Selasa, 23 Mei 2017

MENGEMBANGKAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
PADA MAPEL SEJARAH SMA

Pi’i
piirawi@gmail.com

Abstrak: Model dan media pembelajaran yang berkembang pesat, belum banyak berpengaruh dalam memperbaiki permasalahan pembelajaran sejarah. Faktor utama munculnya permasalahan tersebut adalah faktor guru sejarah. Sebagian besar guru sejarah masih mempertahankan mindset lama dengan menerapkan pembelajaran konvensional yang mengutamakan gaya gaya bertutur, bercerita atau ceramah. Dampaknya, pembelajaran kurang bermakna, dan kurang menumbuhan berfikir kritis, logis dan kreatif. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, guru sejarah harus dengan kemauan dan tekad yang kuat untuk melakukan perubahan paradigma dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran konstruktif. Salah satu pembelajaran konstruktif yang dikembangkan adalah pembelajaran kontektual yang mengaitkan materi pembelajaran sejarah dengan dunia nyata kehidupan sehari-hari peserta didik. Pembelajaran kontekstual mampu memberikan ruang gerak kepada peserta didik untuk membangun pengetahuan ‘sendiri’, mengembangkan penalaran, dan pembelajaran menjadi bermakna..

Kata kunci: Pembelajaran, Kontekstual, Sejarah, Model.

PENDAHULUAN.
Dewasa ini model dan media pembelajaran sejarah telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat, guru sejarah dapat dengan mudah mengaksesnya. Perkembangan model dan media pembelajaran sejarah tersebut belum banyak berpengaruh terhadap perbaikan proses pembelajaran sejarah. Hariyono (1995; 13) menyatakan bahwa meskipun model pembelajaran berkembang pesat, masih banyak sistem pembelajaran di sekolah sering dilakukan dengan kurang optimal. Hal tersebut mengindikasikan masih terdapatnya permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran sejarah. Faktor utama masih munculnya permasalahan pembelajaran  tersebut adalah faktor guru. Sebagian besar guru sejarah  masih enggan melakukan perubahan mindset, dan cenderung mempertahankan “zona nyaman” pembelajaran konvensional.
Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang menerapkan strategi ekspositori yang mengutamakan metode ceramah, gaya bertutur, dan bercerita/mendongeng. Pembelajaran konvensional ini guru mendominasi dalam pembelajaran, mentransfer pengetahuan kepada peserta didik, dan menjadi satu-satunya sumber belajar. Sementara peserta didik cenderung bersifat pasif, hanya menerima (banking learning) dan menghafalkan informasi dan pengetahuan yang diterima dari guru. Pembelajaran sejarah seperti ini dirasakan peserta didik kurang menarik, monoton dan membosankan. Meskipun pembelajaran dikembangkan dengan metode tanya jawab, tetapi pada umumnya masih menggunakan pendekatan komunikasi dua arah yang bertitik tumpu pada arahan guru secara ketat. 
Demikian pula dalam melaksanakan penilaian pembelajaran juga masih bersifat konvensional hanya mengukur aspek pengetahuan, sedangkan penilaian aspek keterampilan dan sikap, terabaikan. Penilaian aspek pengetahuan itupun masih cenderung pada level kognitif berfikir tingkat rendah (Low Order Thinkhing Skill/LOTS) untuk mengukur perilaku “ingatan”  (Safari, 2004; 15).  Bila di lihat dari konteksnya penilaian berfikir tingkat rendah (Low Order Thinkhing Skill/LOTS) sebagian besar menggunakan konteks di dalam kelas dan sangat teoritis, serta jarang menggunakan konteks di luar kelas sehingga tidak memperlihatkaan keterkaitan antara pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari (Widana, 2016; 2).
Pembelajaran konvensional berdampak kurang memberikan ruang gerak kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan bernalar, berfikir kritis dan logis.  Parrington (dalam Mulyana & Gunawan, 2007; 1-9) menyatakan guru yang mendominasi dalam pembelajaran hafalan yang menekankan “chalk and  talk” dan memorizing  akan mengabaikan kemampuan intelektual yang lebih tinggi. Selain itu, pembelajaran konvensional kurang melibatkan sentuhan emosional peserta didik sehingga hasil pembelajaran kurang bermakna atau rendahnya kemampuan peserta didik dalam menangkap nilai-nilai yang terkandung dalam materi pembelajaran, dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan di masyarakat.  Sejarah yang sesungguhnya bermuatan nilai-nilai, cita-cita yang terkait dengan pembentukan karakter bangsa dan penguatan jati diri bangsa, menjadi kurang bermakna jika proses pembelajarannya  tidak dirancang dengan baik. 
Guru sejarah sebagai salah satu unsur terpenting dalam pembelajaran, perlu melakukan perubahan paradigma dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran konstruktif. Memang bukan hal yang mudah untuk melakukan perubahan paradigma pembelajaran karena kebanyakan guru sejarah sudah terbiasa dengan paradigma pembelajaran konvensional, dan ketika masih menjadi peserta didik sudah terbiasa dengan paradigma pembelajaran konvensional tersebut. Akan tetapi, jika didasari dengan kemauan dan tekad yang kuat maka akan mampu dan berhasil melakukan perubahan paradigma pembelajaran konvensional ke pembelajaran konstruktif.  Salah satu pembelajaran konstruktif yang perlu dikembangkan adalah pembelajaran sejarah berbasis kontekstual.

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL.
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mendasarkan diri pada hasil penelitian John Dewey yang menyimpulkan bahwa peserta didik akan belajar dengan baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah (Nurhadi dan Senduk, 2002: 1). Hal ini menandakan hubungan atau keterkaitan antara pembelajaran dengan penciptaan lingkungan secara alamiah. Jika lingkungan pembelajaran dikondisikan secara alamiah peserta didik akan belajar dengan baik, dan sebaliknya jika lingkungan pembelajaran tidak diciptakan secara alamiah maka peserta didik belajarnya kurang baik. Pembelajaran dalam konteks alamiah yaitu terciptanya lingkungan pembelajaran yang kondusif yang mendorong peserta didik melaksanakan proses mengalami dan bekerja ‘sendiri’ dalam mencari, menemukan, membangun (mengontruksi) pengetahuan dan keterampilan.   Sehingga, pengetahuan dan keterampilan bukan merupakan transfer dari guru ke peserta didik, dan bukan pula diperoleh melalui metode hafalan.
Pembelajaran dalam konteks alamiah ini hasilnya lebih bermakna atau terserapnya nilai-nilai materi pembelajaran dalam struktur otak berfikir peserta didik. Kemampuan menangkap makna menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manfaat belajar untuk bekal hidupnya dan akan berupaya terus mencari dan mengembangkan informasi dan pengetahuan. Johnson B. Elaine (2009: 58) menyatakan pembelajaran kontekstual merupakan sistem pembelajaran yang merangsang otak untuk menyusun pola yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran (muatan akademik) dengan dunia nyata peserta didik akan mendorong terakumulasinya informasi dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan capaian informasi dan pengetahuan baru yang diperoleh dari pembelajaran dalam konteks dunia nyata peserta didik. Pembelajaran ini juga akan mendorong peserta didik untuk membuat hubungan-hubungan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi dan Senduk, 2002: 1). Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru lebih banyak berorientasi pada urusan strategi pembelajaran antara lain mengelola kelas, membantu peserta didik peserta didik menghubungkan pengetahuan lama dan baru, dan memfasilitasi belajar peserta didik.
Dalam Pembelajaran Kontekstual menurut Johnson B. Elaine (2009: 64-66) terdapat delapan komponen yang perlu dilibatkan dalam proses pembelajaran yaitu: (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) melakukan pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, (7) mencapai standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian otentik. Sedangkan menurut Siberman (2006: 9) komponen pembelajaran kontekstuaal terdiri atas; (1) konstruktivisme (constructivism), (2) menemukan (inquiry), (3)  bertanya (questioning), (4) masyarakat (learning community), (5) pemodelan (modeling), (6) refleksi (reflection), dan (7) penilaian yang sebenarnya (authentic assesment).
Komponen pembelajaran kontekstual dari kedua pendapat di atas, jika dikaji secara mendalam pada dasarnya sama. Dalam pelaksanaan pembelajaran keduanya menekankan kemampuan peserta didik untuk mengontruksi (membangun) pengetahuan ‘sendiri’, dan bukan transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Selain hal tersebut,  menekankan pembelajaran berbasis masalah (inquiry), pembelajaran bermakna, berkolaborasi dan koperatif, belajar penalaran dan menggunakan penilaian yang sebenarnya (authentic assesment).
Adapun karakteristik  atau ciri  pembelajaran kontekstual (Elaine, 2009: 35) adalah sebagai berikut;
1.      Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan untuk mencapai keterampilan atau kecakapan dalam konteks dunia nyata peserta didik atau dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2.      Pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna dalam belajar (meaningful learning).
3.      Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik sesuai dengan konteks alamiah siswa (learning by doing).
4.      Pembelajaran melalui kerja sama dalam kelompok, berdiskusi dan saling mengoreksi antar teman kelompok (learning in group).
5.      Pembelajaran yang memberikan kesempatan untuk menciptakan dan menumbuhkan rasa kebersamaan, bekerja sama dan saling memahami secara mendalam  dalam proses kegiatan belajar (learning to know each other deeply).
6.      Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, inovatif, produktif dan mementingkan kerjasama (learning to ask, to inquiry, to work together).
7.      Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan sehingga menumbuhkan motivasi tinggi untuk mengikuti proses pembelajaran sebagai upaya mewujudkan hasil belajar yang optimal (learning as an enjoy activity).


WUJUD KONTEKTUAL DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH.
Pembelajaran kontekstual pada mapel sejarah pada dasarnya mencakup dua unsur yang meliputi; (1) pembelajaran yang mengaitkan materi sejarah dengan dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari, dan  (2) berkaitan dengan strategi pembelajaran. Pembelajaran sejarah dalam konteks dunia nyata peserta didik tidak sekedar dipahami secara harfiah, akan tetapi perlu diperluas maknanya yang dikaitkan dengan karakteristik sejarah.  Sedangkan pembelajaran sejarah dalam konteks strategi adalah pembelajaran sejarah yang menerapkan strategi pembelajaran yang melibatkan komponen-komponen pembelajaran kontekstual.
Pembelajaran dalam konteks dunia nyata untuk setiap mapel berbeda-beda, selaras dengan karakteristik mapel yang bersangkutan. Pembelajaran kontekstual  untuk mapel sejarah mengacu pada karakteristik sejarah yaitu tiga dimensi waktu  dalam sejarah (masa lampau, masa kini dan masa depan). Dalam konteks ini, pembelajaran sejarah dianggap kontekstual, jika dalam pembelajaran sejarah mampu mengaitkan materi pembelajaran dengan tiga dimensi waktu dalam sejarah, termasuk penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam mapel sejarah. Sedangkan untuk mapel lain utamanya mapel  kelompok program MIPA pembelajaran konteks dunia nyata lebih bersifat riel dan mudah diamati aktifitas peserta didik, karena karakteristik mapel kelompok program MIPA antara lain berupa prosedural-prosedural, eksperimen-eksperimen dan terapan.
Adapun wujud pembelajaran sejarah dianggap kontektual dalam kaitannya dengan “dunia nyata peserta didik”, jika dalam pembelajaran tersebut mengaitkan materi pembelajaran dalam koridor tiga dimensi waktu sejarah yaitu antara lain;
1.      Kemampuan mengaitkan peristiwa-peristiwa sejarah dunia dengan kejadian/peristiwa dunia pada masa kini (kontemporer), misalnya ketika mempelajari materi perkembangan imperialisme, peserta didik diajak untuk mengaitkan dengan bentuk-bentuk imperialisme pada masa kini.
2.      Kemampuan mengkaitkan sejarah dunia dengan peristiwa sejarah di Indonesia pada masa itu, dan dampaknya bagi kehidupan bangsa Indonesia masa kini, misalnya peserta didik diajak untuk mempelajari revolusi industri dan pengaruhnya bagi kehidupan bangsa Indonesia pada masa itu dan masa kini .
3.      Kemampuan mengaitkan peristiwa sejarah nasional dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di daerahnya (lokal), misalnya ketika mempelajari proklamasi kemerdekaan Indonesia maka peserta didik diajak untuk mempelajari apa yang terjadi di daerahnya pada waktu itu sebagai tanggapan atas peristiwa nasional itu.
4.      Kemampuan mengaitkan kejadian-kejadian/peristiwa-peristiwa masa lalu dengan peninggalan budaya yang hingga kini masih ada di tengah-tengah masyarakat, yang merupakan pengaruh/peninggalan sejarah dari masa lalu itu, misalnya mengajak siswa untuk mempelajari zaman Hindu dan pengaruhnya yang hingga kini masih ada di tengah-tengah masyarakat.
5.      Kemampuan memanfaatkan situs-situs sejarah yang terdapat di daerahnya, atau museum sebagai sumber pembelajaran. Kunjungan ke museum bermanfaat dalam menumbuhkan pemikiran kritis peserta didik, jika dilaksanakan secara terprogram dan terencana dengan baik (Darini, 2011: 2-3).
6.      Kemampuan mengaitkan sejarah nasional dengan peristiwa komtemporer, dan pengaruhnya bagi lingkungan masyarakat.  Misalnya, ketika mempelajari sejarah pemilihan umum, peserta didik diajak untuk mengaitkan dengan pemilu pada masa kini dan pengaruhnya bagi masyarakat.
7.      Mempelajari masa lalu yang digunakan untuk memahami masa kini dan membangun kehidupan pada masa mendatang. Misalnya mempelajari sejarah sekitar proklamasi kemerdekaan RI yang dikaitkan dengan penerapan nilai-nilai, makna-makna dan semangat jiwa proklamasi pada masa kini, dan upaya yang harus dilakukan untuk tetap menegakkan NKRI dan Pancasila.
Sedangkan pembelajaran sejarah dianggap kontekstual dalam kaitannya dengan strategi pembelajaran, jika pembelajaran sejarah tersebut antara lain;
1.      Memberikan ruang kepada peserta didik untuk merekontruksi informasi dan pengetahuan sejarah, belajar mengalami dan bekerja dalam kelompok kerja/diskusi, dan bukan transfer pengetahuan dan informasi dari guru kepada peserta didik.
2.      Menumbuhkan kemampuan cara berfikir dan keterampilan bersejarah, artinya dalam mempelajari sejarah tidak lagi menghafal fakta sejarah atau cerita sejarah melainkan sebagai media untuk mengembangkan cara berfikir, keterampilan dan kemampuan menangkap nilai yang terkandung dalam materi pembelajaran.
3.      Sebagai upaya pengenalan diri dan masyarakat, artinya dalam mempelajari sejarah lokal, tidak hanya mempelajari sejarah masa itu semata tetapi juga pengaruhnya yang hingga kini masih ada di tengah-tengah masyarakat.
4.      Bermakna dan perubahan perilaku (Nurhadi dan Senduk, 2002: 6). Pembelajaran sejarah dianggap bermakna jika dalam pembelajaran sejarah tersebut mampu mendorong kepada peserta didik untuk menangkap makna atau nilai dan mendorong munculnya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Ankersmit menyatakan bahwa pemaknaan sejarah berkaitan dengan penafsiran tentang pertanyaan mengenai tujuan dan gunanya pengkajian sejarah (1987: 369). Kemampuan dalam menangkap makna akan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manfaat belajar sejarah bagi dirinya untuk bekal hidupnya dan berupaya terus mencari dan mengembangkannya. Kemampuan menangkap makna belajar sejarah dapat mengajarkan kepada kita tentang bagaimana dalam situasi tertentu kita harus berperilaku, termasuk kemampuan dalam  memecahkan masalah-masalah sosial. Hal ini yang menjadi latar belakang pepatah “historia magistra vitae” artinya sejarah bertindak sebagai guru kehidupan.
5.      Menumbuhkan berfikir tingkat tinggi (Nurhadi dan Senduk, 2002: 6). Berfikir tingkat tinggi, jika mengacu pada Taksonomi Bloom yang direvisi oleh Anderson, adalah berfikir yang berada pada dimensi proses kognitif menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi. Pembelajaran yang sejarah yang mengembangkan berfikir tinggi merupakan pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran tertentu (termasuk kontekstual) untuk mengantarkan peserta didik mampu mencapai tuntutan KD pengetahuan (sejarah) yang berada pada level berfikir tingkat tinggi.
6.      Melaksanakan penilaian  dengan berbagai teknik penilaian antara lain meliputi penilaian proyek/kegiatan dan laporannya, pekerjaan rumah, kuis, presentasi atau penampilan, demontrasi, laporan, jurnal, hasil tes dan karya tulis (dalam Yulifar, https://www.yumpu.com/id/document/view/ 47965268).

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MAPEL SEJARAH.
Pembelajaran kontekstual mengacu pada filsafat pembelajaran kontruktivisme yang mengubah orientasi pembelajaran dari berpusat pada guru (teacher centered) beralih ke peserta didik (student centered), guru tidak lagi mendominasi dalam pembelajaran akan tetapi berperan sebagai fasilitator untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif yang mendorong peserta didik untuk aktif dan kreatif bekerja dan mengalami dalam pembelajaran. Selain itu, pengetahuan tidak begitu saja ditransfer dari guru kepada peserta didik, akan tetapi peserta didik sebagai subyek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi,  dan menggunakan pengetahuan dalam kehidupannya (Lampiran IV Pemendikbud 81 A  Tahun 2013).
Dalam menerapkan pembelajaran kontekstual, Nurhadi dan Senduk (2002:10) memberikan garis besar sintaks pembelajaran kontekstual yaitu sebagai berikut:
1.      Kembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya!
2.      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik!
3.      Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya!
4.      Ciptakan “masyarakat belajar” (belajar dalam kelompok-kelompok)!
5.      Hadirkan “model” sebagai contoh pembelajaran!
6.      Lakukan refleksi di akhir pertemuan!
7.      Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara!
Dalam menerapkan pembelajaran kontekstual dapat menggunakan sintaks pembelajaran yang disarankan Nurhadi dan Senduk, dan dapat pula menggunakan model-model pembelajaran yang lain selama model pembelajaran tersebut berbasis masalah seperti model cooperative learning. Model cooperative learning merupakan model pembelajaran yang mengacu pada filsafat pembelajaran kontrukstisme, dan komponen pembelajaran kontekstual. Anita Lie menyatakan model cooperative learning merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan sesama peserta didik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang terstruktur (2002:12). Model cooperative learning yang direkomendasikan pemerintah untuk diterapkan di sekolah yaitu antara lain discovery learning, project-based learning, problem-based learning, inquiry learning (Lampiran Permendikbud No. 103  Tahun 2014).
Model pembelajaran yang disebutkan terakhir, model inquiry learning, dianggap sebagai model inti dalam menerapkan pembelajaran kontekstual. Karena itu, dalam tulisan ini penulis menggunakan model inquiry learning dalam menerapkan pembelajaran sejarah berbasis kontekstual. Model inquiry learning adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berfikir kritis dan logis (Direktorat Pembinaan SMA, 2014; 31). Model inquiry learning sintaksnya meliputi; (1) observasi (observation) mengamati berbagai fakta-fakta sejarah, (2) mengajukan pertanyaan (questioning) tentang fakta sejarah yang dihadapi, dalam tahap ini melatih peserta didik untuk mengeksplorasi melalui kegiatan menanya kepada guru atau sumber-sumber lainnya, (3) mengajukan dugaan (hipotesis), pada tahap ini peserta didik melakukan penalaran atau mengasosiasi, (4) mengumpulkan data (data gathering) terkait dengan fakta-fakta yang ditanyakan, memprediksi hipotesis sebagai dasar untuk merumuskan suatu kesimpulan, dan (5) merumuskan kesimpulan (conclution) berdasarkan data yang dianalisis, sehingga peserta didik dapat mempresentasikan atau menyajikan hasil temuannya (Direktorat Pembinaan SMA, 2014; 31, Nurhadi dan Senduk, 2002: 12).
Model inquiry learning ini digunakan untuk melatih keberanian peserta didik dalam mengajukan pertanyaan dan gagasan, dan mendorong peserta didik terlibat secara mental maupun fisik untuk memecahkan permasalahan atau issu diberikan oleh guru. Wiriaatmadja menyatakan bahwa permasalahan atau issue yang ditawarkan paling tidak mengandung antara lain; (1) dua konsep atau lebih, (2) banyak alternatif, dan (3) mengundang pengambilan keputusan (Wiriaatmadja, 2002; 140-141). Proses penyelesaian  permasalahan atau issue tersebut menuntut kemampuan penalaran tingkat tinggi, berfikir kritis, logis dan kreatif  utamanya untuk mencapai tuntutan kompetensi dasar (KD) yang dimensi proses kognitifnya berfikir tingkat tinggi.
Sebagai contoh pembelajaran mapel Sejarah Indonesia (wajib) kelas XI pada KD 3.7 “menganalisis peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia”. Wujud kontektual dari pembelajaran KD tersebut dapat dilakukan dengan mengaitkan peristiwa proklamasi kemerdekaan sebagai peristiwa nasional dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di daerah yang merupakan respon dari peristiwa nasional itu. Selain itu, dapat dilakukan dengan mengaitkan nilai-nilai atau jiwa proklamasi dengan penerapan nilai-nilai tersebut pada masa kini, dan upaya untuk mempertahankan nilai-nilai atau jiwa proklamasi demi tegaknya NKRI dan Pancasila.
Permasalahan atau issu yang diberikan kepada kelompok diskusi dalam rangka pembelajaran kontekstual mapel sejarah termasuk menumbuhkan penalaran berfikir tinggi, kritis, logis dan kreatif antara lain sebagai berikut;
1.      Adakah hubungan kekalahan Jepang terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia? Berilah penjelasan !
2.      Siapa yang benar antara golongan pemuda atau golongan tua berkaitan dengan Peristiwa Rengasdengklok?, dan nilai-nilai apa saja yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut?
3.      Siapakah yang paling berperan dalam merumuskan teks proklamasi kemerdekaan, golongan pemuda ataukah golongan tua?, dan nilai-nilai apa saja yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut?
4.      Mengapa dalam menentukan tempat pelaksanaan proklamasi kemerdekaan golongan tua lebih memilih di halaman kediaman Sukarno, sedangkan golongan pemuda lebih memilih di lapangan Ikada?, dan nilai-nilai apa saja yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut?
5.      Siapakah yang berperan dalam mempersiapkan dan atau yang melaksanakan proklamasi kemerdekaan?, dan nilai-nilai apa saja yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut?
6.      Dalam menyebarkan berita proklamasi, lebih penting manakah penggunaan media radio dibandingkan dengan penggunaan media lainnya?
7.      Adakah keterkaitan peristawa proklamasi kemerdekaan dengan peristiwa-peristiwa di daerah yang merupakan respon dari peristiwa proklamasi kemerdekaan itu?
8.      Adakah makna proklamasi kemerdekaan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pendidikan bangsa Indonesia?
9.      Bagaimana keterkaitan nilai-nilai atau jiwa proklamasi dengan penerapan nilai-nilai tersebut pada masa kini dan bagaimana upaya untuk mempertahankan nilai-nilai atau jiwa proklamasi tersebut?
Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan sekitar 5 orang. Setiap kelompok, misalnya, diberikan 2 atau 3 permasalahan. Mereka bekerja bersama-sama dalam kelompoknya untuk mendiskusikan mencari solusi dari permasalahan-permasalahan yang diberikan guru sesuai sintaks inquiry learning yang meliputi observation, questioning, hipotesis, data gathering dan conclution, yang dilanjutkan dengan presentasi di depan kelas secara bergiliran untuk masing-masing kelompok. Pembentukan kelompok ini sebagai perwujudan dari masyarakat belajar (learning community) untuk media sharing,  dan proses interaksi antar teman, antar kelompok sehingga dapat saling belajar dengan berkomunikasi, memberikan informasi pengetahuan dan keterampilan serta dapat menjadi sumber belajar. Dalam kelompok peserta didik dapat mengembangkan keterampilan bertanya (questioning skill) sebab munculnya pengetahuan itu bermula dari bertanya, kemudian dapat dikembangkan dengan tanya jawab dan diskusi.
Untuk menumbuhkan emosi dan pemahaman awal peserta didik terhadap materi pembelajaran, sebaiknya guru menayangkan film-film dokumenter yang berkaitan dengan peristiwa proklamasi kemerdekaan RI. Dalam pembelajaran kontektual, guru berperan memfasilitasi, mengarahkan, membimbing peserta didik dan mengelola  kelas untuk menciptakan suasana pembelajaran  yang kondusif yang mendorong peserta didik senang belajar, beraktifitas, berkerja untuk mendiskusikan untuk mencari solusi tentang permasalahan yang diberikan pada kelompoknya maupun presentasi di depan kelas. Pada akhir pembelajaran guru melaksanakan refleksi sebagai perenungan kembali dengan memikirkan, menelaah, merespon aktifitas pembelajaran sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang bermakna. Kemudian dilanjutkan dengan penilaian yang sebenarnya (authentic sssessment) untuk memperoleh gambaran yang sebenarnya tentang perkembangan pengetahuan dan keterampilan yang dicapai oleh peserta didik.

KESIMPULAN.
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan dunia nyata peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran ini mendorong peserta didik untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui proses pembelajaran. Pembelajaran kontekstual juga mendorong peserta didik membuat hubungan-hubungan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pembelajaran kontekstual berlangsung secara alamiah, peserta didik melaksanakan proses mengalami dan bekerja ‘sendiri’ dalam mencari, menemukan, membangun (mengontruksi) pengetahuan.   Tugas guru lebih banyak berorientasi pada urusan strategi tentang bagaimana peserta didik belajar dengan baik. Pembelajaran dalam konteks alamiah ini mendorong terwujudnya pembelajaran bermakna. Hal ini akan menumbuhkan kesadaran pada diri untuk terus mengembangkan diri.
Dalam pembelajaran kontekstual dengan melibatkan komponen pembelajaran kontekstual antara lain meliputi; konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assesment).
Wujud kontekstual dalam pembelajaran sejarah mencakup dua unsur yaitu (1) kontektual dalam konteks pengaitan materi pembelajaran dengan dunia nyata peserta didik, dan (2) kontekstual dalam kaitannya dengan strategi pembelajaran. Wujud kontektual dalam konteks pengaitan materi pembelajaran sejarah dengan dunia nyata peserta didik pada dasarnya mengacu pada karakteristik sejarah (tiga dimensi waktu dalam sejarah), antara lain meliputi; (1) mengaitkan sejarah dunia dengan peristiwa dunia pada masa kini, (2) mengkaitkan sejarah dunia dengan sejarah Indonesia dan dampaknya bagi kehidupan bangsa Indonesia masa kini,  (3) mengaitkan peristiwa sejarah nasional dengan sejarah lokal, (4) pemanfaatan situs sejarah/museum untuk sumber belajar, (5) mengaitkan sejarah nasional dengan peristiwa komtemporer dan pengaruhnya bagi lingkungan masyarakat, dan (6) mengaitkan peristiwa masa lalu dengan peninggalan budaya yang hingga kini masih ada di tengah-tengah masyarakat, dan (7) mengaitkan masa lalu dengan masa kini dan masa yang datang.
Sedang wujud kontekstual dalam kaitannya dengan strategi pembelajaran sejarah antara lain adalah; (1) pembelajaran mengalami dan bekerja dalam kelompok untuk merekontruksi informasi dan pengetahuan sejarah, (2) pembelajaran yang menumbuhkan kemampuan cara berfikir dan keterampilan bersejarah,  (3) pembelajaran sebagai pengenalan diri dan masyarakat, (4) pembelajaran bermakna dan perubahan perilaku, (5) pembelajaran dalam menumbuhkan berfikir tingkat tinggi,  dan (6) melaksanakan assesment autentic.
Untuk menerapkan pembelajaran kontekstual mapel sejarah yaitu dengan menggunakan model-model pembelajaran berbasis masalah seperti cooperative learning, yaitu model pembelajaran yang mengacu pada filsafat pembelajaran kontrukstisme dan komponen pembelajaran kontekstual. Beberapa model cooperative learning yang baik digunakan dalam pembelajaran kontekstual mapel sejarah yaitu discovery learning, project-based learning, problem-based learning, inquiry learning. Dari tiga model pembelajaran tersebut yang dianggap inti dalam pembelajaran kontekstual adalah model inquiry learning.  Model inquiry learning yaitu suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berfikir kritis dan logis . Permasalahan atau issue yang ditawarkan model  inquiry learning setidaknya mengandung antara lain; (1) dua konsep atau lebih, (2) banyak alternatif, dan (3) mengundang pengambilan keputusan. Proses penyelesaian  permasalahan atau issue tersebut menuntut kemampuan penalaran tingkat tinggi, berfikir kritis, logis dan kreatif.
Pada awal pembelajaran sebaiknya guru menayangkan film-film dokumenter, hal ini untuk menyentuh emosi dan pemahaman awal terhadap materi yang dibahas.  Kemudian peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok, dan diberi permasalahan untuk didiskusikan bersama anggota kelompoknya dengan mengikuti alur sintaks inquiry learning, yang dilanjutkan dengan presentasi di depan kelas secara bergiliran. Tugas guru mendampingi peserta didik yang bekerja pada masing-masing kelompok maupun ketika presentasi di depan kelas. Pada akhir pembelajaran guru melaksanakan refleksi untuk memberikan penguatan-penguatan terhadap materi dan jalannya pembelajaran agar peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang bermakna. Kemudian pembelajaran diakhiri dengan penilaian untuk mengetahui capaian perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik.

DAFTAR RUJUKAN.
 Ankersmit, F.R., 1987. Reflesi Tentang Sejarah, Pendapat-pendapat Modern Tentang Filsafat Sejarah, Jakarta: PT Gramedia.
Darini, Ririn, 2011. Pendekatan Contextual dalam Pembelajaran Sejarah: Pemaanfaatan Museum, Yogyakarta: FIS, UNY.
Direktorat Pembinaan SMA, 2014. Modul Pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 di SMA, Jakarta: Kemendikbud.
Hariyono, (1995). Mempelajari Sejarah Secara Efektif, Jakarta: Pustaka Jaya.
Johnson, Elaine B., 2009. Contextual Teaching and Learning, terjemahan Ibnu Setiawan, Bandung: Mizan Learning Center (MLC).
Lampiran Permendikbud No. 81A Tahun 2013 Tentang Pedoman Umum Pembelajaran.
Lampiran Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Menengah.
Lie, A. 2002. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang kelas. Jakarta :  Gramedia.
Mulyana, Agus & Gunawan, Restu, Ed., (2007), Sejarah Lokal Penulisan dan Pembelajaran di Sekolah, Bandung : Salamina Press.
Nurhadi dan Senduk, 2002. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL), Malang: Universitas Negeri Malang.
Safari, 2004. Penulisan Butir Soal Berdasarkan Penilaian berbasis Kompetensi, Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional.
Siberman, Melwin L., 2006. Active Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif, terjemahan Raisul Muttaqqin, Bandung: Penerbit Nusa Media.
Widana, I Wayan, 2016. Modul Penulisan Soal Hots Untuk Ujian Sekolah, Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Wiriaatmadja, Rochiati, (2002). Pendidikan Sejarah di Indonesia: Perspektif Lokal, Nasional dan Global, Bandung: Historia Utama Press.
Yulifar, Lali, tt. Reinterpretating Pembelajaran Sejarah Kritis Dalam Rekontruksi Strategi Pendidikan Sejarah, diunduh dari https://www.yumpu.com/ id/document/view/47965268, Selasa, 02 Mei 2016 jam 16.35 wib.