Selasa, 09 Mei 2017

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MATERI AJAR “PEMBAGIAN WILAYAH WAKTU DI INDONESIA” MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL SISWA KELAS V SD NEGERI ARJASA 02



MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MATERI AJAR “PEMBAGIAN WILAYAH WAKTU DI INDONESIA” MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL SISWA KELAS V SD NEGERI ARJASA 02

Hadi Waluyo

Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas ini, bertujuan untuk  mengakaji tentang : Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pembagian Wilayah Waktu Di Indonesia” Melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Siswa Kelas V SD Negeri Arjasa 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember.   Hasil penelitian sebagai berikut: Kondisi awal dari 17 siwa yang tuntas sebanyak 10 siswa atau 59 %, pada siklus pertama,  yang tuntas 13 siswa atau 76 %, dilanjutkan pada sisklus kedua yang tuntas mencapai 88% atau 15 siswa, sehingga yang belum tuntas  sebanyak 2 siswa. Maka  penerapan CTl dapat meningkatkan hasil belajar IPS materi “Pembagian Wilayah Waktu Di Indonesia”.

         Kata Kunci:  Pendekatan CTL, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pelajaran IPS dalam Struktur KTSP SD Pendidikan IPS SD disajikan dalam bentuk synthetic science, karena basis dari disiplin ini terletak pada fenomenayang telah diobservasi di dunia nyata. Konsep, generalisasi, dan temuan-temuan penelitian dari synthetic science ditentukan setelah fakta terjadi atau diobservasi, dan tidak sebelumnya, walaupun diungkapkan secara filosofis. Para peneliti menggunakan logika, analisis, dan  keterampilan (skills) lainnya untuk melakukan inkuiri terhadap fenomena secara sistematik. Agar diterima, hasil temuan dan prosedur inkuiri harus diakui secara public (Weltonand Mallan, 1988 : 66-67).
IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta,konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial . Memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, danekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, anak diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yangdemokratis, bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta amai.
Berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Itulah sebabnya IPS SD bergerak dari yang kongkrit ke yang abstrak dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas (expandingenvironment approach) dan pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari yang dekat ke yang jauh, dan seterusnya : dunia-negara tetangga-negara – propinsi - kota/kabupaten – kecamatan - kelurahan/desa-RT/RW tetangga-keluarga-Aku.
Pembelajaran kontekstual mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Komponen dalam pembelajaran kontekstual adalah konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya. Apabila sebuah kelas menerapkan ketujuh komponen di atas dalam proses pembelajaran, maka kelas tersebut telah menggunakan model pembelajaran kontekstual.
Dalam penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada kelas V, peneliti menerapkan pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas ini yang masih relative rendah. Guru harus memiliki strategi yang memacu siswa untuk dapat berpikir kritis dan kreatif.
Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan realitas dunia siswa sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya.
Pembelajaran yang memanfaatkan CTL sangat diperlukan. Prinsip CTL memuat konsep kesalingbergantungan para pendidik, siswa, masyarakat, dan lingkungan. Prinsip tersebut memacu siswa untuk turut mengutarakan pendapat dalam memecahkan masalah. Prinsip diferensiasi dalam CTL membebaskan siswa untuk menjelajahi bakat pribadi, membebaskan siswa untuk belajar dengan cara mereka sendiri. CTL merupakan salah satu alternatif pembelajaran inovatif, kreatif, dan efektif.
Teknik-teknik penilaian yang digunakan untuk mengetahui perkembangan siswa dapat menggunakan teknik observasi. Observasi dilakukan guru dengan melihat dan mencatat hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan belajar siswa. Proses pencatatan dapat dilakukan guru menggunakan buku atau lembar observasi untuk siswa. Pencatatan observasi ini berisi perilaku siswa saat pembelajaran berlangsung dan pembelajaran keterampilan yang lain.
Teknik kedua adalah dengan portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa dalam satu periode waktu tertentu. Data yang didapat dari portofolio digunakan untuk mengetahui perkembangan belajar menyimak siswa.
Teknik ketiga adalah jurnal. Jurnal digunakan untuk merekam atau meringkas aspek-aspek yang berhubungan dengan topik-topik kunci yang dipahami, perasaan siswa terhadap pembelajaran menyimak, kesulitan yang dialami atau keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi yang dipelajari. Jurnal dapat berupa diary, atau catatan siswa yang lain.
Salah satu tujuan pembelajaran kontekstual adalah mempertemukan konsep-konsep yang dipelajari di dalam ruang kelas dengan kenyataan aktual yang dapat dipahami dengan konsep-konsep teoretis itu dalam kenyataan lingkungan terdekatnya. Guru seharusnya dapat memberikan ruang bebas untuk siswa agar dapat mengungkapkan gagasannya, tanpa perlu dibatasi.
Komponen CTL berwujud refleksi adalah berusaha untuk menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan realitas sehari-hari siswa. Instrumen yang diberikan guru dapat berupa pemberian tugas menuliskan kegiatan sehari-hari dalam sebuah diary yang pada nantinya dapat dijadikan sebuah dokumen portofolio.  Penilaian yang sebenarnya adalah penilaian berbasis siswa. Penilaian guru tentang kegiatan menulis siswa harus sesuai dengan kompetensi siswa yang sesungguhnya. Guru harus membuat rubrik penilaian yang dapat mencakup semua aspek yang akan dinilai. Sebelum membuat rubrik, guru harus dapat membuat instrumen yang mudahdimengerti oleh siswa, dan instrumen yang dapat membuat siswa berpikir kritis dan kreatif. Instrumen menulis yang dibuat guru harus dapat memfasilitasi siwa untuk menulis kreatif.
Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan realitas dunia siswa sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya. Guru harus memiliki strategi yang memacu siswa untuk dapat berpikir kritis dan kreatif.
Pembelajaran kontekstual mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Komponen dalam pembelajaran kontekstual adalah konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya. Apabila sebuah kelas menerapkan ketujuh komponen di atas dalam proses pembelajaran, maka kelas tersebut telah menggunakan model pembelajaran kontekstual.
Penggunaan CTL dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas dapat menarik perhatian siswa karena CTL memiliki berbagai komponen sehingga pembelajaran tidak membosankan. Menurut Suyanto (2003:1) CTL dapat membuat siswa terlibat dalam kegiatan yang bermakna yang diharapkan dapat membantu mereka mampu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan konteks situasi kehidupan nyata. Pembelajaran dengan peran serta lingkungan secara alami akan memantapkan pengetahuan yang dimiliki siswa. Belajar akan lebih bermanfaat dan bermakna jika seorang siswa mengalami apa yang dipelajarinya bukan hanya sekedar mengetahui. Belajar tidak hanya sekedar menghafal tetapi siswa harus dapat mengonstruksikan pengetahuan yang dimiliki dengan cara mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki pada realita kehidupan sehari-hari.
Dalam proses belajar di kelas, siswa dibiasakan untuk saling membantu dan berbagi pengalaman dalam kelompok masyarakat belajar (learning community). Dalam proses belajar, guru perlu membiasakan anak untuk mengalami proses belajar dengan melakukan penemuan dengan melakukan pengamatan, bertanya, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data analisis data, dan menarik kesimpulan (inquiry). Seluruh proses dan hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan diamati dengan indikator yang jelas (outhentic assessment). Setiap selesai pembelajaran guru wajib melakukan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran (refleksion).
            Berdasarkan paparan di atas CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif diterapkan pada proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas . Oleh karena itu, topik penerapan CTL dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial perlu dipaparkan lebih lanjut.Pendekatan CTL menurut Suyanto (2003:2) merupakan suatu pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam berbagai macam mata pelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat   hubungan  antara  pengetahuan    yang    dimilikinya   dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari.
          Menurut Johnson (dalam Nurhadi, 2002:14) terdapat delapan utama yang menjadi karakteristik pembelajaran kontekstual, yaitu:
1)      Melakukan hubungan yang bermakna,
2)      Mengerjakan pekerjaan yang berarti,
3)      Mengatur cara belajar sendiri,
4)      Bekerja sama,
5)      Berpikir kritis dan kreatif, Mengasuh atau memelihara pribadi siswa,
6)      Mencapai standar yang tinggi, dan
7)      Menggunakan penilaian sebenarnya.
Nurhadi (2003:20) menyebutkan dalam kontekstual mempunyai sebelas karakteristik antara lain yaitu :
1)      Kerja sama,
2)      Saling menunjang,
3)      Menyenangkan,
4)      Belajar dengan bergairah,
5)      Pembelajaran terintegrasi,
6)      Menggunakan berbagai sumber,
7)      Siswa aktif,
8)      Sharing dengan teman,
9)      Siswa aktif, guru kreatif,
10)  Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain, serta
11)  Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.
Priyatni (2002:2) menyatakan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan dengan CTL memiliki karakteristik sebagai berikut.
1)      Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang autentik, artinya pembelajaran diarahkan agar siswa memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah dalam konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2)      Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
3)      Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa melalui proses mengalami (learning by doing).
4)      Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi (learning in a group).
5)      Kebersamaan, kerja sama saling memahami dengan yang lain secara mendalam merupakan aspek penting untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (learning to knot each other deeply).
6)      Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, kreatif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to York together).
7)      Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).
Pembelajaran kontekstual (CTL) memiliki tujuh komponen utama, yaitu sebagai berikut :
·           Konstruktivisme (construktivism)
Konstruktivisme merupakan landasan filosofi pendekatan CTL yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit dan tidak sekonyong-konyong).
Strategi perolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mengingat pengetahuan. Konsep konstruktivisme menuntut siswa untuk dapat membangun arti dari pengalaman baru pada pengetahuan tertentu. Priyatni (2002:2) menyebutkan bahwa pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif dari pengalaman atau pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
·           Inkuiri (inquiry)
Menemukan merupakan strategi belajar dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apa pun materinya.
Inkuiri adalah siklus proses dalam membangun pengetahuan yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Inkuiri diawali dengan pengamatan untuk memahami konsep atau fenomena dan dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan. Priyatni (2002:2) menjelaskan bahwa inkiri dimulai dari kegiatan mengamati, bertanya, mengajukan dugaan sementara (hipotesis), mengumpulkan data, dan merumuskan teori sebagai kegiatan terakhir.
·           Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan keahlian dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang sudah diketahuinya, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.Konsep ini berhubungan dengan kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan sebagai wujud pengetahuan yang dimiliki. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
·           Masyarakat belajar (learning commnunity)
Masyarakat belajar merupakan penciptaan lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual (CTL). Masyarakat belajar adalah kelompok belajar yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Aplikasinya dapat berwujud dalam pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, atau belajar dengan teman-teman lainnya. Belajar bersama dengan orang lain lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri.Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain.
Hasil belajar diperoleh dari berbagi pengalaman antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang tidak tahu. Pembelajaran kontekstual dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen sehingga sehingga akan terjadi kerja sama antara siswa yang pandai dengan siswa yang lambat. Kegiatan masyarakat belajar difokuskan pada aktivitas berbicara dan berbagai pengalaman dengan orang lain. Priyatni (2002:3) menyebutkan bahwa aspek kerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik adalah tujuan pembelajaran yang menerapkan learning community.
·      Pemodelan (modelling)
Model merupakan acuan pencapaian kompetensi dalam pembelajaran kontekstual. Konsep ini berhubungan dengan kegiatan mendemonstrasikan suatu materi pelajaran agar siswa dapat mencontoh atau agar dapat ditiru, belajar atau melakukan dengan model yang diberikan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model, siswa juga dapat berperan aktif dalam mencoba menghasilkan model. Priyatni (2002:3) menyatakan bahwa kegiatan pemberian model bertujuan untuk membahasakan gagasan yang kita pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana kita menginginkan para siswa untuk belajar, atau melakukan apa yang kita inginkan agar siswa melakukannya.
·      Refleksi (reflction)
Refleksi merupakan langkah akhir dari belajar dalam pembelajaran kontruktivisme. Konsep ini merupakan proses berpikir tentang apa yang telah dipelajari. Proses telaah terhadap kejadian, aktivitas, dan pengalaman yang dihubungkan dengan apa yang telah dipelajari siswa, dan memotivasi munculnya ide-ide baru. Refleksi berarti melihat kembali suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal yang telah diketahui, dan hal yang belum diketahui. Realisasinya adalah pertanyaan langsung tentang apa-apa yangdiperolehnya hari itu, catatan di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu.
Priyatni (2002:3) menjelaskan bahwa kegiatan refleksi adalah kegiatan memikirkan apa yang telah kita pelajari, menelaah, dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, dan memberikan masukan-masukan perbaikan jika diperlukan.


·      Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Penilaian yang sebenarnya merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian ditekankan pada proses pembelajarannya, maka data dan informasi yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajarannya.
Penilaian yang sebenarnya merupakan tindakan menilai kompetensi siswa secara nyata dengan menggunakan berbagai alat dan berbagai teknik tes, portofolio, lembar observasi, unjuk kerja, dan sebagainya. Prosedur penilaian yang menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa secara nyata. Penilaian yang sebenarnya ditekankan pada pembelajaran yang seharusnya membantu siswa agara mamapu mempelajari sesuatu, bukan hanya memperoleh informasi pada akhir periode. Kemajuan belajar siswa dinilai bukan hanya yang berkaitan dengan nilai tetapi lebih pada proses belajarnya.
           
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut: Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pembagian Wilayah Waktu Di Indonesia” Melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Siswa Kelas V SD Negeri Arjasa 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember ?

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan untuk  mengakaji tentang : Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pembagian Wilayah Waktu Di Indonesia” Melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Siswa Kelas V SD Negeri Arjasa 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten Jember .

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
a)         Bagi siswa, dapat menjadi pengalaman baru sehingga proses pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial menjadi tidak membosankan,
b)         Bagi guru, dapat menjadi alternatif metode pembelajaran demi peningkatan  hasil belajar siswa ,
c)         Bagi sekolah, dapat menjadi masukan dalam menentukan kebijakan di masa yang akan datang
Agar tidak menimbulkan kerancuan dalam memahami judul maka peneliti menjelaskan bahwa  :
a)      Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan realitas dunia siswa sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya
b)      Hasil belajar dalam penelitian ini adalah suatu pencapaian dari suatu penguasaan materi secara maksimal baik secara perorangan maupun secara kelompok. Bila dalam belajar mengajar sudah diperoleh ketuntasan belajar maka proses belajar mengajar dikatakan efektif.
     Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
1)   Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skormaksimal 100.
2)   Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

METODE PENELITIAN

            Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Arjasa 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten  Jember. Subyek  dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri Arjasa 02 Kecamatan Sukowono Kabupaten  Jember yang berjumlah 19 siswa.
Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (PTK). menurut Sunardi (1997:3) bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian atau kajian secara sistematis dan terencana yang dilakukan oleh peneliti dan praktisi (dalam hal ini guru), untuk memperbaiki pelajaran dengan jalan mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujan untuk mengembangkan keterampilan - keterampiIan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung didunia kerja atau dunia aktual.
Oval: Stop
1. Plan
 
4. Reflection
 
2. Action
3.Observation
 
Adapun desain/rancangan siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut :



 


Tuntas                  Tidak

 



2. Action
3.Observation
 
Tuntas                  Tidak











 




Tuntas                 Tidak


 


Gambar I. Model Penelitian Hopkins (PGSM, 1999:8)
PTK adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik.
Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).
1) Perencanaan (planning)
Dalam penelitian ini direncanakan dengan menerapkan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), RPP, materi pelajaran, post-tes, pedoman observasi, angket, mengkordinir tindakan.
2) Tindakan (action)
Pada fase tindakan yang dilakukan adalah penerapan pembelajaran Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) pelaksanaannya yaitu antara lain :
-      Guru membentuk membagi siswa menjadi 4 kelompok
-      Guru  menyampaiakan pembelajaran sesuai dengan RPP
-      Penyampaian masalah
-  Memberi contoh hal-hal/fakta yang dialami sehari-hari dihubungkan dengan materi yang diajarkan
-  Memberi soal untuk post test
3) Pengamatan (observation)
Pada fase ini yag dilakukan adalah pengumpulan data yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Fokus pengamatan dalam tahap observasi ini sesuai dengan perencanaan dalam lembar pedoman observasi.
4) Refleksi (reflection)
            Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai dasar langkah berikutnya yakni apakah hasil yang didapatkan sudah sesuai dengan kriteria ketuntasan atau tidak. Jika iya maka penelitian selesai yang berarti penelitian hanya sampai pada siklus I namun jika tidak maka akan dilanjutkan pada siklus II yakni diawali dengan merevisi kembali perencanaan, kemudian melakukan kembali poin 2, 3, 4 dan seterusnya.
Penelitian ini direncanakan menggunakan 2 siklus jika pada siklus pertama hasil belajar sudah mencapi ketuntasan maka siklus akan dihentikan begitu sebaliknya.

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu memperoleh data-data yang relevan dan akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1) Metode observasi
Observasi adalah suatu teknik penelitian yang dilakukan degan cara mengadakan pengamatan terhadap suatu objek baik secara langssung maupun tidak langsung, kegiatan observasi ini dilakukan bersama 2 orang observer. Kegiatan siswa dalam pembelajaran ini diamati oleh observer dan peneliti untuk mendapatkan data tentang aktivitas siswa.
2)   Metode wawancara
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin dimana pewawancara membawa pedoman yang hanya berupa garis besar saja dan pengembangannya dilakukan saat wawancara berlangsung. Wawancara akan dilakukan kepada guru untuk mengetahui tanggapan dan pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang dilakukan.
3)        Metode tes
Tes adalah pertanyaan-pertanyaan atau latihan-latihan yang diberikan untuk mengetahui dan mengukur pengetahuan, keterampilan intelegensi, bakat dan kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai materi. Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes tertulis (essay) karena tes dalam bentuk ini dapat memunculkan kreatifitas siswa dalam berfikir dan menyusun jawaban sesuai dengan pendapat dan pemikiran mereka sendiri.
4)         Metode dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Pada penelitian ini data yang ingin diperoleh adalah data siswa dan nilai siswa pada pokok bahasan sebelumnya. Hal ini dapat memberikan informasi bagi peneliti untuk untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa sehigga peneliti dapat membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan yang berbeda.

Analisis Data
Analisis merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif terhadap data-data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara oleh peneliti seperti tanggapan guru dan siswa mengenai penerapan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dan kegiatan guru selama proes pembelajaran berlangsung sedangkan analisis data kuantitatif diperoleh dari hasil tes.

Indikator Kinerja
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah daya serap perseorangan, seseorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor >65 dari skor maksimal 100 daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85%.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pada hasil analisa kondisi awal, data diperoleh adalah, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 siswa atau sebesar 43%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanya 10 siswa atau sebesar 59%.
Untuk melihat lebih jelas hasil analisis data pada ketuntasan kondisi awal dapat di lihat tabel dibawah ini.

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas V SD Negeri Arjasa 02 pada Kondisi Awal

Kriteria
Siswa
Persentase (%)
 < 65
7
41%
65 – 100
10
59%
Total
17
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan hasil analisis data pada Kondisi Awal di atas menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajran Ilmu Pengetahuan Alam masih rendah, maka peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan dengan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dilanjutkan dengan analisis data pada siklus I. Sebagian besar siswa menyatakan bahwa Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) membuat merekalebih mudah memahami materi yang diajarkan, karena materi pelajaran dipadukan dengan keadaan yang nyata. Berdasarkan lanalisis data hasil belajar siswa  pada siklus I , dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas V SD Negeri Arjasa 02 pada     Siklus I
Kriteria
Siswa
Persentase (%)
 < 65
4
24%
65 – 100
13
76%
Total
17
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui  pada siklus I, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 24%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 13 siswa atau sebesar 76%, ada peningkatan ketintasan hasil belajar pada siklus I sebanyak 13% dibandingan pada kondisi awal.
Namun untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang diharapkan ,selanjutnya dilanjutkan pembelajaran dan analisa data yang dilaksanakan pada Siklus II, dan hasilnya i dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas V SD Negeri Arjasa 02 pada Siklus II
Kriteria
Siswa
Persentase (%)
 < 65
2
12%
65 – 100
15
88%
Total
17
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel ketuntasan di atas , dapat diketahui dari 17 siswa, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 2 siswa atau sebesar 12%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 88%, maka pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal sehingga tidak perlu diadakan analisis berikutnya. Dengan demikian kegiatan penelitian ini sudah dapat diakhiri pada siklus II. Hal ini terjadi  karena :
a.       Guru sudah terampil dalam melaksanakan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
b.      Siswa merasakan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) membuat siswa lebih mudah memahami Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial  yang awalnya dianggap sulit.
            Untuk melihat lebih jelas perbandingan hasil belajar pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II, dapat dijelaskan pada grafik di bawah ini:
Grafik 1. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas V SD Negeri Arjasa pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II:
Sumber: Data yang diolah


Pembahasan
Dalam merancang kegiatan pembelajaran yang menggunakan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) harus diupayakan sesempurna mungkin sehingga hasilnya dapat mencapai target sesuai yang diharapkan atau dapat memperoleh hasil yang maksimal.
Semua bahan dan alat-alat yang dibutuhkan harus dipersiapkan secara sempurna dengan tujuan dalam pelaksanaan secara teknis nanti tidak ada kendala atau mengalami kegagalan.
Pada tahap pelaksanaan, guru mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sesuai rencana yang telah dipersiapkan dalam kegiatan ini, guru lebih banyak menggunakan contoh-contoh aktual dan ditunjang dengan metode diskusi, pemberian tugas dan tanya jawab kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan proses pernbelajaran dan juga penalaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa. Disamping mengajar, guru sekaligus juga melakukan kegiatan observasi baik yang berkaitan dengan aspek proses belajar maupun aspek hasil eksperimen yang dihasilkan siswa.
Langkah-langkah dalam pembelajaran pertama-tama guru menjelaskan ruang lingkup materi kemudian guru mempresentasikan materi Ilmu Pengetahuan Sosial materi ajar “ Pembagian Wilayah Waktu di Indonesia”) proses penjelasan dilakukan secara tahap demi tahap .
Langkah selanjutnya guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk mendiskusikan materi yang baru saja diberikan atau dipresentasikan. Kegiatan observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi utamanya dilakukan oleh guru (sebagai peneliti) dan dibantu oleh guru lain, observasi difokuskan pada proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran utamanya berkaitan dengan keterampilan guru dalam mengajar dengan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
Keterampilan guru yang diamati tidak hanya berkaitan dengan keterampilan praktek tetapi juga kemampuan dalam memberikan penjelasan tentang  “Pembagian Wilayah Waktu di Indonesia” . Obeservasi juga dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa selama melakukan eksperimen mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan dilakukan oleh peneliti dan pembantu peneliti.
Pada saat refleksi peneliti mengadakan analisis, interprestasi dan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, seperti kegiatan observasi, hasil dari catatan bebas, hasil wawancara, angket dan hasil test. Semua kegiatan ini dilakukan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan pencapaian tindakan.
Berdasarkan temuan di atas maka dapat diungkapkan bahwa proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)  telah menunjukan adanya peningkatan hasil belajar dari masing-masing siklus dalam ketuntasan hasil belajar.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data tersebut diatas, maka hasil penelitian tindakan kelas peneliti simpulkan sebagai berikut : Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Pembagian Wilayah Waktu Di Indonesia” Melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Siswa Kelas V SD Negeri Arjasa. Hasil penelitian sebagai berikut: Kondisi awal dari 17 siwa yang tuntas sebanyak 10 siswa atau 59 %, pada siklus pertama,  yang tuntas 13 siswa atau 76 %, dilanjutkan pada sisklus kedua yang tuntas mencapai 88% atau 15 siswa, sehingga yang belum tuntas  sebanyak 2 siswa.


Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan kemampuan maka penulis memberi saran-saran sebagai berikut :
a)        Untuk Guru, hendaknya lebih berani untuk menerapkan metode pembelajaran yang variatif sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa,
b)        Bagi Sekolah, agar dapat memberi dukungan terhadap penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru, supaya mendapatkan manfaat hasil penelitian yang optimal.

DAFTAR  RUJUKAN

Elementary Social Studies. Dubuque (terjemahan), USA : Brown Communications, Inc.
Nurhadi, dkk. 2002. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Priyatni, Endah Tri. 2002. Penerapan Konsep dan Prinsip Pengajaran dan Pembelajaran dan Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual. Makalah disajikan dalam Penataran Terintegrasi, AA dalam CTL. Malang: Universitas Negeri Malang.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Moedjiono dan Dimyab. 1992. Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem.Jakarta: Rineka Cipta.
Krisna. 2009. Pengertian Dan Ciri-ciri   Pembelajaran.
Sagala, Syaiful. 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung. Penerbit Alfabeta.
Pedoman penyuunan KTSP SD. Jakarta : Badan Standar Nsional PendidikanDepdiknas Dirjen PMPTK , 2007,
 Sutrisno, Joko. 2008. Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry dalam belajar Sains terhadap Motivasi Belajar Siswa.
Syaiful Bahari Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, Hlm. 185
 Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivis. Surabaya. Penerbit Pustaka Publisher
Uno, Hamzah.B. 2007. Mode Pembelajaran : Menciptakan Proses Belajar
Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta. Bumi Aksara.