Selasa, 23 Mei 2017

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI AJAR “GAMBAR/DENAH” MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS IV SDN TUGUSARI 02  

Siti Bariyah

Abstrak:  Penerapan model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) diharapkan dapat membuat proses pembelajaran lebih bermakna dan bernilai bagi siswa. Tujuan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) adalah untuk meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Gambar/Denah” Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Siswa Kelas IV SD Negeri Tugusari 2.Rancangan penelitian ini adalah PTK, Hasil penelitian:  pada  Pra Tindakan diperoleh data, dari 44 siswa yang mendapat nilai < 65 masih sebanyak 17 siswa atau sebesar 39%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 27 siswa atau sebesar 69%, dengan demikian pada Pra Tindakan dinyatakan masih belum tuntas belajar. pada siklus I, diperoleh data, yang mendapat nilai < 65  sebanyak 12 siswa atau sebesar 27%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 32 siswa atau sebesar 73%. data pada siklus II, yang mendapat  nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 14%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 38 siswa atau sebesar 86%, dengan demikian pada siklus II hasil belajar siswa dinyatakan tuntas

 Kata Kunci: Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL),   
                    Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan hal yang penting, karena mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang menunjang mata pelajaran lainnya. Jika keterampilan berbahsa siswa rendah, maka akan sangat berpengaruh pada mata pelajaran lainnya.
Pelajaran bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah dasar sejak kelas 1 SD. Mata pelajaran bahasa Indonesia diberikan disemua jenjang pendidikan formal. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia bersumber pada hakikat pembelajaran bahasa yaitu belajar bahasa (belajar berkomunikasi) dan belajar sastra (belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia mengupayakan peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis serta menghargai karya cipta bangsa Indonesia (Hartati, 2003).
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri Tugusari 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember khususnya siswa Kelas IV Semester Ganjil tahun Pelajaran 2015/2016 pada materi ajar “Gambar/Denah” masih banyak menemui kendala. Hal ini terbukti dari pencapaian ketuntasan belajar siswa sangat rendah, yaitu dari 44 siswa , yang mendapat nilai < 65 masih sebanyak 17 siswa atau sebesar 39%,  sedangkan yang mendapat nilai 65-100 hanya sebesar 61% atau sebanyak 27 siswa.
Rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia adalah kegagalan siswa dalam belajar yang disebabkan oleh kurang efektifnya pelaksanaan pembelajaran, apalagi dengan metode pembelajaran yang tidak variatif. Faktor pendukung terwujudnya peningkatan penguasaan Bahasa
Indonesia yang benar adalah penerapan membaca dan menulis serta kelancaran berbicara dalam Bahasa Indonesia dalam penelitian tindakan kelas ini dengan menggunakan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL).
Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) merupakan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan. Model CTL mengandung unsur prosedur yang disusun secara teratur dan logis serta dituangkan dalam suatu rencana kegiatan untuk mencapai tujuan.
Permasalahan yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa tersebut,  adalah metode yang digunakan tidak sesuai dengan materi ajar, sehingga siswa terlihat pasif dalam pembelajaran, bahkan ada yang terlihat bermain dan bercanda dengan teman sebangku.
Dengan penerapan model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) diharapkan dapat membuat proses pembelajaran lebih bermakna dan bernilai bagi siswa, sebab dihadapkan langsung dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih menarik, tidak membosankan, dan dapat menumbuhkan antusiasme untuk lebih giat dalam belajar.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, rumusan masalah penelitian ini adalah Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Gambar/Denah” Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Siswa Kelas IV SD Negeri Tugusari 02?

Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) adalah untuk mengkaji tentang : Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Gambar/Denah” Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Siswa Kelas IV SD Negeri Tugusari 02.

Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitan ini diharapkan bermanfaat bagi,
a)      Siswa, yaitu dapat mengembangkan penalaran dan kelancaran membaca serta kemampuan emosional dan bersosial,
b)      Guru, hasil penelitian ini dapat sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas,
c)      Sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian selanjutnya,
d)     Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian sejenis

            Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:
1)   Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skormaksimal 100.  Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor



METODE PENELITIAN

Daerah  Dan Waktu Penelitian
Daerah penelitian merupakan tempat atau lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di SD Negeri Tugusari 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember pada semester Ganjil tahun Pelajaran 2015/2016.

Subyek dan Obyek Penelitian

Subyek dan obyek Penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri Tugusari 02 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember yang berjumlah 44 siswa serta proses pembelajaran dan hasil belajar bahasa Indonesia materi ajar “Membuat Denah Lingkungan Sekitar Siswa” dengan penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL).


Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (PTK). menurut Sunardi (1997:3) bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian atau kajian secara sistematis dan terencana yang dilakukan oleh peneliti dan praktisi (dalam hal ini guru), untuk memperbaiki pelajaran dengan jalan mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujuan untuk mengembangkan keterampilan - keterampiIan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung atau dunia aktual.
Adapun desain/rancangan siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut :

PTK adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik.
Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).
1) Perencanaan (planning)
Dalam penelitian ini disusun suatu desain pembelajaran Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL), materi pelajaran, post-tes, pedoman observasi, angket, mengkordinir tindakan.
2) Tindakan (action)
Pada fase tindakan yang dilakukan adalah penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) pelaksanaannya yaitu antara lain penyampaian masalah, pembentukan kelompok, menagih lembar tulisan siswa dan mengadakan post-tes diakhir pembelajaran. Pada tahap ini juga akan dilakukan wawancara dan pemberian angket untuk mengetahui kesulitan siswa dan tanggapan siswa terhadap Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
3) Pengamatan (observation)
Pada fase ini yag dilakukan adalah pengumpulan data yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan dalam model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL). Fokus pengamatan dalam tahap observasi ini sesuai dengan perencanaan dalam lembar pedoman observasi.
4) Refleksi (reflection)
            Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai dasar langkah berikutnya yakni apakah hasil yang didapatkan sudah sesuai dengan kriteria ketuntasan atau tidak. Jika iya maka penelitian selesai yang berarti penelitian hanya sampai pada siklus I namun jika tidak maka akan dilanjutkan pada siklus II yakni diawali dengan merevisi kembali perencanaan, kemudian melakukan kembali poin 2, 3, 4 dan seterusnya.
Penelitian ini direncanakan menggunakan 2 siklus jika pada siklus pertama hasil belajar sudah mencapi ketuntasan maka siklus akan dihentikan begitu sebaliknya.

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu memperoleh data-data yang relevan dan akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Metode observasi 2) Metode wawancara 3) Metode tes 4) Metode dokumentasi.
1)         Metode observasi
Observasi adalah suatu teknik penelitian yang dilakukan degan cara mengadakan pengamatan terhadap suatu objek baik secara langssung maupun tidak langsung, kegiatan observasi ini dilakukan bersama 2 orang observer. Kegiatan siswa dalam pembelajaran ini diamati oleh observer dan peneliti untuk mendapatkan data tentang aktivitas siswa.
2)         Metode wawancara
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin dimana pewawancara membawa pedoman yang hanya berupa garis besar saja dan pengembangannya dilakukan saat wawancara berlangsung. Wawancara akan dilakukan kepada guru untuk mengetahui tanggapan dan pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang dilakukan.
3)         Metode tes
Tes adalah pertanyaan-pertanyaan atau latihan-latihan yang diberikan untuk mengetahui dan mengukur pengetahuan, keterampilan intelegensi, bakat dan kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai materi. Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes tertulis (essay) karena tes dalam bentuk ini dapat memunculkan kreatifitas siswa dalam berfikir dan menyusun jawaban sesuai dengan pendapat dan pemikiran mereka sendiri.
4)         Metode dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Pada penelitian ini data yang ingin diperoleh adalah data siswa dan hasil belajar Bahasa Indonesia pada materi ajar sebelumnya. Hal ini dapat memberikan informasi bagi peneliti untuk untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa sehingga peneliti dapat membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan yang berbeda.

Analisis Data
Analisis merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif terhadap data-data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara oleh peneliti seperti tanggapan guru dan siswa mengenai penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dan kegiatan guru selama proes pembelajaran berlangsung sedangkan analisis data kuantitatif diperoleh dari hasil tes.

Indikator Kinerja
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah daya serap perseorangan, seseorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor >65 dari skor maksimal 100, dan daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa yang mencapai ketuntasan belajar.maksimal 100.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Kegiatan pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah membuat analisa data untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar Bahasa Indonesia pada materi ajar “Gambar/Denah” pada kondisi awal/pra tindakan. Hasil analisa data yang diperoleh pada pra tindakan ini menjadi acuan dalam Penelitian Tindakan Kelas yang akan dilaksanakan.
Adapun  hasil analisa data yang diperoleh  pada pra tindakan adalah sebagai berikut :Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Gambar/Denah” Siswa Kelas IV SD Negeri Tugusari  Pada Pra Tindakan
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
17
39%
65 -100
27
61%
Jumlah
44
100%
Sumber : Data Yang Diolah
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui ketuntasan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia materi ajar “Gambar/Denah” pada Pra Tindakan diperoleh data, dari 44 siswa yang mendapat nilai < 65 masih sebanyak 17 siswa atau sebesar 39%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 27 siswa atau sebesar 69%, dengan demikian pada Pra Tindakan dinyatakan masih belum tuntas belajar.
Selanjutnya penelitian dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan sesuai dengan model pembelajaran yang sudah ditentukan, yaitu model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) pada siklus I. Pada tahap ini persiapan telah dilakukan, baik yang berkaitan dengan persiapan mengajar (Rencana Pembelajaran, alat evaluasi dan perencanaan setting pembelajaran) lembar observasi, panduan wawancara, dan persiapan latihan/evaluasinya. Adapun kegiatan belajar yang dilaksanakan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
-     Perencanaan
Kegiatan perencanaan meliputi, menentukan lokasi yang akan dideskripsikan dengan menyiapkan model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
-     Tindakan
Kegiatan dalam tindakan meliputi seluruh proses kegiatan belajar mengajar dengan penerapan model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
-     Observasi
Kegiatan dalam observasi adalah kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan proses sikap terhadap proses belajar dengan model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL), meliputi peningkatan minat belajar, aktivitas dan kemampuan menyelesaikan tugas.
-     Refleksi
Dalam kegiatan refleksi yang dilakukan antara lain, meliputi kegiatan analisis hasil pembelajaran sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya.
Setelah pembelajaran pada siklus I selesai, selanjutnya diadakan analisis data melalui evaluasi yang hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Gambar/Denah” Siswa Kelas IV SD Negeri Tugusari 02 Pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
12
27%
65 -100
32
73%
Jumlah
44
100%
Sumber : Data Yang Diolah
                 
                  Tabel 2 di atas menjelaskan bahwa hasil evaluasi pada siklus I, diperoleh data, yang mendapat nilai < 65  sebanyak 12 siswa atau sebesar 27%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 32 siswa atau sebesar 73%. Meskipun pada siklus I telah terjadi penambahan jumlah siswa yang sudah mencapai ketuntasan, namun secara klasikal masih belum mencapai ketuntasann seperti yang diharapkan. Selanjutnya untuk mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi, maka dilakukan pembelajaran dan analisis data pada Siklus II yang hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Gambar/Denah” Siswa Kelas IV SD Negeri Tugusari 02 Pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Prosentase
< 65
6
14%
65 -100
38
86%
Jumlah
44
100%
Sumber : Data Yang Diolah

Tabel 2 diatas menjelaskan bahwa hasil anlisa data pada siklus II, yang mendapat  nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 14%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 38 siswa atau sebesar 86%, dengan demikian pada siklus II hasil belajar siswa dinyatakan tuntas secara klasikal sehingga tidak perlu diadakan analisis data pada siklus selanjutnya.
                  Untuk melihat peningkatan hasil belajar dari mulai pra tindakan, siklus I, dan siklus II dapat dilihat lebih jelas pada tabel 4 dan grafik perbandingan dibawah ini.

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Gambar/Denah” Siswa Kelas IV SD Negeri Tugusari 02 pada Pra Tindakan, siklus I dan siklus II.
Kriteria
Pra tindakan
Siklus I
Siklus II
< 65
17 (39%)
12 (27%)
6 (14%)
65-100
27 (61%)
32 (73%)
38 (86%)
Sumber : Data yang diolah

Grafik. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Gambar/Denah” Siswa Kelas IV SD Negeri Tugusari 02 pada Pra Tindakan, siklus I dan siklus II.
Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada proses belajar mengajar Bahasa Indonesia materi ajar “Gambar/Denah” dengan menerapkan model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) melalui beberapa tahapan yakni perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi dan dilaksanakan dalam 2 (siklus) sebagai berikut,
I.          Siklus I (Pertama)
Dalam siklus I (pertama) ini peneliti melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan proses sebagai berikut:
a.       Perencanaan
Kegiatan perencanaan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini meliputi :
-      Penyusunan Perencanaan model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL).
-      Menyiapkan lokasi mana disekitar sekolah yang sesuai dengan materi ajar “gambar/denah)
-      Menyiapkan blangko observasi.
-      Menyiapkan blangko evaluasi.
b.      Tindakan
Kegiatan tindakan dalam penelitian kelas ini meliputi :
-      Menjelaskan kegiatan belajar secara umum.
-      Membentuk kelompok menjadi 8 Kelompok @ 5-6 siswa).
-      Tiap kelompok memilih obyek/lokasi masing-masing
-      Diskusi kelompok membahas masalah masing-masing.
-      Membantu secukupnya pada masing-masing kelompok.
-      Melaporkan hasil diskusi kelompok.
c.       Observasi
Kegiatan observasi dalam penelitian kelas ini sebagai berikut :
-      Mengamati perilaku siswa terhadap penggunaan model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
-      Memantau diskusi / kerjasama antar siswa.
-      Mengamati proses transfer kelompok.
-      Mengamati pemahaman masing-masing siswa.
d.      Refleksi
Kegiatan refleksi dalam kegiatan penelitian kelas ini meliputi :
-   Mencatat hasil observasi.
-   Mengevaluasi hasil observasi.
-   Menganalisa hasil Pembelajaran dengan model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
-   Memperbaiki kelemahan untuk siklus berikutnya.

II.    Siklus II (Kedua)
Dalam siklus II (kedua) ini peneliti menetapkan langkah dan proses sebagai berikut :
a.       Perencanaan
Kegiatan perencanaan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi :
- Menyusun rencana perbaikan.
- Memadukan hasil refleksi siklus I agar siklus II lebih efektif.
- Menyiapkan blangko observasi.
- Menyiapkan blangko evaluasi.
b.      Tindakan
Kegiatan tindakan dalam penelitian kelas ini meliputi :
-      Menjelaskan kegiatan belajar mengajar dan informasi pada siklus I
-      Membentuk kelompok (8 Kelompok @ 5-6 siswa).
-      Diskusi kelompok membahas masalah masing-masing.
-      Membantu secukupnya pada masing-masing kelompok.
-      Melaporkan hasil diskusi kelompok.
c.       Observasi
Kegiatan observasi dalam penelitian kelas ini sebagai berikut :
-      Mengamati perilaku siswa terhadap penggunaan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
-      Mengamati proses transfer kelompok.
-      Mengamati pemahaman masing-masing siswa.
d.        Refleksi
Kegiatan refleksi dalam kegiatan penelitian kelas ini meliputi :
-       Mencatat hasil observasi.
-       Mengevaluasi hasil observasi.
-       Menganalisa hasil belajar dengan penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)
-       Memperbaiki kelemahan untuk siklus berikutnya.
Dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber pembelajaran yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran berupa hafalan tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan menunjang pembelajaran kontekstual.
Peningkatan yang dicapai oleh siswa pada tindakan pertama yang cukup signifikan ini, akan menjadi dasar bagi peneliti untuk meneruskan model pembelajaran ini dengan tindakan kedua, khususnya untuk mencapai kriteria ketuntasan belajar secara klasikal walaupun model pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada waktu proses belajar mengajar cukup bervariasi, akan belum banyak memberikan perubahan pada upaya optimalisasi peningkatan proses pembelajaran yang tuntas.
Tingkat ketuntasan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : motivasi, suasana kelas, materi pembelajaran, kompetensi (profesi guru) dan lain-lain. Khusus guru berdasarkan pengamatan peneliti, relatif kurang dasar profesi keguruannya, Keadaan seperti itu, akan mempengaruhi seorang guru dalam proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kadar proses pembelajaran siswa, khusus variasi-variasi model pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung dari interaksi guru dan siswa. Interaksi guru dan siswa dapat dilihat dalam hal tanya jawab yang dilakukan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar (Sudjana,1990) dan proses interaksi akan berjalan bila siswa memiliki reaksi cepat terhadap stimulus yang diberikan oleh guru.
Peran guru dalam mendorong keaktifan siswa masih diperlukan terutama dalam memberikan stimulus dan mengkondisikan belajar yang kondusif karena dengan selalu memperhatikan kondisi tersebut dalam pemberian stimulus oleh guru akan dapat mendorong siswa untuk semakin mandiri, pembelajaran mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat meningkatkan proses pembelajaran.
Pemberian motivasi untuk memanfaatkan sarana pembelajaran yang tersedia dan selalu memanfaatkan belajar kelompok akan dapat meningkatkan kadar proses pembelajaran optimal dan akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa sebagaimana diharapkan bersama, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin mengglobal sekarang.
Peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik suatu mata pelajaran adalah merupakan suatu kemampuan seorang pendidik untuk memiliki daya kreatif dan inovatif melalui suatu percobaan tindakan dikelas. Kegiatan ini harus dilakukan terus menerus oleh seorang pendidik, sampai mendapatkan model pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang dibinanya.
Hasil ini apabila dilaksanakan akan dapat mendorong siswa untuk meningkatkan motivasi belajar melalui kolaborasi model pembelajaran dalam rangka untuk mencapai suatu target pembelajaran yang direncakan. Tercapainya target pembelajaran itu harus didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai dan representative. Kondisi lingkup pembelajaran yang kondusif dan sarana yang reprentatif akan membuat siswa belajar lebih giat, senang dan kreatif dalam belajar.
Kondusif pembelajaran yang dimiliki oleh sekolah ini sudah cukup memadai dan representative, untuk selanjutnya merupakan kewajiban seorang pendidik menyusun dan melaksanakan proses pembelajaran yang dapat mendorong dan memanfaatkan kondisi yang semaksimal mungkin dalam meningkatkan kadar proses pembelajaran yang berkualitas, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas hasil pembelajaran yang berdaya saing tinggi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Hasil analisis data yang dilaksanakan pada penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa menyimpulkan bahwa Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Gambar/Denah” Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Siswa Kelas IV SD Negeri Tugusari 02 . pada  Pra Tindakan diperoleh data, dari 44 siswa yang mendapat nilai < 65 masih sebanyak 17 siswa atau sebesar 39%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 27 siswa atau sebesar 69%, dengan demikian pada Pra Tindakan dinyatakan masih belum tuntas belajar. pada siklus I, diperoleh data, yang mendapat nilai < 65  sebanyak 12 siswa atau sebesar 27%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 32 siswa atau sebesar 73%. data pada siklus II, yang mendapat  nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 14%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 38 siswa atau sebesar 86%, dengan demikian pada siklus II hasil belajar siswa dinyatakan tuntas.

Saran-saran
Berdasarkan hasil dan kesimpulan diatas  peneliti memberikan saran :
1)      Untuk mengajar bahasa Indonesia hendaknya menerapkan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL), karena dapat Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bahasa Indonesia,
2)      Bagi lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat merupakan bahan masukan yang berguna dan juga sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan kegiatan belajar mengajar dimasa mendatang.

DAFTAR  RUJUKAN                          
Basiran, Mokh. 1999. Apakah yang Dituntut GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum 1994?. Yogyakarta: Depdikbud
Degeng, I.N.S. 1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasi Isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP dan IPTDI
Depdikbud. 1995. Pedoman Proses Belajar Mengajar di SD. Jakarta: Proyek Pembinaan Sekolah Dasar
Machfudz, Imam. 2000. Metode Pengajaran Bahasa Indonesia Komunikatif. Jurnal Bahasa dan Sastra UM
Moeleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosyda Karya.
Saksomo, Dwi. 1983. Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang
Sholhah, Anik. 2000. Pertanyaan Tutor dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing di UM. Skripsi. Tidak diterbitkan.
Subyakto, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
Suharyanto. 1999. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD. Yogyakarta: Depdikbud