Selasa, 23 Mei 2017

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN  INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN” SISWA KELAS V SD NEGERI PETUNG 01

Ponirah

Abstrak: Penelitian ini dilaksanakan bertujuan mengkaji tentang Penerapan Model Pembelajaran  Interaktif untuk  meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” Siswa Kelas V SD Negeri Petung 01. Rancangan  penelitian yang diterapkan adalah  penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian, .  Pada siklus I diperoleh  data, siswa  yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 21%, dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 30 siswa atau sebesar 79%.  Pada siklus II menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal yaitu yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 4 siswa atau sebesar 11% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 34 siswa atau sebesar 89%.

     Kata Kunci:  Model Pembelajaran  Interaktif,  Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.  Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Banyak hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa kurikulum sering berganti-ganti, tetapi pembelajaran Matematika yang dipraktekan oleh guru-guru sekolah dasar masih tradisional atau konvesional, yaitu pembelajaran matematika mekanistik. Pembelajaran matematika mekanistik adalah belajar mengajar matematika dimana guru menerangkan konsep, guru menjelaskan algoritma atau cara-cara menyelesaikan sebuah soal, guru memberi contoh bagaimana sebuah konsep diterapkan kedalam sebuah soal cerita. Setelah konsep dijelaskan, guru memberi soal-soal latihan untuk dikerjakan siswa, dengan alasan agar siswa menguasai dan menyimpan konsep tersebut dalam ingatan siswa. Proses belajar matematika seperti digambarkan diatas umunya dilakukan disetiap sekolah dasar, maka dari itu seorang guru perlu mengetahui dan memahami mengenai metode pembelajaran disekolah.
Mata pelajaran Matematika, selama ini masih dianggap sebagai mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa.  Bahkan Mulyana (2001) dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa nilai matematika berada pada posisi yang paling bawah, sehingga tidak heran kalau nilai matematika dipakai sebagai tolak ukur dari kecerdasan siswa.
Kalau kita kaji lebih dalam hal tersebut bukan merupakan kesalahan siswa semata tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor guru itu sendiri sebagai pendidik. Kekurangan guru yang biasa dilakukan  dalam kegiatan belajar mengajar adalah mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, memberi hukuman tanpa melihat lataar belakang kesalahan, menunggu siswa berbuat salah, mengabaikan perbedaan siswa, merasa paling pandai, tidak adil, memaksa hak siswa, (Mulyasa, 2005:20). Namun menurut hasil pengamatan peneliti kesalahan yang biasa dilakukan guru dalam membelajarkan matematika di tempat peneliti hingga siswa cepat menjadi bosan  adalah (1) Dalam membelajarkan matematika guru hanya berpedoman pada buku pegangan. (2) Penyampaian konsep sarat dengan hafalan-hafalan. (3) Kegiatan pembelajaran masih monoton. (4) Kurang memperhatikan keterampilan prasarat.
Hasil belajar matematika dikelas V di SD Negeri Petung 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember, tempat peneliti mengajar  sebelum penelitian tindakan kelas dilaksanakan diperoleh data, yang mendapat nilai 65-100 hanya sebanyak 17 siswa atau 59% dari seluruh jumlah siswa sebanyak 29. Rendahnya penguasaan kemampuan mata pelajaran metematika, khususnya materi ajar “Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan”  kemungkinan besar dikarenakan guru kurang tepat dalam memilih cara atau media dalam pembelajaraan.
Berdasarkan masalah di atas peneliti berupaya meningkatkan  hasil belajar matematika dengan mengadakan penelitian tindakan kelas yang menerapkan model pembelajaran Interaktif.  Pembelajaran  Interaktif merupakan salah satu model pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992).
Pembelajaran  Interaktif merupakan salah satu model pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Pembelajaran  terdapat Komponen–komponen  pembelajaran ditinjau dari pendekatan sistem, maka dalam prosesnya  suatu  pembelajaran  akan melibatkan  berbagai  komponen, diantaranya: tujuan, guru, peserta didik, materi,  metode,  media  serta  evaluasi.
Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun siswa mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu mata pelajaran yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50).
Tahapan  dalam  model  pembelajaran interaktif menurut Faire dan Cosgrove dalam Harlen (1996: 28) terdiri dari persiapan pengetahuan  awal,  kegiatan  eksplorasi, pertanyaan  siswa,  penyelidikan, pengetahuan akhir dan refleksi.
Kelebihan model pembelajara interaktif menurut Nurhasanah, (2004:17) diantaranya: 1)Siswa lebih banyak kesempatan untuk melibatkan keingintahuannya pada objek yang akan dipelajari; 2)Melatih siswa untuk mengungkapkan rasa ingin tahu melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa mupun guru; 3)Memberikan sarana bermain bagi siswa melalui kegiatan eksplorasi dan investigasi; 4)Guru sebagai fasilitator; 5)Guru Sebagai motivator; 5)Guru Sebagai perancang aktivitas belajar, Hasil belajar akan lebih bermakna.

Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ditemukan, maka rumusan masalah Penelitian Tindakan Kelas ini, adalah sebagai berikut : Penerapan Model Pembelajaran  Interaktif Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” Siswa Kelas V SD Negeri Petung 01 ?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan bertujuan mengkaji tentang Penerapan Model Pembelajaran  Interaktif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” Siswa Kelas V SD Negeri Petung 01.

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1)        Siswa, dapat lebih mudah memahami materi yang diajarkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar,
2)        Guru, lebih berani untuk menerapkan model pembelajaran yang lebih variatif supaya proses belajar tidak membosankan,
3)        Bagi sekolah, dapat sebagai masukan yang sangat baik untuk menentukan kebijakan dalam rangka meningkatkan hasil belajar dan kualitas belajar di sekolah.

Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan kerancuan dalam memahami judul maka peneliti menjelaskan bahwa  :
a)        Pembelajaran  Interaktif merupakan salah satu model pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992).
b)        Hasil belajar dalam penelitian ini adalah suatu pencapaian dari suatu penguasaan materi secara maksimal baik secara perorangan maupun secara kelompok. Bila dalam belajar mengajar sudah diperoleh ketuntasan belajar maka proses belajar mengajar dikatakan efektif.
     Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
1)   Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skormaksimal 100.
2)   Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

METODE PENELITIAN

Tempat Dan   Subyek Penelitian
Tempat penelitian merupakan lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di kelas V SDN Petung 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember

Subyek dan obyek Penelitian tindakan kelas ini adalah kelas V SDN Petung 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember  yang berjumlah 29 siswa  dan proses pembelajaran matematika materi ajar “Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” dengan model pembelajaran Interaktif.


Rancangan Penelitian
            Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah  Rancangan Penelitian Tindakan Model Kemmis & McTaggart. Model yang dikemukakan Kemmis & Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Kurt Lewin. Secara mendasar tidak ada perbedaan yang prinsip antara keduanya. Model ini banyak dipakai karena sederhana dan mudah dipahami. Rancangan Kemmis & Taggart dapat mencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri dari tahap-tahap: perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-tahapan ini berlangsung secara berulang-ulang, sampai tujuan penelitian tercapai. Dituangkan  dalam bentuk gambar, rancangan Kemmis & McTaggart akan tampak sebagai berikut:


Gambar 1. Rancangan Penelitian Tindakan Model Kemmis & Taggart

Langkah pertama pada setiap siklus adalah penyusunan rencana tindakan. Tahapan berikutnya pelaksanaan dan sekaligus pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan. Hasil pengamatan kemudian dievaluasi dalam bentuk refleksi. Apabila hasil refleksi siklus pertama menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan belum memberikan hasil sebagaimana diharapkan, maka berikutnya disusun lagi rencana untuk dilaksanakan pada siklus kedua. Demikian seterusnya sampai hasil yang dinginkan benar-benar tercapai.
Tahap Perencanaan (Planning)
1.      Mengidentifikasi masalah
2.      Menganalisis dan merumuskan masalah
3.      Merancang model pembelajaran Interaktif
4.      Mendiskusikan model pembelajaran Interaktif
5.      Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)
6.      Menyusun kelompok belajar siswa
7.      Merencanakan tugas kelompok

Tahap Melakukan Tindakan (Action)
1.      Melaksanakan langkah-langkah tindakan sesuai dengan yang sudah direncanakan
2.      Menerapkan model pembelajaran interaktif (anak diusahakan untuk bertanya dan menemukan jawabannya)
3.      Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
4.      Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
5.      Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan

Tahap Mengamati (observasi)
1.      Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran Interaktif
2.      Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran Interaktif
3.      Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelamahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya

Tahap refleksi (Reflection)
1.      Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi
2.      Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran Interaktif dengan kerja kelompok dan mempertimbangkan langkah selanjutnya
3.      Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran Interaktif dengan kerja kelompok
4.      Melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam pembelajaran Matematika
5.      Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa

Metode Dan Instrumen Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan documenter. Teknik observasi digunakan untuk menggali berbagai kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang berkaitan dengan system yang berlangsung pada proses pembelajaran di kelas. Jadi observasi dipakai untuk menggali data yang terlihat, terdengar, atau terasakan dimana kesemuanya dipandang sebagai suatu hamparan kenyataan (Stuart, 1977) yang mungkin saja diangkat sebagai aspek penting terkait dengan system pembelajaran di sekolah.
Teknik wawancara mendalam (in depth interview) digunakan untuk menggali apa yang ada di dalam proses pembelajarnnya baik bagi guru maupun bagi siswa. Sedangkan documenter digunakan untuk menggali data yang bersifat dokumen.

Metode Analisis Data
Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dua tahap. Tahap pertama untuk data kuantitatif dianalisis dengan statistic deskriptif selanjutnya dimaknai dengan analisis kualiatif. Ketika pengumpulan data berlangsung, peneltian akan dengan sendirinya terlibat melakukan perbandingan-perbandingan dalam rangka memperkaya data bagi tujuan konseptual, kategori dan teorisasi. Reduksi data dilakukan untuk memastikan data terkumpul dengan selengkap mungkin untuk kemudian dipilah-pilahkan ke dalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu (Muhajir, 1989).
Kategori yang peneliti maksud adalah skala yang digunakan untuk dapat memasukkan data sehingga data tersebut dapat dianalisis untuk memudahkan dalam data kuantitatif.
Setelah mendapatkan data dan dianalisis maka data tersebut bisa dibaca secara deskriptif untuk memudahkan dalam membaca laporan hasil penelitian tindakan kelas. Pada saat melakukan penelitian siklus yang digunakan adalah dua siklus dalam dua kali pertemuan untuk melaksanakan penelitian ini.

Indikator Keberhasilan
Dari tahap kegiatan pada siklus I, siklus II, dan siklus III, hasil yang diharapkan adalah
1.      Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran Matematika sebanyak ≥ 80 %.
2.      Terjadi  peningkatan  prestasi  siswa     pada    mata     pelajaran Matematika    ≥ 70 %.
  1. Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65% dan secara klasikal  > 85 %, maksimal 100%.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sebelum proses Siklus dimulai, pertama-tama peneliti ingin mengetahui kondisi awal, ketuntasan hasil belajar matematika materi ajar “Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” menggunakan metode pembelajaran yang digunakan selama ini , yaitu metode ceramah .
Pada kondisi awal ini, terlihat murid memperhatikan  materi yang diajarkan. Namun setelah diadakan evaluasi melalui tes tulis, ternyata hasilnya adalah, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 18 siswa atau sebesar 47% , dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 20 siswa atau sebesar 53%, berdasarkan hasil analisis tersebut pada kondisi awal masih belum tuntas belajar.
Selanjutnya dilaksanakan pembelajaran pada siklus I. Pada siklus ini, peneliti menerapkan model pembelajaran Interaktif sesuai dengan langkah-langkah yang sudah direncanakan. Selanjutnya peneliti menjelaskan materi yang yang diajarkan, yaitu : Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan. Dengan penerapan model pembelajaran Interaktif , terlihat  masih ada beberapa siswa yang tampak bingung dan belum terbiasa  dengan model pembelajaran ini. Namun sebagian besar siswa tampak bersemangat, karena model pembelajaran Interaktif belum pernah diterapkan di kelas ini.
Pada umumnya siswa merasa senang dengan model pembelajaran ini. Siswa tampak antusias mengikuti proses pembelajaran dan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Hal ini dapat terlihat adanya peningkatan ketuntasan hasil belajar.
Selanjutnya peneliti menadakan evaluasi melalui tes tertulis, dan hasilnya dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini :

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika  Materi Ajar ”Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” Siswa Kelas V SDN Petung 01  Pada    Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
8
21%
65 – 100
30
79%
Jumlah
38
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan Tabel  di atas, menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang sangat menggembirakan , yaitu pada siklus I diperoleh  data, siswa  yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 21%, dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 30 siswa atau sebesar 79%. Meskipun pada siklus I sudah terjadi peningkatan hasil belajar, namun belum mencapai ketuntasan belajar  yang diharapkan sesuai indikator keberhasilan, untuk itu perlu dilaksanakan perbaikan pembelajaran dan analisa data pada siklus II.
Pelaksanaan siklus II, pada dasarnya hanya memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada pembelajaran siklus I. Pada siklus II ini, hampir semua siswa mulai terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan. Tugas-tugas yang diberikan ke siswa dengan mudah dikerjakan baik secara individu maupun kelompok. Materi pelajaran yang diajarkan pun menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa. Hal ini terbukti dengan peningkatan hasil belajar pada siklus II, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika  Materi Ajar ”Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” Siswa Kelas V SDN Petung 01  Pada    Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
4
11%
65 – 100
34
89%
Jumlah
38
100%
Sumber : Data yang diolah

Tabel 2 di atas,  menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal yaitu yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 4 siswa atau sebesar 11% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 34 siswa atau sebesar 89%. Kesimpulan hasil tindakan perbaikan pembelajaran siklus II yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan yang sangat baik, oleh karena itu pelaksanaan perbaikan pembelajaran dihentikan pada siklus II.
Untuk melihat lebih jelas perbandingan peningkatan hasil belajar dari Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II , dapat dilihat pada tabel 3 dan grafik 1, sebagai berikut :

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika  Materi Ajar ”Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” Siswa Kelas V SDN Petung 01  Pada    Koondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

Kriteria
Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
<65
18
47
8
21
4
11
65-100
20
53
30
79
34
89
Jumlah
38
100
38
100
38
100

Sumber : Data yang diolah








Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi Ajar ”Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” Siswa Kelas V SDN Petung 01  Pada    Koondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Sumber: data yang diolah

Pembahasan
Peningkatan  hasil belajar dari siklus I, siklus II, dan Siklus III dapat dipahami, karena Penerapan model pembelajaran Interaktif dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Penerapan model pembelajaran Interaktif memungkinkan terjadinya hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Siswa dapat belajar dengan kemampuan masing-masing dengan bantuan guru. Dengan model pembelajaran ini guru dapat memberikan perhatian kepada setiap siswa sehingga tercipta hubungan yang lebih dekat antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Sehingga akan terjadi interaksi yang lebih baik antara dua atau lebih siswa yang terlibat dan saling tukar pendapat serta informasi untuk membahas masalah yang mereka hadapi bersama.
Model Pembelajaran Interaktif memungkinkan siswa lebih aktif dalam proses belajar, antara lain keberanian untuk mengemukakan pendapat mengenai topik yang sedang didiskusikan dan mencari keputusan yang terbaik berdasarkan keputusan bersama, selain itu memberikan rasa tanggung jawab yang lebih besar, berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan siswa.
Hasil belajar yang diukur menggunakan tes hasil belajar meliputi hasil belajar pada siklus I, dan siklus II, setelah sebelumnya diadakan analisa data pada kondisi awal.  Perbandingan ketiga hasil belajar tersebut menunjukkan adanya peningkatan secara meyakinkan dan meningkat.
Dari hasil belajar matematika dengan penerapan model Pembelajaran Interaktif menunjukkan pada siklus I diperoleh  data, siswa  yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 21%, dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 30 siswa atau sebesar 79%. Meskipun pada siklus I sudah terjadi peningkatan hasil belajar, namun belum mencapai ketuntasan belajar  yang diharapkan sesuai indikator keberhasilan, untuk itu perlu dilaksanakan perbaikan pembelajaran dan analisa data pada siklus II.
Selanjutnya untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II. Hasil analisa data pada siklus II menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal yaitu yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 4 siswa atau sebesar 11% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 34 siswa atau sebesar 89%. Kesimpulan hasil tindakan perbaikan pembelajaran siklus II yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan yang sangat baik, oleh karena itu pelaksanaan perbaikan pembelajaran dihentikan pada siklus II.
Peningkatan ini dapat kita pahami karena pada dasarnya model pembelajaran Interaktif  merupakan suatu            strategi yang tepat untuk meningkatkan ketertiban siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar mengajar. Tugas guru adalah mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan mengerjakan  soal-soal matematika yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Tingkat ketuntasan belajar dipengaruhi oleh banyak factor seperti : motivasi, suasana kelas, materi pembelajaran, kompetensi (profesi guru) dan lain-lain. Khusus guru berdasarkan pengamatan peneliti, relative kurang dasar profesi keguruannya, Keadaan seperti itu, akan mempengaruhi seorang guru dalam proses  pembelajaran  dalam  upaya  meningkatkan  kadar  proses  pembelajaran siswa, khusus variasi-variasi model pembelajaran yang dapat mendorong siswa  untuk lebih aktif. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung dari interaksi guru dansiswa. Interaksi guru dan siswa dapat dilihat dalam hal Tanya jawab yang dilakukan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar (Sudjana,1990) dan proses interaksi akan berjalan bila siswa memiliki reaksi cepat terhadap stimulus yang diberikan oleh guru.
Peran guru dalam mendorong keaktifan siswa masih diperlukan terutama dalam memberikan stimulus dan mengkondisikan belajar yang kondusif karena dengan selalu memperhatikan kondisi tersebut dalam pemberian stimulus oleh guru akan dapat mendorong siswa untuk semakin mandiri, pembelajaran mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat meningkatkan proses pembelajaran.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Peningkatan hasil belajar yang didapat dalam penelitian tindakan kelas ini menyimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran  Interaktif Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Penjumlahan Dan Pengurangan” Siswa Kelas V SD Negeri Petung 01.  Pada siklus I diperoleh  data, siswa  yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 21%, dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 30 siswa atau sebesar 79%.  Pada siklus II menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal yaitu yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 4 siswa atau sebesar 11% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 34 siswa atau sebesar 89%.

Saran-saran
Saran-saran yang peneliti sampaikan untuk memperbaiki proses pembelajaran, adalah sebagai berikut : 1) Untuk guru, hendaknya mengadakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran yang variatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa; 2) Untuk sekolah, agar memberi dukungan terhadap penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk menerapkan metode/model pembelajaran yang lebih variatif.

DAFTAR  RUJUKAN
Dalyono, M. 2007. “Psikologi Pendidikan”. Jakarta: Renika Cipta
Depdiknas. 2004. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SD/MI.Depdknas 2004
Dimyati  dan  Mujiono.  2009. “Belajar  dan Pembelajaran”. Jakarta: Rineka Cipta
E. Mulyasa, 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi; Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Ghazali, S. 2010.”Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Dengan Pendekatan  Komunikatif-Interaktif”. Bandung: Refika Aditama
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem.Jakarta: Rineka Cipta.
Prayekti. 2008. “Penerapan Model Pembelajaran Interaktif Pada Mata  Pelajaran IPA Di SD”. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,  Universitas Terbuka
Susanty dan Kusumastuti.2012.”Model Pembelajaran Interaktif Kelompok  Pada Mata Pelajaran Seni Tari”. Universitas Negeri Semarang
Sudria, Redhana, dan Samiasihsudria.2010.”pengaruh pembelajaran interaktif  laju reaksi berbantuan komputer terhadap hasil belajar siswa”.  Universitas Pendidikan Ganesha

Syaiful Bahari Djamarah, 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, Hlm. 185