Senin, 08 Februari 2016

PENINGKATAN KEMAMPUAN  MENJELASKAN FAKTA SEJARAH  DALAM DISKUSI  MATA PELAJARAN IPS  MATERI SEJARAH MELALUI COOPERATIVE LEARNING  TEKNIK NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DI KELAS VIII D
  SMP NEGERI 2 AMBULU

Sariyatun

Abstrak:  Tujuan Penelitian Tindakan untuk meningkatkan  Kemampuan  Menjelaskan Fakta Sejarah  Dalam Diskusi  Mata Pelajaran IPS  Materi Sejarah Melalui Cooperative Learning  teknik numbered heads together (NHT)Hasil penelitian menunjukkan dapat meningkatkan  Kemampuan  Menjelaskan Fakta Sejarah  Dalam Diskusi  Mata Pelajaran IPS  Materi Sejarah Melalui  penerapan Cooperative Learning Di Kelas VIII D  SMPN 2 Ambulu ; 2) Dapat pula membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit serta mengajarkan kepada siswa hidup berdemokrasi.

       Kata Kunci: Cooperative Learning  teknik numbered heads together,  Fakta Sejarah


PENDAHULUAN
Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah. Guru harus sudah merubah paradigma lama yaitu mengajar identic dengan memindahkan pengetahuan guru kepada siswa dan mengharapkan siswanya menghapal serta mengingat. Siswa tidak lagi dianggap sebagai penerima pengetahuan pasif.Guru dituntut untuk menciptakan situasi yang memungkinkan siswanya membentuk makna dari bahan-bahan pelajaran melalui sesuatu proses belajar dan menyimpannya dalam ingatan yang sewaktu-waktu diproses dan dikembangkan lebih lanjut. Siswa harus membangun pengetahuan secara aktif dan belajar adalah suatu kegiatan yang siswa lakukan.
Begitu pula dalam mata pelajaran IPS khususnya Sejarah, guru dituntut untuk mampu menciptakan situasi belajar yang interaktif, karena isi materi pelajaran Sejarah yang bersifat teoritis. Guru harus mampu meramu isi materi Sejarah menjadi bahan ajar yang layak untuk diajarkan kepada siswa dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat. Sehingga tidak mengakibatkan mata pelajaran Sejarah membosankan, tidak menarik, dan tidak membangkitkan gairah belajar. Strategi yang paling sering digunakan guru untuk mengaktifkan siswa adalah dengan menggunakan metode diskusi. Tetapi strategi ini tidak terlalu efektif walaupun guru sudah berusaha mendorong siswa berpartisipasi mengemukakan pendapat, kebanyakan siswa terpaku menjadi penonton sementara arena kelas didominasi oleh hanya segelintir siswa. Dalam situasi seperti ini akan menghambat pembentukan pengetahuan secara aktif.
1
 
Kurangnya partisipasi dan kurangnya keberanian untuk mengemukakan pendapat dalam diskusi inilah yang terjadi di kelas VIII D SMP Negeri 2 Ambulu, sehingga dianggap menjadi masalah yang pelu diselesaikan oleh peneliti.
Hal diatas menjadi permasalahan dalam proses pembelajaran Sejarah. Ini akan berdampak kurang baik terhadap tercapainya tujuan pembelajaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, akan dicoba diteliti melalui Penelitian Tindakan Kelas melalui penerapan pembelajaran kooperatif.
Mata Pelajaran Sejarah di SMP merupakan bagian dari ilmu pengetahuan sosial walaupun sesungguhnya sejarah merupakan suatu disiplin ilmu yang memiliki metodologi yang sama dengan ilmu-ilmu lainnya. Alangkah baiknya menanamkan pelajaran Sejarah dilakukan sejak dini agar anak bangsa kelak akan mampu menghargai dan membanggakan apa yang telah dilakukan oleh bangsanya dimasa silam. Mata pelajaran Sejarah memiliki fungsi yang strategis yaitu sebagai wahana untuk membentuk warga Negara cerdas, terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan Negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berfikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. Selain itu mata pelajaran Sejarah bertujuan untuk mengembangnkan kemampuan-kemampuan sebagai berikut:
1.    Berfikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi suatu kejadian/ peristiwa.
2.    Berfikir secara bermutu dan bertanggung jawab, bertindak secara cerdas dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3.    Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain, berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
4
 
      Untuk mencapai tujuan tersebut diatas maka guru Sejarah dituntut untuk memiliki kemampuan dan keterampilan menanamkan sedini mungkin kepada siswa kemampuan-kemampuan berfikir kritis, rasional, kreatif, bertanggungjawab serta berjiwa demokratis. Hal ini dapat ditanamkan kepada siswa bukan hanya melalui materi pembelajaran tetapi juga melalui strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru diharapkan dapat menunjang keberhasilan tercapainya tujuan secara optimal. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan adalah cooperative Learning (pembelajaran kooperatif)   yang di dalamnya terjadi proses diskusi.
     Menurut Kosasih Djahiri (2011), dalam diskusi terjadi  kegiatam dialog,  proses bertukar pikiran dan argumentasi kearah mencari dan atau mendapat sesuatu. Ada tiga komponen pokok diskusi, yaitu:  1)Adanya dialog diri dari subyek didik, maksudnya bahwa potensi dari subyek didik sebagai suatu keseluruhan diaktifkan secara layak dan optimal; 2)Adanya proses bertukar pikiran dan berargumentasi yang berarti bahwa diskusi menuntut setiap peserta untuk mau dan mampu mengekspresikan hasil berfikirnya kepada forum sebagai wujud urun serta; 3)Diskusi bukan hanya sekedar diskusi tetapi membawa peserta didik untuk mencari dan mendapatkan sesuatu baik untuk kelompok maupun untuk individu.
          Manfaat diskusi diantaranya: 1)Membina dan meningkatkan gairah, motivasi, kreativitas, dan kemampuan keterampilan belajar; 2)Membina sikap dan berketerampilan bersosialisasi dalam hidup berkelompok; 3)Meningkatkan kemampuan, kemauan dan hasil belajar; 4)Melatih pola kritis, mengeluarkan pendapat secara layak, sikap perilaku sebagai anggota dan atau  pimpinan, mencari, merumuskan, dan memecahkan masalah; 5)Meningkatkan pendayagunaan aneka potensi, media, dan sumber belajar.
     Sebenarnya guru sudah mengupayakan agar diskusi kelas berjalan seperti yang diharapkan, tetapi pada kenyataan masih ada sebagian siswa yang tidak mau berpartisipasi dan cenderung hanya jadi penonton saja. Inilah yang menjadi masalah dan harus dicari solusi pemecahannya.
   Pembelajaran kooperatif adalah suatu kondisi pembelajaran yang dengan segala upaya setiap individu mendukung dan didukung individu lainnya dalam pencapaian tujuan. Siswa yakin bahwa tujuan mereka tercapai jika dan hanya siswa yang lain juga akan mencapai tujuan tersebut. Pembelajaran cooperative dapat menghantar seluruh siswa pada keberhasilan bersama. Keinginan dan tujuan pribadi anggota kelompok merupakan keinginan dan tujuan kelompok merupakan keinginan dan tujuan kelompok. Karena itu anggota kelompok harus membantu teman kelompoknya untuk melakukan upaya maksimal yang dapat membantu kelompok itu berhasil (Trianto. 2007).
   Pembelajaran kooperatif berbeda dengan metode diskusi yang biasanya dilaksanakan dikelas, karena pembelajaran kooperatif menekankan pembelajaran dalam kelompok kecil dimana siswa belajar dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang optimal, sehingga diri siswa tumbuh dan berkembang sekap dan perilaku saling ketergantungan secara positif. Kondisi ini dapat mendorong siswa untuk belajar, bekerjasama dan bertanggung jawab secara sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
          Menurut Muslim Ibrahim (2000:6),  dalam Pembelajaran Kooperatif Unsur-unsur pembelajaran kooperatif adalah: 1)Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama; 2)Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri; 3)Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama; 4)Siswa haruslah membagi tugas dan tanggungjawab yang sama diantara anggota kelompoknya; 5)Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan yang juga dikenakan untuk semua anggota kelompok; 6)Siswa berbagi  kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.; 7)Siswa akan diminta pertanggungjawaban secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif; 8)Ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan model kooperatif: 9)Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya; 10)Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah; 11)Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda; 12)Penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu.
          Manfaat pembelajaran cooperative Learning bagi siswa: 1)Meningkatkan kemampuan untuk bekerjasama dan bersosialisasi; 2)Melatih kepekaan diri, empati, melalui variasi perbedaan sikap perilaku selama bekerja sama; 3)Mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri; 4)Meningkatkan motivasi belajar, harga diri dan sikap yang positif, sehingga pembelajaran kooperatif siswa akan tahu kedudukannya dan belajar untuk saling menghargai satu sama lain; 5)Meningkatkan prestasi belajar dengan menyelesaikan tugas akademik, sehingga dapat membantu siswa memahami konsep yang sulit.
             Dalam penelitian ini  yang dipilih adalah  kooperatif  teknik numbered heads together (NHT), yang dikembangkan oleh Spencer Kegan (1992). Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawab yang paling tepat, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja mereka. Teknik ini juga digunakan dalam semua,mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut: 1)Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor urut. Guru memberikan tugas masing-masing kelompok mengerjakannya; 2)Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini; 3)Guru memanggil salah satu nomor sisiwa dengan nomor yang dipanggil melaporkakn hasil kerjasama mereka; 4)Tanggapan dari kelompok lain; 5)Teknik kepala bernomor ini juga dapat dilanjutkan untuk mengubah komposisi kelompok yang biasanya dan bergabung dengan siswa-siswa yang lain yang bernomor sama dari kelompok lain.
    Dari hasil pengamatan ternyata proses pembelajaran Sejarah dengan diskusi di kelas VIII D kurang memuaskan dibandingkan kelas yang lainnya, padahal ini telah ditangani secara sungguh-sungguh. Hal diatas menjadi permasalahan dalam proses pembelajaran Sejarah. Untuk mengatasi masalah tersebut, akan dicoba diteliti melalui  Penelitian Tindakan Kelas melalui penerapan pembelajaran kooperatif teknik numbered heads together (NHT).


Rumusan Masalah
         Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan: Apakah dapat meningkatkan  Kemampuan  Menjelaskan Fakta Sejarah  Dalam Diskusi  Mata Pelajaran IPS  Materi Sejarah Melalui  penerapan Cooperative Learning  teknik numbered heads together (NHT), di Kelas VIII D  SMPN 2 Ambulu ?

Tujuan Penelitian
Tindakan – tindakan dari penelitian ini terlepas dari asumsi untuk apa tujuan sebuah penelitian yang akan dicapai. Tujuan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Dapat meningkatkan  Kemampuan  Menjelaskan Fakta Sejarah  Dalam Diskusi  Mata Pelajaran IPS  Materi Sejarah Melalui Cooperative Learning  teknik numbered heads together (NHT),Di Kelas VIII D  SMPN 2 Ambulu.
2.Dapat meningkatkan keterampilan guru dalam model Pembelajaran cooperative Learning teknik numbered heads together (NHT),.
3.Menumbuhkan sikap terbuka dalam proses pembelajaran.

Manfaat Penelitian
Diharapkan ada sebuah hasil yang dapat diperoleh dari penelitian. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi tiga unsur utama dalam dunia pendidikan yaitu: siswa, guru dan Sekolah.

1.    Bagi siswa:
a.       Meningkatkan rasa senang terhadap mata pelajaran Sejarah dan rasa keberanian untuk mengemukakan pendapat dalam diskusi kelas.
b.      Meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.
2.    Bagi guru:
a.       Dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran
b.      Dapat meningkatkan pemahaman tentang berbagai strategi dan model pembelajaran.
3.    Bagi guru lain:
a.       Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tentang PTK
b.      Memperbaiki proses pembelajaran.
4.    Bagi sekolah:
a.       Menumbuhkan budaya meneliti.
b.      Guru dan siswa semakin berdaya sehingga sekolah menjadi semakin maju.

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Subyek Penelitian
             Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VIII D SMP Negeri 2 Ambulu pada semester II tahun ajaran 2012/2013. Jumlah siswa 34 orang, 20 laki-laki dan 14 perempuan. Siswa dikelas tersebut memiliki karakter yang sama dengan kelas yang lain.
Rencana Tindakan
         Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, penelitian ini dibagi dalam tahap-tahapan yang masing-masing memiliki nilai urgensi yang kuat dalam proses pelaksanaan penelitian. Tahapan tersebut yaitu:
1.    Perencanaan tindakan
a.       Menetapkan jumlah siklus yaitu 2 siklus. Setiap siklus satu bahan pembelajaran yang dilakukan satu kali pertemuan. Bahan pembelajaran siklus 1 mendiskusikan materi pembelajaran Negara mengenai pengertian dan unsur-unsur Negara, siklus 2 melaporkan hasil diskusi.
b.      Menetapkan kelas yang akan diteliti, yaitu kelas VIII D SMP Negeri 2 Ambulu.
c.       Menetapkan pendekatan dan teknik pembelajaran yaitu model pembelajaran kooperatif.
d.      Menetapkan fokus observasi pada penggunaan model pembelajaran kooperatif, respon siswa terhadap pembelajaran dan hasil belajar siswa.
e.       Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berikut tugas-tugas untuk tiap kelompok.
f.       Menetapkan cara observasi, dilakukan pada saat KBM berlangsung.
g.      Menetapkan jenis data dan cara pengumpulan data.
h.      Menetapkan alat observasi yaitu hasil kinerja siswa dalam buku catatan.
i.        Melakukan refleksi menganalisis hasil kajian KBM.
2.    Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini berbagai rencana tindakan dalam siklus I dan siklus II dilaksanakan.
Siklus 1
Proses pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning dengan teknik jigsaw dilaksanakan pada saat Kegiatan Belajar Mengajar,observasi dilakukan. Analisis dan refleksi dilakukan setelah selesai proses pembelajaran
Siklus 2
Dilaksanakan berdasarkan refleksi dari siklus 1. Teknik yang digunakan  adalah pembelajaran kooperatif dengan menggunakan teknik NHT. Observasi dilakukan pada saat KBM berlangsung. Analisis dari refleksi dilakukan setelah KBM selesai.
3.    Refleksi
Pada tahap ini data dari hasil kegiatan observasi dianalisis, hasilnya bisa dijadikan bahan untuk menyusun perencanaan tindakan pada siklus berikutnya. Pada tahap refleksi diajukan beberapa pertanyaan untuk menguji keberhasilan. Misalnya apakah proses pembelajaran sudah menggunakan model kooperatif pembelajaran? Sudahkah proses pembelajaran dilakukan sesuai perencanaan dan bagaimana tingkat pencapaian hasil belajarnya?
             Pengumpulan Data dilakukan dengan observasi,  saat siswa melaksanakan proses pembelajaran.dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Pada Tahap Perencanaan Tindakan
        Pada tahap perencanaan tindakan peneliti melakukan observasi tentang kegiatan diskusi pada pembelajaran sejarah dikelas VIII D. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
a.       Minat siswa terhadap kegiatan diskusi kelas sangat kurang bahkan terkesan merasa takut untuk mengemukakan pendapat.
b.      Jumlah siswa 34 orang dengan penataan secara tradisional yaitu duduk berhadap-hadapan 7-8 orang perkelompok dirasakan kurang efektif.
c.       Teknik pembelajaran diawali dengan pemberian masalah, siswa membahas masalah secara berkelompok, membuat laporan kelompok, presentasi tiap kelompok, kelompok lain memberikan tanggapan dan kegiatan diakhiri dengan pengambilan kesimpulan. Guru memberikan ulasan, memberikan kesempatan siswa untuk bertanya dan diakhiri tes lisan.
d.      Ketika presentasi kelompok yang memberikan tanggapan hanya 4 orang saja.
e.       Ketika perwakilan siswa sedang menyampaikan hasil diskusi, tidak semua memperhatikan.
Berdasarkan data pada pra tindakan tersebut, akhirnya peneliti merumuskakn alternatif tindakan dan menyusun rancangan pembelajaran Sejarah dengan menggunakkan model pembelajaran kooperatif.

Hasil Penelitian Pada Tahap Pelaksanaan Tindakan Dan Pengamatan Hasil Tindakan
13
 
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Peneliti mengadakan kegiatan pembelajaran Sejarah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan teknik jigsaw dan NHT dalam materi pembelajaran fungsi dan unsur-unsur Negara.
Aktivitas pembelajaran diawali dengan membagi siswa menjadi 4-5 orang perkelompok. Masing-masing siswa dalam kelompoknya menerima potongan kartu masalah yang berbeda warnanya. Masing-masing siswa membentuk kelompok baru sesuai dengan kesamaan kartu masalah yang harus diselesaikan. Kemudian masing-masing kelompok yang baru mendiskusikan masalah yang sama sesuai dengan yang tertulis dalam kartu masalah, yaitu mencari dan menganalisis tentang : pengertian sejarah, sifat-sifat sejarah, unsur-unsur sejarah dan fungsi sejarah. Tiap siswa membuat intisari hasil diskusi untuk dijelaskan kembali kepada kelompok awal. Masing-masing siswa kembali kekelompokawal untuk menginformasikan hasil pembahasannya secara bergiliran. Masing-masing kelompok mempresentasikan semua masalah yang telah dibahas didepan kelas secara bergiliran dan ditanggapi kelompok lain.
Pada pelaksanaan tindakan 2, siswa duduk dalam kelompok belajar kecil yang masing-masing anggota memiliki nomor urut, dengan mempertimbangkan siswa pintar dan siswa biasa. Siswa berdiskusi untuk menemukan : Fungsi sejarah menurut Mirlam Budiarjo. Siswa dipilih salah satu nomor tertentu untuk mempresentasikan hasil diskusi, yang ditanggapi oleh kelompok lain dan seterusnya.

Hasil Pengamatan dan Pengumpulan Data
Tiap-tiap tindakan dilakukan pengamatan dan penyampaian data hasil pembelajaran terhadap tindakan 1 dan 2
Pada tindakan 1 teridentifikasi data sebagai berikut:
a.       Laporan kegiatan pengamatan.
Kegiatan diawali dengan melakukan observasi atau pengamatan terhadap proses pembelajaran dengan diskusi pada mata pelajaran Sejarah. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa minat dan partisipasi siswa terhadap pembelajaran dengan metode diskusi biasa sangat kurang. Hal ini dapat dibuktikan dengan kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat.
b.      Berdasarkan hasil pengamatan tersebut penulis merasa perlu memperbaiki proses belajar mengajar dikelas khususnya dalam menggunakan strategi diskusi kelas agar timbul  minat dan gairah siswa untuk berpartisipasi serta memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapat. Untuk keperluan tersebut penulis mencoba menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran kooperatif dengan teknik jigsaw dan NHT. Dengan model ini diharapkan siswa dapat meningkatkan kretivitasnya secara optimal dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
c.       Penyajian pembelajaran Sejarah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran. Dalam penyajiannya program tersebut terbagi menjadi tiga kegiatan, yaitu: Kegiatan pendahuluan, Kegiatan Inti, dan Kegiatan penutup.


1)      Pendahuluan
    Aktivitas awal dimulai dengan mengkondisikan siswa, berdoa, mengabsen, menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran. Memberikan motivasi belajar supaya siswa bersemangat mengikuti proses pembelajaran. Selanjutnya dibentuk kelompok dan guru menyampaikan alur pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh siswa. Anggota kelompok diatur secara demokratis.
2)      Kegiatan inti
    Kegiatan inti pada pertemuan pertama adalah masing-masing siswa dalam kelompok awal menerima pottongan kartu masalah yang berbeda warnanya, kemudian siswa membentuk kelompok baru sesuai dengan kesamaan kartu masalah yang harus dijalankan, dengan semangat siswa mencari teman yang sama warna kartu masalahnya. Kemudian mereka membentuk kelompok baru dan mendiskusikan masalah yang sama. Selanjutnya siswa membuat intisari hasil diskusi untuk dijelaskan kembali kepada kelompok awal. Masing-masing siswa kembali ke kelompok awal untuk menginformasikan hasil pembahasan secara bergiliran, disini terlihat siswa dituntut untuk berani mengemukakan pendapat sesuai dengan bahasanya. Kemudian masing-masing kelompok mempresentasikan semua masalah yang telah dibahas secara bergiliran dan ditanggapi kelompok lain. Diskusi kelas berjalan lancer tiap siswa begitu antusias mengikuti diskusi walaupun tidak semuanya bisa mengemukakan pendapat.
    Kegiatan inti pada pertemuan kedua siswa dibagi dalam kelompok kecil yang masing-masing anggota mempunyai nomor urut, dengan mempertimbangkan kemampuan siswa. Siswa mengamati gambar lalu kemudian Tanya jawab untuk menganalisis gambar yang dihubungkan dengan fungsi sejarah. Siswa dipilih berdasarkan nomor tertentu untuk mempresentasikan hasil diskusi dan ditanggapi kelompok lain.
    Selama kegiatan belajar siswa terlihat bersemangat memberikan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban tentang masalah yang sedang dibahas. Dalam diskusi kelompok Nampak ada peningkatan kreatifitas dan keaktifan siswa. Dalam pembelajaran kooperataif telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan keaktifan. Setiap siswa berupaya ingim menyampaikan pendapatnya. Diskusi berjalan dengan lancar, selama proses diskusi penulis memberikan bembingan dengan cara berkeliling dan mengamati proses pemebelajaran. Pengamatan digunakan untuk  mengumpulkan data dan penilaian proses serta hasil belajar.
d.      Penutup
Pada bagian ini salah seorang siswa ditunjuk untuk menyimpulkan materi yang telah dibahas dalam pelaporan hasil diskusi tiap kelompok serta diakhiri dengan penugasan juga tes secara lisan.
e.       Penilaian Proses dan Hasil
Penilaian poses dilakukan dengan memperhatikan keterlibatan dan aktivitas siswa dalam pembelajaran baik secara individu maupun kelompok.
       Indikator penilaian proses meliputi:
1)      Presentasi
2)      Menanggapi
3)      Bertanya
4)      Menjawab
5)      Kerjasama
6)      Kesungguhan dan partisipasi
7)      Etika pendapat

Adapun format penilaian proses dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
(1)   Format penilaian proses
Nama
Aktivitas dalam pembelajaran
Total
presentasi
Menang
gapi
bertanya
menjawab
Kerja
sama
Kesungguhan
partisipasi
Etika
berpendapat


















Dengan nilai/skor
4 = sangat baik, 3 = baik, 2 = cukup, 1 = kurang
(2)   Penilaian hasil
Penilaian hasil difokuskan pada hasil kerja sama kelompok dalam membuat laporan hasildiskusi dengan indicator penilaian:
a)      Ketepatan waktu mengumpulkan
b)      Kerapihan catatan
c)      Kelengkapan
d)     Ketepatan analisis
e)      Kedalaman sisi analisis
f)       Sistematika
Dengan format penilaian sebagai berikut:
No
Nama
Laporan hasil diskusi kelompok
Total nilai
a
b
C
d
F
G



















Hasil Penelitian
Secara umum pembelajaran Sejarah dengan menggunakan model cooperative Learning dapat memunculkan minat, keberanian. Kreativitas dan partisipasi siswa lebih meningkat. Diskusi kelas berjalan lancar, walaupun ada beberapa kemampuan siswa yang perlu ditingkatkan. Penulis mencoba untuk memberikan pelurusan konsep pada saat presentasi. Selama belajar siswa terlihat antusias memberikan pertanyaan, jawaban dan tanggapan pada siswa lainnya. Pembelajaran kooperatif telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berani mengemukakan pendapat.
   Proses pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning dapat mengaktifkan siswa dalam kegiatan diskusi kelas. Teknik Jigsaw mampu mencairkan suasana dan menggugah keberanian siswa dalam  berdiskusi. Hal ini memberikan peningkatan aktivitas dalam proses belajar. Kerjasama yang baik antar siswa dalam menjalin kebersamaan, mengembangkan suasana yang demokratis dan penuh kekeluargaan. Rasa percaya diri dan keberanian yang selama ini sulit ditumbuhkan mulai ada perubahan. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat dari:
1.      Berdiskusi kelompok
2.      Memberikan usul dan pendapat
3.      Mempresentasikan hasil kerja kelompok
Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:
1.      Penelitian proses
Hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, keaktifan, mengemukakan pendapat, kerjasama dijalankan dengan baik, cukup serius mengikuti pembelajaran. Secara umum data-data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
No
Aktivitas dalam pembelajaran
Total
presentasi
Menanggapi
bertanya
Menjawab
kerjasama
kesungguhan
etika
1
2
2
3
2
3
3
2
17
2
2
2
2
3
2
3
3
17
3
2
3
3
3
3
3
3
20
4
2
2
3
2
3
3
3
17
5
4
3
3
3
4
4
3
24
6
4
3
3
3
4
3
3
23
7
2
2
2
2
3
2
2
16
8
2
2
2
2
3
2
2
16
9
3
3
3
4
3
3
3
22
10
2
2
2
2
3
3
2
16
11
2
2
2
2
3
3
2
16
12
2
2
2
2
3
3
2
16
13
3
3
3
4
4
3
3
23
14
2
2
3
3
3
3
3
19
15
3
3
3
4
4
4
3
24
16
3
3
3
4
4
4
3
24
17
3
3
3
3
3
3
3
21
18
3
4
4
4
4
4
3
26
19
2
2
2
2
3
2
2
15
20
2
2
2
2
3
2
2
15
21
2
3
3
3
3
3
2
19
22
2
3
3
3
3
3
2
19
23
2
3
3
3
3
3
2
19
24
3
3
3
3
4
3
3
22
25
4
3
4
3
4
4
4
26
26
3
3
3
3
3
3
3
21
27
4
3
4
4
4
4
3
26
28
4
3
4
4
4
4
4
27
29
3
3
3
3
3
3
3
21
30
2
2
2
2
3
3
2
16
31
4
4
4
4
4
4
4
28
32
3
3
3
3
3
3
3
21
33
2
3
3
3
3
3
2
19
34
2
2
3
3
3
3
2
18
Perolehan nilai:
Skor 22- 28 nilai 9
Skor 15 – 21 nilai 8
Skor 8 -14 nilai 7
Skor 1 -7 nilai 6
Dari tabel dapat kita hitung nilai dan kategori aktivitas siswa, yaitu sebagai berikut:
Kategori sangat baik nilai 9 jumlah 12 orang
Kategori baik nilai 8 jumlah 22 orang
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa minat dan keaktifan siswa dalam pembelajaran sejarah dengan model cooperative learning kategori baik, terbukti dari 34 siswa, 12 orang mendapat nilai sangat baik dan 22 orang mendapat nilai baik.
2.      Penilaian hasil
Penilaian hasil diukur dari analisis pelaporan diskusi dengan hasil keseluruhan baik.
 



KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan  hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan: 1) Dapat meningkatkan  Kemampuan  Menjelaskan Fakta Sejarah  Dalam Diskusi  Mata Pelajaran IPS  Materi Sejarah Melalui  penerapan Cooperative Learning Di Kelas VIII D  SMPN 2 Ambulu ; 2)Model pembelajaran kooperatif membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit; 3) Pembelajaran kooperatif mengajarkan kepada siswa hidup berdemokrasi.

Saran
              Berdasarkan kesimpulan penelitian  peneliti dapat memberikan saran kepada  para guru: 1)   agar menerapkan pembelajaran kooperatif guru agar siswa terampil dalam mengemukakan fakta sewjarah dalam diskusi;  2)Guru dalam pembelajaran ini lebih banyak  memberikan  keleluasaan  siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-idenya, guru sebagai fasilitator berfungsi membimbing kreatifitas siswa; 3)Untuk  Kepala sekolah diharapkan mendukung dan memotivasi dari setiap guru untuk membuat penelitian; 4)Untuk Dinas pendidikan memberikan penghargaan kepada guru yang melaksanakan penelitian, sehingga akan muncul motivasi dari setiap guru untuk membuat penelitian.

DAFTAR  RUJUKAN
Depdiknas, 2004. Materi pelatihan terintegrasi pengetahuan social. Jakarta.
Kosasih Djahiri. 2000/2001. Model Pembelajaran Terpadu dan utuh menyeluruh: Bandung: Lab IKIP Bandung.
Muslimin Ibrahim,dkk. 2002. Pembelajaran kooperatif, Surabaya: University Press.
Trianto. 2007. Model Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik. Surabaya:  Prestasi Terbuka.
Umamah, Nurul. 2008.  Bahan Ajar Perencanaan Pembelajaran Bidang Studi. Malang.
Uno, H. B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.