Senin, 08 Februari 2016

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETRHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN  AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PKn   

Sumiatun Indiyani

Abstrak: Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan belajar. Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan mengkaji tentang : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Togetrher (NHT) Untuk Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Organisasi Sekolah” Siswa Kelas V  SDN Karangpring.  Hasil penelitian:  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Numbered Head Together (NHT) Dapat Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan

         Kata kunci:  Kooperatif  Tipe Numbered Head Together (NHT, Hasil  Belajar                          

PENDAHULUAN
Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang sangat penting bagi siswa memiliki karakteristik yang cukup berbeda dengan cabang ilmu pengetahuan lainnya. Karakteristik ini dapat dilihat dari obyek lingkup materinya, strategi pembelajaran, sampai pada sasaran akhir dari pendidikan ini. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang menfokuskan pada pembentukan warga Negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negar Indonesia yang cerdas, terampil, dan, berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Hakekat dalam pembelajaran adalah segala daya dan upaya yang dilakukam oleh guru atau pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Pembelajaran adalah suatu system atau proses pembelajaran yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematik agar subyek peserta didik/pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien, (Depdiknas 2001) dan Pembelajaran juga merupakan suatu  system lingkungan belajar yang terdiri dari unsur tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru.   Berdasarkan hal tersebut di atas, peneliti yang juga guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, berupaya untuk memperbaiki pembelajaran yang selama ini masih belum  sesuai dengan yang diharapkan. Hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di tempat peneliti bertugas, masih relatif rendah, karena dari 25 siswa, yang mencapai ketuntasan belajar hanya  11 siswa.
            Perbaikan pembelajaran yang peneliti lakukan adalah melalui Penelitian Tindakan Kelas dengan menerapkan  model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu upaya untuk Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil belajar, dengan menerapkan metode-metode pembelajaran yang variatif.
            Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) atau penomoran berfikir bersama merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional . Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan belajar. Dalam hal ini, sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari  materi pembelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah.
Model pembelajaran Numbered Head Together dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000:28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup pada pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT, yaitu: 1)Hasil belajar akademik struktural bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 2) Pengakuan adanya keragaman bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang. 3)Pengembangan keterampilan sosial bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide/pendapat, bekerja dalam kelompok, dan sebagainya.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000:18), antara lain adalah : 1)Rasa harga diri menjadi lebih tinggi ; 2)Memperbaiki kehadiran; 3)Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar; 4)Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil; 5)Konflik antara pribadi berkurang; 6) Pemahaman yang lebih mendalam; 7)Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi; 8) Hasil belajar lebih tinggi. Oleh karena itu sangat tepat dipilih untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Berdasarkan uraian diatas diatas, maka permasalahan penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe  Numbered  Head Togetrher (NHT) Apakah Dapat Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil Belajar  Pendidikan  Kewarganegaraan  Materi Ajar “Organisasi Sekolah” Siswa Kelas V  SDN Karangpring?
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan mengkaji tentang : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Togetrher (NHT) Untuk Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Organisasi Sekolah” Siswa Kelas V  SDN Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat : 1)Bagi siswa, dapat Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil belajar dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, kesenangan dalam diri siswa untuk mengikuti proses pembelajaran di kelas; 2)Bagi Guru, dapat mengembangkan kemampuan dalam mengajar dengan menerapkan model pembelajaran yan variatif; 3)Bagi Sekolah, dapat meningkatkan kinerja guru untuk melakukan perubahan atau perbaikan kinerja secara profesional, sehingga diharapkan, kualitas sekolah akan berkembang pesat.

METODE PENELITIAN

Subyek Penelitian
            Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 25 siswa, karena hasil belajar siswa pada kelas ini masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Pada umumya siswa masih sulit memahami materi yang diajarkan , sehingga hasil belajar siswa masih rendah.

Rancangan Penelitian
            Model penelitian yang digunakan adalah model Elliot. Elliot dan Adelman bekerja bersama-sama dengan guru lain, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi mereka sebagai kolaborator atau teman sejawat guru. Melalui partisipasi semacam ini, mereka membantu guru untuk mengadopsi suatu pendekatan penelitian untuk pekerjaannya. Elliot setuju dengan  ide dasar langkah-langkah tindakan refleksi yang terus bergulir dan kemudian menjadi suatu siklus seperti yang dikembangkan Kemmis, namun skema langkah-langkahnya lebih rinci dan berpeluang untuk lebih mudah diubah sehingga sebenarnya dia telah membuat suatu diagram yang lebih baik.
siklus-ptk.jpg            Berikut ini gambar siklus pelaksanaan PTK menurut John Elliot.

















Gambar : Siklus Pelaksanaan PTK model John Elliot
Tahapan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : tahap perencanaan (rencana tindakan), tahap implementasi (pelaksanaan tindakan), tahap observasi, tahap evaluasi  dan refleksi yang diikuti dengan perencanaan ulang.
Ada hal-hal penting  yang perlu diperhatikan dalam memahami langkah-langkah yang ada di dalam model PTK yang dikembangkan oleh Ebbut, Elliot dan Kemmis. Bila guru akan menerapkan atau mengadopsi untuk penelitian tindakan kelas dalam praktik di kelasnya, guru harus memahami betul apa yang dimaksud oleh masing-masing penulis. Disamping itu, guru atau peneliti harus mengetahui  penggunaan data dan keterbatasan skema-skema tersebut bila dipraktekkan dalam penelitian tindakan.

Metode Pengumpulan Data
            Dalam metode pengumpulan data disetiap penelitian tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab kegiatan pengumpulan data dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian.Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan telaah dokumen dan Tes.
          Teknik analisis data, Data yang dianalisis meliputi data kuantitatif (dengan menampilkan angka-angkasebagai ukuran prestasi), dan data kualitatif (dengan menampilkan angka-angka sebagai perbandingan). Analisis data yang dilakukam secara deskriptif komparatif yang bertujuan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran . Tahapan dalam tindakan menganalisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
a.    Reduksi Data
          Reduksi data dilakukan dalam rangka pemilihan dan penyederhanaan data. Kegiata  yang dilakukan pada tahapan ini adalah seleksi data dan pembuangan data yang tidak relevan. Data-data yang relevan dengan penelitian akan diorganisasikan sehingga terbentuk sekumpulan data yang dapat memnberi informasi aktual.
b.    Penyajian Data
          Penyajian data dilakukan dalam bentuk sekumpulan informasi, baikberupa tabel, bagan,maupun deskriptif naratif, sehingga data yang tersaji relative jelas dan informative. Tindakan lanjutan, penyajian data digunakan dalam kerangka menarik kesimpulan dari akhir sebuah tindakan.
c.    Penarikan Kesimpulan
          Kegiatan penarika kesimpulan merupakan kegiatan tahap akhir dari proses analisis data . Penarikan kesimpulan disusun dengan mempertimbangkan secara evaluatif berdasarkan kegiatan-kegiatan yang ditempuh dalam dua tahap sebelumnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
a. Kondisi Awal
            Sebelum penelitian tindakan kelas dilaksanakan, terlebuh dahulu peneliti mengadakan analisa data pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) materi ajar “ Organisasi Sekolah” di kelas V SDN Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember semester genap tahun pelajaran 2013/2014 , hasilnya adalah  siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 11 siswa atau sebesar 44%, sedangkan siswa yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 14 siswa atau sebesar 56%, dengan demikian hasil belajar siswa secara klasikal dinyatakan masih belum tuntas belajar.
Berdasarkan data tersebut diatas, peneliti yang sekaligus guru mata pelajaran PKn berupaya untuk mengadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) melalui sebuah penelitian tindakan kelas, yang hasilnya dapat dijelaskan lebih lengkap pada pelaksanaan siklus per siklus dibawah ini.

b. Siklus I
  • Tahap Perencanaan
-      Pada tahap ini peneliti membuat perencanaan berisi tindakan apa yang akan dilakukan, materi ajar, RPP, LKS, kapan waktu pelaksanaannya, dan bagaimana melaksanakannnya.
  • Tahap Pelaksanaan Tindakan
-      Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda.
-      Selanjutnya memberi buku paket atau buku panduana yang berisi materi ajar
-      Mengadakan diskusi dan kerja kelompok. Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
-      Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
-      Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
  • Tahap Observasi
Kegiatan observasi dilaksankan bersama dengan pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan terhadap isi tindakan pelaksanaan tindakan maupun akibat yang timbul dari tindakan tersebut. Hasil observasi dijadikan bahan untuk refleksi dalam menyususn rencana tindakan berikutnya.
  • Tahap Evaluasi- Refleksi
     Pada tahap ini , peneliti mengadakan analisa data dan evaluasi melalui tes, untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan model pembelajaran NHT dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “ Organisasi Sekolah”

Adapun hasil analisa data pada siklus I, dapat dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2 : Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas V SD Negeri Karangpring pada siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
6
24 %
65 - 100
19
76 %
Jumlah
25
100 %
Sumber: Data yang diolah

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui pada siklus I yang mendapat nilai  < 65 sebanyak 6 atau sebanyak 24%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 siswa atau sebesar 76% dengan demikian pada siklus I hasil analisis dikatakan tuntas belajar . Namun Untuk mendaptkan  ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, penelti melanjutkan perbaikan pembelajaran pada siklus II.

§  Siklus II
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, pada dasarnya hanya sebagai penyempurnaan kekurangan yang terjadi pada siklus I.   Tahap-tahap yng dilaksnakan pada siklus II, yaitu :
  • Tahap Perencanaan
-      Pada tahap ini peneliti membuat perencanaan berisi tindakan apa yang akan dilakukan, materi ajar, RPP, LKS, kapan waktu pelaksanaannya, dan bagaimana melaksanakannnya, hasil analisa data pada siklus I.
  • Tahap Pelaksanaan Tindakan
-      Pembentukan kelompok
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda.
-      Selanjutnya memberi buku paket atau buku panduana yang berisi materi ajar
-      Mengadakan diskusi dan kerja kelompok. Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.
-      Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
-      Memberi kesimpulan
Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
  • Tahap Observasi
Kegiatan observasi dilaksankan bersama dengan pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan terhadap isi tindakan pelaksanaan tindakan maupun akibat yang timbul dari tindakan tersebut. Hasil observasi dijadikan bahan untuk refleksi dalam menyususn rencana tindakan berikutnya.
  • Tahap Evaluasi- Refleksi
     Pada tahap ini , peneliti mengadakan analisa data dan evaluasi melalui tes, untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan model pembelajaran NHT dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “Organisasi Sekolah”

Adapun hasil analisa data pada siklus I, dapat dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3 : Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas V SD Negeri Karangpring pada siklus II

Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
12 %
65 - 100
22
88 %
Jumlah
25
100 %
Sumber: Data yang diolah

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui, yang mendapat nilai  < 65 sebanyak 3 atau sebanyak 12%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 88% dengan demikian pada siklus II hasil analisis dikatakan tuntas belajar secara klasikal . Karena pada siklus II sudah mendapatkan hasil ketuntasan yang diharapkan, maka perbaikan pembelajaran tidak dilnjutkan pada siklus selanjutnya.
Hasil kegiatan pada siklus II, Tingkat penguasaan materi sudah berhasil. Hal ini ditandai dengan hasil analisis tingkat penguasaan materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa atau hasil daya serap siswa yang meningkat di setiap siklus nya.
Untuk melihat lebih jelas peningkatan hasil belajar dari Kondisi Awal , siklus I, dan siklus II, dapat dilihat pada tabel 4 dan grafik 1 dibawah ini.







Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas V SDN Karangpring  Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
11
44%
6
24%
3
12%
65 - 100
14
56%
19
76%
22
88%
Jumlah
25
100%
25
100%
25
100%
Sumber : data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas V SDN Karangpring 01 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
 











Sumber : Data yang diolah





Pembahasan
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT), membuktikan dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “ Organisasi sekolah”. Hal ini terbukti pada kondisi awal , dengan pembelajaran model ceramah, hasil belajar siswa masih relative rendah, yaitu dari 25 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 11 siswa, atau sebanyak 44%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 14 siswa atau sebanyak 56%, sehingga pada kondisi awal dinyatakan belum tuntas belajar.
            Selanjutnya diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT), pada Siklus I. Hasil belajar mengalami peningakatan dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebanyak 24%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 19 atau sebanyak 76%, dengan demikian pada siklus I dinyatakan tuntas belajar. Namun untuk mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi, selanjutnya diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II .
Hasil kegiatan pada siklus I, tingkat penguasaan materi belum berhasil. Hal ini ditandai dengan hasil analisis tingkat penguasaan materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa atau hasil daya serap siswa. Kegiatan PBM yang kurang berhasil adalah pada saat diskusi masih banyak yang kurang aktif maka masih diperlukan perbaikan pada siklus berikutnya pada siklus II , untuk mengaktifkan siswa, yaitu dengan merubah teknik diskusi. Diubah dengan dibentuk diskusi kelompok agar semua siswa terlibat aktif.
Sedangkan hasil analisa data pada siklus II yang mendapat nilai < 65 sebanyak 3 atau sebanya 12%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 88% dengan demikian pada siklus II hasil analisis dikatakan tuntas belajar secara klasikal. Sehingga pembelajaran tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan belajar. Dalam hal ini, sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari  materi pembelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah.
Model pembelajaran ini baik digunakan karena model ini mengajarkan kepada siswa untuk lebih siap dalam menguasai materi serta belajar menerima keanekaragaman dengan kelompok lain, karna dalam model ini siswa dituntut untuk berdiskusi untuk memecahkan suatu masalah.
Pada dasarnya tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk setiap pokok bahasan, karena setia model atau metode mengajar masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan oleh karenanya guru dituntut untuk pandai memilih model pembelajaran yang sesuai. 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data tersebut diatas, maka hasil penelitian tindakan kelas peneliti simpulkan sebagai berikut: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Numbered Head Together (NHT) Dapat Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Organisasi Sekolah” Siswa Kelas V  SDN Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014. Peningkatan hasil belajar  dari kondisi awal ketuntasannya mencapai 56% , meningkat pada siklus pertama menjadi 76% dan semakin baik lagi pada sisklus kedua  mencapai 88%.

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan kemampuan maka penulis memberi saran-saran sebagai berikut : Untuk guru, hendaknya menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together ( NHT) pada mata pelajaran yang lain untuk Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil belajar siswa.Untuk sekolah, hendaknya memberikan dukungan berupa sarana dan prasarana dalam kegiatan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru.

DAFTAR  RUJUKAN

Agus Mulyadi, 2002, Penyusunan Karya Tulis Ilmiah, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Azhar Arsyad, 2002, Media Pembelajaran, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Budimansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian. Bandung:Ganesindo
Darmono, Ikhwan Sapto, Sudarsih 2008, Pendidikan Kewarganegaraan SD/MI kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan Depatemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993, Kurikulum Pendidikan Dasar, Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar.
Departemen Pendidikan Nasional.2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi SD/Ml. Jakarta: Depdiknas.
Dimyati, Mujiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: ASMP; Mahasatya. Depdiknas, 2003, Draf Final Kurikulum 2004, Jakarta: Depdiknas.
Hasbullah, 1999, Dasar-Dasar Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suryabrata, Sumadi, 1989, Proses Belajar Mengajar, Yogyakarta: Penerbit Andi opset.
Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC.
Widihastutu, setiati, Rahayuningsih, Fajar. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan SD/MI kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan Depatemen Pendidikan Nasional

Winataputra, Udin S. 2001. Model-model pembelajaran Inovatif. Jakarta Universitas Terbuka.