 5 siswa (21%) yang belum tuntas belajar.
Ketuntasan hasil belajar dari Kondisi Awal ke siklus I mengalami peningkatan  sebesar 21% , yaitu dari 14 siswa (58%) menjadi 19 siswa (79%). Meskipun pada siklus I sudah ada peningkatan hasil belajar, namun masih belum mencapai ketuntasan belajar secara klasikal, sehingga penelitian dan analisa dilanjutkan pada siklus selanjutnya, yaitu siklus II.
Pelaksanaan siklus II sesuai dengan yang sudah dipersiapkan, yaitu berdasarkan data  yang diperoleh dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada siklus I yang di dalamnya tercakup komponen skenario pembelajaran yang akan diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar. Data pendukung pembelajaran lainnya , yaitu  lembar kerja siswa (LKS), lembar evaluasi, alat peraga, dan gambar-gambar.
Pembelajaran pada siklus II dilaksanakan untuk memperbaiki keurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus II. Pada dasarnya pelaksanaan siklus II ini hanya menyempurnakan pelaksanaan pembelajaran pada siklus I. Guru menjelaskan kembali proses pembelajaran dengan menggunakan Metode PAIKEM Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here. Siswa tampak lebih bersemangat, karena sudah terbiasa bekerjasama dengan teman-teman kelompoknya. Apalgi saat diberitahu , kalau semua aktifitas siswa dinilai oleh guru.
 Karena suasana belajar menyenangkan, maka materi yang diajarkan guru lebih mudah dipahami oleh siswa. Dari hasil tes yang dilaksanakan, mendapatkan hasil yang sangat menggembirakan, sebagaimana yang dapat disajikan pada tabel 2 berikut ini :

Tabel . Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi”  Siswa Kelas IV SDN Curah Kalong 04 Pada    Siklus II.

Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
2
8%
65 – 100
22
92%
Jumlah
24
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan Tabel 2 di atas, dapat diketahui pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar pada siklus I, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 92%. Dengan demikian pada siklus II secara klasikal dinyatakan tuntas belajar.
Berdasarkan hasil analisa data yang dilaksanakan pada pembelajaran siklus II, ada 19 siswa telah mencapai ketuntasan hasil belajar. Peningkatan ketuntasan hasil belajar dari siklus I ke siklus II adalah 21% , yaitu dari 19 siswa (79%) menjadi 22 siswa (92%).  Dengan demikian analisa data dihentikan pada siklus II.
Untuk melihat lebih jelas perbandingan peningkatan ketuntasan hasil belajar dari Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II dapat dilihat pada tabel 3 dan grafik 1, sebagi berikut :

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi”  Siswa Kelas IV SDN Curah Kalong 04 Pada    Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
10
42%
5
21%
2
8%
65 – 100
14
58%
19
79%
22
92%
Jumlah
24
100%
24
100%
24
100%
 Sumber : Data yang diolah
           
            Adapun grafik perbandingan hasil belajar yang diperoleh pada penelitian ini, adalah sebagai berikut :





Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi”  Siswa Kelas IV SDN Curah Kalong 04 Pada    Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan berdasarkan data masih rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran  Ilmu Pengetahuan Sosial “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi” Siswa Kelas IV SD Negeri Curah Kalong 04.
 Hasil analisa data sebelum penelitian tindakan kelas dengan penerapan Penerapan Metode PAIKEM Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 10 siswa atau sebanyak 42%, sedangkan yang mendapat nilai 65 -100 sebanyak 14 siswa atau sebesar 58%. Dari hasil analisa tersebut diatas, maka pada kondisi awal dinyatakan masih belum tuntas belajar, sehingga perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran yang variatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
Selanjutnya peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas melalui penerapan   PAIKEM  Dengan Model Pembelajaran  Everyone Is A Teacher Here. PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.  Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Siswa tidak memungkiri metode “PAIKEM” sama dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan” merupakan metode yang sangat mengerti dan memahami kondisi siswa. Guru menyampaikan materi merupakan penilaian utama siswa, seorang guru mempunyai wawasan yang luas akan tergambar dengan cara bagaimana seorang guru menyampaikan pembelajaran di kelas, fokus terhadap materi dan penyampaian yang mudah dimengerti oleh siswa. peduli terhadap siswa dan tidak pilih-memilih (diskriminatif), performance yang menarik serta bisa dijadikan partner dalam berdiskusi dan berkeluh kesah merupakan sekian banyak kriteria yang siswa sampaikan jika seorang guru ingin menjadi favorit di mata siswa (Herman, 2008).
Pada kesempatan ini peneliti menerapkan PAIKEM, yaitu  model pembelajaran Everyone Is A Teacher Here (setiap murid sebagai guru). Metode everyone is a teacher here yaitu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan proses pembelajaran siswa, dan dapat disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pembelajaran pada berbagai mata pelajaran, khususnya mencapaian tujuan yaitu meliputi aspek : kemampuan mengemukakan pendapat, kemampuan menganalisa masalah, kemampuan menuliskan pendapat-pendapatnya (kelompoknya) setelah melakukan pengamatan, kemampuan menyimpulkan, dan lain-lain.
Dari hasil penerapan model pembelajaran everyone is a teacher here pada siklus I, diperoleh hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan sebelum penerapan model tersebut. Hasil belajar pada siklus I mengalami  peningkatan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79%. Namun hasil belajar pada siklus I masih belum mencapai ketuntasan hasil belajar yang diharapkan.
Selanjutnya untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, penelitian dilaksanakan pada siklus II. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, hanya sebagai penyempurnaan kekurangan yang terjadi pada siklus I. Pada siklus II ini, siswa tampak mulai terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan. Sebagian besar siswa sudah mulai berani tampil di depan kelas. Materi yang diajarkan jadi semakin mudah dipahami oleh siswa. Hal ini terbukti pada hasil belajar siswa pada siklus II yang mengalami  peningkatan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 92%. Dengan demikian pada siklus II secara klasikal dinyatakan tuntas belajar.
Kesimpulan hasil tindakan perbaikan pembelajaran siklus II yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan yang sangat baik, hasil belajar siswa secara klasikal dinyatakan tuntas belajar secara maksimal. Dengan demikian analisa data dihentikan pada siklus II.
Peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik suatu mata pelajaran adalah merupakan suatu kemampuan seorang pendidik untuk memiliki daya kreatif dan inovatif melalui suatu percobaan tindakan dikelas. Kegiatan ini harus dilakukan terus menerus oleh seorang pendidik, sampai mendapatkan model pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang dibinanya.
Faktor lain yang ikut memberi kontribusi terhadap peningkatan hasil belajar siswa adalah dengan diberikannya kesempatan kepada siswa untuk melakukan peragaan dalam kelompok. Seperti dikatakan Edgar Dale bahwa pengalaman belajar yang paling tinggi nilainya adalah pengalaman belajar langsung dan melakukan sendiri.
Peran guru dalam mendorong peningkatan hasil belajar siswa masih diperlukan terutama dalam memberikan stimulus dan mengkondisikan belajar yang kondusif karena dengan selalu memperhatikan kondisi tersebut dalam pemberian stimulus oleh guru akan dapat mendorong siswa untuk semakin mandiri, pembelajaran mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat meningkatkan proses pembelajaran.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
PAIKEM adalah Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.Siswa merupakan metode yang sangat mengerti dan memahami kondisi siswa. Ada empat aspek yang memengaruhi model PAIKEM, yaitu pengalaman, komunikasi, interaksi, dan refleksi. Apabila dalam suatu pembelajaran terdapat empat aspek tesebut, maka pembelajaran PAIKEM terpenuhi, Hasil Belajar mengalami peningkatan Pada siklus I, u siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 21% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 79% pada siklus II, mengalami  peningkatan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 92%. Dengan demikian pada siklus II secara klasikal dinyatakan tuntas belajar.
.Peningkatan hasil belajar siswa yang dicapai pada penelitian tindakan kelas ini menyimpulkan bahwa Penerapan Metode PAIKEM Dengan Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pengetahuan Peta Kabupaten/Propinsi” Siswa Kelas IV SD Negeri Curah Kalong 04.

Saran-Saran
Saran-saran yang perlu peneliti sampaikan demi meningkatkan hasil belajar adalah sebagai berikut,
a)      Untuk guru, harus selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan menerapkan model/metode yang tepat untuk mewujudkan proses belajar yang inovatif dan kreatif sehingga proses pembelajaran lebih menyenangkan,
b)      Untuk sekolah, agar memberi dukungan dengan menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan pada saat pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

DAFTAR  RUJUKAN

Arifin Mulyani, Pedoman Pelaksanaan Mengajarkan (Jakarta: Depdikbud, 2000)
Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Yogyakarta: Diva Press.
Aswan Zain Syaiful Bahri Djamarah, , Strategi Belajar Mengajar, cet. Ke-4( Jakarta: Rinek Cipta, 2010).
Cucu Suhan, Hanafiah, , Konsep Strategi Pembelajaran, cet. Ke-1 (Bandung: Refika Aditama, 2009).
Hamruni, Strategi Pembelajaran ( Yogyakarta: Insan Madani,2012).
Hamruni, Strategi dan Model-Model Pembelajaran Menyenangkan (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN SUKA,2009).
Madjid Abdul, Strategi Pembelajaran ( Bandung, Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 1.
Mulyani Arifin, Pedoman Pelaksanaan Mengajarkan (Jakarta: Depdikbud, 2000).
Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar ( Jakarta: Rineka Cipta, 2001).
Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya,2013).
Uno, Hamzah. 2012. Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: PT. Bumi Aksara.