Selasa, 09 Mei 2017

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NON DIRECTIVE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn MATERI AJAR “STRUKTUR PEMERINTAHAN KECAMATAN”



PENERAPAN MODEL  PEMBELAJARAN NON DIRECTIVE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn  MATERI AJAR “STRUKTUR PEMERINTAHAN KECAMATAN”

Nowo Dimulyo

Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas ini, bertujuan mengkaji tentang : Penerapan Model  Pembelajaran Non Directive Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Struktur Pemerintahan Kecamatan” Siswa Kelas IV SD Negeri Arjasa 04 Kecamatan Arjasa  Kabupaten Jember. Hasil penelitian ada peningkatan hasil belajar dari kondisi awal  yang tuntas hanya 58 %, pada siklus  pertama  meningkat menjadi 81 %, selajutnya pada siklus ke dua meningkat menjadi 92%, berarti sudah mencapai  ketentuan tuan minimal ketuntasan belajar sehingga tidak dilanjutkan siklus ketiga.

       Kata Kunci:  Model  Pembelajaran Non Directive, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Guru memegang peran penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Peran guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling terkait yang dilakukan dalam situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya .
Tujuan pembelajaran dapat tercapai jika terjadi interaksi antara guru dengan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Namun dewasa ini  interaksi inilah yang masih kurang terjadi di dalam kelas, hal ini karena ada dua faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor internal berupa kesehatan fisik, inteligensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kesiapan dan kelelahan; sedangkan faktor eksternal : lingkungan keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi antar keluarga, latar belakang budaya yang ada, lingkungan sekolah; metode, kurikulum, kedekatan guru dengan siswa, kedekatan siswa dengan siswa, sarana dan prasarana serta kondisi lingkungan sekolah.
Seluruh faktor tersebut berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa  sehingga perlu diupayakan agar dapat mengarah pada peningkatan prestasi belajar. Selain itu dewasa ini pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas, guru sering menggunakan metode ceramah, di mana siswa  hanya duduk, mendengar, mencatat, dan menghapal teori dan rumus tanpa melakukan aktivitas pembelajaran, sehingga siswa merasa bosan, jenuh dan kurang bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini berakibat pada kurangnya kemauan siswa untuk mengetahui, menemukan, memecahkan masalahnya sendiri dan siswa kurang mempunyai kesempatan untuk lebih memahami konsep yang diberikan dan menjelaskan hasil yang diperolehnya.
Menurut Surya (2004: 7) “pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh sesuatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945
            Guru sebagai pelaku pembelajaran harus mempunyai metode-metode dan strategi yang variatif untuk membuat suasana belajar tidak membosankan bagi siswa yang nantinya akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar  siswa adalah melalui penelitian tindakan kelas.
            Berdasarkan hal tesebut diatas, peneliti yang juga sebagai guru Pendidikan Kewarganegaraan di Kelas IV, ingin memperbaiki pembelajaran dengan mengadakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang selama ini masih relatif rendah, melalui  penerapan Model  Pembelajaran Non Directive .
Bentuk pendidikan yang mengutamakan kemajuan dari segi berpikir anak secara psikologis sehingga dapat mengimbangi diri dengan kemampuan sosialnya tersebut dinamakan model pembelajaran tidak langsung atau dikenal juga dengan Model pembelajaran Non-Directive. Model pembelajaran seperti ini merupakan cara baru model pendidikan yang dibawa dan dikembangkan di sekolah. Pada umumnya, sekolah mengadakan kegiatan belajar-mengajar dengan sistem guru-murid.
Guru mengajar dan menerangkan, sementara murid memerhatikan, mencatat segala materi yang disampaikan oleh guru, tanpa boleh mengobrol dengan temannya ataupun melakukan aktivitas lain. Maka Model pembelajaran tidak langsung menyajikan hal yang berbeda dengan model pengajaran sebelumnya. Yaitu model pembelajaran tanpa kesan menggurui di dalamnya.
Model pembelajaran ini sangat baik untuk dikembangkan. Mengingat perkembangan anak pada masa kini yang lebih sering menanyakan sesuatu jika belum berterima terhadap mereka, maka belum selesailah pertanyaan tersebut.
Ketika seorang anak diberi kebebasan untuk melakukan apa yang mereka ingin, kemampuan dan cara berpikir seorang anak secara otomatis juga akan mengalami peningkatan. Mereka akan berkecenderungan untuk mencoba atau memperdalam jenis sesuatu yang sekiranya telah menarik perhatian mereka.
Hal yang perlu diingat adalah bahwa ketika suatu kebebasan diberikan bagi seorang anak, maka peran dan kontrol orangtua akan menjadi lebih besar.
Dalam hal ini, karena Model dilaksanakan di sekolah, maka guru perlu berperan besar layaknya orang tua dalam menjaga dan mengawasi perkembangan peserta didiknya. Orang tua dan guru dengan cara seperti ini secara tidak langsung telah mengajarkan pada peserta didiknya untuk belajar bertanggung jawab. Minimal terhadap dirinya sendiri.
Model pendidikan dan pengajaran seperti Model pembelajaran tidak langsung ini diperkenalkan oleh Carl Rogers yang menurutnya seyogyanya diberikan kepada siswa sebagai tipe pengajaran yang dapat membuat seorang anak atau peserta didik menjadi aktif, dalam hal perbuatan (dengan banyak mengajukan pertanyaan dan ingin mencoba hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran) dan juga pemikiran, serta mampu berinteraksi secara manusiawi.
Bukan hal yang aneh jika permasalahan sistem pendidikan menjadi persoalan yang selalu menarik untuk dibahas dan dicari jalan keluarnya.
Sebelum Carl Rogers memperkenalkan model pembelajaran tersebut, yang terjadi pada peserta didik di Indonesia adalah pemaksaan dan penipuan keinginan peserta didik untuk benar-benar menikmati pelajaran di sekolah. Mereka lebih banyak dituntut untuk memahami pelajaran, meskipun kadang apa yang mereka dapatkan di sekolah belum mereka pahami benar-benar.
Guru bukan tidak memberikan kesempatan bertanya, tetapi murid juga kebingungan akan apa yang harus mereka tanyakan sementara mereka juga tidak sepenuhnya paham bahasan yang sedang mereka pelajari. Secara langsung, seorang anak ditekan untuk mempelajari yang tidak mereka pahami sehingga kadang Model belajar dipermudah dengan melakukan sistem hapalan.
Padahal ketika seorang anak dituntut untuk sekadar menghapal, ada kalanya mereka akan lupa. Berbeda jika pembelajaran diberikan untuk dipahami sehingga kecenderungannya seorang anak akan selalu mengingat apa yang pernah dipelajarinya hingga dewasa dan kelak ilmu yang pernah mereka dapat di sekolah tersebut akan berguna suatu hari.
Hal dan kejadian umum seperti inilah yang seringkali menjadi permasalahan bagi sistem pendidikan di Indonesia. Mereka seringkali menyebut Model pembelajaran seperti ini sebagai Model kuno. Proses pengajaran dan pembelajaran hanya terbatas pada konsep-konsep bidang studi dan peningkatan secara intelektualnya.
Dengan proses belajar seperti ini, kecenderungan seorang anak pada masa yang akan datang akan lebih sulit diprediksi. Ada yang awalnya pintar kemudian menjadi biasa saja. Ada yang awalnya biasa saja kemudian bisa menjadi sesuatu.
Hambatannya adalah ketika mereka sudah sangat pintar, mereka akan berkecenderungan tidak lagi memiliki sifat nasionalis di dalam dirinya. Meskipun sebenarnya tidak selalu bisa disamaratakan seperti itu.
Contoh paling nyatanya bisa kita lihat pada diri B.J. Habibie yang karena kepandaiaannya ternyata bisa lebih difungsikan di luar negeri dibanding dalam negeri sendiri. Di Indonesia, pada awalnya kemampuan Habibie sama sekali tidak dihargai dan tidak mengalami perkembangan.
Pada model pembelajaran tidak langsung diharapkan kecenderungan hal-hal demikian tidak perlu terjadi karena kemampuan pendidikan seseorang tidak perlu dipaksakan agar terlalu melambung, lebih disesuaikan dengan keperluan pendidikannya saja serta tingkat intelektualitas yang cukup.
Model yang ditekankan adalah pengembangan diri manusia (siswa) secara pribadi sehingga ia terbantu lebih cepat memahami dirinya dan menemukan kemampuan utama serta bidang yang dirasa benar-benar cocok dengan keinginannya.
Pada Model pembelajaran tidak langsung, peran guru dalam pendidikan umum lebih diperkecil, yang dipebesar adalah cara didik dan kontrol guru untuk membebaskan siswanya mencari dan menemukan hal-hal baru melalui penjelajahan ide mengenai kehidupan, termasuk pada caranya membagi waktu untuk mengerjakan tugas sekolah dan bermain serta berinteraksi dengan orang lain sebagai pembentuk kehidupan sosial.
Di sini dapat terlihat bahwa pada dasarnya peran guru hanyalah sebagai fasilitator yang pada saat dibutuhkan akan menjadi sistem kontrol mengenai batasan yang harus dipahami anak agar tidak melanggar etika serta tidak lepas tanggung jawab.
Keberhasilan model pembelajaran seperti ini hanya bergantung pada interaksi dan komunikasi antara guru dan murid. Kedekatan yang dibina antara keduanya tidak berbatas pada sistem pendidikan seperti yang terdapat di sekolah biasa pada umumnya. Guru harus memberikan pada siswanya bentuk kenyamanan sehingga siswa dengan sendirinya mampu terbuka dan membeberkan gagasan-gagasan menarik mengenai dirinya serta dapat berkomunikasi secara jujur.
Untuk itu, guru perlu selalu memberikan dukungan psikologis terhadap siswa bahwa yang mereka lakukan pada dasarnya selalu bisa mendapat pujian selama masih dalam batasan etika, yaitu siswa selalu dalam kontrol untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan secara logika dan juga tidak menjadi bebas dan semena-mena untuk mengndalikan guru.
Hal ini sangat berpengaruh dari segi ekspresi penyampaian seorang guru, termasuk rasa kekeluargaan yang mampu disampaikan guru secara alami dan naluri.
Kemampuan siswa untuk melakukan hal-hal yang konstruktif selalu ditekankan oleh guru secara terbuka. Sehingga mampu menambah kepercayaan diri pada siswanya untuk terus berkarya dalam hal apapun hingga ia menemukan dengan sendirinya minat dan bakat di dalam diri. Dengan model pembelajaran tidak langsung inilah, diharapkan pada saatnya nanti seorang siswa dapat menjadi pribadi yang mampu berpikir secara logis dan tidak mengandalkan perasaan. Termasuk menghadapi segala permasalahannya dengan kemampuan memahami keadaan,
Berkaca pada karakternya, dan menemukan solusi secara tanggap. Jadi, gunakan model ini untuk memperlancar komunikasi guru dan murid sekarang juga! Karena Model pembelajaran tidak langsung ini tampaknya bisa menjadi angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia.
Peran guru dari Model  Pembelajaran Non Directive adalah sebagai fasilitator bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa. Model ini berasumsi bahwa siswa mau bertanggungjawab atas proses belajarnya dan keberhasilannya sangat tergantung kepada keinginan siswa dan pengajar untuk berbagi gagasan secara terbuka dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka dengan orang lain.
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut:  Apakah Penerapan Model  Pembelajaran Non Directive  Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Struktur Pemerintahan Kecamatan” Siswa Kelas IV SD Negeri Arjasa 04 Kecamatan Arjasa  Kabupaten  Jember ?
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka Penelitian Tindakan Kelas ini, bertujuan mengkaji tentang : Penerapan Model  Pembelajaran Non Directive Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Struktur Pemerintahan Kecamatan” Siswa Kelas IV SD Negeri Arjasa 04 Kecamatan Arjasa  Kabupaten Jember .
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
a)        Bagi siswa, dapat memberikan motivasi siswa dalam berpikir kritis, kreatif, dan inovatif untuk meningkatkan hasil belajar,
b)        Bagi guru, dapat menjadi sarana untuk mengembangkan pengetahuan keterampilan dan wawasan berpikir kritis guna melatih kemampuan memahami dan menganalisa masalah-masalah dalam pembelajaran,
c)        Bagi sekolah, dapat menjadi masukan kepada guru sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar
Agar tidak menimbulkan kerancuan dalam memahami judul maka peneliti menjelaskan definis operasional variabel yang diteliti bahwa  :
a)     Model pembelajaran non directive atau yang lebih dikenal dengan model pembelajaran tidak langsung yaitu suatu proses membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik tanpa arahan dari guru , atau biasa disebut dengan pembelajaran tidak langsung
b)     Hasil belajar dalam penelitian ini adalah suatu pencapaian dari suatu penguasaan materi secara maksimal baik secara perorangan maupun secara kelompok. Bila dalam belajar mengajar sudah diperoleh ketuntasan belajar maka proses belajar mengajar dikatakan efektif.
   
METODE PENELITIAN
Peneltian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di Kelas IV SDN Arjasa 04 Kecamatan Arjasa  Kabupaten Jember. Yang menjadi subyek penelitian yaitu seluruh siswa Kelas IV SDN Arjasa 04 Kecamatan Arjasa  Kabupaten Jember dan  pada saat Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan sebanyak 26 orang.
            Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah  Rancangan Penelitian Tindakan Model Kemmis & McTaggart. Model yang dikemukakan Kemmis & Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Kurt Lewin. Secara mendasar tidak ada perbedaan yang prinsip antara keduanya. Model ini banyak dipakai karena sederhana dan mudah dipahami. Rancangan Kemmis & Taggart dapat mencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri dari tahap-tahap: perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-tahapan ini berlangsung secara berulang-ulang, sampai tujuan penelitian tercapai.
Langkah pertama pada setiap siklus adalah penyusunan rencana tindakan. Tahapan berikutnya pelaksanaan dan sekaligus pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan. Hasil pengamatan kemudian dievaluasi dalam bentuk refleksi. Apabila hasil refleksi siklus pertama menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan belum memberikan hasil sebagaimana diharapkan, maka berikutnya disusun lagi rencana untuk dilaksanakan pada siklus kedua. Demikian seterusnya sampai hasil yang dinginkan benar-benar tercapai.

Deskripsi Pelaksanaan Siklus
 Langkah - langkah yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas di Kelas IV SDN Arjasa 04 Kecamatan Arjasa  Kabupaten Jember pada semester ganjil pada materi ajar “Struktur Pemerintahan Kecamatan” adalah sebagai berikut :     
1) Persiapan tindakan (Plan)
Mengkaji GBPP dan menyusun RPP Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “Struktur Pemerintahan Kecamatan” dengan model pembelajaran Non Direktif, menyiapkan sarana prasarana yang dibutuhkan pada pelaksanaan pembelajaran.
2) Tindakan
Melaksanakan model pembelajaran non direktif, dengan tahapan sebagai berikut :
§  Pada tahap satu, mengkondisikan situasi pembelajaran. Tahap ini diawali dengan pada interview umum, pengidentifikasian masalah, dan beberapa pembahasan dari akibat jika hal ini terjadi secara terus menerus, dan menetapkan prosedur pertemuan.
§  Pada tahap dua, siswa dianjurkan untuk menerima dan mengklarifikasi yang dimiliki oleh guru mengungkapkan perasaan positif dan negatif guna untuk mengeksplor dan menetapkan permasalahan yang ada dalam hal ini pada materi ajar “Struktur Pemerintahan Kecamatan”
§  Pada tahap tiga, siswa mengembangkan wawasan secara terus menerus;  merasakan pemahaman baru dalam pengalamannya, melihat hubungan baru dari penyebab dan dampaknya, serta memahami pengertian dari perilaku sebelumnya.
§  Pada tahap empat, siswa bertindak terhadap perencanaan dan pembuatan keputusan dengan cara menghargai permasalahan. Peran guru untuk mengklarifikasi alternatif.
§  Pada tahap lima, siswa melaporkan tindakan yang telah diambil, mengembangkan wawasan selanjutnya, dan merencanakan kejadian yang positif dan lebih menyatu secara meningkat.
3)  Pemantauan dan Evaluasi
Selama proses pembelajaran berlangsung peneliti mengadakan observasi dan membuat catatan lapangan.
4) Analisis dan Refleksi
Hasil pengamatan dan catatan lapangan dianalisis. Hasilnya menunjukkan bahwa model pembelajaran nonn direktif itu cukup menarik, tetapi pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan supaya lebih maksimal. Masih banyak hal yang tersendat-sendat karena siswa juga masih belum memahami benar hakikat pembelajaran ini.
Berdasarkan basil refleksi tersebut disusunlah rencana untuk siklus kedua dengan perbaikan perencanaan dan pelaksanaan model pembelajaran non direktif pada materi ajar “Struktur Pemerintahan Kecamatan” Hasilnya diterapkan, diobservasi, dan direfleksi, sehingga siklus kedua temyata sudah membawa hasil baik (hasil dapat dilihat pada bab IV).
  

Pengumpulan data dalam setiap penelitian dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini metode yang digunakan meliputi tes observasi, dukumentasi dan wawancara.
Metode Analisis merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana dengan baik tetapi jika analisa datanya tidak relevan, maka kesimpulan yang diperoleh bisa salah dan tidak relevan.
Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat eksploratif atau developmental. Dua kelompok data yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka dan data kuantitatif yang dinyatakan dengan kata-kata atau simbol. Analisis deskriptif menggambarkan bahwa dengan tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan adanya perbaikan, peningkatan dan perubahan ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Indikator Kinerja
Meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah di ukur dari nilai ketuntasan belajar siswa dengan standar nilai 65 secara individual dapat dikatakan telah tercapai ketuntasan dalam belajar khusunya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Secara klasikal mencapai ketuntasan minimal 85 % dari total siswa.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Tingkat kemampuan siswa di Kelas IV SDN Arjasa 04 Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember bervariasi,  ada yang kurang, ada yang sedang dan ada pula beberapa orang di atas rata-rata.  Dari hasil belajar  kondisi awal yaitu pada pembelajaran sebelum penelitian tindakan kelas dilaksanakan, diperoleh data , dari 26 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 11 siswa atau sebesar 48%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 52%,
Hasil analisis data pada kondisi tersebut di atas menjadi acuan perlu tidaknya diadakan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian Tindakan kelas ini dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran Non Direktif pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “ Pemerintahan Struktur Pemerintahan Kecamatan” pada siklus I.
 Pada siklus I ini peneliti melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas melalui tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.  Tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran telah dijelaskan pada bab III.  Setelah pembelajaran selesai diadakan evaluasi yang hasilnya dapat dilihat pada tabel  dibawah ini.

Tabel 1 : Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas IV SDN Arjasa 04 Pada Siklus I .
Kriteria
Jumlah siswa
Presentase (%)
< 65
5
19%
65-100
21
81%
Total
26
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar pada siklus I dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 19% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 21 siswa atau sebesar 81%. Namun pada siklus I, ketuntasan hasil belajar siswa masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal.  Maka, untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti melanjutkan pembelajaran dan analisa data pada siklus II.
Proses pembelajaran pada siklus II, hanya mengulangi apa yang sudah dilaksanakan pada siklus I, tetapi dengan memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada Siklus I. Hasil belajar pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas IV SDN Arjasa 04 Pada Siklus II .
Kriteria
Jumlah siswa
Presentase (%)
< 65
2
8%
65-100
24
92%
Total
26
100%
Sumber : Data yang diperoleh
Hasil belajar pada siklus II secara klasikal dikatakan tuntas belajar, karena  dari 26 siswa, yang mendapat nilai < 65 hanya  2 siswa atau sebesar  8% dan siswa yang mendapat 65-100 sebanyak 24 siswa atau sebesar 92%, sehingga penelitian tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas perbandingan hasil belajar dari mulai Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II, dapat disajikan pada tabel 4 dan grafik 1 sebagai berikut :
Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas IV SDN Arjasa 04 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II .

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus II
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
11
 42%
5
 19%
2
 8%
65 – 100
15
 58%
21
 81%
24
 92%
Jumlah
26
100 %
26
100 %
26
100 %
Sumber : data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas IV SDN Arjasa 04 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II .
Sumber : Data yang diolah

 Pembahasan
Kegiatan belajar mengajar harus dilaksanakan dilaksanakan dengan model pembelajaran yang menyenangkan, sehingga siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran. Hal ini terbukti pada penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran non direktif dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa di Kelas IV SDN Arjasa 04 Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember .
Peningkatan hasil belajar pada penelitian tindakan kelas ini dapat dipahami, karena pada dasarnya dalam model pembelajaran non direktif
, guru akan membantu siswa untuk menemukan gagasan-gagasan baru tentang kehidupannya, baik yang berhubungan dengan sekolah maupun dalam kehidupannya sehari-hari. Model ini berasumsi bahwa siswa mau bertanggungjawab atas proses belajarnya dan keberhasilannya sangat tergantung kepada keinginan siswa dan pengajar untuk berbagi gagasan secara terbuka dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka dengan orang lain.
Dari hasil analisa data yang dilaksankan diperoleh data,  hasil belajar pada kondisi awal dari 26 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 11 siswa atau sebesar 42%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 58%, selanjutnya diterapkan model pembelajaran non direktif pada siklus I, dan hasilny yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 19% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 21 siswa atau sebesar 81%. Namun pada siklus I, ketuntasan hasil belajar siswa masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal.  Maka, untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti melanjutkan pembelajaran dan analisa data pada siklus II.
Hasil belajar pada siklus II secara klasikal dikatakan tuntas belajar, karena  dari 26 siswa, yang mendapat nilai < 65 hanya  2 siswa atau sebesar  8% dan siswa yang mendapat 65-100 sebanyak 24 siswa atau sebesar 92%, sehingga penelitian tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Keberhasilan model pembelajaran non directive  bergantung pada interaksi dan komunikasi antara guru dan murid. Kedekatan yang dibina antara keduanya tidak berbatas pada sistem pendidikan seperti yang terdapat di sekolah biasa pada umumnya. Guru harus memberikan pada siswanya bentuk kenyamanan sehingga siswa dengan sendirinya mampu terbuka dan membeberkan gagasan-gagasan menarik mengenai dirinya serta dapat berkomunikasi secara jujur.
Untuk itu, guru perlu selalu memberikan dukungan psikologis terhadap siswa bahwa yang mereka lakukan pada dasarnya selalu bisa mendapat pujian selama masih dalam batasan etika, yaitu siswa selalu dalam kontrol untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan secara logika dan juga tidak menjadi bebas dan semena-mena untuk mengndalikan guru.
Hal ini sangat berpengaruh dari segi ekspresi penyampaian seorang guru, termasuk rasa kekeluargaan yang mampu disampaikan guru secara alami dan naluri.

KESIMPULAN DAN SARAN

 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data tersebut diatas, maka hasil penelitian tindakan kelas peneliti simpulkan sebagai berikut : Penerapan Model  Pembelajaran Non Directive Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Struktur Pemerintahan Kecamatan” Siswa Kelas IV SD Negeri Arjasa 04 Kecamatan Arjasa  Kabupaten Jember . Hasil penelitian ada peningkatan hasil belajar dari kondisi awal  yang tuntas hanya 58 %, pada siklus  pertama  meningkat menjadi 81 %, selajutnya pada siklus ke dua meningkat menjadi 92%, berarti sudah mencapai  ketentuan minimal ketuntasan belajar sehingga tidak dilanjutkan siklus ketiga, yang belum tuntas tinggal 8 %.


Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, maka peneliti memberi saran-saran sebagai berikut :
a)      Untuk siswa, hendaknya dapat belajar mandiri sehingga ketergantungan terhadap guru dapat berkurang,
b)      Untuk guru, penerapan model pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa sehingga hasilnya dapat maksimal,
c)      Untuk sekolah, hendaknya dapat menjadi fasilitator yang aktif dalam meningkatkan profesionalisme kinerja guru .

DAFTAR  RUJUKAN

Ahmadi, Abu. 1985. Metodik Khusus Pendidikan Agama (MKPA). Bandung: Armico.
Krisna. 2009. Pengertian Dan Ciri-ciri   Pembelajaran.
Mulyono Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Pt. Rineka Cipta.
Sagala, Syaiful. 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung. Penerbit Alfabeta.
Roestiyah. Cetakan VII: 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Syaiful Bahari Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, Hlm. 185
Tarigan: Henry Guntur. 1986. Membaca sebagai suatu ketrampilan berbahasa. Bandung: CV Angkasa.
 Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivis. Surabaya. Penerbit Pustaka Publisher
http://wawan-junaidi.blogspot.com
http://ndhiroszt.multiply.com
http://laily-myblog.blogspot.com