Rabu, 04 Mei 2016

PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA BERBASIS KOMPUTER
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

Candra Utama
E-mail: amaacandraa@gmail.com

Abstract :The study of biology through instructional media and the basic computer has been implemented and tested on 38 students of class XI of SMAN 1 Pakusari using a one-group pretest-posttest design. The purpose of this study is to improve student learning outcomes. Data were analyzed by descriptive qualitative, the results as follows: very well performed learning; activities of students is too good; increaseing the students’ learning outcomes and all students give good responses to the instructional media and application. The conclusions of this study is that the instructional media and the basic computer can improve student learning outcomes.

       Keywords: Media, Computer Based Instruction, the Human Respiratory System

PENDAHULUAN
Pembelajaran biologi di Sekolah Menengah Atas banyak mengalami kesulitan. Salah satunya dapat disebabkan oleh karakteristik materi yang terdapat pada mata pelajaran biologi tersebut. Banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk memahami biologi terutama untuk memahami konsep-konsep fisiologis yang abstrak (Lazarowitz, 1992). Menurut Michael (2007) terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan materi fisiologis dianggap sulit, yaitu karakteristik materi biologi yang akan dipelajari, cara mengajarkan materi, dan modal awal siswa yang akan mempelajari materi tersebut.
Prinsip-prinsip inti fisiologis dalam biologi yang dianggap penting menurut Michael et al. (2007), yaitu:  evolusi, ekosistem dan lingkungan, mekanisme sebab akibat, sel, hubungan antara struktur dan fungsi, tingkat organisasi, aliran informasi, transfer energi dan transformasi, dan homeostatis. Prinsip inti tersebut merupakan prinsip penting yang harus dikuasai oleh siswa setelah mereka mengikuti pembelajaran.
Salah satu materi pada pelajaran Biologi di SMA yang abstrak sehingga sulit dalam pelaksanaan pembelajarannya adalah materi sistem pernapasan manusia. Sistem pernapasan manusia mempunyai karakteristik materi yang abstrak dan rumit salah satunya karena berhubungan dengan mekanisme fisika dan kimiawi yang komplek. Berdasarkan prinsip-prinsip penting fisiologis di atas, materi sistem pernapasan manusiamempunyai empatprinsippentingyaitu:mekanismesebabakibat, hubungan antara struktur dan fungsi, aliran informasi dan homeostatis.
Ibayati (2002) dan Salmiyati (2007) mengungkapkan bahwa materi sistem pernapasan manusia termasuk salah satu materi yang sulit dipahami karena sifat materinya yang abstrak (Kurniati, 2001). Pada pembelajaran materi sistem pernapasan manusia, siswa harus sudah pada tahap berpikir operasi formal (Lazarowitz & Penso, 1992). Mekanisme sebab akibat yang menjadi salah satu prinsip pada materi sistem pernapasan manusia yang menyebabkankesulitandalammemahamimateri system saraf karena erat kaitannya dengan mekanisme fisiologis pembentukan dan penghantaran impuls saraf. Materi sistem pernapasan manusia merupakan salah satu materi penting untuk dapat memahami konsep-konsep selanjutnya terutama dalam fisiologi hewan. Pada kenyataannya karena tingkat kesulitan tersebut, maka pembelajaran materi sistem pernapasan manusia di SMA seringkali tidak dapat dilaksanakan dengan baik.
Hal tersebutdiungkapkanolehguru-gurubiologiyangmerasakurang dapat maksimal dalam menyampaikan materi yang abstrak. Selain itu, pada tingkat perguruan tinggi pun banyak mahasiswa yang masih kesulitan dalam memahami materi tersebut. Oleh karena itu, guru perlu mencari alternatif lain untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut. Para siswa SMA yang mempunyai pemahaman yang baik terhadap materi tersebut tidak akan mengalami kesulitan dalam memahami materi anatomi dan fisiologi selanjutnya.
Dari permasalahan di atas, maka diperlukan sebuah media pembelajaran yang tepat sehingga dapat membantu dalam pembelajaran materi sistem pernapasan manusia di sekolah.  Media pembelajaran diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap pelaksanaan pembelajaran biologi khususnya untuk materi yang abstrak.
Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat saat ini secara tidak langsung dapat menjadi alternatif dalam membantu mengatasi permasalahan tersebut. Komputer yang merupakan salah satu produk dari teknologi yang dapat menyajikan informasi dalam banyak media sebagai produk elektronik dalam bentuk tampilan teks, grafik, gambar, animasi, suara, dan video atau yang saat ini kita kenal sebagai teknologi multimedia (Carin, 1997; Munir, 2008).
Teknologi multimedia dalam bentuk tutorial maupun simulasi komputer dalam pembelajaran merupakan media yang sangat kuat untuk meningkatkan belajar            dengan memberikankesempatan bagi parasiswa untuk mengembangkan keterampilan di dalam mengidentifikasi masalah, mencari, mengorganisasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi (Akpan,2002dalamLee et al., 2002). Selain itu, dengan menggunakan multimedia interaktif maka dapatmeningkatkan kemampuan berpikir kompleks (Aldrige, 1995).
Saat ini komputer bukan lagi merupakan barang mewah, alat ini sudah digunakan di berbagai bidang pekerjaan seperti halnya pada bidang pendidikan. Pada awalnya komputer dimanfaatkan di sekolah sebagai penunjang kelancaran pekerjaan bidang administrasi dengan memanfaatkan software Microsoft Word, Microsoft Excell dan Microsoft Access. Dengan berjalannya waktu maka peranan komputer mempunyai posisi yang sangat penting sebagai salah satu media pembelajaran (Depdiknas, 2003).
Ahli teknologi dalam bidang pendidikan mengatakan komputer sesuai untuk digunakan sebagai alat bantu dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Untuk dapat menggunakan komputer sebagai alat bantu dalam pembelajaran, juga diperlukan tenaga pengajar yang kreatif, berdaya maju dan sanggup mempelajari sesuatu yang baru, khususnya teknologi komputer, supaya penggunaannya dalam pendidikan dapat diperluas.
Media di sini sangat penting untuk menarik minat belajar siswa dan membuat siswa antusias dengan materi yang diberikan. Ada berbagai pemanfaatan komputer yang saat ini sedang menarik dikembangkan sebagai media yang mampu membuat siswa tertarik untuk belajar. Media presentasi ini sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, komputer di sini tidak hanya sebagai alat bantu, akan tetapi juga untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penulis mencoba memberikan alternatif kepada guru maupun calon pendidik yang nantinya akan terjun langsung dalam dunia nyata pendidikan, yaitu penggunaan media pembelajaran dalam membantu pendidik dalam menyampaikan materi sehingga lebih menarik para siswa bisa memahami materi yang disampaikan dengan baik serta dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Sebagai media salah satu manfaat komputer bagi guru adalah dapat dipergunakan sebagai alat bantu dalam menyiapkan bahan ajar maupun proses pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu sudah semestinya para guru biologi mengetahui manfaat komputer dalam proses belajar mengajar dan mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar. Penggunaan media yang menarik, akan membuat siswa lebih mudah untuk memahami materi pelajaran, hal ini akan berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa, dengan komputer ini juga dapat membantu anak didik yang kurang menyukai bahan pelajaran yang disampaikan dan diharapkan selain memberi kemudahan bagi siswa juga dapat memberikan motivasi belajar bagi siswa.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka diperlukan pembelajaran berbasis komputer dengan menggunakan macromedia flash, dimana software tersebut mempunyai banyak kelebihan dan penggunaan khususnya dalam penyampaian materi pelajaran pada siswa sehingga siswa lebih tertarik untuk mempelajarinya khususnya pada pokok bahasan sistem pernapasan manusia. Kelebihan tersebut antara lain gambar, animasi, dan suara yang mempunyai daya tarik tersendiri dan lebih memudahkan dalam mempelajari sistem pernapasan manusia. Karena pokok bahasan sistem pernapasan manusia sangat sulit dipahami oleh siswa.
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengatasi masalah yang ada selama observasi yang dilakukan peneliti. Metode ceramah masih mendominasi pembelajaran biologi, sehingga saat guru memberikan penjelasan siswa terlihat ramai dan tidak memperhatikan penjelasan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut berdasarkan pada teori yang memberikan penjelasan tentang proses belajar dari berbagai situasi yaitu teori psikologi daya dan behaviorisme maka pemanfaatan media pembelajaran merupakan pemecahan masalah tersebut, peneliti mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer untuk mengajarkan topik sistem pernapasan pada manusia yang diberikan kepada siswa kelas XI semester II.
Sesuai dengan penelitian Ansor (2004) meyimpulkan bahwa “Penggunaan multimedia bahan kajian genetika biologi SMA dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang hal yang bersifat abstrak serta menunjukkan prestasi yang lebih baik”. Demikian pula Rijal (2003) dalam penelitiannya di SMUN 1 Malang menyimpulkan “terdapat pengaruh media gambar kartun terhadap sikap, minat, motivasi, dan prestasi belajar”. Dapat disimpulkan dari kedua penelitian di atas bahwa peranan media secara khusus adalah memudahkan siswa dalam memahami materi.
Merujuk pemaparan di atas,maka penulismemandang perlu untuk melakukan sebuah penelitian mengenai “Penerapan Media Pembelajaran Biologi SMA Berbasis Komputer Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”.

METODE PENELITIAN

A.     Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah media pembelajaran Biologi yang diterapkan dan diujicobakan pada 38 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pakusari.
B.     Rancangan Penelitian
Uji coba perangkat yang dikembangkan dalam penelitian ini menggunakan rancangan One Group Pretest-Postest Design seperti digambarkan berikut (Arikunto, 2010):
O1       X         O2
Keterangan:
O1       = Hasil uji awal (Pre Test)
X         = Perlakuan yang diberikan
O2       = Hasil uji akhir (Post Test)
C.     Prosedur Penelitian
Pada penelitian ini, dilakukan berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut
Persiapan.Pada tahap ini peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, RPP, LKS, materi ajar siswa, dan tes hasil belajar.
Validasi. Validasi bertujuan untuk mengetahui kevalidan perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan sebelum diimplementasikan di dalam kelas. Bedasarkan hasil validasi menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran sangat valid dan dapat diimplementasikan di dalam kelas.
Implementasi. Pada tahap implementasi dilakukan dalam dua kali tatap muka. Sebelum dan sesudah implementasi diberikan tes. Hasil keduanya akan dibandingkan untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran dengan menerapkan media pembelajaran Biologi. Selain itu, pada tahap ini peneliti diamati oleh dua pengamat untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran dan aktivitas siswa di kelas dengan menggunakan perangkat yang telah dikembangkan.

D.    Teknik Pengumpulan Data
Ada beberapa teknik pengumpulan data pada penelitian ini. Pertama yaitu dengan melakukan pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan, seperti lembar keterlaksanaan pembelajaran.Kedua dengan memberikan tes yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Ketiga adalah dengan pemberian angket yang bertujuan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran Biologi.

E.     Teknik Analisis Data
Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Data-data tersebut meliputi, data hasil pengamatan keterlaksanaan pembelajaran yangdilakukan terhadap setiap langkah pada setiap kegiatan pembelajaran. Kedua, hasil belajar siswa yang dihitung berdasarkan proporsi hasil belajar siswa dengan ketuntasan minimal 0,75 (75%). Ketiga adalah hasil tanggapan siswa dianalisis bedasarkan deskriptif kualitatif.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Bedasarkan hasil penelitianpenerapan media pembelajaran yang telah diimplementasikan di SMA Negeri 1 Pakusari berupa keterlaksaanaan pembelajaran,tanggapan siswa dan hasil belajar siswaakan ditampilkan berikut ini.
A.     Pengamatan Keterlaksanaan Pembelajaran
Pengamatan keterlaksanaan pembelajaran meliputi lima aspek, yaitu: (1) kegiatan pendahuluan; (2) Kegiatan inti; (3) Kegiatan penutup;(4) Pengelolaan waktu dalam setiap langkah pembelajaran; dan (5) pengamatan suasana kelas.
Proses pembelajaran dapat dikatakan terlaksana dengan baik (Gambar 3.1), meskipun demikian aspek pengelolaan waktu dalam setiap langkah pembelajaran, antusias siswa dan refleksi pembelajaran pada pertemuan pertama teramati oleh pengamat 1 dengan tingkat keterlaksanaan kurang, hal ini dikarenakan waktu mulai jam pelajaran tidak sesuai jadwal. Untuk pertemuan selanjutnya pengelolaan waktu berjalan baik.
Pendahuluan
 
Kegiatan Inti
 
Penutup
 
Pengelolaan
Waktu
 
Suasana
Kelas
 
Gambar 3.1 Grafik Hasil PengamatanKeterlaksanaan Pembelajaran

Tujuan pengamatan terhadap keterlaksanaan langkah-langkah pembelajaran untuk mendeskripsikan keberhasilan guru dalam menerapkan tahap-tahap dalam pembelajaran yang direncanakan sehingga dapat diukur efektivitasnya pada akhir pembelajaran. Pengamatan selama proses belajar mengajar dilakukan oleh dua orang pengamat.
Semua komponen pengajaran harus diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelum pembelajaran dilaksanakan (Sagala, 2008). Supaya proses pembelajaran berlangsung dengan baik, maka guru harus merancang pembelajaran yang akan dilaksanakan, terutama untuk menentukan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi yang akan diajarkan dan membuat indikator untuk mengetahui apakah pembelajaran yang telah dirancang dapat berjalan dengan efektif atau tidak.
Secara keseluruhan hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama oleh dua orang pengamat terhadap guru (untuk tahappendahuluan, kegiatan inti, dan penutup), umumnya dikategorikan terlaksana dengan baik, tetapi pengamat 2 menganggap guru masih memiliki nilai rendah/kurang pada aspek melakukan refleksi pembelajaran, pengelolaan waktu dalam setiap langkah pembelajaran dan antusias siswa. Hal ini terjadi karena sejak awal, alokasi waktu terpotong oleh kegiatan lain yang bukan kegiatan pembelajaran biologi, seperti siswa masih berada di luar kelas saat jam pelajaran biologi dimulai. Alasan siswa antri sarapan pagi, karena mereka belum sempat sarapan sampai bel masuk kelas sudah berbunyi. Inilah penyebab utama kurangnya nilai keterlaksanaan pembelajaran yang pengamat amati. Alasan siswa antri sarapan pagi dapat dimengerti oleh peneliti karena dari tiga kantin yang ada di sekolah, hanya satu kantin yang buka, sehingga seluruh siswa antri pada satu kantin tersebut.
Pertemuan pertama menurut Pengamat 2 terdapat siswa yang kurang antusias dalam pembelajaran. Hal ini mungkin merupakan dampak tidak dipenuhi kebutuhan makan, sehingga siswa ngantuk, malas dan tidak fokus dalam menerima pembelajaran. Peneliti dalam menyikapi kejadian ini dengan lebih melantangkan suara dan keliling kelas dari kelompok satu ke kelompok yang lain. Aspek lain yang dinilai kurang oleh pengamat 2 yaitu kurangnya guru dalam melakukan refleksi pembelajaran. Hal ini disebabkan waktu yang tersisa untuk melakukan refleksi pembelajaran sangat pendek. Peneliti dalam mensiasati kekurangan ini dengan melakukan refleksi pembelajaran hanya pada poin utamanya saja.
Pengamat 2 menilai pelaksanaan apersepsi dan motivasi dalam kegiatan awal pembelajaran mestinya lebih dari empat menit hingga siswa dapat beradapatasi dengan peneliti walaupun waktunya terbatas. Pada waktu itu peneliti harus dapat menarik minat siswa agar antusias mengikuti kegiatan belajar mengajar, terlebih pada pertemuan pertama. Meskipun seluruh langkah pembelajaran terlaksana dengan baik namun dari aspek pengalokasian waktu pada pertemuan pertama dinilai kurang.
Reliabilitas instrumen keterlaksanaan RPP pada pertemuan pertama sebesar 91%. Dalam hal ini bisa diasumsikan bahwa instrumen yang digunakan reliabel. Intrumen keterlaksanaan RPP dikatakan reliabel, apabila reliabilitasnya ≥ 75% (Sugiyono, 2010).
Pertemuan pertama berada pada jam ketiga dan keempat setelah istirahat yaitu dimulai pukul 09.00 WIB. Hal ini juga bertepatan dengan hari senin yang selalu digunakan untuk upacara bendera yang dimulai pukul 06.30-07.15 WIB. Waktu yang terpotong akibat kejadian seperti di atas, pada pertemuan pertama sebanyak lima menit. Akibatnya alokasi waktu yang tersedia menjadi 85 menit. Peneliti dalam mensiasati kejadian ini dengan mereduksi alokasi waktu pada kegiatan konfirmasi saat guru melakukan refleksi pembelajaran, yang awalnya 10 menit menjadi 5 menit. Peneliti memilih kegiatan konfirmasi untuk direduksi waktunya, karena kegiatan tersebut dapat dimampatkan sesuai kebutuhan atau situasional menyesuaikan dengan fakta di lapangan. Fakta ini sekaligus menjadi catatan bagi peneliti sebagai kekurangan dalam proses penelitian.
Pada pertemuan kedua, baik pengamat 1 maupun pengamat 2 tidak mendapati adanyakekurangan dalam proses belajar mengajar. Siswapun menurut para pengamat sangat antusias mengikuti pelajaran di kelas karena termotivasi dan tertarik akan media yang ditampilkan. Selain itu siswa sudah sarapan sehingga kondisi tubuh tidak lemas, dapat antusias dan fokus mengikuti pelajaran.
Karena secara keseluruhan proses belajar mengajar menunjukkan kegiatan dapat dilaksanakan sesuai urutan di RPP, maka keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru (dalam hal ini peneliti) dikatakan berhasil dalam menerapkan tahap-tahap pembelajaran.
Menurut Ormord (2009), belajar jadi bermakna jika menghubungkan informasi baru dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang.  Hal ini sesuai dengan penelitian yang di dalamnya memberikan pengalaman-pengalaman belajar dalam latihan dan diskusi kelompok akan membantu siswa dalam membangun konsep sendiri sehingga konsep tersebut lebih bermakna.
Vygotsky dengan tahapan-tahapan dalam teorinya juga berhubungan dengan penelitian ini. Tahap-tahap tersebut sebagai proses pemberian bantuan dari teman atau orang dewasa (guru) yang lebih kompeten kepada siswa yang kurang berkompeten. Pada umumnya pemberian bantuan terjadi pada tahap-tahap awal pembelajaran kemudian bantuandikurangi secara bertahap, sehingga siswa mampu memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain (self regulated) (Slavin, 2011). Pemberian bantuan atau bimbingan kepada siswa dalam penelitian ini dilakukan saat diskusi memahami materi dalam hal ini sistem pernapasan manusia.
Sesuai dengan informasi pada grafik keterlaksanaan pembelajaran apabila dicermati, maka dapat diketahui bahwa kelima aspek yang diamati dalam pelaksanaan pembelajaran beserta penilaiannya berturut-turut, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan penutup, pengelolaan waktu, dan pengamatan suasana kelas, secara keseluruhan menunjukkan skor kedua pengamat di atas 3 jadi berkategori baik. Hasil ini belum maksimal karena masih sangat mungkin untuk ditingkatkan dengan nilai yang lebih tinggi. Caranya yaitu dengan mengintensifkan perhatian guru kepada siswa saat diskusi kelompok dan diskusi kelas. Saat diskusi kelompok maupun diskusi kelas, guru dan siswa dapat tanya jawab dan berinteraksi langsung dengan beberapa siswa sekaligus. Namun hal ini juga harus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan.

B.     Tanggapan Siswa dan Hasil Belajar Siswa
Menurut Martens (2010) pembelajaran menggunakan computer dapat meningkatkan aktivitas siswa. Kualitas belajar siswa dalam pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis komputer dapat lebih termotivasi dan sikap serta perhatian belajar siswa dapat ditingkatkan dan dipusatkan (Niken, 2010). Banyak penelitian lain yang juga mendapatkan tanggapan positif dari siswa, salah satunya Mbarika (2010) bahwa media pembelajaran dapat mengkonkretkan ide-ide atau gagasan yang bersifat konseptual sehingga mengurangi kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya dan meningkatkan kemampuan kognitif siswa itu sendiri.
Bukan hanya tanggapan positif siswa terhadap media pembelajaran, tetapi juga hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan setelah pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis komputer. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran atau indikator yang tercapai.
Siswa yang tuntas pada Pre Test kemungkinan karena siswa yang tuntas pada salah satu tujuan tersebut memiliki kemampuan lebih dibanding siswa yang lain. Menurut guru kelas, terdapat beberapa siswa dalam kelas tersebut merupakan siswa binaan sebagai peserta olimpiade sains nasional.
Berdasarkan hasil perhitungan nilai Post Test diperoleh bahwa ketuntasan hasil belajar siswa pada sistem pernapasan dengan menggunakan media pembelajaran berbasis komputer mencapai 100%. Terdapat delapan indikator yang peneliti kembangkan hanya indikator kedelapan yang berbunyi membedakan gangguan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pernapasan manusia, yang paling kecil ketuntasannya karena terdapat tujuh siswa yang tidak bisa menyelesaikan soal nomor 9 dengan benar.
Soal nomor 9menurut peneliti yang mewakili indikator kedelapan sangatlah sulit dikerjakan, menuntut siswa untuk mengklasifikasikan berbagai jenis penyakit sistem pernapasan manusia beserta gejala dan penyebabnya. Upaya peneliti agar indikator kedelapan yang diwakili soal nomor 10 dapat tuntas atau tercapai yaitu memfasilitasi siswa dengan melakukan kegiatan diskusi sesuai dengan lembar kegiatan siswa yang sudah disediakan. Hal ini kemungkinan karena soal nomor 9 menurut taksonomi Bloom berada pada ranah kognitif C5 yaitu evaluasi. Ini berarti ketujuh siswa tersebut belum mampu mencapai tingkatan ranah kognitif C5 khususnya kemampuan dalam mengklasifikasi.
Hasil Post Test menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar. Peningkatan ini tidak lepas dari penggunaan media pembelajaran berbasis komputer. Mengacu teori kode ganda bahwa informasi yang disajikan baik secara visual maupun verbal diingat lebih baik dari pada informasi yang hanya disajikan dengan salah satu cara (Paivio, 2006). Media pembelajaran berbasis komputer lebih memotivasi siswa karena dalam media pembelajaran berbantuan komputer mencakup audio visual dan interaktif (Sunyoto, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa fakta di lapangan ketika peneliti menerapkan media pembelajaran berbasis komputer pada kajian sistem pernapasan manusia memiliki kesesuaian dengan teori kode ganda.
Cara untuk mengetahui bahwa peningkatan hasil belajar siswa akibat pengaruh pembelajaran yaitu salah satunya dengan melakukan perhitungan tingkat sensitivitas setiap butir soal. Seluruh nilai indeks sensitivitas butir  soal memiliki nilai positif dan berada di atas ≥ 0,5. Sesuai yang dikatakan Arikunto (2010) bahwa indeks sensitivitas butir soal terdapat di antara 0,00 dan 1,00 dan semakin besar nilai indeks sensitivitas butir soal tersebut, semakin besar/peka pula butir soal tersebut berpengaruh terhadap efek-efek pembelajaran.

SIMPULAN
Berdasarkan pemaparan dan pembahasan hasil penelitian Penerapan Media Pembelajaran Biologi SMA Berbasis Komputer ternyata penerapan media ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa.



DAFTAR RUJUKAN
Akpan, J.P. (2002). Which Comes First: Computer Simulation of Dissection or a Traditional Laboratory Practical Method of Dissection. Electronic Journal of Science Education. Vol. 6, No. 4, June 2002.
Aldrige, Bill. (1995). Science Interaction. Course 2. New York: Glencoe/McGraw-Hill
Ansor, M. 2004. “Penggunaan Multimedia Interaktif Bahan Kajian Genetika”. Tesis Magister Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.
Arikunto, S. 2010. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Carin, A.A. (1997). Teaching Science Through Discovery 8th ed. New Jersey: Prentice-Hall, inc.
Depdiknas, 2003, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Mata Pelajaran Kimia. Jakarta, Depdiknas.
Ibayati, Y. (2002). “Analisis Strategi Mengajar pada Topik Sistem Saraf di SMU”. Tesis Program Pascasarjana UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Kurniati, T. (2001). “Pembelajaran Pendekatan Keterampilan Proses Sains untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa”. Tesis Program Pascasarjana UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Lazarowitz, R & Penso, S. (1992). High School Students Difficulties in Learning Biology Concept. Journal Biological Education 26 (3), 215-223.
Martens, Hans. 2010. “Evaluating Media Literacy Education: Concepts, Theories and Future Directions”. Journal of Media Literacy Education 2:1 (2010) 1 – 22.
Mbarika, V., Bagarukayo, E. 2010. “A Multi-Experimental Study on the Use of Multimedia Instructional Materials to Teach Technical Subjects”. Journal of STEM Education. Vol 1#2 Special Edition 2010.
Michael, J. (2007). “What Makes Physiology hard for Students to Learn? Result of a Faculty Survey”.  Advances in Physiology Education, Volume 31: 34-40, 2007.
Munir. (2008).Kurikulum Berbasis Teknologi Informasidan Komunikasi. Bandung: Alfabeta.
Niken, A. 2010. Pembelajaran Multimedia di Sekolah Pedoman Pembelajaran Inspiratif, Konstruktif, dan Prospektif. Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya.
Ormord, J. E. 2009. Psikologi Pendidikan Edisi Keenam Jilid 1. Jakarta. Erlangga.
Paivio, Allan. 2006. “Dual Coding Theory and Education”. Draft. Draft chapter for the conference on “Pathways to Literacy Achievement for High Poverty Children,” The University of Michigan School of Education, September 29-October 1, 2006.
Rijal. 2003. “Pengaruh Media Gambar Kartun Terhadap Sikap, Minat, dan Motivasi, dan Prestasi Belajar Siswa di SMUN 1 Malang”. Skripsi. Sarjana Jurusan Fisika FMIPA UM.
Sagala, S. 2008. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Salmiyati (2007). “Implementasi Teknologi Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Konsep Saraf untuk Meningkatkkan Pemahaman dan Retensi Siswa”. Tesis Program Pascasarjana UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Slavin, Robert E. 2011. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik Edisi Sembilan. Jakarta: PT Indeks.
Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sunyoto. 2012. “Penggunaan Video Animasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Kompetensi Sistem Starter”. Automotive Science and Education Journal. Vol.1, No.1 (1)/2012.