Rabu, 04 Mei 2016

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS  NILAI-NILAI MUSIK PATROL DALAM MATA PELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR NEGERI KEPATIHAN 06 JEMBER UNTUK MELESTARIKAN BUDAYA LOKAL

Gandung Wirawan

Abstrak: Ilmu Pengetahuan Sosial dan budaya lokal merupakan dua unsur yang tidak boleh dipisahkan dalam dunia pendidikan di Indonesia, dimana hakikat pembelajaran IPS adalah mentransformasikan nilai luhur budaya yang terkandung dalam budaya lokal. Begitu pula di kabupaten Jember, pengenalan nilai-nilai musik patrol sebagai bagian dalam pembelajaran IPS sangat dibutuhkan guna melestarikan kebudayaan yang dimiliki. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap siswa kelas IV SDN Kepatihan 06 Jember untuk melestarikan budaya lokal mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan kenaikan pada siklus I dan II, dimana pada siklus I siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimum sebesar 43,33% dengan nilai rata-rata 72,23 dan pada Silus dua ketuntasan belajar siswa mencapai 76,66% dengan nilai rata-rata 77,80. Kesimpulan dalam Penelitian ini adalah implementasi pembelajaran IPS berbasis nilai-nilai musik patrol dapat meningkatkan sikap siswa dalam melestarikan budaya lokal kabupaten Jember.

     Kata Kunci: Pembelajaran IPS, Musik Patrol, Budaya Lokal

PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya terbesar di dunia. Dewasa ini, generasi muda penerus bangsa sudah mengalami deviasi budaya, dimana budaya lokal warisan leluhur  yang seharusnya dipertahankan dan dilestarikan mulai diabaikan, ditinggalkan dan diganti oleh budaya asing yang tidak relevan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan kita sehari-hari. Bila kita perhatikan generasi muda sekarang mulai tidak hafal dengan lagu daerah, karena tergeser dengan lagu-lagu modern bercorak R&B dan lagu Korean Pop yang lebih dikenal dengan istilah K-Pop, begitu pula dengan tari-tarian daerah seperti Serampang dua belas, Tari Kecak, Tari Sablang, dan tari-tarian daerah lain kekayaan nusantara tidak lagi dikenali gerakan-gerakannya, bahkan generasi muda lebih popular dengan tarian korea Gangnam Style, tarian jalanan dari Amerika Serikat Break Dance dan mereka sering mempertunjukkan dalam kegiatan-kegiatan pentas seni di sekolah.
Hal ini juga berlaku di Sekolah Dasar Negeri Kepatihan 06 Jember, dimana mayoritas siswa kelas IV tidak mengetahui budaya apa yang dimiliki oleh Kabupaten Jember, seharusnya materi tersebut terdapat pada Kompetensi Dasar (K.D) 1.4 menghargai keragaman suku bangsa dan budaya Setempat. Setelah dikonfirmasi dengan guru wali kelas IV hal itu dibenarkan oleh guru karena pada K.D 1.4 materi yang diajarkan oleh guru berdasarkan buku LKS dan buku paket memang tidak ada materi tentang pengenalan budaya Kabupaten Jember dan Guru pun ragu untuk memberikan wawasan tentang budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Jember karena tidak menemukan buku ataupun bahan ajar yang kredibel.
            Bila kita mencari akar permasalahan atau mencari siapa yang keliru dalam hal ini sudah barang tentu tidak ada gunanya, semua memiliki peran masing-masing dalam mengembalikan generasi penerus bangsa Indonesia kedalam nilai luhur budaya bangsa dan pendidikan merupakan sarana yang paling ampuh untuk mengembalikan generasi muda ke jalur yang sudah dicita-citakan oleh pendiri bangsa, karena menurut Tilaar (2012: 855-856) hakikat pendidikan adalah proses pembudayaan. Sejalan dengan pernyataan diatas Koentjaraningrat (2009: 144-145) menyatakan bahwa kebudayaan sendiri harus dibiasakan dengan belajar. Jadi intisari dalam dunia pendidikan adalah menstransformasi budaya yang dimiliki bangsa untuk disosialisaikan kepada generasi penerus bangsa.
            Menilik kurikulum Negara Indonesia, sebenarnya budaya lokal atau lokal wisdom dapat dimasukkan kedalam kurikulum di semua jenjang pendidikan Karena baik dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) maupun K-13 memberikan keluasan dalam memberikan materi, akan tetapi di SDN Kepatihan 06 Jember belum memberlakukan K-13 sehingga rujukan yang diberlakukan sekolah menggunakan KTSP. Menghadapi permasalahan yang ada, pembelajaran IPS di kelas IV SD perlu dilakuakan pembenahan dalam hal materi ajar dan solusi yang ditawarkan adalah materi ajar dengan penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam musik patrol yang merupakan kebudayaan yang dimiliki Kabupaten Jember
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut; 1) Bagaimana implementasi pembelajaran berbasis nilai-nilai musik patrol dalam mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar Negeri Kepatihan 06 Jember ?; 2) Bagaimana hasil implementasi pembelajaran berbasis nilai-nilai musik patrol dalam mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar Negeri Kepatihan 06 Jember untuk melestarikan budaya lokal ?, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi dan hasil pembelajaran berbasisis nilai-nilai musik patrol dalam mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar Negeri Kepatihan 06 Jember untuk melestarikan kebudayaan lokal


METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri  Kepatihan 06 Jember dan jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut (Arikunto, dkk. 2014: 3) penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Adapun prosedur yang harus dilalui dalam penelitian tindakan kelas adalah perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi (Sanjaya, 2013: 57). Hal ini sesuai dengan yang dilakukan oleh peneliti yakni mencermati kegiatan pembelajaran IPS di kelas IV SDN Kepatihan 06 Jember dan memberikan tindakan berupa pemberian materi ajar berbasis nilai-nilai musik patrol untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam hal melestarikan kebudayaan lokal yang dimliki oleh kabupaten Jember.
Indikator keberhasilan penelitian adalah terjadinya peningkatan kemampuan siswa dalam melestarikan kebudayaan lokal dengan nilai minimal rata-rata kelas kelas 75,00 dengan prosentase ketuntasan  sebesar 75% dari seluruh siswa.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumen, dan angket pelestarian budaya lokal. Berbagai cara dilakukan dalam mengumpulkan data untuk menghasilkan data yang kredibel, sebagaimana yang diungkapkan  Sutopo (2006: 92) bahwa pengumpulan sumber dari berbagai metode merupakan suatu teknik analisis yang mantap untuk menarik kesimpulan, sehingga untuk menafsirkan sesuatu dibutuhkan lebih dari satu sudut pandang supaya data lebih lengkap, mantap, dan mendalam untuk menyimpulkan sesuatu.
           
Angket melestarikan budaya lokal diujicobakan terlebih dahulu untuk mengukur validitas dan realibilitasnya. Instrumen yang telah memenuhi syarat validitas dan realibiltas dapat dijadikan pedoman yang akurat dan shahih untuk mengukur hasil penelitian (Azwar, 2012: 2-3). Hasil uji dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1. Rangkuman Hasil Analisis Validitas dan Realibilitas Instrumen
Tes
Validitas
Realibiltas
Valid
Tdk Valid
Angket
21
9
0,835
Analisis data untuk ketuntasan belajar siswa dilakukan dengan perhitungan sederhana dengan rumus :
KB =

Keterangan:
KB      : Ketuntasan Belajar
S         : Skor
TS       : Total Skor

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus, dimana tiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa kebutuhan siswa di SDN Kepatihan 06 Jember adalah materi ajar budaya lokal kabupaten Jember, sehingga peneliti dan guru kelas berkolaborasi merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, bahan ajar, dan media audio-visual pembelajaran berbasis nila-nilai musik patrol jember sesuai kebutuhan siswa yang berorientasi pada paradigma pembelajaran modern student center, hal ini peneliti lakukan karena sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh  Suprijono (2012: 13) bahwa pembelajaran merupakan dialog interaktif dan pusat pembelajaran berada pada peserta didik.
  Pada siklus I, guru melaksanakan pembelajaran dimulai dengan apersepsi dan menerangkan sekilas materi tentang kebudayaan musik patrol jember dengan dilanjutkan menampilkan media audio-visual yang telah disiapkan sebelumnya. Pada kegiatan selanjutnya guru meminta siswa menentukan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam musik patrol yang dilihat siswa dan mempersilahkan siswa menyampaikan gagasan dalam forum kelas untuk ditanggapi oleh siswa yang lain. Diakhir pembelajaran guru dan siswa menyimpulkan nilai-nilai yang terkandung dalam musik patrol yakni nilai toleransi dan tanggungjawab.
 Pada pertemuan kedua guru melanjutkan materi sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan RPP. Guru membuka pelajaran, melakukan apersepi dan menampilkan video pembelajaran sembari mempersilahkan siswa mencatat hal-hal penting dalam video dan menyampaikan gagasannya, kemudian guru dan siswa menyimpulkan nilai-nilai yang terkandung dalam musik patrol yakni peduli lingkungan dan peduli sosial. Selanjutnya guru melakukan evaluasi melalui angket nilai-nilai musik patrol dan pada siklus pertama diperoleh nilai dengan rata-rata kelas 72,23 dengan nilai terendah 56 dan tertinggi 83. Jumlah siswa yang mendapatkan ketuntasan belajar hanya 13 orang siswa.
Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan peneliti dan guru mengambil keputusan untuk melanjutkan ke siklus II, karena dalam pelaksanan siklus I guru belum maksimal dalam memberikan materi dan contoh-contoh kongkrit dkarenakan guru belum terbiasa dengan materi dan sumber belajar yang baru adapun strategi pembelajaran dinilai kurang sesuai karena siswa dalam mengerjakan instruksi guru bekerja secara individual, hal inilah yang menyebabkan hasil siswa belum mencapai indikator ketuntasan minimum yang telah ditetapkan dalam penelitian. Semua kekurangan pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II.
Pada pembelajaran siklus II Guru sudah mulai menguasai materi dengan memberikan contoh-contoh yang kongkrit pada siswa, banyak memberikan bimbingan secara merata. Siswa tidak lagi mengerjakan secara individu setelah melihat video pembelajaran, akan tetapi diminta diskusi dengan teman sebangkunya dan hasil kerjasama mereka yang didiskusikan ke dalam kelas besar dan diakhir pembelajaran siswa lebih aktif daripada guru dalam menyimpulkan hasil pembelajaran IPS berbasis nilai-nilai musik patrol Jember. Hal ini selaras dengan prinsip pelaksanaan kurikulum IPS di SD dimana harus dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima, mengharagai, akrab, terbuka dan hangat (Sardjiyo, dkk. 2011: 1.12).
Pada siklus II, siswa telah mencapai ketuntasan sebesar 76,66% dari 30 siswa dengan nilai rata-rata 77,80 dan jumlah siswa tuntas seanyak 23 siswa. Hal ini tergambar dalam tabel dan diagram berikut :



Tabel.2 Ketuntasan Belajar Siswa
No
Siklus
Jumlah siswa
Nilai
Rata-Rata Kelas
Ketuntasan belajar (%)
≤ 75
≥ 75
1
I
30
17
13
72,23
43,33
2
II
30
7
23
77,80
76,66

Pada siklus I diketahui bahwa siswa yang tuntas hanya 43,33% dan pada siklus II Ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 76,66% karena siswa sudah lebih memahami materi di bandingkan siklus sebelumnya. Peningkatan ketuntasan belajar siswa kelas IV SDN Kepatihan 06 Jember untuk setiap siklus setelah menggunakan pembelajaran berbasis nilai-nilai musik patrol jember dapat ditampilkan seperti pada grafik berikut:
Gambar. 1 Grafik Peningkatan Hasil Belajar
Text Box: 43,33% %Text Box: 76,66 % %
Dari hasil perolehan post tes siklus 1  dan siklus 2 peneliti banyak menemukan perubahan-perubahan pada sikap pemahaman siswa terhadap pelestarian budaya lokal. Secara keselurahan dapat dikatakan bahwa masing-masing siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan materi nilai-nilai musik patrol jember memperoleh kenaikan skor sikap pemahaman pelestarian budaya lokal.
Hasil ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Yadi Ruyadi pada tahun 2010 dengan judul “Model Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal (Penelitian terhadap Masyarakat Adat Kampung Benda Kerep Cirebon Provinsi Jawa Barat untuk Pengembangan Pendidikan Karakter di Sekolah)”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, masyarakat Kampung Benda Kerep memiliki pola pendidikan yang efektif dalam mewariskan nilai budaya dan tradisi kepada generasi berikutnya. Kedua, pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal di sekolah telah memberikan dampak positif terhadap: siswa, sekolah, dan masyarakat.
Mengacu pada hasil penelitian terdahulu dan hasil penelitian implementasi pembelajaran IPS berbasis nilai-nilai musik patrol yang dilakukan oleh peneliti dapat dikatakan bahwa dengan adanya materi budaya lokal nilai-nilai musik patrol jember, siswa lebih mengenal dan telah memahami budaya sebagai warisan leluhur yang perlu dijaga dan dilestarikan. Penerapan pembelajaran terbukti efektif dalam mewariskan nilai budaya dan tradisi pada generasi muda di kabupaten jember merujuk pada hasil yang telah dicapai.

SIMPULAN  DAN  SARAN
Berdasarkan latar belakang, metode penelitian dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan :
1.      Implementasi Pembelajaran berbasis nilai-nilai musik patrol dalam mata pelajaran IPS dilaksankan kedalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan, tahapan masing-masing pertemuan dimulai dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
Tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun skenario pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dan guru, tahap tindakan adalah dimana guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar berdasar RPP yang telah dibuat, tahap observasi dimana dalam kegiatan belajar mengajar, peneliti menajadi observer atas tindakan yang dilakukan oleh guru selama pembelajaran berlangsung, refleksi adalah tahapan dimana peneliti dan guru berdiskusi  untuk menyempurnakan pada kegiatan selanjutnya.
Pada Siklus pertama terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki berdasar hasil refleksi yang didapat yakni, kurang terbiasanya guru dalam menyampaikan bahan ajar baru dan pemilihan model pembelajaran yang kurang sesuai. Oleh karena itu pada siklus kedua dilakukan perbaikan penyampaian materi oleh guru dan guru lebih membimbing siswa serta metode pembelajaran sudah memanfaatkan pembelajaran kooperatif teman sebaya dalam melaksanakan tugas dari guru, sehingga hasil pada siklus dua pun lebih optimal dibanding siklus pertama.
2.      Hasil Implementasi Pembelajaran Berbasis Nilai-Nilai Musik Patrol Dalam Mata Pelajaran IPS Di Sekolah Dasar Negeri Kepatihan 06 Jember Untuk Melestarikan Budaya Lokal berdasar tindakan siklus satu dan dua. Hasil tes siklus I nilai tertinggi 84 dan nilai terendah 56, nilai rerata adalah 72,23 dengan prosentase siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimum sebesar 43,33%. Pada siklus II, nilai tertinggi 93 dan nilai terendah 60 dengan nilai rerata 77,80 dengan prosentase siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimum sebesar 76,66%.
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, maka dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi Siswa kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 02 Jember sebaiknya lebih berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran IPS, mengingat pentingnya mata pelajaran IPS sebagai bekal hidup dalam bermasyarakat dan bernegara. Apabila ada hal yang kurang berkenan dalam pembelajaran, seperti kurangnya inovasi dalam hal penggunaan media dan strategi pembelajaran yang monoton jangan ragu sampaikan keinginan kepada guru kelas.
2.  Bagi Guru sebaiknya mencarikan solusi materi yang kurang sesuai dengan silabus demi tercapainya gagasan mengenai tujuan pembelajaran IPS dan lebih memanfaatkan  fasilitas yang telah dimiliki oleh sekolah secara maksimal. Penggunaan media audio-visual untuk lebih sering digunakan dalam penyampaian pesan belajar karena sangat diharapkan dan diminati siswa untuk lebih tercapainya tujuan dalam pembelajaran IPS.
3.  Bagi Sekolah sebaiknya tetap menggunakan materi nilai-nilai musik patrol dalam mengajarkan mata pelajaran IPS kelas IV karena Indikator dan materi lebih dekat dengan pengalaman nyata siswa.
4.  Bagi Pemerintah Kabupaten Jember, khususnya Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jember sebaiknya membentuk tim untuk meninjau kesesuaian KTSP dengan silabus terkait materi yang disampaikan di kelas, khususnya di sekolah dasar kelas 4 mata pelajaran IPS dimana karakteristik dan kebudayaan kota Jember yang notabene harus disampaikan untuk menguatkan budaya lokal Jember dalam pelajaran belum dirumuskan secara jelas.

DAFTAR  RUJUKAN

Arikunto, S, dkk. 2014. Penelitian Tindakan Kelas. Cetakan kedua belas. Jakarta: Bumi Aksara
Azwar, S. 2012. Reliabilitas dan Validitas. Edisi 4. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Ruyadi, Yadi. 2010. Model Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal (Penelitian terhadap Masyarakat Adat Kampung Benda Kerep Cirebon Provinsi Jawa Barat untuk Pengembangan Pendidikan Karakter di Sekolah). Konferensi Internasional ke-4 tentang Pendidikan Guru. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Sanjaya, W. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Cetakan ke-5. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Sardjiyo, dkk. 2011. Pendidikan IPS di SD. Cetakan kesebelas. Jakarta: Universitas Terbuka.
Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning: Teori & Aplikasi PAIKEM. Cetakan VIII. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutopo, H.B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi kedua. Surakarta: Universitas Sebalas Maret
Tilaar, H.A.R. 2012. Kaleidoskop Pendidikan Nasional. Jakarta: Kompas Media Nusantara.