Selasa, 23 Mei 2017

PELATIHAN LESSON STUDY BERBASIS ASESMEN DAN KEBUTUHAN PEMBELAJARAN SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS BAGI GURU SLB
DI KABUPATEN JEMBER

Asrorul Mais  dan Lailil Aflahkul Yaum

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan pelatihan lesson study berbasis asesmen dan kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus bagi guru SLB di Kabupaten Jember. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara (interview), observasi, angket dan dokumentasi untuk kemudian dilakukan teknik triangulasi sebagai teknik keabsahan datanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Materi pelatihan lesson study meliputi: a) Kurukulum 2013, b) asesmen siswa berkebutuhan khusus, c) lesson study yang dilaksanakan dengan penyampaian teori, penugasan, diskusi kelompok, dan parktik; 2) peran aktif guru SLB dalam mengikuti kegiatan pelatihan ditunjukkan dengan antusias dan aktif dalam meneriam materi, diskusi, penugasan dan melaksanakan kegiatan praktik; 4) motivasi guru SLB melaksanakan lesson study dalam kegiatan pembelajaran pasca pelatihan sangat tinggi ditandai dengan kesediaan mempraktikkan lesson study dalam pembelajaran di sekolah tempat mereka bertugas.

Kata Kunci: Lesson Study, Asesmen, Kebutuhan Pembelajaran, Guru SLB

PENDAHULUAN

Tantangan dan persaingan global menuntut setiap negara berlomba-lomba dalam meningkatkan kualitas sumber daya setiap warga negaranya, peningkatan sumber daya manusia ini tentunya tidak bisa lepas dari peran pendidikan. Pendidikan yang berkualitas dan mutakhir tentunya sangat dibutuhkan baik bagi anak bangsa secara umum maupun mereka yang mengalami kondisi berkebutuhan khusus di ssemua penjuru wilayah Indonesia.
Dinas Pendidikan Kabupaten Jember melalui bidang pendidikan TK/SD bekerja sama dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SLB se-Jember mengadakan pelatihan kompetensi tenaga kependidikan program pendidikan luar biasa dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran bagi kepala sekolah dan guru. Adapun sasaran dalam kegiatan tersebut adalah meningkatkan kemapuan guru dalam melakukan pembelajaran dengan menerapkan lesson study untuk meningkatkan kemampuan peserta didik yang mengalami kebutuhan khusus. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan selama empat hari tersebut diikuti oleh 50 guru dan kepala sekolah dari 10 lembaga sekolah luar biasa (SLB) yang tersebar di lima kecamatan .
Lesson study adalah model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar  (Hendayana, S., 2008). Pelaksanaan pengkajian pembelajaran melalui kegiatan lesson study ini dilakukan melalui siklus-siklus kegiatan yang tiap siklusnya terdiri dari 3 tahapan (Plan, Do, See). Tahap pertama, PLAN, membuat perencanaan pembelajaran yang berpusat pada siswa secara kolaboratif. Tahap kedua, DO, menerapkan rencana pembelajaran di kelas oleh seorang guru, sementara guru lain mengamati aktifitas siswa dalam pembelajaran. Tahapan ketiga, SEE, diskusi pasca pembelajaran untuk merefleksikan efektifitas pembelajaran yang dilaksanakan langsung setelah pembelajaran selesai. Hasil refleksi merupakan masukan untuk perencanaan pada siklus berikutnya agar pembelajaran lebih baik dari siklus sebelumnya. Setiap tahapan pengkajian pembelajaran harus dilaksanakan secara kolaboratif dan tidak pernah berakhir melakukan perbaikan pembelajaran (Hendayana, S. dkk. 2007).
Pengetahuan materi ajar maupun keterampilan guru dalam membelajarkan siswa dibangun dalam komunitas belajar melalui sharing pendapat di antara anggota komunitas dengan lebih menekankan pada prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning. Konsep lesson study telah puluhan tahun dipraktekan di Jepang sebagai bentuk pembinaan profesi guru berkelanjutan (Lutfi, A., 2007). Dengan menerapkan prinsip dan konsep lesson study tersebut, diharapkan terjadi peningkatan pemahaman dan kemampuan praktis dalam penanganan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Chia (2013) dari Nanyang Technological University Singapura dalam peneletiannya menyimpulkan bahwa lesson study sangat berguna bagi guru anak berkebutuhan khusus untuk mengobservasi, mengeksplorasi pembelajaran, cara berfikir, dan perubahan perilaku siswa sebagai hasil dari proses pembelajaran di kelas.
Sejalan dengan hal tersebut di atas, Kee (2013) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa dibutuhkan modifikasi dalam pelaksanaan lesson study bagi guru pendidikan luar biasa sehingga guru tidak hanya memiliki kemampuan pedagogis dan pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus saja melainkan juga dapat meningkatkan peran profesi mereka dalam bidang pendidikan luar biasa.
Dari latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan beberapa fokus penelitian, selanjutnya fokus tersebut dijabarkan dalam beberapa rumusan masalah, yakni: 1) Bagaimana materi dan pelaksanaan kegiatan pelatihan lesson study berbasis asesmen dan kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus bagi guru SLB di Kabupaten Jember? 2) Bagaimana peran aktif guru SLB dalam mengikuti kegiatan pelatihan tersebut? 3) Bagaimana motivasi guru SLB dalam melaksanakan lesson study dalam kegiatan pembelajaran pasca pelatihan tersebut?

METODE PENELITIAN
Metode penelitian deskriptif kualitatif digunakan dalam peneltian ini karena secara umum penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami (understanding) dunia makna yang disimbolkan dalam perilaku masyarakat menurut perspektif masyarakat itu sendiri (Sudarto:1995). Penelitian deskriptif kualitatif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek dengan tujuan membuat deskriptif, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta atau fenomena yang diselidiki (Cevilla, dkk:1993)
Adapun tujuan Penelitian deskriptif kualitatif ini untuk mendeskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku. Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, analisis dan menginterpretasikan kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada. Dengan kata lain penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk memperoleh informasiinformasi mengenai keadaan yang ada (Mardalis:1999)




Waktu dan Lokasi Penelitian

            Penelitian ini dilakukan pada tanggal 20 s.d 23 Juli 2016 di Aula Yayasan Taman Pendidikan dan Asuhan Jember, tempat pelatihan lesson study berbasis asesmen dan kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus bagi guru SLB di Kabupaten Jember.

Data, Sumber Data, dan Narasumber
Terdapat dua kelompok data dalam penelitian ini, yaitu data utama dan data pendukung. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan atau peristiwa. Data tersebut dipeoleh dari informan yaitu panitia penyelenggara, dalam hal ini diwakili oleh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SLB se-Jember dan guru-guru SLB peserta pelatihan tersebut. Data pendukung berasal dari dokumen-dokumen yang ada pada kepanitiaan dan modul yang digunakan dalam pelatihan tersebut.

Metode Pengumpulan Data dan Keabsahan Data

Pada penelitian ini peneliti melakukan wawancara (interview), observasi, angket dan dokumentasi. Wawancara dutujukan kepada penitia kegiatan dan peserta pelatihan, observasi dan angket ditujukan khusus bagi peserta pelatihan untuk mendapatkan data dalam menjawab fokus penelitian yang sudah dirumuskan pada rumusan masalah dalam penelitian ini. Sedangkan dikumentasi digunakan sebagai data pendukung.
Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong: 2010). Triangulasi dapat dicapai dengan jalan: (a) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, (b) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (c) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini penulis menganalisa data dengan menggunakan analisis deskriptif, dalam analisis deskriptif, suatu penelitian dijabarkan dalam kata-kata dan angka-angka. Dengan demikian dalam penelitian ini dianalisis dan digambarkan pelatihan lesson study berbasis asesmen dan kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus bagi guru SLB di Kabupaten Jember berfokus pada rumusan masalah yang ada dengan data-data yang sudah diperoleh dan dikumpulkan baik dari observasi, wawancara, angket. maupun dokumentasi.

HASIL PENELITIAN DAN DISKUSI

Materi Dan Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan

Materi pelatihan lesson study berbasis asesmen dan kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus bagi guru SLB di Kabupaten Jember  adalah sebagai berikut: 1) Kurukulum 2013, materi yang diberikan pada hari pertama ini berisi tentang implementasi kurikulum 2013 bagi siswa berkebutuhan khusus tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autis. Implementasi kurikulum 2013 tersebut mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus. 2) asesmen siswa berkebutuhan khusus, materi ini dipaparkan pada hari kedua dengan tujuan agar guru-guru SLB peserta pelatihan mampu menerapkan konsep asesemen untuk menemukenali kelemahan dan potensi siswa berkebutuhan khusus. Di dalam materi ini juga dibahas tentang bagaimana mengidentifikasi kebutuhan siswa berkebutuhan khusus dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, 3) lesson study, materi yang disampaikan pada hari ke-3 ini adalah materi inti dalam kegiatan pelatihan ini. Setelah guru-guru peserta pelatihan memahami konsep kurikulum 2013, asesmen siswa berkebutuhan khusus, dan identifikasi kebutuhan pembelajaran, diharapkan semua peserta pelatihan menyusun rencana kegiatan lesson study berbasis asesmen dan kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuuhan khusus berdasakan kurikulum 2013.
Pelaksanaan kegiatan pelatihan ini diikuti oleh lima puluh guru SLB se-Jember  dengan rincian sebagai berikut:

            Tabel 1. Sebaran Guru SLB  Peserta Pelatihan
No.
Nama SLB
Kecamatan
Jumlah Guru
1
SLB NEGERI
PATRANG
7
2
SLB A TPA
PATRANG
5
3
SLB B & AUTIS TPA
PATRANG
10
4
SMALB B TPA
PATRANG
1
5
SLB C TPA
SUMBERSARI
6
6
SDLB BCD YPAC
KALIWATES
8
7
SMPLB BCD YPAC
KALIWATES
7
8
SMALB BCD YPAC
KALIWATES
1
9
SLB ABC BALUNG
BALUNG
3
10
SLB SIDOMEKAR
SEMBORO
2
Jumlah
50

           Kegiatan pelatihan ini dirancang agar dapat diimplementasikan dengan mudah di SLB masing-masing oleh peserta pelatihan setelah kegiatan pelatihan berlangsun. Adapun waktu pelaksanaanya selama empat hari berturut-turut mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00 WIB. Nara sumber dalam kegiatan pelatihan ini yaitu perwakilan dari dinas pendidikan Kabupaten Jember, Pengawas SLB Kabupaten Jember, Kepala SLB, dan Dosen Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) IKIP PGRI Jember.

Terdapat komponen praktik dalam setiap harinya, praktik tersebut meliputi menyusun asesmen dan identifikasi kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus, praktik membuat program pembelajaran individu (PPI) berbasis kurikulum 2013 dan diskusi kelompok untuk mempersiapkan kegiatan lesson study. Selain itu, terdapat juga komponen penugasan kepada peserta pelatihan baik secara kelompok maupun individu yang nantinya diminta oleh panitia di akhir kegiatan pelatihan.
            Pelaksanaan praktik lesson study yang dilakukan dalam pelatihan ini dilakukan langsung di ruang pelatihan dengan melibatkan langsung siswa berkebutuhan khusus, guru model yang merupakan guru sehari-hari siswa tersebut, guru observer yang terdiri dari kepala sekolah dan dua guru yang memiliki kualifikasi yang sama bidang kekhususannya dengan guru model serta observer dari dosen program studi PLB IKIP PGRI Jember.

Peran Aktif Guru SLB Dalam Mengikuti Kegiatan Pelatihan

Profil guru peserta pelatihan lesson study berbasis asesmen dan kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus bagi guru SLB di Kabupaten Jember adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Profil Guru SLB Peserta Pelatihan
No
Profil
Persentase
1




Guru SLB




A
11.1
%
B
29.6
%
C
37.0
%
D
18.5
%
AUTIS
3.7
%
2

Jenis Kelamin

Laki-laki
18.5
%
Perempuan
81.5
%
3



Uisa (Tahun)



<30
11.1
%
30-40
25.9
%
40-50
48.1
%
>50
14.8
%
4


Pendidikan


S1
100.0
%
S2
0.0
%
S3
0.0
%
5

Bersertifikat Pendidik

Sudah
92.6
%
Belum
7.4
%
6





Pengalaman Mengajar (Tahun)



  
<5
3.7
%
<10
22.2
%
<15
37.0
%
<20
11.1
%
<25
14.8
%
<30
11.1
%

Peran aktif guru SLB peserta pelatihan ditunjukkan dengan antusiasme mereka dalam menyimak materi yang disampaikan oleh beberapa narasumber, disela-sela penyampaian marteri, para guru peserta pelatihan juga tidak segan untuk menyampaikan pertanyaan dan pendapat mereka kepada narasumber tentang materi dan teknik pelaksanaan parktik lesson study. Peran aktif para guru peserta pelatihan juga ditunjukkan pada saat sesi kelompok untuk membahas praktik lesson study, dalam sesi tersebut, peserta dibagi menjadi lima kelompok sesuai dengan kualifikasi bidang ketunaan yang mereka tangani sehari-hari, dalam kelompok inilah peserta melakukan diskusi mulai dari pembuatan program pembelajaran individu (PPI), penentuan guru yang bertugas sebagai model dan observer serta mempersiapkan scenario pembelajaran yang akan mereka praktikan.
Pada sesi praktik lesson study, para guru peserta pelatihan memperhatikan dengan seksama proses lesson study yang sedang berlangsung dan mereka mencatat berbagai poin penting yang nantinya akan mereka gunakan pada sesi diskusi setelah sesi parktik. Para guru yang terlibat dalam parktik lesson study tersebut juga menunjukkan sikap pro aktif pada saat kegiatan feleksi, mereka menyampaikan pendapat mereka dengan penuh semangat. Meskipun pada awalnya terjadi kesalahpahaman oleh sebagian besar peserta pelatihan, yaitu mereka mengamati guru model dalam mengajar, namun akhirnya narasumber memberikan pemahaman pada mereka bahwa yang harus diamatai adalah respon siswa saat pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan angket yang telah diberikan kepada seluruh peserta pelatihan diperoleh hasil sebagai berikut: 1) sebanyak 81,5% peserta belum pernah mendengar istilah lesson study, dan sebanyak 18,5% pernah mendengar istilah tersebut,  dan 2) sebanyak 18,5% peserta pelatihan pernah mengikuti pelatihan/workshop/seminar tentang lesson study sebelumnya dan 81,5% belum pernah mengikuti. Dari 18,5% peserta yang pernah mengikuti pelatihan/workshop/seminar tentang lesson study sebelumnya, 51,9% menyatakan hanya tahu definisi tentang lesson study, 18,5% masih bingung tentang lesson study, 14,8% menyatakan bahwa mereka tahun konsep dan tujuan lesson study, 7,4% menyatakan tahu tentang teknik pelaksanaan dan pernah mempraktikkan lesson study.
Dari data tersebut diatas mempunyai implikasi bahwa pelatihan lesson study bagi guru SLB secara umum merupakan sesuatu yang asing dan pelatihan pelatihan lesson study ini merupakan pelatihan yang pertama kali mereka dapatkan. Selain itu, sebelumnya mereka masih memiliki wawasan yang minim tentang lesson study khususnya dalam hal implementasi dalam pembelajaran di kelas bagi siswa berkebutuhan khusus. Hal inilah yang menjadi pendorong peran aktif dan antusias para guru peserta pelatihan dalam mengikuti pelatihan tersebut karena lesson study merupakan pengetahuan dan pengalam baru bagi mereka.

Motivasi Guru SLB Dalam Melaksanakan Lesson Study Dalam Kegiatan Pembelajaran Pasca Pelatihan

Dari hasil angket yang telah dijawab oleh guru peserta pelatihan, diperoleh hasil sebagai berikut: 1) 100% menyatakan bahwa lesson study bias diterapkan pada pendidikan luar biasa atau di sekolah luar biasa, 2) sebanyak 63% peserta menyatakan bersedia menjadi  guru model dalam lesson study dengan didampingi oleh orang yang memiliki pemahaman yang cukup memadai dalam hal lesson study, 29,6% menyatakan besersedia menjadi guru model tanpa pendampingan dan 7,4% menyatakan tidak bersedia menjadi guru model, 3) sebanyak 40,7% bersedia menjadi  guru observer  dalam lesson study tanpa pendampingan dan sisanya sebanyak 49,3% menyatakan masih memerlukan pendamping dalam melakukan kegiatan sebagai guru observer. 4) sebanyak 100% peserta pelatihan setuju jika lesson study diterapkan di sekolah tempat peserta pelatihan bertugas.
Implikasi dari hasil angket di atas menunjukkan bahwa setelah mengikuti pelatihan lesson study, pemahaman mereka tentang pentingnya tim dalam kegiatan pembelajaran mulai tampak, hal ini hanya bisa dilakukan oleh guru yang memiliki sifat open class artinya guru yang memiliki cara berfikir terbuka terhadap saran, kritik dan bersedia berbagi pengalaman dengan guru lain saat melakukan pembelajaran. Mereka juga sadar bahwa pelaksanaan lesson study di sekolah luar biasa masih memerlukan beberapa modifikasi dalam hal penyesuaian dengan kondisi siswa berkebutuhan khusus, misalnya penggunaan CCTV (Close Circuit Television) dalam mengamati pembelajaran untuk anak autis karena karakteristik anak autis mudah terganggu dengan lingkungan yang baru atau berubah-ubah.
Motivasi guru peserta pelatihan untuk mempraktikkan hasil dari pelatihan yang mereka dapat terlihat dari tingginya persentase kesediaan mereka dalam menjadi guru model dalam melaksanakan lesson study untuk kegiatan pembelajaran mereka. Para guru menyadari bahwa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan bagi siswa berkebutuhan khusus dibutuhkan kerja sama antar guru yang memiliki kualifikasi yang sama dalam memahami permasalah dan kebutuhan pembelajaran peserta didik dalam pembelajaran. Dengan mengacu pada pada program pembelajaran individu (PPI) yang dibuat oleh tim guru berdasarkan kurikulum 2013, akan terjadi hubungan yang saling asah, asih dan asuh baik antar guru, kepala sekolah, maupun pakar di bidang pendidikan luar biasa.
Semua peserta pelatihan setuju jika lesson study diterapkan di sekolah tempat mereka bertugas. Mereka juga berharap agar kegiatan lesson study di SLB se-Kabupaten Jember mendapat dukungan penuh baik dari kepala sekolah, pengawas sekolah, dan dinas pendidikan Kabupaten Jember, bahkan mereka berharap agar pemerintah melalui dinas pendidikan Kabupaten Jember memfasilitasi mereka untuk melaksanakan kegiatan studi banding melihat pelaksanaan lesson study di beberapa wilayah di Indonesia. Hal ini mereka rasakan karena menghadapi siswa berkebutuhan khusus sangat berbeda dengan siswa regular pada umumnya. Siswa berkebutuhan khusus memiliki karakteristik, kondisi, permasalahan dan kebutuhan pembelajaran yang khusus pula sehingga menuntut guru untuk memiliki banyak perbendaharaan dalam hal pendekatan, strategi, metode, teknik dan media pembelajaran yang sesuai dengan kekhususan mereka.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Dari hasil temuan, pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini, maka disimpulkan bahwa: 1) Materi pelatihan lesson study berbasis asesmen dan kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus bagi guru SLB di Kabupaten Jember  adalah sebagai berikut: a) Kurukulum 2013, b) asesmen siswa berkebutuhan khusus, c) lesson study; 2) Pelaksanaan kegiatan pelatihan tersebut memiliki empat komponen yiatu: a) teori, b) penugasan, c) diskusi kelompok dan d) praktik; 3) peran aktif guru SLB dalam mengikuti kegiatan pelatihan ditunjukkan dengan antusias dalam menerima materi, aktif dalam diskusi, disiplin dalam penugasan dan kesungguhan dalam melaksanakan kegiatan praktik; 4) motivasi guru SLB melaksanakan lesson study dalam kegiatan pembelajaran pasca pelatihan sangat tinggi ditandai dengan kesediaan mereka dalam mengimplementasikan hasil pelatihan tersebut berupa keinginan mempraktikkan lesson study dalam pembelajaran di sekolah tempat mereka bertugas.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka ada beberapa pihak yang diharapkan dapat mendukung terlaksnanya lesson study  berbasis asesmen dan kebutuhan pembelajaran siswa berkebutuhan khusus di SLB se-Kabupaten Jember adalah sebagai berikut: 1) bagi dinas pendidikan Kabupaten Jember hendaknya memfasilitasi dan mendukung pelatihan lesson study secara berkesinambungan guna pemerataan ilmu khususnya tentang lesson study bagi seluruh guru SLB di Kabupaten Jember dan peningkatan kualitas pemahaman guru tentang lesson study. 2) bagi pengawas dan kepala sekolah hendaknya memberikan keleluasaan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang dilaksanakan dengan lesson study. 3) bagi guru hendaknya membuka diri dan selalu bersinergi dengan guru lainnya guna meningkatkan kapasitas profesionalisme di bidang pendidikan luar biasa melalui kegiatan lesson study. 4) Dan bagi peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian dan pengkajian lebih mendalam lagi terkait dengan kegiatan lesson study dalam dunia pendidikan luar biasa.

DAFTAR  RUJUKAN

Cevilla, Convelo G., dkk.1993. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: Universitas Indonesia

Chia, Noel Kok Hwee. 2013. A Psychogogic Perspective of Lesson Study for Special Education Teachers. Journal of Academic Research International. Vol  4. No. 4. (online), dalam (http://www.google.co.id/url?q=http://www.savap.org.pk/journals/ARInt./Vol.4(4)/2013(4.4-36).pdf&sa=U&ved=0ahUKEwig_Jm_-ZzOAhXJK48KHTV1CakQFggVMAA&usg=AFQjCNGUYJsT48SJKhtj9zzPHikZO4Dw9w). diakses pada tanggal 27 Juli 2016

Chia, Noel Kok Hwee.  2013. Modified Lesson Study Within The Integrated Teaching-Learning Framework For Training Of Special Education Professionals. Journal of Educational Research International.  Vol 2 No. 1. (online) dalam (http://www.google.co.id/url?q=http://www.erint.savap.org.pk/PDF/Vol.2(1)/ERInt.2013(2.1-04).pdf&sa=U&ved=0ahUKEwid3OCn-pzOAhUMsI8KHTXmAfwQFggTMAA&usg=AFQjCNGABnYU9spmR9UT_1kO1YXD7XhiqA) diakses pada tanggal 27 Juli 2016

Hendayana, S. dkk. 2007. Lesson Study Suatu Strategi Untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik. Bandung: UPI Unipress.