Rabu, 04 Mei 2016

PENERAPAN DEEP DIALOGUE/ CRITICAL THINKING  DENGAN
PENDETAKAN SCIENTIFIC UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SEJARAH

Sri Handayani Nurul Umamah,. Zainul M.A.
E-mail: umamahnurul@ymail.com

Abstract:The background of this research is the problem of educators still use speech as the only method which dominating in teaching historical. Learners in learning the historical just passively receive materials about the past that is difficult to digest and requires memorization to learn. As a result, students are less critical and low learning results. The method this resulting into low critical thinking and the results have not reached mastery. The purpose of this research is to improve critical thinking skills and learning outcomes using the history of Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT) with the Scientific approach to the students of class X-2 IS SMAN Arjasa. The implementation of this study began in April-May 2014. This research is a classroom action research. The subjects were students of class X-IS 2 with a total of 36 learners. Research data collection using the method of observation, interviews, tests, and documentation. The indicators will be examined in this study is the critical thinking skills and student learning outcomes. Critical thinking skills of learners in the classical in cycle 1 gained 63,25%, on cycle 2 increased 11.58% to 70,58%, at 3 cycles increased 12,50% to 79,41%. In cycle 1 cognitive achievement gain a percentage of 66.67%, in cycle 2 increased 8,33% to 72,22% in cycle 3 increased 7,69% to 77.78%. Psychomotor learning outcomes in cycle 1 to obtain a percentage of 54.51%, in cycle 2 increased 23.57% to 67,36% and the 3 cycles increased 15,46% to 77,78%. Based on the explanation above it can be concluded that the application of Deep Dialogue / Critical Thinking (DD/CT) with a Scientific approach can improve critical thinking skills and student learning outcomes history class X-2 IS SMAN Arjasa.

      Key words: Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) with Scientific Approach, Critical Thinking Skills of Students, Learning Outcomes of  Students

PENDAHULUAN
Pembelajaran sejarah seringkali dianggap hanya sebagai pelajaran hafalan yang membosankan.  Pembelajaran sejarah yang berlangsung di kelas X IS-2 SMAN Arjasa pendidik menggunakan metode ceramah, diskusi dan penugasan. Pendidik kurang mendorong peserta didik berpikir kritis dan mengekspresikan pendapatnya secara bebas untuk menyelesaikan permasalahan dalam proses diskusi. Hal tersebut menyebabkan peserta didik kurang mampu untuk menyampaikan dan mempertahankan pendapat, kurang mampu membandingkan dan mengevaluasi argumen peserta didik lainnya, belum mampu menganalisis jawaban serta memecahkan masalah dari suatu pertanyaan.
Pembelajaran sejarah menurut kurikulum 2013 adalah pembelajaran yang mengharapkan peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis & analitis sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Pendidik dalam pembelajaran hanya sebagai fasilitator, kolaborator, navigator pengetahuan, mitra belajar, pembimbing/konselor memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab pada setiap peserta didik dalam proses pembelajaran (Kemendikbud, 2013:102).
Proses pembelajaran sejarah memerlukan pemahaman dan analisis kritis terhadap bukti-bukti sejarah (Depdiknas, 2004:1). Kurikulum 2013 diarahkan untuk mendorong peserta didik guna mencari tahu informasi. Pendidik tidak dianggap selalu tahu tentang segalanya. Peserta didik diharapkan untuk lebih aktif mencari informasi sendiri, tanpa harus bergantung pada pendidik.  Rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik menyebabkan tujuan pembelajaran tidak tercapai. Usaha peneliti dan pendidik untuk mengatasi permasalahan rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dilakukan dengan penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific pada pembelajaran sejarah kelas X IS-2 SMAN Arjasa, sehingga dapat memenuhi pembelajaran yang diharapkan pada kurikulum 2013.
Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) menuntut peserta didik menggunakan logika, menganalisis fakta-fakta dan melahirkan imajinatif atas ide-ide lokal dan tradisional, sehingga dapat meningkatkan peserta didik untuk berfikir mandiri (Swidler, 2013:1). Pendekatan Scientific adalah pendekatan yang menggunakan langkah pembelajaran sesuai dengan pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan, dan berpikir kritis (Depdikbud, 2013:7). Pembelajaran sejarah menggunakan Deep Dialogue Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific  menuntut untuk mampu berpikir kritis dan imajinatif, menggunakan logika dan menganalisis fakta-fakta.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik. Berikut ini penelitian yang relevan yaitu: penelitian  yang dilakukan oleh Trianasari (2006) menunjukkan bahwa DD/CT dengan Pendekatan Problem Solving dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran fisika. Penelitian yang dilakukan Sugiyanto (2008) menunjukkan bahwa DD/CT dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Penelitian yang dilakukan oleh Aisiyah (2010) menunjukkan bahwa  DD/CT dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS. Penelitian yang dilakukan Atsnan dan Gazali (2013) menunjukkan bahwa pendekatan Scientific dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Penelitian yang dilakukan Swidler (2013) menyatakan bahwa DD/CT menuntut peserta didik untuk berusaha untuk memahami setepat mungkin apa yang dipikirkan.

Permasalahan yang dibahas adalah:
1.Apakah penerapan Deep Dialgue/ Critical Thinking dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas  X IS-2 SMAN Arjasa ?
2.Apakah penerapan Deep Dialgue/ Critical Thinking dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan hasil belajar sejarah peserta didik kelas  X IS-2 SMAN Arjasa?
          Tujuan penelitian ini adalah:  1)Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas  X IS-2 SMAN Arjasa  melalui penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific; 2)Untuk meningkatkan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X IS-2 SMAN Arjasa melalui penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific.
Manfaat penelitian ini adalah: 1) Bagi pendidik, sebagai masukan dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi, khususnya mata pelajaran sejarah. Bagi peserta didik, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik terhadap mata pelajaran sejarah, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran; 2)Bagi sekolah yang diteliti, memberikan masukan dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah di SMA Negeri Arjasa.; 3)Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian yang serupa pada masa yang akan datang.

METODE PENELITIAN
            Subjek penelitian adalah peserta didik kelas X IS-2 SMAN Arjasa, dengan jumlah peserta didik sebanyak 36 peserta didik, 23 peserta didik laki-laki dan 13 peserta didik perempuan. Peneliti memilih kelas X IS-2 dikarenakan saat peneliti melakukan observasi diketahui bahwa kelas X IS-2 tergolong kelas yang pasif. Kemampuan berpikir kritis rendah dan hasi belajar masih kurang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan proses pembelajaran dengan melakukan perubahan kearah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran (Arikunto, 2010:105).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengamati  proses pelaksanaan Deep Dialgue/ Critical Thinking dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menganalisis apakah terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik tiap siklus.  Peserta didik dinyatakan tuntas apabila hasil tes memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75 dari skor maksimal 100. Ketuntasan klasikal minimal mencapai 75%. Dinyatakan berpikir kritis apabila mencapai skor 70% dari skor maksimal 100% diukur dari kemampuan peserta didik dalam menyampaikan pendapat, mempertahankan pendapat, menarik kesimpulan, membuat perbandingan, dan mengevaluasi argumen.
Rumus yang digunakan untuk mengetahui persentase kemampuan berpikir kritis peserta didik sebagai berikut:
SA =∑ SP x 100%
 ∑ SM
Keterangan:
SA = Skor akhir
SP = Skor yang diperoleh
SM = Skor maksimal yang diperoleh
Peningkatan persentase kemampuan berpikir kritis, hasil belajar individu, hasil belajar klasikal dan ketuntasan hasil belajar peserta didik dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Persentase Peningkatan = Y1-Y x 100%
                                                                                                                                    Y
(Sudijono, 2009:43)
Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar peserta didik digunakan rumus persentase ketuntasan hasil belajar sebagai berikut:
 Rumus persentase ketuntasan = Jumlah peserta didik yang tuntas x100% 
Jumlah seluruh peserta didik

HASIL DAN PEMBAHASAN
            Bagian ini memaparkan hasil dan pembahasan penelitian yang dilakukan di kelas  X IS-2 SMAN Arjasa  
A. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas X IS-2 SMAN Arjasa dengan Penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Sejarah
             Peningkatan kemampuan berpikir kritis melalui penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific dapat diketahui dengan cara membandingkan kemampuan berpikir kritis per siklus. Hasil analisis persentase kemampuan berpikir kritis peserta didik pada siklus 1, siklus 2, siklus 3 disajikan dalam gambar berikut ini:
 
         Berdasarkan gambar 1. dapat diketahui presentase kemampuan berpikir kritis peserta didik per siklus. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan terhadap motivasi belajar peserta didik. Pada siklus 1 kemampuan berpikir kritis peserta didik indikator menyampaikan pendapat memperoleh presentase sebesar 56,94% dengan kriteria kurang kritis, meningkat sebesar 23,16% pada siklus 2 menjadi 70,13% dengan kriteria kritis, pada siklus 3 meningkat sebesar 14,85% menjadi 80,55% dengan kriteria sangat kritis. Pada siklus 1 kemampuan berpikir kritis peserta didik indikator menyampaikan pendapat memperoleh presentase sebesar 56,94% dengan predikat kurang kritis, meningkat sebesar 23,16% pada siklus 2 menjadi 70,13% dengan predikat kritis, pada siklus 3 meningkat sebesar 14,85% menjadi 80,55% dengan predikat sangat kritis. Kemampuan berpikir kritis indikator mempertahankan pendapat pada siklus 1 memperoleh presentase 60,41% dengan predikat cukup kritis, pada siklus 2 meningkat 18,39% menjadi 71,52% dengan predikat kritis dan pada siklus 3 meningkat 14,56% menjadi 81,94% dengan predikat sangat kritis. Kemampuan berpikir kritis indikator menarik kesimpulan pada siklus 1 memperoleh presentase 56,25% dengan predikat kurang kritis, pada siklus 2 meningkat 23,44% menjadi 69,44% dengan predikat cukup kritis dan pada siklus 3 meningkat 14,56% menjadi 79,16% dengan predikat sangat kritis. Kemampuan berpikir kritis indikator membuat perbandingan pada siklus 1 memperoleh presentase 59,72% dengan predikat kurang kritis, pada siklus 2 meningkat 20,93% menjadi 72,22% dengan predikat cukup kritis dan pada siklus 3 meningkat 7,69% menjadi 77,78% dengan predikat sangat kritis. Kemampuan berpikir kritis indikator mengevaluasi argumen pada siklus 1 memperoleh presentase 61,11% dengan predikat cukup kritis, pada siklus 2 meningkat 17,03% menjadi 71,52% dengan predikat kritis dan pada siklus 3 meningkat 11,66% menjadi 79,86% dengan predikat sangat kritis (lihat Lampiran K).
                        Berdasarkan analisis di atas, terjadi peningkatan pada kemampuan berpikir kritis peserta didik setelah diterapkan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific.  Hal ini sesuai dengan pendapat (Kamdi 2007:26-27 dan Kemendikbud 2014:68) bahwa Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT)  pendekatan Scientific dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada indikator menyampaikan pendapat, mempertahankan pendapat, menarik kesimpulan, mebuat    perbandingan, mengevaluasi argumen.         
           
B. Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas  X IS-2 SMAN Arjasa dengan Penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT)  dengan pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Sejarah
                        Peningkatan hasil belajar peserta didik menerapkan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT)  pendekatan Scientific dapat diketahui dengan membandingkan hasil belajar  siklus 1, siklus 2 dan siklus 3. Berdasarkan analisis hasil belajar peserta didik (aspek kognitif dan psikomotor) pada  siklus 1, siklus 2 dan siklus 3, diperoleh peningkatan hasil belajar yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil belajar (kognitif) peserta didik per siklus
Siklus 1

Siklus 2

Peningkatan
Siklus 3

Peningkatan
66,67%
72,22%
8,34%
77,78%
7,69%

Sumber : Hasil Peneliitian Per Siklus
   Berdasarkan Tabel 1. dapat dilihat bahwa ketuntasan hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan. Ketuntasan klasikal, dicapai ketuntasan minimal ³75% peserta didik yang telah mencapai ketuntasan individual 75% dari nilai maksimal 100%. Pada siklus 1 hasil belajar peserta didik memperoleh ketuntasan 66,67%, pada siklus 2 meningkat sebesar 8,33% menjadi  72,22%,  pada siklus 3 meningkat 7,69% menjadi 77,78% (lihat lampiran I).
Hasil analisis persentase hasil belajar aspek psikomotorik peserta didik pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 yang disajikan dalam diagram dibawah ini:n
Gambar 2. Peningkatan Hasil Belajar Psikomotor (Data Primer diolah)
Berdasarkan gambar 2. dapat diketahui peningkatan hasil belajar psikomotor dengan indikator menganalisis fakta dan memecahkan masalah. Pada siklus 1 indikator menganalisis fakta memperoleh presentase sebesar 55,16%, pada siklus 2 meningkat 17,07% menjadi 64,58%, siklus 3 meningkat 11,83% menjadi 72,22%. Indikator memecahkan masalah pada siklus memperoleh presentase sebesar 54,86%, pada siklus 2 meningkat 27,83% menjadi 70,13%, siklus 3 meningkat 13,87% menjadi 79,86% (lihat Lampiran J).
Hasil analisis persentase hasil belajar sejarah peserta didik dengan penerepan Deep Dialogue/ Critical (DD/CT) dengan pendekatan Scientific pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 disajikan dalam diagram dibawah ini:

Gambar 3. Peningkatan Hasil Belajar Kognitif dan Psikomotor
Berdasarkan hasil observasi pada pelaksanaan siklus 1, 2, dan 3 dapat dibuktikan bahwa penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik kelas  X IS-2 SMAN Arjasa. Berdasarkan gambar 3. diatas dapat diketahui bahwa hasil belajar sejarah peserta didik mengalami peningkatan dari siklus 1, 2 dan 3. Hasil belajar peserta didik aspek kognitif  pada siklus 1 sebesar 66,67%, pada siklus 2 meningkat 8,33% menjadi 72,22%, dan pada siklus 3 meningkat 7,69% menjadi 77,78%. Hasil belajar peserta didik aspek psikomotorik pada siklus 1 sebesar 54,51%, pada siklus 2 meningkat 23,57% menjadi 67,36%, dan pada siklus 3 meningkat 12,88% menjadi 76,04%. Berdasarkan hasil penilaian pada pelaksanaan siklus 1, 2, dan 3 dapat disimpulkan bahwa penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X IS-2 SMAN Arjasa. Hal tersebut sesuai dengan Depdikbud (2013:7) bahwa proses pembelajaran semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan, dan berpikir kritis .

KESIMPULAN DAN SARAN
           Berdasarkan penelitian tentang penerapan model pembelajaran Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X IS-2 SMAN Arjasa dapat disimpulkan sebagai berikut.
         Penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific pada pembelajaran sejarah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X IS-2 SMAN Arjasa. Kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran sejarah diukur melalui penilaian proses. Penilaian proses dinilai dari kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan indikator (1) kemampuan menyampaikan pendapat; (2) kemampuan mempertahankan pendapat; (3) kemampuan membuat membuat perbandingan; (4) kemampuan mengevaluasi argumen (5) kemampuan menarik kesimpulan. Pada siklus 1 kemampuan berpikir kritis indikator menyampaikan pendapat memperoleh presentase 56,94%, pada siklus 2 meningkat 23,16% menjadi 70,13%, dan pada siklus 3 meningkat 14,85% menjadi 80,55%. Indikator  mempertahankan pendapat pada siklus 1 memperoleh presentase sebesar 60,41%, pada siklus 2 meningkat 18,39% menjadi 71,52% dan pada siklus 3 meningkat sebesar 14,56% menjadi 81,94% Indikator menarik kesimpulan pada siklus 1 memperoleh presentase sebesar 56,25%, pada siklus 2 meningkat 23,44% menjadi 69,44% dan pada siklus 3 meningkat sebesar 13,99% menjadi 79,16%. Indikator membuat perbandingan pada siklus 1 memperoleh presentase sebesar 59,72%, pada siklus 2 meningkat 20,93% menjadi 72,22% dan pada siklus 3 meningkat 7,69%, menjadi 77,77%. Indikator mengevaluasi argumen pada siklus 1 memperoleh presentase sebesar 61,11%, pada siklus 2 meningkat 17,03% menjadi 71,52%, dan pada siklus 3 meningkat sebesar 11,66% menjadi 79,86% .
                Penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific pada pembelajaran sejarah dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X IS-2 SMAN Arjasa. Peningkatan hasil belajar sejarah dengan penerapan metode pembelajaran Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific pada peserta didik kelas X IS-2 SMAN Arjasa yaitu, pada siklus 1 aspek kognitif memperoleh persentase sebesar 66,67%, pada siklus 2 meningkat 8,33% menjadi 72,22% dan pada siklus 3 meningkat 7,69% menjadi 77,78%. Aspek psikomotorik diukur dengan indikator menganalisis fakta dan memecahkan masalah. Pada siklus 1 indikator menganalisis fakta memperoleh presentase 55,16%, pada siklus 2 meningkat 17,07% menjadi 64,58% dan pada siklus 3 meningkat 11,83% menjadi 72,22%. Pada siklus 1 indikator memecahkan masalah memperoleh presentase sebesar 54,86%, pada siklus 2 meningkat 27,83% menjadi 70,13% dan pada siklus 3 meningkat 12,88% menjadi 76,04%

DAFTAR RUJUKAN
 Arikunto, S. 2010. Penelitian  Tindakan  Kelas.   Jakarta: PT. Bumi Aksara

Aisiyah. D. 2010. Penerapan Pendekatan Deep  Dialogue/ Critical Tinking (DD/CT) Untuk
Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil  Belajar Siswa Mata Pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) Pada Siswa Kelas VII SMPN 2 Sukowono Tahun Pembelajaran 2009/2010. Jember: FKIP Universitas Jember (Skripsi tidak diterbitkan).

 Atsnan, M.F. & Gazali R. Y. Penerapan pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Matematika SMP Kelas VII Materi Bilangan (Pecahan). Yogyakarta. Jurnal Pendidikan. ISBN : 978 – 979 – 16353 – 9 – 4, 9 November 2013.

Depdiknas. 2004. Kurikulum dan Hasil Belajar Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial SMP dan MTS. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.

Depdikbud. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdikbud.

Kamdi, W. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Malang: Universitas Negeri Malang.

Kemendikbud. 2014. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014 Mata Pelajaran SMA/SMK. Jakarta: Badan Pengembangan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.

Kemendikbud. 2013. Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sudijono, A. 2013. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sugiyanto. 2009. Pengaruh Model Pembelajaran Deep dialogue/Critical Thinking (DD/CT)dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika pada Materi Pokok Himpunan Siswa Kelas I MMI Pondok Pesantren Mathlabul Ulum Jambu Lenteng Sumenep Tahun Ajaran 2008–2009. Kediri. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusantara PGRI Kediri (Skripsi tidak diterbitkan).

Swidler, L. 2013. 7 Stages of Deep Dialogue and Critical Thinking. Institute of Interreligious Intercultural Dialogue.

Trianasari, E. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Deep Dialogue Critical Thinking (DD/CT) dengan Strategi Problem Solving (Pada Mata Pelajaran Fisika Kelas IX di SMA Negeri Rambipuji). Jember : FKIP Universitas Jember (Skripsi tidak diterbitkan).