Selasa, 23 Mei 2017

PENERAPAN METODE SIMULASI  UNTUK  MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MATERI AJAR “PEMERINTAHAN DESA, KELURAHAN, DAN KECAMATAN” SISWA KELAS IVB SD NEGERI BADEAN 01

Mathasan

Abstrak: Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK)  untuk mengkaji tentang: Penerapan Metode Simulasi  Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01 . Rancangan penelitian ini adalah Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Hasil penelitian diperoleh bahwa, terjadi peningkatan hasil belajar dari perolehan nilai pada kondisi awal yaitu  dari 23 siswa yang mencapai ketuntasan hanya sebanyak  57%, pada siklus I meningkat menjadi 78% , dan pada siklus II meningkat menjadi 87%.

Kata Kunci:   Metode Simulasi, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Metode mengajar merupakan cara yang digunakan guru dalam memebelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Setiap metode mengajar  memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam membentuk pengalaman balajar siswa, tetapi satu dengan yang lainnya saling menunjang.
Menggunaan metode mengajar yang didasarkan pada pembentukan kemampuan siswa, seperti memiliki kreativitas. Setiap metode mengajar memiliki keunggulan dan kekurangan sehingga hal tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih metode tersebut. Kelemahan-kelemahan metode harus diantisipasi dan dikaji oleh guru agar penggunaannya dapat efektif.
Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran pokok di sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan warga negara dalam dimensi spiritual, rasional, emosional dan sosial, mengembangkan tanggung jawab sebagai warga negara, serta mengembangkan anak didik berpartisipasi sebagai warga negara supaya menjadi warga negara yang baik.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPendidikan Kewarganegaraan) pada masa ini karakteristiknya didominasi oleh proses value incucation dan knowledge dissemination. Hal tersebut dapat lihat dari materi pembelajarannya yang dikembangkan berdasarkan butir-butir setiap sila Pancasila. Tujuan pembelajarannya pun diarahkan untuk menanamkan sikap dan prilaku yang beradasarkan nilai-nilai Pancasila serta untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan untuk memahami, menghayati dan meyakini nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam berprilaku sehari-hari (Winataputra dan Budimansyah, 2007:97).
Menurut Udin S. Winataputra, dkk (2007: 5.52) Dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, kemampuan menguasai metode pembelajaran merupakan salah satu persyaratan  utama yang harus dimiliki guru. Metode yang dipilih dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus disesuaikan dengan karakteristik tujuan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, karakteristik materi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, situasi dan lingkungan belajar siswa, tingkat perkembangan dan kemampuan belajar siswa, waktu yang tersedia dan kebutuhan siswa itu sendiri.
Veldhuis (1998) dalam Udin S. Winataputra, dkk (2007: 21) mengemukakan bahwa dalam proses pendidikan kewarganegaraan, kita harus membedakan antara aspek-aspek pengetahuan (knowledge), sikap dan pendapat (attitudes and opinions), keterampilan intelektual (intellectual skills), dan keterampilan partisipasi (participatory skills).
Aspek-aspek di atas harus diintegrasikan dalam proses pembelajaran menjadi suatu sinergi sehingga pesan pembelajaran dapat ditangkap oleh siswa secara benar dan optimal serta dapat diejawantahkan dalam perilaku sehari-hari. Guru dapat mengupayakan terwujudnya hal tersebut dengan cara melaksanakan proses pembelajaran yang tepat.
Fungsi Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan:
1)        Sebagai sarana pembinaan watak bangsa (National Character Building) dan pemberdayaan warga negara. (Depdiknas, 2006) 
2)        Sebagai suatu strategi untuk mengembangkan dan melestarikan nilai, moral pancasila secara dinamis dan terbuka dalam artian bahwa nilai moral mampu menjawab tantangan yang terjadi di masyarakat tanpa kehilangan jati diri bangsa yang merdeka dan berdaulat. 
3)        Sebagai suatu solusi untuk mengembangkan dan membina manusia Indonesia seutuhnya yang sadar politk dan konstitusi Negara kesatuan Republik Indonesia berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. 
4)        Sebagai sarana pembinaan penanaman pemahaman dan kesadaran terhadap hubungan antar warga Negara dan Negara. 
Tujuan Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan : Pamendiknas RI no. 22 tahun 2006 :
1)      Berfikir secara rasional, kritis, dan kreatif dalam menangani isu kewarganegaraan 
2)      Berpartisipasi secara aktif dan bertanggungjawab, bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, serta anti korupsi; 
3)      Berkembang secara positif dan demokrasi untuk membentuk diri berdasarkan nilai karakter budaya bangsa indonesia – toleransi;
Berinteraksi dengan bangsa-bangsa yang ada di dunia dan pasih akan teknologi/informasi komunikasi.   Bidang Studi Pendidikan Kewarganegaraan disebut sebagai alat pembentukan pola sikap bagi karakter bangsa, karena di dalamnya (bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan) terdapat proses sentral pembangunan sentral pembangunan karakter bangsa yaitu (sebagaimana telah dijelaskan pada soal sebelumnya) sebagai berikut :
a)      Pemikiran pola pradigma baru; 
b)      Bentuk masyarakat demokrasi; 
c)      Isi pesan konstitusi negara RI. 
        Dimana pendidikan kewarganegaraan itu berangkat dari keadaan situasi dan kondisi aktual kehidupan berbangsa, semangat kebangsaan dalam kesamaan nilai dan berujung pada isi pesan konstitusi untuk kesejahteraan kehidupan bernegara, berbangsa bertanah air.
Kecenderungan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan   adalah siswa hanya mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan   sebagai produk, menghafalkan konsep, teori dan hukum. Keadaan ini diperparah oleh pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian. Siswa tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa yang cenderung menjadi malas berpikir secara mandiri. Cara berpikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain afektif  dan psikomotor.  Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah siswa per kelas yang terlalu banyak. Hal ini juga terjadi di tempat peneliti bertugas yaitu di kelas IVB SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Prestasi dan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” di kelas ini masih rendah dan belum tuntas, karena dari 23 siswa, yang mendapat nilai <65 masih sebanyak 10 siswa atau masih sebesar 43%, dan yang mendapat nilai 65-100 hanya sebanyak 13 siswa atau hanya sebesar 57%.
Udin Syaefudin Sa’ud (2005: 129) simulasi adalah sebuah replikasi atau visualisasi dari perilaku sebuah sistem, misalnya sebuah perencanaan pendidikan, yang berjalan pada kurun waktu yang tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa simulasi itu adalah sebuah model yang berisi seperangkat variabel yang menampilkan ciri utama dari sistem kehidupan yang sebenarnya. Simulasi memungkinkan keputusan-keputusan yang menentukan bagaimana ciri-ciri utama itu bisa dimodifikasi secara nyata.
Sri Anitah, W. DKK (2007: 5.22) metode simulasi merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok. Proses pembelajaran yang menggunakan metode simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada kelas tinggi di sekolah dasar.
Dalam pembelajaran yang menggunakan metode simulasi, siswa dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok. Di samping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk dapat bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Metode simulasi merupakan salah satu metode mengajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok. Proses pembelajaran yang menggunakan simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada kelas tinggi di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran, siswa akan dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok. Disamping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Tujuan Metode Simulasi
-      Melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari
-      Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip
-      Melatih memecahkan masalah
-      Meningkatkan keaktifan belajar
-      Memberikan motivasi belajar kepada siswa
-      Melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok
-      Menumbuhkan daya kreatif siswa, dan
Kelebihan Metode Simulasi
Terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar diantaranya :
-      Dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya
-      Dapat mengembangkan kreativiatas siswa
-      Dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa
-      Memperkaya pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis
-      Dapat Meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran
Sebagai tindakan untuk memecahkan masalah di atas, penggunaan metode simulasi dalam pembelajaran ini merupakan pilihan yang tepat.

 Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini, dirumuskan sebgai berikut : Penerapan Metode Simulasi  Apakah Dapat Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01?

Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dari rumusan masalah penelitian, maka tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah sebagai berikut untuk mengkaji tentang : Penerapan Metode Simulasi  Untuk Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01 ..

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan ini diharapkan bermanfaat :
a)    Bagi siswa, menjadi sajian pembelajaran yang menarik dan mampu membuat siswa lebih aktif dan menyenangkan dalam belajar serta dapat meningkatan hasil belajar,
b)   Bagi guru, sebagai acuan dalam pengelolaan pembelajaran melalui terciptanya kualitas pembelajaran dan sebagai sumbangan pembinaan tentang bagaimana cara menerapkan metode simulasi,
c)    Bagi sekolah atau lembaga pendidikan, sebagai sumbangan pemikiran demi meningkatkan mutu pendidikan.
            Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah: Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100. Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.
METODE PENELITIAN

Tempat Penelitian
            Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas IVB SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember .

Subyek Penelitian
            Yang menjadi subyek dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah seluruh siswa kelas IVB SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember semester ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015  yang berjumlah sebanyak 23 siswa serta proses dan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” melalui penerapan metode simulasi.

Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Tindakan yang dilakukan yaitu proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  dengan menggunakan metode simulasi di kelas IVB SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember .
Adapun rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection). Alur pelaksanaan tindakan kelas dalam setiap siklus dapat dilihat dari gambar 1 , dengan tahap-tahap sebagai berikut :


Gambar 1. Spiral Penelitian Tindakan Kelas
(Adaptasi dari Hopkins,1993:48)













1)         Tahap Persiapan dan Perencanaan Tindakan
Dalam tahap ini tindakan kegiatan penelitian yang dilakukan yaitu menentukan kelas dan subyek penelitian yang sesuai dengan hakikat dan masalah penelitian tindakan kelas. Kemudian melakukan pendekatan pembicaraan dengan kepala sekolah dan satu orang guru sebagai observer (penelitian kolaboratif). Kegiatan berikutnya adalah merencanakan tindakan yang akan dilakukan penelitian.
Langkah-langkah yang harus ditempuh adalah membuat skenario pembelajaran dengan menggunakan metode simulasi yang mencakup langkah-langkah yang akan dilaksanakan oleh guru (peneliti) dan apa yang akan dilakukan oleh siswa dengan terlebih dahulu menganalisis kurikulum atau bahan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas IV Sekolah Dasar. Di samping itu hal terpenting dalam tahap ini adalah mendesain ruangan kelas untuk dijadikan kelas dengan suasana kelas dengan penerapan metode simulasi. Mempersiapkan sarana dan fasilitas serta sumber belajar yang diperlukan dalam kelas serta mempersiapkan bagaimana cara mengobservasi dan alat untuk mengobservasinya.
2). Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan penelitian yang berupa pelaksanaan kegiatan atau rancangan pembelajaran pengetahuan sosial, yaitu perancangan pembelajaran dengan metode simulasi. Untuk melakukan pengamatan pelaksanaan tindakan, dibuat alat pengumpul data sebagai alat dokumentasi atau catatan yang digunakan untuk memberikan umpan balik yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan tindakan.
3). Tahap Observasi
Pada kenyataannya tahap observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi merupakan semua kegiatan untuk mengenal, merekam, dan mendokumentasikan setiap hal dari proses dan hasil yang dicapai dari tindakan yang direncanakan.
4). Tahap Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu melakukan analisis, sintesis, interprestasi dan eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh. Dengan demikian data yang berhasil diperoleh melalui alat pengumpul data yang terekam oleh peneliti dan observer akan dikonfirmasikan, dianalisis dan dievaluasi agar dapat diketahui apakah pelaksanaan tindakan tersebut telah sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya.
Kegiatan refleksi dilakukan berkelanjutan sehingga kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan selalu dapat ditingkatkan efektivitas dan efisiensinya. Berfikir reflektif sebagai kegiatan berpikir yang dilakukan secara berulang-ulang melalui kegiatan mencermati kenyataan empiris dan mencernakan kenyataan empiris itu dengan pemikiran abstrak, adalah salah satu modal penting bagi seorang peneliti dalam memudahkan penelitiannya.
5). Tahap Perencanaan Tindakan Lanjutan
Tahap ini merupakan tahap untuk merencanakan tindakan lanjutan bila hasil refleksi pada tindakan sebelumnya belum memuaskan. Perencanaan tindakan lanjutan ini merupakan jawaban dari hasil refleksi tindakan sebelumnya yang belum terpecahkan sehingga perlu adanya tindakan lanjutan untuk memperbaiki atau memodifikasi tindakan sebelumnya yang memang belum dapat mengatasi masalah sesuai dengan yang diharapkan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pada kondisi awal, yaitu sebelum penelitian dilaksanakan terdapat beberapa temuan antara lain: semangat  belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan masih rendah, siswa cenderung tidak aktif, lingkungan yang kaku dan membosankan untuk belajar.  Daya tangkap materi pembelajaran dalam hal ini pada materi ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” masih belum optimal, hal ini terbukti dari 23 siswa masih ada 10 siswa atau sebesar 43% yang mendapat nilai < 65 dan  mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal eIVBaluasi, sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 13 siswa atau sebesar 57%.
Hal  ini  dapat  dilihat  dengan  jelas  pada  tabel  ketuntasan  hasil belajar pada kondisi awal dibawah ini :

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01  pada Kondisi Awal
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
10
43%
65 – 100
13
57%
Jumlah
23
100%
Sumber : Data yang olah
           
Analisa pada pada tabel di atas, menunjukkan bahwa pada kondisi awal secara klasikal masih belum tuntas belajar. Kondisi ini menjadi acuan perlu atau tidaknya diadakan Penelitian Tindakan kelas. Selanjutnya peneliti melaksanakan pembelajaran pada siklus I dengan penerapan metode simulasi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan”. Hasil analisa data pada siklus I dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01 pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
5
22%
65 – 100
18
78%
Jumlah
23
100%
Sumber : Data yang olah
           
Dari tabel 2, dapat diketahui , analisa pada siklus I sudah ada peningkatan hasil belajar, yaitu yang mendapat nilai  < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 22 %, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 18 siswa atau sebesar 78%.
Namun untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti melanjutkan analisa data pada siklus II. Pelaksanaan Siklus II, dilaksanakan dengan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I. Dan hasil belajar yang diperoleh pada siklus II sangat menggembirakan, yaitu yang mendapat nilai < 65  hanya sebanyak 3 siswa atau hanya sebesar 13%, dan yang mendapat nilai 65-100 meningkat menjadi sebanyak 20 siswa atau meningkat menjadi 87%, sehingga hasil  belajar pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal , maka analisa data dan pembelajaran tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Dibawah ini adalah tabel untuk memperjelas hasil analisa data pada siklus II.



Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
5%
65 – 100
20
87%
Jumlah
23
100%
Sumber : Data yang olah
            Berdasarkan Tabel 3 di atas, menunjukkan bahwa tujuan penggunaan metode simulasi sudah tercapai pada siklus II. Melalui metode simulasi ini siswa terlatih daya tangkapnya (termasuk intelegensi) dan yang terpenting minat siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meningkat dalam arti siswa senang belajar mata pelajaran ini. Terjadinya peningkatan hasil belajar pada penelitian ini, dapat dilihat pada tabel dan grafik perbandingan sebagai berikut :


Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Kriteria Nilai
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
10
 43%
5
 22%
3
 13%
65 – 100
13
 57%
18
 78%
20
 87%
Jumlah
23
100 %
23
100 %
23
100 %
Sumber : data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Sumber : Data yang diolah



Pembahasan
Dalam pembelajaran yang menggunakan metode simulasi, siswa dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok. Di samping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk dapat bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Metode simulasi merupakan salah satu metode mengajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok. Proses pembelajaran yang menggunakan simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada kelas tinggi di Sekolah Dasar. Dalam pembelajaran, siswa akan dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam kelompok. Disamping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung diperoleh informasi bahwa mayoritas siswa terlibat secara mental dan fisik dalam proses pembelajaran. Partisipasi/keaktifan tersebut terlihat dalam hal kemauan atau keberanian siswa untuk memberikan pendapat mereka dengan memberikan penjelasan kepada sesama teman, partisipasi siswa tersebut jauh lebih baik dibandingkan hasil obserIVBasi pada studi pendahuluan.
Hasil perbandingan analisis data siswa pada kondisi awal dari 23 siswa masih ada 10 siswa atau sebesar 43% yang mendapatkan < 65 dan yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal eIVBaluasi.
 Namun pada siklus I (pertama) dan siklus II (kedua) tampak pada grafik sebagaimana diatas pada siklus I sudah ada peningkatan hasil belajar, yaitu diperoleh data pada siklus I sudah ada peningkatan hasil belajar, yaitu yang mendapat nilai  < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 22 %, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 18 siswa atau sebesar 78%.
Namun untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti melanjutkan analisa data pada siklus II. Pelaksanaan Siklus II, dilaksanakan dengan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I.   Untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti melanjutkan analisa data pada siklus II. Pelaksanaan Siklus II, dilaksanakan dengan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I. Dan hasil sangat menggembirakan, karena yang mendapat nilai < 65  hanya sebanyak 3 siswa atau hanya sebesar 13%, dan yang mendapat nilai 65-100 meningkat menjadi sebanyak 20 siswa atau meningkat menjadi 87%, sehingga hasil  belajar pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal, maka analisa data dan pembelajaran tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya meskipun penelitian dilaksanakan pada bidang studi dan tingkat kelas yang berbeda. Arifin (2000) menemukan bahwa penerapan metode simulasi dapat meningkatkan aktfitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dipahami karena terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar diantaranya :
-      Dapat dijadikan sebagi bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya
-      Dapat Mengembangkan kreativitas siswa
-      Dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa
-      Memperkaya pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis
-      Dapat Meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari data  hasil penelitian diperoleh bahwa, terjadi peningkatan hasil belajar dari perolehan nilai pada kondisi awal yaitu  dari 23 siswa yang mencapai ketuntasan hanya sebanyak  57%, pada siklus I meningkat menjadi 78% , dan pada siklus II meningkat menjadi 87%, sehingga disimpulkan bahwa : Penerapan Metode Simulasi  Dapat Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Pemerintahan Desa, Kelurahan, Dan Kecamatan” Siswa Kelas IVB SD Negeri Badean 01 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015.

Saran-saran
Saran-saran yang peneliti sampaikan untuk memperbaiki proses pembelajaran, adalah sebagai berikut :
a)      Untuk Guru, harus dapat mengetahui kapan kita memperlakukan anak secara umum / sama rata dan kapan kita memperlakukan anak secara khusus agar prestasi belajar dapat tercapai secara maksimal,
b)      Bagi Sekolah, agar dapat memberi dukungan baik berupa sarana maupun prasarana , sehingga guru dapat mengembangkan metode pembelajaran yang variatif untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

DAFTAR  RUJUKAN                          

Arikunto, S. 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Dimyati & Mulyono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Hadi, N. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang.

Hamalik, Oemar. 1999. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya.

Lie, A. 2002. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia.

Mastur, Widiarsono, dan Slamet. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SMP/MTS. Semarang: Aneka Ilmu.

Nurkancana & Sunartama. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.

Rachman, Saiful. Dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah Bahan Pelatihan Pengembangan Profesi Fungsional Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas TK, SD, , SMP/MTs, SMA/MA dan SMK. Surabaya: SIC bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur.