Rabu, 04 Mei 2016

UPAYA MENINGKATKAN  HASIL BELAJAR  PADA PEMBELAJARAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR  MELALUI PENERAPAN  MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF  TEKNIK JIGSAW 

                                                   Urip Rahayu   dan  Adzkiyak

Abstract: Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1)Mengkaji apakah penggunaan Model Kooperatif teknik  Jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar Strategi Belajar Mengajar.; 2)Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam belajar  Strategi Belajar Mengajar.; 3)Meningkatkan kualitas dalam pembalajaran   Strategi Belajar Mengajar. Desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian: Penerapan Model  Cooperative Learning teknik Jigsaw  Pada  Peserta didik  dapat  Meningkatkan Hasil Belajar  Strategi Belajar Mengajar.


        Kata Kunci: Model Kooperatif teknik  Jigsaw, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik (Mulyasa, 2007:256) Pembelajaran merupakan kegiatan pengajar secara terprogram dalam desain instruksional, untuk peserta didikbelajar secara aktif yang menekankan pada sumber belajar (Dimyati dan Mudjiono, 1999:297). Dalam pembelajaran terdapat dua konsep yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya yaitu belajar-mengajar.
 Pembelajaran konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan peserta didikuntuk melakukan proses aktif membangun konsep-konsep baru, pengertian-pengertian baru, pengetahuan-pengetahuan baru berdasarkan data, informasi dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Menurut pandangan konstruktivisme Marzano (1992) proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong peserta didikuntuk mengorganisir pengalamannya sendiri menjadi suatu pengetahuan baru yang bermakna (http//.www.labschool-unj.com).
             Dalam proses pembelajaran peserta didiktidak hanya menerima begitu saja apa yang disajikan pengajar melainkan juga membangun hubungan-hubungan baru dari konsep dan prinsip yang dipelajari, serta mengelola proses berfikir. Dalam kondisi itulah self regulated learning dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga peserta didikmampu mengaktualisasikan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi antara pengajar dengan siswa, peserta didikdengan peserta didikdan peserta didikdengan lingkungannya dalam  kegiatan belajar mengajar.
Di dalam proses belajar mengajar, pengajar harus memiliki strategi, agar peserta didikdapat belajar secara efisien dan efektif, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut Model mengajar.
            Model Pembelajaran merupakan bagian strategi instruksional, Model pembelajaran berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan, meberi contoh, dan memberi latihan kepada peserta didikuntuk mencapai tujuan tertentu, tetapi tidak setiap Model pembelajaran sesuai digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. ( Martinis Yamin, 2007 : 145)
            Tujuan pendidikan dapat dicapai jika pengajar mampu memilih Model mengajar yang sesuai, efektif dan efisien sehingga peserta didikdapat menguasai materi yang diberikan dengan baik. Model mengajar yang diterapkan dalam suatu pengajaran dikatakan efektif jika tujuan pembelajaran tercapai. Semakin tinggi tingkatannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, semakin efektif Model itu. Sedangkan suatu Model dikatakan efisien apabila penerapannya dalam mencapai tujuan yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga, usaha, pengeluaran biaya dan waktu minimum. Oleh sebab itu untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan seorang pengajar harus memilih Model mengajar yang tepat atau sesuai dengan materi dan baik.                   
Untuk memenuhi salah satu kompetensi pengajar dalam sistem instruksional yang modern, maka perlu penguasaan teknik-teknik penyajian secara terperinci dan mendalam. Teknik pengajian tersebut adalah teknik yang dikuasai oleh pengajar untuk mengajar dikelas agar pengajaran tersebut ditangkap, dipahami dan digunakan oleh peserta didikdengan baik. Dalam kenyataan keseharian teknik yang digunakan pengajar untuk menyampaikan informasi. Lisan kepada peserta didikdalam menguasai pengetahuan, ketrampilan serta sikap. Model yang digunakan untuk memotivasi peserta didikagar peserta didikmampu mempergunakan pengetahuannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi ataupun untuk menjawab pertanyaan akan berbeda dengan Model yang digunakan untuk tujuan agar peserta didikmampu berfikir dan menggunakan pendapatnya sendiri didalam menghadapi persoalan. Berkaitan dengan hal tersebut untuk menghindari kejenuhan dan mendapat hasil yang lebih baik, maka penulis mengadakan penelitian tentang penggunaan Model Jigsaw  ( Tim Ahli)
Proses pembelajaran menyangkut kegiatan pengajar dan peserta didik di dalam kelas. Pada proses tersebut terjadi suatu transformasi yang pada dasarnya pihak pengajar berusaha agar peserta didikmencapai tujuan yang ditetapkan dalam proses belajar mengajar di kelas merupakan bentuk intregatif dari berbagai komponen  pendidikan dan pengajaran, yang mana tiap-tiap komponen memainkan peran sesuai dengan fungsinya. Diantara komponen yang terintegrasi tersebut, pengajar dan peserta didikmerupakan komponen aktif yang harus mampu memfungsikan komponen lainnya secara maksimal. Atas dasar itulah, tugas pengajar adalah menyusun perencanaan dan progam kegiatan yang dilakukan oleh peserta didikdalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, oleh karena itu, pengajar dengan berorientasi pada tujuan pembelajaran, merencanakan Model / pendekatan yang akan digunakan, alat yang diperlukan, dan menyelesaikan bahan atau materi pengajaran yang perlu dipelajari siswa.
Efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran banyak dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pengajar, materi, Model dan media yang terintegrasi dalam proses pembelajaran. Banyak penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi indikator-indikator efektifitas pembelajaran. Dari penelitian itu muncul beberapa sintesis penelitian yang mengikuti paradigma process-pruduct. Berdasarkan paradigma tersebut dinyatakan bahwa. Perilaku pengajar di dalam kelas sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. Dalam pembelajaran peserta didikdapat melakukan transfer pengetahuan, Jigsaw  workshop dan seminar dengan bimbingan belajar.
Model mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan oleh seorang pengajar untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didikdi dalam kelas, baik secara individual atau secara klasikal agar pelajaran itu dapat diserap, dipahami, dan dimanfaatkan oleh peserta didikdengan baik. Pendapat lain menyatakan bahwa Model mengajar adalah cara yang digunakan pengajar dalam mengadakan hubungan dengan peserta didikpada saat berlangsungnya pengajaran. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat diuraikan bahwa Model mengajar adalah cara mengajar yang digunakan oleh pengajar untuk menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didikpada saat berlangsungnya proses belajar mengajar.
Tujuan Pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi pengajar dalam memilih Model yang akan digunakan di dalam Model Pembelajaran.Tujuan pembelajaran merupakan sasaran kehendak yang dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa. Dalam contoh ini, terdapat kemampuan peserta didikpada tingkat kognitif dan psikomotorik. Demikian juga diaplikasikan kemampuan afektif, tentang bagaimana kemampuan mereka dalam bekerjasama dan bermain dari Model yang diberikan oleh pengajar pada setiap individu. ( Martinis Yamin, 2007 : 147)
Model Jigsaw dalam pembelajaran sering sering divariasi dengan Model ceramah dalam rangka lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pengajaran yang diterapkan. Model Jigsaw ialah cara mengajar dengan jalan mendiskusikan suatu topik mata pelajaran tertentu, sehingga menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku murid. Dalam Model ini semua anak diikut sertakan secara aktif untuk mencari pemecahan tentang topik tersebut. Karena dalam Jigsaw memerlukan dan melibatkan beberapa orang murid yang bekerja sama dalam mencapai kemungkinan pemecahan yang terbaik, maka Model ini biasa juga disebut Model musyawarah. Maksud utama Model ini adalah untuk merangsang murid berpikir dan mengeluarkan pendapat sendiri serta secara sungguh-sungguh ikut menyumbangkan kemampuannya, mencari keputusan terbaik atas persetujuan bersama  ( Imansjah Alipandie, 1984:81).
Adapun keunggulan Model Jigsaw adalah sebagai berikut”
  1. Peserta didikakan makin terbiasa dengan kebiasaan menguasai materi tertentu dalam satu indikator sebelum dilakukan pembahasan dalam Jigsaw dengan teknik Jigsaw dan Prosentasi di dalam kelas. Peserta didikakan terbiasa untuk memiliki tanggung jawab terhadap penguasaan materi yang akan diprosentasikan didepan kelas perkelompok. Pengetahuan yang didapat oleh peserta didikakan menjadi suatu pengetahuan yang sangat berkesan dalam pikiran peserta didik(Long Time Memory) karena pengetahuan itu mereka cari dan temukan sendiri sebelumnya.
  2. Peserta didiksemakin mempuhyai tanggung jawab yang besar dalam kelompok Jigsawnya sebab masing-masing anggota dalam suatu kelompok mempunyai tanggung jawab sendiri-sendiri, mulai menyiapkan materi dalam kertas transparan, memaparkan. Mendiskusikan sampai menjawab pertanyaan yang mumcul pada saat prosentasi.
  3. Pengalaman peserta didikperkelompok dalam pertemuan kesatu akan menjadi kan kemudahan untuk tampil kedua dalam pertemuan berikutnya tentunya dalam indikator, yang berbeda,dalam hal ini jelas peranan peserta didiksangat besar dan panting sekali (Student Centered)
  4. Peranan pengajar hanya sebagai fasilisator dan membuat situasi harus sangat kondusif sebab pada saat pelaksanaan Jigsaw dengan teknik Jigsaw dan Prosentasi masing-masing peserta didikperkelompok memperlihatkan ekspresi diri yang berbeda-beda sehingga suasana kelas menjadi tidak kondusif lagi, utamanya pada waktu Presentasi dan Tanya-jawab antar kelompok.

Dan kelemahan dalam Model Jigsaw ini adalah :
1.        Kurangnya pemahaman pengajar mengenai penerapan pembelajaran Cooperative Learning.
2.        Jumlah peserta didikyang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian pengajar terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehingga yang hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas, yang lain hanya sebagai penonton.
3.        Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning.
4.        Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
5.        Terbatasnya pengetahuan peserta didikakan sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

 Langkah pelaksanaannya sebagai berikut :
  • Peserta didikdibagi atas beberapa kelompok ( tiap kelompok anggota 5-6 orang )
  • Materi pelajaran diberikan kepada peserta didikdalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
  • Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya. Misalnya, jika materi yang disampaikan mengenai sistem dari satu kelompok mempelajari tentang Tri Koro Darmo, peserta didikyang lain dari kelompok satunya mempelajari tentang Jong Sumatra Bond, begitu pun peserta didiklainnya mempelajari perkumpulan pemuda dan lainnya.
  • Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya
  • Setiap kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temanya
  • Pada pertemuan dan Jigsaw kelompok asal, siswa-peserta didikdikenai tagihan berupa kuis Individu  (Trianto, 2007: 56). 
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan  cenderung konvensional. Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berpusat pada pengajar daripada berpusat pada kemampuan siswa. Proses pembelajaran yang didominasi oleh pengajar membuat aktivitas peserta didikselama kegiatan belajar mengajar tidak nampak dan peserta didikcenderung pasif sehingga menyebabkan pembelajaran menjadi membosankan dan menjadikan peserta didikmalas belajar, ramai, berbicara dengan temannya, bahkan ada yang mengantuk sehingga menjadikan kegiatan pembelajaran tidak menarik untuk diikuti.
Peserta didik kurang tertariknya mengikuti pelajaran    Strategi Belajar Mengajar mengakibatkan hasil dan proses pembelajaran yang diinginkan tidak tercapai.  Dengan demikian pengajar hendaknya mencari strategi pembelajaran yang sesuai dengan pemilihan Model mengajar yang sangat tepat dan penting dalam proses dapat mempengaruhi tingkat pencapaian ketuntasan hasil belajar. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini memandang perlu melakukan inovasi atau strategi pembelajaran dalam rangka pencapaian hasil belajar, untuk mengatasi permasalahan pembelajaran    Strategi Belajar Mengajar di  FPIPS IKIP PGRI Jember, maka perlu diadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang bersifat kolaboratif yang didasarkan pada permasalahan yang muncul dalam pembelajaran, tindakan kelas yang akan dilakukan ini adalah pembelajaran dengan melalui penerapan Cooperatif Learning dengan teknik Jigsaw.
Cooperative learning atau belajar secara kooperatif adalah penempatan beberapa peserta didikdalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas. Pembelajaran kooperatif ini jarang sekali digunakan karena dianggap membuang-buang waktu.
Harapan yang akan diwujudkan jika diterapkan teknik Jigsaw adalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa, mewujudkan Model belajar peserta didikaktif yang tidak hanya menekankan pada hasil saja tapi juga proses dalam pembelajaran, serta menumbuhkan anggapan bahwa pelajaran    Strategi Belajar Mengajar tidak membosankan lagi.


 Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah;
1)      Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif  Jigsaw dalam pelajaran    Strategi Belajar Mengajar  ?
2)      Apakah pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan ketuntasan hasil belajar peserta didik di  FPIPS IKIP PGRI Jember ?
             
Tujuan Penelitian
            Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Mengkaji apakah penggunaan Model Jigsaw mampu meningkatkan hasil belajar   Strategi Belajar Mengajar.
  2. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam belajar    Strategi Belajar Mengajar.
  3. Meningkatkan kualitas dalam pembalajaran   Strategi Belajar Mengajar.

 Manfaat
            Manfaat atau nilai guna yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Bagi Lembaga tempat penelitian, hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat dalam rangka pengayaan atau penambahan khasanah pengetahuan tentang penggunaan Model Jigsaw mengajar dalam praktek mengajar.
  2. Bagi tenaga pengajar, sebagai masukan dalam rangka pemantapan penggunaan Model mengajar Jigsaw, sehingga bermanfaat bagi pengajar dan peserta didikdalam belajar    Strategi Belajar Mengajar.
  3. Bagi peneliti, merupakan pengalaman awal dalam hal penelitian ilmiah, sehingga mampu memotivasi untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut.


METODE PENELITIAN

Setting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di FPIPS IKIP PGRI Jember. Responden penelitian ini adalah peserta didik yang menempuh mata kuliah Strategi Belajar Mengajar dari Prodi Pendidikan Sejarah, Pendidikan Ekonomi dan PPKn.

 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Arikunto (2006:96) menjelaskan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)  yaitu penelitian yang dilakukan oleh pengajar di kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis pembelajaran.
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan (PTK) yaitu penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.  Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ada dua tujuan utama yang dapat dicapai dalam penelitian ini yaitu :
  1. Melakukan tindakan perbaikan, peningkatan dan perubahan kearah yang lebih baik sebagai upaya  pemecahan masalah .
  2. Menemukan model dan prosedur tindakan yang memberikan jaminan terhadap upaya pemecahan masalah yang mirip atau sama, dengan melakukan modifikasi atau  penyesuaian sepenuhnya.
·         Penelitian ini menggunakan model skema PTK. Menurut “Kemmis dan Mc Taggart” kedua tokoh ini mengembangkan teori/skema yang diciptakan oleh “Kurt Lewin” yaitu perencanaan, perlakuan , refleksi dan pengamatan .
·          Tahap Perencanaan Tindakan
            Perencanaan tindakan adalah perencanaan mengenai implementasi tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian. Pada dasarnya perenacanaan ini merupakan langkah-langkah prosedural yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penelitian yang akan direncanakan terlebih dahulu. Pada tahap perencanaan merupakan tahap awal dimana pengajar di sini sebagai pengajar mempersiapkan segala sesuatunya untuk jalannya Model Jigsaw. Seperti mempersiapkan sarana dan prasarana untuk melakukan tim ahli ( Jigsaw). Selain itu yang terpenting yaitu pengajar harus memberikan informasi atau penjelasan tentang masalah tugas yang akan didiskusikan disamping mempersiapkan kondisi belajar siswa.
·         Tahap Pelakasanaan atau Implementasi Tindakan
            Dalam implementasi tindakan bertujuan untuk memperbaiki keadaan yaitu pembelajaran. Pada tahap Implementasi pengajar selaku tenaga pendidik bertindak untuk mengarahkan peserta didikseperti untuk tahap awal, pengajar memberikan materi secara umum, dilanjutkan dengan memberikan informasi tentang topik yang akan didiskusikan serta jenis Jigsaw yang akan diterapkan. Berikutnya yaitu peserta didikdibentuk kelompok dengan tujuan untuk mempermudah diskusi. Tahap selanjutnya merupakan proses berlangsungnya diskusi.
            Dimana peserta didikdituntut aktif dalam menyampaikan / mempresentasikan setiap topik permasalahan yang sudah diberikan oleh pengajar. Dengan menggunakan Model pengajaran ini pengajar dapat merangsang seluruh peserta didikuntuk berpartisipasi secara aktif dalam jalannya diskusi. Keaktifan siswa/peserta Jigsaw dapat berupa penyampaian argument, tanggapan, bertanya atau menjawab pertanyaan dan lain sebagainya. Pada tahap kedua ini  merupakan proses berlangsungnya Jigsaw. Dimana peserta didikdituntut aktif dalam menyampaikan/ mempresentasikan setiap topik permasalahan yang sudah diberikan oleh pengajar. Dengan menggunakan Model pengajaran ini pengajar dapat merangsang seluruh peserta didikuntuk berpartisipasi secara aktif dalam jalannya proses ini. Keaktifan siswa/peserta Jigsaw dapat berupa penyampaian argument, tanggapan, bertanya atau menjawab pertanyaan pemecahan Masalah dan lain sebagainya.
       Dalam didaktik-metodik Jigsaw adalah cara mengajar dengan jalan mendiskusikan suatu topik mata pelajaran tertentu sehingga menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku murid. Jigsaw merangsang peserta didikberfikir dan mengeluarkan pendapat secara sungguh-sungguh ikut menyumbangkan kemampuannya menghadapi masalah bersama mencari keputusan terbaik atas persertujuan bersama sehingga meningkatkan hasil belajar.

Rancangan Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini yang digunakan adalah pendekatan Kuantitatif, yaitu untuk mengkaji peningkatan prestasi hasil belajar peserta didikdengan menggunakan model Cooperative Learning  teknik Jigsaw di kelas
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan desain siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins. Siklus yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini bersifat fleksibel, jika pada siklus pertama telah tercapai seperti yang diinginkan yaitu ketuntasan hasil belajar siswa, maka pelaksanaan siklus berikutnya di hentikan atau dibatalkan, maksudnya pelaksanaan siklus akan berakhir jika tujuan sudah tercapai dan jika belum tercapai maka berlaku siklus dua, tiga, hingga tujuan yang diharapkan tercapai.
           
Metode Pengumpulan Data
            Dalam pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya :
  1. Observasi/pengamatan                                                                               
  2. Tes                                                                                                                      
c.       Wawancara
d.      Angket/Kuesioner

Analisis Data
            Dijelaskan oleh Molpeng (1993 : 103) bahwa analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan menpengajartkan data yang telah diperoleh dari informan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar. Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan keadaan dilapangan secara deskrStrategi Belajar Mengajari guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan pembelajaran kooperatif dengan teknik Jigsaw dalam pembelajaran sejarah.
            Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan keadaan di lapangan secara deskrStrategi Belajar Mengajari guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan pembelajaran kooperatif dengan teknik Jigsawdalam pembelajaran sejarah, dimana dalam memperoleh data kualitatif peneliti dapat menggunakan beberapa cara seperti angket, observasi, wawancara dan tes yaitu dengan mengumpulkan data tersebut diatas, sehingga dapat diketahui efektif atau tidak pembelajaran kooperatif dengan teknik Jigsaw digunakan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didikkhususnya mata pelajaran sejarah.
Analisis data observasi yang merupakan ranah afektif berupa deskriptif yang diperoleh dari hasil wawancara dan diketahui dari alat pengumpul data yang berupa non test yaitu untuk menggambarkan minat dan perhatian siswa, semangat peserta didikuntuk melakukan tugas-tugas belajarnya, tanggung jawab peserta didikdalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya, reaksi yang ditunjukkan peserta didikterhadap stimulus yang diberikan pengajar dan rasa senang terhadap mata pelajaran ekonomi
Proses analisis data dari wawancara berpedoman pada Huberman (1992: 17) dilakukan dalam tiga tahap yaitu:
1.      reduksi data
reduksi data diartikan proses pemilihan yaitu pengajar bidang studi dan perwakilan peserta didikyang dipilih yaitu peserta didikyang memiliki motivasi belajar rendah dan peserta didikyang memiliki motivasi belajar tinggi sesuai dengan hasil observasi dan penerapan Model pembelajaran studi kasus pada mata pelajaran ekonomi yang telah dilakukan.
2.      paparan data/penyajian data
pemaparan data merupakan proses penyusunan hasil reduksi data, seberapa besar hasil perkembangan dan peningkatan motivasi belajar peserta didikyang diperoleh dari penerapan Model pembelajaran studi kasus. Hal ini dengan melihat hasil wawancara dengan peserta didikyang menggambarkan minat dan perhatian siswa, semangat peserta didikuntuk melakukan tugas-tugas belajarnya, tanggung jawab peserta didikdalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya, reaksi yang ditunjukkan peserta didikterhadap stimulus yang diberikan pengajar dan rasa senang terhadap mata pelajaran ekonomi. Penyajian data dalam penelitian ini akan dituangkan dalam transkrip wawancara.
3.      penyimpulan/verifikasi
penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat dan bermakna dari semua kegiatan yang dilakukan berdasarkan penyajian data.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dan Analisis Data
Keaktifan peserta didik masih sangat jauh dari apa yang diharapkan atau  mayoritas peserta didik dalam PBM pasif.Hasil belajar peserta didikyang diajarkan tanpa pembelajaran model    Kooperatif Teknik Jigsaw, dalam hal ini hanya dapat diperoleh aspek kognitifnya saja.  Diketahui rata-rata hasil belajar kognitif peserta didik sebesar 61  dan ketuntasan bealajar peserta didik secara klasikal, tidak tuntas karena yang mendapat nilai  < 65 sebanyak sebanyak  23 peserta didik 51,11 % sedangkan yang mendapat di atas 65 sebanyak   22  peserta didikatau sebanyak  48,88%.
Hasil penelitian tentang pembelajaran model    Kooperatif Teknik Jigsaw diperoleh hasil belajar aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Adapun data hasil belajar tersebut dapat dilihat pada graafik di bawah ini.

Grafik Perbandingan Nilai  Hasil Belajar Peserta didik Kognitif Yang Dicapai Peserta didikDari Siklus I, II, III.


Siklus-1
Siklus-2
Siklus-3
Belum Tuntas
( 0-65)
10(22%)
5(11%)
0
Tuntas
(66-100)
35(78%)
40( 89)
45 (100%)

45 (100%)
45(100%)
45 (100%)

Dalam grafik di atas tampak  pada siklus -1 peserta didik yang mendapat nilai  dibawah 65 sebanyak 10 peserta didik sebanyak  22%, yang mendapat  diatas 65  ada 35 peserta didik( 78%), Pada siklus-2  yang mendapat <65 sebanyak 5 peserta didik (11%), yang mendapat 65-100 sebanyak 40 peserta didik (89%) . Pada siklus-3 yang mendapat  <65  tidak ada semuanya tuntas 100%.

Tabel   PerbandinganHasil Belajar  Afektif, Psikomotor Antara Siklus I, Siklus II dan Siklus III.

Siklus
Rata-rata Hasil Belajar Afektif
Ketuntas-an (%)
Rata-rata Hasil Belajar Psikomotor
Ketuntas-an (%)
Siklus I
Siklus II
Siklus III
81
85
89
93%
100%
100%
78
84
89
93%
100%
100%
Dari tabel  dapat diketahui bahwa pada siklus 1 rata-rata hasil belajar pada  aspek kognitif adalah 68,aspek afektif 81 dan aspek psikomotor diperoleh nilai rata-rata sebesar 78. Pada siklus II rata-rata hasil belajar pada aspek kognitif  adalah 73,aspek afektif 85 sedangkan aspek psikomotor sebesar 84 dan siklus III diperoleh rata-rata hasil belajar pada aspek kognitif  adalah 76 aspek afektif diperoleh nilai rata-rata 89,91 sedangkan pada psikomotor diperoleh nilai 89

Pembahasan

Peningkatan  hasil yang diperoleh dengan menerapkan model    Kooperatif Teknik Jigsaw dapat dipahami sesuai pendapat Sunaryo (1989), bahwa tujuan utama penggunaan model    Kooperatif Teknik Jigsaw ialah mengembangkan kemampuan peserta didikuntuk memanipulasi dan memproses informasi dari berbagai sumber. Dalam metode ini peranan pengajar ialah sebagai penuntun untuk membantu peserta didikdalam mengidentifikasi masalah, menghasilkan kemungkinan jawaban, menguji semua kesimpulan terhadap data yang baru. Dengan kata lain perhatian utamanya pada ketrampilan mempelajari hasil kerja orang lain.

Asumsi digunakannya model    Kooperatif Teknik Jigsaw adalah bahwa sekolah berusaha menyediakan pengajaran yang terbaik kepada peserta didikuntuk mengerahkan diri sendiri dalam berpikkir kritis dan dapat memecahkan masalah. Karena model    Kooperatif Teknik Jigsaw merupakan metode yang berpusat pada siswa, menghendaki peserta didikterlibat aktif dalam pengajaran. Pada model    Kooperatif Teknik Jigsaw, proses adalah produk dari belajar, dan di dalam proses itu kurang begitu diperhatikan terhadap kebenaran jawaban, sebab kesimpulan yang mereka buat adalah kesimpulan yang masih tentatif dalam arti dengan data yang digunakan pada saat itu.
Searah dengan pandangan Gagne (1969), merupakan prosedur mengajar yang menekankan belajar mandiri, memanipulasi objek, melakukan eksprimen atau penyelidikan dengan siswa-peserta didiklain sebelum membuat generalisasi, metode yang memerlukan pengungkapan secara verbal penemuan-penemuan penting sehingga peserta didikdapat mengetahui suatu konsep. Dalam prateknya para  pengajar  lebih banyak member­ikan panduan, bimbingan, pengarahan dan menyiapkan masalah-masalah. Hal ini ditambah dengan fakta-fakta yang dapat mendekat­kan peserta didikuntuk mencapai prestasi dalam pencapaian tujuan in­struksional baik secara struktur maupun tidak struktur pada beberapa ketentuan yang telah digariskan.
Model    Kooperatif Teknik Jigsaw memberi kesempatan kepada peserta didikuntuk belajar mengembangkan potensi intelektualnya dalam jalinan kegiatan yang disusunnya sendiri untuk menemukan sesuatu. Peserta didikdidorong untuk bertindak aktif mencari jawaban atas masalah-masalah yang dihadapi dan menarik kesimpulan sendiri melalui proses ilmiah yang kritis, logis dan sistematis. Kegiatan inquiry, dalam balajar mengajar dapat dilakukan secara individu, kelompok maupun klasikal. Dapat dilakukan dengan tanya jawab, diskusi, kajian literatur atau kegaitan lain di dalam maupun di luar kelas. Dalam prose belajar mengajar pengajar hanya bertindak sebagai pembimbing saja. Sebelum mampu melakukan kegiatan itu peserta didikdiberi petunjuk dan latihan secara baik (Oemar dan Waney, 1980),
Menurut Oliner (1976), ciri-ciri dasar inquiry meliputi: 1) merupakan metode mengajar dengan pendekatan yang sistematis dalam mencapai tujuan pengajaran, 2) cenderung melibatkan peserta didiksebanyak mungkin yang secara konsisten, dan 3) menghendaki pemi­kiran tingkat tinggi.
Ada tiga perbedaan utama antara model    Kooperatif Teknik Jigsaw dengan metode ceramah yaitu: 1) pada model    Kooperatif Teknik Jigsaw informassi dikumpulkan oleh siswa, sedangkan pada metode ceramah informasi diberikan oleh pengajar, 2) pada model    Kooperatif Teknik Jigsaw memberikan kesempatan lebih banyak untuk perkembangan ketrampilan dari pada metode ceramah, dan 3) model    Kooperatif Teknik Jigsaw cocok untuk studi yang mendalam.
Pengajaran dengan menggunakan model    Kooperatif Teknik Jigsaw, meskipun terdapat bermacam variasi teknik pengajaran, namun pada dasarnya pelaksanaan menunjukkan karakteristik yang sama yaitu: 1) Pengajar berusaha menstimulir peserta didikuntuk berpikir aktif dengan cara antara lain (a) mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersi­fat terbuka, (b) mendorong peserta didikuntuk membuat interpretasi, penjelasan dan menyusun hipotesis/pendapat, (c) meminta peserta didikmengaplikasikan prinsip-prinsip ke dalam berbagai situasi, (d) mendorong peserta didikuntuk mengolah data dan informasi, dan (e) menghadapkan peserta didikpada masalah, kontradiksi, implikasi, asumsi tentang nilai-nilai dan pertentangan nilai. 2) Pengajar berusaha menjaga perkembangan suasana bebas dan mendorong peserta didikuntuk berani memecahkan buah pikirannya sendiri dengan cara-cara (a) bersikap membantu dan terbuka menerima pendapat, (b) mengarahkan pada hal-hal yang positif, (c) memberi semangat motivasi dan memberi petunjuk kepada peserta didikuntuk memecahkan masalah, (e) peserta didikdiberi kesempatan untuk berbuat kreatif dan mandiri, dan (f) mendorong peserta didikuntuk berani bertukar pendapat dan menganalisis pendapat serta tafsiran-tafsiran yang berbeda.
Model    Kooperatif Teknik Jigsaw dipandang sebagai metode yang efektif, tetapi menggu­nakan hendaknya disesuaikan dengan sifat dan tujuan yang hendak dicapai dalam pengajaran itu. Artinya tidak semua pengajaran, harus disampaikan dengan model    Kooperatif Teknik Jigsaw
( Group Investigation)

 KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan: Penerapan Pendekatan Cooperative Learning teknik Jigsaw  Pada  Peserta didik dapat  Meningkatkan Hasil Belajar  Strategi Belajar Mengajar.
Berdasarkan kesimpulan penelitian dapat memberikan saran untuk pengajar  hendaknya menerapkan model pembelajaran     Kooperatif Teknik Jigsaw   untuk meningkatkan hasil belajar, juga dapat diterapkan untuk mata  pelajaran yang lain jika  materinya  memiliki karakteristik  yang sama.

DAFTAR  RUJUKAN
Arivin, Z, 1991, Evaluasi Instruksional, Bandung : Remaja Rosdakarya
Ausubel, D P. 1968. Educational Psycology. New York: Rune and Straton..
Brunner, J S. 1960. Theproses of Education. Cambridge: Haevard University.
Dahar. R W. 1989. Teri-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Davies, I K. 1987. Pengelolaan Belajar. Jakarta: Rajawali.
Drucker, P F.1967. The Efective Executive. London:Heiniman.
Hornby, A S. et all. 1963.  The  Advance Learner  of Curren English. London: Oxford University P.
Kalusmier, H J.1961.  Learning and human Abilities. New York: H.R Publishers.
Margono, S, 1997, Metodologi Penelitian Pendidikan : Komponen mata kuliah dasar keahlian, Jakarta : Rineka Cipta
Mashod. S. 2000. Statistik. Jember: FKIP Unej.
Massylas, B G. 1975. Social Issues Thourg Inguiry. New York: Prentice Hall. Inch.
Morgan, C T. et al. 1989. Introduction to Psycology. New.York: McGraw Hill .
Nasution, S. 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Slameto, 1995, Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta
Sudirman, N. 1991. Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sunaryo. 1989. Stategi Belajar Mengajar . Malang: IKIP Malang.
Winataputra, Udin.S, 2001,Model-Model Pembelajaran Inovatif, Jakarta : PAU-PPAI
Margono, S, 1997, Metodologi Penelitian Pendidikan : Komponen mata kuliah dasar keahlian, Jakarta : Rineka Cipta