Kamis, 09 Maret 2017

KESENIAN SISINGAAN DI KABUPATEN SUBANG


KESENIAN SISINGAAN DI KABUPATEN SUBANG

Sumarno, Sumarjono, Sugiyanto dan Jilly Nuari Dewi
E-mail: Sumarno@Unej.ac.id

Abstrak: Kesenian Sisingaan adalah kesenian khas Kabupaten Subang yang menampilkan dua sampai empat boneka singa yang diusung. Sisingaan merupakan patung boneka yang menyerupai singa sebagai simbol dari dua negara Belanda dan Inggris. Lahirnya Sisingaan merupakan bentuk perlawanan secara tertutup atau ungkapan sindiran terhadap penjajah. Tahun  1900an bentuk  penyajian Sisingaan mengalami perubahan penyajian, gerak dan unsur pendukung. fungsi Sisingaan yaitu sebagai alat perjuangan untuk mengusir penjajah dan upacara ritual khitanan anak sunat. Kesenian Sisingaan menjadi multifungsi yaitu sebagai penyambutan tamu, peresmian gedung, pertunjukan, dan festival. Makna lahirnya kesenian Sisingaan terdapat pada boneka singa, pengusung & anak diatas singa, pengiring musik, dan gerakan. Artinya boneka singa merupakan lambang penjajah yaitu Belanda dan Inggris. Lambang singa digunakan sebagai ketegasan, kekuatan, kegarangan dalam melawan penjajah. Pengusung merupakan rakyat Subang yang tertindas oleh Penjajah, sedangkan anak di atas singa merupakan generasi muda yang mampu melawan penjajah yang iringi dengan musik salah satu cara memberikan semangat dalam melawan Belanda dan inggris. Gerakan yang dimainkan di kesenian Sisingaan ungkapan pantang menyerah dan selalu mencari segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Kata Kunci: Kesenian, Sisingaan


PENDAHULUAN
Kebudayaan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia (Koenjaraningrat, 2009:144). Unsur kebudayaan terdapat tujuh yaitu: (1) peralatan dan perlengkapan hidup manusia; (2) mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi;(3)sistem kemasyarakatan; (4) bahasa; (5) kesenian; (6) sistem pengetahuan; dan (7) sistem kepercayaan; (religi) (Koenjaraningrat, 2009: 164-165).
Kesenian adalah salah satu wujud hasil kebudayaan yang diciptakan oleh masyarakat dan memiliki nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kesenian lahir dan berkembang dari kreativitas masyarakat yang ada di dalamnya terbentuk dari keadaan sosial ekonomi, letak geografis dan pola kegiatan keseharian (Puspitasary, 2013: 1).
Kabupaten Subang memiliki kesenian sebagai manifestasi kebudayaan yang hidup di tengah-tengah masyarakat Sunda. Kesenian Sisingaan merupakan bagian dari kesenian yang dimiliki Kabupaten Subang. Kesenian Sisingaan termasuk unsur seni tari rakyat. Kesenian Sisingaan berkembang di Kabupaten Subang Selatan dan Utara. Sisingaan berkembang dan tempat kelahiran di daerah Subang Selatan, sebab di Subang Selatan daerah perkebunan teh P&T Lands. Lahirnya kesenian Sisingaan merupakan simbol dari Kabupaten Subang.
Sisingaan yaitu patung boneka yang menyerupai singa simbol dari dua negara Belanda dan Inggris. Sisingaan lazimnya disebut gotong singa atau masyarakat menyebutnya singa depok, odong-odong. Kesenian Sisingaan pada awalnya merupakan seni helaran. Seni helaran adalah keseniaan yang digelarkan dalam bentuk pesta arak-arakan, yaitu iringan pawai menyusuri jalan secara beramai-ramai (Soepandi et al, 1994: 105). Lahirnya Sisingaan dibangun oleh rakyat Subang yang melambangkan penjajahan sebagai bentuk sindiran terhdap Belanda dan Inggris.
Munculnya kesenian Sisingaan sebagai bentuk perjuangan dan penghibur anak sunat sebelum melakukan Khitanan dengan cara melakukan helaran keliling kampung. Fungsi kesenian Sisingaan yaitu sebagai prosesi penyambutan pejabat atau tamu terhormat. Penyajian kesenian Sisingaan masih sederhana seperti busana, patung singa, alat musik, fungsi, gerakan, pertunjukan dan berkembangnya grup-grup kesenian Sisingaan.  
Tahun  1900an bentuk  penyajian Sisingaan mengalami perubahan penyajian, gerak dan unsur pendukung Sisingaan mengalami perkembangan  yang menyesuaikan zaman. Perkembangan membawa patung singa lebih menyerupai seperti hewan singa. Perkembangan kesenian Sisingaan  selain  patung singa perubahan mempengaruhi dalam penyajian, gerak, pertunjukan, iringan musik, busana dan fungsi. Perkembangan komponen-kompenan yang berkaitan dalam kesenian menyesesuaikan dengan tuntutan zaman (Puspitasary, 2013: 3).
Kesenian Sisingaan salah satu kesenian tradisional yang terus berkembang di Subang yang merupakan bentuk dari seni pertunjukan. Seni pertunjukan Sisingaan memiliki arti sebagai sarana hiburan dalam upacara sehari sebelum melakukan Khitanan yang merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Jawa Barat khsusnya daerah Subang yang beragama Islam (Yulyani, 2010: 2).
Perubahan kesenian Sisingaan adalah dampak adanya perkembangan zaman menyesuaikan dengan lingkungan permintaan masyarakat agar tetap bertahan. Bentuk Sisingaan, penyajian, dan fungsi Sisingaan melakukan perubahan dari sebelum tahun 1955 dan perubahan gerak dan unsur pendukung kesenian Sisingaan yang berbeda pada masa tahun 1990.
Berdasarkan uraian di atas penulis memilih alasan empirik dan teoritik. Alasan empirik yang di lakukan penulis adalah bahwa realita di lapangan, mengenai kesenian Sisingaan merupakan kesenian yang sudah melakukan perubahan fungsi dan penyajian Sisingaan dan keunikan Sisingaan yang melambangkan perlawanan terhadap kaum penjajah dan sebagai media menghibur anak sunat sebelum melakukan khitanan. Alasan teoritik yaitu peneliti-peneliti sebelumnya hanya memfokuskan kepada kesenian Sisingaan pada grup Sisingaan yang ada di daerah Subang. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengkaji  perubahan bentuk penyajian, fungsi, dan nilai-nilai kesenian Sisingaan.
Permasalahan yang dibahas adalah:
1.Bagaimana penyajian dan pertunjukan kesenian sisingaan ?
2.Bagaimana perkembangan Grup-grup sisingaan ?
3.Apa fungsi Keseniaan Sisingaan ?
4.Bagaimana makna kesenian Sisingaan ?

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis:
1.Penyajian dan pertunjukan kesenian sisingaan ?
2.Perkembangan Grup-grup sisingaan ?
3.Fungsi Keseniaan Sisingaan ?
4.Makna kesenian Sisingaan ?


METODE PENELITIAN
Metode sejarah adalah suatu proses menganalisis secara kritis terhadap sumber serta peninggalan sejarah masa lampau dan menuliskan hasilnya berdasarkan dengan jejak-jejak sejarah yang diperoleh yang disebut historiografi (Gottschalk, 1985:32). Metode sejarah menggunakan empat langkah dalam penelitian sejarah yaitu: (1) mencari sumber (heuristik); (2) mengkritik sumber (kritik); (3) interpretasi; dan (4) historiografi (Notosusanto, 1984: 11).


HASIL DAN PEMBAHASAN

1.PENGERTIAN KESENIAN SISINGAAN
Kesenian Sisingaan adalah kesenian khas Kabupaten Subang yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung. Sisingaan yaitu patung boneka yang menyerupai singa sebagai simbol dari dua negara Belanda dan Inggris. Kesenian Sisingaan merupakan ungkapan rasa ketidaksenangan atau upaya pemberontakan dari masyarakat Subang kepada kaum penjajah. Dengan demikian sepasang Sisingaan muncul melambangkan kaum penjajah yaitu Belanda dan Inggris yang menindas rakyat Subang atau lambang kebodohan dan kemiskinan, maka diciptakan kesenian Sisingaan oleh para seniman (Wawancara Dengan Bapak Ukat Mulyana, Seniman/Pelaku dan Pimpinan Setia Wargi 1,  Tanggal 10 Juni 2015).
Tujuan para seniman membuat Sisingaan berharap bahwa suatu saat generasi muda bangkit dan mampu mengusir penjajah dari tanah air dan dapat hidup lebih baik dan sejahtera.Perlawanan secara tertutup dijadikan sebagai alat komunikasi untuk mengantur barisan persatuan mengadakan pemberontakan. Sisingaan diciptakan oleh seniman sangat tepat dijadikan sebagai alat perjuangan untuk melepaskan diri  dari tekanan penjajah. Sementara pihak Belanda dan Inggris menyambut baik kehadiran kesenian Sisingaan. Penjajah berasumsi bahwa wujud singa lambang dari dua negara (Belanda dan Inggris) (Wawancara Kepada Mas Rohaedi, Tanggal 10 Juni 2015). Penjajah hanya memahami bahwa Sisingaan merupakan karya seni yang diciptakan secara spontan oleh penduduk pribumi untuk menghibur anak sunat. Namun rakyat Subang tidak demikian, dengan menggunakan lambang kedua penjajah (Belanda dan Inggris) dalam bentuk kesenian Sisingaan merupakan salah satu bentuk kebencian terhadap kaum penjajah.
Maka melalui media simbol kesenian Sisingaan mewujdkan dari rencana perlawanan atau ungkapan sindiran dengan maksud adanya perlawanan sasaran jangka panjang dan jangka pendek, yaitu :
1.    sasaran utama adalah jangka pendek yaitu bahwa kesenian Sisingaan dijadikan alat tempuh untuk mempengaruhi masyarakat Subang agar bangkit semangat persatuan dan kesatuan untuk melakukan perlawanan secara bersama-sama;
2.    sasaran kedua jangka panjang, yaitu terkandung maksud sebagai ungkapan jiwa masyarakat Subang sebagai ramalan sesuatu yang akan terjadi dan diungkapkan jauh sebelumnya (Mulyadi, 2003: 103).
Kesenian Sisingaan lahir memiliki hubungan dengan sejarah Kabupaten Subang. Kesenian sisingaan merupakan ungkapan sindiran dari masyarakt Subang atas kebencian terhadap penjajahan yang mengakibatkan rakyat Subang tertindas adanya tekanan dari Belanda dan Inggris. Sisingaan dijadikan sebagai alat digunakan untuk mengusir penajajah dari Kabupaten Subang.



2.PENYAJIAN KESENIAN SISINGAAN
a. Bentuk Properti Kesenian Sisingaan
Perkembangan bentuk Sisingaan sebelum  tahun 1955 pada masa penjajahan di daerah Subang. Bentuk Sisingaan dibuat sederhana, semakin lama disempurnakan, baik bahan maupun rupanya, semakin gagah dan menarik. Patung singa terbuat dari  dari bahan-bahan dedaunan dan kayu. Bahan yang digunakan untuk membuat sepang singa (muka atau kepala singa, dan badan singa)  pada tahun 1955 menggunakan bahan-bahan diantaranya sebagai berikut: 1) kayu besar ringan seperti (kayu randu atau albasiah); 2) daun kaso dan daun pinus; 3) carangkan (keranjang atau anyaman bambu) dan; 4) karung goni. Bentuk boneka Sisingaan yang menggunakan bahan dedaunan dibuat disebut singa ubrug (Wawancara kepada Bapak Ukat Mulyana (Robort), Seniman/Pelaku dan Pimpinan Setia Wargi 1,  Tanggal 10  Januari 2015) .
Perkembangan Sisingaan tahun 1955-1972, seniman memodifikasi patung singa agar terus berkembang dalam pembuatan boneka singa. Awal muncul sisingaan patung boneka Sisingaan menggunakan dedaunan dan kayu, dan pada tahun 1955-1972 menggunakan bahan diantaranya: 1)kayu; 2)rafia; 3) bahan kertas (Dewi, 2012: 63).
Pada tahun 1972-2013 perubahan bentuk patung singa menggunakan bahan pembuatan bentuk patung singa, rambut, dan badan singa yang digunakan yaitu: 1) kayu; 2) benang wol untuk membuat boneka singa; 3) bahan busa (Wawancara Kepada Bapak Endang Suhand (Endang Gheger), Tanggal 12 Juni 2015).
Perubahan  kesenian Sisingaan yang berkembang sekarang dengan adanya beberapa perupahan. Bentuk muka singa semakin mirip menyerupai hewan singa yang terbuat dari bahan berbulu. Bentuk Sisingaan menggunakan berbagai macam warna menggunakan cat. Rambut singa terbuat dari yang mirip bulu singa. Badan singa menggunakan bahan kayu yang ringan dan kuat.

b. Gerakan Kesenian Sisingaan
Penari pengusung kesenian Sisingaan terdiri dari empat orang. Gerak tarinya dari tahun ke tahun ditata dan disempurnakan sehingga tarian gerakan Sisingaan berkembang. Tahun 1955-1968 kesenian Sisingaan tarian kesenian Sisingaan dilakukan dengan gerakan sederhana yang dilakukan oleh pengusung. Gerakan Sisingaan yaitu gerakan bebas dan tidak terlalu rumit tetapi tidak menghilangkan makna heroik. Gerakan yang dilakukan adalah silat yang memiliki makna dalam gerakan pencak silat, gerakan pencak silat terdiri dari beberapa gerakan yaitu: 1) tendang; 2) lompatan; 3) minced; dan 4)dorong sapi (Hendarsah, et.al. 2008: 3).
Tahun 1968-2013 gerakan penari mulai dimasukkan unsur ketuk tilu dan silat. Gerakan ketuk tilu dan silat memiliki tarian-tarian yang berhubungan dengan gerak ketuk tilu dan silat, diantaranya: 1) gerak ancang-ancang; 2) gerak depok; 3) gerak ewag; 4) gerak mincid; 5) gerak tajong maju; dan 6) gerak ayun (http://kacabumi.blogspot.com)

C. Iringan Musik atau Waditra Kesenian Sisingaan
Iringan musik atau waditra pada masa lahirnya kesenian Sisingaan menggunkan alat sederhana hanya memakai beberapa alat musik. Pada tahun sebelum 1955  menggunakan alat musik sederhana yaitu menggunakan alat musik dog, genjring, dan angklung (Wawancara Kepada Bapak Endang Suhandi (Endang Gheger), Tanggal 12 Juni 2015). Iringan musik tahun 1955-1972 iringan musik saat gerakan ketuk tilu masuk, sehingga iringan musik Sisingaan mengalami perkembangan diantaranya: 1) dogdog; 2) genjring; 3) kendang; 4)goong; 5)angklung; dan 6) terompet (Wawancara Kepada Bapak Warman Santi, S.Pd, Tanggal , 9 Juni 2015). Tahun 1972-1986 waditra atau iringan para seniman menambahkan iringan musik dengan kecrek dan kenong.
Perkembangan pada tahun 1986-2000 iringan musik atau alat-alat yang digunakan sama seperti tahun 1972-1986. Namun, pada tahun 1986-2000 ditambahjuruh kawih atau sinden. dan ditambah alat sound sistem Perkembangan tahun 2000-2013 ditembah dengan alat musik yaitu unsur penerus. Perkembangan teknologi yang semakin maju, iringan musik di daerah Subang bagian utara menambahakan alat musik dangdut menggunakan alat musik organ dan gitar listrik (Dewi, 2012: 63-64).

d. Busana Kesenian Sisingaan
Perkembangan membawa perubahan terhadap busana ypengusung Sisingaan. Busana Sisingaan sebelum tahun 1955, pada saat Sisingaan lahir menggunakan busana sederhana sehari-hari ditambah menggunakan sabuk. Anak yang diatas singa \ menggunakan busana seperti pakaian sehari-hari yaitu takwa, sinjang lancar, iket dan peci. Busana-busana mengalami perkembangan dan bervariasi dapat dilihat dari yang dikenakan oleh para penari yang ikut dalam meramaikan pertunjukan pada tahun 1955-1990. Busana penari menggunakan pakaian yang seragam antara penari yang satu dengan penari-penari dan berakulturasi dengan warna-warna cerah yang dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok. Busanya yang diguanakan antara lain: 1) kampret; 2) pangsi; 3) iket; dan 4) sabuk. Busana yang dipakai anak sunat tahun 1990 menggunaka busana yang terlihat seperti pakaian raja (Hendarsah, et.al, 2008: 3).
Tahun 1990-2013 busana yang digunakan dalam pertunjukan kesenian Sisingaan baik pengusung dan anak sunat tetap menggunakan busana yang berakulturasi dengan corak warna-cerah.

3. PERTUNJUKAN KESENIAN SISINGAAN
Dilihat dari letak geografis Kabupaten Subang terbagi menjadi tiga kondisi yaitu Subang Selatan disebut pegunungan (tonggoh) dan Subang Utara disebut wilayah dataran rendah (tengah), dan wilayah pantai (hilir). Berdasarkan geografis mempengaruhi perkembangan pertunjukan kesenian Sisingaan. Namun, ketiga wilayah tersebut memiliki kesamaan dalam pernampilan kesenian Sisingaan.  Hal tersebut dipengaruhi oleh  masyarakat yang pola pikir sudah berkembang dengan pengaruh luar.
Pertunjukan kesenian Sisingaan pada tahun 1812 pada saat Sisingaan muncul dimainkan dengan sangat sederhana. Dimainkan dengan diusung dan digerakan kesana kemari seperti singa yang akan diadu tidak memiliki pola unsur dalam pertunjukan kesenian Sisingaan. Meskipun pertunjukan sebelum tahun 1955 menggunakan musik pengiring dan pengusung, namun pada pertunjukan sebelum tahun 1955 tidak memiliki pola dalam permainan. Perkembangan perteunjukan kesenian membawa pengaruh dalam pertunjukan kesenian Sisingaan pada tahun 1955-2013 penampilan kesenian Sisingaan ditampilakan dalam helaran, pertunjukan panggung, dan sebabagainya. Pertunjukan helaran kesenian Sisingaan sebelum melakukan unsur naekun anak sunat diserahkan oleh orang tua kepada sesepuh dan diserahkan langsung kepada rombongan Sisingaan yang kemudaian akan memasuki naekeun atau menaiki ke atas Sisingaan (Dewi, 2012: 55). Unsur pertunjukan dalam helaran kesenian Sisingaan terdiri atas tiga bagian, yaitu: 1)Naekeun yaitu gerakan ini pertama-tama dilakukan untuk menaikan anak sunat ke atas Sisingaan.2) Helaran yaitu suatu pagelaran yang dilakukan dengan cara mengelilingi kampung atau sesuai rute jalan yang ditentukan. Sisingaan helaran merupakan salah satu unsur yang harus dijalankan sebab ketentuan dalam pertunjukan kesenian Sisingaan.3) Atraksi/demonstrasi merupakan variasi gerak dan tari pada Sisingaan yang dilakukan untuk lebih menyemarakkan dan mempunyai daya tarik.
Perkembangan pertunjukan kesenian Sisingaan di pengaruhi oleh berkembangnya grup kesenian Sisingaan di Kabupaten Subang. Grup kesenian Sisingaan memiliki penampilan atau pertunjukan antara grup yang satu dengan yang lain. Salah satunya grup kesenian Setia Wargi Muda kemasan H. Edih A.S. Kemesan grup Setia Wargi Muda kemasan H. Edih A.S sama seperti pertunjukan helaran. Perbedaan Sisingaan dalam kemasan H. Edih A.S tidak menggunakan arak-arakan tetapi menggunakan durasi waktu dan menambahkan penari yaitu penari perempuan dan penari laki-laki. Durasi waktu yang digunakan untuk pertunjukan kesenian Sisingaan menggunakan waktu10 menit dalam penampilan yang terdiri dari tiga babak yaitu: pembuka, babak isi, dan penutup. Pertunjukan kesenian Sisingaan di  wilayah Subang Utara sama seperti di Subang Selatan yang membedakannya yaitu terdapat pada iringan musik yaitu menggunakan musik dangdutan. Namun, prosesi helaran atau keliling kampung dan menghibur masyarakat sama seperti pertunjukan lainnya.

4.PERKEMBANGAN GRUP-GRUP SISINGAAN
Berdirinya grup-grup kesenian Sisingaan adanya perkembangan Sisingaan dibuktikan dengan pergelaran yaitu pada saat terbentuknya kesenian Sisingaan yaitu pada saat upacara P&T Land. Pada saat itu kesenian Sisingaan dikenal sangat luas meskipun belum terbentuk grup kesenian Sisingaan secara resmi. Pada tahun 1955 seniman mulai menggali nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kesenian Sisingaan. Kreativitas seniman yang memiliki ide-ide dan bakatnya mempengaruhi munculnya grup-grup kesenian Sisingaan dengan kreasi-kreasi perubahan. Tahun 1967 grup kesenian Sisingaan yang sudah terkenal yaitu Grup Kesenian Mang Endik di Rawa Badak dan Grup Setia Warga Bapak Robot. Perkembangan grup Sisingaan tahun  diperkirakan ada 200 buah Sisingaan yang tersebar di setiap desa. Adanya festival Sisingaan Kabupaten Subang yang diselenggarakan setiap tahunnya merupakan jawaban konkrit dari antusiasme masyarakat Subang.

5.FUNGSI KESENIAN SISINGAAN
Perubahan fungsi kesenian Sisingaan tidak menutup kemungkinan bahwa kesenian tradisional mengalami perubahan dan perkembangan agar tetap bertahan. Bentuk kesenian tradisional menurut Soedarsono (2002:12) pada dasarnya memiliki arti dan fungsi dalam kehidupan masyarakat. Kesenian Sisingaan memiliki tiga fungsi yaitu fungsi media atau kritik sosial, fungsi ritual, dan fungsi hiburan atau tontonan. Pada masa penyebaran agama Islam tahun 1600 kesenian Sisingaan berfungsi sebagai media penghormatan sebagai simbol kekuatan dan kekuasaan Islam dalam penyebaran (Mulyadi, 2003: 105).
Fungsi Sisingaant idak lepas dari sejarah yaitu sebagai lambang perlawanan masyarakat Subang terhadap penjajah (Belanda dan Inggris). Sebelum tahun 1955 fungsi, selain sebagai fungsi penyebaran agama islam kesenian Sisingaan berfungsi sebagai seni perjuangan untuk melawan mengusir  penjajah (Belanda dan Inggris) di wilayah Subang. Sisingaan selain sebagai fungsi perjuangan dan penyebaran agama Islam Fungsi Sisingaan setelah kemerdekaan memiliki dua fungsi pada tahun 1955-1970. Kesenian Sisingaan merupakan bentuk tradisi pada saat mengadakan hajatan khitanan yang merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bersamaan fungsi ritual keagaman kesenian Sisingaan termasuk fungsi hiburan, kesenian Sisingaan mampu menghibur masyarakat yang melihat pertunjukan Sisingaan.
Fungsi Sisingaan tahun 1970-2013 memiliki multifungsi yaitu sebagai penyambutan tamu-tamu, festival, hiburan diatas panggung, peresmian gedung-gedung, dan sebagainya. Fungsi Sisingaan dalam penyambutan tamu diawali dengan menyambut Presiden Soeharto di Kecamatan Ciasem Kabupaten Subang. Tahun 1978 kesenian Sisingaan mulai dikenal  secara nasional dan internasional setelah menjadi juara pertama festival kesenian di Jakarta berlangsung dan dikemas sesuai kebutuhan.
Upaya melestarikan kebudayaan kesenian tradisional dijadikan sebagai kepentingan, melestariakan kesenian tradisional mendukung perkembangan suatu budaya di Indonesia. Kesenian tradisional banyak sebabnya yang mengakibatkan perubahan  yang mengikuti perkembangan teknologi. Usaha melestarikan kesenian Sisingaan yang mengalami perubahan mengikuti perkembangan teknologi. Usaha-usaha untuk melestarikan kesenian Sisingaan dengan berbagai macam cara, yaitu festival-festival, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah TK-SMA, dan pembinaan-pembinaan. Usaha pelestarian tersebut tidak lepas dari adanya peranan dari seniman/pelaku, masyarakat, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten Subang.
Upaya melestarikan kesenian Sisingaan seniman memiliki peran penting selain Pemerintah Daerah dan masyarakat.  Seniman atau pelaku sangat mengerti tentang kesenian Sisingaan. Seniman kesenian Sisingaantergolong dari seniman tua dan seniman generasi muda. Seniman Ukat Mulyana salah satunya merupakan seniman awal mula hanya mendirikan satu grup kesenian Sisingaan yaitu Grup setia wargi 1, sekarang grup setia wargi sudah berkembang dengan menggunakan nama Grup Setia Wargi. Berdirinya Grup Setia Wargi tidak lepas dari peran seniman Ukat Mulyana dengan melakukan pembinaan terhadap generasi muda untuk mempertahankan kesenian Sisingaan (Wawancara Kepada Bapak Ukat Mulyana (Robort), Seniman/Pelaku dan Pimpinan Setia Wargi 1,  Tanggal 7 Januari 2015). Upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah terhadap kesenian Sisingaan yaitu mengadakan festival-festival satu tahun sekali, satu tahun festival dilakukan untuk anak-anak tahun berikutnya untuk orang dewasa.

6. MAKNA KESENIAN SISINGAAN DI KABUPATEN SUBANG
Kesenian memiliki nilai apabila kesenian memiliki makna yang mendukung unsur didalamnya. Kesenian Sisingaan salah satu budaya yang memiliki unsur nilai yang memiliki makna. Kesenian Sisingaan memiliki makna filosofi yaitu makna perjuangan. Makna kesenian Sisingaan terdiri dari boneka atau patung singa, pengusung dan diusung (anak sunat), lagu, pengiring kesenian Sisingaan (Wawancara Kepada Mas Rohaedi, Tanggal 10 Juni 2015).
Makna dari kesenian Sisingaan yaitu boneka singa atau Sisingaan. Maknanya melambangkan  dua negara penjajah yaitu Belanda dan Inggris yang berada di Kabupaten Subang. Lambang menggunakan singa yaitu singa dijadikan sebagai ketegasan, kekuatan, kegarangan dalam melawan penjajah. Inggris memperkenalkan lambang singa sebagai simbol di kerjaan Inggris. Masa adanya penjajahan Belanda dan Inggris di Kabupaten Subang banyak patung-patung singa. Adanya kreativitas masyarakat Subang, muncul ide-ide singa untuk alat sindiran terhadap penjajahan (Wawancara Kepada Bapak Warman Santi, S.Pd, Selasa, 9 Juni 2015). Kekuasaan kedua bangsa ini bagi masyarakat Subang mendatangkan penderitaan dan kemiskinan terhadap rakyat Subang. Lambang singa merupakan ejekan dan pelecehan terhadap lambang kebanggan kaum kolonialis yaitu Belanda dan Inggris tersebut (http://www.berdikarionline.com/suluh/20110708/seni-sisingaan-simbol-perlawanan-rakyat-subang.html diakses tanggal 5 Agustus 22.56).
Makna kedua dari kesenian Sisingaan yaitu pengusung yang dilakukan oleh orang dewasa. Pengusung melambangkan masyarakat pribumi yang tertindas / terjajah. Pengusung atau penari Sisingaan mengandung arti yaitu menceritakan generasi tua yang dijajah oleh dua negara rela berkorban untuk terus berjuang melawan para penjajah untuk meninggalkan daerah Subang dilambangkan dengan gerakan tari yang dinamis.
Makna yang ketiga yaitu anak yang diatas singa (diusung). Anak naik di atas singa yang dikendalikan oleh anak kecil (simbol rakyat Subang) yang berada di atasnya. Maksud anak diatas singa merupakan sebagai harapan rakyat Subang atau harapan dari genari muda yang menginginkan agar generasi penerus/generasi muda tidak terus menerus berada dalam penindasan bangsa penjajah dan generasi muda yang akan mengusir para kaum penjajah yang berada di wilayah Kabupaten Subang.
Kesenian Sisingaann dimainkan dengan gerak tari, gerak tari dilakukan tidak semata hanya bentuk tarian, unsur gerakan tari Sisingaan memiliki makna. Gerak tari Sisingaan yaitu simbol perjuangan pantang menyerah dan selalu mencari segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Gerak tari yang dilakukan oleh pengusung dengan menggunakan berbagai gaya, namun tidak menghilangkan gerakan yang mengandung makna heroik, atau gerak yang melambangkan keberanian dalam menghadapi musuh. Gerakan nayaga melambangkan masyarakat yang berjuang dan memberi semangat kepada generasi muda untuk dapat megusir penjajah dari daerah Kabupaten Subang.
Gerakan tari dalam kesenian Sisingaan di iringi  dengan lagu-lagu untuk sedangkan lagu-lagu untuk mengiringi seni pertunjukan kesenian Sisingaan. Lagu-lagu yang di mainkan mengandung makna yaitu untuk menghibur dan memberikan semangat kepada penari singa tau  pengusung dalam melawan penjajah. Lagu yang dimaikan kesenian Sisingaan di awali dengan lagu bubuka tujuannya untuk menarik perhatian masyarakat bahwa seni pertunjukan akan segera dimulai. Setelah lagu bubuka kemudian kembang gadung atau kidung, kangsreng, yang memililiki makna tersendiri (wawancara kepada Mas Rohaedi, Tanggal 10 Juni 2015).
Kesenian Sisingaan selain makna perjuangan, kesenian Sisingaan memiliki makna yang terkandung dalam pertunjukan Sisingaan yaitu: makna sosial, makna teatrikal, makna komersial, makna universial, makna spritual.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesenian Sisingaan adalah kesenian khas Kabupaten Subang yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung. Sisingaan yaitu patung boneka yang menyerupai singa sebagai simbol dari dua negara Belanda dan Inggris. Kesenian Sisingaan merupakan ungkapan rasa ketidaksenangan atau upaya pemberontakan dari masyarakat Subang kepada kaum penjajah. Dengan demikian sepasang Sisingaan muncul melambangkan kaum penjajah yaitu Belanda dan Inggris yang menindas rakyat Subang atau lambang kebodohan dan kemiskinan, maka diciptakan kesenian Sisingaan oleh para seniman.Tujuan para seniman membuat Sisingaan berharap bahwa suatu saat generasi muda bangkit dan mampu mengusir penjajah dari tanah air dan dapat hidup lebih baik dan sejahtera.
Fungsi Sisingaan sebelum tahun 1955, Sisingaan berfungsi sebagai penyebaran agama islam dan sebagai bentuk perjuangan. Setelah kemerdekaan memiliki dua fungsi pada tahun 1955-1970 digunakan sebagai upacara ritual keagaman, dan seni hiburan menghibur masyarakat yang melihat pertunjukan Sisingaan. Tahun 1970-2013 fungsi Sisingaan memiliki multifungsi yaitu sebagai penyambutan tamu-tamu, festival, hiburan diatas panggung, peresmian gedung-gedung, dan sebagainya. Fungsi Sisingaan dalam penyambutan tamu diawali dengan menyambut Presiden Soeharto di Kecamatan Ciasem Kabupaten Subang. Perkembangan kesenian Sisingaan mendapatkan upaya pelestarian dari berbagai pihak yaitu seniman, masyarakat, dan Pemerintah Daerah agar kesenian Sisingaan tetap berkembangan.
Kesenian Sisingaan memiliki makna dari sisingaan itu sendiri yaitu makna yang terkandung dalam seni pertunjukan kesenian Sisingaan terdapat pada boneka singa, pengusung dan diusung (anak sunat), lagu, pengiring kesenian Sisingaan. Singa melambangkan sebagai bentuk dua negara penjajah yaitu Belanda dan Inggris yang berada di Kabupaten Subang, pengusung merupakan bentuk rakyat yang tertindas oleh para kaum penjajah sedangkan yang diusug (anak sunat) genari muda yang mampu mengusir penjajah. Gerak tari Sisingaan adalah simbol perjuangan yang pantang menyerah dan selalu mencari segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Saran
Bagi seniman, seniman kesenian Sisingaan tetap berusaha melestarikan kesinian Sisingaan dengan melakukan perubahan tanpa mengurangi ciri khas Sisingaan. Bagi masyarakat; hendaknya lebih mencintai dan melestarikan kebudayaan daerah Kabupaten Subang; Bagi pemerintah, upaya melestarikan kesenian Sisingaan pemerintah lebih ditingkatkan dalam melestarikan budaya yang dimiliki Kabupaten Subang.

DAFTAR RUJUKAN
Dewi, Y.A.I. 2012. Helaran Sisingaan Pada Ritual Adat Khitanan di Masyarakat Subang. Tidak Diterbitkan. Skripsi: Jakarta: Jurusan Seni Tari Universitas Negeri Jakarta.
Hendarsah, Hidayat, Soleh, & Wahyudin. 2008. Ragam Budaya Kabupaten Subang (Pendokumentasian Seni dan Budaya). Subang : Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Subang.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Mulyadi, T. 2003. Sisingaan Kemasan Wisata di Kabupaten Subang. Vol. 2 (2): 96-97.
Notosusanto, N. 1984. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (suatu pengalaman). Jakarta: Balai Pustaka.
Notosusanto, N. 1971. Norma-Norma Dasar Penelitian dan Penulisan Sejarah.Jakarta: Departemen Pertahanan Keamanan Pusat Sejarah ABRI.
Puspitasary, R. 2013. Kemasaan sisingaan pada grup setia wargi muda kabupaten Subang. Tidak Diterbitkan. Skripsi: Bandung: Pendidikan Jurusan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia.
Soepandi, Sukanda, Kubarsah. 1994. Ragam Cipta Mengenal Seni Pertunjukan Jawa Barat. Bandung: CV. Sampurna.
Soedarsono, R.M. 2002. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Tanpa Kota: Tanpa Penerbit.
Sjamsuddin, H. 1996. Metodologi Sejarah. Jakarta: Jalan Pintu Satu.
Yulyani, W. 2010. Proses Penguasaan Gerak Dalam Seni Pertunjukan Sisingaan Grup Setia Wargi Mekar Salayu di Kampung Peuntas Desa Kecamatan Ciater-Subang. Tidak Diterbitkan. Skripsi: Bandung : Pendidikan Jurusan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia.


http://www.berdikarionline.com/suluh/20110708/seni-sisingaan-simbol-perlawanan-rakyat-subang.html [Tanggal 5 Agustus 22.56].