Senin, 29 Mei 2017

MENYINGKAP BUKTI PENYEBARAN ISLAM DI PONOROGO  DARI KEBERADAAN MASJID JAMI TEGALSARI

Tutiek Ernawati

Abstrak: Masjid Jami Tegalsari merupakan salah satu masjid kebanggaan masyarakat “Bhumi Reyog”. Masjid ini terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, atau yang berjarak sekitar 10 km di sebelah selatan Kabupaten Ponorogo.Masjid Jami Tegalsari merupakan peninggalan Kyai Ageng Muhammad Besari yang dibangun pada abad ke-18.Masjid dengan arsitektur Jawa ini memiliki 36 tiang, yang mengandung arti jumlah wali atau wali songo (3+6=9) yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Di sekitar kompleks masjid terdapat pondok pensantren.Dahulu, pondok pesantren ini memiliki banyak santri dari berbagai daerah.Seorang pujangga Jawa yang masyhur Raden Ngabehi Ronggowarsito, tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto, Paku Buwana II, merupakan deretan alumni Pondok Pesantren Tegalsari.Bukti kemasyhuran pondok pesantren ini masih dapat kita rasakan saat ini ketika mengunjungi Masjid Jami Tegalsari.Selain pondok pesantren, terdapat juga kompleks makam Kyai Ageng Muhammad Besari beserta keturunannya. Bagian yang tidak kalah pentingnya dari kompleks Masjid Jami Tegalsari adalah Dalem Gede Kyai Agung Muhammad Besari. Bangunan ini terletak persis di depan Masjid Jami Tegalsari. Didukung dengan adanya sarana dan prasarana yang lengkap, seperti akses jalan yang mudah, lingkungan yang asri, serta nilai sejarah yang kuat menjadikan Masjid Jami Tegalsari sebagai salah satu wisata religi dan pelestarian bukti penyebaran Islam di Ponorogo yang perlu dipertimbangkan pemerintah daerah setempat.

Kata Kunci :  Penyebaran Islam Ponorogo,  Masjid Jami Tegalsari

PENDAHULUAN
Sejarah masuknya Islam di Indonesia berdasarkan penelitian para ahli sudah dimulai sejak abad ke-7 M. Pendapat para ahli sejarah tersebut tentunya didukung dengan adanya bukti-bukti yang kuat.Bukti-bukti tersebut ditemukan di banyak daerah yang sekaligus menjadi bukti penyebaran Islam di daerah tersebut.Misalnya makam Siti Fatimah di desa Leran Gresik, makam Maulana Malik Ibrahim, masjid agung Sumenep, dan sebagainya.Keberadaan bukti penyebaran Islam tersebut juga dimanfaatkan sebagai obyek wisata.
Jika di Gresik terdapat makam  Siti Fatimah binti Maimu, makam Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, dan sebagainya, diPonorogo juga terdapat bukti-bukti penyebaran Islam. Ponorogo adalah sebuah kota yang terletak di sebelah barat dari Propinsi Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan propinsi Jawa Tengah, atau lebih tepatnya 200 Km arah barat daya dari ibukota propinsi Jawa Timur. Kota kecil ini terkenal ke mancanegara dengan kesenian reyognya.Namun potensi wisata di Ponorogo tidak hanya dari Reyog saja, terdapat obyek lain yang dapat dikatakan obyek wisata religi dan sekaligus bukti penyebaran Islam di kota ini.Salah satunya adalah Masjid Jami Tegalsari.Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang ada, masjid yang terletak di desa Tegalsari kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo, atau yang berjarak sekitar 10 Km di sebelah selatan kota Ponorogo ini memiliki nilai sejarah dari para leluhur dan pendahulu dalam hal perkembangan Islam di Ponorogo. Hal ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran bagi generasi muda dan diharapkan dapat dikenal bagi semua lapisan masyarakat terlebih generasi muda agar turut melestarikan dan mengembangkan Masjid Jami Tegalsari sebagai bukti penyebaran Islam di wilayah Ponorogo.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Langkah-langkah metode penelitian sejarah  meliputi empat tahap, yaitu: (1) heuristik (pengumpulan sumber), (2) kritik, (3) interpretasi, (4) historiografi   atau tahap penyajian dalam bentuk penulisan (Gottschalk, 1975;  Nugroho, 1971)).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah dan Perkembangan Masjid Jami’ Tegalsari
Arah tenggara Kota Ponorogo sejauh ± 10 km terdapat sebuah desa yang bernama Desa Setono.Desa ini merupakan tempat kediaman Kyai Donopura, seorang kyai yang alim lagi berbudi luhur dan bijaksana, suka memberi pertolongan kepada siapa saja yang menderita kesengsaraan, sesuai dengan peribahasa “memberi payung kepada orang yang kepanasan, memberi tongkat kepada orang yang berjalan di tempat licin, dan memberi obor kepada orang yang kegelapan”. Beliau memiliki banyak santri hingga tersohor di kiri dan kanan tetangga desanya bahkan sudah terkenal sampai ke daerah-daerah lain. Berita itu sampai ketelinga Muhammad Besari.
Muhammad Besari adalah putra dari K.A Anom Besari (K.A.Grabahan) keturunan ke-14 dari Prabu Kertarajasa Jayawardhana pendiri Kerajaan Majapahit dengan Nyai Anom Besari.Beliau bergegas menghadap rama-ibunya untuk meminta izin menuntut ilmu ke Pondok Setono.Rama-ibunya pun merestui maksud anaknya dan memerintahkan Muhammad Besari untuk mengajak adiknya, Noer Sodiq.Kedua kakak beradik tersebut berangkat menuju tempat kediaman Kyai Donopuro.
Kira-kira tiga atau empat tahun lamanya Muhammad Besari beserta adiknya telah mempelajari semua ilmu agama. Kemudian Muhammad Besari mempunyai keinginan menjelajah daerah Ponorogo bersama sang adik.Ketika perjalanannya sampai di Desa Mantub Ngasinan, adiknya merasa kehausan.Pada saat itu jarang adanya sumur dan sulit untuk mencari air bersih.Kebetulan di desa itu ada seorang Kyai yang bernama Kyai Noer Salim keturunan dari Kyai Dugel Kesambi, Nglupeng Slahung Ponorogo.Kemudian Muhammad Besari menghadap Kyai Dugel dan menyatakan niatnya.”Mohon maaf Kyai, sekiranya diperbolehkan kami mohon diperkenankan mengambil kelapa muda yang dipinggir jalan, airnya akan saya minumkan ke adik saya, sebab dia merasa haus sekali”.
Kyai Noer Salim berbicara sambil tertawa, ”Iya, ambillah sesukamu”. Dari rasa senang dan lega hatinya kedua anak itu, terus melambaikan tangannya ke kelapa muda, yang seketika satu janjang kelapa jatuh. Setelah itu Kyai Noer Salim mengetahui lalu berbicara, ”Lho..lho..anak cakap, kalau mengambil kelapa muda jangan begitu, coba mari saya ajari.” Kyai Noer Salim mendekati pohon kelapa, Pohon kelapa dilengkungkan sampai melengkung ketanah ujungnya, sambil berkata ”Sudah anak cakap, engkau pilihlah mana yang engkau senangi, jadi kelapanya tidak rusak.” Muhammad Besari mengambil kelapa mudanya lalu diberikan kepada adiknya dan diminumlah airnya. Setelah itu Kyai Noer Salim bertanya, ”Engkau ini anak mana dan siapa namamu?. ”Muhammad Besari menjawab, ”Saya muridnya Kyai Donopuro dan berasal dari Kuncen Caruban, nama saya Muhammad Besari dan adik saya Noer Sodiq.” Keduanya diajak masuk kedalam rumah untuk diajak berbincang-bincang.Pada akhirnya Muhammad Besari diambil sebagai menantu.Setelah dibicarakan seperlunya Muhammad Besari dinikahkan dengan putri sulung Kyai Noer Salim kemudian diboyong ke Setono  (Poernomo, 1985; 13-14)
Selanjutnya Muhammad Besari diberi tanah oleh Kyai Donopuro di sebelah timur dusun Setono yang bernama ”Tegalsari”. Di tempat tersebut Muhammad Besari kemudian mendirikan masjid dan Pesantren Tegalsari, yaitu pada abad ke-18. Semakin hari muridnya bertambah banyak dan berkembang menjadi pesantren yang besar, tersohor sampai kemana-mana, dan setelah Kyai Donopuro wafat, kejayaan Pulung pindah ke Tegalsari.
Pada tanggal 12 Selo 1165 H ( 1747 M ) Kyai Ageng Muhammad Besari wafat dan dimakamkan di area Masjid Jami Tegalsari. Setelah itu pimpinan masjid diteruskan secara berturut-turut oleh Kyai Ilyas, Kyai Kasan Yahya dan Kyai Kasan Besari.Selama pimpinan masjid dipegang oleh Kyai Kasan Besari keadaannya subur, makmur, aman dan sentosa.Rakyat desa Tegalsari dan kiri kanannya mantap dan sungguh-sungguh memeluk agama Islam. Mereka hidup rukun, bergotong royong, saling membantu dengan semboyan ”Sakit mari kita pikul bersama, enaknya kita rasakan bersama pula.
Salah satu santri Kyai Kasan Besari yang meninggalkan warisan tak ternilai harganya berupa puluhan serat yang mempunyai nilai estetika menakjubkan adalah seorang sastrawan dan pujangga besar bernama Raden Ngabehi Ronggowarsito yang merupakan pujangga terakhir Keraton Surakarta.Pada tanggal 21 April 1844, R.Ng Ronggowarsito diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten  Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845.
Salah satu cuplikan karya sastra tembang “Sinom” dalam “Serat Kalatido” bab 8 seperti di bawah ini :
Amenangi jaman edan ewuh kaya ing pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Dilalah kersaningalah
Sak beja-bejane wong kang lali
Luwih bejo kang eling lan waspada

Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi :
                 Mengalami jaman gila serba repot dalam bertindak
                  Ikut gila tidak tahan
                  Jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik
                  Akhirnya menjadi kelaparan
                  Namun dari kehendak Allah,
                  Seuntung-untungnya orang yang lupa diri
                  Masih lebih bahagia orang yang ingat dan waspada

Di dalam masjid terdapat kitab karangan Ronggowarsitoyang berumur 150-170 tahun.
            Santri hebat lainnya yang lahir oleh didikan Kyai Kasan Beshariadalah Pakubuwana II. Dalam sejarahnya, pada tanggal 30 Juni 1742 terjadi pemberontakan oleh orang Cina di Kerajaan Kartosuro yaituRaden Mas Garendi,seorang keturunan Tionghoa. Serangan yang dilakukan pemberontak sangatlah hebat sehingga Pakubuwana II dan pasukannya kalah telak. Akhirnya secara diam-diam Pakubuwana II beserta pengikutnya pergi meninggalkan kraton menuju timur Gunung Lawu dan sampailah mereka di Desa Tegalsari. Di tengah kekhawatiran dan ketakutannya, beliau bertemu Kyai Kasan Besharidan nyantri di Tegalsari.Pakubuana IIdi tempa dan menyerahkan diri sepenuhnya untuk slalu bertafakur dan bermunajat Hanya Kepada Allah SWT.
 Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan keikhlasan Kyai Kasan Besaridalam memberikan seluruh ilmunya kepada Pakubuana II, Allah SWT mengabulkan doa-doanya.Akhirnya Pakubuana IIbeserta pengikutnya berhasil memukul mundur pasukan Pemberontak dari Kraton Mataram. Sebagai balas budi, Sunan Pakubuana II mengangkat Kyai Kasan Besharisebagai menantunya. Sejak saat itu Tegalsari menjadi desa “Perdikan”, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan.Setelah wafat Kyai Kasan Besari digantikan oleh Kyai Hasan Yahya,putra ke 7 beliau.Tetapi pertengahan abad ke-19 pesantren Tegalsari mulai berkurang santri-santrinya.  Kompleks Masjid Jami Tegalsari terdiri dari masjid, Kompleks Makam Kyai  Ageng Muhammad Besari, Dalem Gede Kyai  Ageng Muhammad Besari.

Masjid Jami Tegalsari
Masjid Jami Tegalsari secaraadministratif terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Propinsi Jawa Timur.Masjid ini menyatu dengan Pondok Pesantren seluas 4500 m². Apabila diamati dari depan tidak tampak kekunoannya. Tetapi masih menempati areal yang lama dan kekunoannya masih tampak pada unsur-unsur dan pola dasar bangunannya.
Masjid Jami Tegalsari menunjukkan ciri sebagai masjid kuno Indonesia, yang tampak dari bentuk atapnya yaitu atap tumpang.Atap tersebut masih asli sebagaimana masjid itu dibangun, yaitu atap sirap(atap dari kayu). Selain itu juga terdapat makam di belakang masjid ( masjid makam ). Masjid ini berarsitektur Jawa, memiliki 36 tiang, dan atap berbentuk Kerucut.Jumlah tiang mengandung arti jumlah wali songo (3+6) dan atap berbentuk kerucut yang menggambarkan ke Agungan Allah SWT.[*]
Secara umum keadaan masjid sebagai berikut:
1.      Masjid dikelilingi pagar setinggi 1,5 m terbuat dari tembok. Adapun yang ada saat ini merupakan pagar baru. Dahulu di pelataran depan serambi masjid terdapat parit atau kolam yang menuju ke arah sungai Keang di utara dan barat Masjid.
2.      Serambi berbentuk segi empat berukuran 13,56 m x 16,20 m. Di dalamnya terdapat 12 tiang dari balok kayu jati. Dindingnya terdapat prasasti purna pugar dan kaligrafi.
3.      Ruang utama berbentuk bujur sangkar berukuran 16,25 m x 16,25 m. di dalamnya terdapat tiang berjumlah 36. 22 tiang berbentuk silindris dan 14 lainnya berbentuk segi empat.
4.      Mihrab berukuran 206 cm x 130 cm x 217 cm. Lengkungnya dari kayu jati berukir motif daun dan pilin tegar. Di depan mihrab ada mimbar berukuran 7,85 m x 0,90 m x 2,40 m berhias motif elips, berdasarkan angklade, roset berisi suluran  dan kaligrafi arab.
5.      Pewastren berbentuk segi empat berukuran 8,25 m x 18,42 m.
6.      Atap bangunan Masjid berupa atap tumpang tiga yang mengandung filosofi 3 hal yang harus dimiliki oleh umat Islam dalam kehidupannya yaitu: Iman, Islam dan Ihsan. Bagian atas atap terdapat tempayan terbalik yang merupakan peninggalan Kyai Ageng Muh Besari. Genting berbentuk sirap terbuat dari kayu jati berukuran 50 cm x 25 cm x 25 cm.
7.      Batu ”bancik” yang ada di depan Masjid konon diambil dari kerajaan Hindu Majapahit setelah keruntuhan kerajaan itu. Secara filosofis mengandung makna bahwa masyarakat yang menganut ajaran Hindu di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, seiring berdirinya Masjid Tegalsari dan Pondok Pesantren sudah berada di bawah kendaliajaran agama Islam yang disebarkan oleh Kyai Ageng Besari.

Mesjid Tegalsari berarsitektur Jawa, memiliki 36 tiang dan atap berbentuk Kerucut.Jumlah tiang mengandung arti jumlah wali songo (3+6) dan atap berbentuk kerucut yang menggambarkan ke-Agungan Allah SWT.[†]
Dalam kompleks Masjid Jami Tegalsari terdapat sumur tua yang dipercaya masyarakat dapat membawa keberkahan bagi orang yang meminum airnya.Di sebelah selatan masjid terdapat tempat wudhu yang airnya langsung dari sumur tua tersebut.Pada malam-malam tertentu masjid ramai dikunjungi para santri dari berbagai pondok, baik yang berasal dari Ponorogo maupun luar Ponorogo.Biasanya, pada malam Jumat Kliwon, santri dari Pondok Mayak Ponorogo yang berjumlah kurang lebih 5000 santri melaksanakan “Dzikrul Ghofilin”.
Berikut ini adalah kegiatan rutin di Masjid Jami Tegalsari:
a.    Kegiatan Tahunan
-Tahlil Kubra dan Ambengan Peringatan Haul Kyai Ageng Muhammad Besari yang dilaksanakan pada tanggal 12 Selo Bada Isya.
-Itikaf (Qiyamu Laili Ramadhan) yang dilaksanakan pada malam ganjil di akhir bulan Ramadhan.
-Shalat Sunnah Rajab yang dilaksanakan pada malam Jumat pertama pada bulan Rajab, bada magrib.
- Shalat Id yang dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal dan 10 Dzulhijah.
-Shalawatan Mauludyang dilaksanakan pada Rabiul Awal, pagi hari.
-Ziaroh , waktunya menyesuaikan.

b.Kegiatan Bulanan
-Simaan Al-Quran Bian-Nadhor yang dilaksanakan setiap ahad Pon.
-Dzikrul Ghofilin yang dilaksanakan setiap malam Jumat Kliwon, bada isya.
-Mujahadah Qiyamul Lail yang dilaksanakan setiap malam Selasa Kliwon pukul 00.00
-Qodiriyah yang dilaksanakan setiap malam Senin Kliwon, ba’da isya.

c.Kegiatan Mingguan
-Mujahadah Shalat Nawafil yang dilaksanakan setiap malam Jumat,bada magrib.
-Bimbingan Qiraatul Quran yang dilaksanakan setiap kamis sore.
-Ujud-ujudan yang dilaksanakan setiap Jumat, bada subuh.

d.Kegiatan Harian
-Shalat Fardhu yang dilaksanakan setiap waktu shalat fardhu.
-Pengajian Kitab kuning yang dilaksanakan setiap bada shalat ashar dan shalat isya.
            (Sumber : Takmir Masjid JamiTegalsari)

Kompleks makam yang ada di belakang masjid merupakan bangunan cungkup yang besar menyerupai sebuah rumah dengan arsitektur Jawa kuno, dilengkapi dengan adanya keterangan tentang silsilah dari Kyai Muhammad Besari.Untuk masuk ke dalam kompleks makam, melewati pagar yang terbuat dari batu bata yang dibuat lengkap dengan gapura berbentuk kori agung.Selain untuk kepentingan keamanan makam, hal itu juga menambah keindahan kompleks makam.



Kompleks Makam Kyai  Ageng Muhammad Besari
Kompleks makam Kyai  Ageng Muhammad Besari beserta keturunannya terletak di sebelah barat atau tepat di belakang Masjid Jami Tegalsari. Makan tersebut  dikelilingipagar setinggi kurang lebih 1,5 m. Pada pagar depan terdapat gapura sebagai pintu masuk yang berbentuk kori agung, menyerupai candi.Mengingatkan adanya akulturasi antara Islam dengan Hindu-Budha.Di dalam kompleks tersebut selain makam Kyai Ageng Muhammad Besari, juga terdapat 44 makam buyutnya.Kompleks makam ini sering dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah.

Dalem Gede Kyai  Ageng Muhammad Besari
Dalem Gede Kyai  Ageng Muhammad Besari terletak persis di depan Majid Jami Tegalsari, seberang jalan. Bangunan ini dulunya merupakan tempat tinggal Kyai  Ageng Muhammad Besari dan pusat pemerintahan Desa Tegalsari. Luas bangunan kurang lebih 1600 myang terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian dalam dan bagian luar. Bagian dalam dalem gede terdapat 4 kamar yang sampai sekarang masih terdapat tempat tidur Kyai  Ageng Muhammad Besari. Hanya keturunan Kyai Ageng Muhammad Beshari yang boleh memasuki bagian dalam Dalem Gede kapan saja.
Di bagian luar terdapat beranda dengan 2 kamar dan 4 tiang utama yang  masih asli. Dahulu di area ini biasanya  digunakan untuk pertemuan-pertemuan baik oleh keturunan dari Kyai sendiri maupun masyarakat untuk membahas pemerintahan desa Tegalsari. Untuk sekarang, biasanya digunakan untuk acara reuni keturunan-keturunan Kyai Ageng, acara-acara keagamaan seperti Khataman pada bulan puasa, dan acara-acara keagamaan lainnya. Di area ini terdapat sebuah peraturan yang berlaku sejak jaman Kyai Ageng sampai saat ini yaitu tidak diperbolehkannya menggunakan  meja dan kursi sebagai  tempat duduk, jadi jika ada acara pertemuan, mereka yang datang dan mengikuti acara akan duduk di lantai beralaskan tikar.
Untuk atap rumah, dahulu genteng Dalem Gede Kyai Ageng Muhammad Besari terbuat dari kayu atau dinamakan atap Sirap. Pada tahun 1996 diganti dengan genteng dari tanah liat.Temboknya masih asli dengan ketebalan 60 cm. Di sebelah barat bangunan ini terdapat “Angkring Langgar” yang konon digunakan Kyai untuk mengaji.
Masjid Jami’ Tegalsari
 
Dalam Dalem Gedhe

 
 



Dalam Dalem Gedhe











Masjid Jami Tegalsari menjadi bukti penyebaran Islam di wilayah Ponorogo
Sejarah masuknya Islam di Ponorogo tidak terlepas dari Raden Katong (Bathoro Katong).Saat Bathara Katong datang memasuki Ponorogo, kebanyakan masyarakat Ponorogo adalah penganut Hindu, Budha, animisme dan dinamisme.Seorang ulama muda Ponorogo Fathur Rochman Effendie menjelaskan bahwa Bathoro Katong adalah peletak dasar tatanan di Ponorogo yang bernafaskan Islam.Bisa dikatakan bahwa Raden Bathoro Katong sebagai tokoh utama dan pusaran (Jawa : punjer) Islam Ponorogo sekitarnya abad ke-15 (1468-1486), kemudian pada abad ke-16 (1600 an) sejarah perkembangan Islam berpusat di Setono Tegalsaari Jetis dengan tokoh-tokohnya Kyai Donopuro, Kyai Noyopuro dan Kyai Wongsopuro.[‡] Menurut Moh Poernomo yang dikutip oleh Fajar Pramono, menjelaskan bahwa Kyai Ageng Donopuro berasal dari keturunan Sunan Tembayat[§](salah seorang wali). Kata sunanberasal dari akar kata Jawa Kuna : suhun (yang dijunjung), kemudian mendapat awalan su dan akhiran an, hingga menjadi su-suhun-sn. Sunan berarti yang dijunjung atau junjungan. (Kasdi, 20016; 165-166)
Salah satu kerabat keturunanBathoro Katong, yaituMulyono, menjelaskan bahwa Bathoro Katongadalah salah satu putera dari Raja Majapahit Brawijaya V dan adik dari Raden Patah, Raja Demak.Nama asli Bathoro Katong adalah Lembu Kanigoro, yang di masa kecil memiliki nama Raden Joko Piturun atau disebut juga Raden Harak Kali. Ia putra Prabu Bawijaya V dari garwo pangrambe,[**] yaitu Putri Campa yang beragama Islam. Tugas yang diemban Bathoro Katong kala ituadalah  menyebarkan agama Islam di wilayah sebelah timur Gunung Lawu dan sebelah barat Gunung Wilis. Kini wilayah itu masuk wilayah Kabupaten Ponorogo, Magetan, Madiun, Ngawi, Pacitan, dan Trenggalek.Bathoro Katong mulai menyebarkan Islam di Ponorogo pada akhir abad 15 M.
Sejarah perkembangan Islam selanjutnya di Ponorogodiketahui dari Pondok Setono.Pondok ini melahirkan kyai-kayai besar, diantaranya Kyai Ageng Moh Besari (abad 17), keturunan Kyai Ageng Moh Besari yaitu Kyai Ageng Kasan Besari (abad 18).Kedua kyai tersebut pada abad 18 mendirikan pusat dan pembinaan Islam di Ponorogo, yaitu Tegalsari Jetis.[††]Kyai-kayai besar lahir dari pesantren Tegalsari tersebut, yang kemudian mendirikan pondok pesantren-pondok pesantren besar, seperti Pondok Termas (Pacitan) dan Pondok Gontor Lama (Ponorogo).
Sepanjang abad 15 hingga abad 19 terjadi pergeseran pusat pembinaan dan pengembangan (punjer) Islam di Ponorogo, yaitu abad 15 di Kadipaten Ponorogo, abad 16-17 di Setono Tegalsari, abad 17-18 di Tegalsari Jetis dan kemudian abad 18-19 berada di Gontor Mlarak.  (Muh Fajar Pramono, 206; 46-48 ) [‡‡]
Pondok Tegalsari yang menjadi bagian dari Masjid Jami Tegalsari merupakan salah satu sentral penyebaran Islam di Ponorogo.Keberadaan masijid ini jelas memberikan bukti keberadaan dan perkembangan Islam yang pesat di Ponorogo.Hal itu ditunjukkan juga dengan adanya pondok pesantren Tegalsari yang memiliki santri dalam jumlah besar.Meskipun akhirnya pesantren Tegalsari mengalami surut, namun keberadaan masjid Tegalsari yang hingga kini masih dalam kondisi bagus, menjadi bukti otentik penyebaran Islam di Ponorogo, terutama pada abad 17-18 M.
Kondisi dalam Masjid
 
Atap  Berbahan Sirap
 
Pintu Gapura Makam dikomplek Masjid
 
 









Upaya pelestarian masjid Jami Tegalsari Ponorogo
              Masjid Jami’ Tegalsari merupakan salah satu obyek wisata religi andalan di kabupaten Ponorogo. Keunikan arsitektur masjid dengan kompleks makam Kyai Ageng Muhammad Besari, memiliki nilai sejarah perkembangan Islam di Ponorogo yang perlu sekali untuk diperkenalkankepada  masyarakat luas baik lokal maupun asing. Pengunjung dapat mengunjungi masjid tersebut untuk menambah wawasan keagamaan, ziarah makam, memperluas pengetahuan tentang penyebaran Islam di Ponorogo, atau sekedar jalan-jalan menikmati ketenangan kompleks masjid yang bersih dan nyaman.Akses jalan menuju masjid cukup mudah. Antara masjid dan jalan sudah dibatasi dengan pagar, jadi jika pengunjung ingin jalan-jalan di sekitar masjid, tidak perlu khawatir akan terganggu oleh pengendara sepeda motor atau kendaraan lainnya.
Di sekitar kompleks masjid sudah disiapkan tempat parkir yang memadai untuk para pengunjung.Jika ingin ziarah makam, pada hari Kamis, buka setelah ashar sampai Jumat pagi.Selain di hari itu jika ada yang mau berziarah harus meminta ijin atau menghubungi Juru Kunci makam yang tinggal tidak jauh dari kompleks masjid.Pada waktu-waktu sholat fardlu, pengunjung dilarang untuk ziarah makam.
Didukung akses jalan yang mudah, lingkungan bersih nan asri, memberikan suasana nyaman bagi pengunjung, serta kekunoan bangunan, menjadikan Masjid Jami Tegalsari sebagai salah satu wisata religi dan wisata sejarah yang perlu terus dikembangkan oleh pemerintah daerah.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah diantaranya :
1). Mengadakan promosi secara gencar dengan menggambarkan secara detail potensi wisata Masjid Tegalsari. Salah satunya dengan memperbanyak brosuratau iklan di media massa.
2).  Menyelenggarakan kegiatan yang menonjolkan ciri khas Masjid JamiTegalsari, seperti festival tahunan
3). Mengadakan kerjasama dengan biro perjalanan. Bentuk kerjasama ini dapat dilakukan dengan menciptakan daya tarik wisata yang lebih dinamis sesuai dengan perkembangan minat wisatawan.
4). Melengkapi kompleks masjid dengan sarana istirahat yang nyaman dengan menambah beberapa tempat makan dan minum bagi pengunjung.
              Bagi masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar Masjid Tegalsari diharapkanmenjaga kebersihan lingkungan agar tetap memberikan suasana yang indah dan nyaman bagi pengunjung, dan tetap menjaga keaslian masjid dan kompleks masjid.
             Bagi pengunjung hendaknya tidak melakukan hal-hal yang kurang terpuji, misalnya mencoret-coret masjid atau kompleks makam, dan hal-hal lain yang dapat mengurangi dan merusak peninggalan sejarah tersebut.

KESIMPULAN
            Penyebaran Islam di Ponorogo dimulai sekitar abad 15,  semakin pesat pada abad 18. Salah satu bukti perkembangan Islam di Ponorogo tersebut masji Jami Tegalsari. Meskipun keberadaan pondok Pesantren Tegalsari sudah tidak ada, namun keberadaan masjid Tegalsari tetap memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Ponorogo dan sekitarnya, yang tetap harus dirawat, dijaga dan dilestarikan, untuk difungsikan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

DAFTAR RUJUKAN
Aminudin Kasdi. (2005). Mengerti Sejarah, Surabaya : UNESA University Press.
Aminudin Kasdi. (2016).50 Tahun Bersama Aminudin Kasdi, Surabaya:UNESA University Press.
Gottschalk, L. 1975. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.

Muh Fajar Pramono. (2006). Raden Bathoro Katong Bapak-e Wong Ponorogo, Ponorogo:LP2BM.
Notosusanto, N. 1971. Norma-Norma Dasar Penelitian dan Penulisan Sejarah.Jakarta: Departemen Pertahanan Keamanan Pusat Sejarah ABRI.

Purwowijoyo. (1985). Babad Ponorogo. Ponorogo: Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Pemerintah Kabupaten Ponorogo Ptopinsi Jawa Timur
Poernomo Muhammad. (1985). Sejarah Kyai Ageng Muhammad Besari, Tegalsari Jetis Ponorogo.Jakarta:-
Masjid Tegalsari-Wikipedia bahasa Indonesia,ensiklopedi