Selasa, 23 Mei 2017

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION  (STAD)  UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI AJAR “PANTUN ANAK” SISWA KELAS IVB SD NEGERI BADEAN 01

Mathasan

Abstrak:  Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengkaji tentang : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Untuk Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Pantun Anak” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran dikelas. Penelitian ini menggunakan model skema PTK.  Tahap perencanaan, perlakuan, refleksi dan pengamatan dengan menambah komponen tindakan (acting) di dalamnya.   Hasil Penelitian, terjadi peningkatan hasil belajar pada kondisi awal dari 23 siswa yang mencapai ketuntasan hanya sebanyak  14 siswa atau sebesar 61%, setelah diadakan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) pada siklus I yang mencapai ketuntasan meningkat menjadi sebanyak 19 siswa atau sebesar 83% , dan pada siklus II yang mencapai ketuntasan sebanyak 22 siswa  atau meningkat menjadi 96% .


     Kata Kunci:  STAD, dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pelajaran Bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah dasar sejak kelas I. Mata Pelajaran bahasa Indonesia diberikan di semua jenjang pendidikan formal. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia bersumber pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar bahasa (belajar komunikasi) dan belajar sastra (belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya). Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia mengupayakan peningkatan kemampua siswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis serta menghargai karya cipta bangsa Indonesia.
Namun mata pelajaran Bahasa Indonesia, selama ini masih dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan dan tidak terlalu penting oleh sebagian siswa, dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain seperti matematika, IPA, dll. Hal ini juga terjadi di tempat peneliti bertugas, yaitu pada siswa kelas IVB SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Sehingga prestasi dan hasil belajar siswa masih relative rendah. Siswa tampak merasa jenuh dan malas dalam mengikuti proses belajar yang dilaksanakan dengan metode ceramah yang selama ini dilaksanakan.
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.
            Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.
            Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal atau teks.
Menurut Slavin (dalam Noornia, 1997: 21) ada lima komponen utama dalam pembelajaran kooperatif metode STAD, yaitu:
a) Penyajian Kelas
Penyajian kelas merupakan penyajian materi yang dilakukan guru secara klasikal dengan menggunakan presentasi verbal atau teks. Penyajian difokuskan pada konsep-konsep dari materi yang dibahas. Setelah penyajian materi, siswa bekerja pada kelompok untuk menuntaskan materi pelajaran melalui tutorial, kuis atau diskusi.
b) Menetapkan siswa dalam kelompok
Kelompok menjadi hal yang sangat penting dalam STAD karena didalam kelompok harus tercipta suatu kerja kooperatif antar siswa untuk mencapai kemampuan akademik yang diharapkan. Fungsi dibentuknya kelompok adalah untuk saling meyakinkan bahwa setiap anggota kelompok dapat bekerja sama dalam belajar. Lebih khusus lagi untuk mempersiapkan semua anggota kelompok dalam menghadapi tes individu. Kelompok yang dibentuk sebaiknya terdiri dari satu siswa dari kelompok atas, satu siswa dari kelompok bawah dan dua siswa dari kelompok sedang. Guru perlu mempertimbangkan agar jangan sampai terjadi pertentangan antar anggota dalam satu kelompok, walaupun ini tidak berarti siswa dapat menentukan sendiri teman sekelompoknya.
c) Tes dan Kuis
Siswa diberi tes individual setelah melaksanakan satu atau dua kali penyajian kelas dan bekerja serta berlatih dalam kelompok. Siswa harus menyadari bahwa usaha dan keberhasilan mereka nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesuksesan kelompok.
d) Skor peningkatan individual
Skor peningkatan individual berguna untuk memotivasi agar bekerja keras memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Skor peningkatan individual dihitung berdasarkan skor dasar dan skor tes. Skor dasar dapat diambil dari skor tes yang paling akhir dimiliki siswa, nilai pretes yang dilakukan oleh guru sebelumnya melaksanakan pembelajaran kooperatif metode STAD.
e) Pengakuan kelompok
Pengakuan kelompok dilakukan dengan memberikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan kelompok selama belajar. Kelompok dapat diberi sertifikat atau bentuk penghargaan lainnya jika dapat mencapai kriteria yang telah ditetapkan bersama. Pemberian penghargaan ini tergantung dari kreativitas guru.

Berdasarkan hal tersebut diatas, peneliti ingin memperbaiki pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas yang berjudul : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Untuk Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Pantun Anak” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01.
Penelitian Tindakan Kelas adalah salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar, dengan menerapkan metode-metode pembelajaran yang variatif. Metode pembelajaran seperti yang diterapkan bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, dimana semua siswa terlibat langsung dalam proses belajar mengajar.
Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

 Perumusan Masalah
Adapun rumusan permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini, adalah: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Apakah Dapat  Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Pantun Anak” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01 ?
           
Tujuan Penelitian
Sedangkan tujuan dalam penelitian ini yaitu mengkaji tentang : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Untuk Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Pantun Anak” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01.

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan diharapkan bermanfaat :
a)      Bagi siswa, dapat menjadi pembelajaran yang menarik dan mampu membuat siswa lebih aktif dan menyenangkan dalam belajar Bahasa Indonesia serta dapat meningkatan hasil belajar,
b)      Bagi guru, sebagai acuan tentang bagaimana cara menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division),
c)      Bagi sekolah atau lembaga pendidikan, sebagai sumbangan pemikiran demi meningkatkan mutu pendidikan.

Definisi Operasional
Hal- hal yang perlu di definisikan secara operasional yaitu:
a)    Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.
b)   Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik - baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal - hal yang dikerjakan atau dilakukan. W.J.S Purwadarrninto
c)    Ketuntasan hasil belajar adalah penguasaan penuh dari siswa terhadap bahan yang telah diajarkan.
            Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
1)   Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.
2)   Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat penelitian disini merupakan lokasi dimana penelitian itu dilakukan dan tempat penelitian ditetapkan, yakni di SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember dengan alasan masih rendahnya hasil belajar di kelas IVB dan kurangnya minat belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia sehingga dengan diterapkannya Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  diharapkan dapat meningkatkan prestasi dan hasil belajar sehingga dapat menghasilkan siswa yang lebih bermutu..

Subyek  Penelitian
Subyek penelitian adalah seluruh siswa Kelas IVB di SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Dan yang menjadi obyek adalah proses pembelajaran dan hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia Materi Ajar “Pantun Anak” dengan penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) .


Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran dikelas. Penelitian ini menggunakan model skema PTK. Menurut "Kommis dan Mc. Taggart" kedua tokoh ini mengembangkan teori/skema yang diciptakan oleh "Kurt Lewin" yaitu perencanaan, perlakuan, refleksi dan pengamatan dengan menambah komponen tindakan (acting) di dalamnya. Berikut skemanya :


Tahap Perencanaan Tindakan
Perencanaan tindakan adalah perencanaan mengenai implementasi tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian. Pada dasarnya perencanaan ini merupakan langkah–langkah prosedural yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penelitian yang direncanakan terlebih dulu.
            Pada tahap perencanaan merupakan tahap awal dimana peneliti disini sebagai pengajar mempersiapkan segala sesuatunya untuk jalannya diskusi. Seperti mempersiapkan sarana dan prasarana untuk pembelajaran. Selain itu yang terpenting yaitu guru harus memberikan informasi/penjelasan tentang masalah tugas yang akan didiskusikan disamping mempersiapkan kondisi belajar siswa.

Tahap Pelaksanaan atau Implementasi Tindakan
Dalam implementasi tindakan bertujuan untuk memperbaiki keadaan yaitu pembelajaran. Pada tahap Implementasi guru selaku tenaga pendidik bertindak untuk mengarahkan siswa seperti untuk tahap awal, guru memberikan materi secara umum, dilanjutkan dengan memberikan informasi tentang topik yang akan diterapkan. Berikutnya yaitu siswa dibentuk kelompok dengan tujuan untuk mempermudah proses diskusi.
Tahap selanjutnya merupakan proses berlangsungnya diskusi. Dimana siswa dituntut aktif dalam menyampaikan/mempresentasikan setiap topik permasalahan yang sudah diberikan oleh guru.Dengan menggunakan metode pengajaran ini guru dapat merangsang seluruh siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam jalannya diskusi. Keaktifan siswa dapat berupa penyampaian argumen, tanggapan, bertanya atau menjawab pertanyaan dan lain sebagainya.
Menurut "Winger" mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukur dan mencatat. Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar.
Dalam tahap observasi mengamati proses jalannya pembelajaran melalui diskusi. Dari observasi ini dapat diketahui berhasil tidaknya Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  dalam meningkatkan prestasi dan hasil belajar siswa.

 Tahap Observasi/Pengamatan
Menurut "Kerlinger' mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukur dan mencatat. Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar.
Dalam tahap observasi mengamati proses jalannya pembelajaran melalui diskusi. Dari observasi ini dapat diketahui berhasil tidaknya metode diskusi dalam meningkatkan minat belajar siswa

Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara di antaranya :
a.     Observasi/Pengamatan
Observasi adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian dengan jalan pengamatan secara langsung dan sistematis, data-data yang diperoleh dicatat dalam suatu catatan observasi, kegiatan pencatatan merupakan bagian dari pengamatan. Data yang diperoleh dari observasi berupa keakfifan siswa dikelas dan situasi proses belajar mengajar dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) .
b.     Tes
Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk tugas yang harus dikerjakan oleh siswa baik individu atau kelompok sehingga menghasilkan nilai yang nantinya dapat dibandingkan dengan nilai siswa lain sesuai dengan nilai standar yang ditetapkan. Tes ini dapat menggunakan tes tertulis dengan tipe essay.
c.     Wawancara
Wawancara adalah suatu cara untuk memperoleh data dengan cara tanya jawab yang dilakukan oleh pewawancara terhadap terwawancara (Arikunto,1990:132)dalam wawancara disini siswa dapat melihat satu sama lain dan dapat mendengar dengan teliti dalam situasi yang bebas dan terarah guna mendapatkan informasi yang ingin diperoleh.
d.     Angket/Kuesioner
Angket adalah suatu daftar pertanyaan atau pernyataan tentang topik tertentu yang diperlukan pada subyek penelitian baik secara individu maupun kelompok mengenai minat/kemauan, perilaku dan lain-lain(Hadjar,1996:181).

Metode Analisis Data
Dijelaskan oleh Molepng (1993:103) bahwa analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data yang telah diperoleh dari informan ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar. Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptifkualitatif, yaitu menggambarkan keadaan dilapangan secara deskripsi guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Dimana dalam memperoleh data kualitatif peneliti dapat menggunakan beberapa cara seperti angket, observasi, wawancara dan tes. Dengan pengumpulan data seperti tersebut diatas dapat diketahuj efektif atau tidak Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  digunakan untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Indikator Kinerja
Indikator yang dapat dicapai dari penelitian ini antara lain :
a.       Adanya interaksi antara guru dan murid yang lebih akfif jika menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) .
b.      Adanya keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar baik berupa sanggahan, pertanyaan, maupun berpendapat.
c.       Siswa lebih mudah memahami dan menerima materi pelajaran dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) .

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Hasil wawancara dengan siswa di dapatkan bahwa belajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  dapat membuat siswa semangat dan belajar dengan senang sehingga materi yang disampaikan lebih mudah diingat dan sangat menarik serta siswa juga dapat menghilangkan kebosanan dalam belajar.
Pada pertemuan pertama dan ke dua pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pendekatan konvensional, yaitu sebelum penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  dikatakan belum tuntas belajar karena dari 23 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 Siswa atau sebesar 39 % dan Siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 14 Siswa atau sebesar 61%. Hasil dari test dari dua kali pertemuan ini, dijadikan sebagai dasar pijakan awal untuk mengetahui perkembangan proses belajar mengajar Mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dan hasil belajar pada kondisi awal ini dinyatakan belum tuntas secara klasikal.
            Selanjutnya untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam mencapai ketuntasan di lakukan analisis data pada siklus I dengan penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division), dan hasilnya adalah sudah terjadi peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak  4 Siswa atau sebesar 17 % dan Siswa yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 19 Siswa atau sebesar 83%. Meskipun pada siklus I sudah terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar, namun secara kalsikal masih belum tuntas.
            Untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik lagi peneliti  perlu melakukan analisis pada siklus II. Pembelajaran pada siklus II ini hanya mengulangi dan menyempurnakan pembelajaran pada siklus I. Hasil Belajar pada siklus II adalah,  yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 1 Siswa atau sebesar 4 % dan Siswa yang mendapat nilai 65 - 100 meningkat menjadi sebanyak 22 Siswa atau sebesar 96%, maka pada siklus II di nyatakan tuntas belajar secara klasikal .  Karena pada Siklus II sudah mendapatkan ketuntasan belajar secara klasikal, maka analisis data tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya. Selanjutnya untuk melihat ketuntasan hasil belajar yang diperoleh pada penelitian tindakan kelas ini, lebih jelas dapat dilihat pada tabel dan grafik perbandingan ketuntasan hasil belajar berikut

Tabel 1. Perbandingan Ketuntasan  Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Pantun Anak” Siswa Kelas IVB SDN Badean  01  Pada Kondisi awal, Siklus I, Siklus II
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
9
39%
4
17%
1
4%
65 - 100
14
61%
19
83%
22
96%
Jumlah
23
100%
23
100%
23
100%
Sumber : Data yang Diolah


Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan  Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Pantun Anak” Siswa Kelas IVB SDN Badean  01  Pada Kondisi awal, Siklus I, Siklus II
Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Salah satu yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dimana pengajar lebih merupakan subyek dalam pembelajaran sedangkan siswa hanya sebagai obyek penerima materi. Sehingga siswa kurang aktif dan kurang produktif karena cenderung bersifat pasif. Di samping itu juga karena kurangnya minat untuk belajar Bahasa Indonesia. Apa lagi sejak awal sudah berpandangan Bahasa Indonesia itu membosankan.
Hasil belajar Bahasa Indonesia pembelajaran sebelum Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  dikatakan belum tuntas belajar karena dari 23 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 Siswa atau sebesar 39 % dan Siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 14 Siswa atau sebesar 61%.
Selanjutnya untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam mencapai ketuntasan di lakukan analisis berikutnya yaitu pada siklus I dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division). Dengan tahap-tahap sebagai berikut :
-      Peneliti membentuk siswa menjadi 4 kelompok, dan meminta siswa berkelompok dengan teman sekelompoknya.
-      Peneliti menjelaskan tentang materi yang diajarkan, yaitu “Pantun Anak”
-      Peneliti memberi tugas untuk membuat pantun dengan diskusi bersama teman-teman kelompoknya
Namun jika mereka mengerjakan soal-soal maka setiap siswa harus mengerjakan sendiri dan selanjutnya mencocokkan jawabannya dengan teman sekelompoknya. Jika ada seorang teman yang belum memahami, teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjelaskan. Selanjutnya peneliti melakukan pengawasan kepada setiap kelompok selama siswa bekerja dalam kelompok. Sesekali guru mendekati kelompok untuk mendengarkan bagaimana anggota kelompok berdiskusi.
Setelah siswa bekerja dalam kelompok selama kurang lebih dua kali penyajian, guru memberikan kuis atau tes individual. Setiap siswa menerima satu lembar kuis. Waktu yang disediakan guru untuk kuis adalah setengah sampai satu jam pelajaran. Selanjutnya peneliti mengadakan evaluasi melalui tes yang dikerjakan sendiri-sendiri. Hasil tes pada siklus I, menunjukkan adanya peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak  4 Siswa atau sebesar 17 % dan Siswa yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 19 Siswa atau sebesar 83%. Meskipun pada siklus I sudah terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar, namun secara kalsikal masih belum tuntas.
            Untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik lagi peneliti  perlu melakukan analisis pada siklus II. Pembelajaran pada siklus II ini hanya mengulangi dan menyempurnakan pembelajaran pada siklus I. Hasil Belajar pada siklus II adalah,  yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 1 Siswa atau sebesar 4 % dan Siswa yang mendapat nilai 65 - 100 meningkat menjadi sebanyak 22 Siswa atau sebesar 96%, maka pada siklus II di nyatakan tuntas belajar secara klasikal .  Karena pada Siklus II sudah mendapatkan ketuntasan belajar secara klasikal, maka analisis data tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Beberapa bentuk soal yang diberikan kepada siswa adalah bentuk essay, bentuk dan isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran/kompetensi yang ingin dicapai serta adapun tugas yang diberikan dapat berupa masalah yang harus dipecahkan, pemberian tugas ini dilakukan agar siswa secara individu atau kelompok kecil dapat mengerjakan sesuatu untuk memecahkan masalah dengan cara dan daya sendiri.
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas bahwa untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif metode STAD, sebaiknya dalam satu anggota kelompok ditugaskan untuk membaca bagian yang berlainan, sehingga mereka dapat berkumpul dan bertukar informasi. Selanjutnya, pengajar mengevaluasi mereka mengenai seluruh bagian materi. Dengan cara inilah maka setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar berhasil mencapai tujuan dengan baik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan data  hasil penelitian diperoleh bahwa, terjadi peningkatan hasil belajar pada kondisi awal yaitu sebelum pelaksanaan pembelajaran melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division), dari 23 siswa yang mencapai ketuntasan hanya sebanyak  14 siswa atau sebesar 61%, setelah diadakan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) pada siklus I yang mencapai ketuntasan meningkat menjadi sebanyak 19 siswa atau sebesar 83% , dan pada siklus II yang mencapai ketuntasan sebanyak 22 siswa  atau meningkat menjadi 96%, sehingga disimpulkan bahwa : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Dapat Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Pantun Anak” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember .

Saran-saran
Saran-saran yang peneliti sampaikan untuk meningkatakan motivasi dan hasil belajar, adalah sebagai berikut :
a)        Untuk Guru, hendaknya lebih kreatif dalam menentukan model pembelajaran yang akan diterapkan sehingga situasi belajar siswa tidak membosankan,
b)        Bagi Sekolah, hendaknya memberi dukungan baik berupa sarana maupun prasarana, sehingga guru dapat mengembangkan metode pembelajaran yang variatif untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

DAFTAR  RUJUKAN

Ahmadi,Abu.1998.Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta
A. M. Sardiman. 1986. Interaksi Dan Motivasi Belajar mengajar. Jakarta : CV. Rajawali
Budiono. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Karya           Agung
Depdiknas. 2002. Kebijaksanaan teknis dan program pengembangan pendidikan . Jakarta : Depdiknas
Depdiknas. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Kebijaksanaan Umum. Jakarta : Depdiknas
Lutan, Rusli. 2000. Strategi Belajar mengajar Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan. Jakarta : Dirtjen Dikti
Natawijaya, Rochman. 1978. Psikologi Pendidikan. Jakarta : C.V. Mutiara
Nana Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Sumadi Suryabrata.2004.Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Slameto, Drs. 2003. Belajar Dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Sudarmanto, Y. B. 1993. Tuntutan Metodologi Belajar. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia