Senin, 29 Mei 2017

PENERAPAN MODEL CORE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS  SISWA
(Studi Kuasi Eksperimen di  Kelas XI MAN 2 Jember)

Hariyanto

Abstrak: Kemampuan koneksi matematis siswa  masih rendah sehingga diperlukan alternatif pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan koneksi matematis Tujuan penelitian: 1)Menganalisis peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang pembelajarannya menggunakan model CORE lebih baik dibandingkan dengan yang  menggunakan metode ekspositori; 2) menganalisis sikap siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model CORE. Rancangan Penelitian:  Pretest and Posttest Control Group Design. Subjek penelitian: siswa kelas XI IPA MAN 2 Jember. Indikator kemampuan koneksi matematis:1) mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama; 2) mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi lain yang ekuivalen; 3) menggunakan dan menilai keterkaitan antar topik matematika dan keterkaitan di luar matematika; 4) menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Instrumen pengumpul data: angket, lembar observasi, dan jurnal harian siswa. Hasil analisis statistik, disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran CORE lebih baik, dari pada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional dan sebagian besar siswa menunjukkan sikap yang positif terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model CORE.

   Kata kunci: Model pembelajaran CORE , Kemampuan koneksi matematis

PENDAHULUAN
Matematika merupakan pelajaran yang mempunyai peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan dalam berbagi disiplin ilmu lain. Oleh sebab itu, matematika dipelajari dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Walaupun matematika memiliki peran penting dalam kehidupan, kenyataannya pelajaran matematika masih merupakan pelajaran yang kurang digemari oleh siswa, masalah yang sering terjadi adalah siswa kurang memahami atau memaknai arti bahasa yang digunakan dalam matematika  berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dewasa ini semakin pesat, sehingga memungkinkan diperolehnya informasi yang melimpah dengan cepat dan mudah. Agar dapat bertahan pada keadaan yang selalu berubah dan kompetitif ini, setiap orang dituntut untuk memiliki kemampuan memperoleh, memilih, dan mengelola informasi, kemampuan untuk dapat berpikir kritis, sistematis, logis, kreatif, dan kemampuan untuk bekerja sama secara efektif.
Hal tersebut tercantum dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah pada mata pelajaran matematika tahun 2007. Sikap dan cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran.Pembelajaran matematika, khususnya di bangkusekolah merupakan proses belajar-mengajar yang di dalamnya memuat unsur mendidik yang sangat kental. Sehingga, ketika siswa sudah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah, siswa diharapkan dapat memiliki dan mengaplikasikan kemampuan dan nilai-nilai matematika dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika siswa mengenyam pendidikan di bangku kuliah maupun ketika siswa sudah berada di dunia kerja.
Menurut Suherman, dkk. (2001: 59) salah satu fungsi matematika sekolah adalah sebagai pembentukan pola pikir dan pengembangan penalaran untuk mengatasi berbagai permasalahan, baik masalah dalam mata pelajaran ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat tersebut senada dengan Coernellius (dalam Marlina, 2004: 20) yang mengemukukan bahwa, “Tujuan pembelajaran matematika di sekolah diantaranya adalah untuk memberikan perangkat dan keterampilan yang perlu untuk penggunaan dalam dunianya, kehidupan sehari-hari, dan dengan mata pelajaran lain.” Pendapat-pendapat tersebut juga sejalan dengan Davis (dalam Marlina, 2004: 21) yang menyatakan bahwa “Tujuan pembelajaran matematika salah satunya memberikan sumbangan pada permasalahan sains, teknik, filsafat, dan bidang-bidang lainnya.”
Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran matematika dalam kurikulum di Indonesia menyiratkan dengan jelas tujuan yang ingin dicapai yaitu: (1) Kemampuan pemecahan masalah (problem solving); (2) Kemampuan berargumentasi (reasoning); (3) Kemampuan berkomunikasi (communication); (4) Kemampuan membuat koneksi (connection); dan (5) Kemampuan representasi (representation). Kelima hal tersebut oleh NCTM (1999) dikenal dengan istilah standar proses daya matematis (mathematical power process standards), di mana kemampuan-kemampuan ini juga termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi (high-order mathematical thinking).
Salah satu komponen dari berpikir matematis tingkat tinggi (high-order mathematical thinking) adalah koneksi matematis. Menurut House dan Coxford (Darhim, 2008: 9) koneksi matematis merupakan pengaitan antar topik matematika, matematikadengan mata pelajaran lain atau topik lain, serta pengaitan matematika dengan kehidupan. Koneksi matematis bertujuan untuk membantu persepsi siswa dengan cara melihat matematika sebagai bagian yang terintegrasi dengan kehidupan. Tujuan pembelajaran koneksi matematis di sekolah dapat dirumuskan ke dalam tiga bagaian yaitu memperluas wawasan pengetahuan siswa, memandang matematika sebagai suatu keseluruhan yang terpadu bukan sebagai materi yang berdiri sendiri, serta mengenal relevansi dan manfaat matematikadalam konteks dunia nyata.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan secara umum bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi, khususnya kemampuan koneksi matematis, sangat penting dimiliki oleh siswa. Tetapi sayangnya, menurut hasil survey yang dilakukan oleh Programme for International Student Assesmentbahwa Indonesia menduduki peringkat 58 dari 65 negara partisipan (PISA, 2009). Penelitian tersebut mengemukakan bahwa kemampuan siswa dalam menerapkan konsep-konsep matematika ke dalam masalah-masalah yang berkitan (yang dikenal dengan istilah koneksi matematis) sangat rendah. Hasil dari penelitian itu menunjukkan bahwa 69% siswa Indonesia hanya mampu mengenali tema masalah, tetapi tidak mampu menemukan keterkaitan antara tema masalah dengan pengetahuan yangtelah dimiliki. Keterkaitan yang dimaksud di sini adalah koneksi antara tema masalah dengan segala pengetahuan yang ada.
Rendahnya kemampuan koneksi matematis siswa dapat berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Menurut Wahyudin (dalam Rahman, 2010: 4), penyebab rendahnya pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika diantaranya karena proses pembelajaran yang belum optimal. Pada proses pembelajaran, umumnya guru hanya sibuk sendiri menjelaskan apa yang telah dipersiapkan sebelumnya, sedangkan siswa hanya sebagai penerima informasi. Akibatnya, siswa hanya mengerjakan apa yang dicontohkan oleh guru, tanpa tahu makna dan pengertian dari apa yang ia kerjakan. Hal tersebut menyebabkan siswa kurang memiliki kemampuan mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama, mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi lain yang ekuivalen, menggunakan dan menilai keterkitan antar topik matematika dan keterkaitan topik di luar matematika, dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Keempat kemampuan tersebut merupakan indikator kemampuan koneksi matematis dalam pembelajaran matematika.
Dengan demikian, kemampuan koneksi matematis siswa harus dikembangkan agar
kemampuan koneksi matematis siswa dapat meningkat.Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran membuat para praktisi dan peneliti pendidikan untuk mengembangkan teknik pembelajaran. Teknik pembelajaran yang digunakan di lapangan diantaranya kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru dan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pada kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, keaktifan siswa dalam pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan daya ingat siswa terhadap materi yang disampaikan.
Berdasarkan hasil penelitian, diungkapkan bahwa pada umumnya manusia mampu mengingat 20 % dari apa yang dibaca, 30 % dari apa yang didengar, 40 % dari apa yang dilihat, 50 % dari apa yang dikatakan, 60 % dari apa yang dikerjakan dan 90 % dari apa yang dilihat, didengar, dikatakan dan dikerjakan (Rose dan Nicholl, 2009:192).
Saat ini terdapat beragam metode pembelajaran yang berpusat pada siswa dan sedang dikembangkan dalam bidang pendidikan matematika secara khusus untuk menjawab segala kebutuhan siswa akan pendidikan tersebut. Salah satunya adalah metode diskusi. Berdasarkan hasil penelitian, strategi belajar yang diberikan dengan menonjolkan aktivitas diskusi dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan siswa (Jacob, 2005: 13). Jacob menambahkan bahwa  dengan diskusi, siswa dapat mengkoneksikan diri untuk balajar, dapat meningkatkan berpikir berpikir reflektif dan dapat memperluas pengetahuan siswa.
Model CORE merupakan salah satu model pembelajaran dengan metode diskusi. Model CORE mencakup empat proses, yaitu Connecting Organizing Reflecting Extending (Calfee et. al, dalam Jacob, 2005: 13). Dalam Connecting, siswa diajak untuk dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuannya terdahulu. Organizingmembantu siswa untuk dapat mengorganisasikan pengetahuannya. Reflecting, siswa dilatih untuk dapat menjelaskan kembali informasi yang telah mereka dapatkan. Terakhir yaitu Extendingatau proses memperluas pengetahuan siswa, salah satunya dengan jalan diskusi.
Model pembelajaran CORE siswa dapat menjembatani siswa untuk mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama, mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi lain yang ekuivalen, menggunakan dan menilai keterkitan antar topik matematika dan keterkaitan topik di luar matematika, dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat mempengaruhi kemampuan koneksi matematis siswa. Oleh karena itu, peneliti tertarik melaksanakan suatu penelitian dengan judul “Penerapan Model CORE dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa.”
Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan maka hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran menggunakan model CORElebih baik dari pada siswa yang mendapat pembelajaran mengunakan model ekspositori.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen yang menelaah penerapan model CORE dalam pembelajaran matematika terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa dan bertujuan untuk melihat hubungan sebab akibat dan perlakuan yang dilakukan terhadap variabel bebas kemudian dilihat hasilnya pada variabel terikat. Pembelajaran dengan model CORE sebagai variabel bebas danvariabel terikatnya adalah kemampuan koneksi matematis siswa.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pretest-Postest-Control Group Design (Sugiyono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MAN 2Jember dan dipilih sampel secara acak diperoleh kelas XI IPA 5 sebagai kelas kontrol dan kelas XI IPA 4 sebagai kelas eksperimen kemudian kedua kelompok tersebut mendapatkan tes awaldan tes akhir.
Adapun instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen penelitian yang berbentuk tes adalah tes kemampuan koneksimatematis, sedangkan instrumen penelitian yang berbentuk non-tes adalah angket siswa,lembar observasi,dan jurnal harian siswa.
Pengolahan tes kemampuan berpikir kreatif matematis dilakukan dengan menggunakan uji statistik terhadap kemampuan awal koneksi matematis siswa,kemampuan akhir koneksi matematis siswa,dan indeks gainuntuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis pada kedua kelas. Data yang diperoleh melalui angket siswa,lembar observasi,dan jurnal harian siswadiolah dan dianalisis untuk mengetahui responssiswa terhadap model pembelajaran CORE.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil rata-rata tes awal untuk kelas eksperimen adalah 25,79; sedangkan rata-rata tes awaluntuk kelas kontrol adalah 24,53.Setelah dilakukan uji normalitas, didapat bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswakelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal, danuntuk kemampuan awal koneksi matematis siswakelas eksperimen berasal dari populasi berdistribusi normal. Karena kelas kontrol dan eksperimen berdistribusi normal,maka disimpulkan bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswa berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Langkah pengolahan data selanjutnya adalah menguji homogenitas kedua sampel. Berdasarkan uji homogenitas diperoleh nilai Sig sebesar 1,876. Nilai ini tidak kurang dari 0,01;maka diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswa kelas kontrol dan eksperimen memiliki varians yang homogen. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap kesamaan dua rata-rata.Berdasarkan uji kesamaandua rata-rata diperolehnilaiSig sebesar0,588.Nilai ini tidak Kurangdari 0,05;maka diperoleh kesimpulan bahwakemampuan awal koneksi matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama.
Langkah pengujian statistik selanjutnya dilakukan terhadap peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa, yaitu dengan melakukan pengujian terhadap kemampuan akhir koneksi matematis dan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa. Peningkatan kemampuan koneksi matematis dalam penelitian ini digambarkan oleh indeks gain kemampuan koneksi matematis yang telah diolah.Hasil rata-rata tesakhiruntuk kelas eksperimen adalah71,26; sedangkanrata-ratates akhiruntuk kelas kontrol adalah59,68. Setelah dilakukan uji normalitas, didapat bahwa kemampuan akhir koneksi matematis siswakelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal, danuntuk kemampuan akhir koneksi matematis siswakelas eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Karena kelas kontrol dan eksperimen berdistribusi normal,maka disimpulkan bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswa berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Langkah pengolahan data selanjutnya adalah menguji homogenitas kedua sampel. Berdasarkan uji homogenitas diperoleh nilai Sig sebesar 1,591. Nilai ini tidak kurang dari 0,01; maka diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan awal koneksi matematis siswa kelas kontrol dan eksperimenmemiliki varians yanghomogen. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap perbedaandua rata-rata.Berdasarkan uji perbedaandua rata-rata diperolehnilai Sig sebesar 7,209. Nilai ini lebih dari 0,01;maka diperoleh kesimpulan bahwakemampuan akhirkoneksimatematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah berbeda.Uji gain kelas eksperimen dengan kelas kontrol nilai Sig sebesar 0,769dan ini kurang dari 0,05.
Dengan deskripsi data tersebut, dapat dilihat bahwa ternyata terdapat perbedaan rata-rata indeks gain pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah dilakukan uji normalitas, didapat bahwa kemampuan akhir koneksi matematis siswakelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal, danuntuk kemampuan akhir koneksi matematis siswakelas eksperimen berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal. Karena salah satu sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal, maka disimpulkan bahwa kemampuan akhir koneksi matematis siswa berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal.
Langkah pengolahan data selanjutnya adalah menguji perbedaan dua rata-rata non parametrik. Berdasarkan uji kesamaan dua rata-rata diperoleh nilai Sig sebesar 0,00. Nilai ini kurang dari0,05; sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan koneksimatematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran CORE lebih baik daripada siswa yang mendapatkan model pembelajaran ekspositori.  Hal ini berati penerapan model pembelajaran CORE akan mampu meningkatkan kemampuan berfikir tinggi, dapat menajdi solusi dari rendahnya  kemampuan siswa dalam menerapkan konsep-konsep matematika ke dalam masalah-masalah yang berkitan (yang dikenal dengan istilah koneksi matematis) sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assesment  dimana  Indonesia menduduki peringkat 58 dari 65 negara partisipan (PISA, 2009). Penelitian ini menunjukkan bahwa 69% siswa Indonesia hanya mampu mengenali tema masalah, tetapi tidak mampu menemukan keterkaitan antara tema masalah dengan pengetahuan yangtelah dimiliki. Keterkaitan yang dimaksud di sini adalah koneksi antara tema masalah dengan segala pengetahuan yang ada.
Hasil pengolahan data angket, dan pedoman wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memberikan responsbaik terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran CORE.
Hasil penelitian ini selaras dengan  yang diungkapkan oleh Wahyudin (2010) bahwa pembelajaran yang optimal,  siswa akan mampu  mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama, mengenali hubungan prosedur matematika suatu representasi ke prosedur representasi lain yang ekuivalen, menggunakan dan menilai keterkitan antar topik matematika dan keterkaitan topik di luar matematika, dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari serta siswa  akan memberikan respons baik terhadap pembelajaran matematika.

KESIMPULAN  DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada seluruh tahapan penelitian yang dilakukan di kelas XI MAN2 Jember. dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan koneksimatematis siswa yang pembelajarannya dengan model pembelajaran CORE lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya dengan model pembelajaran ekspositori dan sebagian besar siswa menunjukkan respons yang baik terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran CORE.
Adapun saran bagi yang hendak menerapkan model pembelajaran COREantara lain: jika melaksanakan penelitian dalam jangka waktu yang agak lama, diusahakan untuk mengemas pembelajaran sedemikian sehingga siswa tidak merasa bosan, namun masih dalam koridor yang sejalan dengan model pembelajaran yang digunakan; jika menggunakan model ini dalam penelitian, sebaiknya peneliti selalu mengarahkan baik pertanyaan maupun jawaban siswa agar waktu yang digunakan saat diskusi kelas lebih efektif; siapkan rencana lain kemudian siapkan pula perlengkapan yang dibutuhkan dalam rencana pembelajaran yang dibuat. Jika merencanakan menggunakan infokus dalam menyajikan materi pengantar dalam proses pembelajaran, siapkan pula perlengakapan yang dibutuhkan jika mati listrik ataupun perlengkapan tidak dapat digunakan yaitu dengan menggunakan karton sebagai alat bantu visual dalam penyampaian materi pembelajaran; pembelajaran yang dilakukan pada bulan ramadhan dibutuhkan pengalokasian waktu yang lebih efektif, dikarenakan waktu untuk satu jam pembelajaran disediakan lebih sedikit dari waktu pembelajaran seperti biasanya (selain bulan ramadhan); untuk penelitian selanjutnya mengenai penggunaan model pembelajaran CORE dapat dilakukan pada materi, indikator, dan kompetensi matematis yang berbeda dengan subjek penelitian yang lebih luas.

DAFTAR RUJUKAN

Baharuddin. dan Wahyuni, E.N. (2010). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: ArRuzz Media.
Darhim. (2008). Pembuktian, Penalaran, dan Komunikasi Matematika.Bandung: Tidak diterbitkan.
Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Permendiknas tentang Pelaksanaan Standar Isi.Jakarta:
Depdiknas. [On line] Tersedia:http://palembang.bpk.go.id/web/files/2009/10/Lampiran-Permen-Dik-Nas-No.14-Thn.2007-Standar-Isi-untuk-Program-Paket-A-B-C.pdf. [12 April 2011].
Jacob, C. (2005). Pengembangan Model CORE dalam Pembelajaran Logika dengan Pendekatan Reciprocal Teaching bagi Siswa SMA Negeri 9 Bandung dan SMA Negeri 1 Lembang. Bandung: Laporan Piloting FPMIPA UPI. tidak diterbitkan.
Jacobsen, David A. dkk. (2009). Methods For Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Kusumah, Y.S. (2003). Desain dan Pengembangan Bahan Ajar Matematika Interaktif Berbasiskan Teknologi Komputer. Makalah dalam Seminar Nasional Pendidikan MIPA IMSTEP-JICA. Bandung: FPMIPA UPI.
Kusumah, Y.S. (2008). Konsep, Pengembangan, dan Implementasi Computer-Based Learning dalam Peningkatan Kemampuan High-Order Mathematical Thinking.Bandung: UPI Press.
Marlina, D. (2004). Pembelajaran Matematika Melalui Penyusunan Peta Konsep Untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematik Siswa SMA. Skripsi UPI Bandung: tidak diterbitkan.
NCTM. (1999). Standar Evaluation Standars 9-12.[On line]. Tersedia: http://www.sunysb.edu/pep/docs/NCTM Prof Stds Eval. Pdf. [12 April 2011].
PISA. (2009). Pisa Country Profiles.[On line]. Tersedia: //www.pisa.oecd.org. [12 April 2011].
Priyatno, D. (2009). 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta: Andi.
Rahman, R. (2010). Pengaruh Pembelajaran Berbantuan Geogebra terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif dan Self-concept Siswa.Tesis PPS UPI Bandung
Rose, C., dkk. Penerjemah: Dedi Ahimsa. (2009). Accelerated Learning forThe Century, Cara Belajar Cepat Abad XXI. Bandung: Nuansa.
Ruseffendi, E. T. (1998). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan Bidang Eksakta dan Non Eksakta Lainnya. Semarang: IKIP Semarang Press.
Ruseffendi, E. T. (1998). Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.
Ruseffendi, E.T. (2006). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.Bandung: Tarsito.
Ruspiani. (2000). Kemampuan Siswa dalam Melakukan Koneksi Matematika. Tesis UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Setiawan, A. (2008). Implementasi Model Pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUPs) Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa.Skripsi. UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Sudjana. (2005). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2011). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Suherman, E., dkk. (1990). Petunjuk Praktis untuk Melaksanakan Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Wijayakusumah 157.
Suherman, E., dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, Jica.
Wena, Made. (2011). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara