Senin, 08 Februari 2016

PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU IPS SEKOLAH DASAR MELALUI PENERAPAN KETRAMPILAN  MENGAJAR

Sri Handayani

Abstrak: Dalam kompetensi pedagogik, guru harus mampu menerapkan ketrampilan  dasar mengajar, merupakan kemampuan untuk melakukan tindakan- tindakan kongkrit, mengkoordinasi unsur- unsur pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan. Adapun ketrampilan dasar mengajar yang harus diimplementasikan oleh guru adalah ; (1) ketrampilan membuka dan menutup pelajaran; (2) ketrampilan menjelaskan; (3) ketrampilan bertanya; (4) ketrampilan mengadakan variasi; (5) ketrampilan memberi penguatan;(6) ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil; dan (7) ketrampilan mengelola kelas. Dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar (SD), selain berbagai persaratan yang harus dipenuhi sebagai guru profesional, memilih strategi pembelajaran yang tepat, memanfaatkan media pembelajaran yang sesuai, perlu mempertimbangkan latar belakang peserta didik.

Kata Kunci : kompetensi pedagogik, ketrampilan dasar mengajar, pendidikan IPS SD.

PENDAHULUAN
       Dalam menghadapi era globalisasi, tuntutan terhadap pendidikan yang berkualitas semakin meningkat. Ada beberapa faktor yang menuntut lembaga pendidikan secara terus- menerus meningkatkan kualitas proses  maupun keluaran ( output) pendidikan. Dari beberapa faktor tersebut antara lain adalah adanya persaingan global, menyebabkan kompetensi sangat ketat, sehingga setiap individu dituntut memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin, memiliki semangat belajar secara terus- menerus (Naim, 2011). Kaitannya dengan etos kerja guru IPS SD, tidak hanya diukur dengan pendidikan, etos keilmuan dan etos kerja, yang dilandasi oleh sistem  moral etis dalam segala perilakunya, akan tetapi dalam menjalankan profesi pedagogik guru dituntut untuk menguasai dan menerapkan ketrampilan mengajar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, guru sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, serta pendidikan anak usia dini harus memiliki 4 kompetensi  yaitu : (1) kompetensi pedagogik; (2) kompetensi kepribadian; (3) kompetensi profesioanal; dan (4) kompetensi sosial. Salah satu kompetensi pedagogik adalah ketrampilan mengajar. Ketrampilan  dasar mengajaran adalah kemampuan seorang guru untuk melakukan tindakan- tindakan kongkrit, mengkoordinasikan unsur-unsur pembelajaran yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
     Dari hasil observasi yang mendalam, dan pengamatan secara terus menerus terhadap peserta PLPG Rayon 16 yang dilaksanakan oleh FKIP Universitas Jember tahun 2010, 2011, para guru Sekolah Dasar, sebagian besar kurang memahami dan menerapkan ketrampilan yang harus dilaksanakan ketika  sedang mengajar di depan kelas. Oleh karena kurang memahami ketrampilan mengajar, maka dalam proses pembelajaran masih di dominasi oleh guru, hal tersebut kurang sejalan dengan pembelajaran pada paradigma baru. Paradigma baru pembelajaran memiliki ciri- ciri : (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (student centered approach); (2) strategi pembelajaran secara tidak langsung ( discovery dan inquiry; (3) pemanfaatkan metode yang bervariasi; (4) tujuan pembelajaran adalah penguasaan kompetensi.
       Menurut Undang- Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa  pendidik (guru) adalah merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan. Sebagai tenaga profesional, guru diharapkan membimbing  peserta didik agar mampu merencanakan, menganilisis dan menyimpulkan masalah- masalah yang dihadapi ( Ali, M, 2004). Tugas guru tidak terbatas pada status sebagai pengajar, tetapi perananya cukup luas, sebagai penyelenggara pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan mutu produktivitas. Guru sebagai unsur yang strategis dan sebagai ujung tombak dalam merealisasi tujuan untuk mewujudkan produktivitas sekolah yang berkualitas. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang berkualitas antara lain dengan menguasai dan menerapkan ketrampilan mengajar secara optimal. Ketrampilan- ketrampilan mengajar yang harus dikuasai dan di emplementasikan oleh guru ketika  proses pembelajaran adalah: (1) ketrampilan membuka dan menutup pelajaran; (2) ketrampilan menjelaskan; (3) ketrampilan mengadakan variasi; (4) ketrampilan mengelola kelas; (5) ketrampilan bertanya dasar dan lanjut; (6) ketrampilan memberi penguatan; (7) ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil (Pedoman Pelaksanaan Pengajaran Mikro, 2006).

PEMBAHASAN
A.    Kondisi Pebelajaran IPS Di Sekolah Dasar
 Secara umum pembelajaran IPS di Sekolah Dasar memanfaatkan metode caramah, resitasi, diskusi maupun membaca buku text. Pemanfaatan buku text sudah kurang lazim lagi diterapkan, oleh karena buku text kadangkala kurang dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) perlu informasi- informasi aktual yang  berkembang di masyarakat, materi yang dibahas sesuai dengan konteks dan isu- isu moral yang sedang berkembang dalam masyarakat. Dalam pembelajaran cenderung masih didominasi oleh guru, siswa sekedar mengerjakan LKS, dan apabila menerapkan diskusi masih belum menekankan proses berfikir siswa  baik secara mandiri maupun kelompok. Pendidik masih kurang mengembangkan materi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Dari kenyataan tersebut, maka pembelajaran IPS  di SD kurang menarik, membosankan dan menjenuhkan bagi peserta didik, karena mereka hanya diarahkan untuk menghafalkan materi pelajaran, tidak terjadi proses understanding, materi yang dipelajari tidak relevan dengan pengalaman peserta didik sehari- hari ( Baldridge,J.V.S, 1983). Dari hasil penelitian di sekolah dasar tahun 2011 diperoleh data bahwa nilai UAS mata pelajaran IPS di tiga sekolah terkemuka di Kabupaten Jember berada dibawah rata-  rata nilai PKn,  Matematika, dan bahasa Indonesia, ( Handayani,S., 2012).
Peranan guru IPS pada era globalisasi dan otonomi daerah diharapkan mampu mengembangkan aspek- aspek pembelajaran yang meliputi kognitif, afektif, psikomotor, religius, dan emosional siswa. Untuk itulan pembelajaran IPS SD seyogyanya menerapkan paradigma baru dalam proses pembelajaran yang lebih mengedepankan proses daripada hasil. Dalam pembelajaran dipertimbangkan berbagai faktor, antara lain: latar belakang peserta didik, psikologi anak, jenis belajar dll. Untuk memilih strategi pembelajaran IPS di SD perlu diperhatikan tentang (1) kebutuhan dasar peserta didik; (2) latar belakang peserta didik; (3) perkembangan kognisi peserta didik; (4) jenis dan kecakapan belajar; (5) media dan sumber belajar; (6) karakter mata pelajaran; (7) karakteristik kurikulum; dan (8) pengalaman guru. Dalam menentukan strategi pembelajaran tidak berdasarkan pada kemampuan dan keinginan guru, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dasar peserta didik. Ada beberapa kebutuhan dasar peserta didik (the universal need of children) yaitu : (1) kebutuhan untuk berkomunikasi; (2) kebutuhan untuk mengkonstruksi;(3) kebutuhan untuk berfikir dan bertindak; (4) kebutuhan untuk mengekpresikan diri (Saxe,1994). Selain berdasarkan pada kebutuhan dasar peserta didik, beberapa hal yang harus dipertimbangkan juga dalam memilih strategi pembelajaran yaitu prior knowledge dan ketrampilan yang dimiliki oleh masing- masing peserta didik, sehingga pembelajaran dapat efektif, sesuai dengan standar kompetensi minimal (SKM) yang ditetapkan. Kebutuhan dasar peserta didik tersebut sesuai dengan hakekat manusia, baik sebagai insan individu, insan sosial maupun mahkluk Tuhan. Sebagai insan sosial peserta didik memerlukan komunikasi terutama komunikasi pendidikan merupakan proses penyampaian informasi/ pesan secara timbal balik yang terjadi, terkendali, dan terkondisi untuk tujuan- tujuan pendidikan, merambah bidang atau peristiwa- peristiwa pendidikan ( David.R.,1991),( Uchana, 2003). Peserta didik membutuhkan informasi yang banyak- banyaknya baik yang berasal dari guru, dari lingkungan sekitar, dari buku, maupun dari media massa ketika proses pembelajaran. Setelah peserta didik memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan kemudian merekonstruksikan sendiri pengetahuan dan ketrampilan yang dipelajarinya. Jadi peserta didik membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari pengalamannya sendiri, bukan berasal dari guru. Dalam konteks pembelajaran paradigma baru, peserta didik didorong untuk mampu berpikir sendiri, menggali pengetahuan dan ketrampilan sendiri yang pada gilirannya ilmu pengetahuan tersebut diimplementasikan dalam kehidupan nyata sehari- hari, sehingga ilmu pengetahuan tersebut menjadi berguna baik bagi peserta didik sendiri maupun bagi orang lain.
Tujuan pendidikan SD sesuai dengan  jenjang, bentuk dan jenisnya, secara umum adalah memberikan bekal kepada peserta didik dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, makhluk Tuhan serta mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya yang lebih tinggi baik jenjang pendidikan menengah maupun perguruan tinggi. Bernadib (1984) menyatakan bahwa tugas utama dalam lapangan pendidikan adalah meningkatkan kecerdasan agar peserta didik mampu memecahkan berbagai masalah. Selain itu tujuan pendidikan SD juga memberikan bekal kemampuan untuk dapat bekerja. Sekolah dasar memiliki fungsi sebagaimana fungsi pendidikan pada umumnya yaitu fungsi konservasi dan fungsi inovasi (Danin,2007). Sekolah memiliki fungsi konservasi artinya sekolah berupaya untuk melestarikan nilai- nilai sosial budaya masyarakat. Fungsi inovasi adalah upaya- upaya sekolah dalam rangka melakukan pembaharuan di dalam masyarakat. Disamping  fungsi konservasi dan inovasi sebagai fungsi utama, sekolah juga mengembangkan fungsi personalisasi (individualisasi), sosialisasi, nasionalisasi, universialisasi, dan profesialisasi. Fungsi-fungsi sekolah tersebut teraktualisasi dalam kurikulum pelajaran SD, dan diimplementasikan pada tujuan pembelajaran.
Menurut pasal 37 UU RI No. 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa, mata pelajaran IPS merupakan salah satu bagian dari kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Tujuan  utama pendidikan IPS di SD mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, terampil  mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari- hari baik yang menimpa dirinya sendiri  maupun masyarakat. Dari tujuan IPS tersebut  agar peserta didik dapat : (1) memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungannya melalui pemahaman terhadap nilai- nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat; (2) mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang di adopsi dari ilmu- ilmu sosial, dan digunakan untuk memecahkan masalah; (3) memperhatikan isu- isu dan masalah- masalah sosial dan membuat analisis secara kritis; (4) mengembangkan berbagai potensi untuk membangun diri sendiri agar survive di tengan globalisasi ; (5) mampu berkompetisi dan berpartisipasi dalam masyarakat. Pembelajaran IPS akan  berhasil dengan baik apabila guru dapat memperhatikan cultural background dan cultural diversity ( Gorton,R.A.,1991). Untuk itulah dalam proses pembelajaran mempertimbangkan pengalaman  dan latar belakang pesereta didik sebagai  landasan dasar, untuk memahami setiap permasalahan yang dihadapi. Menurut perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Jean Piaget, bahwa siswa SD berada pada tahap operasional kongkrit, oleh sebab itu pembelajaran akan lebih berhasil apabila di dasari oleh pengalaman- pengalaman pribadi peserta didik secara faktual dan kongkrit. Peserta didik belajar IPS diawali dari keadaan lingkungan sekitar, baik yang menyangkut aspek geografi, ekonomi, sejarah, antrophologi, pemerintahan ( politik) dls. Untuk membangun suatu konsep dimulai dengan proses asimilasi, dan selanjutnya apabila sudah mantap berlanjut kepada jenjang berikutnya yaitu proses adaptasi.
Proses pembelajaran IPS akan dapat berhasil apabila guru memiliki bekal pengetahua, formula IPS dan karakteristik IPS itu sendiri. Pelajaran IPS sebagai perpaduan dari lima komponen yang terdiri dari : (1) time; (2) space; (3) issues;(4) concept; dan (5) relitionship ( Saxe, 1994). Pemahaman guru tentang konsep dan karakteristik pelajaran IPS merupakan modal penting untuk membimbing belajar pesertadidik dalam pembelajaran IPS. Oleh karena materi IPS di SD cukup luas, sedangkan waktu yang disediakan untuk pelajaran itu hanya 2 jam pelajaran setiap minggunya, maka guru juga harus pandai- pandai memilih dan memilah materi pelajaran yang perlu di perhatikan sehingga terpenuhi aspek keluasan dan kedalaman materi.

B.     Strategi Pembelajaran IPS di SD
Banyak pilihan tentang strategi pembelajaran IPS, akan tetapi perlu dipertimbangkan tentang kemampuan, dan cara berpikir peserta didik SD. Siswa SD sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua kriteria yaitu : kriterian siswa yang duduk di kelas rendah dan klas tinggi. Siswa SD yang duduk di kelas rendah dengan usia sekitar 6 sampai 9 tahun, cara berpikirnya masih kongkrit, sehingga dalam proses pembelajaran masih membutuhkan contoh- contoh yang kongkrit, nyata, dapat dilihat, bahkan dialami oleh siswa itu sendiri. Semakin tinggi kelas dan usia siswa, maka akan  semakin mampu berpikir dan menganalisis masalah lebih tinggi dan abstrak. Untuk itulah ada beberapa alternatif pendekatan pembelajaran IPS yang perlu dipahami dan diimplementasikan , antara lain: (1) contextual teaching and learning ( CTL); (2) Moral Dilemma Discusion (MDD);(3) cooperatif learning, dan (4) problim solving.
1.      Contextual  Teaching and Learning (CTL) Approach
CTL merupakan suatu konsep belajar yang dapat membantu pendidik untuk mengkaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata peserta didik, dan mendorong mereka untuk dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan kehidupan sehari – hari, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Pembelajaran akan bermakna bagi peserta didik dan natural karena dalam proses pembelajaran mengkaitkan materi ajar dengan contoh riil. Sebagai contoh pelajaran IPS dengan penerapan CTL adalah pokok bahasan keluarga , peserta didik mengidentifikasi nama- nama keluarga dan saudara-saudaranya lewat pengalaman dan pengamatan dari lingkungan keluarganya sendiri. Dengan  model pembelajaran CTL, guru berperanan sebagai pembimbing dan pengarah dalam mencapai tujuan pembelajaran.  Apabila dilihat dari proses pembelajaran anak belajar tidak sekedar menghafal, tetapi siswa memiliki kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuan lewat pengalamanya sendiri, tidak sekedar menerima pengetahuan dari guru. Dalam pendekatan CTL, kegiatan belajar ada beberapa hal yang mendasar yang perlu dipahami yaitu: (1) proses belajar; (2) transfer belajar; (3) peserta didik sebagai pebelajar, dan (4) pentingnya lingkungan belajar (Dikdasmen, 2002). Dalam proses belajar peserta didik memiliki pengetahuan yang mendalam, menyeluruh, tidak  dipisah- pisahkan menjadi suatu fakta. Peserta didik terbiasa menemukan, memecahkan masalah  yang sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat.  Dalam proses belajar, siswa melakukan transfer belajar dari pengalamannya sendiri, bukan dari guru atau orang lain. Transfer pengetahuan tersebut  dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengetahuan diperoleh dari konteks yang terbatas, kemudian berlanjut ketingkat yang lebih luas. Peserta didik memiliki pemahaman yang baik tentang ketrampilan dan pengetahuan yang dipelajari itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Pembelajaran yang berpusat dan dari lingkungan siswa sendiri sesuai dengan prinsip pembelajaran yang efektif.
Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning memiliki beberapa komponen yaitu : (1) konstructivisme ( constructivism); (2) menemukan ( inquiry); (3) bertanya ( questioning); (4) masyarakat belajar (Learning community);(5) membuat model (modeling); (6) refkelsi ( refkection); dan (7), penilaian yang bersifat alamiah ( authentic assesment ) ( Nurhadi & Senduk, 2003). Penerapan pendekatan pembelajaran IPS melalui  CTL secara garis besar langkah- langkahnya sebagai berikut. Pertama, kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya. Kedua, melaksanakan kegiatan inkuiri yang berhubungan langsung dengan topik- topik IPS, contohnya tentang lingkungan. Ketiga, kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan kalimat tanya atau dengan menggunakan key questions, contohnya bagaimana cara menjaga kebersihan dilingkungan keluarga, bagaimana cara memenuhi kebutuhan keluarga, siapa saja yang dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dll. Keempat, ciptakan masyarakat belajar / groupwork. Belajar secara kelompok akan mampu membangkitkan motivasi belajar maupun solidaritas, toleransi bagi peserta didik. Kelima, menghadirkan  model  sebagai contoh pembelajaran, misalnya mendatangkan aparat pemerintah desa untuk mempelajari tentang tugas- tugas aparat desa maupun struktur organisasi desa. Model diusahakan berasal dari masyarakat sekitas, atau dari orangtua peserta didik. Keenam,  pada akhir pertemuan dilakukan refleksi sebagai flashback, apakah pengetahuan yang baru saja dipelajari sebagai struktur pengetahuan baru yang merupakan pengayaan ,atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan refleksi, maka akan dapat diketahui tentang apa sajakah yang diperoleh dari peserta didik setelah membahas, mempelajari tema tertentu pada hari itu. Ketujuh, untuk mengertahui pemahaman peserta didik tentang hal yang dipelajari, perlu melakukan assesment dengan berbagai model, baik dari proses pemebalajran dengan observasi, maupun melalui wawancara, portopolio, maupun self evaluation ( Dikdasmen,2002).

2.      Moral Dilemma Discussion (MDD) Aproach
Nilai merupakan suatu istilah yang tidak mudah untuk diberikan batasan secara pasti, karena nilai merupakan sebuah realitas yang abstrak (Ambroisje dalam Kaswari, 1993). Uchana (1997) mengutip pendapat Allport menyatakan bahwa nilai adalah “ a belief upon which a man acts by preference. It is this a cognitive, a motor, and above all, a deeply propriate disposition”. Artinya nilai merupakan kepercayaan yang dijadikan preferensi manusia dalam tindakannya. Manusia menyeleksi atau memilih aktivitas berdasarkan nilai yang dipercayainya. Nilai terdapat setiap pilihan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang baik yang berkaitan dengan hasil (tujuan) maupun cara untuk mencapainya. Dalam hal ini terkandung pemikiran dan keputusan seseorang mengenai apa yang dianggap benar, baik atau diperbolehkan ( Robins, 1991). Nilai memiliki dua atribut, yaitu isi dan intensitasnya. Atribut isi (content) berkaitan dengan apakah sesuatu itu penting. Atribut intensitas menyangkut sejauh mana tingkat kepentingannya. Ketika kita meranking nilai- nilai seseorang berdasarkan intensitasnya, maka kita akan mendapatkan sistem nilai dari orang yang kita nilai tersebut. Setiap orang memiliki hirarki nilai yang membentuk sistem nilai pribadinya. Sistem nilai dapat diketahui dari pandangan orang tentang tingkat kepentingan suatu nilai seperti kebebasan, kejujuran, kepatuhan dan kesamaan ( equality).
Nilai moral sering identik dengan kegiatan seseorang untuk melakukan tindakan  antara dua pilihan yang benar atau salah. Nilai moral pada peserta didik akan menjadi landasan terhadap sikap dan tindakannya baik yang sesuai atau tidak sesuai dengan ketentuan- ketentuan hukum, agama, adat istiadat maupun kebiasaan- kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Nilai moral yang dapat dikembangkan pada peserta didik adalah nilai- nilai budaya dan karakter bangsa sehingga mereka memiliki nilai- nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai- nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai warga  negara yang religius, Nasionalis, produktif dan kreatif. Pengembangan nilai, moral, karakter sangat strategis b agi keberlangsungan hidup dan keunggulan bangsa dimasa mendatang. Pengembangan pendidikan nilai moral dan karakter  sebagai bekal bagi peserta didik dalam menghadapi situasi global yang berdampak negatif. Hal tersebut diperlukan sekali karena dewasa ini makin banyaknya peserta didik yang melakukan tindakan- tindakan kriminal yang mencederai nilai- nilai agama maupun moral bangsa. Dengan berbekal pendidikan yang mengedepankan nilai , moral, dan karakter pada pendidikan IPS diharapkan peserta didik mampu membentengi diri dari dampak negatif globalisasi dan reformasi. Peserta didik mampu memilih tindakan- tindakan yang dilakukan berdasarkan pada suatu kepentingan, dan memilah, meranking kepentingan- kepentingan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, dan mana kepentingan yang dapat ditunda.
Pentingnya nilai dan  moral bagi peserta didik maupun dalam suatu organisasi, karena nilai sebagai fondasi untuk memahami sikap dan motivasi serta dapat mempengaruhi persepsi peserta didik, sehingga peserta didik memiliki konsepsi tentang apa yang “seharusnya” dan “ tidak seharusnya” dilakuklan( Robins,1991). Nilai  secara  horisontal menurut Spanger dapat digolongkan menjadi enam berdasarkan enam lapangan kehidupan manusia yang membuat manusia berbudaya dan berkarakter yaitu : (1) lapangan pengetahuan; (2) lapangan ekonomi; (3) lapangan estetik; (4) lapangan politik; (5) lapangan religi; dan (6) lapangan sosial (Alisyahbana, 1986). Dari keenam tipe tersebut maka perilaku manusia dapat digolongkan menjadi enam tipe yaitu : (1) manusia teoritis (  konsen terhadap kebenaran dan pengetahuan); (2) manusia ekonomi ( utilitarian); (3) manusia estetika (seni dan harmoni); (4) manusia sosial ( manusiawi); (5) manusia politik ( kekuasaan dan pengawasan); (6) manusia religius ( agama).
Nilai merupakan sesuatu yang tidak dapat diperoleh begitu saja secara  kebetulan, melainkan diperoleh oleh seseorang melalui proses indrawi (dorongan hidup dan insting), kata hati ( hati nurani), dan rasio (akal). De Vito (2006) menyebutkan ada empat macam sumber nilai bagi seseorang, yaitu ; (1) orang tua; (2) masyarakat, termasuk lembaga pendidikan; (3) teman bergaul; (4) diri sendiri melalui pengalaman dan akalnya. Pribadi seseorang pada hakekatnya ditentukan oleh nilai- nilai yang terintegrasi dalam dirinya sehingga mendorong untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Tindakan seseorang mencerminkan nilai-  nilai yang dianutnya. Nilai Mengarahkan jalan hidup seseorang. Seseorang bertindak berdasarkan nilai yang diyakini, dan selalu berulang sehingga menjadi kaidah hidupnya (Naim, 2011).
Pendidikan IPS sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi masalah- masalah merosotnya nilai, budaya dan karakter bangsa secara preventif. Pendidikan IPS yang membekali peserta didik dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa mempunyai peranan strategis untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas generasi  muda yang produktif dan kreatif. Pelajaran IPS yang di dalamnya terdapat pelajaran sejarah antara lain bertujuan untuk membentuk jati diri bangsa, mempelajari pengetahuan, tehnologi, sikap, dan cara- cara yang digunakan masyarakat bangsa pada waktu dulu untuk dijadikan inspirasi dan aspirasi dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa yang akan datang ( Ali, 2004). Pendidikan IPS SD sebagai salah satu pembentuk nilai,watak dan karakter peserta didik terintegrasi dengan pengalaman pribadi yang berasal dari lingkungan keluarga maupun lingkungan bergaul merupakan bekal bagi peserta didik dalam menatap hidup kedepan yang banyak tantangannya.
Moral Dilemma Discussion (MDD) Approach dalam perkembangannya menjadi pendidikan moral yang sekarang gencar disosialisasikan lewat seminar maupun work shop, baik dilakukan secara nasional maupun regional. Pendidikan karakter merupakan upaya agar peserta didik mengenal, memahami dan menginternalisasi nilai- nilai, karakter yang meliputi pengetahuan, kemauan, kesadaran untuk melaksanakan nilai- nilai tersebut kepada dirinya sendiri, terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kepada sesama manusia maupun terhadap lingkungan dan negara. Implementasi dari pendidikan moral, tidak hanya diintegrasikan kedalam mata pelajaran IPS saja, akan tetapi semua mata pelajaran dianjurkan untuk menyisipkan pendidikan moral tersebut.

3.      Cooperative Learning Approach
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran secara kelompok- kelompok kecil  dengan memperhatikan keragaman anggota kelompok sebagai wadah peserta didik untuk bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya. Dalam pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu bersamaan dan peserta didik selakigus sebagai nara sumber bagi teman lainnya. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara peserta didik untuk mencapai tujuan. Pembelajaran kooperatif secara sadar dan sengaja mengembangkan inmteraksi yang saling asuh antar siswa untuk mednghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan perselisihan. Dengan belajar kooperatif dapat  mengembangakn tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik antar peserta didik. Peserta didik dalam  model pembelajaran kooperatif akan lebih mudah memahami konsep- konsep yang sulid  karena dalam pembelajaran lebih menekankan pemebelajaran secara bersama dalam kelompok sehingga  dapat saling bekerjasama dengan anggota kelompok nya, sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah secara bersama.
Model pembelajaran kooperatif membagi kelas menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri antara 3- 5 orang anggota. Anggota  kelompok bersifat heterogin baik jenis kelamin, kemampuan intelektual, etnik,  keadaan ekonomi maupun pendidikan orangtua anggota kelompok. Masing- masing anggota kelompok memiliki tugas sendiri- sendiri secara individu, kemudian digabungkan dalam kelompok. Apabila salah satu anggota kelompok mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah, maka anggota yang lain dapat membantu untuk menyelesaikan masalah tersebut.  Penyelesaian tugas kelompok merupakan tanggungjawab semua anggota, sehingga apabila salah satu anggota belum dapat menyelesaikan tugasnya akan menhghambat tugas kelom,pok. Oleh sebab itu dalam pembelajaran kooperatif semua anggota kelompok harus mengutamakan kerjasama dalam menyelesaikan masalah.
Model pembelajaran kooperatif dapat diklasifikasikan menjadi empat model yaitu : (1) Student Teams Achievement Division ( STAD); (2) Jingsaw; (3) Group Investigation; dan (4) Think Pair Share dan Number Head Together.

4.      Problem Solving Approach
Salah satu alternatif strategi pembelajaran IPS adalah problem solving approach, merupakan pendekatan pembelajaran yang berbasis pada masalah. Pembelajaran ini mengaktifkan peserta didik untuk mencari masalah- masalah otentik yang ada dilingkungan sekitarnya. Masalah- masalah tersebut berhubungan dengan kehidupan nyata sehari- hari. Peserta didik mendapatkan tugas untuk  memperhatikan, mengamati, masalah – masalah yang muncul dilingkungannya. Masalah yang muncul di masyarakat tentu beranekaragam, dari berbagai masalah tersebut peserta didik harus mencari masalah yang mendesak. Masalah yang mendesak adalah masalah yang apabila tidak di atasi segera akan mengakibatkan kerugian atau masalah yang lebih besar. Setelah menemukan masalah yang segera harus ditangani, maka peserta didik diharapkan dapat memberi solusi pemecahan masalah tersebut.
Langkah- langkah pendekatan pembelajaran problim solving approach adalah sebagai berikut: (1)  membentuk tim yang heterogin baik  kemampuannya, jenis kelamin, maupun   etnisnya; (2) orientasi pada masalah, sebaiknya setiap kelompok membahas masalah yang berbeda, apabila masalahnya sama, tetapi solusi pemecahannya kadang- kadang berbeda; (3) perencanaan kerja secara rinci, dan setiap anggota kelompok memperoleh tugas dan tanggung jawab sendiri- sendiri, rencana kerja dilengkapi instrumen kerja/ penelitian; (4) terjun kelapangan untuk melakukan penyelidikan; (5) membuat laporan hasil penyelidikan yang sudah dilengkapi dengan solusi pemecahan masalah; (6)  presentasi, hasil penyelidikan yang sudah dibuatkan laporannya di presentasikan di depan kelas secara kelompok; (7)  refleksi, dari hasil presentasi dan diskusi, maka diperoleh masukan- masukan tentang hasil kerja kelompok, sehingga dapat diketahui kelemahan- kelemahannya, sehingga dengan refleksi dan diskusi dapat diketahui kelemahan maupun solusi pemecahannya.
Model pembelajaran problem solving dapat membantu peserta didik dalam menghadapi hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mereka dapat melihat, merasakan masalah apa saja yang kemungkinan muncul dalam masyarakat. Denagn belajar problim solving peserta didik diberi bekal untuk empati terhadap sekelilingnya yang mengahadapi permasalahan hidup. Selain itu peserta didik juga memeliki kecakapan untuk menghadapi problim hidup secara wajar tanpa merasa tertekan, dan secara proaktif dapat mencari serta menemukan solusi, dan pada akhirnya mampu mengatasinya.

C.    Ketrampilan Dasar Mengajar
Ketrampilan dasar mengajar (teaching skill) adalah kemampuan khusus yang harus dimiliki oleh guru, agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional (Robandi, 2010). Ketrampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa kemampuan yang bersifat mendasar dengan beberapa kemampuan atau keterampilan yang mendasar dan melekat harus dimiliki dan diaktualisasikan oleh setiap guru. Mengapa guru dalam pembelajaran harus menerapkan keterampilan mengajar? Sesuai Undang- Undang No. 14 Tahun 2005, pasal 1, tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Yang perlu kita pahami bersama adalah bahwa mengajar adalah bukan sekedar proses penyampaian atau meneruskan pengetahuan. Mengajar merupakan suatu proses yang kompleks, yaitu penggunaan secara `integratif sejumlah keterampilan untuk menyampaikan pesan. Pengintegrasian ketrampilan-ketrampilan yang dimaksud dilandasi oleh seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu wawasan (Dadang, 2010). Sedangkan aplikasinya secara unik dalam arti secara simultan dipengaruhi oleh semua komponen belajar-mengajar. Komponen yang dimaksud yaitu tujuan yang ingin dicapai, pesan yang ingin disampaikan, subjek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, serta yang tidak kurang pentingnya ketrampilan, kebiasaan serta wawasan tentang diri dan misi seorang guru sebagai pendidik. Adapun ketrampilan dasar yang harus dimiliki dan diimplementasikan dalam pembelajaran adalah : (1) ketrampilan membuka dan  menutup pelajaran;(2) ketrampilan menjelaskan; (3) ketrampilan bertanya; (4) ketrampilan mengadakan variasi; (5) ketrampilan  memberi penguatan; (6) ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil: dan (7) ketrampilan mengelola kelas, yang dijelaskan sebagai berikut:
1.    Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran
Membuka pelajaran (set induction) merupakan usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prakondisi pesertadidik agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Komponen ketrampilan membuka pelajaran meliputi: (1) menarik perhatian peserta didik; (2) menimbulkan motivasi; (3) memberi acuan melalui berbagai usaha, dan (4) membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari. 
Ketrampilan membuka pelajaran dalam proses atau kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan awal yang mencakup apersepsi, orientasi dan motivasi. Dengan membuka pelajaran, pesertadidik memiliki kesiapan mental dalam menghadapi topik pelajaran baru yang dilandasi oleh pengetahuan dan pengalaman  yang dimiliki.
Menutup pelajaran (closure) adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru dan pesertadidik untuk mengakhiri pelajaran. Komponen ketrampilan menutup pelajaran meliputi:(1) meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan cara merangkum; (2) membuat ringkasan; dan (3) mengevaluasi. 
Kiat untuk menutup pelajaran antara lain : (1) cara menutup pelajaran menarik; (2) mendorong pesertadidik untuk menguasai dan peresapi  bahan pelajaran yang baru dipelajari; (3) antara bagian penutup dan inti hubungannya jelas; (4) menciptakan pencapaian tujuan pada pesertadidik.

2.      Ketrampilan Menjelaskan
Yang dimaksud dengan ketrampilan dasar mengajar menjelaskan dalam pembelajaran ialah ketrampilan menyajikan informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antara satu bagian dengan lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok, merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan.
Pemberian penjelasan merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam kegiatan seorang guru. Interaksi di dalam kelas cenderung dipenuhi oleh kegiatan pembicaraan baik oleh tenaga pendidik sendiri, oleh tenaga pendidik dan peserta didik, maupun antar peserta didik.
Ada beberapa tujuan yang dapat dicapai dengan menerapkan ketrampilan menjelaskan, yaitu: (1) membimbing peserta didik memahami materi yang dipelajari; (2) melibatkan peserta didik untuk berpikir dengan memecahkan masalah-masalah; (3) memberi balikan kepada peserta didik mengenai tingkat pemahamannya, dan untuk mengatasi kesalahpahaman; (4) membimbing peserta didik untuk menghayati dan mendapat proses penalaran, serta menggunakan bukti-bukti dalam pmecahan masalah; (5) menolong peserta didik untuk mendapatkan dan memahami hukum, dalil, dan prinsip-prinsip umum secara objektif dan bernalar.
Komponen-komponen ketrampilan dasar  menjelaskan adalah sebagai berikut. Komponen Pertama adalah merencanakan. Agar penjelasan guru bisa dimengerti peserta didik, penjelasan yang diberikan perlu direncanakan dengan baik, terutama yang berkenaan dengan isi pesan dan penerima pesan. Dua hal tersebut sangat menentukan apakah penjelasan kita tepat sasaran atau tidak. Komponen kedua adalah isi pesan dan penerima pesan. Isi pesan adalah merupakan materi yang akan diinformasikan/ disampaikan oleh guru kepada pesertadidik pada proses pembelajaran. Materi pelajaran yang akan disampaikan  harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dengan demikian isi atau materi pelajaran menyesuaikan dengan tujuan/ indikator yang akan dicapai, bukannya tujuan menyesuaikan dengan materi/ isi pelajaran. Merencanakan suatu penjelasan mempertimbangkan penerima pesan. Kesiapan pesertadidik untuk mendengarkan penjelasan guru berpengaruh terhadap hasil belajar. Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi adalah: Jenis kelamin, usia, kemampuan, latar belakang sosial dan lingkungan belajar . Meskipun materi yang dijelaskan sama, akan tetapi masing- masing pesertadidik memilkiki persepsi yang berbeda.
Penyajian suatu penjelasan dapat  ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal : (1) kejelasan; (2) penggunaan contoh dan ilustrasi; (3) penekanan;(4) pengorganisasian; (5) balikan.
Agar guru dapat menggunakan ketrampilan menjelaskan dengan baik, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu : (1) penjelasan dapat diberikan di awal, di tengah, ataupun di akhir jam pertemuan (pelajaran), tergantung pada keperluannya; (2) penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran; (3) guru dapat memberikan penjelasan apabila ada pertanyaan dari peserta didik ataupun telah direncanakan sebelumnya; (4) materi  bermakna bagi peserta didik; (5) penjelasan disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik.
3.      Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, yang sekaligus merupakan bagian dari keberhasilan dalam pengelolaan instruksional dan pengelolaan kelas. Dengan bertanya guru mampu mendeteksi hambatan proses berpikir di kalangan pesertadidik dan sekaligus dapat memperbaiki dan meningkatkan proses belajar di kalangan pesertadidik. 
Tujuan pertanyaan diajukan, agar pesertadidik belajar, memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir, baik berupa kalimat tanya atau suruhan yang menuntut respon pesertadidik. Bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir. Pertanyaan dapat diklasifikasikan manjadi dua jenis, yaitu pertanyaan menurut maksudnya dan pertanyaan pengetahuan (taksonomi Bloom). Pertanyaan menurut maksudnya terdiri dari : Pertanyaan permintaan ( compliance question), pertanyaan retoris (rhetorical question), pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question) dan pertanyaan menggali (probing question). Sedangkan pertanyaan pengetahuan terdiri dari: pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowlagde question), pemahaman (conprehention question), pertanyaan penerapan (application question), pertanyaan sintetis (synthesis question) dan pertanyaan evaluasi (evaluation question) Perlunya keterampilan bertanya karena: (1) guru cenderung mendominasi kelas; (2) pesertadidik kurang terbiasa mengajukan pertanyaan;(3) pesertadidik seharusnya dilibatkan secara mental- intelektual secara maksimal; (4) adanya anggapan bahwa pertanyaan hanya berfungsi untuk menguji pemahaman pesertadidik. Pertanyaan dalam proses pembelajaran bertujuan untuk: (1) membangkitkan minat dan rasa ingin tahu pesertadidik;(2) memusatkan perhatian pesertadidik;(3) mendoagnosis kesulitan- kesulitan yang menghambat belajar;(4) mengembangkan cara belajar pesertadidik;(5)  memberi kesempatan pesertadidik untuk menyampiakan informasi;(6) mengukur hasil belajar pesertadidik;(7) mengukur keberhasilan guru dalam mengajar.
Dalam mengajukan pertanyaan beberapa hal yang perlu diperhaikan yaitu : (1) pertanyaan jelas; (2) memberi acuan; (3) pemusatan; (4) pemindahan giliran; (5) penyebaran; (6) memberi waktu untuk berpikir; (7) memberi tuntunan.
Ketrampilan bertanya lanjut merupakan lanjutan dari ketrampilan bertanya dasar yang lebih mengutamakan usaha mengembangkan kemampuan berpikirpesertadidik, memperbesar pertisipasi dan mendorong siswa agar dapat berinisiatif sendiri. Ketrampilan bertanya lanjut di bentuk di atas landasan penguasaan komponen-komponen bertanya dasar. Karena itu, semua komponen bertanya dasar masih dipakai dalam penerapan ketrampilan bertanya lanjut.  Komponen-komponen bertanya lanjut itu adalah (1) pengubahan susunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan; (2) pengaturan urutan pertanyaan; (3) penggunaan pertanyaan pelacak dan peningkatan terjadinya interaksi.

4. Ketrampilan Mengadakan Variasi
Untuk mengatasi kebosanan pesertadidik dalam pembelajaran, perlu adanya variasi dalam proses interaksi antara guru dengan siswa.Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan sebagai proses perubahan dalam pengajaran. Ketrampilan mengadakan variasi dapat di kelompokkan ke dalam beberapa  komponen sebagai berikut. Pertama, variasi cara mengajar guru, meliputi: (1) penggunaan variasi suara; (2) pemusatan perhatian pesertadidik;(3) kesenyapan;(4) mengadakan kontak pandang dan gerak;(5) variasi gerakan badan dan mimik;(6) variasi ekspresi wajah guru; (7) pergantian posisi guru.  Kedua, variasi dalam penggunaan media dan alat pembelajaran. Media dan alat pelajaran bila ditunjau dari indera yang digunakan dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar, dilihat, dan diraba. Ketiga, variasi pola interaksi dan kegiatan pesertadidik. Pola interaksi guru dengan murid dalam kegiatan belajar mengajar sangat beraneka ragam coraknya. Penggunaan variasi pola interaksi dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejemuan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan pesertadidik dalam mencapai tujuan pembelajaran.

5. Ketrampilan Memberikan Penguatan
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku pesertadidik bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi.
Penguatan juga merupakan respon terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Penggunaan penguatan dalam kelas dapat mencapai atau mempunyai pengaruh sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan kegiatan belajar serta membina tingkah laku siswa yang produktif. Ketrampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya oleh guru agar dapat memberikan penguatan secara bijaksana dan sistematis ( Muthoharoh,2010).  Komponen-komponen penguatan adalah : (1) penguatan verbal, diungkapkan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya; (2) penguatan non-verbal, terdiri dari penguatan berupa mimik dan gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, penguatan berupa simbol atau benda dan penguatan tak penuh. Penggunaan penguatan secara efektif harus memperhatikan tiga hal, yaitu kehangatan dan evektifitas, kebermaknaan, dan menghindari penggunaan respons yang negatif.

      6. Ketrampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
 Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan pesertadidik menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya ketrampilan berbahasa. Diskusi kelompok sebagai implementasi dari pendekatan pembelajaran kooperatif, yang membagi kelas menjadi kelompok – kelompok kecil, anggotanya terdiri dari 4- 5 pesertadidik. Anggota kelompok dibentuk secara heterogin baik menganai kecerdasan/kemampuan, gender, etnis dll.
Strategi kooperatif dalam pembelajaran IPS di SD adalah untuk membimbing pesertadidik untuk bisa bekerjasama dengan yang lain, agar pesertadidik mau menerima perbedaan pendapat dan bisa menghargai pendapat orang lain. Dengan bekerjasama, pesertadidik menyadari dan memahami bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, tetapi perlu kerjasama dan saling menolong dengan orang lain. Dengan bekerja kelompok, maka pesertadidik mulai belajar bermasyarakat.
7. Ketrampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran. Dalam melaksanakan ketrampilan mengelola kelas perlu diperhatikan komponen ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prefentip). Guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran bersifat represif,  agar dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar optimal.
Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan pembelajaran agar tercapai hasil yang baik. Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan pesertadidik dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan pesertadidik bekerja dan belajar, serta membantu pesertadidik untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Kemampuan mengelola kelas harus dimiliki oleh setiap guru, karena guru adalah pihak yang berhubungan secara langsung dengan pesertadidik. Guru harus mengetahui kondisi dan kekhususan masing-masing kelas, baik yang menyangkut siswa maupun yang menyangkut lingkungan fisiknya. Tindakan pengelolaan kelas akan efektif apabila guru dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi sehingga pada gilirannya guru dapat memilih strategi penanggulangan yang tepat. Tindakan yang dapat diambil oleh guru tersebut dapat berupa (1) pencegahan, (2) korektif atau tindakan, atau (3) kuratif atau penanggulangan disesuaikan dengan masalah yang terjadi.
Kemampuan mengelola kelas merupakan salah satu bagian dari keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Hal ini disebabkan oleh tugas guru di dalam kelas sebagian besar adalah membelajarkan siswa dengan menyediakan kondisi belajar yang optimal. Kondisi belajar yang optimal tersebut akan dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana dan prasarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Apabila penyediakan kondisi belajar kurang maksimal, maka proses pembelajaran akan berlangsung secara tidak efektif, sehingga hasil dari proses pembelajaran juga tidak akan optimal. Ketidak berhasilan tersebut dapat dikatakan sebagai akibat dari tidak profesionalnya guru. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa guru tidak kompeten. Kegiatan-kegiatan yang termasuk ke dalam bagian pengelolaan kelas antara lain adalah : (1) penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas; (2) Pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas siswa, dan (3) Penetapan norma kelompok yang produktif
       Dengan demikian, pengelolaan kelas bukan semata-mata bagaimana cara mengatur ruang kelas dengan segala sarana dan prasarananya, tetapi juga menyangkut bagaimana interaksi antar pribadi. Pengelolaan kelas lebih ditekankan pada bagaimana interaksi antar pribadi-pribadi di dalam kelas. Interaksi di dalam kelas merupakan satu hal yang amat penting bagi keberhasilan pembelajaran, karena kehidupan pribadi siswa seringkali diwarnai oleh situasi kondisi interaksinya dengan pendidik dan juga dengan teman-teman di kelasnya.Terdapat tiga keuntungan dalam suatu interaksi kelas yang efektif, yaitu (1) setiap pribadi semakin memiliki rasa percaya diri yang kuat dan sehat; (2) masing-masing pribadi memperoleh kepuasan dalam berinteraksi; dan (3) mereka semakin dekat satu sama lain dan saling melengkapi ( Anonim,2010).Tiga cara untuk menciptakan dan membangun suasana kelas yang kondusif untuk mendorong terciptanya interaksi dan struktur kelas yang sehat dan efektif, yaitu : (1) membuat kesepakatan; (2) mencari waktu luang untuk berinteraksi dengan pesertadidik; (3) membagi pengalaman, gagasan, dan sikap pribadi (Anonim, 2010).
            Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas, agar pengelolaan kelas dapat diusahakan secara maksimal dan membantu dalam proses pendidikan. Faktor-faktor tersebut adalah :  (1) pribadi guru; (2) disiplin kelas. Guru diharapkan mampu mengenal diri sendiri dan mengenal siswa agar mempergunakan seluruh kemampuannya dalam mengelola kelas.  Pernama (2010) menyatakan bahwa tidak setiap guru memiliki sifat-sifat yang dibutuhkan oleh profesi keguruan misalnya disiplin diri. Oleh karena itu guru perlu berusaha untuk mengenal dirinya sendiri dan selanjutnya membina kepribadian yang baik sebagai guru. Kepribadian-kepribadaian yang selayaknya dibina dan dikembangkan oleh guru misalnya adalah kepribadian yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa,  terpuji seperti sabar, demokratis, menghargai pendapat orang lain, sopan santun dan tanggap terhadap pembaharuan. Pengenalan terhadap siswa akan memudahkan guru dalam pengelolaan kelas, misalnya dalam pengaturan tempat duduk, pemilihan pasangan tempat duduk untuk siswa sesuai dengan besar kecilnya, kemampuan pendengaran ataupun kemampuan penglihatan masing-masing siswa.
Disiplin kelas merupakan keadaan tertib di mana guru dan siswa yang tergabung dalam suatu kelas tunduk pada peraturan - peraturan yang telah ditetapkan dengan senang hati. Suasana tertib di dalam kelas merupakan salah satu syarat penting bagi berjalannya proses belajar-mengajar yang efektif.
Pengelolaan kelas berkaitan dengan guru dan pesertadidik. Guru hendaknya mengenal dan memahami perbedaan masing-masing pesertadidik. Sifat dan pembawaan pesertadidik yang berbeda-beda mempengaruhi perilaku pesertadidik di dalam kelas, termasuk dalam hal kedisiplinan. Perilaku yang berbeda-beda tersebut membutuhkan cara penanganan yang berbeda pula. Pemahaman dan pengetahuan tentang pesertadidik dapat dijadikan dasar dalam menangani masing-masingpesertadidiksesuai dengan sifat dan kemampuannya.    
Ada beberapa prinsip yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh guru dalam mengelola kelas. Prinsip tersebut adalah : (1) kehangatan dan keantusiasan; (2) tantangan, dengan kata- kata/ tindakan untuk meningkatkan gairah belajar; (3) bervariasi dalam menggunakan media, gaya, interaksi pembelajaran; (4) keluwesan / ketrampilan guru untuk mengubah strategi pembelajaran; (5) menekankan pada hal- hal yang positif; dan (6) penanaman disiplin diri terhadap pesertadidik dengan guru sebagai  contohnya ( Anonim, 2010).
Agar  mengelola kelas efektif, terdapat beberapa hal yang harus dihindari oleh guru, yaitu:
1)      Campur tangan yang berlebihan
Komentar, pertanyaan, atau petunjuk yang diberikan secara mendadak pada waktu pesertadidik sedang asyik mengerjakan sesuatu akan menyebabkan kegiatan tersebut menjadi terputus atau terganggu. Campur tangan tersebut perlu dihindari oleh guru, sehingga kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas berjalan dengan efektif.
2) Kelenyapan
Kelenyapan adalah suatu kondisi guru gagal melengkapi suatu instruksi, penjelasan, petunjuk atau komentar secara jelas, atau juga bisa terjadi jika guru diam terlalu lama dan siswa tidak memiliki kegiatan apa-apa.
3) Ketidaktepatan dalam memulai dan mengakhiri kegiatan
 Ketidaktepatan dalam memulai dan atau mengakhiri kegiatan secara tidak tepat dapat menyebabkan proses belajar-mengajar menjadi tidak efektif, misalnya guru tidak mengakhiri suatu kegiaan kemudian langsung memulai kegiatan baru dan selanjutnya kembali lagi ke kegiatan pertama, dan demikian seterusnya secara berulangulang. Hal tersebut dapat menyebabkan perhatian siswa menjadi tidak terfokus, guru juga tidak terfokus, sehingga kegiatan belajar menjadi tidak lancar.
4) Penyimpangan
Penyimpangan dapat menyebabkan kegiatan belajar menjadi tidak berjalan lancar. Hal ini bisa saja disebabkan oleh guru yang terlalu asyik dengan satu kegiatan atau bahan tertentu sehingga akhirnya menjadi menyimpang dari pokok kegiatan atau dari pokok bahasan.
5) Bertele-tele
Apabila guru terlalu asyik dengan satu kegiatan atau satu bahan tertentu, maka dapat menyebabkan tindakan bertele-tele. Contohnya guru mengulang-ulang satu hal tertentu atau pokok bahasan tertentu, memperpanjang keterangan tentang satu hal.

KESIMPULAN
Paradigma baru pembelajaran IPS di sekolah dasar lebih mengedepankan proses daripada hasil. Dalam pembelajaran dipertimbangkan berbagai faktor, antara lain: latar belakang peserta didik, psikologi anak, jenis belajar dll. Untuk memilih strategi pembelajaran IPS di SD perlu diperhatikan tentang (1) kebutuhan dasar peserta didik; (2) latar belakang peserta didik; (3) perkembangan kognisi peserta didik; (4) jenis dan kecakapan belajar; (5) media dan sumber belajar; (6) karakter mata pelajaran; (7) karakteristik kurikulum; dan (8) pengalaman guru.
        Tujuan  utama pendidikan IPS di SD mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan  ketimpangan yang terjadi, terampil  mengatasi  masalah yang terjadi sehari- hari baik di masyarakat. Proses pembelajaran IPS akan dapat berhasil apabila guru memiliki bekal pengetahua, formula IPS dan karakteristik IPS itu sendiri. Pelajaran IPS sebagai perpaduan dari lima komponen yang terdiri dari : (1) time; (2) space; (3) issues;(4) concept; dan (5) relitionship. Pemahaman guru tentang konsep dan karakteristik pelajaran IPS merupakan modal penting untuk membimbing belajar pesertadidik dalam pembelajaran IPS.
Ada beberapa alternatif pendekatan pembelajaran IPS yang perlu dipahami dan diimplementasikan , antara lain: (1) contextual teaching and learning ( CTL); (2) Moral Dilemma Discusion (MDD);(3) cooperatif learning, dan (4) problim solving. Selain memilih pendekatan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, guru perlu menerapkan ketrampilan dasar mengajar yaitu : ketrampilan membuka dan menutup pelajaran,  ketrampilan menjelaskan, ketrampilan bertanya, ketrampilan mengadakan variasi, ketrampilan memberi penguatan, ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil, dan ketrampilan mengelola kelas.
Dalam proses pembelajaran jika memperhatikan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas belajar pesertadidik, pemilihan strategi pembelajaran yang tepat, sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan guru mampu menerapkan ketrampilan mengajar secara optimal, maka tujuan pembelajaran akan dapat dicapai.

DAFTAR RUJUKAN
Ali, M. 2004. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar baru Algensindo.
Anonim. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. ..\BAHAN\06 Keterampilan Dasar Guru\KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR « Solok Selatan dari mata Wong Cilik.htm
Cangara,H. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : raja Grafindo Persada.
Dadang. S. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar.D:/Pasca Sarjana  UNP/ Strategi Pembelajaran Fisika/ Bahan/06/ Ketrampilan Dasar Guru/ makalah ket das mengajar.
Danim,S. 2007. Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Silia.
David,K. 1977. Human Behavior at work : Organizational Behavior. New york : McGraaw. Hill. Inc.
Effendi, Uchana,O. 1997. Human Relation dan Publik Relation dalam Manajemen, Bandung, Kaifa.
Hanson, e.M. 1991. Educational Administration and Organization Behavior. Boston : All and Bacon.
Mulyana, D. 2010. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar, Bandung. PT remaja Rasdakarya.
Muthoharoh. H. 2010. Keterampilan Memberi Penguatan. ..\BAHAN\06 Keterampilan Dasar Guru\Keterampilan Memberi Penguatan « Blog Guru SMPN 1 Kikim Barat Kabupaten Lahat.htm
Naim Ngaimun. 2011. Dasar – Dasar Komunikasi Pendidikan, Yogyakarta : Ar Ruszz Media.
Undang- Undang RI Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Asoka Dikta durat Bahagia.
 Pernama, G.J. 2010. Indikator Kompetensi Guru TIK. D:\Pasca sarjana UNP\Strategi pembelajaran fisika\BAHAN\06 Keterampilan Dasar Guru\ Indikator Kompetensi Guru TIK
Robandi. B. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. D:\Pasca sarjana UNP\Strategi pembelajaran fisika\BAHAN\06 Keterampilan Dasar Guru\ KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
Saxe, W.D. 1994. Social Studies for The Elementary Teaching , Massachusett: Allyn dand Bacon.
Steers R.M. & Porter L.W. 1991. Motivation and Work Behavior, New York : Mc Graw Hill Inc.
Lab Microteaching. 2006. Pedoman Pelaksanaan Pengajaran Mikro (Microteaching) Untuk Mahasiswa FKIP Universitas jember, Universitas jember.

Robins,S.P. 1991. Organization Behavior, Englewood Cliffs, New Yersey : Prentice- Hall,