Senin, 08 Februari 2016

UPAYA  MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA PADA  KOMPETENSI “ MENGUNGKAPKAN PIKIRAN DAN PERASAAN  DENGAN BERMAIN DRAMA “   MELALUI METODE SOSIODRAMA 

 Sujadi

Abstrak: Sosiodrama merupakan metode yang mengelola emosi  siswa dengan cara membimbing siswa untuk mempraktekkan peristiwa-peristiwa dalam hubungan sosial. diharapkan siswa dapat meningkatkan keterampilan emosi dan dapat mengubah perilakunya menjadi lebih baik, mampu mengendalikan dan mengekspresikan emosi menjadi tingkahlaku yang efektif untuk diri sendiri dan orang lain atau mampu membangun karakter siswa. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas, Hasil penelitian bahwa bahwa penerapan metode pembelajaran Sosiodrama  dapat meningkatkan hasil belajar bahasa  Indonesia pada  kompetensi “ mengungkapkan pikiran dan perasaan denga bermain drama “ dan karakter.

Kata Kunci: Sosiodrama, Karakter dan Hasil Belajar

 PENDAHULUAN
       Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.  Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia Hal ini selaras dengan  hakikat pendidikan  yakni merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Depdiknas, 2005)..
 Untuk mencapai tujuan pendidikan guru dan siswa seharusnya sama-sama aktif dan produktif. Sementara Guru dalam proses pembelajaran sering ditemui kecenderungan yang lebih aktif dibanding keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran. Penguasaan guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas menyebabkan siswa lebih banyak menunggu materi yang diberikan oleh guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan tersebut. Kondisi seperti itu menyebabkan siswa menjadi malas mengerjakan latihan maupun tugas dengan baik, karena mereka tidak bersungguh-sungguh saat pembelajaran berlangsung, sekarang menjadikan siswa tidak terampil dan kurang mandiri. Akibatnya pengetahuan yang didapat siswa, cenderung tidak mencapai kompetensi yang diharapkan, melainkan rendah. Artinya kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru kurang menarik, bahkan kurang memberikan kontribusi untuk kompetensi siswa. Kompetensi siswa adalah kemampuan dari siswa yang ditunjukkan dengan prestasi baik. Kompetensi itu kombinasi dari pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang digunakan untuk meningkatkan prestasi peserta didik atau keadaan yang memadai, mempunyai kemampuan untuk menampilkan peran tertentu Kompetensi diindikasikan dengan kualitas penyelesaian tugas dengan hasil yang berada pada skala yang baik. Bila siswa mempunyai prestasi yang baik, maka ia disebut mempunyai kompetensi (Suparman, 2012:65-67). Jika ingin mengetahui kompetensi siswa maka dapat diketahui dari motivasi siswa tersebut untuk belajar.
Pada saat proses pembelajaran diharapkan guru dapat memilih metode apa yang paling tepat digunakan agar para peserta didik dapat belajar dengan serius di dalam kelas. Menurut Yamin (2013) metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Belajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenjang pendidikan. Belajar berarti mengalami dan senantiasa mengadakan reorganisasi pengalaman penggunaan, pemahaman dan berlangsung secara keseluruhan. Peranan guru bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pembimbing dan sekaligus sebagai administrator. Pribadi guru sebagai satu kesatuan turut menentukan hasil pelajaran yang dia berikan dan komponen situasi mengajar, metode penyampaian yang tepat dan alat yang digunakan turut menentukan hasil pembelajaran. Jadi pembelajaran akan berhasil apabila mempertimbangkan banyak komponen mengajar yang saling berkesinambungan satu sama lain (Hamalik, 1992:12).
Saat ini masih sering ditemukan pembelajaran menggunakan pendekatan Teacher Centered Learning yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru. Pada pendekatan Teacher Centered Learning kebanyakan menggunakan metode Tanya jawab, ceramah dan pemberian tugas. Pada pembelajaran yang seperti itu, kurang mampu membuat siswa mandiri akibatnya siswa tidak bisa mengembangkan potensi pada dirinya. Seharusnya pembelajaran yang ideal menurut paradigma baru menggunakan pendekatan Student Centered Learning yaitu pembelajaran yang membuat siswa aktif di dalam kelas, maka diterapkan metode sosiodrama.
             Sosiodrama yaitu suatu drama tanpa naskah yang akan dimainkan oleh sekelompok orang (Engkoswara, 1988:58). Menurut Hamalik (1980:165) kegiatan drama atau ekspresi pada umumnya mempernyata peristiwa-peristiwa yang abstrak atau riil terjadi dimasyarakat, karena itu menarik minat dan menyebabkan anak-anak bekerja sama dan memberikan kepuasan dalam belajar. Metode ini melibatkan siswa dalam kegiatan dramatisasi akan memudahkan siswa menghayati masalah-masalah sosial dan nilai-nilai serta sikap-sikap sosial (Hamalik, 1992:84). Proses interaksi antar siswa dengan guru dalam kegiatan pembelajaran dengan metode Sosiodrama akan lebih aktif, komunikasi berjalan dua arah dari guru ke siswa dan dari siswa ke guru. Dengan demikian, siswa tidak hanya menerima penjelasan materi secara teoritis tetapi juga ikut mengamati dan menganalisa masalah yang sedang diperankan yang merupakan ilustrasi dari materi yang akan disampaikan.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa sosiodrama adalah bentuk metode pembelajaran  dengan mendramakan atau memainkan peran tingkah laku di dalam hubungan sosial.
 Metode pembelajaran yang digunakan dalam kelas permasalahannya kadang-kadang banyak peristiwa psikologis atau sosial yang sukar jika dijelaskan dengan sekedar kata-kata, maka perlu didramatisasikan. Siswa dipartisipasikan untuk berperan dalam peristiwa sosial itu. Menerapkan metode Sosiodrama, siswa dapat mendramatisasikan tingkah laku, atau menunjukkan gerak-gerik wajah seseorang dalam hubungan sosial antar manusia.          Sosiodrama adalah salah satu strategi intelligences yang sangat efektif memasukkan informasi materi belajar ke dalam memori jangka panjang siswa. Sosiodrama merupakan metode yang mengelola emosi kepada siswa dengan cara membimbing siswa untuk mempraktekkan peristiwa-peristiwa dalam hubungan sosial. Dengan mempraktekkan peristiwa-peristiwa dalam hubungan sosial secara langsung, diharapkan siswa dapat meningkatkan keterampilan emosi dan dapat mengubah perilakunya menjadi lebih baik, seperti siswa dapat memahami berbagai jenis emosi serta mampu mengendalikan dan mengekspresikan emosi menjadi tingkahlaku yang efektif untuk diri sendiri dan orang lain. Kelebihan Metode Sosiodrama: 1)Metode Sosiodrama sangat cocok digunakan untuk menangani masalah sosial; 2) Untuk mental siswa yang pemalu diajak tampil di depan umum menjadi terlatih siswa akan menjadi lebih kreatif dan berinisiatif; 3)Dapat memberikan kesan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa, selain itu metode Sosiodrama adalah metode yang menyenangkan bagi siswa;3 )Metode Sosiodrama sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelompok menjadi dinamis dan penuh antusias; 4)Membangkitkan gairah dan semangat optimism dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi; 5)Satu kegiatan dapat mencakup beberapa materi pelajaran, yaitu: bahasa, seni, dan sosial; 6)Pembelajaran nilai-nilai sosial menjadi mudah dilakukan untuk anak usia dini; 7)Siswa yang memiliki bakat seni dapat terdeteksi sejak dini.
Pada pembelajaran di SMPN 05 Samboja, proses pembelajaran Bahasa Indonesia masih  berpusat pada guru, dimana guru bertindak sebagai penyampaian informasi tunggal sedangkan siswa sebagai pendengarnya .Pembelajaran seperti itu diragukan kurang optimal karena siswa hanya mendapatkan informasi yang diberikan oleh guru. Saat guru berceramah, guru tidak beranjak dari depan tempat duduk sehingga kurang memperhatikan siswa-siswi yang ada di belakang kelas. Para siswa yang bertempat duduk di depan yang hanya diperhatikan oleh guru. Akibat dari pembelajaran, siswa tidak aktif saat pembelajaran berlangsung, diperkirakan banyak siswa yang berbincang-bincang sendiri di dalam kelas tersebut dan hasil belajar kurang maksimal.
Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti memilih metode Sosiodrama, dengan alasan metode Sosiodrama dapat memiliki karakter, inisiatif dan kreatif sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam pelajaran. Siswa dapat berfikir dalam pembelajaran karena bisa memahami isi cerita yang diperankan oleh masing-masing siswa. Melalui metode Sosiodrama secara tidak langsung para siswa dapat mengetahui potensi diri yang dimilikinya. Penggunanaan metode Sosiodrama dalam pelajaran  sangat menarik peserta didik, karena tidak membosankan dan para siswa menjadi tertarik mengikuti pelajaran tersebut. Belajar akan bermakna jika guru dapat menciptakan proses belajar menjadi bermakna menurut Anggrani (dalam Jurnal Riset Pendidikan dan Pembelajaran, 2013:54).

Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: Apakah dapat meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada  Kompetensi “ Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan Denga Bermain Drama “   Melalui  penerapan Metode Sosiodrama ?
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah: meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada  Kompetensi “ Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan Denga Bermain Drama “ Melalui  penerapan Metode Sosiodrama.
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1) Bagi siswa, dapat mengoptimalkan hasil belajar dan  dapat membentuk karakter siswa agar  mandiri dan kreatif ; 2)Bagi guru, dapat digunakan sebagai masukan dalam merancang pembelajaran melalui metode pembelajaran Sosiodrama; 3) Bagi sekolah, dapat dijadikan acuan para guru untuk meningkatkan kualitas diri  dan profesionalitas nya sebagai guru.

METODE PENELITIAN

Tempat  dan Subjek Penelitian
       Tempat  yang dipilih dalam penelitian ini adalah SMPN 05 Samboja Kutai kartanegara Kalimantan Timur. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 33 siswa. Adapun alasan pemilihan daerah dan subjek penelitian tersebut sebagai berikut:Rendahnya tingkat ketuntasan hasil belajar siswa. Karakteristik peserta didik dan pendidik telah teridentifikasi dengan baik.

Rancangan Penelitian
          Dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan model penelitian tindakan Hopkins yang berbentuk spiral dengan tahapan penelitian tindakan pada satu siklus meliputi; Perencanaan, Tindakan, Observasi, Refleksi.
  Penelitian diawali dengan merencanakan sesuatu yang akan dilakukan, kemudian melakukan tindakan, selama melakukan tindakan dilakukan juga observasi dalam rangka mengumpulkan data, kemudian refleksi. Penelitian ini dilakukan dua siklus. Pelaksanaan siklus pertama dan kedua terdiri dari 4 kali tatap muka, setiap siklus terdiri dari 2 kali tatap muka. Setiap siklus terdapat 4 fase, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.           Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini meliputi metode observasi, metode wawancara, tes, dan dokumenter.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Analisis data kualitatif dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumenter. Analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar apakah sesuai dengan yang hendak dicapai (efektif) atau tidak.
Untuk menentukan ketuntasan hasil belajar secara individu menggunakan rumus:
Rumus Persentase Ketuntasan =
Untuk menentukan ketuntasan hasil belajar secara klasikal menggunakan rumus:
Rumus Persentase Ketuntasan=
Aktivitas  yang mencerminkan karakter siswa selama proses pembelajaran  untuk mengetahui karakter siswa menggunakan Sosiodrama dapat dicari dengan :
Pa=  A x 100%
        N
Keterangan:PA           : Persentase karakter siswa; A : Jumlah siswa yang berkarakter;  N   : Jumlah seluruh siswa

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tindakan pendahuluan dilakukan sebagai langkah awal sebelum pelaksanaan tindakan. Kegiatan ini berlanjut dengan diadakannya observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran , melalui langkah tersebut akan dapat ditentukan bersama untuk menetapkan tindakan yang tepat dalam rangka meningkatkan hasil belajar dan karakter siswa. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan guru bidang studi yang dilakukan pengamatan langsung dapat diketahui melalui proses pembelajaran . Dalam uraian data pra tindakan yang perlu diamati terdapat beberapa hasil belajar siswa, aktivitas guru, proses pembelajaran dan karakter siswa. Hasil belajar diperoleh dari penilaian aspek kognitif, afektif dan psikomotor

Hasil Penelitian Siklus I
A. Perencanaan
            Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah melaksanakan kegiatan sesuai dengan desain yang telah diuraikan pada bab sebelumnya. Pada tahap perencanaan semua persiapan telah dilakukan meliputi guru berkolaborasi dengan peneliti menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP) yang memuat aktivitas guru dan siswa dalam implementasi tindakan yang direncanakan, mengembangkan media yang diperlukan dalam proses pembelajaran, mendesain alat evaluasi, dan menyusun pedoman pengumpulan data dan pedoman observasi serta menyiapkan tiga observer pembelajaran.

B. Tindakan
            Pertemuan pertama dilakukan  dengan berpedoman pada rencana perbaikan pembelajaran (RPP) siklus I. Pembelajaran pada pertemuan pertama berlangsung selama 2 x 40 menit, dengan materi tentang perlawanan  rakyat Indonesia terhadap kekuasaan asing. Kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran, sesuai dengan sintak metode pembelajaran Sosiodrama meliputi :
1)        Pendahuluan
            Kegiatan pendahuluan dilakukan selama 10 menit. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah dengan membuka pelajaran yang diawali dengan mengucapkan salam, menyampaikan apersepsi dan motivasi siswa. Setelah itu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama.
2)        Kegiatan Inti
Kegiatan inti berlangsung selama 60 menit, adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Eksplorasi
a.     Guru menentukan masalah/pokok yang akan disosiodramakan;
b.    Guru menjelaskan kepada siswa. Penjelasan dapat berupa isi permasalahan, peranan pelaku ataupun peranan penonton atau siswa lainnya;
c.    Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok untuk memerankan metode sosiodrama dalam pembelajaran.

Elaborasi
a.    Mempersiapkan pelaku/pemeran dan penonton. Para pelaku yang telah disiapkan selama kurang lebih 2 atau 3 menit;
b.    Guru membimbing peserta didik membuat kerangka cerita
c.     Dalam waktu 1 minggu peserta didik memerankan peran;
d.   Guru mengawasi peserta didik, memberikan kebebasan kepada pelaku dan mengawasi ketertiban kelas;
e.    Guru membimbing peserta didik ketika terjadi kemacetan dalam mendramatisasikan. Pelaksanaan Sosiodrama tidak perlu selesai.
Konfirmasi
a.     Guru membimbing peserta didik  untuk merumuskan kesimpulan;
b.    Guru melakukan refleksi/evaluasi pembelajaran.
3)        Penutup
            Kegiatan penutup berlangsung 10 menit, adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.    Guru melakukan refleksi tentang materi yang telah dibahas dan meminta siswa untuk mempelajari kembali pelajaran  di rumah agar siswa lebih menguasai materi;
b.    Guru bersama dengan siswa menyimpulkan materi yang telah dibahas;
c.    Guru memberikan evaluasi tentang pelajaran dalam bentuk post test;
d.   Sebelum guru meninggalkan kelas, guru memberikan tugas dan menjelaskan materi yang akan dibelajarkan pada pertemuan berikutnya, kemudian guru menutup pembelajaran dengan memberi salam sebagai tanda berakhirnya pembelajaran.
            Selama pembelajaran berlangsung, dilakukan observasi dan bimbingan kepada siswa yang membutuhkan supaya mereka bisa lebih aktif dan interaktif di kelas dan menanyakan materi pelajaran yang kurang dimengerti. Pada awal proses pembelajaran menggunakan metode pembelajaran metode Sosiorama ini, guru mengalami kesulitan dalam mengkoordinasi siswa dalam bermain peran. Hal ini disebabkan guru kurang dapat melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prosedur maupun langkah-langkah pembelajaran dengan metode pembelajaran Sosiodrama dari awal sampai akhir, guru juga kurang dapat berinteraksi dengan siswa, dan guru kurang dapat mengelola kelas mengatur jalannya proses pembelajaran dengan baik. Dalam penelitian yang peneliti teliti ini, proses pembelajaran Sosiodrama dapat memberikan penilaian yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Pada proses interaksi siswa dan antara siswa dengan guru dalam kegiatan pembelajaran dengan metode sosiodrama belum aktif, komunikasi belum berjalan dua arah dari guru ke siswa dan dari siswa ke guru. Hal ini siswa kurang dapat menerima penjelasan materi secara teoritis, dan kurang dapat mengamati dan menganalisa masalah yang sedang diperankan yang merupakan ilustrasi dari materi yang disampaikan. Selain itu, pada penerapan metode sosiodrama kurangnya bobot atau luasnya bahan pelajaran yang akan didramakan harus diseuaikan dengan waktu yang tersedia. Pada proses pembelajaran  dengan menerapkan metode pembelajaran sosiodrama, diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang aktual ada di masyarakat.

C. Observasi
            Kegiatan observasi dalam penelitian ini adalah mengamati hasil belajar siswa dan karakter siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung dan saat selesai pembelajaran, serta untuk mengetahui kendala- kendala saat muncul pada pelaksanaan tindakan penelitian. Hasil penelitian siklus I, dengan penerapan pembelajaran metode Sosiodrama pada mata pelajaran  perlu diamati beberapa hasil belajar dan karakter siswa.
Hasil belajar yang didapat dalam proses pembelajaran  dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama dikategorikan masih belum tuntas dilihat dari penilaian aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran  adalah 75% sedangkan untuk ketuntasan klasikal secara keseluruhan mencapai 75%. Ketidaktuntasan hasil belajar ini dikarenakan pada aspek kognitif nilai pada aspek siklus I, siswa yang mendapat nilai ≥ 75 hanya sebanyak 19 siswa dengan persentase 57,57% sedangkan siswa yang memperoleh nilai < 75 sebanyak 14 siswa dengan persentase 42,42%. Ketidaktuntasan aspek afektif disebabkan karena peserta didik selama proses pembelajaran, kurang menampakkan ekspresi yang di Sosiodramakan dan masih malu saat berperan. Sehingga terdapat beberapa siswa yang kurang percaya diri dan bekerjasama selama pembelajaran. Akibatnya mendramatisasikan cerita masih ramai, kacau danterdapat beberapa siswa kurang berinteraksi dengan kelompok. Hasil pelaksanaan siklus I pada aspek afektif memperoleh ketuntasan klasikal 67,17%. Ketidaktuntasan pada aspek psikomotorik dalam hal ini adalah siswa kurang dapat membuat kerangka cerita, berinteraksi dengan teman masih malu-malu, akibatnya pendramatisasian peran kurang maksimal. Sehingga pelaksanaan pembelajaran siklus I hasil psikomotorik memperoleh ketuntasan klasikal 64,64%.
Pada siklus I hasil belajar kurang maksimal dikarenakan siswa kurang memahami materi yang didramakan, adanya siswa yang malu dalam memerankan peran pada mata pelajaran   dalam metode pembelajaran Sosiodrama. Selain itu siswa kurang memperhatikan guru saat menjelaskan materi pelajaran. Oleh karena itu, untuk memperbaiki hasil belajar pada siklus I diperlukan pemahaman menguasai materi yang akan didramakan pada siklus II.
Dari hasil pengamatan hasil belajar siswa pada siklus I tercermin pada karakter siswa. Hasil penelitian siklus I, dengan penerapan pembelajaran metode Sosiodrama pada mata pelajaran  perlu diamati beberapa karakter siswa. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap hasil observasi untuk mengetahui persentase karakter siswa
            Diketahui bahwa persentase ketuntasan karakter siswa siklus  I pada sikap disiplin indikator karakter (A) hadir tepat waktu sebesar 51,51% dengan jumlah siswa 17 siswa, (B) taat pada peraturan 54,54% dengan jumlah 18 siswa, sikap rasa ingin tahu indikator karakter (C) menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu 36,36% dengan jumlah 12 siswa, (D) mencari tahu wawasan lebih luas 30,30% dengan jumlah 10 siswa, sikap kreatif indikator (E) menciptakan suasana belajar yang memacu inovasi dan kreativitas 54,54% dengan jumlah 18 siswa, sikap mandiri indikator (F) belajar mandiri dalam mengerjakan tugas ataupun ulangan 30,30% dengan jumlah 10 siswa, sikap tanggung jawab indikator (G) pelaksanaan tugas piket secara teratur 60,60% dengan jumlah 20 siswa, (H) melaksanakan tugas yang diberikan sekolah/guru 63,63% dengan jumlah 21 siswa. Hal ini menunjukkan karakter siswa sesudah menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama pada mata pelajaran  pada siklus I. Adapun rata-rata persentase kedelapan indikator karakter tersebut diperoleh karakter siswa sebesar 74,33% yang berarti karakter siswa termasuk kategori kurang baik karena persentase karakter siswa berada pada interval kurang dari 75%.
            Aktivitas guru selama pembelajaran  dengan menggunakan metode pembelajaran Sosiodrama membuat siswa lebih aktif, kreatif, dan minat belajar  tinggi. Hal tersebut dapat meningkatkan  komunikasi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, selain itu juga meningkatkan karakter siswa. Pada metode pembelajaran Sosiodrama, bertujuan mengelola emosi kepada siswa dengan cara membimbing siswa untuk mempraktekkan peristiwa-peristiwa dalam hubungan sosial. Karakter siswa dalam pembelajaran Sosiodrama dapat diperoleh dari hasil observasi aktivitas belajar siswa, penilaian aspek afektif, dan psikomotor. Indikator karakter siswa antara lain sikap karakter disiplin yang indikatornya hadir tepat waktu, taat pada peraturan, sikap rasa ingin tahu indikatornya menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu, mencari tahu wawasan lebih luas, sikap kreatif indikatornya menciptakan suasana belajar yang memacu inovasi dan kreativitas, sikap mandiri indikatornya belajar mandiri dalam mengerjakan tugas ataupun ulangan, sikap tanggung jawab indikatornya melaksanakan melaksanaan tugas piket secara teratur, melaksanakan tugas yang diberikan sekolah/guru. Penilian aspek afektif terdapat beberapa indikator yang dinilai antara lain: teliti, kerjasama, dan disiplin. Sedangkan penilian aspek psikomotorik terdapat tiga indikator yang dinilai antara lain; membuat kerangka cerita, mendramatisasikan drama, mengatur strategi alur cerita. Adapun kekurangan pada siklus I yaitu kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerankan suatu adegan tertentu, memerlukan waktu yang relatif panjang untuk melaksanakan metode pembelajaran Sosiodrama dalam pembelajaran . Hal ini disebabkan guru belum dapat menerapkan prosedur pelaksanaan pembelajaran dengan metode pembelajaran Sosiodrama pada pelaksanaan tindakan siklus I. Pada saat proses memainkan peran, siswa yang berperan masih canggung karena siswa belum menguasai materi yang diperankannya.
            Proses pembelajaran  dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama dilihat dari jalannya mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata yang dihadapi oleh siswa. Pada siklus I terlihat beberapa siswa saat proses pembelajaran muncul karakter seperti disiplin, rasa ingin tahu, kreatif, mandiri, dan tanggung jawab, meskipun belum maksimal. Pada siklus I ini cukup berjalan dengan baik meskipun masih ada beberapa kendala yang perlu diperbaiki dalam siklus II.  Hal-hal yang perlu di perbaiki adalah pada faktor guru untuk memberikan fasilitator dan motivator terhadap siswa agar pembelajaran lebih aktif, sedangkan pada faktor siswa diharapkan lebih minat terhadap pelajaran  dengan metode pembelajaran Sosiodrama agar pembelajaran terselesaikan dengan maksimal.
           
D. Refleksi
            Refleksi dilakukan oleh peneliti dan guru mata pelajaran  setelah kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I. Berdasarkan hasil refleksi ini akan diketahui kelebihan dan kekurangan yang terjadi pada siklus I, baik dari hasil belajar siswa dan karakter siswa. Pada siklus I terdapat kelebihan menggunakan metode pambelajaran Sosiodrama yaitu adanya peningkatan pada siswa pada pembelajaran  berkesan mudah menghafal materi pelajaran  dan membangkitkan minat semangat balajar serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi. Adapun kelemahan guru dalam pembelajaran  perlu diperbaiki dalam siklus II, karena dalam peranannya guru kurang dapat menjalankan metode pembelajaran Sosiodrama sesuai prosedur atau langkah-langkah secara runtut dari awal sampai akhir. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan metode pembelajaran Sosiodrama peneliti memberikan  pelatihan terhadap guru mata pelajaran  sebelum pelaksanaan tindakan agar nantinya guru dapat melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prosedur pembelajaran dengan metode pembelajaran Sosiodrama secara runtun dari awal sampai akhir.
            Pada metode pembelajaran Sosiodrama terdapat kelebihan yaitu peningkatan hasil belajar siswa mata pelajaran  karena siswa menganggap mata pelajaran  menarik dan tidak membosankan setelah menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama, selain itu komunikasi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa menjadi terhubung., memudahkan dalam tercapainya pembelajaran. Sebelum melaksanakan tindakan pembelajaran melalui metode pembelajaran Sosiodrama siswa masih kurang minat terhadap pelajaran  karena membosankan, pada pelaksanaan siklus I siswa cenderung lebih aktif setelah menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama terhadap pelajaran , tetapi belum maksimal, maka perlu ditingkatkan pada siklus II agar pembelajaran bisa terselesaikan dengan lancar dan berhasil. Kelemahan siswa yang perlu diperbaiki pada siklus II antara lain yaitu siswa kurang memperhatikan guru saat pembelajaran berlangsung, memahami materi pelajaran dalam memerankan drama, dan bertanya pada materi yang kurang jelas. Selain itu menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama memakan waktu yang cukup lama karena sebagian kelompok masih ricuh saat pembagian tokoh untuk memerankan peran. Hal ini disebabkan guru kurang dapat mengatur pelaksanaan metode pembelajaran Sosiodrama sesuai prosedur yang tepat pada siklus I. Pada waktu proses tanya jawab antara guru dengan siswa masih kurang aktif dalam menjawab pertanyaan saat giliran ditunjuk untuk menjawab pertanyaan seusai pelaksanaan metode pembelajaran Sosiodrama. Oleh karena itu, guru harus pintar dalam menangani masalah tersebut dan membimbing siswa agar dapat menjawab saat proses tanya jawab.
            Proses pembelajaran  dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama pada siklus I cukup berjalan dengan baik meskipun masih ada beberapa kendala yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaan siklus II guna tercapainya pembelajaran  yang efektif. Hal ini dikarenakan pada pelaksanaan siklus I guru belum bisa berperan aktif sebagai motivator, fasilitator, mediator, dan evaluator, sedangkan siswa masih kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran . Dalam memperbaiki proses pembelajaran  pada siklus I dengan menerpkan metode pembelajaran Sosiodrama sebaiknya guru terus memantau karakter siswa lebih mendalam. Proses membangun karakter seperti disiplin, rasa ingin tahu, kreatif, mandiri, dan tanggung jawab sulit untuk diketahui meningkatkan karakter tersebut, oleh karena itu guru harus dapat membimbing siswa nya dengan benar. Untuk mencapai peningkatan ketuntasan hasil belajar dan karakter siswa siklus I, maka perlunya guru melakukan perbaikan pada siklus II.

Hasil Penelitian Siklus II
A. Perencanaan
            Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan desain yang telah diuraikan pada bab sebelumnya. Pada tahap perencanaan semua persiapan telah dilakukan meliputi guru berkolaborasi dengan peneliti menyusun rencana perbaikan pembnelajaran (RPP), media yang diperlukan dalam proses pembelajaran, mendesain alat evaluasi, dan menyusun pedoman pengumpulan data dan pedoman observasi serta menyiapkan tiga observer pembelajaran.

B. Tindakan
Pembelajaran Pertemuan Kedua
            Pertemuan kedua dilaksanakan dengan berpedoman pada rencana perbaikan pembelajaran siklus II. Pembelajaran pada pertemuan kedua sesuai dengan sintak metode pembelajaran Sosiodrama meliputi :
1)        Pendahuluan
          Kegiatan pendahuluan dilakukan selama 5 menit. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah membuka pelajaran yang diawali dengan mengucapkan salam, menyampaikan persepsi dan memotivasi siswa. Setelah itu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama dapat mempelajari materi kemudian guru menjelaskan tahap-tahap pembelajaran  Sosiodrama yang akan dilakukan peserta didik.
2)        Kegiatan inti
Kegiatan inti berlangsung selama 30 menit, adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Eksplorasi
a.     Guru menentukan masalah/pokok yang akan disosiodramakan;
b.    Guru menjelaskan kepada siswa. Penjelasan dapat berupa isi permasalahan, peranan pelaku ataupun peranan penonton atau siswa lainnya;
c.    Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok untuk memerankan metode sosiodrama dalam pembelajaran.
Elaborasi
a.    Mempersiapkan pelaku/pemeran dan penonton. Para pelaku yang telah disiapkan selama kurang lebih 2 atau 3 menit;
b.    Guru membimbing peserta didik membuat kerangka cerita
c.     Dalam waktu 1 minggu peserta didik memerankan peran;
d.   Guru mengawasi peserta didik, memberikan kebebasan kepada pelaku dan mengawasi ketertiban kelas;
e.    Guru membimbing peserta didik ketika terjadi kemacetan dalam mendramatisasikan. Pelaksanaan Sosiodrama tidak perlu selesai.
Konfirmasi
a.     Guru membimbing peserta didik  untuk merumuskan kesimpulan;
b.    Guru melakukan refleksi/evaluasi pembelajaran.
3)        Penutup
Kegiatan penutup berlangsung 5 menit, adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.    Guru melakukan refleksi tentang materi yang telah dibahas dan meminta siswa untuk mempelajari kembali pelajaran  di rumah agar siswa lebih menguasai materi;
b.    Guru bersama dengan siswa menyimpulkan materi yang telah dibahas;
c.    Guru memberikan evaluasi tentang pelajaran dalam bentuk post test;
d.   Sebelum guru meninggalkan kelas, guru memberikan tugas dan menjelaskan materi yang akan dibelajarkan pada pertemuan berikutnya, kemudian guru menutup pembelajaran dengan member salam sebagai tanda berakhirnya pembelajaran.
Pada siklus II ini, siswa cenderung terlihat aktif dibanding pada siklus I, mereka terlihat bersemangat ketika pelajaran  berlangsung, serta minat mempelajari  semakin meningkat. Terlebih lagi guru juga sudah dapat melaksanakan pembelajaran sesuai langkah-langkah pembelajaran dengan metode pembelajaran Sosiodrama secara runtut dari awal hingga akhir. Dengan metode pembelajaran Sosiodrama guru mudah berinteraksi dengan siswa dalam pembelajaran , selain itu dapat mengelola kelas dengan tenang, serta dapat memberikan penilaian dengan baik mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Pada siklus II ini siswa aktif dalam membuat kerangka cerita, mendramatisasikan drama, mengatur strategi alur cerita, membuat kesimpulan. Selain itu pada siklus II ini terlihat karakter siswa memiliki sikap disiplin, rasa ingin tahu, kreatif, mandiri serta tanggung jawab yang maksimal.

Observasi
            Kegiatan observasi dalam penelitian ini dimulai sampai dengan pembelajaran selesai. Tujuan dari kegiatan observasi ini adalah untuk mengamati hasil belajar dan karakter siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung serta untuk mengetahui kendala-kendala yang muncul pada pelaksanaan tindakan perbaikan. Pada siklus II dengan memperbaiki kekurang-kekurangan pada perencanaan pada siklus I, maka dalam proses pembelajaran yang berlangsung cukup baik dan terus mengalami peningkatan hasil belajar, sekaligus meningkatkan karakter siswa. Hasil yang diperoleh dengan penerapan metode pembelajaran Sosiodrama pada pembelajaran  terdapat peningkatan hasil belajar dan karakter siswa.
Hasil belajar pada siklus II dapat dikategorikan tuntas dalam proses pembelajaran  dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama dilihat dari penilaian aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran  adalah 75% sedangkan untuk ketuntasan klasikal secara keseluruhan mencapai 75%. Ketuntasan hasil belajar pada aspek kognitif nilai pada aspek siklus II, siswa yang mendapat nilai ≥ 75 hanya sebanyak 29 siswa dengan persentase 87,87% sedangkan siswa yang memperoleh nilai < 75 sebanyak 4 siswa dengan persentase 12,12%. Hasil belajar yang didapat dalam penerapan metode pembelajaran Sosiodrama pada siklus II dikategorikan tuntas dilihat dari penilaian aspek afektif dan psikomotorik. Pada pelaksanaan siklus II aspek afektif memperoleh ketuntasan klasikal sebesar 82,82%. Ketuntasan klasikal aspek psikomotorik adalah sebesar 85,85%.
            Pada siklus II berdasarkan hasil observasi hasil belajar dan karakter siswa, selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa tampak aktif dalam mengikuti proses pembelajaran  karena komunikasi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa terhubung dengan baik. Hal ini memudahkan guru dapat mengelola kelas dengan baik dan memudahkan siswa menerima materi tanpa menghafal. Suasana hati siswa pada saat pembelajaran  dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama sangat berantusias mengikuti pelajaran tersebut disebabkan metode pembelajaran Sosiodrama memunculkan seni untuk menampilkan adegan-adegan tokoh-tokoh kepahlawanan. Pada siklus II ini siswa juga aktif dalam mengajukan pertanyaan kepada guru apabila siswa tidak mengerti alur pokok permasalahan saat mendramatisasikan suatu materi pelajaran . Hasil pembelajaran yang diperoleh dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama pada mata pelajaran  terdapat peningkatan karakter siswa sesudah pembelajaran.
            Diketahui bahwa persentase ketuntasan karakter siswa siklus  I pada sikap disiplin indikator karakter (A) hadir tepat waktu sebesar 75,75% dengan jumlah 25 siswa, (B) taat pada peraturan 81,81% dengan jumlah 27 siswa, sikap rasa ingin tahu indikator karakter (C) menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu 78,78% dengan jumlah 26 siswa, (D) mencari tahu wawasan lebih luas 78,78% dengan jumlah 26 siswa, sikap kreatif indikator (E) menciptakan suasana belajar yang memacu inovasi dan kreativitas 84,84% dengan jumlah 28 siswa, sikap mandiri indikator (F) belajar mandiri dalam mengerjakan tugas ataupun ulangan 81,81% dengan jumlah 27 siswa, sikap tanggung jawab indikator (G) pelaksanaan tugas piket secara teratur 78,78% dengan jumlah 26 siswa, (H) melaksanakan tugas yang diberikan sekolah/guru 84,84% dengan jumlah 28 siswa. Hal ini menunjukkan karakter siswa sesudah menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama pada mata pelajaran  pada siklus I. Adapun rata-rata persentase kedelapan indikator karakter tersebut diperoleh karakter siswa sebesar 90,33% yang berarti karakter siswa termasuk kategori sangat baik dengan karakter siswa berada pada interval sebesar 90%.

Refleksi
            Refleksi dilakukan oleh peneliti dan guru mata pelajaran  setelah kegiatan pembelajaran pada siklus II selesai dilakukan. Berdasarkan hasil refleksi ini akan diketahui kelebihan dan kekurangan yang terjadi pada siklus II, baik pada faktor hasil belajar dan karakter siswa melalui aktivitas belajar siswa. Berdasarkan pada hasil analisis data-data sumber penelitian tersebut diketahui bahwa karakter siswa mengalami perubahan semakin meningkat, siswa menjadi lebih disiplin, mempunyai rasa ingin tahu lebih, kreatif, mandiri, dan juga rasa tanggung jawab, serta keinginan mengikuti pelajaran  juga semakin meningkat. Hasil belajar pun semakin meningkat dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama pada mata pelajaran  pada tiap pertemuan atau tiap siklus.

Pembahasan Hasil Penelitian
            Ketuntasan hasil belajar  dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama per siklus (pra siklus, siklus I, dan siklus II) dapat diperoleh sebagai berikut:
         Pada Pra tindakan,Persentase ketuntasan hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor pra siklus dapat diketahui bahwa ketuntasan hasil belajar siswa pada aspek kognitif secara klasikal dikatakan tidak tuntas karena yang memperoleh nilai ≥ 75 hanya sebanyak 18 siswa dengan persentase 54,54%, sedangkan siswa yang memperoleh < 75 sebanyak 15 siswa dengan persentase 45,45%, sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa pada aspek afektif dan psikomotor secara klasikal tidak diperoleh karena guru mata pelajaran  pada pra siklus tidak melakukan penilaian aspek afektif dan psikomotor. Berdasarkan hasil persentase hasil belajar pada pra siklus maka tingkat pencapaian ketuntasan hasil belajar dikatakan tidak tuntas dan masuk kategori cukup karena hasil persentase ketuntasan hasil belajar aspek kognitif secara klasikal kurang dari  75% dan berada pada interval 50% sampai dengan 60%.
            Pada Siklus I Diketahui bahwa ketuntasan hasil belajar siswa pada aspek kognitif secara klasikal dikatakan tidak tuntas karena yang memperoleh nilai ≥ 75 hanya sebanyak 24 siswa dengan persentase 72,72%, sedangkan siswa yang memperoleh < 75 sebanyak 9 siswa dengan persentase 27,27%, sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa pada aspek afektif secara klasikal dikatakan tidak tuntas karena yang memperoleh nilai ≥ 75 hanya sebanyak 18 siswa dengan persentase 54,54%, sedangkan siswa yang memperoleh < 75 sebanyak 15 siswa dengan persentase 45,45%, sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa pada aspek psikomotor secara klasikal dikatakan tidak tuntas karena yang memperoleh nilai ≥ 75 hanya sebanyak 19 siswa dengan persentase 57,57%, sedangkan siswa yang memperoleh < 75 sebanyak 12 siswa dengan persentase 36,36%.
            Berdasarkan hasil persentase ketuntasan hasil belajar pada siklus I maka tingkat pencapaian ketuntasan hail belajar dikatakan tidak tuntas karena hasil belajar aspek kognitif, afektif, dan psikomotor kurang dari 75% dan hasil persentase ketuntasan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor masuk kategori kurang baik karena hasil persentase ketuntasan hasil belajar aspek kognitif, berada pada interval 70%, sedangkan aspek afektif berada pada interval 50%, dan aspek psikomotor secara klasikal berada pada interval 30%.
Pada Siklus II, Persentase ketuntasan hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor pra siklus dapat diketahui bahwa ketuntasan hasil belajar siswa pada aspek kognitif secara klasikal dikatakan tuntas karena yang memperoleh nilai ≥ 75 hanya sebanyak 29 siswa dengan persentase 87,87%, sedangkan siswa yang memperoleh < 75 sebanyak 4 siswa dengan persentase 12,12%, sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa pada aspek afektif secara klasikal dikatakan tuntas karena yang memperoleh nilai ≥ 75 hanya sebanyak 25 siswa dengan persentase 83,33% sedangkan siswa yang memperoleh < 75 sebanyak 8 siswa dengan persentase 24,24% sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa pada aspek psikomotor secara klasikal dikatakan tuntas karena yang memperoleh nilai ≥ 75 hanya sebanyak 27 siswa dengan persentase 81,81%, sedangkan siswa yang memperoleh < 75 sebanyak 6 siswa dengan persentase 18,18%.
            Berdasarkan hasil persentase ketuntasan hasil belajar pada siklus II maka tingkat pencapaian ketuntasan hail belajar dikatakan tuntas karena persentase hasil ketuntasan belajar siswa pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sudah memenuhi kategori ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal 75% dan termasuk kategori sangat baik karena persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sudah mencapai lebih dari 75%.
            Berdasarkan hasil penelitian pada sesuai dengan tujuan perbaikan, menunjukkan bahwa metode pembelajaran Sosiodrama mampu meningkatkan hasil belajar dan karakter siswa yang rendah. Dengan metode pembelajaran Sosiodrama siswa terlibat lebih aktif dalam  pembelajaran. Pada hasil belajar siswa dengan menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama mampu meningkatkan karakter siswa, sikap disiplin sebelum siklus I dan siklus II sangat rendah terutama bagi siswa laki-laki dianggap tidak mempunyai sikap disiplin terhadap guru, sikap tersebut mula-mula tanpa sadar dapat diperbaiki. Sikap mempunyai rasa ingin tahu terhadap siswa tercermin pada siswa yang dahulunya mempunyai sifat pemalu menjadi aktif bertanya, siswa sudah memiliki sikap kreatif meningkat, sikap mandiri juga tercermin terhadap siswa yang suka mencontek terhadap temannya saat mengerjakan tugas menjadi mengerjakan sendiri, sikap tanggung jawab juga dimiliki siswa terutama siswa laki-laki bertanggung jawab dalam segala urusan yang menyangkut tata tertib sekolah.
            Hasil belajar menggunakan metode pembelajaran Sosiodrama mampu meningkatkan karakter siswa dapat dilihat dari aktifitas siswa belajar sebelum dan sesudah pembelajaran , selain itu dapat dilihat dari sikap disiplin, rasa ingin tahu, kreatif, mandiri dan tanggung jawab. Dalam metode pembelajaran Sosiodrama guru berperan aktif sebagai motivator, fasilitator, dan evaluator. Pada metode pembelajaran yang guru terapkan sebelum tindakan, guru menerapkan pembelajaran ceramah yang membuat siswa pasif saat pembelajaran   berlangsung. hasil obeservasi dan refleksi pra siklus, siklus I dan siklus II terdapat adanya peningkatan karakter siswa dalam pembelajaran .
           Pada Pra tindakan     diketahui bahwa persentase ketuntasan karakter siswa pra siklus pada sikap disiplin indikator karakter hadir tepat waktu sebesar 36,36% dengan jumlah 21 siswa, taat pada peraturan 33,33% dengan jumlah 11 siswa, sikap rasa ingin tahu indikator karakter menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu 24,24% dengan jumlah 8 siswa, mencari tahu wawasan lebih luas 21,21% dengan jumlah 7 siswa, sikap kreatif indikator menciptakan suasana belajar yang memacu inovasi dan kreativitas 27,27% dengan jumlah 9 siswa, sikap mandiri indikator belajar mandiri dalam mengerjakan tugas ataupun ulangan 24,24% dengan jumlah 8 siswa, sikap tanggung jawab indikator pelaksanaan tugas piket secara teratur 33,33% dengan jumlah 11 siswa, melaksanakan tugas yang diberikan sekolah/guru 30,30% dengan jumlah 10 siswa.
Siklus I Diketahui bahwa persentase ketuntasan karakter siswa siklus  I pada sikap disiplin indikator karakter hadir tepat waktu sebesar 51,51% dengan jumlah siswa 17 siswa, taat pada peraturan 54,54% dengan jumlah 18 siswa, sikap rasa ingin tahu indikator karakter menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu 36,36% dengan jumlah 12 siswa, mencari tahu wawasan lebih luas 30,30% dengan jumlah 10 siswa, sikap kreatif indikator menciptakan suasana belajar yang memacu inovasi dan kreativitas 54,54% dengan jumlah 18 siswa, sikap mandiri indikator belajar mandiri dalam mengerjakan tugas ataupun ulangan 30,30% dengan jumlah 10 siswa, sikap tanggung jawab indikator pelaksanaan tugas piket secara teratur 60,60% dengan jumlah 20 siswa, melaksanakan tugas yang diberikan sekolah/guru 63,63% dengan jumlah 21 siswa. Hal ini menunjukkan karakter siswa sesudah menerapkan metode pembelajaran Sosiodrama pada mata pelajaran  pada siklus I. Adapun rata-rata persentase keldelapan indikator karakter tersebut diperoleh karakter siswa sebesar 73,33% yang berarti karakter siswa termasuk kategori kurang baik karena persentase karakter siswa berada pada interval kurang dari 75%
            Diketahui bahwa persentase ketuntasan karakter siswa siklus  I pada sikap disiplin indikator karakter hadir tepat waktu sebesar 75,75% dengan jumlah 25 siswa, taat pada peraturan 81,81% dengan jumlah 27 siswa, sikap rasa ingin tahu indikator karakter menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu 78,78% dengan jumlah 26 siswa, mencari tahu wawasan lebih luas 78,78% dengan jumlah 26 siswa, sikap kreatif indikator menciptakan suasana belajar yang memacu inovasi dan kreativitas 84,84% dengan jumlah 28 siswa, sikap mandiri indikator belajar mandiri dalam mengerjakan tugas ataupun ulangan 81,81% dengan jumlah 27 siswa, sikap tanggung jawab indikator pelaksanaan tugas piket secara teratur 78,78% dengan jumlah 26 siswa, melaksanakan tugas yang diberikan sekolah/guru 84,84% dengan jumlah 28 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran  dengan menggunakan metode pembelajaran Sosiodrama dapat meningkatkan karakter siswa karakter Adapun rata-rata persentase kedelapan karakter tersebut diperoleh karakter siswa sebesar 90,33% yang berarti karakter siswa termasuk kategori sangat baik karena berada pada interval 80 sampai denga 100%. Hasil observasi pra siklus, siklus I dan siklus II terdapat adanya peningkatan persentase karakter siswa dalam proses pembelajaran yaitu persentase karakter siswa secara klasikal pada pra siklus mencapai 70,27% yang termasuk dalam kategori kurang baik, persentase karakter siswa secara klasikal meningkat pada siklus I mencapai 74,33% yang termasuk dalam kategori cukup baik, sedangkan persentase karakter siswa pada siklus II juga mengalami peningkatan mencapai 90,33% yang termasuk dalam kategori sangat baik. Dapat diketahui bahwa persentase hasil belajar kognitif pada pra siklus diperoleh 54,54%, aspek afektif dan psikomotor tidak diperoleh, sedangkan siklus I persentase hasil belajar pada aspek kognitif 72,72%, aspek afektif 67,17% dan psikomotor 66,64%. Siklus II persentase hasil belajar aspek  kognitif 87,87%, aspek afektif 82,82% dan psikomotor 85,85%. Berdasarkan persentase hasil belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan persentase hasil belajar baik pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor antara pra siklus, siklus I, dan siklus II.

KESIMPULAN DAN  SARAN
Kesimpulan
            Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran Sosiodrama  dapat meningkatkan hasil belajar bahasa  Indonesia pada  kompetensi “ mengungkapkan pikiran dan perasaan denga bermain drama “ . Peningkatam  persentase hasil belajar kognitif pada pra siklus diperoleh 54,54%, aspek afektif dan psikomotor tidak diperoleh, sedangkan siklus I persentase hasil belajar pada aspek kognitif 72,72%, aspek afektif 67,17% dan psikomotor 66,64%. Siklus II persentase hasil belajar aspek  kognitif 87,87%, aspek afektif 82,82% dan psikomotor 85,85%.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti memberikan saran dan rekomendasi sebagai berikut: Bagi Guru, sebaiknya menggunakan metode pembelajaran Sosiodrama dalam proses pembelajaran di kelas sebagai alternatife metode pembelajaran di sekolah, karena metode pembelajaran ini menuntut siswa untuk meletakkan titik tekannya pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah secara nyata, selain itu proses interaksi antara siswa dan siswa dengan siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran dengan metode pembelajaran Sosiodrama akan lebih aktif.

DAFTARA RUJUKAN
Depdiknas. 2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur.
Engkoswara. 1988. Dasar-Dasar Metodologi Pengajaran. Jakarta: Bina Aksara.
Hamalik, O. 1980. Media Pendidikan. Bandung: Alumni.
Hamalik, O. 1992. Studi Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Mandar Maju.
Hobri. 2007. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Untuk Guru dan Praktisi. Jember: Pena Salsabila.
Sukidin, Basrowi dan Suranto. 2010. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya:Penerbit Insan Cendekia.
Suparman, A. 2012. Desain Instruksional Modern. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Uno, H. B. 2011. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
Yamin, M. 2013. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Referensi.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003.