Rabu, 04 Mei 2016

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN IPS BERBASIS MULTIMEDIA
DAN KOMIK

Anis Syatul Hilmiah

Abstrak: Mengkolaborasikan komik dengan multimedia dapat menghasilkan media pembelajaran yang atraktif, menyenangkan untuk siswa di kelas lima Sekolah Dasar Negeri dan dapat dijadikan alternatif media pembelajaran baru untuk mengajarkan matapelajaran IPS Sekolah Dasar. Secara umum kesimpulan yang didapat dari hasil validasi ahli komik menunjukkan semua aspek yang ada dalam komik pembelajaran ini telah baik. Hanya pada aspek teknik visual komik diberi penilaian cukup baik. Hal ini disebabkan karena gambar yang disajikan dalam komik masih tampak kasar dan perlu sentuhan ulang goresan garis pada sebagian karakter kartun.

        Kata  Kunci:  Multi Media,  Komik

PENDAHULUAN
            Pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang diberikan tanggung jawab untuk mempengaruhi peserta didik sehingga mempunyai tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan. Untuk mewujudkan cita-cita pendidikan yang melahirkan insan-insan cerdas, kreatif, terampil, bertanggung jawab, produktif, serta berbudi pekerti luhur dibutuhkan berbagai inovasi dari pemerintah dan semua pihak dalam dunia pendidikan. Disini guru mengambil peran yang sangat penting. Peran guru sebagai orang tua kedua memberikan makna, bahwa masyarakat dan negara memberi kepercayaan penuh kepada guru untuk mendidik anak selama berada di sekolah. Keberadaan anak di sekolah bukan hanya belajar ilmu pengetahuan, melainkan ada proses interaksi antara sesama siswa dengan semua guru. Semua anak menerima pengaruh dari proses interaksi atau pergaulan itu, bahkan dengan sadar mengambil contoh dan teladan dari yang dilihat dan diamati. Ketersediaan berbagai informasi di era globalisasi ini membuat semua yang dibutuhkan oleh setiap anak untuk bahan belajar menjadi mudah didapat. Hal ini membawa dampak positif dan negatif bagi perkembangan anak. Pendidikan IPS yang diajarkan di sekolah dihadapkan pada kenyataan bahwa pendidikan berlangsung pada latar belakang masyarakat yang semakin mudah mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia. Kondisi ini yang sangat memungkinkan masyarakat dan individu akan kaya informasi namun secara etik bisa bertentangan atau tidak sesuai dengan kepribadian dan moralitas bangsa serta sistem nilai yang tumbuh dalam masyarakat Indonesia (Muchtar, 2001: 5).
            Pendidikan IPS dituntut untuk dapat berperan dalam mengatasi dampak negatif itu melalui proses pembelajarannya yakni meningkatkan kualitas proses belajar mengajar yang mengutamakan kepada proses potensi bernalar, bernilai dan berakhlak mulia dari peserta didik. Namun, yang terjadi di lapangan sangatlah kontras. Pelajaran IPS yang diajarkan di sekolah dasar cenderung membosankan, tidak menarik dan jauh dari keseharian hidup peserta didik. Semua selalu text book, monoton, diisi dengan penjelasan-penjelasan panjang yang memaksa peserta didik untuk mendengarkan “ceramah” dari guru pengajarnya. Kondisi seperti diatas menuntut cara atau metode pembelajaran IPS yang tidak lagi statis, terpaku pada kurikulum yang kaku yang membuat peserta didik menjadi jenuh dan pada akhirnya membentuk pandangan negatif bahwa pelajaran IPS itu tidak penting dan membosankan. Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas seorang guru untuk menginovasi metode atau cara mengajar yang baik untuk anak di sekolah dasar. Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas seorang guru untuk menginovasi metode atau cara mengajar yang baik untuk anak di sekolah dasar. Kecenderungan para guru masih enggan menggunakan media yang interaktif untuk mengajar pelajaran IPS di kelas. Mereka berkilah, terlalu repot dan susah untuk menyusun suatu media yang pas, dapat diterapkan di kelas dan ditangkap oleh anak di usia sekolah dasar.
            Semua permasalahan di atas seharusnya dapat disiasati dengan bagus oleh para guru. Memanfaatkan Iptek yang berkembang saat ini guru dapat mengelola semua informasi yang ada untuk memfasilitasi kegiatan belajar. Konsep lingkungan meliputi tempat belajar, metode, media, sistem penilaian serta sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mengemas pembelajaran dan mengatur bimbingan belajar sehingga memudahkan siswa belajar (Daryanto, 2011:27). Banyak sekali media pembelajaran yang baik untuk menyampaikan pelajaran IPS kepada siswa di sekolah dasar, diantaranya adalah komik. Membaca komik yang menurut pemikiran orang tua terdahulu merupakan “penyakit” yang menggangu belajar anak ternyata tidak sepenuhnya benar. Menurut penelitian Jay Berkowitz dan Todd Packer, diketahui bahwa anak yang membaca komik lebih banyak, minimal dalam sebulan satu buah komik maka sama dengan membaca buku-buku pelajaran dalam setiap tahunnya, hal ini berdampak pada kemampuan membaca siswa dan penguasaan kosakata jauh lebih banyak dari siswa yang tidak menyukai komik. Komik dan kartun memberikan suatu kekayaan dari kesempatan pedagogik. Dan menerapkannya dalam pembelajaran akan memberi pemahaman untuk membentuk kecakapan artistik dan krativitas siswa dalam keseharian (Parker dan Berkowitz, 2009).
            Komik disini bukan hanya sekedar cerita yang diberi ilustrasi gambar saja, lebih dari itu komik pembelajaran IPS ini akan memuat tentang alur cerita bergambar yang berisi materi tentang pelajaran IPS yang sarat akan makna dan digabungkan dengan media hiburan yang sangat disenangi anak melalui gambar menarik dan desain yang menarik. Sehingga komik belajar ini dapat menjadi hiburan siswa, meminimalisasi kebosanan untuk belajar IPS sekaligus membelajarkan siswa lewat pesan-pesan yang ada di dalamnya. Banyak kelebihan yang dimiliki oleh komik, maka tidak salah jika menggunakan komik sebagai media pembelajaran IPS untuk siswa sekolah dasar di kelas lima yang pola pikirnya relatif masih kekanakan, cenderung menyukai hal-hal baru yang berwarna dan suka mengkombinasikan imajinasi bermain mereka dengan belajar. Dalam komik pembelajaran IPS mereka akan mendapatan semuanya, gambar dan narasi yang tersaji akan menjelaskan tentang materi pelajaran Menghargai Keanekaragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia dan dikombinasi dengan media audio visual yang nanti akan berisi tayangan komik yang divisualkan sehingga akan diperoleh pengalaman belajar secara empirik lewat visualisasi materi pelajaran IPS.
            Penelitian ini akan mengkolaborasikan komik dengan multimedia sehingga menghasilkan media pembelajaran yang atraktif, menyenangkan untuk siswa di kelas lima Sekolah Dasar Negeri dan dapat dijadikan alternatif media pembelajaran baru untuk mengajarkan matapelajaran IPS sekolah dasar. Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.    Jenis media pembelajaran IPS apakah yang selama ini digunakan di Sekolah Dasar
2.    Bagaimanakah desain pengembangan media pembelajaran IPS berbasis Multimedia dan Komik yang efektif untuk anak Sekolah

METODE PENELITIAN
            Penelitian dilaksanakan di kelas V SDN 3 Patokan Kabupaten Situbondo. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development  (R&D). Menurut Borg dan Gall (1983: 772) model penelitian dan pengembangan adalah “a process used develop and validate educational product” yang muncul sebagai strategi dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Research and Development (R&D) juga bisa didefinisikan sebagai metode penelitian yang secara sistematis bertujuan untuk mencaritemukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangakan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model, metode, jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna (Putra, 2012: 67). Penelitian pengembangan media pembelajaran IPS berbasis Multimedia dan komik akan menghasilkan produk berupa komik edukatif yang isinya disusun dari materi pelajaran IPS sekolah dasar yang telah dipilih yakni Menghargai Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia yang dilengkapi dengan animasi.
            Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V di SDN 3 Patokan. Pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling. Sampel pada penelitian ini terdiri dari dua kelas yakni kelas VA sebagai kelas eksperimen dan kelas VB sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen test prestasi, observasi dan wawancara. Desain pengembangan media ini menggunakan model ADDIE. Model ADDIE adalah model yang mudah diterapkan di mana proses yang digunakan bersifat sistematis dengan kerangka kerja yang jelas menghasilkan produk yang efektif, kreatif, dan efisien (Reiser dan Dempsey, 2007:25). Langkah-langkah pengembangan media yang dilakukan adalah 1) analisis kebutuhan, 2) desain media, 3) pengembangan media, 4) implementasi, 5) evaluasi, dilanjutkan dengan melakukan uji validasi tim ahli yakni ahli media dan ahli komik dan uji efektivitas media.

PEMBAHASAN
            Jenis media pembelajaran IPS yang digunkan di sekolah ini sebagian besar adalah media visual. Media visual ini terdiri dari globe, peta, atlas, gambar-gambar pahlawan, dan kartu permainan sederhana (play card). Terdapat pula video rekaman pembelajaran dalam bentuk CD namun dalam jumlah yang tidak banyak. Media visual pembelajaran IPS yang terdapat di sekolah terbilang cukup baik kondisinya. Selain itu jumlah media dipandang telah cukup untuk memenuhi kebutuhan pada masing-masing kelas. Di semua kelas telah dilengkapi dengan satu peta dunia berukuran besar, satu globe berukuran besar, dan atlas dunia yang jumlahnya menyesuaikan dengan jumlah siswa pada masing-masing kelas. Sedangkan untuk gambar-gambar pahlawan, jumlahnya beragam. Gambar-gambar pahlawan itu disediakan oleh sekolah sebanyak tujuh gambar pada masing-masing kelas. Namun, setiap kelas diberi kebebasan untuk menambah gambar-gambar pahlawan disesuaikan dengan kebutuhan. Berikut tabel media pembelajaran IPS yang terdapat di sekolah berdasarkan hasil observasi :













Tabel 1. Daftar Nama Media Pembelajaran IPS

No
Nama Media
Jumlah
Kondisi
Frekuensi Penggunaan
1.
Globe
15 buah
Baik
Sering
2.
Peta Dunia
20 buah
Baik
Sering
3.
Atlas Dunia
menyesuaikan jumlah siswa di kelas
Baik
Sering
4.
Gambar Pahlawan
7 lembar per kelas
Baik
Jarang
5.
CD Pembelajaran
5 keping
Gambar rusak
Jarang
6.
Kartu Permainan
3 kartu
Rusak
Sering
           
            Pada tahap pengembangan media, peneliti memilih model ADDIE. Dipilihnya model ADDIE karena model ini mudah diterapkan, proses yang digunakan sistematis dengan kerangka kerja yang jelas dan menghasilkan produk yang efektif, kreatif dan efisien (Reiser dan Dempsey, 2007:25). Penelitian pengembangan media yang masih bertaraf sederhana ini dituntut untuk selesai dengan waktu yang tidak terlalu lama namun tetap berpedoman pada aturan penelitian pengembangan yang benar dan menghasilkan produk dengan hasil yang maksimal dan efektif ketika diujikan. Ada lima tahapan yang dilakukan dalam pengembangan media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik sesuai dengan model yang digunakan. Lima langkah pengembangan itu adalah ;
a) Analisis Kebutuhan
            Analisis kebutuhan merupakan tahapan awal yang dilakukan saat studi pendahuluan dalam pengembangan media ini. Pada tahap ini, peneliti melakukan studi literatur dan studi lapangan untuk mendapatkan berbagai informasi awal tetang objek penelitian.


b) Desain Media
            Kegiatan awal yang dilakukan pada tahap ini yakni menentukan materi pelajaran IPS yang akan digunakan sesuai dengan analisis kebutuhan yang dilakukan sebelumnya. Pemilihan tujuan, kompetensi dasar dan materi untuk media ini sebagian telah tertulis di bab 3 pada sub bab implementasi tahap penelitian. Materi yang ditentukan untuk media ini adalah “Menghargai Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia”. Dari materi yang telah ditentukan ini, guru dan peneliti mulai menyusun semua perangkat pembelajaran namun dengan porsi dominan diberikan kepada guru, karena peneliti lebih konsen pada pengembangan media yang akan digunakan dalam pembelajaran nantinya.
c) Pengembangan Media
            Pada tahapan ini semua desain media yang telah dipilih dan disusun mulai memasuki tahap pengembangan lebih lanjut. Draf media komik dan animasi yang telah melewati tahap revisi terus disempurnakan. Setelah memastikan media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik yang dirancang telah siap untuk diimplementasikan di kelas eksperimen, peneliti juga melakukan persiapan dan pengecekan kondisi lapangan dengan memastikan semua perangkat pembelajaran yang ada di kelas sekaligus siswa dan guru IPS dalam kondisi siap untuk mengimplementasikan media pembelajaran yang telah dirancang
d) Implementasi Media
            Implementasi media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik dilakukan di kelas VA atau kelas eksperimen. Jumlah sample di kelas eksperimen ini sebanyak 30 siswa. Implementasi media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik di kelas dilakukan dengan model pembelajaran cooperative dengan tipe STAD. Sebelum memulai pembelajaran, dilakukan pre-test untuk mengukur kemampuan siswa sebelum menggunakan media pembelajaran. Pada implementasi awal media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik di kelas ini, nampak sekali kecanggungan atau rasa tidak biasa yang ditunjukkan baik oleh guru maupun siswa. Namun untuk implementasi yang ke dua kalinya, semua pihak baik guru maupun siswa berhasil memanfaatkan media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik ini dengan baik dan optimal.
e)  Evaluasi
            Evaluasi ini dilakukan untuk merefleksikan apakah implementasi media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik berjalan efektif atau memungkinkan untuk ditingkatkan lagi. Langkah evaluasi yang dilakukan pada tahap ini adalah memberikan post-test. Post-test yang dilakukan oleh peneliti sebanyak dua kali. Selain menggunakan post-test, dilakukan juga wawancara secara langsung dengan siswa. Wawancara ini menanyakan kepada siswa tentang komentar, saran dan tanggapan pemanfaatan media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik di kelas mereka. Dari hasil wawancara langsung dengan mereka, semua siswa mengaku sangat senang, paham, dan aktif dalam pembelajaran. Siswa merasakan pengalaman belajar yang baru pada saat menggunakan media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik ini. Hal ini juga didukung oleh nilai post-test kedua yang diperoleh siswa mengalami peningkatan. Peningkatan nilai post-test yang diperoleh menunjukkan media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik efektif digunakan untuk pembelajaran IPS di kelas V di SDN 3 Patokan.
            Validasi yang dilakukan untuk media pembelajaran ini melibatkan ahli media pembelajaran dan ahli komik. Ahli media pembelajaran akan melihat, menilai dan memberikan masukan tentang hasil pengembangan media yang produknya berupa media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik. Sedangkan ahli komik yang telah ditunjuk, khusus memvalidasi aspek-aspek yang ada dalam sebuah komik yang baik. Kesimpulan hasil validasi yang dilakukan oleh ahli media pembelajaran menunjukkan hasil yang baik, yakni media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik yang digunakan untuk siswa kelas V sekolah dasar ini telah relevan dengan kurikulum dan materi pembelajaran yang akan diajarkan yakni “Menghargai Keragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia”, mudah digunakan dan sesuai dengan karakteristik pebelajar.

KESIMPULAN
Hasil validasi media pembelajaran yang dilakukan menunjukkan hasil yang baik, maka hal yang sama akan dilakukan untuk memvalidasi komik pembelajaran IPS yang telah dibuat kepada ahli komik. Secara umum kesimpulan yang didapat dari hasil validasi ahli komik menunjukkan semua aspek yang ada dalam komik pembelajaran ini telah baik. Hanya pada aspek teknik visual komik diberi penilaian cukup baik. Hal ini disebabkan karena gambar yang disajikan dalam komik masih tampak kasar dan perlu sentuhan ulang goresan garis pada sebagian karakter kartun. Seluruh hasil validasi diatas menunjukkan bahwa pengembangan media pembelajaran IPS berbasis multimedia dan komik telah berhasil melewati tahap validasi ahli, baik ahli media pembelajaran maupun ahli komik Uji efektivitas dengan hasil baik.

DAFTAR RUJUKAN

Berkowitz, Jay. Parker, Todd. 2001. Heroes in The Classroom: Comic Books in Art Education. Nasional Art Education Asociation volume 54, no. 6.

Borg, R Walter. Gall, D Meredith. 1983. Educational Research An             Introduction.  Fourth Edition. New York: Longman.

Budiyono. 2009. Statistika Untuk      Penelitian. Edisi ke-2.             Surakarta: Sebelas Maret        University Press.

Muchtar, Al Suwarma. 2004. Epistimilogi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta:   Gelar Pustaka Mandiri

Putra, Nusa. 2012. Research and        Development Penelitian dan   Pengembangan Suatu Pengantar. Jakarta:             RajaGrafindo Persada

Reiser, R.A & Dempsey, J.V. 2007.   Trends and Issues in   Instructional Design and         Technology. Second Edition.           New Jersey:  Pearson Merril   Prentice Hall.


Wahyudi, Ari. 2010. Model Pembelajaran Berbasis Komik   Untuk Mencapai Ranah Afektif Pada Pendidikan Kewarganegaraan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan