Rabu, 04 Mei 2016

“SOMPE “ BUDAYA MIGRASI DI DESA SIDDO KECAMATAN SOPPENG RIAJA KABUPATEN BARRU SULAWESI SELATAN

Khaeriyah

Abstract: In Bugis society, "Sompe" is a population movement from origin to destination area who show symptoms of the mobility of people with characteristics typical of the Bugis, using a kind of sailboat transportation Phinisi boat or a traditional boat, which is usually used to cross to another island sort of trip between islands, Passompe (migrants) are in addition to trying as a fisherman are also inter-island trade. Sompe in this paper focuses on the movement of people as Bugis cultural implications that have nautical spirit, they do "Sompe" by the will of interpersonal, not because the coordinate by the government (Transmigration), so spontaneous, because it is caused by the economic and cultural factors. "Sompe" for Bugis community in the village of Siddo as a habit in culture is a portion of society's behavior patterns inherent in the culture due to the location of the region Siddo located on the coast facing the Makassar Strait. Community Siddo go "Sompe" due to two factors namely the driving factors are: (1) Socio-economic factors, (2) Factors Cultural Values, whether visible or not visible, (3) Because of political pressure, such as defeat or election Pilkades To Village. Then pull factors are: (1) to extend the bonds of marriage with a married woman or a local youth in the area of ​​origin, (2) due to a variety of jobs in the area destination, (3) a more open goal area and can develop their ideas are suppressed in region of origin.

      Keywords: Sompe, Work & Business.

     PENDAHULUAN
“Sompe” secara spesifik menunjuk kepada sejenis perpindahan penduduk dengan berbagai karakteristik khusus yang menjadi ciri dan perpindahan penduduk suku Bugis “Sompe” berasal dari nama sejenis perahu tradisional seperti Phinisi atau kapal layar dari bahan kayu yang banyak dibuat di desa Awerengnge, tetangga Desa Siddo Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru yang digunakan untuk melakukan perjalanan jarak jauh antar Pulau.
Pada mulanya pemilik perahu melayani barang-barang kiriman atau yang dipesan oleh masyarakat dari pulau lain, usaha ini berbarengan dengan pekerjaan utama mereka sebagai nelayan yang mewarnai sistem ekonomi masyarakat desa pesisir pantai Siddo.
Para pedagang yang pergi “Sompe” untuk membeli barang dagangan tidak hanya sekedar membeli lalu balik lagi ke daerah asal tetapi, sebagian diantara mereka akhirnya memilih tinggal untuk beberapa lama di daerah tujuan dan mencari modal untuk berdagang sehingga “Sompe” identik dengan merantau. Fenomena “Sompe” semakin hari semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya prasarana perhubungan yang mendukung perpindahan penduduk atau “Sompe”, misalnya : Pelabuhan dan teknologi transportasi laut.
Sompe antarpulau menampilkan dua alternatif yaitu sebagai pendorong dan sebagai penghambat pembangunan. Migrasi dapat mendorong pembangunan selama “Passompe” (sebutan dalam istilah bahasa Bugis bagi perantau) dapat mendorong pembangunan selama migrasi tersebut, dapat berpartisipasi secara aktif dalam salah satu usaha pembangunan di daerah tujuan atau di daerah asal, tetapi sebaliknya bila mengakibatkan hambatan bagi pembangunan apabila migran tersebut tidak dapat berpartisipasi dalam salah satu usaha pembangunan baik di daerah tujuan karena tidak memiliki keterampilan, atau pendidikan rendah, tidak ada akses modal usaha sehingga menjadi penganggur di daerah tujuan, sementara daerah asal tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan upah yang memadai, akibatnya daerah asal kekurangan tenaga potensial.
Berbagai kenyataan yang terjadi baik di daerah asal maupun di daerah tujuan, apabila diteliti lebih seksama, menunjukkan bahwa migrasi tersebut tidak hanya sekedar disebabkan karena faktor ekonomi akan tetapi terdapat faktor-faktor mendasar yang mendorong ‘pasompe’ untuk berimigrasi. Faktor mendasar tersebut karena adanya pola budaya yang sudah mengakar didalam sistem sosial masyarakat di Desa Siddo, sehingga “Sompe” dapat dilihat secara konkrit terpola dalam sistem kehidupan masyarakat, sebab potensi alam Desa Siddo masih bisa dikembangkan secara optimal diolah untuk kebutuhan hidup yang memadai.
Banyak “Passompe” yang migran ke Pulau lain terutama Kalimantan Timur (Bontan, Nunukan, dsb), mereka bekerja dan menetap untuk mengumpulkan modal yang akan dipakai berdagang dengan membeli barang-barang yang nantinya akan dijual di daerah asal.
Masalah dalam penelitian ini adalah, apakah “Sompe” tersebut masih efektif atau tidak dalam upaya menambah Income Keluarga pada rumah tangga ‘Passompe’. Kemudian apa yang melatar belakangi setiap perpindahan tersebut serta perkembangan konsep “Sompe” dalam masyarakat sebagai bagian dari kebudayaan, dan motivasi apa yang menggerakkan hasrat individu atau kelompok untuk melakukan sompe, serta sejauh mana hubungan sompe dengan struktur sosial dan kebudayaan masyarakat Bugis di Desa Siddo.

   PEMBAHASAN
  
   A.Hakikat Sompe
Sompe : adalah pekerjaan berlayar dan berdagang antar pulau oleh masyarakat di Desa Siddo. Pelayaran mereka sering terjadi dari pulau ke pulau di dalam lingkup wilayah Nusantara (NKRI) bahkan sampai di luar batas wilayah NKRI yakni Malaysia, Singapura dan Philipina. Pasompe, adalah Individu atau sekelompok orang yang melakukan pelayaran, berpindah dari suatu tempat atau wilayah ke wilayah lainnya. Lapangan hidup ini merupakan sarana bagi migran musiman lainnya yang kemudian menetap di negeri di mana mereka berdagang atau dimana mereka kawin. Pengetahuan dan keterampilan mereka dalam berlayar, memudahkan mereka berimigrasi ke daerah-daerah tujuan, sehingga dikatakan berimigrasi adalah merupakan salah satu alternatif dari “Sompe” yang sudah membudaya dalam masyarakat. Sebagai Pola Migrasi : Menunjukkan ciri khas dari penelitian yang hanya menitik beratkan sasaran pada perpindahan penduduk sebagai implikasi budaya setempat yaitu Desa Siddo Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Sompe sebagai pola migrasi masyarakat Desa Siddo Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru.

   B.Sejarah Sompe
Sejarah persompean belum dapat terungkap secara tepat asal mulanya, sebab tidak ada bukti kongkrit untuk dapat menjelaskan hal tersebut. Akan tetapi berdasarkan ceritera rakyat serta beberapa kebiasaan yang masih tersisa sampai kini menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala.
Pada mulanya istilah sompe menurut “Rahman” (wawancara 2/2 2011) “berasal dari istilah atau penamaan terhadap salah satu alat pada perahu yakni sejenis layar perahu yang kemudian melekat pada layar perahu yang banyak dikenal sebagai Perahu Sompe, perahu ini sering digunakan oleh nelayan yang tidak puas dengan hasil tangkapan yang hanya cukup untuk dikonsumsi oleh keluarga di rumah tangga saja, sehingga mereka mengambil inisiatif untuk berlayar selama berbulan-bulan mengarungi lautan mencari daerah pemasaran ikan yang lebih memuaskan. Usaha ini selanjutnya digunakan oleh penduduk sekampung atau para tetangga untuk menitip uang agar dapat dibelikan peralatan rumah tangga atau pakaian yang murah tapi lebih berkualitas di daerah tujuan yang lebih ramai dari daerah asal”
            Kondisi seperti ini berlangsung lama dan semakin sering dan lalu lintas titipan semakin ramai, sehingga pihak ponggawa perahu (juragan/pemilik perahu) merasa lebih menguntungkan seandainya tidak hanya sekedar membawa saja pesanan barang tersebut, tetapi alangkah baiknya apabila mereka dapat mengusahakan sendiri jenis-jenis barang tersebut, kemudian menjualnya di daerah asal. Demikianlah maka nelayan antar pulau beralih mata pencaharian dari nelayan ke pekerjaan berdagang, mereka merasakan pekerjaan berdagang ternyata dapat mendatangkan keuntungan yang lebih banyak, mereka membagi tugas atas (1) ada yang bolak-balik merantau antar pulau untuk mengangkut barang yang sudah dibeli, (2) ada pula yang tinggal didaerah tujuan untuk membeli atau mengumpulkan barang yang akan dijual didaerah asal, (3) serta sebagian lagi di antara mereka tinggal di daerah asal untuk menjual barang yang sudah dibeli di daerah tujuan atau pulau lain. Menurut Mattulada (1975:146) “model perantauan yang terakhir ini berkembang sangat pesat, sejak abad 16, yakni perdagangan antarpulau, karena sejak abad tersebut mereka sudah menguasai sebagian perairan Nusantara bagian Timur. Jadi benarlah cerita yang diturunkan secara lisan bahwa Bangsa Bugis secara realita dan secara empiris adalah bangsa pelaut di mana setiap Bandar niaga disitu ada perahu layar suku Bugis tertambat, mereka berpindah dari satu bandar ke bandar yang lain, hal inilah pula yang menyebabkan mengapa konstruksi rumah mereka dari kayu yang mudah dibongkar pasang, sebab mereka mudah berpindah-pindah sehingga tidak statis. Falsafah hidup mereka “sekali layar terkembang tidak akan kembali sebelum berhasil di tujuan”
Sejak abad 16 dan abad ke 17 karena ramainya arus lalu lintas laut, sehingga timbul pula konflik-konflik disebabkan oleh adanya perompak ditengah laut. Sejak saat itu dibentuklah satu hukum pelayaran yang mengatur setiap perjalanan. Para “Passompe” ini telah terpatri dalam benak mereka bahwa perahu mereka itu sebagai negerinya, sehingga apabila mereka berlabuh di sebuah pelabuhan mereka menganggap daerah yang didatanginya sebagai daerah tersendiri dengan prinsip “dimana kaki berpijak di situ langit dijunjung”, itulah karakter suku Bugis, sehingga bila berhasil didaerah tujuan mereka tinggal menetap, kawin mawin dan bahkan membawa keluarga yang lain di daerah asal ikut Sompe ke daerah tujuan yang sudah dianggap negerinya sediri.
Kegiatan perdagangan dan Sompe semakin tampak peranannya sejak masuknya agama Islam di Desa Siddo dan Sulawesi Selatan umumnya, sejak awal abad 17, karena para penyebar agama Islam ini juga adalah pedagang, sehingga terjadi relasi bisnis di antara mereka, sehingga Sompe juga diarahkan pada fungsi-fungsi keagamaan.
Di Desa Siddo kegiatan Sompe sudah lama ada, hal ini ditandai dengan adanya pelabuhan rakyat yang dibangun oleh masyarakat di Dusun AwerangngE. Pelabuhan tersebut diresmikan pada tahun 1930, melalui pelabuhan tersebutlah masyarakat yang akan berimigrasi keluar (sompe) menuju daerah tujuan, olehnya itu sompe ini dianggap sesuatu yang biasa atau lumrah terjadi, sehingga tidak ada minat masyarakat untuk mendokumentasikannya, akibatnya tidak ada data akurat mengenai perkembangan migrasi di wilayah ini. Satu-satunya petunjuk yang dapat dijadikan sumber informasi mengenai “Sompe” di Desa Siddo dewasa ini, hanyalah melalui informasi yang diberikan oleh para anggota masyarakat yang telah kembali dari perantauan dan menjadi informan dalam penelitian ini.
Diketahui dari hasil wawancara, bahwa kegiatan sompe dari waktu ke waktu mengalami orientasi, sehingga dengan motivasi merantau beragam, dan signifikan dengan meningkatkannya arus sompe keluar pulau oleh anggota masyarakat Desa Siddo.

C.Beberapa Faktor Penyebab Sompe
1.      Faktor Pendorong
Berbagai kondisi di daerah asal yang menyebabkan adanya dorongan untuk meninggalkan daerah asalnya. Naim (1984:11) menyebutkan adanya empat faktor yang mendorong migrasi : (1) Deprivasi yang cukup gawat dirasakan dalam beberapa nilai tertentu, (2) Kesadaran akan tidak mampunya menanggulangi kekurangan di tempat asal, (3) Kemampuan untuk melihat cara-cara yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan, yang tidak terpenuhi di tempat lain, (4) memilih di antara tempat-tempat yang ada, tempat di mana terdapatnya organisasi sosial yang paling sesuai agar kebutuhan kolektivitas itu dapat ditentukan.
Deprivasi yang dianggap cukup gawat mungkin mempunyai perbedaan deprivasi dengan daerah lain, karena faktor yang menyebabkan deprivasi pun berbeda misalnya, perpindahan masyarakat di Amerika Serikat yang berpisah menetap adalah karena mereka memang harus meningalkan kampungnya dikarenakan bila memilih tinggal dikampung sendiri berarti menanti pertumpahan darah. Tetapi pola menetapnya pun berbeda dengan pola menetap migran Asia lainnya di Indonesia khususnya pada masyarakat Bugis di Desa Siddo sebab sejauh ini ada nilai budaya Siri’ Na Pacce (malu yang teramat perih) dalam norma-norma yang mengatur untuk berperilaku positif yang dapat meningkatkan harkat dan martabat keluarga bila sudah membawa hasil yang membanggakan di daerah asal, kedua belah pihak yang tadinya berkonflik di daerah asal dapat kembali selang beberapa waktu lamanya setelah hubungan yang retak oleh kepentingan politik dalam rujuk kembali dan pulang ke kampung asal.
Faktor lain yang mendorong “Sompe” adalah karena adanya kesadaran terhadap beberapa kebutuhan ekonomi yang tidak dapat terpenuhi di daerah asal. Seperti diketahui bahwa masyarakat Bugis adalah masyarakat yang dinamis dalam berusaha sehingga tingkat kebutuhannya meningkat secara drastis, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, disadari sepenuhnya bahwa mereka tidak dapat memenuhinya di kampung asal sendiri, kecuali dengan pergi “Sompe” menyeberangi samudra luas agar dapat memperoleh kebutuhan tersebut berupa perabot rumah tangga, peralatan perahu serta berbagai kebutuhan teknologi lainnya yang telah dikenal dan dianggap sebagai kebutuhan yang mendesak menyebabkan mereka meninggalkan kampung asal. Hal tersebut tidak saja sebagai sumber pemenuhan kebutuhan biologis tapi juga sebagai pemenuhan struktur sosial dimana setiap orang yang telah berhasil memiliki berbagai simbol kemampuan materi terutama sesuatu yang langka turut mempengaruhi statusnya dalam masyarakat.
Seperti yang dijelaskan oleh informan ‘Saidi’ salah seorang informan dari dusun Awerange yang sudah berlayar sampai ke Sumatera pada tahun 1992, menyebutkan bahwa “berlayar merupakan pekerjaan yang berbahaya, tetapi berhubung adanya niat yang tidak mungkin dipenuhi di kampung halaman, seperti pekerjaan yang layak, misalnya PNS, dan berlayar akan memberikan pengalaman yang lebih luas dan membuka mata untuk berusaha yang lebih baik”. Disini dapat dianalisa bahwa bagaimanapun keberhasilan sudah didapat, ikatan dengan kampung masih tetap ada sehingga “Passompe” itu secara rutin masih mengunjungi kampung halaman bahkan bila sudah tua mereka memilih tinggal / menetap di kampung, sebab melupakan daerah asal berarti sebuah pelanggaran norma bagi masyarakat Bugis Desa Siddo, tetapi meninggalkan daerah asal dalam rangka mencari penghasilan lebih guna dijadikan modal untuk membangun daerah sendiri atau kampung halaman, dianggap sebagai salah satu perjuangan hidup yang harus ditempuh oleh seorang laki-laki Bugis. “Abd.Rahman” ketika ditanya tentang pandangan masyarakat bagi seorang yang meninggalkan kampung halamannya menyatakan bahwa “mereka membuat ikrar atau sumpah bahwa sekali layar mengembang pantang perahu kembali ke pantai, artinya seseorang harus berlayar karena nilai kelaki-lakian seorang Bugis salah satunya ditentukan oleh keberaniannya menantang ombak dan badai diatas perahu menyeberangi samudra raya.
Adapun masyarakat yang ditinggalkan di kampung terutama wanita dan orang tua, bagi mereka yang pergi “Sompe” adalah duta-duta yang membawa harga diri mereka terutama keluarga, sehingga keluarga selalu mendoakan agar sekali waktu dapat kembali membawa hasil perjuangan.
Berdasarkan paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor pendorong “Sompe” bagi masyarakat Desa Siddo, adalah :
a.       Faktor Sosial Ekonomi : yaitu untuk mencari daerah serta kemungkinan yang lebih mudah untuk memperoleh modal untuk membangun daerahnya dengan mengirim remitansi kepada keluarga di kampung halaman.
b.      Faktor Nilai Budaya : Adanya stratifikasi sosial yang menganggap “Passompe” yang berhasil dan sudah bisa ber-haji menempati tingkatan sosial yang tinggi.
c.       Faktor Politik : Mereka yang merasa terdesak karena kurang mampu menjalankan ideanya dikampung sebagai dampak dari kekalahan politik misalnya : Pilkades, Pilkada, dan sebagainya.
Faktor-faktor inilah yang menjelaskan bagaimana prinsip berimigrasi menurut pandangan masyarakat. Jadi “Sompe” bukan migrasi permanent, tetapi semi permanent sebab suatu waktu mereka kembali lagi ke daerah asal, mereka ke daerah tujuan hanya untuk mencari kemudahan dalam rangka mengembangkan pembangunan kampung halaman sebagai investasi untuk jaminan hari tua dan generasi berikutnya. Olehnya itu semakin banyak “Passompe” keluar berarti semakin besar pula kemungkinan bagi daerah tersebut untuk pembangunan daerah asal, “Passompe” tidak hanya membawa harapan pribadi tetapi juga harapan publik yang ditinggalkannya.

2.      Faktor Penarik
Faktor penarik untuk melakukan “Sompe” adalah agar mereka bisa menetap dan kawin dengan masyarakat setempat, sehingga memperluas negerinya sebab dengan kawin dengan penduduk didaerah tujuan maka mereka dapat memiliki hak waris di daerah tujuan, selain itu di harapkan juga mereka memiliki generasi pelanjut di daerah “Sompe”nya sehingga kelak tidak tersesat atau terasing lagi sebab sudah memiliki keluarga baru di daerah tujuan atau daerah “Sompe”nya. Sehingga mereka tidak lagi merasa asing dan sudah menganggap negeri tujuan sebagai negeri sendiri. Falsafah Bugis Perantau adalah tiga ujung (Tellu Cappa) yakni : (1) Cappa Lila (ujung lidah) adalah kemahiran berbicara, berdiplomasi, bersilat lidah dengan pemerintah atau masyarakat didaerah tujuan sehingga ia bisa dipercaya sebagai Pabbicara atau pembicara adat (duta, istilah sekarang juru bicara), (2) Cappa Badik (ujung badik, sejenis senjata tajam untuk melindungi diri) mereka siap mempertahankan ‘Siri’ kehormatan dan menjunjung tinggi martabat keluarga bila ada yang berani melecehkan harga dirinya dan siap membantu pemerintahan dan masyarakat daerah tujuan. Jika ada yang mengacau sebab daerah tujuan sudah dianggapnya sebagai negeri sendiri atau kampung halaman kedua, (3) Cappa Lase / Penis (ujung alat kelamin laki-laki) mereka biasanya mengawini wanita setempat di daerah tujuan agar mudah diterima sebagai anggota masyarakat setempat dan tidak lagi dianggap sebagai orang asing yang selalu dicurigai, dengan mengawini wanita setempat maka memudahkan jalan untuk berusaha mencari peluang-peluang pekerjaan yang lebih lapang.
Faktor penarik lainnya adalah adanya keragaman lapangan pekerjaan dengan upah yang memadai dibanding dengan hanya berdiam dikampung menjadi petani sawah tadah hujan dengan musim yang tidak menentu sebab “Pasompe” pada umumnya adalah tidak memiliki pekerjaan tetap didaerah asal, sehingga dengan melakukan “Sompe” maka diharapkan dapat memberikan pengalaman baru atau pekerjaan yang lebih bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga. Mereka umumnya mendatangi daerah-daerah, industri di pulau-pulau lain yang membutuhkan tenaga kerja “Blue Callor”, serta daerah yang sudah maju dimana banyak dibutuhkan lapangan pekerjaan perniagaan dan sektor informal lainnya. Bahkan ada beberapa yang menjadi PNS di daerah tujuan bagi yang berpendidikan, mereka membawa ijazah mereka pergi “Sompe”. Faktor-faktor penarik ini hampir setiap waktu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman di suatu daerah.

D.Daerah Tujuan Sompe & Teknologi “Sompe”
  1. Daerah Tujuan Sompe
Daerah tujuan “Sompe” tidak terbatas pada jauh dekatnya suatu daerah, ciri utama dari “Sompe” adalah meninggalkan daerah asal dengan menggunakan kapal layar yang disebut Sompe.
Adapun daerah tujuan “Sompe” adalah meliputi Towau Malaysia Utara (Serawak), Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Irian Jaya (Papua), Ternate, Ambon, Sumatera Selatan, Jambi). Di mana daerah tujuan ada keluarga yang menetap didaerah tujuan menjadi lokasi perdagangan serta usaha sehingga banyak masyarakat yang mengunjungi daerah tersebut, misalnya Sulawesi Tengah untuk bekerja pada Perusahaan kayu ulin yang nantinya bisa menjadi pedagang kayu antar pulau, atau diperusahaan pupuk di Kalimantan Timur, ataupun berdagang campuran sampai ke Papua. Passompe yang ke Sumatera Selatan biasanya bekerja pada keluarga yang sudah lama bermukim disana dan membuka usaha perkebunan kelapa sawit atau perkebunan rakyat lainnya, karena pengusaha perkebunan telah membuka usaha minyak kelapa sehingga membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak terutama direkrut dari keluarga didaerah asal, karena karakter mereka yang dinamis serta ulet. Untuk ’Passompe’ yang ke Papua, umumnya bekerja sebagai pedagang bahan bangunan dan menjadi sopir angkutan antar kota, sehingga mereka mendominasi pekerjaan tersebut saat ini banyak yang menjadi tenaga kerja Indonesia di Brunai dan Malaysia Utara, serta Saudi Arabia, khususnya yang ke Saudi mereka tentu memakai alat transportasi udara melalui PJPTKI (Jasa pengiriman TKI). Daerah-daerah yang menjadi tujuan Passompe hanyalah daerah-daerah yang sudah dikenal sejak dahulu dan sudah pernah dikunjungi sebelumnya oleh masyarakat Desa Siddo.
  1. Alat Sompe
Mengarungi Samudera luas, membutuhkan berbagai alat perlengkapan agar dapat selamat dari ganasnya gelombang dan badai. Bagi masyarakat “Siddo” perlengkapan kapal layar yang biasanya digunakan adalah : (1) Perahu layar atau Lopi Passompe (pinisi), sejenis perahu yang dibuat dari kayu bitti (kayu besi), dengan kapasitas bobot (Lureng) antara 100 sampai 500 ton. Perahu tersebut dilengkapi dengan lima buah layar (Sompe) masing-masing dua layar anjungan (Anjong), layar palka (Tengngae) dan satu layar buritan (Toperese’) yang fungsinya, untuk mengatur atau menunjukkan mata angin. Pada bagian tengah dari perahu ini terdapat sebuah tiang tengah yang sangat kokoh sering disebut ‘Pallajoreng’ yang menjadi pusat kekuatan kapal. Melalui tiang tengah tersebut dipasang tali-tali penopang yang sering disebut dengan istilah “Patembira”. Peralatan lain yang melengkapi perahu Sompe tersebut adalah : (a) jangkar (Balango), yaitu sejenis besi baja yang dibuat menyerupai kail agar dapat digunakan sebagai tambatan perahu. Beratnya mencapai 20 hingga 30 kg, (b) Tali Jangkar (Renreng Balango), yaitu tali yang menghubungkan jangkar dengan kapal, (c) Kompas (Padomang) sejenis alat untuk penunjuk arah angin.

  1. Pengorganisasian
Di samping peralatan, Passompe juga dilengkapi dengan struktur organisasi untuk menjalankan kapal. Struktur organisasi tersebut meliputi : (a) 1 orang juragan Nahkoda, (b) 2 sampai 3 orang Pa’guling (juru mudi), (c) 10 sampai 15 sawi (Anak buah kapal).
Juragan merupakan pimpinan tertinggi diatas kapal dan seluruh keputusan ditentukan olehnya. Juragan selama dalam perjalanan merupakan tokoh yang sangat berkuasa, sementara juru mudi bertugas di belakang kemudi secara bergantian. Juru mudi mempunyai pengalaman yang cukup banyak, dia merupakan penentu utama arah kapal. Anggota organisasi pelayaran Passompe ini umumnya masih kerabat dari juragan. Terdapat pula beberapa ‘Sawi’ yang bertugas untuk memasak (koki), tukang bersih-bersih (mapparakaiwi) dan menggulung tali jangkar serta beberapa kegiatan lainnya.

  1. Sistem Pengetahuan “Passompe”
Sistem pengetahuan Passompe pada umumnya diperoleh melalui pengalaman dan sebagian di antara pengetahuan tersebut telah diperoleh dari orang tua mereka sendiri yang telah berpengalaman dalam kegiatan yang sama, seperti informan “Rasyid” memperoleh pengetahuan “Passompe” dari bapaknya “Abd. Kadir” secara turun temurun sebagai warisan pengetahuan, menurutnya “Sistem pengetahuan yang diterimanya adalah menyangkut arah angin dan gejala-gejala alam lainnya yang dapat dijadikan pedoman dalam pelayaran”. Beberapa unsur sistem pengetahuan tersebut antara lain :
a.       Pengetahuan, ‘Pacconga’, yaitu ahli perbintangan. Pengetahuan ini memberikan beberapa pemahaman terhadap gejala planet matahari yang biasa disebut ‘Mata Esso’ yaitu tanda-tanda yang sering berada di sekitar matahari selain itu ada juga tanda yang sering diberikan oleh posisi bulan dan bahkan waktu dan ruang bulan dapat memberikan arti buruk dan baik bagi pelayaran. Kemudian benda alami yang paling banyak memberi petunjuk bagi planet adalah bintang. Salah satu jenis bintang yang dijadikan tanda untuk berlayar adalah bintang Tuttung PajaE, yaitu bintang yang menandakan hari akan siang.
b.      Pengetahuan mengenai hari-hari yang dianggap baik bagi passompe adalah : 1) Hari jum’at yang jatuh pada bulan pertama yang disebut “esso nyarange” sangat baik untuk membuat perahu atau mendirikan rumah atau pergi berdagang, (2) hari “Paria” merupakan hari dimana tidak boleh melakukan apa saja, (3) hari  “kera” ialah hari tidak boleh melakukan kegiatan bepergian, (4) hari “kerbau” atau esso tedong yaitu hari yang baik untuk merantau bertepatan dengan bulan ke enam, (5) hari “jarakania”, hari yang tepat jatuh hari ketujuh belas, (6) hari “Kambing” yaitu bulan hari ke sembilan belas pada munculnya bulan.
c.       Pengetahuan tentang pembuatan perahu. Umumnya pembuatan perahu sudah dikerjakan dengan sistem mekanisasi teknologi pebuatan kapal layar, meski demikian saat memulai pembuatan pemahatan kayu untuk bahan perahu masih berlaku berbagai aturan yang masih dianut sebagai warisan pengalaman misalnya memasang kayu tidak boleh bertolak belakang dan saat mengerjakannya tidak boleh melangkahinya.

E.Beberapa Bentuk Migrasi sebagai Pola Sompe
Bentuk proses berjalannya kegiatan “Sompe” di desa Siddo  tergantung pada gejala alam, jika musim ombak sekitar, November-April maka tidak ada kegiatan pelayaran. Pelayaran pun dilakukan tergantung dari banyaknya lureng atau muatan, sebab masyarakat diikat oleh kepercayaan-kepercayaan tentang hari baik melakukan perjalanan, sebab orang yang merantau umumnya karena faktor mencari pekerjaan dan rezeki, sehingga harus benar-benar memilih waktu yang baik agar keuntungan mudah diraih.
Setiap kali pemberangkatan menurut “Abdullah (58 Th) salah seorang nahkoda kapal layar Passompe, kapasitas penumpang dari kapalnya yang berbobot 250 tonase adalah 300 orang atau 100 ton untuk barang-barang lainnya. Pekerjaannya sebagai nahkoda sudah dijalaninya sejak berumur 27 tahun, tetapi sejak usia remaja dia sudah sering ikut kapal. Disebutnya bahwa” penumpangnya biasanya pada awalnya untuk mengunjungi keluarga di daerah tujuan tetapi ternyata beberapa di antaranya menetap untuk mencari keberuntungan dengan berusaha dari bawah, sebagai kuli dahulu atau anak buah pada juragan-juragan dimana mereka memulai kariernya, yang lama kelamaan akhirnya berhasil sukses berusaha sendiri, ditandai dengan diadakannya upacara syukuran yang meriah dengan memotong sapi atau kerbau, kesuksesan inilah yang diceritrakan kepada keluarga didaerah asal sehingga menarik minat kerabat lain dikampung halaman untuk ikut merantau. Jadi model imigrasinya adalah pola migrasi berantai.
Solidaritas kampung di daerah tujuan amat kuat sehingga tidak ada rasa khawatir dari anggota keluarga yang lain untuk ikut pergi “Sompe”, bahkan diakui dari beberapa informan yang telah pulang dari rantau bahwa, “kita lebih takut di kampung sendiri dari pada dikampung orang”, hal ini disebabkan biasanya hubungan Interaksi sosial didaerah asal kampung halaman di daerah tujuan, ada ikatan emosional di dalam dada masing-masing Passompe.
Pola “Sompe” orang Bugis dari desa “Siddo” adalah :
  1. Bentuk perantuannya bersifat mengelompok dan mencari daerah yang mempunyai kemudahan untuk kebutuhan ekonomi
  2. Perantuannya bersifat berulang atau berantai
  3. Pola menerapnya, bertahap yakni menumpang pada saudara atau kenalan, kemudian mencari tempat tinggal sendiri
  4. Diikat oleh hubungan solidaritas sekampung, hubungan darah dan hubungan sepermainan (perkawanan)
Melihat pola di atas dapat disimpulkan bahwa Passompe di Desa Siddo pada dasarnya bukanlah disebabkan hanya oleh kondisi ekonomi saja, tetapi berbagai aspek yang berkaitan dan saling mendukung sehingga memperkuat hasrat untuk “Sompe” dengan maksud keberhasilan yang diperoleh kelak menjadi investasi dihari tua, sebab “Sompe” adalah migrasi semi permanent yang kelak akan kembali di kampung halaman bila sudah tidak lagi dapat bepergian untuk “Sompe”

F.Tinjauan Budaya Terhadap “Sompe”
  1. Peranan Sompe Dalam Kehidupan Ekonomi
Tak dapat disangkal bahwa meskipun “Sompe” merupakan budaya bagi masyarakat Bugis di Desa “Siddo” tetapi secara Implisit hasrat untuk “Sompe” dilatar belakangi oleh keinginan meraih keuntungan dalam berusaha, hal ini nampak dari setiap ritual yang diadakan pada setiap kepulangan “Passompe” dengan upacara syukuran dengan menyembelih kerbau atau sapi hingga beberapa ekor yang menjadi tolak ukur atau barometer kesuksesan di daerah tujuan dibanding dengan keluarga yang tetap tinggal didaerah asal. Semetara “Passompe” yang belum pernah pulang menunjukkan bahwa mereka belum berhasil mendapatkan keuntungan yang mapan sebab mereka tidak punya biaya untuk pulang, karena malu sehingga selama 10 tahun sandara dari informan “Naira” belum kembali.
Lain halnya dengan informan “Naira (47 tahun), suaminya seorang pedagang “Passompe” mampu membiayai 4 orang anaknya serta ibunya yang masih hidup dan 2 orang kemenakannya, dari hasil “Sompe” dengan mendiami rumah tinggal permanent dengan peralatan yang cukup memadai. Beberapa diantara Passompe sudah mulai menyadari pentingnya Investasi (Capital Accumulation) untuk pengembangan usaha sebagai sumber penghidupan bila tidak lagi pergi “Sompe”.

  1. Motivasi dan Orientasi Migrasi
Motivasi untuk “Sompe” tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor sosial budaya para “Passompe” sebab motivasi adalah bahagian dari sistem sosial yang dipengaruhi oleh faktor sikap mental individu itu sendiri yang dibentuk oleh lingkungan masyarakat (eksternal). Jadi motivasi individu berkembang dari sikap dan pandangan individu terhadap dunia di luar dirinya. Sebab tingkah laku aktor digerakkan oleh motivasi yang melatar belakangi Passompe yakni prinsip hidup dari ajaran agama yang dianut yang masih dipengaruhi oleh warisan pengetahuan yang menjadi budaya masyarakat Desa Siddo, konsep ajaran tentang etika hidup yang disebut sebagai “Pangngaderreng” yang mengandung norma-norma dalam berprilaku ditengah-tengah masyarakat, seperti yang dikemukakan oleh Mattulada (1975:58) bahwa “Pangngaderreng” meliputi ajaran :
a.      Ada’       :    Mengatur hubungan kekerabatan, aturan-aturan mengenai kewajiban dan etika dalam rumah tangga.
b.     Bicara     :    Mengatur masalah peradilan dan prosedur mengajarkan kasus atau menggugat.
c.      Rapang   :    Suatu pengidentifikasian kasus yang dijadikan contoh agar melalui penghubung hubungan kasus tersebut, diharapkan terjalin kontinuitas pengngadereng.
d.     Wari’       :    Mengatur sopan santun dalam bermasyarakat atau etika dalam berinteraksi sosial dalam masyarakat.
e.      Sara’       :    Mengatur pranata-pranata sosial yang berkaitan dengan syariat agama dan sebagai pelengkap dari unsur-unsur ‘Pangngadereng’ sebelumnya.
Dari uraian yang dikemukakan Matulada di atas nampak jelas pada masyarakat Desa Siddo dalam kaitannya dengan motivasi “Sompe” sebab di dalam motivasi terdapat tingkah laku untuk melakukan “Sompe” yang terkait dengan tingkah laku yang etis sebab ‘Passompe’ tentu akan berhadapan dengan berbagai individu dan kelompok dalam proses “sompe” tersebut, selain Panggadereng yang perlu dijaga adalah “Siri” yang akan memberi nilai dan stabilisator dalam konsep nilai kemasyarakatan agar memiliki kharisma dalam masyarakat, jika pangngadereng dilanggar maka hukum adat berupa terisolir dari kehidupan masyarakat akan dikenakan kepada pelanggar yang bisa disebut “To Mate Siri”, sebagai sanksi psikologis. Motivasi lain dari “Sompe” adalah adanya prestasi yang diperoleh dari kegiatan “Sompe” meliputi : (1) Prestasi ekonomi, (2) Pengalaman baru, (3) Memperluas jaringan-jaringan sosial di daerah tujuan. Seperti yang dikemukakan oleh Mattulada (1975:456) bahwa : “Di mana pun keluarga Bugis berada, maka di situ terbina tana ugi’ secara potensial”.
Masyarakat Bugis yang merantau akan menjadikan daerah tujuannya sebagai negerinya sendiri, mereka cenderung mempertahankan pola budaya daerah asal, meskipun demikian budaya setempat bukan berarti diabaikan, motivasinya adalah untuk memperjuangkan status melalui prestasi yang diperoleh di rantau semakin jauh mereka pergi, dan semakin banyak prestasi yang diperoleh, maka semakin tinggi statusnya dalam pandangan masyarakat daerah asal.

F.Praspektif Passompe Dalam Pembangunan
“Passompe” merupakan salah satu aspek yang cukup penting untuk dibicarakan karena menyangkut kebutuhan setiap aktivitas guna menunjang pembangunan nasional, sebab “Sompe” mempengaruhi sikap tingkah laku masyarakat, sehingga cukup signifikan terhadap partisipasi pada proses pembangunan sosial. Olehnya itu “Passompe” harus dilibatkan dalam proses pembangunan sebagai subjek untuk keutuhan bangsa agar tidak terjadi konflik antara pendatang dengan masyarakat setempat, seperti yang baru saja terjadi di daerah Tarakan atau di Timika Papua. Diharapkan secara bersama-sama membangun keutuhan bangsa untuk kesatuan wilayah NKRI.
Masalah yang dihadapi dewasa ini adalah bagaimana membina ‘Passompe’ dalam kedudukannya sebagai pendatang didaerah perantauan agar dapat berintegrasi dengan penduduk setempat secara damai penuh rasa persaudaraan, diharapkan organisasi kedaerahan tidak menghambat pembauran dengan penduduk setempat. Harapan lain dari Passompe adalah adanya pengalihan pengetahuan dan keterampilan yang didapat di daerah tujuan kepada penduduk daerah asal agar tercipta kekuatan pembangunan melalui diversifikasi lapangan pekerjaan yang dapat menampung tenaga kerja yang tersedia di daerah asal.

    KESIMPULAN
Dari uraian tentang ‘Sompe’ dapat kita pahami bahwa aktivitas ‘Sompe’ dalam masyarakat Desa Siddo merupakan bagian dari pola budaya yang melembaga dalam sistem sosial dan struktur sosial ditemukan beberapa aspek “Sompe” dari tulisan ini antara lain :
  1. Kegiatan “Sompe” merupakan aktivitas yang ada dalam setiap kelompok masyarakat. Bahwa “Sompe” bukanlah sekedar cara untuk melepaskan diri dari himpitan ekonomi, tetapi sekaligus merupakan pola budaya yang mengatur sistem kebutuhan hidup dan cara pemenuhannya. “Sompe” di Desa Siddo mempunyai ciri tersendiri yang membedakannya dengan daerah lain, sehingga sulit untuk menginteprestasikan gejala “Sompe”.
  2. Secara fisik, aktivitas sompe di dorong oleh letak geografis dimana Desa Siddo berada di pesisir pantai dan memiliki pelabuhan rakyat sehingga memudahkan masyarakatnya melakukan aktivitas “Sompe” keberbagai daerah tujuan, masyarakatnya telah terbiasa mengarungi lautan bahkan seluruh kebutuhan untuk mempertahankan hidup di peroleh melalui laut. Jadi tepatlah bila masyarakatnya disebut bangsa pelaut.
  3. “Sompe” berasal dari pengertian “Layar Perahu” yang kemudian diartikan sebagai perjanjian laut yang sudah membudaya secara empiris dalam napas kehidupan masyarakat Desa Siddo.
  4. “Sompe” disimpulkan sebagai pekerjaan berlayar dan berdagang antar pulau, usaha ini sebagai kesempatan untuk berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari mata pecaharian tersebut untuk investasi hari tua.
  5. Masyarakat daerah asal akan semakin dinamis dan terbuka untuk menerima budaya yang masuk tentu dengan pertimbangan yang selaras dengan budaya dan agama yang dianut masyarakat daerah asal, kontak budaya terjadi dan muncullah rasa persatuan dan kesatuan antara daerah asal dengan daerah tujuan.

DAFTAR  RUJUKAN

Abu Hamid. 1980,      “Tanah, Wiraswasta & Migrasi Keluar, Suatu Studi Identifikasi Sosio-Antropologi Ekonomi, Penelitian Potensi Perekonomian Daerah Sulawesi Selatan”, Proyek Penelitian “Dinamina Masyarakat”. LEKNAS-LIPI. UNHAS. Ujung Pandang.
Andi Zaenal Abidin 1976 “Catatan Ringkas tentang Desa Pantai di Sulawesi Selatan, menurut Sejarah dan Hukum Adat, Paper pada Pengembangan Desa Pantai” Mei 1976. Ujung Pandang.
Bambang, E 2006       “Pekerja Migran Belum Menggunakan Remitansi untuk Kebutuhan Produktif”. Seminar Bank Dunia Depnaker. Jakarta 2006.
Bungin Burhan 2009 “Penelitian Kualitatif”. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
Linetong J. 1975         “Pasokan Ugi : Bugis Migrant and Wanderers Archipel” 10:173-201.
Koentjaraningrat 1975 “Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, Gramedia. Jakarta.
Mattulada 1975          “Kerangka Dasar Teori Pembangunan Desa-Desa Pantai di Sulawesi Selatan”. Transformasi Tim Studi Pedesaan UNHAS. Ujung Pandang.
Mochtar Naim 1973 “Merantau sebagai Pola Migrasi Orang Minang Kabau, Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Susilowati S. 2001 “Dampak Mobilitas Tenaga Kerja Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Pedesaan. Jawa Barat. Badan Litbang Sosek. Deptan Bogor.

Tjiptoheridjanto P. 2000 “Mobilitas Pedudu dan Pembangunan Ekonomi”. Makalah Simposium Kantor Mentrans & Kependudukan 26 Mei 2000.