Selasa, 23 Mei 2017


PENALARAN SEJARAH: SUATU KLARIFIKASI KONSEPTUAL DAN CONTOH IMPLEMENTASI DI KELAS

Susanto Yunus Alfian

Abstrak:  Kemampuan berpikir tingkat rendah tidak bisa diabaikan, akan tetapi kemampuan berpikir tingkat tinggi seharusnya menjadi bagian penting dalam pembelajaran sejarah sehari-hari. Sebagai bentuk kegiatan kognitif tingkat tinggi, penalaran sejarah merupakan suatu topik utama yang menjadi perhatian dari para pakar dan peneliti pendidikan sejarah saat ini. Tulisan ini terbagi dalam tiga bagian. Pada bagian pertama penulis akan membahas tentang apa itu penalaran yang meliputi penalaran deduktif, penalaran induktif dan penalaran formal. Pada bagian kedua,  penulis menguraikan  apa itu penalaran sejarah yang terdiri dari komponen-komponen penalaran: pembuatan pertanyaan sejarah, penggunaan sumber sejarah, kontekstualisasi, argumentasi, penggunaan konsep substantif sejarah, dan penggunaan metakonsep sejarah. Dan  pada bagian  terakhir penulis memberi contoh empiris tentang penalaran sejarah dalam praktek pada matapelajaran sejarah.

                 Key Words: penalaran, penalaran sejarah, komponen penalaran sejarah.


PENDAHULUAN
Meskipun kemampuan berpikir tingkat rendah tidak bisa diabaikan, akan tetapi kemampuan berpikir tingkat tinggi seharusnya menjadi bagian penting dalam pembelajaran sejarah sehari-hari. Menurut Wineburg (1991),  pengajaran sejarah di sekolah memiliki potensi untuk mengajarkan berpikir dan menalar. Membaca teks sejarah termasuk kegiatan yang paling penting dalam pendidikan sejarah (Van Sledright, 2004). Baik pada pengajaran tradisional ataupun pada trend pengajaran sekarang, aspek kognitif merupakan bagian penting dari pembelajaran matapelajaran sejarah di kelas. Dalam praktek sehari-hari di Indonesia, pembelajaran sejarah di SMA menekankan hasil pelajaran pada aspek kognitif (Senen & Barnabib, 2000), Begitupun soal-soal yang digunakan pada saat ulangan atau ujian juga masih didominasi oleh aspek kognitif tingkat rendah.
Dalam praktek sehari-hari,  pengajaran secara tradisional masih juga berjalan. Secara tradisional pendidikan sejarah masih menekankan pada isi dan belajar sejarah. Sejarah masih diartikan sebagai pengajaran untuk pengingatan fakta dan data dari masa lalu. Dengan kata lain memorisasi masih menjadi perhatian utama.
Sekarang orientasinya sudah berubah. Para pakar pendidikan sejarah lebih menekankan pada belajar menalar dengan fakta dan cerita tentang masa lalu dan belajar membuat cerita sejarah. Atau siswa tidak dijejali dengan cerita sejarah, tapi diminta untuk menghasilkan cerita sejarah.
Siswa perlu  diajak untuk berada dalam suatu perdebatan sejarah. Perdebatan- perdebatan sejarah menuntut siswa untuk membuat argumen. Argumen itu merupakan hasil dari penalaran. Mengapa Syafrudin Prawiranegara mengeluarkan Program Benteng? Mengapa Presiden Sukarno membubarkan Masyumi? Dua permasalahan itu menuntut siswa untuk membuat penalaran atau alasan agar bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. Siswa harus membuat klaim dan mendukungnya dengan alasan-alasan atau penalaran-penalaran baik teoritis ataupun empiris.
Bahkan dalam kegiatan pengembangan professional guru sejarah, penalaran sejarah jarang sekali disinggung. Hal itu telah dirasakan oleh penulis dalam pertemuan- pertemuan guru sejarah yang tergabung dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah di Kabupaten Malang. Guru masih berkutat pada bagaimana siswa  bisa menerima pelajaran dan menguasai isi buku sejarah yang ada. Kegiatan berpikir tingkat rendah yang mengutamakan pada rekognisi dan pengingatan saja masih mendominasi dalam pembelajarannya juga. Sebagai konsekwensinya adalah bahwa pembelajaran sejarah diarahkan hanya untuk teaching for memorizing dan bukan pada teaching for understanding.
Penulis beranggapan bahwa guru-guru sejarah sebaiknya harus memiliki concern pada konsep penalaran sejarah. Berangkat dari asumsi tersebut, penulis perlu untuk mengangkat isu penalaran sejarah itu sebagai bagian dari wacana pembelajaran sejarah. Dalam rangka memahami penalaran sejarah sebagai kegiatan berpikir tingkat tinggi atau sebagai aktifitas mental tingkat tinggi, penulis ingin membantu perkembangan wacana pembelajaran sejarah terutama tentang penalaran sejarah tersebut. Oleh karena itu, penalaran historis perlu dijadikan agenda kegiatan pembelajaran di kelas seperti guru-guru pada matapelajaran lainnya. Guru-guru lain seperti misalnya seorang guru matematis mengenal penalaran matematis dan guru geografis mengenal penalaran geografis. Matapelajaran sejarah harus ditujukan untuk mengembangkan keterampilan penalaran dan pemikiran sejarah (Yilmas, 2008).  Untuk itu tulisan ini akan membahas tentang penalaran sejarah secara konseptual dan prakteknya.
Oleh sebab itu penulis berusaha mengklarifikasi pengertian penalaran sejarah dan menyampaikan beberapa upaya implementasinya dalam praktek pembelajaran. Penyajian penjelasan tentang penalaran sejarah baik pengertian ataupun komponen-komponennya merupakan suatu bentuk preskriptif. Sedangkan contoh-contoh upaya implementasinya dalam praktek pembelajaran merupakan bentuk deskriptif. Berkenaan preskripsi dan deskripsi tersebut, ada  dua permasalahan yang menjadi fokus tulisan ini. Dua hal itu adalah:
1.      Apakah yang menjadi pengertian  penalaran sejarah?
2.      Bagaimanakah praktek pembelajaran untuk mengajarkannya?
Tulisan ini terdiri dari dua bagian utama. Bagian pertama menjelaskan tentang pengertian penalaran sejarah dan sekaligus diuraikan komponen-komponennya. Bagian kedua berisi upaya-upaya pembelajaran penalaran sejarah dalam praktek sehari-hari di kelas.

PEMBAHASAN

HAKIKAT  PENALARAN SEJARAH
   Pengertian
Penalaran sejarah sebagai penalaran informal adalah suatu aktifitas mengorganisir informasi masa lalu untuk mendeskripsikan, membandingkan atau menerangkan fenomena sejarah. Untuk bisa melakukan hal itu, seseorang membuat pertanyaan historis, melakukan kontekstualisasi, menggunakan konsep-konsep subtantif pada sejarah dan metakonsep pada sejarah dan mendukung klaim dengan argumen (van Drie & van Boxtel, 2008). Argumennya harus didasarkan pada bukti-bukti. Penalaran sejarah termasuk memory-bound reasoning (Brainerd & Reyna, 1992). Dengan kata lain, isi penalaran berupa isi pelajaran sejarah.
Untuk melakukan penalaran sejarah, sejarawan membuat pertanyaan sejarah, melakukan kontekstualisasi, menggunakan metakonsep dan konsep substantif di sejarah, dan mendukung klaimnya dengan argumen yang didasarkan pada bukti dari sumber masa lalu yang ada (van Drie & van Boxtel, 2008). Pada mulanya oleh van Drie & van Boxtel (2008), struktur penalaran sejarah tersebut dijadikan sebagai kerangka teoritis untuk menganalisis penalaran sejarah siswa.  Dalam penalaran sejarah tidak dikenal penalaran tingkat tinggi atau rendah (van Drie & van Boxtel, 2008). Penalaran sejarah merupakan penalaran informal.
Antara penalaran informal dan penalaran formal ada perbedaan jelas (Cerbin, 1988). Penalaran formal berupa pembuatan argumen. Yaitu argumen deduktif seperti pada matematika dan logika. Argumen tersebut terdiri dari kesimpulan yang didasarkan pada suatu premis. Sehingga dalam penalaran formal ini, argumen yang baik ditentukan oleh seberapa kuat suatu kesimpulan didasarkan pada premis. Sebaliknya penalaran informal berupa argumen yang didasarkan pada alasan. Pada intinya penalaran informal merupakan hubungan antara klaim dan pendukungnya. Pendukung bisa berupa bukti-bukti. Penalaran informal sangat berkaitan dengan ill-structured problems.

 Komponen Penalaran Sejarah
Penalaran sejarah memiliki enam komponen yaitu: (1) Pembuatan pertanyaan sejarah, (2) Penggunaan sumber sejarah, (3) Kontekstualisasi, (4) argumentasi, (5) Penggunaan konsep substantif, dan (6) Penggunaan metakonsep (van Drie & van Boxtel, 2008). Menerangkan suatu peristiwa sejarah berarti bahwa sejarawan melakukan kontekstualisasi, membuat argumen berdasarkan sumber, dan menggunakan konsep (baik konsep substantif dan metakonsep dalam sejarah). Meskipun seluruh komponen itu merupakan satu kesatuan sebagai penalaran sejarah, masing-masing komponen bisa dilakukan terpisah. Tentang mana dari komponen-komponen itu yang lebih penting, tergantung dari kompleksitas dan tingkat permasalahan atau pertanyaan yang diajukan, informasi dan sarana yang ada, hasil yang diinginkan, dan pengetahuan dan pengalaman sejarawan.

                        1          Pembuatan Pertanyaan Sejarah.
 Pembuatan pertanyaan sejarah berkenaan dengan menanyakan pertanyaan deskriptiff, kausal, komparatif dan evaluatif tentang fenomena dan sumber sejarah (van Drie & van Boxtel, 2008). Pertanyaan tentang fenomena sejarah bisa berupa “Apakah yang menjadi penyebab dari pecahnya Perang Dunia I?” Dan pertanyaan tentang sumber sejarah bisa berupa “Apakah sumber ini bisa memberi bukti cukup?” Pertanyaan eksplanatori “Apakah yang menjadi sebab Perang Dunia I?” bisa menjadi pertanyaan evaluatif bila diubah menjadi “Apakah penyebab terpenting dari pecahnya Perang Dunia I? ”Dengan membuat argumennya berarti bahwa siswa menggunakan penalaran sejarah.

                        2          Penggunaan Sumber Sejarah.
Penggunaan sumber berkenaan dengan evaluasi, seleksi, interpretasi sumber. Bahkan juga mencocokkan dengan sumber lain dalam rangka menjawab pertanyaan yang diajukan atau memberi bukti untuk klaim tentang masa lampau yang dibuat (van Drie & van Boxtel, 2008). Ada dua macam sumber yaitu sumber primer dari waktu peristiwanya terjadi dan sumber sekunder yang berupa cerita terhadap suatu peristiwa. Tentang penggunaan sumber ini ada tiga jenis heuristik yaitu (a) Kontektualisasi, atau memposisikan suatu dokumen pada ruang dan waktunya; (b) sourcing, atau mencari dan mendalami tentang penulis sumber sejarah atau dokumen dan bias dari penulisnya; and (c)  corroboration, atau kegiatan membandingkan antar dokumen dengan maksud untuk mendapatkan hal-hal yang menunjukkan titik temu dan hal-hal yang bertentangan. Tiga jenis heuristik ini selalu digunakan oleh sejarawan ketika menghadapi dan mengevaluasi teks sejarah.

                        3          Kontektualisasi.
Kontekstualisasi berkenaan dengan menempatkan suatu peristiwa,  fenomena, objek, pernyataan, teks atau gambar sejarah dalam konteks sosial, temporal dan spatial dengan maksud mendeskripsikan, menerangkan, membandingkan dan mengevaluasi mereka (van Drie & van Boxtel, 2008). Untuk memahami dan menafsirkan peristiwa sejarah atau tindakan pelaku sejarah, dituntut adanya pengetahuan terhadap konteks sejarahnya yaitu karakteristik tempat dan waktu (van Drie & van Boxtel, 2008). Untuk mampu menciptakan suatu konteks sejarah, pengetahuan faktual dan juga makna sejarah dari kata-kata, istilah dan frase bisa dilakukan dengan membandingkannya dengan periode yang berbeda. Disini timeline dan hal-hal geografis sangat diperlukan. Jadi dalam kontekstualisasi, sejarawan menempatkan suatu fenomena sejarah berada pada parameter sosial, ruang dan waktu (Stuckart, 2004).
Siswa bisa menggunakan kerangka referensi kronologis dan juga kerangka referensi spasial. Dalam kerangka referensi kronologis, siswa bisa memanfaatkan pengetahuan periodisasi yang telah dimilikinya. Ketia siswa mendalami Maklumat Nomer X,  dia bisa menggunakan pengetahuan periodisasi pasca merdeka.  Periodisasi tersebut berupa masa revolusi, demokrasi liberal, demokrasi terpimpin dan seterusnya. Siswa akan mengaitkan  suatu informasi, peristiwa, tindakan tokoh, fenomena sejarah dengan yang lainnya.
Dalam kerangka referensi spasial, siswa mengaitkan informasi, tindakan tokoh, peristiwa sejarah dengan tempat yang signifikan berkaitan dengannya. Tentang Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), siswa bisa diajak mengaitkan dengan tempat yang sangat berkaitan yaitu Sumatra dan India.

                        4          Argumentasi.
Argumentasi berkenaan dengan penyajian klaim dan mendukungnya dengan argumen  melalui pemilihan hasil interpretasi dan perhatian pada counterargument (van Drie & van Boxtel, 2008). Klaim tentang masa lampau harus didukung oleh argumen rasional yang didasarkan pada bukti. Penalaran sejarah tidak hanya berupa opini atau pandangan semata tapi harus didukung oleh argumen dan bukti. Penalaran sejarah dapat dianggap sebagai penalaran informal dan bukan penalaran formal. Penalaran informal berkenaan dengan ill-structured problems. Ill-structured problems  adalah permasalahan yang memiliki lebih dari satu solusi benar.

                        5          Penggunaan Konsep Subtantif Sejarah.
Penggunaan konsep substantif berkenaan dengan penggunaan konsep-konsep yang menunjukkan nama-nama periode, tokoh,  atau fenomena sejarah ketika mengorganisir informasi masa lampau dalam rangka mendeskripsikan,  membandingkan, dan/atau menerangkan fenomena sejarah (van Drie & van Boxtel, 2008). Konsep-konsep ini menjadi konsep-konsep yang ada dalam disiplin sejarah dan menjadi alat dalam memikirkan, menanyakan, menguraikan, menganalisis, mensintesa dan mendiskusikan fenomena sejarah. Makna konsep pada jamannya bisa berbeda dengan maknanya sekarang. Konsep substantif dalam sejarah adalah konsep-konsep yang khas dalam bahasanya sejarah.  Dengan menggunakan konsep-konsep substantif, siswa  bisa menerangkan fenomena sejarah.

                        6          Penggunaan Metakonsep Sejarah.
Penggunaan metakonsep meliputi penggunaan heuristik yang berkaitan dengan (a) deskripsi proses perubahan sejarah, misal: membedakan perubahan dan kontinuitas, perubahan mendadak dan bertahap, perubahan budaya,  politik, ekonomi dan social, (b) perbandingan fenomena sejarah, misal: membandingkan persamaan dan perbedaan dan aspek-aspek yang unik dan yang umum, (c) eksplanasi peristiwa sejarah, misal: mengidentifikasi berbagai sebab, jenis sebab, dan hubungan antar sebab, dan akibat langsung dan tak langsung, dan  (d) penggunaan sumber sejarah, misal: mengevaluasi reliabilitas sumber dan membandingkan informasi dari berbagai sumber (van Drie & van Boxtel, 2008).  Metakonsep atau konsep metodologis merupakan metode-metode yang digunakan sejarawan untuk meneliti dan mendeskripsikan periode dan peristiwa sejarah. Contoh metakonsep adalah kausalitas, perubahan dan kontinuitas, revolusi, perbandingan.
Masing-masing komponen penalaran itu bisa dilakukan dalam penelitian terpisah. Penelitian bisa difokuskan pada eksplanasi fenomena sejarah, penggunaan sumber sejarah, menanyakan pertanyaan sejarah, kontekstualisai, membandingkan fenomena-fenomena sejarah, penalaran tentang perubahan sejarah, penggunaan konsep substantif dalam menalar sejarah  (van Drie & van Boxtel, 2008). Disamping penelitian penalaran sejarah, yang juga penting dilakukan adalah praktek penalaran sejarah di kelas. Kerangka penalaran sejarah yang terdiri dari enam komponen tersebut juga bisa digunakan sebagai kriteria untuk mengevaluasi hasil kerja siswa yang berupa esai sejarah atau cerita seajrah. Kriteria penilaian dari jawaban tertulis adalah: (a) Organisasi dan struktur uraiannya (missal: ide-idenya mengalir secara linear), (b) Keutuhan uraian, (c) Luasnya penjelasan (misal: banyaknya hubungan kausal), (d) Hubungan antar ide (Wiley & Voss, 1996).

PRAKTEK-PRAKTEK PEMBELAJARAN PENALARAN SEJARAH
Van Boxtel & van Drie (2004) mengajak siswa melakukan penalaran sejarah dengan fokus pada kontekstualisasi. Dalam melakukan kontekstualisasi terhadap suatu sumber sejarah,  siswa menggunakan a chronological frame of reference, konsep-konsep sejarah, skemata yang digunakan untuk menggambarkan proses prubahan sejarah. Ketika diberi suatu sumber sejarah misal teks atau gambar tentang peristiwa sejarah, siswa diminta untuk membahas atau menuliskan indikator-indikator yang menunjukkan tahun, jaman dan peristiwa yang berkaitan dengan sumber itu. Mereka juga bisa diminta untuk menuliskan fenomena-fenomena yang berkaitan dengannya. Penalaran sejarah dalam bentuk kontekstualisasi menuntut siswa  untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: sumber sejarah ini tentang apa? Peristiwa-peristiwa lain atau fenomena apakah yang bisa dihubungkan dengan sumber tersebut? Dan pada jaman apa atau kapan waktu sumber tersebut dibuat? Dengan begitu siswa  akan menghubungkan informasi pada suatu sumber dengan pengetahuan mereka tentang fenomena sejarah lainnya yang telah diketahuinya.
Reisman & Wineburg (2008) menguraikan tiga kegiatan dalam melakukan kontekstualisasi pada saat membaca dokumen sejarah yaitu menggunakan pengetahuan awal, menggunakan pertanyaan pengarah, dan melakukan pemodelan berpikir kontekstual. Untuk mengetahui suatu peristiwa sejarah, kita tidak perlu memahami segala sesuatu tentang peristiwa tersebut. Sebaliknya yang mendasar adalah memahami kronologi dan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Dengan pengetahuan awal, kita bisa mempunyai accurate mental image tentang yang kita baca. Guru harus menciptakan situasi pembelajaran yang membangkitkan pengetahuan awal tersebut. Pertanyaan yang mengarahkan kepada informasi penting tentang suatu peristiwa merupakan cara untuk membantu siswa berpikir kontekstual dimana siswa akan bisa menghasilkan pengetahuan tentang suatu peristiwa atau suatu konteks sejarah pada suatu masa tertentu. Pertanyaan yang diberikan tersebut akan menjadi scaffolding atau pancingan dalam proses kontekstualisasi dalam memahami suatu sumber sejarah. Pemodelan berupa cognitive apprenticeship dimana siswa diajak melakukan proses berpikir seperti seorang pakar sejarah, misal: siswa diajak mencari sumber lain untuk melakukan perbandingan dan mengkritisinya.
Monte-sano & De La Paz (2012) mengajak siswa untuk melakukan analisis dokumen. Dalam menganalisis dokumen, siswa diminta untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dari dua dokumen. Hasil analisisnya ditulis. Sehingga hasil tersebut berupa tulisan sejarah. Disini siswa membaca dengan seksama dan melakukan koroborasi antar dua dokumen itu. Dengan menganalisis dokumen tersebut, siswa melakukan penalaran sejarah.
Van Drie et al (2005) mengajak siswa melakukan penalaran sejarah dengan jalan memberi tugas inkuiri sejarah. Disini siswa diajak untuk mengkaji sumber sejarah dan membuat tulisan sejarah. Sumber sejarah tersebut bisa berupa uraian di buku teks, tulisan sejarawan, foto, tabel hasil wawancara. Tugas siswa berkenaan dengan penyelesaian permasalahan: Apakah gerakan pemuda Belanda tahun 1960-an merupakan gerakan revolusioner ataukah bukan? Permasalahan tersebut diarahkan haya pada satu aspek saja dari penalaranan sejarah yaitu bahwa siswa hanya mengambil salah satu saja dari dua posisi tersebut. Kemudian siswa diminta untuk mendukungnya dengan argumen-argumen.  Dengan demikian siswa mengorganisir argumen dalam rangka mendukung posisi yang dipilihnya yaitu gerakan revolusioner atau gerakan non revolusioner.
Palmeri (2015) mengajak siswa untuk melakukan penalaran sejarah dengan melakukan kronologi. Siswa diberi 10 foto. Foto-foto itu berisi gambar orang, mobil,dan teknologi lainnya dari berbagai jaman. Siswa diminta untuk mendalami foto-foto itu. Pendalaman siswa bisa berkenaan dengan isi foto tentang apa dan memberikan alasan tentang keputusannya tersebut. Kemudian siswa diminta untuk mengurutkan secara kronologis semua foto itu. Ketika mengurutkan itu, siswa diminta memperdebatkan dengan misalnya anggota kelompoknya. Ketika ada ketidak sepakatan tentang letaknya, siswa melakukan perdebatan. Mereka saling memberi alasan masing-masing tentang penempatan urutannya. 

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Penalaran sejarah merupakan suatu topik utama yang menjadi perhatian dari para peneliti pendidikan sejarah. Kemampuan berpikir tingkat tinggi seharusnya menjadi bagian penting dalam pembelajaran sejarah sehari-hari. Ada beberapa jenis penalaran secara umum antara lain  penalaran deduktif, penalaran induktif, penalaran abduktif, penalaran formal, penalaran informal. Menurut  van Drie & van Boxtel (2008), penalaran sejarah memiliki enam komponen yaitu: (a) membuat pertanyaan sejarah, (b) menggunakan sumber sejarah, (c) melakukan kontekstualisasi, (d) argumentasi, (e) menggunakan konsep substantif, dan (f) menggunakan metakonsep. Masing-masing komponen penalaran sejarah tersebut bisa diimplementasikan secara terpisah di dalam pembelajaran di kelas.

Saran
Meskipun komponen-komponen penalaran sejarah merupakan aktifitas terpisah, akan tetapi pada prinsipnya masing-masing komponen itu bisa saling berkaitan. Ketika menceritakan tindakan suatu kelompok pada masa lalu, sejarawan harus menempatkan tindakan dan motif tindakan itu dalam suatu waktu tertentu. Bahkan sejarawan juga menggunakaninformasi dari berbagai sumber, ketika dia berargumentasi. Menempatkan suatu peristiwa sejarah dalam konteks sejarahnya juga merupakan hal penting. Kontekstualisasi tersebut merupakan kegiatan utama dalam penalaran sejarah. Jadi dalam pelaksanaan pembelajaran, guru bisa mempraktekkan secara terpisah dan juga bisa dilakukan dengan saling mengaitkan antar komponen.

DAFTAR RUJUKAN

Brainerd, C. J. & Reyna, V. F. 1992. Explaining memory free reasoning. Psychological Science, 3 (6), 332-339.

Carbin, B. 1988. The nature and development of informal reasoning skills in college students. Makalah disajikan pada The National Institute on Issues in Teaching and Learning 12 th, Chicago, IL. 24-27 April 1988.

Monte-sano, C. & De La Paz, S. 2012. Using writing tasks to elicit adolescents’ historical reasoning. Journal of Literacy Research, 44 (3), 273-299.

Palmeri, A. B. 2015. Building prospective early childhood teachers content knowledge through historical reasoning tasks. Social Studies Research and Practice, 10 (3). 57-68.

Reisman, A., & Wineburg, S. 2008. Teaching the skill of contextualizing in history. The Social Studies, 99: 202-207

Senen, A., & Barnabib, I. 2000. Tantangan guru sejarah: pesan sejarah sebagai konsep pendidikan nilai. Jurnal Penelitian dan Evaluasi, 2 (3): 131-140.

Stuckart, D.W. 2004. Secondary students using expert heuristics in the analysis of digitalized historical documents. Disertasi. Universithy of South Florida.

Van Boxtel, C., & Van Drie, 2004. Historical reasoning: a comparison of how experts and novices contextualize historical sources. International Journal of Historical Learning, Teaching and Research, 4 (2): 89-97.

Van Drie, J., Van Boxtel, C., Erkens, G., & Kanselaar, G. 2005. Using representational tools to support historical reasoning in computer-supported collaborative learning. Technology, Pedagogy, and Education, 14 (1), 25-42.

Van Drie, J., & Van Boxtel, C. 2008. Historical reasoning: towards a framework for analyzing students’ reasoning about the past. Educational Psychology Review, 20 (2): 87 – 110.

Van Sledright, B. A. 2004. What does it mean to read history? Fertile ground go cross-disciplinary collaborations? Reading Research Quarterly, 39 (3): 342-346.

Wiley, J., & Voss, J. F. 1996. The effects of playing historian on learning in history. Applied Cognitive Psychology, 10: 563-572.

Wilhelm, O. 2004. Measuring reasoning ability. Dalam Oliver Wilhelm & Randall W. Engle (eds). Handbook of understanding and reasoning intelligence. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, Inc.

Wineburg, S. S. 1991. On the reading of historical texts: notes on the breach between school and academy. American Educational Research Journal, 28 (3): 495-519.


Yilmaz, K. 2008. A version of history teaching and learning: thoughts on history education in secondary schools. The High School Journal, 92 (2), 37-46.