Selasa, 23 Mei 2017

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “SIFAT-SIFAT BANGUN DATAR DAN BANGUN RUANG” MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA SISWA KELAS III SD NEGERI PETUNG 03

Titut Wulandari

Abstrak: Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk mengkaji tentang : Peningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Melalui Penggunaan Alat Peraga Siswa Kelas III SD Negeri Petung 03 . Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (PTK).  Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi: perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).  Hasil penelitian: Ada Peningkatan hasil belajar yang diperoleh pada setiap siklus  pada siklus pertama  yang tuntas 77% siklus kedua menjadi 94%. Simpulannya dapat Meningkatkan  Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Melalui Penggunaan Alat Peraga Siswa Kelas III SD Negeri Petung 03 .

    Kata Kunci:  Alat Peraga  dan Hasil Belajar


PENDAHULUAN
Pembelajaran matematika ditingkat Sekolah Dasar merupakan salah satu pembelajan yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Dewasa ini perkembangan pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Anak usia Sekolah dasar sedang menaglami perkembangan pada pola pikirnya karena tahap berpikir mereka masih belum rasional terutama untuk anak atau siswa yang masih duduk di kelas rendah. Bukan tidak mungkin cara berpikirnya masih berada pada tahapan pra konkret. (Karso, 2009:1.4 )
Namun sayangnya, pengembangan model pembelajaran matematika tidak selalu sejalan dengan perkembangan berpikir anak terutama pada anak-anak usia Sekolah Dasar. Apa yang dianggap jelas orang yang berhasil mempelajarinya merupakan hal yang tidak mudah dipahami dan membingungkan bagi anak-anak. Hal ini pulalah yang menyebabkan pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar selalu menarik untuk dibahas.
Berdasarkan hal tersebut di atas peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki hasil belajar siswa dengan judul : Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Melalui Penggunaan Alat Peraga Siswa Kelas III SD Negeri Petung 03.
Bangun  datar  merupakan  sebuah  bangun  berupa  bidang  datar yang dibatasi oleh beberapa ruas garis. Jumlah dan model ruas garis yang   membatasi   bangun   tersebut   menentukan   nama   dan   bentuk bangun datar tersebut. Misalnya:  1)Bidang yang dibatasi oleh 3 ruas garis, disebut bangun segitiga; 2)Bidang yang dibatasi oleh 4 ruas garis, disebut bangun segiempat; 3)Bidang  yang  dibatasi  oleh  5  ruas  garis,  disebut  bangun  segilima dan seterusnya.
Alat peraga adalah merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Dengan adanya alat peraga siswa dapat termotivasi dalam kegiatan belajarnya dan dapat menambah daya tarik juga minat siswa untuk belajar. Alat peraga dalam dunia pendidikan adalah hal yang mutlak harus digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Keengganan penggunaan alat peraga sekarang ini banyak dirasakan oleh para guru dengan alasan ribet dan merepotkan. Para guru umumnya menggunakan metode ceramah yang dianggapnya lebih simpel dan sederhana serta mudah dilakukan, tanpa persiapan dapat langsung mengajar di kelas menyampaikan materi pembelajaran. (Karso, 2009:1.14).

Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk mengkaji tentang : Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Melalui Penggunaan Alat Peraga Siswa Kelas III SD Negeri Petung 03 .

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan bermafaat  :
a)      Bagi siswa, hasil belajar siswa meningkat khususnya pada materi ajar ”Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang   dan tidak lagi dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan,
b)      Bagi guru, sebagai masukan, strategi dan solusi yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika,
c)      Bagi sekolah, Sebagai bahan pertimbangan agar penggunaan alat peraga diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas pada semua bidang studi, mengingat model pembelajaran ini sejalan dengan kurikulum yang berlaku.


METODE PENELITIAN

Tempat dan Subyek Penelitian
            Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di Kelas V SD Negeri Petung 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember. Yang menjadi subyek dan sekaligus obyek dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah seluruh siswa Kelas V SD Negeri Petung 03 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember gemester genap Tahun Pelajaran 2012/2013 yang berjumlah sebanyak 31 siswa, serta proses pembelajaran dan hasil belajar materi ajar “Sifat-Sifat  Bangun Datar Dan Bangun Ruang” melalui penggunaan alat peraga.

Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (PTK). menurut Sunardi (1997:3) bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian atau kajian secara sistematis dan terencana yang dilakukan oleh peneliti dan praktisi (dalam hal ini guru), untuk memperbaiki pelajaran dengan jalan mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujan untuk mengembangkan keterampilan - keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung didunia kerja atau dunia aktual.
Adapun desain/rancangan siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut :
Penelitian Tindakan Kelas adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik.
Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).
1) Perencanaan (planning)
Dalam penelitian ini disusun suatu desain pembelajaran dengan penggunaan alat peraga, materi pelajaran, post-tes, pedoman observasi, angket, mengkordinir tindakan, menyiapkan RPP dan alat peraga yang berupa bangun datar dan bangun ruang.
2) Tindakan (action)
Pada fase tindakan yang dilakukan adalah penerapan pembelajaran dengan penggunaan alat peraga pelaksanaannya yaitu :
a)      Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
b)      Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
c)      Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
d)     Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
e)      Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya. Di samping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
3) Pengamatan (observation)
Pada fase ini yag dilakukan adalah pengumpulan data yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan penggunaan alat peraga. Fokus pengamatan dalam tahap observasi ini sesuai dengan perencanaan dalam lembar pedoman observasi.
4) Refleksi (reflection)
            Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai dasar langkah berikutnya yakni apakah hasil yang didapatkan sudah sesuai dengan kriteria ketuntasan atau tidak. Jika iya maka penelitian selesai yang berarti penelitian hanya sampai pada siklus I namun jika tidak maka akan dilanjutkan pada siklus II yakni diawali dengan merevisi kembali perencanaan, kemudian melakukan kembali poin 2, 3, 4 dan seterusnya.
Penelitian ini direncanakan menggunakan 3 siklus jika pada siklus pertama hasil belajar sudah mencapi ketuntasan maka siklus akan dihentikan begitu sebaliknya.

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu memperoleh data-data yang relevan dan akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Metode observasi 2) Metode wawancara 3) Metode tes 4) Metode dokumentasi.
1)         Metode observasi
Observasi adalah suatu teknik penelitian yang dilakukan degan cara mengadakan pengamatan terhadap suatu objek baik secara langssung maupun tidak langsung. Kegiatan siswa dalam pembelajaran ini diamati oleh peneliti untuk mendapatkan data tentang aktivitas siswa.
2)         Metode wawancara
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin dimana pewawancara membawa pedoman yang hanya berupa garis besar saja dan pengembangannya dilakukan saat wawancara berlangsung. Wawancara akan dilakukan kepada guru untuk mengetahui tanggapan dan pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang dilakukan.
3)         Metode tes
Tes adalah pertanyaan-pertanyaan atau latihan-latihan yang diberikan untuk mengetahui dan mengukur pengetahuan, keterampilan intelegensi, bakat dan kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai materi. Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes tertulis (essay) karena tes dalam bentuk ini dapat memunculkan kreatifitas siswa dalam berfikir dan menyusun jawaban sesuai dengan pendapat dan pemikiran mereka sendiri.
4)         Metode dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Pada penelitian ini data yang ingin diperoleh adalah data siswa dan nilai matematika siswa pada pokok bahasan sebelumnya. Hal ini dapat memberikan informasi bagi peneliti untuk untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa sehigga peneliti dapat membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan yang berbeda.

Analisis Data
Analisis merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif terhadap data-data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara oleh peneliti seperti tanggapan guru dan siswa mengenai penerapan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dan kegiatan guru selama proes pembelajaran berlangsung sedangkan analisis data kuantitatif diperoleh dari hasil tes.

 Indikator Kinerja
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah daya serap perseorangan, seseorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor >65 dari skor maksimal 100 daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85%.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan untuk memperbaiki pembelajaran matematika pada materi ajar “Sifat-sifat Bangun Datar dan Bangun Ruang” Siswa Kelas V SDN Petung 03  yang pada kondisi awal hasil belajar yang diperoleh siswa masih rendah, yaitu dari 31 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 14 siswa atau sebesar 45% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 17 siswa atau hanya sebesar 55%.
Hasil analisa data yang dilaksanakan pada kondisi awal, lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1, sebagai berikut :

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika  Materi Ajar ”Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Siswa Kelas V SDN Petung 03  Pada    Kondisi Awal
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
14
45%
65 – 100
17
55%
Jumlah
31
100%
Sumber : Data yang diolah

Selanjutnya perbaikan pembelajaran dilaksanakan pada siklus I melalui penerapan pembelajaran penggunaan alat peraga. Peneliti mengembangkan Penelitian Tindakan Kelas melalui beberapa rencana, tindakan atau pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Siklus I
§  Tahap Perencanaan
a.    Identifikasi Masalah dan Perumusan Masalah
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan terhadap beberapa masalah yang terungkap yaitu :
-     Kurangnya minat belajar siswa.
-     Perhatian dalam kegiatan belajar mengajar siswa masih kurang.
-     Siswa bermain sendiri saat pembelajaran berlangsung.
-     Metode yang digunakan guru kurang bervariasi.
-     Tingkat pemahaman siswa kurang.
-     Menyusun rencana perbaikan pembelajaran.
-     Menyusun instrument tes.
-      Menyediakan alat peraga.
§  Tahap Pelaksanaan
a. Kegiatan Awal
-     Peneliti/Guru mengondisikan kelas
b.    Kegiatan Inti
-     Peneliti menunjukkan alat peraga berupa bangun datar dan bangun ruang
-     Siswa menjawab pertanyaan guru berdasarkan alat peraga.
-     Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya.
-     Dengan bantuan alat peraga yaitu manik-manik siswa diminta maju satu persatu untuk mempraktekkan pembagian.
-     Guru melakukan klarifikasi.
c.  Kegiatan Akhir
-     Siswa diminta untuk mengerjakan tes.
-     Peneliti mengoreksi hasil tes.
-     Peneliti menganalisa hasil tes.
-     Peneliti menyimpulkan kegiatan belajar mengajar.
-     Peneliti  menutup pelajaran pada siklus I
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung teman sejawat melakukan pengamatan terhadap jalannya proses perbaikan, keaktifan siswa, dan kegiatan peneliti selama melaksanakan perbaikan pembelajaran.
 Hasil analisa data berupa tes tersebut diatas,  dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini :

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika  Materi Ajar ”Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Siswa Kelas V SDN Petung 03  Pada    Siklus I
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
7
23%
65 – 100
24
77%
Jumlah
31
100%
Sumber : Data yang diolah
            Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat dilihat bahwa ada peningkatan hasil belajar yang menggembirakan pada siklus I, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 siswa atau sebesar 23%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 24 siswa, atau sebesar 77%.
Meskipun pada siklus I sudah terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar namun untuk mendapat hasil belajar yang lebih baik lagi, selanjutnya untuk perbaikan prestasi dan hasil belajar diadakan pembelajaran dan analisa data pada siklus II,
Kegiatan pembelajaran siklus II pada dasarnya sama dengan pembelajaran pada siklus I. Siklus II dilaksanakan sebagai penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus II. Pada siklus ini peneliti memberi perhatian lebih kepada siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar pada siklus I. Di akhir pembelajaran peneliti membacakan kembali hasil kesimpulan dan menegaskan materi perbaikan pembelajaran. Peneliti memberikan tugas berupa tes untuk mengadakan analisa data, baik yang dikerjakan sendiri maupun secara kelompok.
Pada kegiatan akhir ini, diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak  2 siswa atau sebesar 6%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 29 siswa, atau sebesar 94%, dengan demikian, maka hasil belajar pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Sehingga analisa data tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya. 
Analisa data pada siklus II, lebih jelas dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.


Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika  Materi Ajar ”Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Siswa Kelas V SDN Petung 03  Pada    Siklus II
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
2
6%
65 – 100
29
94%
Jumlah
31
100%
Sumber : Data yang diolah

Tabel 4 dan grafik 1 dibawah ini, menjelaskan perbandingan peningkatan hasil belajar mata pelajaran matematika materi ajar ‘Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang’ mulai dari Kondisi awal, Siklus I, dan Siklus II.

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika  Materi Ajar ”Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Siswa Kelas V SDN Petung 03  Pada Kondisi Awal, Siklus I, Dan Siklus II
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
14
45%
7
23%
2
6%
65 – 100
17
55%
24
77%
29
94%
Jumlah
31
100%
31
100%
31
100%
 Sumber : Data yang diolah

Grafik. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika  Materi Ajar ”Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Siswa Kelas V SDN Petung 03  Pada Kondisi Awal, Siklus I, Dan Siklus II

Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh peningkatan prestasi dan hasil belajar siswa siswa. Hal ini dapat dilihat analisa data pada kondisi awal masih rendah, yaitu pembelajaran sebelum pelaksanaan pembelajaran penggunaan alat peraga diterapkan, yaitu dari 31 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 14 siswa atau sebesar 45% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 17 siswa atau hanya sebesar 55%.
Rendahnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan karena 1) kurangnya perhatian siswa dalam proses pembelajaran, 2) kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran,3) kurangnya kesempatan siswa dalam bertanya, dan 4) rendahnya tingkat penguasaan materi yang baru dipelajari. Untuk mendapatkan pemecahan masalah dan meningkatkan hasil belajar, selanjutnya diadakan perbaikan pembelajaran dan  analisa  data pada siklus I.
Pada siklus I, pembelajaran dilaksanakan dengan penggunaan alat peraga. Pada siklus ini siswa tampak bersemangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Materi yang diajarkan pun menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa. Hal ini terlihat pada saat analisa data dilakukan bahwa ada peningkatan hasil belajar yang menggembirakan pada siklus I, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 siswa atau sebesar 23%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 24 siswa, atau sebesar 77%.
Meskipun pada siklus I sudah terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar namun untuk mendapat hasil belajar yang lebih baik lagi, selanjutnya untuk perbaikan prestasi dan hasil belajar diadakan pembelajaran dan analisa data pada siklus II,
Kegiatan pembelajaran siklus II pada dasarnya sama dengan pembelajaran pada siklus I. Siklus II dilaksanakan sebagai penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus II. Pada siklus ini peneliti memberi perhatian lebih kepada siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar pada siklus I. Di akhir pembelajaran peneliti membacakan kembali hasil kesimpulan dan menegaskan materi perbaikan pembelajaran. Peneliti memberikan tugas berupa tes untuk mengadakan analisa data, baik yang dikerjakan sendiri maupun secara kelompok.
Pada kegiatan akhir ini, diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak  2 siswa atau sebesar 6%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 meningkat menjadi sebanyak 29 siswa, atau sebesar 94%, dengan demikian, maka hasil belajar pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Sehingga analisa data tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya. 
Faktor lain yang ikut memberi kontribusi terhadap peningkatan hasil belajar siswa adalah dengan diberikannya kesempatan kepada siswa untuk melakukan peragaan dalam kelompok. Seperti dikatakan Edgar Dale bahwa pengalaman belajar yang paling tinggi nilainya adalah pengalaman belajar langsung dan melakukan sendiri.
Dengan keberhasilan penerapan penggunaan alat peraga pada penelitian tindakan kelas ini dapat dikatakan bahwa media pembelajaran matematika memiliki peranan sangat besar bagi guru yaitu untuk menyampaikan konsep-konsep dasar matematika maupun bagi siswa dalam menerima pengetahuan yang disampaikan guru kepadanya. Suatu fakta yang patut direnungkan dan disadari sepenuhnya untuk dilakukan tindak lanjut secara nyata bagi semuanya yang terlibat di dunia pendidikan bahwa: pengajaran matematika SD menggunakan alat peraga dan media lainnya secara tepat dibandingkan dengan yang tanpa menggunakan adalah enam berbanding satu atau 6 : 1. Jadi penggunaan alat peraga dan media lainnya dalam pembelajaran matematika (khususnya dalam memberikan penanaman konsep) akan membawa hasil enam kali lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan pengajaran drill tanpa konsep.

KESIMPULAN DAN SARAN
 Kesimpulan
Peningkatan hasil belajar yang diperoleh pada setiap siklus menyimpulkan bahwa : Dapat Meningkatkan Prestasi Dan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “Sifat-Sifat Bangun Datar Dan Bangun Ruang” Melalui Penggunaan Alat Peraga Siswa Kelas III SD Negeri Petung 03 .


Saran-saran
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian diatas maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut :
a)      Untuk guru, hendaknya menerapkan penggunaan alat peraga, karena dapat meningkatkan kualitas pembelajaran mata pelajaran matematika,
b)      Bagi lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat merupakan bahan masukan yang berguna dan juga sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam rangka peningkatan kegiatan belajar mengajar dimasa mendatang.
           
DAFTAR  RUJUKAN                          

Agus Taufiq, Hera L. Mikasa, Puji L. Prianto. (2012). Pendidikan Anak di SD, Jakarta: Universitas Terbuka.
Arikunto, S. 2002. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Gatot Muhsetyo, dkk. (2012). Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Igak Wardani dan Kuwaya Wihardit. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.
Karso, dkk. (2009). Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka.
Nurkancana & Sunartama. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Muchtar Abdul Karim, dkk. (2010). Pendidikan Matematika II. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sanjaya, Wina. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada Media Group.
Saripudin, U. 1996. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Suryosubroto. 1990. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Syafriani, D. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Tim Pelatihan Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta.