Rabu, 04 Mei 2016

PENERAPAN MEDIA CERITA BERGAMBAR ASAL USUL BONDOWOSO PADA PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS 4 SDN KLABANG KABUPATEN BONDOWOSO

Tantri Raras Ayuningtyas

Abstrak: Pembelajaran IPS di sekolah dasar memiliki porsi yang cukup untuk mengenalkan sejarah lokal untuk meningkatkan hasil belajar pada siswa yang saat ini mulai banyak mengalami penurunan . Untuk tetap melesatarikan sejarah lokal dan meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan media cerita bergambar agar memudahkan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan tiga siklus tindakan. Kegiatan dalam setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi tindaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas IV SDN Klabang mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dibuktikan dengan tiga siklus pelaksanaan pembelajaran, mengalami peningkatan hasil belajar siswa. Pada siklus pertama ketuntasan hasil belajar siswa 22% dengan nilai rata-rata 46, pada siklus kedua mengalami ketuntasan menjadi 50% dengan nilai rata-rata 62, dan siklus ketiga denagn ketuntasan 72% dengan nilai rata-rata 73.
           
      Kata Kunci: Media Cerita Bergambar, IPS, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Perkembangan IPTEK memberi dampak pada menurunnya kesadaran akan memahami sejarah lokal setempat sehingga seringkali dalam pembelajaran IPS utamanya sejarah, siswa hanya sekedar mampu mengerjakan tanpa mampu memahami arti nilai sejarah yang ada di sekeliling kita. Metode ceramah tidak memberikan kesempatan berdiskusi untuk memecahkan masalah sehingga proses menyerap pengetahuannya kurang tajam, kurang memberikan kesempatan keberanian pada peserta didik untuk mengembangkan keberanian mengemukakan pendapat, terkadang juga kurang ditangkap oleh pendengaran apabila ada kata-kata asing (Sagala, 2011: 206).
Sekolah adalah perantara yg tepat melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menempatkan sejarah lokal dalam pendidikan terintegrasi dengan mata pelajaran IPS di sekolah. Namun pembelajaran di sekolah hanya menitikberatkan pada materi pelajaran dan bersivat konvensional. Menurut Khaeruddin (2007) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang paling tepat untuk menjembatani kesalahpahaman berbagai pihak dalam menafsirkan kurikulum. Dalam KTSP SD pembelajaran IPS memilik porsi yg cukup banyak. Hal ini memberikan peluang bagi guru untuk menyajikan pembelajaran IPS untuk menanamkan pendidikan budi pekerti dlm pelajaran IPS. Untuk mengintegrasikan suatu muatan pembelajaran diperlukan strategi yg menarik agar pembelajaran pendidikan budi pekerti  bisa menjadi efektif
Cara guru memberi bahan pembelajaran mempengaruhi cara belajar siswa. Semakin menarik dan bervariasi menyampaikan materi, akan meningkatkan daya kreativitas & imajinasi siswa Media cerita bergambar diharapkan dapat menarik minat siswa dalam pembelajaran IPS serta siswa  dapat mengenal sejarah lokal dan juga dapat meningkatkan budi pekerti yang diambil dari cerita rakyat setempat. Media berasal dari bahasa latin dari kata medium yang berarti sesuatu yang terletak di tengah (antara dua pihak atau kutub) atau suatu alat. Media pembelajaran sebagai alat peraga adalah merupakan suatu alat yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang riil sehingga memperjelas pengertian belajar (Anitah, 2011: 1-15). Media cerita bergambar merupakan gambar ilustrasi dua dimensi yang mengungkapakan karakter dan menerapkan suatu cerita dalam urutan yang erat hubungannya dengan gambar yang dirancang untuk memberikan hiburan pada pembaca. Media ini digunakan dalam pembelajaran karena dalam masyarakat begitu tinggi minat terhadap cerita bergambar ini. Karena alasan siswa lebih menyukai buku yang bergambar yang penuh warna, sehingga cerita bergambar yang diisi materi pembelajaran dianggap meningkatkan hasil belajar siswa (Daryanto, 2011: 116-117).
Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Cerita rakyat merupakan bagian dari folklor yang melukiskan kebenaran, berisi ajaran moral bahkan sindiran. (James Danandjaja , 1997:6),
Konsep pembelajaran menurut Corey dalam Sagala (2011: 61) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. Pembelajaran di sekolah dasar salah satunya adalah pembelajaran IPS. Somantri dalam Gunawan (2011: 18) Pendidikan IPS merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi dari disiplin akademis ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis untuk tujuan institusiona; pendidikan dasar dan menengah dalam kerangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional berdasarkan Pancasila.
Sedangkan hasil belajar siswa merupakan peranan yang penting akan hasil belajar mengajar. Menurut Oemar Hamalik (2012:159) hasil belajar adalah kegiatan pengukuran, pengolahan, penafsiran dan pertimbangan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan Sardiman (2011:19) mengatakan bahwa hasil belajar adalah hasil dari proses belajar-mengajar yang optimal apabila dilakukan dengan sadar dan sengaja serta terorganisasi secara baik. Sasaran kegiatan belajar yang merupakan hasil belajar berupa perilaku terjadi setelah proses pembelajaran berlangsung harus mencapai 3 ketegori ranah yang dalam pembelajaran antara lain kognitif, afektif, psikomotor.
Hasil belajar menurut Sugihartono, dkk (2007: 76-77) sangat dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Rumusan Masalah
Dari uraian diatas, dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut : (1) Bagaimana penerapan media cerita bergambar asal usul Bondowoso pada pembelajaran IPS  untuk meningtkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Klabang Kabupaten Bondowoso ?; (2) Bagaimana hasil penerapan media cerita bergambar asal usul Bondowoso pada pembelajaran IPS  untuk meningtkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Klabang Kabupaten Bondowoso?;
Sesuai dengan permasalahan yang etlah dikemukakan, maka tujuan penelitian yaitu; (1) Untuk mengetahui penerapan media cerita bergambar asal usul Bondowoso pada pembelajaran IPS  untuk meningtkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Klabang Kabupaten Bondowoso; (2) Untuk mengetahui hasil penerapan media cerita bergambar asal usul Bondowoso pada pembelajaran IPS  untuk meningtkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Klabang Kabupaten Bondowoso?.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas IV di SDN Klabang Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dimana penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Masing – masing siklus melalui tahapan: perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.. Penelitian dilakukan dengan menggunkana media cerita bergambar agar siswa lebih mengenal peninggalan sejarah setempat.
Tolak ukur keberhasilan siswa adalah terjadinya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan nilai minimal rata-rata kelas 70,00 dengan presentase ketuntasan belajar minimal sebesar 75% dari seluruh siswa.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes hasil belajar dan dokumen. Untuk lebih menjamin dan menyakinkan suatu data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini, diperlukan teknik validitas data yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu trianggulasi. Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai bahan pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2001: 31). Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan teknik analisis data deskriptif  kualitatif  karena walaupun  mengandalkan analisis-analisis kualitatif yang akurat dan andal, namun pengaruh arus berpikir kuantitatif masih kuat terutama dalam penempatan teori pada data yang diperoleh (Burhan, 2011: 26).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan selama 3 siklus, dimana dalam setiap siklus masing-masing 2 kali pertemuan. Sebelumnya peneliti melakukan observasi awal dan melakukan kerja sama dengan guru kelas dan guru mitra dalam pembuatan RPP yang disesuaikan dengan silabus. Saat akan melakukan pembelajaran selain menyiapkan perangkat mengajar juga menyiapkan media pembelajaran berupa cerita bergambar Asal usul Kota Bondowoso dalam pokok bahasan menghargai peninggalan sejarah setempat.
Pada pra siklus, awal pembelajaran guru melakukan apersepsi dengan menjelaskan pokok bahasan materi. Guru menerangkan tentang peninggalan-peninggalan sejarah, guru menjelaskan berbagai peninggalan sejarah yang ada di sekitar, kemudian siswa diberi kesempatan membaca kembali buku pelajaran IPS  kemudian siswa diberi kesempatan untuk mengerjakan lembar kerja siswa secara individu.  Kemudian pada pertemuan kedua setelah guru selesai mengikuti langkah-langkah pengajaran sesuai dengan RPP, guru dan siswa mengevaluasi bersama lembar kerja siswa yang sudah dikerjakan ecara individu oleh siswa. Selanjutnya guru melakukan evaluasi melalui hasil lembar kerja siswa dan pada pra siklus diperoleh nilai dengan rata-rata kelas 46 dengan nilai terendah 26 dan nilai tertinggi 76 dari 32 siswa. Jumlah siswa yang mendapatkan ketuntasan belajar hanya 6 orang siswa. Dari hasil pembelajaran dan pengamatan peneliti dan guru mitra mengambil keputusan untuk melanjutkan ke siklus I dengan memberikan treatment media cerita bergambar karena  pada pra siklus nampak  tidak menunjukkan ketuntatsan secara menyeluruh. Guru juga masih belum melaksanakan pengajaran dengan cara metod yang kreativ dan inovativ, masih menggunakan metode konvemsional sehingga siswa tidak memahami materi secara menyeluruh.
            Pada siklus I, guru mulai menerapkan metode diskusi dengan pemberian media cerita bergambar asal usul Bondowoso. Pertemuan pertama guru melakukan apersepsi kegiatan awal pembelajaran. Kemudian guru mulai membagi kelompok siswa dengan masing-masing jumlahnya 4 siswa tiap kelompok. Guru mulai menerangkan sedikit tentang peninggalan sejarah di sekitar dengan memberikan contoh cerita rakyat Asal usul Bondowso dan peninggalannya. Kemudian guru membagikan cerita bergambar pada siswa dan member kesempatan pada siswa untuk belajar memahami cerita sejarah lokal dari cerita bergambar yang dibagikan. Kemudian siswa diberi lembar kerja siswa dan diberikan waktu untuk berdiskusi membahas dan mengerjakan tugas. Selanjutnya siswa diberikan kesempatan saling mengevaluasi dengan mempresentasikan hasil jawaban, mengutarakan pendapat di depan kelas.
Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 63 dengan jumlah siswa 32. Nilai terendah adalah 30 dan nilai tertingi adalah 100 dengan jumlah siswa tuntas 16 siswa atau 50 %. Hasil pengamatan pada siklus I sudah mengalami peningkatan dari pra siklus sebelumnya. Cara pengajaran guru sudah menjadi lebih baik dengan menerapkan  dan sikap siswa saat pembelajaran sudah mengalami perubahan. Diskusi sudah mulai berjalan baik namun guru belum sepenuhnya membimbing siswa secara individu maupun berkelompok sehingga dilanjutkan pada siklus II.
            Selanjutnya. pembelajaran siklus II lebih menitikberatkan pada diskusi bersama dengan membaca cerita bergambar bersama-sama dan memahami cara menghargai peninggalan sejarah setempat. Guru sudah mampu memberikan bimbingan pada siswa secara menyeluruh dan merata sehingga siswa memahami sepenuhnya materi melalui proses pembelajaran. Kemudian setiap kelompok diminta merangkum pembelajaran dengan menceritakan kembali peninggalan sejarah sesuai dengan media cerita bergambar yang telah dibaca siswa dikaitkan dengan buku materi IPS kelas IV SD. Pada siklus II, siswa telah mencapai ketuntasan sebesar 75% dari 32 siswa dengan nilai rata-rata 73. Nilai tertinggi siswa adalah 100 dan nilai terendah 65. Jumlah siswa tuntas sebanyak 23 siswa. Hal ini tergambar dalam table dan diagram berikut :

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa
Uraian
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
Jumlah Siswa
32
32
32
Rata-rata Nilai
46
63
73
Presentase (%)
22 %
50 %
72 %
Jumlah Siswa Tuntas
7
16
23
Sumber : hasil penelitian
Gambar 1. Diagram Ketuntasan Belajar

Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian diketahui beberapa manfaat yang cukup besar dari pembelajaran menggunakan media cerita bergambar antara lain (1) siswa merasa senang dan tidak bosan selama pelajaran sehingga menarik minat belajar siswa (2) memberikan kemudahan pada  siswa dalam pemahaman materi pelajaran yang selama ini  sering mengalami kesulitan untuk dipelajari dengan mengkaitkan materi pelajaran dan menyesuaikan media pembelajaran yang sifatnya konseptual sehingga dapat memberikan kejelasan materi pelajaran yang disampaikan (tidak verbalistik) (3) meningkatkan hasil belajar siswa karena mampu merangsang proses berfikir siswa untuk berkembang dan memahami konsep dan memiliki kesiapan belajar yang baik


SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan penelitian dan Pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan media cerita bergambar asal usul Bondowoso melalui pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas IV SDN Klabang Kabupaten Bondowoso. Berdasarkan hasil observasi terhadap siswa yang dilakukan pada tiap kegiatan pembelajaran selama tahap pelaksanaan ketiga siklus tindakan serta analisis terhadap data yang dikumpulkan, presentase keberhasilan, tindakan menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Beberapa tindakan perbaikan hasil refleksi pra siklus, siklus I dan siklus II terbukti efektif meningkatkan keberhasilan tindakan dan peningkatan hasil belajar siswa. Deskripsi penelitian menggambarkan evaluasi penerapan media cerita bergambar Asal Usul Bondowoso dikembangkan untuk mengukur kemampuan siswa dalam hasil yang dicapai dalam pembelajaran IPS dan dilakukan melalui pre-test dan post test. Berikuit ini dipaparkan hasil tes pemahaman materi dan pengamatan hasil  pembelajaran siswa dari tindakan pra siklus sampai dengan siklus ke dua. Hasil tes pra siklus nilai tertinggi 76 dan nilai terendah 20, nilai rerata adalah 46 Pada siklus I, nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 30 dengan nilai rerata 63. Pada siklus ke II nilai tertinggi 100 nilai terendah 60 dengan nilai rerata 73. Nilai ketuntasan minimum adalah 70.
Sedangkan pemahaman siswa dalam perkembangan kognitif mengalami peningkatan dalam proses pembelajaran berdasarkan hasil tes akhir namun menjadi tujuan utama adalah hasil tes kognitif siswa sehingga menjadikan perubahan nilai siswa menjadi baik dan meningkat setelah memahami tujuan pembelajaran IPS. Sedangkan hasil tes afektif terlihat saat proses pmbelajaran maupun diskusi dengan teman kelompok, para siswa sudah dapat saling menghargai pendapat teman, saling menghormati, rasa bertanggung jawab sehingga suasana kelas menjadi sangat hidup dan semakin tinggi rasa kebersamaan siswa dalam membahas materi yang diberikan peneliti dan guru mitra, sisi lain juga terjadi perubahan kedisiplinan terbukti dengan suasana kelas semakin hari menjadi semakin tertib, tidak ada kegaduhan di kelas saat proses pembelajaran dan tingkat kehadiran siswa yang mengikuti pembelajaran tetap tinggi.
Tingkat psikomotorik siswa dapat diukur dengan ketrampilan siswa dalam belajar berdiskusi dengan teman sebangku yaitu penyampaian pertanyaan semakin baik, menjawab dan menyangah pertanyaan dengan saling menghargai pendapat teman sehingga dapat diterima oleh siswa dan terlihat siswa sangat menyukai pembelajaran menggunakan media cerita bergambar.
Penilaian didalam pembelajaran tidak terfokus pada aspek kognitif saja, namun dapat terliht pad aspek psikomotorik dan afektif yang diberikan oleh guru dapat dilaksanakan dengan baik. Terutama dalam metode penelitian tindakan kelas pada penerpan media pembelajarn cerita bergambar asal usul Bondowoso dalam pembelajaran IPS ternyata dibutuhkan kemampuan siswa dengan memahami cerita bergambar untuk mengerti isi materi. Afektif pada siswa dapat terukur apabila siswa dapat menunjukkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dan lingkungan belajar dengan terlihat pada perilaku disiplin, bertanggung jawab, rasa saling menghargai, rasa menghormati terhadap teman.
Dari hasil kesimpulan penelitian maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut :
1)        Bagi siswa perlu adanya perubahan cara belajar dalam kelas dengan berdiskusi dengan teman sehingga penguasaan materi dapat diperoleh secarah menyeluruh.
2)        Bagi guru untuk lebih kreatif dalam metode pengajaran dan pemilihan media agar siswa lebih tertarik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3)        Bagi sekolah hendaknya member kesempatan dan motivasi pada guru untuk lebih meningkatkan kreatifitas guru dengan menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung serta memberi penghargaan pada guru yang tingkat kreatifitas dalam menciptakan media pembelajaran
4)        Bagi pemerintah diharapkan memfasilitasi guru yang kreatif menciptakan media pembelajaran yang menaik dengan mengenalkan hasil penelitiannya pada MGMP, sekolah lain dan Dinas Pendidikan.


DAFTAR RUJUKAN
Anitah, Sri. 2008. Media Pembelajaran. Surakarta: LPP UNS dan UNS Press.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Azwar, Saifuddin. 2009. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Bungin, Burhan. 2012. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Daryanto. 2011. Media Pembelajaran. Bandung: Satu Nusa.
Gino, H.J . 1993. Belajar dan Pembelajaran I. Surakarta : UNS Press
Gunawan, Rudy. 2011. Pendidikan IPS: Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Bandung: Alfabeta.
Hamalik, Oemar. 2012. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Khaeruddin H,dkk. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP, Konsep dan Implementasinya di Madrasah. Semarang: Nuansa Aksara
Kesuma, Dharma, dkk. 2011. Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kunandar. 2010. Guru Profesional. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Miles, Matthew dan Michael Huberman. 2009. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia.
Moloeng, lexy J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda.
Musfiqon. 2012. Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Sagala, Syaiful. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Sapriya. 2011. Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sardiman, A.M.. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:  Raja Grafindo Persada.
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Sutopo, H.B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret