Selasa, 09 Mei 2017

PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI POKOK “KEMAGNETAN” SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 4 TANGGUL JEMBER



PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEKITAR SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI POKOK “KEMAGNETAN” SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 4 TANGGUL JEMBER

Ririn Hariyani

Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan untuk  mengakaji tentang : Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah Untuk  Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam  Materi Pokok “Kemagnetan” Siswa Kelas IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jember.   Hasil penelitian menunjukkan:  dari kondisi awal  ketuntasan baru mencapai 62%, pada siklus pertama meningkat ketuntasan mencapai 72 % dan selanjutnya pada siklus kedua meningkat menjadi 95%. Sehingga telah mencapai standar kinerja yakni ketuntasan klasikal mencapai 85%. Sehingga Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah da  pat Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam  Materi Pokok “Kemagnetan” Siswa Kelas IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jember

       Kata Kunci :Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah Dan
       Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Sekolah merupakan suatu tempat untuk berlangsungnya proses belajar-mengajar (PBM) karena adanya interaksi antara guru dan murid, dimana, guru dan murid merupakan dua komponen terpenting. Menurut Muhamad Surya (2004: 50) “Dalam psikologi pendidikan, belajar dapat diartikan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Proses belajar-mengajar adalah kunci utama dari dunia pendidikan terutama disekolah-sekolah, dimana proses belajar-mengajar adalah intinya, sedangkan guru sebagai salah satu komponennya harus memiliki cara-cara tertentu. Hal ini dilakukan untuk mempermudah guru dalam menyampaikan materi tertentu dan memudahkan para siswa dalam menyerap materi pelajaran pada proses belajar-mengajar, karena itu seorang guru harus jeli dalam memilih cara tertentu yang dianggap paling mudah dan cepat dicerna oleh siswa atau peserta didik sehingga pengetahuan yang disampaikan oleh guru akan benar-benar dapat dimilki oleh peserta didik.
Pada dasarnya proses pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan melalui tatap muka antara guru dan siswa, dimana guru menyampaikan materi kemudian siswa mendengarkannya, melainkan ada beberapa cara yang sesuai khusus agar siswa mampu menerima materi dengan baik. Untuk itu perlu adanya sebuah terobosan baru untuk memudahkan siswa dalam menerima materi dan juga memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran, yakni melalui media pembelajaran. 
Dalam hal ini pembelajaran tentang biologi sangat berkaitan dengan pemakaian media terutama pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran karena biologi tidak lepas dari lingkungan yang ada di sekitar kita. Secara harfiah kata media mempunyai arti “perantara” atau “pengantar” Association for Education Communication (AECT) mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi. Sedangkan Education Association (NEA) mendefinisikan sebagai benda yang dapat di manipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instructional (Asnawir & Usman, 2002: 11).
Media merupakan alat yang digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan dan dapat merangsang pikiran perasaan dan kemajuan audiens (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar mengajar (Sabri, Ahmad, 2005: 112)
Seorang guru dalam menggunakan media pendidikan yang efektif, setiap guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan/ pengajaran. Pengetahuan tersebut menurut Oemar Hamalik (1985: 16), dalam Asnawir & Usman (2002: 18):
1)      Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar,
2)      Media berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan,
3)      Penggunaan media dalam proses belajar mengajar,
4)      Hubungan antara metode mengajar dengan metode pendidikan,
5)      Nilai dan manfaat media pendidikan,
6)      Memilih dan menggunakan media pendidikan,
7)      Mengetahui berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan,
8)      Mengetahui penggunaan media pendidikan dalam setiap mata pelajaran yangdiajarkan,
9. Melakukan usaha-usaha inovasi dalam media pendidikan. Karena itu media pendidikan sangat penting sekali untuk menungjang pencapaian tujuan dari pendidikian itu sendiri.
Lingkungan adalah sesuatu gejala alam yang ada disekitar kita, dimana terdapat interaksi antara faktor biotik (hidup) dan faktor abiotik (tak hidup). Lingkungan menyediakan rangsangan (stimulus) terhadap individu dan sebaliknya individu memberikan respons terhadap lingkungan. Dalam proses interaksi itu dapat terjadi perubahan pada diri individu berupa perubahan tingkah laku.Oemar Hamalik (2004 : 194) dalam teorinya “Kembali ke Alam” menunjukan betapa pentingnya pengaruh alam terhadap perkembangan peserta didik. Menurut Oemar Hamalik (2004: 195) Lingkungan (environment) sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Lingkungan yang berada disekitar kita dapat dijadikan sebagai sumber belajar.
Lingkungan meliputi:
1)      Masyarakat disekeliling sekolah;
2)       Lingkungan fisik disekitar sekolah,
3)      Bahan-bahan yang tersisa atau tidak dipakai dan bahan-bahan bekas dan bila diolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber atau alat bantu dalam belajar; dan
4)      Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
Jadi media pembelajaran lingkungan adalah pemahaman terhadap gejala atau tingkah laku tertentu dari objek atau pengamatan ilimiah terhadap sesuatu yang ada di sekitar sebagai bahan pengajaran siswa sebelum dan sesudah menerima materi dari sekolah dengan membawa pengalaman dan penemuan dengan apa yang mereka temui di lingkungan mereka. Dengan adanya pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini guru berharap siswa akan lebih akrab dengan lingkungan sehingga menumbuhkan rasa cinta akan lingkungan sekitarnya.
Pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini diarahkan agar siswa dapat mengembangkan dan memadukan antara teori-teori yang mereka terima dikelas dengan pengamatan langsung di alam. Karena siswa juga merasa jenuh belajar di kelas yang pembelajarannya hanya mengacu pada teori-teori dengan penyampaian materi pelajaran dengan metode ceramah. Sehingga pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini bisa dijadikan sebagai cara atau alternative bagi guru untuk mendidik siswa. Selain keterangan diatas peristiwa alam juga bisa dijadikan sebagai sumber belajar atau pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran seperti; banjir, gempa bumi, letusan gunung api, gerhana, pasang surut air laut. Kepala sekolah hendaknya menyarankan kepada seorang guru agar senantiasa kreatif dalam mencari sumber belajar, supaya siswa tidak terlalu jenuh belajar dikelas. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan menurut Asnawir & Usman (2002: 110):
1)      Menyelidiki lingkungan sekitar, mencari hal-hal yang diusahakan dapat dijadikan sebagai sumber belajar,
2)      Membuat perencanaan proses belajar mengajar berdasarkan topik yang dipilih,
3)      Mengorganisasi siswa secara berkelompok atau secara individual sesuai dengan kebutuhan,
4)      Menjelaskan kepada siswa tentang tugas yang diberikan,
5)      Memberikan tugas kepada kelompok atau individu,
6)      Mendiskusikan hasil kerja yang diperoleh,
7)      Menyimpulkan hasil kerja,
8)      Menilai kerja siswa, dan
9)      Tindak lanjut yang diperlukan.
Pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini lebih bermakna disebabkan para siswa dihadapkan langsung dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, dan kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan. Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar mengajar ( Sudjana & Rivai, 2002: 208):
1)      Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi,
2)      Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan langsung dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami,
3)      Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat,
4)      Kegiatan belajar lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta,
5)      Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan social, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain, dan Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada dilingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk rasa cinta akan lingkungan
Selain itu untuk memanfaatkan lingkungan sekitar harus memenuhi beberapa syarat tertentu diantaranya :
1)      Harus sesuai dengan garis-garis besar program pengajaran,
2)      Dapat menarik perhatian siswa,
3)      Hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat,
4)      Dapat mengembangkan keterampilan anak berinteraksi dengan lingkungan,
5)      Berhubungan erat dengan lingkungan siswa, dan
6)      Dapat mengembangkan pengalaman dan pengetahuan siswa.
            Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah Sebagai Media pembelajaran Dalam Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa  Tingkat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan tercermin dari kondisi lingkungan disekitar yang telah mengalami kerusakan alam dan pencemaran lingkungan. Untuk lebih meningkatkan rasa kesadaran, tanggung jawab serta kepedulian terhadap lingkungan, perlu ditanamkan pendidikan lingkungan sejak dini, yaitu melalui pendidikan berbudaya lingkungan di Sekolah . Gagasan pemerintah untuk menerapkan Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai muatan lokal ditingkat SD hingga SMA merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Di jenjang sekolah dasar, materi lingkungan terintegrasikan ke dalam mata pelajaran IPA dan IPS, demikian juga di jenjang SLTP, materi lingkungan terintegrasi ke dalam mata pelajaran IPA-Biologi, IPA-Fisika, IPA-Geografl, dan IPS-Ekonomi; sedangkan di jenjang SMU, materi lingkungan terintegrasi ke dalam mata pelajaran Biologi dan Sosiologi. Secara hakikat, hasil sebuah pembelajaran adalah adanya perubahan perilaku. Berbagai fakta menunjukkan, berbagai perilakusiswa yang mengarah pada perusakan lingkungan masih mudah ditemukan. Dengan kata lain,kesadaran lingkungan siswa masih perlu ditingkatkan.
Lingkungan merupakan salah satu tempat atau wahana untuk digunakan sebagai media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, karena dapat menumbuhkan minat dan merangsang mereka untuk berbuat dan membuktikannya. Hal ini sangat baik dan cocok dilakukan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Tepadu.
Untuk itu peneliti termotivasi dan tertarik melakukan penelitian tindakan kelas  tentang pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai media pembelajaran karena pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran sangat tepat dan sesuai dengan materi-materi yang ada dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu, sehingga siswa lebih mengerti dan memahami tentang materi-materi yang diajarkan. Sedangkan pengambilan materi pokok “Kemagnetan” ini karena dalam kemagnetan terdapat komponen yang bisa dijumpai disekitar kita. Untuk itu pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai media pembelajaran pada materi pokok “ Kemagnetan” sangat cocok dan tepat.
Oleh karena itu pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran pada materi pokok “Kemagnetan”, diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam proses belajar mengajar sehingga, siswa akan lebih senang dan paham dengan pembelajaran ini serta memperbaiki kualitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan mutu pendidikan.

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas , maka permasalahan penelitian tindakan kelas ini dirumuskan  sebagai berikut: Apakah Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah Dapat Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu Materi Pokok “Kemagnetan” Siswa Kelas IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jember ?

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan untuk  mengakaji tentang : Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah Untuk  Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam  Materi Pokok “Kemagnetan” Siswa Kelas IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jember.

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
a)      Bagi siswa, menjadi sajian pembelajaran yang menarik dan mampu membuat siswa lebih aktif dan menyenangkan dalam belajar serta dapat meningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam,
b)      Bagi guru, sebagai acuan dalam pengelolaan pembelajaran melalui terciptanya kualitas pembelajaran dan sebagai sumbangan pembinaan tentang bagaimana cara menerapkan Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah,
c)      Bagi sekolah atau lembaga pendidikan, sebagai sumbangan pemikiran demi meningkatkan mutu pendidikan.

Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan kerancuan dalam memahami judul maka peneliti menjelaskan bahwa  :
a)     Media pembelajaran lingkungan adalah pemahaman terhadap gejala atau tingkah laku tertentu dari objek atau pengamatan ilimiah terhadap sesuatu yang ada di sekitar sebagai bahan pengajaran siswa sebelum dan sesudah menerima materi dari sekolah dengan membawa pengalaman dan penemuan dengan apa yang mereka temui dilingkungan mereka.
b)     Hasil belajar dalam penelitian ini adalah suatu pencapaian dari suatu penguasaan materi secara maksimal baik secara perorangan maupun secara kelompok.
     Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
1)   Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skormaksimal 100.
2)   Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

METODE PENELITIAN
            Penelitian ini dilaksanakan pada semester Genap tahun pelajaran 2013/2014 bertempat di SMP Negeri 4 Tanggul Jember.Subyek dan sekaligus menjadi obyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX B semester Genap tahun pelajaran 2013/2014  SMP Negeri 4 Tanggul Jember yang berjumlah 39 siswa.
            Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah  Rancangan Penelitian Tindakan Model Kemmis & McTaggart. Model yang dikemukakan Kemmis & Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut dari model Kurt Lewin. Secara mendasar tidak ada perbedaan yang prinsip antara keduanya. Model ini banyak dipakai karena sederhana dan mudah dipahami. Rancangan Kemmis & Taggart dapat mencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri dari tahap-tahap: perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-tahapan ini berlangsung secara berulang-ulang, sampai tujuan penelitian tercapai.
Langkah pertama pada setiap siklus adalah penyusunan rencana tindakan. Tahapan berikutnya pelaksanaan dan sekaligus pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan. Hasil pengamatan kemudian dievaluasi dalam bentuk refleksi. Apabila hasil refleksi siklus pertama menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan belum memberikan hasil sebagaimana diharapkan, maka berikutnya disusun lagi rencana untuk dilaksanakan pada siklus kedua. Demikian seterusnya sampai hasil yang dinginkan benar-benar tercapai.

 Metode Dan Instrumen Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan documenter. Teknik observasi digunakan untuk menggali berbagai kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang berkaitan dengan system yang berlangsung pada proses pembelajaran di kelas. Jadi observasi dipakai untuk menggali data yang terlihat, terdengar, atau terasakan dimana kesemuanya dipandang sebagai suatu hamparan kenyataan (Stuart, 1977) yang mungkin saja diangkat sebagai aspek penting terkait dengan system pembelajaran di sekolah.
Teknik wawancara mendalam (in depth interview) digunakan untuk menggali apa yang ada di dalam proses pembelajarnnya baik bagi guru maupun bagi siswa. Sedangkan documenter digunakan untuk menggali data yang bersifat dokumen.
Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dua tahap. Tahap pertama untuk data kuantitatif dianalisis dengan statistic deskriptif selanjutnya dimaknai dengan analisis kualiatif. Ketika pengumpulan data berlangsung, peneltian akan dengan sendirinya terlibat melakukan perbandingan-perbandingan dalam rangka memperkaya data bagi tujuan konseptual, kategori dan teorisasi. Reduksi data dilakukan untuk memastikan data terkumpul dengan selengkap mungkin untuk kemudian dipilah-pilahkan ke dalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu (Muhajir, 1989).
Kategori yang peneliti maksud adalah skala yang digunakan untuk dapat memasukkan data sehingga data tersebut dapat dianalisis untuk memudahkan dalam data kuantitatif.
Setelah mendapatkan data dan dianalisis maka data tersebut bisa dibaca secara deskriptif untuk memudahkan dalam membaca laporan hasil penelitian tindakan kelas. Pada saat melakukan penelitian siklus yang digunakan adalah dua siklus dalam dua kali pertemuan untuk melaksanakan penelitian ini.
Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpuian yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Data yang akan dianalis dalam penelitian ini adalah 1) kegiatan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi yakni meliputi aspek afektif dan psikomotor, 2) hasil tugas dan ulangan harian siswa (aspek kognitif dianalisis data dengan Analisis deskriptif kualitatif).

            Indikator yang dapat dicapai dari penelitian ini antara lain :
  1. Adanya interaksi antara guru dan murid yang lebih aktif jika menggunakan Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah
  2. Adanya keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar baik berupa sanggahan, pertanyaan, maupun pendapat.
  3. Siswa lebih mudah memahami dan menerima materi belajar dengan Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah
  4. Peningkatan hasil belajar siswa adalah peningkatan hasil belajar  secara individual maupun klasikal.
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
3)   Ketuntasan individual, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.
4)   Ketuntasan klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Kegiatan pertama-tama dilakukan dalam penelitian ini adalah mengadakan analisa data pada pembelajaran sebelum  Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah diterapkan, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1 : Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu Siswa Siswa Kela IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jemberpada Pra Tindakan

Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
15
38%
65 – 100
24
62%
Jumlah
39
100 %
Sumber: Data yang diolah
            Berdasarkan analisis data pada  Pra Tindakan , diperoleh data, yang mendapat nilai <65 sebanyak 15 siswa atau sebesar 38%, dan yang mendapat  nilai 65-100 sebanyak 24 siswa atau sebesar 62%, dengan demikian pada Pra tindakan, siswa yang mencapai ketuntasan masih rendah, yaitu di bawah 65%.
            Selanjutnya , peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu materi ajar “ Kemagnetan”,  denagan tahap-tahap yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya.
Adapun hasil belajar pada siklus I, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2 : Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu Siswa Siswa Kela IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jember pada Siklus I

Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
11
28%
65 – 100
28
72%
Jumlah
39
100 %
Sumber: Data yang diolah
            Berdasarkan analisis data pada  siklus I , diperoleh data, yang mendapat nilai <65 sebanyak 11 siswa atau sebesar 28%, dan yang mendapat  nilai 65-100 sebanyak 28 siswa atau sebesar 72%, dengan demikian pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar , namun masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terjadi karena beberapa siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan.
            Selanjutnya, diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II, dengan menyempurnakan kekurangan yang terjadi pada siklus I. Dan hasilnya adalah.

Tabel 3 : Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu Siswa Siswa Kela IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jember pada Siklus II

Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
2
2%
65 – 100
37
37%
Jumlah
39
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas , dapat diketahui analisis data pada  Siklus II, diperoleh data, yang mendapat nilai <65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 5%, dan yang mendapat  nilai 65-100 sebanyak 37 siswa atau sebesar 95%, dengan demikian pada siklus II dinyatakan tuntas secara klasikal sehingga penelitian tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas hasil belajar pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II,  dapat disajikan pada garfik dan tabel di bawah ini.

Grafik 1 : Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu Siswa Kelas IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jember pada Pra Tindakan , siklus I, dan Siklus II




Sumber : Data yang diolah

Tabel 3: Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu Siswa Kelas IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jember Jember pada Pra Tindakan , siklus I, dan Siklus II.

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
14
38%
11
28%
2
5%
65 - 100
24
62%
28
72%
37
95%
Jumlah
39
100%
39
100%
39
100%
Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Penerapan pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu  materi ajar “Kemagnetan” berdampak pada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa. Peningkatan kedua aspek tersebut juga diiringi dengan adanya peningkatan aspek psikologis penting lainnya, yakni minat siswa terhadap meteri pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa  perbandingan ketuntasan hasil belajar dari siklus I dan siklus II tampat pada grafik sebagaimana digambarkan diatas.
Peningkatan hasil belajar yang dicapai Siswa diukur menggunakan tes hasil belajar meliputi hasil belajar sebelum penelitian tindakan dilaksanakan, hasil belajar pada siklus I dan hasil belajar pada siklus II. Perbandingan ketiga hasil belajar tersebut menunjukkan bahwa penerapan pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah meningkatkan hasil belajar  secara meyakinkan.
Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar mengajar ( Sudjana & Rivai, 2002: 208):
6)      Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi,
7)      Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan langsung dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami,
8)      Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat,
9)      Kegiatan belajar lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta,
Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan social, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain, dan Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada dilingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk rasa cinta akan lingkungan.
Akhirnya dapat peneliti simpulkan , bahwa lingkungan merupakan salah satu tempat atau wahana untuk digunakan sebagai media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, karena dapat menumbuhkan minat dan merangsang mereka untuk berbuat dan membuktikannya. Hal ini sangat baik dan cocok dilakukan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, karena pemahaman para siswa tentang Ilmu Pengethuan Alam  adalah ilmu hafalan dan tidak bermanfaat bagi kehidupan dan juga akibat dari pengalaman belajar yang bersifat verbalistis dan tidak pernah diajak belajar keluar kelas sedangkan dalam ilmu biologi harus sesuai dengan apa yang ada dalam alam ini dimana siswanya dituntut untuk dapat memahami konsep dan mengembangkan daya nalar untuk memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berhasil dengan baik, perlu dilakukan langkah-langkah: perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Dalam langkah- langkah tersebut,guru dan siswa terlibat aktif sehingga kegiatan pemanfaatan lingkungan tersebut menjadi tanggung jawab bersama.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data tersebut diatas, maka hasil penelitian tindakan kelas peneliti simpulkan sebagai berikut: Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sekolah dapat   Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam  Materi Pokok “Kemagnetan” Siswa Kelas IX B SMP Negeri 4 Tanggul Jember. Dari kondisi awal  ketuntasan baru mencapai 62%, pada siklus pertama meningkat ketuntasan mencapai 72 % dan selanjutnya pada siklus kedua meningkat menjadi 95%. Sehingga telah mencapai standar kinerja yakni ketuntasan klasikal mencapai 85%.

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan hasil belajar maka penulis memberi saran-saran sebagai berikut :
a)      Untuk Guru, hendaknya dapat   menerapkan model pembelajaran yang variatif untuk meningkatkan   hasil   belajar siswa pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu,
b)      Bagi Sekolah, agar dapat memberi dukungan baik berupa sarana maupun prasarana , sehingga guru dapat mengembangkan metode pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

DAFTAR RUJUKAN
Asnawir dan Usman. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Press
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Moedjiono dan Dimyab. 1992. Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem.Jakarta: Rineka Cipta.
Mimin Haryati. 2007. Model dan Teknik Penilaian Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Mohamad Surya. 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Oemar Hamalik. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Slameto. 2003.Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana dan Rivai. 2002. Media Pengajaran. Bandung: sinar Baru Algensindo
Sudjana. 2002. Dasar- Dasar Proses Belajar Mangajar. Bandung:
        Sinar Baru Algesindo.
 Sukmadinata, NS. 2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.
 Wahidin. 2006. Metode Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung: Sangga Buana.