Selasa, 23 Mei 2017

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “OPERASI HITUNG BILANGAN”  MELALUI METODE DISCOVERY DAN KERJA KELOMPOK SISWA KELAS IV SD NEGERI BADEAN 02

Sukarman 

Abstrak: Tujuan  penelitian  ini, adalah untuk mengkaji upaya peningkatkan hasil belajar matematika materi ajar “operasi  hitung bilangan”  melalui metode discovery dan kerja kelompok siswa kelas IV SDN Badean 02. rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan hasil belajar. Dari hasil analisis data diketahui bahwa pada setiap siklus terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa. Pada studi awal, dari 17 siswa yang mencapai ketuntasan baru 59%. Pada siklus I siswa yang mencapai ketuntasan mengalami kenaikan menjadi 76%. Pada siklus II siswa yang mencapai ketuntasan mengalami kenaikan 12% dari siklus I menjadi 88%.

     Kata Kunci: Hasil Belajar, Discovery

PENDAHULUAN
Pendidikan di era-modern di tuntut dengan suatu hal yang baru, hal ini di karenakan dalam pengajaran suatu pembelajaran di suatu sekolah secara khusus berbeda-beda tergantung dari materi, media dan metode yang digunakan. Pengajaran yang konvensional saat ini membuat siswa merasa jenuh akan proses pembelajaran sehingga diperlukan suatu pembelajaran yang menarik perhatian siswa.
Melihat kondisi tersebut khususnya pendidikan di indonesia yang mengalami perubahan serta untuk dapat menarik perhatian siswa khususnya pada mata pelajaran bahasa indonesia maka diperlukan suatu model yang pas atau sesuai dengan materi atau topik yang sedang di bahas agar dapat menjadi suatu konsen bagi siswa di sekolah dasar. Tentu saja peran penting sebagai ujung tombak yang mengarahkan siswa untuk dapat mencapai pendidikan adalah guru. Guru diharapkan atau diwajibkan untuk bisa menggunakan model pembelajaran dalam berbahasa indonesia dan sastra.
Penelitian tindakan kelas adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif, dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik. Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar. Karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
            Pada Penelitian Tindakan Kelas  ini peneliti menerapkan metode tematik dan kerja kelompok pada mata pelajaran matematika materi ajar “Operasi  Hitung Bilangan”. Siswa kelas IV dipilih sebagai subyek  dalam penelitian, karena peneliti ingin meningkatkan hasil belajar Matematika di kelas ini, yang selama ini masih belum sesuai dengan yang diharapkan.
Menurut Sagala (2005: 196), metode ini bertolak dari padangan bahwa siswa sebagai subjek dan objek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai kemampuan yang dimilikinya. Peranan guru lebih banyak menetapkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin belajar dan fasilitator belajar. Metode discovery merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah, metode ini menempatan siswa belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan dalam memecahan masalah.
       Metode discovery adalah suatu metode di mana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang selama ini secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja (Suryosubroto, 2008: 192).
Adapun judul penelitian ini adalah : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi  Hitung Bilangan”  Melalui Metode Discovery Dan Kerja Kelompok Siswa Kelas IV SD Negeri Badean.
Metode discovery merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah, metode ini menempatan siswa belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan dalam memecahan masalah.
Metode kerja kelompok adalah metode mengajar dengan mengkondisikan siswa dalam suatu group atau kelompok sebagai satu kesatuan dan diberikan tugas untuk dibahas dalam kelompok tersebut.

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas diatas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi  Hitung Bilangan”  Melalui Metode Discovery Dan Kerja Kelompok Siswa Kelas IV SD Negeri Badean 02?

Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian tindakan kelas ini, adalah untuk mengkaji tentang : Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi  Hitung Bilangan”  Melalui Metode Discovery Dan Kerja Kelompok Siswa Kelas IV SD Negeri Badean 02.

Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
a)      Bagi siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menyenangkan sehingga lebih mudah memahami materi yang diajarkan,
b)      Bagi guru, penelitian ini memberikan pengalaman dalam mengembangkan metode pembelajaran yang variatif,
c)      Bagi sekolah, dapat sebagai alternatif metode mengajar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

METODE PENELITIAN
            Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Badean 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Subyek dan sekaligus menjadi obyek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri Badean 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember   yang berjumlah 17 siswa, serta proses pembelajaran matematika materi ajar “Operasi  Hitung Bilangan”  dengan penerapan Metode Discovery Dan Kerja Kelompok.

Rancangan dan Prosedur Penelitian
            Model penelitian yang digunakan adalah model Elliot. Elliot dan Adelman bekerja bersama-sama dengan guru di kelas, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi mereka sebagai kolaborator atau teman sejawat guru. Melalui partisipasi semacam ini, mereka membantu guru untuk mengadopsi suatu pendekatan penelitian untuk pekerjaannya. Elliot setuju dengan  ide dasar langkah-langkah tindakan refleksi yang terus bergulir dan kemudian menjadi suatu siklus seperti yang dikembangkan Kemmis, namun skema langkah-langkahnya lebih rinci dan berpeluang untuk lebih mudah diubah sehingga sebenarnya dia telah membuat suatu diagram yang lebih baik.
Tahapan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : tahap perencanaan (rencana tindakan), tahap implementasi (pelaksanaan tindakan), tahap observasi, tahap evaluasi  dan refleksi yang diikuti dengan perencanaan ulang.


Ada hal-hal penting  yang perlu diperhatikan dalam memahami langkah-langkah yang ada di dalam model PTK yang  bila guru akan menerapkan atau mengadopsi untuk penelitian tindakan kelas dalam praktik di kelasnya, guru harus memahami betul apa yang dimaksud oleh masing-masing penulis. Disamping itu, guru atau peneliti harus mengetahui  penggunaan data dan keterbatasan skema-skema tersebut bila dipraktekkan dalam penelitian tindakan. Beberapa keterbatasan langkah-langkah di dalam model PTK ini antara lain :
  1. Adanya gerakan yang mulai menjauh dari gerakan ajaran Lewin semula.
  2. Skema-skema kelihatannya rapuh dan membingungkan.
  3. Skema-skema tersebut tidak dapat menyesuaikan dengan hal-hal baru yang menjadi fokus utamanya.
  4. Skema tersebut tidak begitu saja cocok untuk diikuti.
           
Metode Pengumpulan Data
            Dalam metode pengumpulan data disetiap penelitian tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab kegiatan pengumpulan data dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian.
            Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan adalah melalui catatan observasi selama proses belajar berlangsung dan hasil evaluasi  yang dilakukan sejak awal penelitian hingga sampai dengan siklus 3.
            Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dan permunculan ketrampilan kooperatif siswa, sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan mutu belajar siswa.
            Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan. Lebih rinci akan penulis jelaskan sebagai berikut :
a.       Metode Angket
Metode angket adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal lain yang diketahuinya (Suharsimi Arikunto, 1983 : 107). Selanjutnya Kartini Kartono (1990 : 217) menjelaskan angket adalah penyelididkan mengenai suatu masalah yang banyak menyangkut kepentingan umum dengan jalan mengadakan formulir daftar pertanyaan, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan jawaban tertulis seperlunya.
Dapat disimpulkan angket adalah suatu daftar pertanyaan yang disusun secara teratur menjadi sebuah pertanyaan tertulis untuk memperoleh informasi dari orang yang dikenai angket tersebut. Dalam hal ini Bimo Walgito mengemukakan angket dapat dibedakan atas beberapa jenis tergantung pada sudut pandangnya :
1)      Dipandang dari macam pertanyaannya, maka ada ;
-      pertanyaan yang tertutup : dimana responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan didalam angket.
-      Pertanyaan yang terbuka : memberikan kesempatan kepada responden untuk memberikan  jawabannya terhadap angket tersebut.
-      Pertanyaan yang terbuka dan tertutup : merupakan campuran dari kedua pertanyaan diatas.
2)      Dipandang dari cara memberikan, maka ada :
-      Angket langsung yaitu bila angket itu langsung diberikan kepada responden yang ingin diselidiki.
-      Angket tidak langsung yaitu angket yang untuk mendapatkan jawaban membutuhkan perantara.
Dalam aplikasinya angket atau kuisioner dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut :
  1. Menyusun beberapa pertanyaan tentang variable yang diteliti
  2. Menyampaikan daftar pertanyaan  kepada responden
  3. Mengumpulkan kembali daftar pertanyaan yang telah dijawab oleh responden, sehingga diperoleh data.
  4. Memeriksa jawaban yang telah dikumpulkan dengan tujuan jika ada jawaban yang kurang jelas dapat dikoreksi melalui wawancara kepada responden yang bersangkutan
b.      Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan jalan mencatat secara sistematika dan fenomena yang diselidiki (Arifin : 1991 : 49). Observasi dilaksanakan adalah untuk mengetahui tentang kedaan sekolah, kegiatan belajar mengajar serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Selain itu juga ada aspek afektif yang meliputi minat dan rasa ingin tahu siswa, perhatian siswa, kedisiplinan siswa, kerjasama, tanggung jawab, dan rasa tenggang rasa siswa. Sedangkan aspek psikomotorik meliputi ketrampilan mengerjakan tugas, ketrampilan berdiskusi, mempresentasikan materi, menyimpulkan materi dan berbicara.
c.       Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda dan sebagainya (Arikunto,  2002 : 206). Adapun sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
-      Nama responden penelitian
-      Daftar nilai ujian
d.      Wawancara
Menurut Arikunto, wawancara adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara terhadap terwawancara. Hal ini juga didukung oleh Arifin (1991 : 54). Wawancara langsung adalah wawancara langsung dengan orang yang diwawancarai tanpa perantara. Dan wawancara tidak langsung adalah wawancara dengan orang yang diwawancarai melalui perantara atau tidak bertemu langsung.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan siswa untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mengikuti pembelajaran Matematika.

Metode Analisis Data
            Analisis data merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana denga baik tetapi jika analisa datanya tidak relevan. Data hasil observasi pembelajaran dianalisis kemudian ditafsirkan berdasarkan kajian pustaka  dan pengalaman guru. Sedangkan hasil belajar siswa dianalisis berdasarkan ketentuan belajar siswa. Analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif.

Indikator Kinerja
            Indikator yang dapat dicapai dari penelitian ini antara lain :
a.       Adanya interaksi antara guru dan murid yang lebih aktif jika menggunakan Metode Discovery dan kerja kelompok
b.      Terjadi peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai pre tes ke nilai pos tes.
c.       Siswa lebih mudah memahami dan menerima tentang materi ajar Materi Ajar “Operasi  Hitung Bilangan”  pada mata pelajaran Matematika dengan penerapan Metode Discovery dan kerja kelompok.
d.      Hasil belajar mencapai ketuntasan secara klasikal yakni minimal 85% dan  maksimal 100%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Sebelum penerapan Metode Discovery dan Kerja Kelompok, terlebih dahulu peneliti mengadakan analisa data pada proses kegiatan belajar yang selama ini laksanakan. Metode pembelajaran yang selama ini dilaksanakan adalah metode ceramah. Pada metode ini siswa hanya duduk mendengarkan, mencatat, dan kemudian dilaksankan evaluasi melaalui tes dengan mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Hasil analisa data ini, menjadi titik awal dari penelitian tindakan kelas  dilakukan.
Adapun hasil observasi yang dilakukan pada kondisi awal ini  menunjukkan bahwa hasil belajar masih rendah, yaitu dari 17 siswa yang mendapat nilai < 65 masih sebanyak 7 siswa atau sebesar 41%, sedangkan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 hanya sebanyak 10 siswa atau sebesar 59%.
Hasil analisa data pada kondisi awal tersebut diatas lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini.


Tabel 1 : Ketuntasan Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan” Siswa Kelas IV SDN Badean 02 pada Kondisi Awal
Skor
Jumlah Siswa
Persentase (%)
< 65
7
 41%
65 – 100
10
 59%
Jumlah
17
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan data pada kondisi awal tersebut, selanjutnya, dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas pada siklus I dengan penerapan Metode Discovery dan kerja kelompok untuk meningkatkan hasil belajar siswa.  Awalnya siswa masih tampak bingung dengan model pembelajaran ini. Namun peneliti menjelaskan dengan sabar, sehingga siswa mulai merasa senang, karena dengan metode ini siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan, dan suasana kelas menjadi tidak tegang. Setelah proses pembelajaran selesai, peneliti melaksanakan analisa data melalui evaluasi, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2 : Ketuntasan Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Operasi Hitung Bilangan” Siswa Kelas IV SDN Badean 02 pada Siklus I
Skor
Jumlah Siswa
Persentase (%)
< 65
4
 24%
65 – 100
13
 76%
Jumlah
17
100 %
Sumber: Data yang diolah

Dari tabel 2 di atas dapat diketahui, pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar siswa yaitu yang mendapat  nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 24% dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 13 siswa atau sebesar 76%. Namun untuk mendapat ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, analisa dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II ini, peneliti hanya mengulang pembelajaran pada siklus I. Perhatian lebih diberikan kepada siswa yang pada siklus I masih belum mencapai ketuntasan belajar.
Hasil analisa data pada siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3 : Ketuntasan Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Operasi hitung Bilangan” Siswa Kelas IV SDN Badean 02 pada Siklus II

Skor
Jumlah Siswa
Persentase (%)
< 65
2
 12%
65 – 100
15
 88%
Jumlah
17
100 %
Sumber: Data yang diolah

Dari tabel 3 di atas dapat diketahui hasil analisis data pada siklus II pencapaian target sangat memuaskan karena ketuntasan belajar Siswa dikatakan tuntas belajar secara klasikal, karena dari 17 siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak  2 siswa atau sebesar 12% dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak  15 siswa atau sebesar  sebesar 88%. Sehingga analisa data tidak dilanjutkan ke siklus selanjutnya.
Perbandingan analisa data dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II, dapat disajikan pada tabel dan garfik dibawah ini.

Tabel 4 : Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Operasi hitung Bilangan” Siswa Kelas IV SDN Badean 02 Kondisi awal, Siklus I, dan Siklus II.
Kriteria Nilai
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
7
 41%
4
 24%
2
 12%
65 – 100
10
 59%
13
 76%
15
 88%
Jumlah
17
100 %
17
100 %
17
 100%
Sumber : data yang diolah
Grafik 1 : Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar Matematika Materi Ajar “Operasi hitung Bilangan” Siswa Kelas IV SDN Badean 02 Kondisi awal, Siklus I, dan Siklus II.
Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Berdasarkan hasil interview sebelum penelitian tindakan kelas dilaksanakan, dapat diketahui bahwa metode pembelajaran yang biasa digunakan adalah metode ceramah. Dalam hal ini guru menjelaskan materi pelajaran dan aktivitas siswa hanya mendengarkan. Guru juga menyelingi metode ceramah dengan metode diskusi. Namun demikian, siswa seringkali kurang paham akan materi yang dijelaskan oleh guru karena guru terlalu cepat dalam menerangkan materi terlebih jika ada kata­kata sulit. Suasana kelas pun seringkali nampak tegang sehingga berpengaruh terhadap daya serap siswa dalam menerima pelajaran.
Hal ini sangat berpengaruh pada hasil belajar yang diperoleh siswa. Berdasarkan rata-rata hasil belajar pada kondisi awal , tergolong rendah sehingga perlu diadakan tindakan untuk perbaikan proses belajar mengajar. Rendahnya nilai rata-rata kelas juga menjadi salah satu syarat pelaksanaan penelitian tindakan kelas, hal ini juga mendasari pemilihan responder penelitian. Salah satu yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dimana pengajar lebih merupakan subyek dalam pembelajaran sedangkan Siswa hanya sebagai obyek penerima materi.
Pada siklus I, awalnya siswa masih tampak bingung dengan Metode Discovery dan kerja kelompok ini. Namun peneliti menjelaskan dengan sabar, sehingga siswa mulai merasa senang, karena dengan metode ini siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan, dan suasana kelas menjadi tidak tegang. Hal ini berpengaruh pada hasil belajar siswa yang meningkat pada siklus I, yaitu yang mendapat  nilai < 65 sebanvak 4 siswa atau sebesar 24% dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak  13 siswa atau sebesar 76%. Namun untuk mendapat ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, analisa dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II ini, peneliti hanya mengulang pembelajaran pada siklus I. Perhatian lebih diberikan kepada siswa yang pada siklus I masih belum mencapai ketuntasan belajar.
Pada siklus II pencapaian target sangat memuaskan karena ketuntasan belajar Siswa dikatakan tuntas belajar secara klasikal, karena dari 31 siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanvak  2 siswa atau sebesar 12% dan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak  15 siswa atau sebesar  sebesar 88%. Sehingga analisa data tidak dilanjutkan ke siklus selanjutnya.
 Bentuk soal yang diberikan pada ulangan harian adalah bentuk essay, bentuk dan isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai serta dikonsultasikan dengan pengajar. Adapun tugas yang diberikan dapatberupa masalah yang harus dipecahkan, pemberian tugas ini dilakukan agar siswa secara individu atau kelompok kecil dapat mengerjakan sesuatu untuk memecahkan masalah dengan cara sendiri.
Metode Discovery dan kerja kelompok dapat digunakan sebagai rangkuman bagi siswa tentang konsep-konsep utama dan konsep-konsep baru yang harus dipelajari. pemahaman siswa dalam menentukan hubungan keterkaitan antara satu konsep dengan yang lain harus saling berhubungan sehingga akan membantu siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Struktur kognitif seseorang dapat dibangun secara hirarkis dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi dari yang bersifat umum ke khusus dan belajar dapat lebih bermakna bila siswa dapat menyadari kaitan-­kaitan konsep diantara kumpulan-kumpulan konsep yang saling berhubungan.
Kekuatan penelitian ini terletak, pada jenis penelitian tindakan kelas, Peneliti bertindak sebagai observer dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga peneliti dapat mengamati dan memperbaiki kekurangan - kekurangan yang terjadi pada saat tindakan di kelas.
Selain itu, penelitian yang dilaksanakan di Kelas IV , karena kelas tersebut merupakan yang memiliki keaktifan belajar siswa rendah dan hasil belajar rendah dibandingkan kelas yang lain. Namun dengan diterapkannya Metode Discovery dan kerja kelompok  terjadi peningkatan pada keaktifan siswa dan hasil belajar siswa dan terbukti pada siklus I dan siklus II. Hal ini dapat dipahami karena metode ini membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa, andaikata siswa itru dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin.
Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan; jadi seorang belajar bagaimana belajar itu. Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasa jernih payah penyelidikan, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan. Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibah dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus. Metode ini juga menggalang kerjasama dan kekompakan dalam kelompok dan mengembangkan kepemimpinan siswa dan pengajaran keterampilan berdiskusi dan proses kelompok.


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil analisis data diketahui bahwa pada setiap siklus terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa. Pada studi awal, dari 17 siswa yang mencapai ketuntasan baru 59%. Pada siklus I siswa yang mencapai ketuntasan mengalami kenaikan menjadi 76%. Pada siklus II siswa yang mencapai ketuntasan mengalami kenaikan 12% dari siklus I menjadi 88%. Hal yang sama juga terjadi pada aktivitas belajar siswa, sehingga dapat disimpulkan bahwa,  Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Operasi  Hitung Bilangan”  Melalui Metode Discovery Dan Kerja Kelompok Siswa Kelas IV SD Negeri Badean 02.

Saran-saran
Setelah melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, saran-saran yang peneliti sampaikan adalah :
1)      Untuk guru hendaknya menerapkan Metode Disvovery dan Kerja Kelompok,  karena dapat mempermudah siswa dalam memahami materi yang diajarkan, 
2)      Untuk sekolah, agar dapat memberi dukungan baik berupa sarana maupun prasarana , sehingga guru dapat mengembangkan metode pembelajaran yang variatif untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

DAFTAR  RUJUKAN                          

Depdiknas. 2007. Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta.
Depdiknas. 2004. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SD/MI.Depdknas 2004
Depdiknas. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi (MTK-26: Model-model Pembelajaran Matematika). Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas.
Djamarah, S B. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kunandar. 2007. Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Koenjtaraningrat. 1981. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Krisna. 2009. Pengertian Dan Ciri-ciri   Pembelajaran.
Moedjiono dan Dimyati.1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud Dijen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Nasution, S. 1995 .Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Yunanto, Sri Joko. 2004. Sumber Belajar Anak Cerdas. Jakarta: Grasindo.