Selasa, 23 Mei 2017

PENERAPAN  MODEL  PEMBELAJARAN  KOOPERATIF  TIPE INVESTIGASI  KELOMPOK  UNTUK  MENINGKATKAN  HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “PENGUKURAN”  SISWA KELAS VI SDN PETUNG 02

Atim Iswati 

Abstrak: Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah mengkaji tentang: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Investigasi Kelompok Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran”  Siswa Kelas VI SD Negeri Petung 02. Rancangan Penelitian ini adalah  penelitian tindakan kelas, langkahnya meliputi: perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection). Hasil penelitian ada peningkatan hasil belajar: dari 27 siswa yang mencapai ketuntasan  hanya sebanyak 16 siswa atau sebesar 59%, pada siklus I yang mencapai ketuntasan meningkat menjadi sebanyak 22 siswa  atau sebesar 81%, dan pada siklus II telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal, karena siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 24 siswa atau sebesar 89%.

    Kata Kunci:  Hasil Belajar;   Investigasi Kelompok


 PENDAHULUAN
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 22 tahun 2006  tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, ditetapkan salah satu tujuan mata pelajaran matematika agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
Asumsinya guru telah melaksanakan kurikulum 2006 atau yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Namun kenyataan masih tidak sesusai dengan harapan, kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika masih kurang. Siswa masih mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah matematika, sedangkan guru menghadapi kesulitan dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan persoalan tersebut.
Menurut Aunurrahman (2009:176) keberhasilan proses pembelajaran merupakan  muara dari seluruh aktifitas yang dilakukan guru dan siswa. Artinya, apapun bentuk kegiatan-kegiatan  guru, mulai dari merancang pembelajaran, memilih dan menentukan materi, pendekatan, strategi dan metode pembelajaran, memilih dan menentukan tehnik evaluasi, semuanya diarahkan untuk mencapai keberhasilan belajar siswa. Meskipun guru secara sungguh-sungguh telah berupaya merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, namun masalah-masalah belajar tetap akan dijumpai guru. Hal ini merupakan pertanda bahwa belajar merupakan kegiatan yang dinamis sehingga guru perlu secara terus menerus mencermati perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa di kelas.
Selanjutnya Aunurrahman (2009:176) menyatakan masalah-masalah belajar bisa muncul dari diri siswa maupun dari luar diri siswa. Masalah-masalah itu dapat dikaji dari sumbernya dan dari tahapannya. Dari sumbernya yaitu dari faktor guru dan faktor siswa. Yang bersumber dari siswa diantaranya sikap, motivasi, dan minat siswa, sedangkan yang bersumber dari guru diantaranya model pembelajaran yang diterapkan oleh guru Sedangkan dikaji dari tahapannya, masalah belajar dapat terjadi  pada waktu sebelum belajar, selama proses belajar dan sesudah belajar.
Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru menerapkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal.
Menurut Soedjadi (dalam Sutrisno, 1999 : 162), model belajar “investigasi” sebenarnya dapat dipandang sebagai model belajar “pemecahan masalah” atau model “penemuan”. Tetapi model belajar “investigasi” memiliki kemungkinan besar berhadapan dengan masalah yang divergen serta alternatif perluasan masalahnya. Sudah barang tentu dalam pelaksanaannya selalu perlu diperhatikan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai, mungkin tentang suatu konsep atau mungkin tentang suatu prinsip.
Pada investigasi, siswa bekerja secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja kelompoknya. Kadang mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat menggali pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan.
Di tempat peneliti bertugas, yaitu di kelas VI SD Negeri Petung 02, hasil belajar mata pelajaran matematika masih relative rendah dibandingkan dengan hasil belajar pada mata pelajaran yang lain. Berdasarkan hal tersebut, peneliti yang juga sebagai guru mata pelajaran matematika melaksanakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok.
Adapun judul Penelitian Kelas ini adalah: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Investigasi Kelompok Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran”  Siswa Kelas VI SD Negeri Petung 02 .
Model pembelajaran investigasi kelompok ialah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok yang bersifat heterogen dimana setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Rumusan Masalah
Masalah yang di bahas pada penelitian tindakan kelas ini  dirumuskan sebagai berikut : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Investigasi Kelompok Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran”  Siswa Kelas VI SD Negeri Petung 02  ?

Tujuan Penelitian
Sedangkan tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah mengkaji tentang : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Investigasi Kelompok Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran”  Siswa Kelas VI SD Negeri Petung 02 .


Manfaat hasil penelitian
Manfaat hasil penelitian yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :
a)      Bagi Siswa, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar , khususnya pada mata pelajaran matematika karena siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran,
b)      Bagi Guru, dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran yang diterapkan, sehingga proses belajar mengajar tidak membosankan,
c)      Bagi Sekolah, hasil Penelitian tindakan kelas ini dapat dijadikan sebagai sumber masukan dalam rangka melakukan pengembangan kurikulum.

METODE  PENELITIAN

Tempat Penelitian dan Subyek Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan  di SDN Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI semester Ganjil  di SDN Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember yang berjumlah 27 siswa.

Rancangan Penelitian
Rancangan dalam penelitian ini adalah  menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Tindakan yang dilakukan yaitu proses pembelajaran Matematika  dengan pendekatan lingkungan di Kelas VI SDN Petung 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
Adapun rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection). Alur pelaksanaan tindakan kelas dalam setiap siklus dapat dilihat dari gambar 1 , dengan tahap-tahap sebagai berikut :
1)         Tahap Persiapan dan Perencanaan Tindakan
Dalam tahap ini tindakan kegiatan penelitian yang dilakukan yaitu menentukan kelas dan subyek penelitian yang sesuai dengan hakikat dan masalah penelitian tindakan kelas. Kemudian melakukan pendekatanpembicaraan dengan kepala sekolah dan satu orang guru sebagai observer (penelitian kolaboratif). Kegiatan berikutnya adalah merencanakan tindakan yang akan dilakukan penelitian.
Langkah-langkah yang harus ditempuh adalah membuat skenario pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Investigasi Kelompok yang mencakup langkah-langkah yang akan dilaksanakan oleh guru (peneliti) dan apa yang akan dilakukan oleh siswa dengan terlebih dahulu menganalisis kurikulum atau bahan pembelajaran Matematika kelas VI Sekolah Dasar. Mempersiapkan sarana dan fasilitas serta sumber belajar yang diperlukan dalam kelas serta mempersiapkan bagaimana cara mengobservasi dan alat untuk mengobservasinya









.

Gambar 1. Spiral Penelitian Tindakan Kelas
(Adaptasi dari Hopkins,1993:48)
























2). Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan tindakan penelitian yang berupa pelaksanaan kegiatan atau rancangan pembelajaran pengetahuan sosial, yaitu perancangan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Investigasi Kelompok. Untuk membantu observer dalam melakukan pengamatan pelaksanaan tindakan, dibuat alat pengumpul data sebagai alat dokumentasi atau catatan yang digunakan untuk memberikan umpan balik yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan tindakan. Disepakati pula antara peneliti dan observer bahwa kehadiran observer tidak akan mengganggu kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung.
3). Tahap Observasi
Pada kenyataannya tahap observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi merupakan semua kegiatan untuk mengenal, merekam, dan mendokumentasikan setiap hal dari proses dan hasil yang dicapai dari tindakan yang direncanakan.
4). Tahap Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu melakukan analisis, sintesis, interprestasi dan eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh. Dengan demikian data yang berhasil diperoleh melalui alat pengumpul data yang terekam oleh peneliti dan observer akan dikonfirmasikan, dianalisis dan dievaluasi agar dapat diketahui apakah pelaksanaan tindakan tersebut telah sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya.
Kegiatan refleksi dilakukan berkelanjutan sehingga kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan selalu dapat ditingkatkan efektivitas dan efisiensinya. Berfikir reflektif sebagai kegiatan berpikir yang dilakukan secara berulang-ulang melalui kegiatan mencermati kenyataan empiris dan mencernakan kenyataan empiris itu dengan pemikiran abstrak, adalah salah satu modal penting bagi seorang peneliti dalam memudahkan penelitiannya.
5). Tahap Perencanaan Tindakan Lanjutan
Tahap ini merupakan tahap untuk merencanakan tindakan lanjutan bila hasil refleksi pada tindakan sebelumnya belum memuaskan. Perencanaan tindakan lanjutan ini merupakan jawaban dari hasil refleksi tindakan sebelumnya yang belum terpecahkan sehingga perlu adanya tindakan lanjutan untuk memperbaiki atau memodifikasi tindakan sebelumnya yang memang belum dapat mengatasi masalah sesuai dengan yang diharapkan.

Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam setiap penelitian dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini metode yang digunakan meliputi tes observasi, dukumentasi dan wawancara.
Tes
Salah satu cara untuk mengetahui tingkat penguasaan dan pemahaman siswa terhadap suatu materi pelajaran diperlukan alat ukur yang berupa tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes akhir (post tes) dan ujian blok dalam bentuk obyektif dan subyektif. Tes akhir digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran, sedangkan ujian blok adalah ujian yang dilaksanakan setelah kompetensi dasar selesai. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dari aspek kognitif. Tes yang digunakan mengacu pada validasi isi, yaitu adanya kesesuaian antara tes dengan materi yang telah diajarkan. Nilai akhir siswa diperoleh dari :
NA = 0,25 NK + 0,75 NB
Keterangan :
NA = Nilai akhir
NK = Rata-rata nilai kelas (post tes)
NB = Nilai ujian blok
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan jalan mencatat secara sistematika dan fenomena-­fenomena yang diselidiki. Observasi dilaksanakan antara lain untuk mengetahui tentang keadaan atau lokasi sekolah, proses pembelajaran didalam kelas, serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang­-barang tertulis, jadi metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, maja!ah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Berdasarkan itu dapat disimpulkan bahwa metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data melalui sumber-­sumber dokumen yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku atau dalam bentuk lain.
Adapun sumber data yang diperlukan dalam penentuan ini adalah :
a.    Nama responder penelitian.
b.    Daftar nilai ulangan harian materi sebelumnya.
Wawancara langsung adalah wawancara yang dilakukan secara langsung dengan orang yang diwawancarai tanpa melalui perantara. Sedangkan wawancara tidak langsung pewancara dan orang yang diwawancarai tidak bertemu secara langsung melainkan melalui perantara.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan mengetahui apakah mereka tertarik dengan metode pembelajaran tersebut. Wawancara dilakukan setelah melakukan penelitian.

Metode Analisis Data
Metode Analisis merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana dengan baik tetapi jika analisa datanya tidak relevan, maka kesimpulan yang diperoleh bisa salah dan tidak relevan.
Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat eksploratif atau developmental. Dua kelompok data yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka dan data kuantitatif yang dinyatakan dengan kata-kata atau simbol. Analisis deskriptif menggambarkan bahwa dengan tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan adanya perbaikan, peningkatan dan perubahan ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Indikator Kinerja
Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika di sekolah di ukur dari nilai ketuntasan belajar siswa dengan standar nilai 65 secara individual dapat dikatakan telah tercapai ketuntasan dalam belajar khusunya mata pelajaran matematika. Secara klasikal mencapai ketuntasan 85 % dari total siswa.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pengaruh penerapan model pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar, terutama keberhasilan penguasaan materi pelajaran oleh siswa akan sangat ditentukan oleh seberapa baik seorang guru menerapkan metode mengajarnya di kelas maupun di luar kelas.Hal ini terbukti dari hasil wawancara dengan siswa di dapatkan bahwa belajar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok  dapat membuat siswa semangat dan belajar dengan senang tanpa ada unsur keterpaksaan, sehingga materi yang disampaikan oleh guru lebih mudah diingat dan dimengerti.
Pada pertemuan pertama dan ke dua pembelajaran matematika  dilaksanakan dengan pendekatan konvensional. Hasil dari test dari dua kali pertemuan ini, dijadikan sebagai dasar pijakan awal untuk mengetahui hasil belajar siswa. Hasil belajar matematika materi ajar “Pengukuran” pada kondisi awal ini menunjukkan bahwa dari 27 siswa mendapat nilai < 65 sebanyak 11 siswa atau sebesar 41% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 16 siswa atau sebesar 55%. Sehingga hasil belajar pada kondisi awal ini dinyatakan belum tuntas secara klasikal.
Selanjutnya pembelajaran dilaksanakan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok pada siklus I. Pada saat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok siswa kelihatan sangat antusias, berbeda jauh dengan yang menggunakan pembelajaran konvensional atau kondisi sebelumnya.
Hasil wawancara dengan siswa di dapatkan bahwa belajar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok dapat membuat siswa semangat dan mendapat suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Alasan ketertarikan terhadap model pembelajaran ini, karena belum pernah diterapkan,dan mudah mengingat materi. Metode ini juga mendorong siswa lebih aktif dalam belajar.
Hasil belajar pada siklus I,  dapat dilihat pada tabel 1, dibawah ini,

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi Ajar “Pengukuran” Siswa Kelas VI SDN Petung 02  Pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
5
19%
65 – 100
22
81%
Jumlah
27
100%
Sumber : data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui pada siklus I diperoleh data, dari 27 siswa  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 Siswa dengan persentase  81%. Sedangkan Siswa  yang nilainya < 65 sebanyak 5 Siswa dengan persentase 19%. Dari data siklus I sudah terlihat adanya peningkatan hasil belajar, namun peneliti ingin mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi.  Maka analisa data dilanjutkan pada siklus II.
Siklus II dilaksanakan hanya sebagai pengulangan dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada Siklus I. Pada siklus ini, terlihat iswa lebih terbiasa mengikuti model pembelajaran yang diterapkan, sehingga pada siklus II juga terjadi peningkatan hasil belajar yang lebih baik lagi, analisa dapat dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi Ajar “Pengukuran” Siswa Kelas VI SDN Petung 02 Pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
11%
65 – 100
24
89%
Jumlah
27
100%
Sumber : data yang diolah
Tabel diatas menjelaskan bahwa pada siklus II diperoleh data, dari 27 siswa yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 24 Siswa dengan persentase 89%. Sedangkan Siswa  yang nilainya < 65 hanya sebanyak 3 siswa dengan persentase 11%. Sehingga pada siklus  II sudah mendapatkan ketuntasan belajar secara klasikal seperti yang diharapkan maka analisa data tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas peningkatan hasil belajar dari Kondisi Awal, siklus I, dan siklus II, dapat dilihat pada tabel 3 dan grafik 1 dibawah ini.

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi Ajar “Pengukuran” Siswa Kelas VI SDN Pada Kondisi Awal, Siklus I, Dan Siklus II
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
11
41%
5
19%
3
11%
65 - 100
16
59%
22
81%
24
89%
Jumlah
27
100%
27
100%
27
100%
Sumber : data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi Ajar “Pengukuran” Siswa Kelas VI SDN Petung 02 Pada Kondisi Awal, Siklus I, Dan Siklus II
Sumber : Data penelitian yang diolah

Pembahasan
Hasil belajar matematika materi ajar “Pengukuran” pada kondisi awal ini menunjukkan bahwa dari 27 siswa mendapat nilai < 65 sebanyak 11 siswa atau sebesar 41% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 16 siswa atau sebesar 55%. Sehingga hasil belajar pada kondisi awal ini dinyatakan belum tuntas secara klasikal.
Hasil belajar pada kondisi awal ini, menjadi dasar perlu atau tidaknya dilaksanakan penelitian tindakan kelas.  Selanjutnya peneliti melaksankan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Investigasi atau penyelidikan merupakan kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa (Soppeng, 2009) . Kegiatan belajarnya diawali dengan pemecahan soal-soal atau masalah-masalah yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan belajar selanjutnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat oleh guru, yang dalam pelaksananya mengacu pada berbagai teori investigasi.
Pada investigasi, siswa bekerja secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja kelompoknya.
Dalam model pembelaran kooperatif tipe investigasi kelompok  guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa heterogen dengan mempertimbangkan keakraban dan minat yang sama dalam topik tertentu. Siswa memilih sendiri topik yang akan dipelajari, dan kelompok merumuskan penyelidikan dan menyepakati pembagian kerja untuk menangani konsep-konsep penyelidikan yang telah dirumuskan. Dalam diskusi kelas ini diutamakan keterlibatan pertukaran pemikiran para siswa.
Pada akhir pembelajaran siklus I, selanjutnya diadakan evaluasi  dan diperoleh hasil belajar siswa mengalami  peningkatan, yaitu dari 27 siswa  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 Siswa dengan persentase  81%. Sedangkan Siswa  yang nilainya < 65 sebanyak 5 Siswa dengan persentase 19%. Dari data siklus I sudah terlihat adanya peningkatan hasil belajar, namun peneliti ingin mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi.  Maka analisa data dilanjutkan pada siklus II.
Untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, selanjutnya pembelajaran dilaksanakan pada siklus II. Dan hasil analisa data pada siklus II, diperoleh data dari 27 siswa yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 24 Siswa dengan persentase 89%. Sedangkan Siswa  yang nilainya < 65 hanya sebanyak 3 siswa dengan persentase 11%. Kesimpulan hasil tindakan perbaikan pembelajaran siklus II yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan yang sangat baik, hasil belajar siswa secara klasikal dinyatakan tuntas belajar. Dengan demikian analisa data dihentikan pada siklus II.
Usia siswa sekolah dasar telah terbukti sangat mudah menyerap informasi dan pengetahuan yang ada di sekitarnya. Kondisi seperti inilah yang perlu dimanfaatkan oleh guru dalam memberikann berbagai materi pelajaran. Pelajaran yang diberikan kepada mereka harus dibarengi dengan berbagai perbagai permainan. Dengan demikian guru dapat melaksanakan proses belajar yang mengarah pada proses perubahan tingkah-laku berbasis pengalaman.
Faktor lain yang ikut memberi kontribusi terhadap peningkatan hasil belajar siswa adalah dengan diberikannya kesempatan kepada siswa untuk melakukan peragaan dalam kelompok. Seperti dikatakan Edgar Dale bahwa pengalaman belajar yang paling tinggi nilainya adalah pengalaman belajar langsung dan melakukan sendiri.
Peran guru dalam mendorong peningkatan hasil belajar siswa masih diperlukan terutama dalam memberikan stimulus dan mengkondisikan belajar yang kondusif karena dengan selalu memperhatikan kondisi tersebut dalam pemberian stimulus oleh guru akan dapat mendorong siswa untuk semakin mandiri, pembelajaran mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat meningkatkan proses pembelajaran.
Peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik suatu mata pelajaran adalah merupakan suatu kemampuan seorang pendidik untuk memiliki daya kreatif dan inovatif melalui suatu percobaan tindakan dikelas. Kegiatan ini harus dilakukan terus menerus oleh seorang pendidik, sampai mendapatkan model pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang dibinanya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Hasil analisa dan pengolahan data implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok pada mata pelajaran matematika materi ajar ”Pengukuran” yang dilaksanakan dalam penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yaitu,  pada pra tindakan, dari 27 siswa yang mencapai ketuntasan  hanya sebanyak 16 siswa atau sebesar 59%, pada siklus I yang mencapai ketuntasan meningkat menjadi sebanyak 22 siswa  atau sebesar 81%, dan pada siklus II telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal, karena siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 24 siswa atau sebesar 89%.
            Peningkatan hasil belajar yang terjadi pada penelitian tindakan kelas ini menyimpulkan bahwa : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Investigasi Kelompok Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Pengukuran”  Siswa Kelas VI SD Negeri Petung 02 .

           
Saran-saran
            Untuk meningkatkan kinerja guru berikut ini beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan, yaitu :
a)      Untuk Guru, hendaknya lebih sering menerapkan metode/model pembelajaran yang variatif agar proses belajar mengajar menjadi lebih menarik dan tidak membosankan,
b)      Untuk sekolah, hendaknya memberi dukungan terhadap penelitian kelas yang dilaksanakan oleh guru dalam rangka meningkatkan profesionalitas guru dalam bertugas.

DAFTAR  RUJUKAN                          

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. BSNP. 2010.
Depdiknas. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi (MTK-26: Model-model Pembelajaran Matematika). Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas.
Setiawan. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Investigasi. PPPG Matematika Yokyakarta 2006.
Setiawan. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Investigasi
Slavin. 2009. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media.
Soppeng, Syarif. 2009. Model Pembelajaran Investigasi dalam Pembelajaran  Matematika .
Tim MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Universitas Pendidikan Indonesia.
Winataputra, Udin S. 2001. Model-model Pembelajaran Inovatif. Jakarta Pusat. Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi. Departemen Pendidikan Nasional
Yasa, Doantara. 2008.  Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI)