Rabu, 04 Mei 2016

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN ACTIVE KNOWLEDGE SHARING UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR SEJARAH

Sumarno,  Nurul Umamah, Fandu Dyangga Pradeta

Abstract: The method of learning which is expected to overcome the problem of low creativity and students’ learning outcome is Active Knowledge Sharing method. The goal of these research is to increase the creativity and improving the learners’s result of learning the history of Indonesia by using Active Knowledge Sharing method especially for students in XI grade IPS 3 SMAN 1 Balung. The implementation of research starting from August to September 2014. These research is Classroom Action Research. Results of research about learners’ creativity classically in the pre-cycle amounting 51,71% increased 10,28% to the cycle 1 amounting 57,03% with less creative category. In cycle 2, increased 9,31% become 62,34% with enough creative category. In cycle 3, increased 12,52% become 70,15% with creative category. On improving the learning outcomes of history in cycle 1 obtain the percentage amounting 59,37% increased 11,76% of cognitive learning outcomes pre-cycle amounting 53,12%. In cycle 2 increased 21,05% become 71,87%. In cycle 3 increased 21,74% become 87,5%. Based on this case, the conclusion is the application of Active Knowledge Sharing method may increase the creativity of learners and improve the students’ result of learning the history .

    Key Words: Active Knowledge Sharing method, Learners’ creativity and Learning
                          outcome of history

PENDAHULUAN
Proses pembelajaran menurut kurikulum 2013 merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang harus dimiliki oleh siswa atau peserta didik. Tujuan pengembangan dari kurikulum 2013 adalah menciptakan insan Indonesia yang kreatif, produktif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan (Kemendikbud, 2013:102). Peserta didik diharapkan untuk dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai suatu objektif yang ditentukan baik dari aspek kognitif, aspek afektif serta aspek psikomotorik. Melihat hal tersebut, pendidik diharapkan dapat memfasilitasi peserta didik untuk bisa dengan mu­dah mencari informasi baik dengan media pembelajaran maupun melalui perkembangan teknologi yang ada ada ini. Hal ini juga akan mendorong peserta didik untuk lebih kreatif dan berkompeten dalam proses pembelajaran.
Rendahnya kreativitas dan hasil belajar sejarah peserta didik juga dijumpai pada sekolah tempat peneliti melakukan observasi awal di SMA Negeri 1 Balung. Berdasarkan hasil yang diperoleh peneliti menemukan adanya permasalahan pembelajaran sejarah secara umum. Permasalahan tersebut yaitu pelajaran sejarah dianggap mata pelajaran yang kurang menarik, cenderung sering menghafal. Dalam proses pembelajaran sejarah, peserta didik terlihat pasif dan pendidik masih menjadi pusat dari pembelajaran. Pembelajaran sejarah cenderung hanya memanfaatkan fakta sejarah sebagai materi utama. Menurut Widja (1989:1) berdasarkan kenyataan yang ada peserta didik kurang tertarik terhadap pelajaran sejarah dikarenakan pendidik kurang memahami metode dan penggunaan media pengajaran, sehingga dalam menyampaikan pelajaran sejarah kurang menarik bagi para peserta didik. Tidak Model dan teknik pembelajaran juga kurang menarik, biasanya pendidik memulai pembelajaran dengan cerita atau membacakan yang telah tertulis di buku (Soewarso, 2000:2). Hal ini yang membuat pembelajaran sejarah dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang diminati oleh peserta didik sehingga kemampuan kreativitasnya kurang terlihat dan kurang tereksplor dengan baik. Melihat kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Rendahnya kreativitas peserta didik menyebabkan tujuan yang diinginkan tidak tercapai dengan maksimal. Pada saat proses pembelajaran berlangsung kreativitas peserta didik menjadi suatu tujuan pembelajaran yang dicapai. Aspek kreativitas disini menjadi variabel yang ingin dicapai dalam pembelajaran ini. Melihat kondisi seperti itu, solusi yang tepat digunakan untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat yang tentunya disesuaikan dengan kondisi dalam kelas terutama pada peserta didik. Metode pembelajaran yang diharapkan mampu mengatasi permasalahan rendahnya kreativitas peserta didik adalah menggunakan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing.
Metode pembelajaran Active Knowledge Sharing ini merupakan metode yang dapat membuat peserta didik untuk lebih kreatif dalam proses pembelajaran di kelas. Metode ini dapat digunakan untuk melihat tingkat kemampuan peserta didik dan mengajarkan untuk membentuk kerjasama tim. Metode belajar Active Knowledge Sharing secara umum dapat: (1) meningkatkan ketrampilan peserta didik diantaranya ketrampilan berfikir, ketrampilan memecahkan masalah dan ketrampilan komunikasi; (2) meningkatkan keterlibatan peserta didik secara kreatif dalam proses pembelajaran; (3) meningkatkan ingatan peserta didik pada konsep yang dipelajari; (4) mengajarkan peserta didik untuk berani dalam mengemukakan pendapat dan pertanyaan; (5) membantu memunculkan ide atau gagasan terhadap permasalahan yang muncul. Peserta didik diharapkan untuk mampu mengeksplor dirinya dalam memunculkan potensi serta kemampuan untuk belajar tentang materi yang disampaikan.
Prinsip saling tukar pengetahuan (Knowledge Sharing) menurut Bechina dan Bommen (2006:109) yang dimuat dalam The Electronic Journal of Knowledge Management. Hasil penelitian menyatakan bahwa  pembelajaran Active Knowledge Sharing dapat mentranfer pengetahuan kepada orang lain. Orang satu dengan yang lain dapat saling bertukar pengetahuan yang berasal dari pengalaman mereka masing- masing. Pembelajaran Knowledge Sharing dalam International Journal of Knowledge Management menjelaskan bahwa berbagi pengetahuan adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang konsep yang dibahas dalam kelas dan untuk membangun hubungan dengan teman- teman sekelas (Majid & Wey, 2009:67). Informasi yang muncul dari berbagi pengetahuan dapat mengurangi daya saing peserta didik antara rekan-rekan dan mengurangi adanya kurangnya interaksi antara orang-orang yang membutuhkan pengetahuan (Yaghi & Nassuora, 2011:58).  Menurut Chiu (2010:35) yang menyatakan bahwa penyebab peserta didik kurang paham pengetahuan adalah kurangnya budaya berbagi, kurangnya interaksi, dan peserta didik percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan.  Penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing diharapkan dapat meningkatkan kreativitas pada peserta didik dalam pembelajaran sejarah khususnya peserta didik kelas XI IPS 3 Negeri 1 Balung tahun pelajaran 2014/2015 sehingga tujuan dari proses pembelajaran dapat tercapai.
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
·Apakah penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing dalam pembelajaran sejarah Indonesia dapat meningkatkan kreativitas peserta didik siswa?
·Apakah penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing dalam pembelajaran sejarah Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik siswa?
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:  1)Untuk meningkatkan kreativitas peserta didik pada pelajaran sejarah Indonesia melalui penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing peserta didik siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Balung; 2)Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pelajaran sejarah Indonesia melalui penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing peserta didik siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Balung.
           Berdasarkan tujuan penelitian yang diuraikan di atas penelitian ini mempunyai manfaat sebagai berikut: 1)Bagi Pendidik dapat dijadikan acuan dalam proses meningkatkan kreativitas serta meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah; 2)Bagi peserta didik diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran sejarah; 3)Bagi peneliti lain, sebagai bahan informasi dan wawasan untuk melakukan penelitian yang sejenis; 4)Bagi lembaga penelitian, sebagai referensi dalam kegiatan penelitian untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Negeri 1 Balung.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini pengambilan subjek penelitian adalah seluruh peserta didik kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 1 Balung yang berjumlah 32 peserta didik dengan jumlah peserta didik laki-laki sebanyak 10 orang dan peserta didik perempuan sebanyak 22 orang. Pemilihan subjek kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 1 Balung dengan alasan pendidik kesulitan didalam proses pembelajaran dan rendahnya hasil pembelajaran dibandingkan kelas XI IPS yang lain. Bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang timbul dalam kelas dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas.
Prosedur dan langkah-langkah yang digunakan dalam melaksanakan penelitian ini mengikuti model skema penelitian Kemmis dan Mc Taggart yaitu berbentuk spiral. dengan tahapan penelitian tindakan pada satu siklus meliputi: Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Penelitian diawali dengan merencanakan tindakan yang akan dilakukan, kemudian melakukan tindakan, selama melakukan tindakan dilakukan juga observasi dalam rangka mengumpulkan data yang diinginkan, kemudian refleksi. Penelitian ini dilakukan tiga siklus, siklus 1, 2, dan 3.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam adalah observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik. Sedangkan analisis data kualitatif digunakan untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing terhadap mata pelajaran sejarah Indonesia.
Hasil belajar yang diukur dalam penelitian ini adalah aspek kognitif,saja. Hasil belajar ranah afektif dan psikomotor dalam penelitian ini tidak di ukur karena peneliti hanya menfokuskan pada penilaian proses dan kognitif dari penelitian ini. Ketuntasan hasil belajar peserta didik dalam penelitian ini menggunakan ketuntasan hasil belajar yang telah ditetapkan oleh sekolah, dinyatakan tuntas apabila tingkat ketuntasan minimal mencapai ≥75 dari skor maksimal 100, sedangkan ketuntasan klasikal minimal ≥75% dari skor maksimal 100%.  Ketuntasan klasikal kelas minimal 75%, peserta didik dinyatakan kreatif apabila mencapai persentase 70% dari 100% diukur dari indikator kreativitas: (1) kemampuan memiliki rasa ingin tahu (2), kemampuan bertanya , (3) mengemukakan pendapat, (4) kemampuan menemukan berbagai ide, (5) orisinal dalam pemecahan masalah.




HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Peningkatan Kreativitas Peserta Didik Kelas XI IPS 3 SMAN 1 Balung dengan Penerapan Metode Pembelajaran Active Knowledge Sharing dalam Pembelajaran Sejarah Indonesia.
Peningkatan kreativitas peserta didik dengan menerapkan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing pada pelaksanaan siklus 1, 2 dan 3 dapat di lihat dari lima indikator berikut: (1) memiliki rasa ingin tahu, (2) kemampuan bertanya, (3) kemampuan menyatakan pendapat (4) kemampuan menemukan berbagai ide, (5) orisinal dalam pemecahan masalah.
Pada pelaksanaan siklus 1 indikator kreativitas kemampuan peserta didik dalam memiliki rasa ingin tahu secara klasikal memperoleh persentase 53,90% dengan kategori kurang kreatif, sehingga meningkat sebesar 15,95% pada siklus 2 memperoleh persentase 62,5% dengan kategori cukup kreatif. Pada pelaksanaan siklus 3 meningkat sebesar 13,61%, memperoleh persentase 71.01% dengan kategori kreatif. Berdasarkan hasil tersebut, kemampuan memiliki rasa ingin tahu menunjukkan adanya peningkatan dari siklus 1,2 ke siklus 3.
Hasil analisis indikator peserta didik dalam memberikan pertanyaan menunjukkan peningkatan pada siklus 1,2 dan 3. pada siklus 1 memperoleh persentase 56,25% dengan kategori kurang kreatif, sehingga meningkat sebesar 13,88%, pada siklus 2 memperoleh persentase 64,06% dengan kategori cukup kreatif. pada siklus 3 meningkat sebesar 13,40%, memperoleh persentase 72,65% dengan kategori kreatif.
Hasil analisis indikator peserta didik dalam mengemukakan pendapat menunjukkan peningkatan pada siklus 1,2 dan 3. pada siklus 1 memperoleh persentase 54,68% dengan kategori kurang kreatif, sehingga meningkat sebesar 15,72%, pada siklus 2 memperoleh persentase 63,28% dengan kategori cukup kreatif. pada siklus 3 meningkat sebesar 13,57%, memperoleh persentase 71,87% dengan kategori kreatif.
Hasil analisis indikator peserta didik dalam memberikan berbagai ide/ gagasan menunjukkan peningkatan pada siklus 1,2 dan 3. pada siklus 1 memperoleh persentase 51,56% dengan kategori kurang kreatif, sehingga meningkat sebesar 18,17%, pada siklus 2 memperoleh persentase 60,93% dengan kategori cukup kreatif. pada siklus 3 meningkat sebesar 19,23%, memperoleh persentase 72,65% dengan kategori kreatif.
Hasil analisis indikator peserta didik dalam orisinal dalam  pemecahan masalah menunjukkan peningkatan pada siklus 1,2 dan 3. pada siklus 1 memperoleh persentase 57,02% dengan kategori kurang kreatif, sehingga meningkat sebesar 17,23%, pada siklus 2 memperoleh persentase 65.62% dengan kategori cukup kreatif. pada siklus 3 meningkat sebesar 11,90%, memperoleh persentase 73,43%  dengan kategori kreatif. Dapat simpulkan bahwa kreativitas peserta didik pada masing-masing Indikator mencapai peningkatan dari siklus 1,2 dan 3.
Gambar 1. Diagram 1 persentase peningkatan kreativitas belajar sejarah siklus 1, 2 dan 3

B. Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI IPS 3 SMAN 1 Balung dengan Penerapan Metode Pembelajaran Active Knowledge Sharing dalam Pembelajaran Sejarah Indonesia.
Ketuntasan hasil belajar kognitif peserta didik mengalami peningkatan. Ketuntasan klasikal, suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 75%  peserta didik yang telah mencapai ketuntasan individual 75% dari nilai maksimal 100%. Pada siklus 1 hasil belajar kognitif peserta didik memperoleh ketuntasan 59,37%. Pada siklus 2 memperoleh ketuntasan sebesar 71,87%, sehingga terjadi peningkatan sebesar 11,76%, pada siklus 2. Pada siklus 3 meningkat lagi 21,74%, dengan memperoleh ketuntasan klasikal sebesar 87,5%. Hal ini menunjukkan adanya suatu peningkatan pada ketuntasan hasil belajar peserta didik secara klasikal pada tiap siklusnya.
Gambar 2. Diagram persentase hasil peningkatan belajar Kognitif siklus 1, 2 dan 3
Dari keterangan diatas dapat dilihat hasil belajar kognitif peserta didik kelas XI IPS 3 dengan mengganakan Metode Pembelajaran Active Knowledge Sharing terjadi peningkatan hasil belajar dari siklus 1,2 dan 3.
Berdasarkan pernyataan yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa penerapan Metode Pembelajaran Active Knowledge Sharing dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik kelas XI IPS 3. Selain itu, kegiatan belajar peserta didik dengan berdiskusi membuat peserta didik semakin aktif dan terlibat langsung dalam pembelajaran.. Pendidik berhasil menerapkan Metode Pembelajaran Active Knowledge Sharing sehingga kreativitas dan hasil belajar peserta didik meningkat dan lebih antusias dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran khususnya pelajaran sejarah yang sebelumnya terkesan membosankan dan menjenuhkan bagi peserta didik.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan penelitian tentang penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing untuk meningkatkan kreativitas peserta didik dan hasil belajar sejarah peserta didik kelas XI IPS 3 SMAN 1 Balung dapat disimpulkan sebagai berikut:
Penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing pada pembelajaran sejarah dapat meningkatkan kreativitas peserta didik kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Balung. Kreativitas peserta didik dalam pembelajaran sejarah diukur melalui penilaian proses. Penilaian proses dinilai dari kreativitas peserta didik dapat dilihat dengan indikator: (1) memiliki rasa ingin tahu, (2) kemampuan mengajukan pertanyaan, (3) kemampuan menyatakan pendapat,(4) kemampuan menemukan ide, dan (5) orisinal dalam memecahkan permasalahan. Penilaian hasil kreativitas Pada siklus 1 persentase kreativitas peserta didik secara klasikal 57,03% dengan kategori kurang baik/ kurang kreatif. Pada siklus 2 persentase kreativitas belajar peserta didik secara klasikal 64,06% dengan kategori cukup baik/ cukup kreatif. Pada siklus 3 persentase kreatif belajar peserta didik secara klasikal 73,12% dengan kategori baik/ kreatif. Peningkatan kreativitas peserta didik dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 12,32% dan peningkatan kreativitas peserta didik dari sklus 2 ke siklus 3 sebesar 14,14%.
   Penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing pada pembelajaran sejarah dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Balung. Peningkatan hasil belajar sejarah dengan  penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing pada pembelajaran sejarah peserta didik kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Balung yaitu,  pada pra siklus aspek kognitif memperoleh persentase sebesar 53,12%, pada siklus1 aspek kognitif memperoleh persentase sebesar 59,37% sehingga mengalami peningkatan sebesar 11,76%, pada siklus 2 memperoleh persentase 71,87% sehingga mengalami peningkatan sebesar 21,05% dan pada siklus 3 memperoleh persentase 87,5% dan mengalami peningkatan sebesar 21,74%.
Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing pada pembelajaran sejarah dapat meningkatkan meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik kelas XI IPS 3 SMA Negeri 1 Balung, maka peneliti memberikan saran dan masukan Bagi pendidik, sebaiknya menggunakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Bagi peserta didik, diharapkan dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar. Bagi peneliti selanjutnya, agar dapat lebih mengembangkan penelitian pembelajaran dengan metode pembelajaran Active Knowledge Sharing pada materi yang lain dalam ruang lingkup yang luas dan dalam jangka waktu yang lama. Bagi lembaga pendidikan, hasil dari penelitian ini merupakan sebuah masukan yang dapat berguna dan digunakan sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan kegiatan pembelajaran.

DAFTAR  RUJUKAN

Arikunto, Dkk, 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Bechina, A. A, and Bommen, T. 2006. Knowledge Sharing Practices: Analysis of   a Global Scandinavian Consulting Company. The Electronic Journal of Knowledge Management Volume 4 Issue 2 (109 – 116)
Majid, S., & Wey, S.M. 2009. Perceptions and kknowledge sharing practices of graduate students in Singapore. International Journal of Knowledge Management, 5(2): 21-32.
Chiu, S. 2010. Students' Knowledge Sources and Knowledge Sharing in the Design Studio--An Exploratory Study. International Journal of Technology and Design Education, 20(1), 27-42.
Yaghi, K. & Nassuora, A. 2011. Knowledge Sharing Degree among the Undergraduate Students: A Case Study at Applied Science Private University. International Journal of Academic Research, 3(1), 20-24.
Kemendikbud. 2013. Lampiran IV Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Widja, I. 1989. Dasar-dasar Pengembangan Strategi serta Metode Pengajaran Sejarah.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Soewarso. 2000. Cara- Cara Penyampaian Pendidikan Sejarah Untuk Membangkitkan Minat Peserta Didik Mempelajari Sejarah Bangsanya. Jakarta: Proyek Pembangunan Guru Sekolah Menengah Depdiknas