Senin, 08 Februari 2016

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF  TALKING STICK  UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN MATERI AJAR “HIDUP GOTONG ROYONG”

Retno Sudarmi

Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan mengkaji tentang: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Hidup Gotong Royong” Siswa Kelas II SDN Karangpring 01.Pembelajaran kooperatif  Talking stick adalah model pembelajaran dilakukan secara kelompok dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Hasil penelitian:  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan .  Dari kondisi awal ketuntasan baru mencapai 57%, meningkat menjadi 70 % pada siklus pertama dan siklus kedua menjadi 91

Kata Kunci:  Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas, 2005). Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang sangat mutlak diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Masalah pendidikan adalah masalah manusia dan bangsa manapun di dunia ini, krisis pendidikan menyebabkan krisis multidimensional. Manusia lahir membawa tiga potensi kejiwaan yaitu cipta, rasa dan karsa, potensi inilah yang terus dikembangkan dalam eksistensi kehidupannya sehingga manusia tergolong sebagai makhluk pendidikan.
Pembelajaran merupakan proses belajar mengajar untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap  (Diniyah dan Mudjiono,1999:159) menurut Hamalik (1999:5) pembelajaran adalah kombinasi meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan proses yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pengajaran. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri anak didik menuju kesempurnaan. Jadi pembelajaran merupakan kegiatan memberikan bantuan atau pertolongan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan,perubahan sikap dan tingkah laku untuk mencapai tujuan pengajaran.
Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan juga mempunyai aspek-aspek tujuan yang menuju pada pengembangan ketrampilan siswa yang sangat penting artinya bagi usaha melatih siswa untuk akhirnya mampu bekerja dengan tanggung jawab sendiri. Untuk itu siswa perlu dilatih untuk meningkatkan daya nalar serta analisisnya sehingga siswa tidak sekedar mengembangkan kemampuan menghafal fakta (note learning) seperti yang sering dipersepsikan terhadap tujuan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Keterampilan-keterampilan yang perlu dikembangkan antara lain : bertanya produktif (bertanya yang mencegah timbulnya problems yang lebih mendasar), evaluasi terhadap bukti Pendidikan Kewarganegaraan menempatkan problems Pendidikan Kewarganegaraan dalam kontek sosio-kulturalnya, mengidentifikasikan faktor-faktor perubahan masyarakat, serta latihan mengajukan argumentasi.
Tujuan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sebagai berikut: 1)Berpikir kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapai isu kewarganegaraan; 2) Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; 3)Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa lain; 4)Berinteraksi dengan bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Depdiknas, 2005).
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, bangsa Indonesia dituntut untuk mampu beradaptasi dengan meningkatkan kualitas dan sumber daya manusianya. Hal ini sangat penting untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Dalam menghadapi kemajuan Ilmu Pengetahuan yang semakin pesat maka pemerintah memberikan perhatian terhadap pendidikan dengan berbagai perbaikan dibidang pendidikan, antara lain perbaikan pada kurikulum yaitu diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), palaksanaan seminar bagi para guru, pelaksanaan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), pengadaan buku paket dan lain sebagainya. Namun, keberhasilan pendidikan belum mencapai hasil yang dinginkan.
Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan juga mempunyai aspek-aspek tujuan yang menuju pada pengembangan ketrampilan siswa yang sangat penting artinya bagi usaha melatih siswa untuk akhirnya mampu bekerja dengan tanggung jawab sendiri. Untuk itu siswa perlu dilatih untuk meningkatkan daya nalar serta analisisnya sehingga siswa tidak sekedar mengembangkan kemampuan menghafal fakta (note learning) seperti yang sering dipersepsikan terhadap tujuan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Namun dalam pelaksanaan pembelajarannya  masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Guru masih belum melakukan upaya untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Dalam setiap proses pembelajaran pada mata pelajaran apapun guru cenderung lebih banyak mendorong agar siswa dapat menguasai sejumlah materi pembelajaran. Sementara itu, peran siswa lebih cenderung hanya mendengarkan, mencatat dan lebih diarahkan untuk menghafal. Orientasi pembelajaran cenderung lebih menekankan pada upaya untuk mencapai hasil daripada proses.
Peneliti ingin memperbaiki pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di tempat peneliti bertugas, dengan dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Hidup Gotong Royong” Siswa Kelas II SDN Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013.
Pembelajaran kooperatif  Talking stick adalah model pembelajaran dilakukan secara kelompok dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya.
Berdasarkan uraian diatas diatas, maka permasalahan penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Hidup Gotong Royong” Siswa Kelas II SDN Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi ?
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan mengkaji tentang: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Hidup Gotong Royong” Siswa Kelas II SDN Karangpring 01.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
1)Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajar, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan mata pelajaran lainnya,
2)Bagi Guru, dapat  menjadi masukan guru sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar.
3)Bagi Sekolah, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan-kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran

METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian: Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupten Jember . Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Karangpring 01 yang berjumlah 23 siswa.

Rancangan Penelitian
Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah model yang tampaknya tidak terlalu sulit untuk dilaksanakan oleh seorang guru di kelasa adalah penelitian  tindakan model siklus yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart (Mohammad Asrori. 2008:68)
Dalam model Kemmis dan Mc.Taggart ini penelitian menggunakan dan mengembangkan siklus (cycle ini mengandung empat komponen yaitu:
a.        Rencana (Planning)
Pada komponen ini, guru sebagai peneliti merumuskan rencana tindakannya yang  akan dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran, perilaku, sikap dan prestasi belajar siswa.
b.      Tindakan (Action)
Pada komponen ini, guru melaksanakan tindakan, berdasarkan rencana tindakan yang telah direncanakan, sebagai upaya perbaikan dan peningkatan atau perubahan proses pembelajaran, perilaku, sikap dan prestasi belajar siswa yang diinginkan
c.       Pengamatan (Observing)
Pada komponen ini, guru mengamati dampak atau hasil dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan pada siswa. Apakah berdasarkan tindakan yang dilaksanakan  itu memberikan pengaruh yang meyakinkan terhadap perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran dan hasil belajar siswa atau tidak.
d.      Refleksi (Reflection)
Pada komponen ini, guru mengkaji dan mempertimbangkan secara mendalam tentang hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan itu dengan mendasarkan pada berbagai criteria yang telah dibuat. Berdasarkan hasil refleksi ini, guru dapat melakukan perbaikan terhadap rencana awal yang telah dibuatnya jika masih terdapat kekurangan sehingga belum memberikakn dampak perbaikan dan peningkatan yang meyakinkan.
Sebelum melaksanakan penelitian. Alur penelitian tindakan kelas penulis juga memiliki alaur penelitian yang bias diperhatikan pada bagan  alur
Alur penelitian ini dapat dilihat pada tabel alur di bawah ini :
Description: clip_image001
Gambar 1. Alur Penelitian tindakan kelas (Kasbolah, 1998/1999)
Pelaksanaan tindakan
1) Perencanaan (Planning)
Penelitian dilaksankan sesuai dengan perencaan yaitu menerapkan model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

2) Pelaksanaan Tindakan (Acting)
Siklus I
Tahap Persiapan Pembelajaran
Dalam tahap ini Peneliti menyusun rencana pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi Ajar “ Hidup Gotong Royong”, menyiapkan LKS, Media Pembelajaran (tongkat dll)
Tahapan Kegiatan pembelajaran
Kegiatan awal
1.Guru membuka kegiatan belajar mengajar dengan berdo’a terlebih dahulu
2.Guru melaksanakan presensi pada siswa.
3.Guru mengkondisikan anak untuk siap melaksanakan pembelajaran.
Kegiatan Inti
1.Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
2.Guru menyiapkan sebuah tongkat.
3.Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari yaitu “Hidup Gotong Royong”, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi lebih lanjut.Setelah siswa selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, siswa menutup bukunya dan mepersiapkan diri menjawab pertanyaan guru. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, jika siswa sudah dapat menjawabnya maka tongkat diserahkan kepada siswa lain. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.

Kegiatan Penutup
1.Guru menyimpulkan materi pelajaran yang telah diajarkan kepada murid
2.Guru memberikan feed back pada siswa dengan memberikan tugas tentang materi yang diajarkan,
3.Guru membuat kesimpulan dan penguatan

 Siklus II
Tahap Persiapan Pembelajaran
Dalam tahap ini Peneliti menyusun rencana pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi Ajar “ Hidup Gotong Royong, menyiapkan LKS, Media Pembelajaran, alat tulis
Tahapan Kegiatan pembelajaran
Kegiatan awal
1.Guru membuka kegiatan belajar mengajar dengan berdo’a terlebih dahulu
2.Guru melaksanakan presensi pada siswa.
3.Guru mengkondisikan anak untuk siap melaksanakan pembelajaran.
Kegiatan Inti
1.Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
2.Guru menyiapkan sebuah tongkat.
3.Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari yaitu “Hidup Gotong Royong”, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi lebih lanjut.
1.Setelah siswa selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, siswa menutup bukunya dan mepersiapkan diri menjawab pertanyaan guru.
2.Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, jika siswa sudah dapat menjawabnya maka tongkat diserahkan kepada siswa lain. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.

Kegiatan Penutup
1.Guru menyimpulkan materi pelajaran yang telah diajarkan kepada murid
2.Guru memberikan feed back pada siswa dengan memberikan tugas tentang materi yang diajarkan,
3.Guru membuat kesimpulan dan penguatan

Pengamatan (Observing)
Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi

Refleksi (Reflecting)
·  Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus I dan II berdasarkan data yang terkumpul.
·  Membahas hasil evaluasi tentang skenario pembelajaran pada siklus I dan II.
·  Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus sebelumya
·  Evaluasi tindakan II
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan pada setiap siklus dimulai dari awal sampai akhir tindakan siklus I sampai II. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut:  1) Metode Observasi; 2). Metode Catatan Lapangan; 3) Metode Dokumentasi; 4)Tes; 5) Wawancara

Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan data dari hasil pengamatan menjadi data kualitatif. Data tersebut meliputi :
1.                       Hasil pengamatan tentang aktivitas guru dalam mengajar dan aktivitas siswa dalam belajar.
2.                       Hasil kerja siswa dalam pembelajaran dengan penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick  secara kelompok.
3.                       Hasil kerja siswa dalam Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick  secara individu.
4.                       Analisis data dilakukan secara bertahap setiapa siklus
Dijelaskan oleh Moleong (1993: 103) bahwa analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data yang telah diperoleh dari informan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar. Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan keadaan dilapangan secara deskripsi guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick  dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Indikator Hasil Kerja
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah: Ketuntasan individual, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100. Ketuntasan klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Kegiatan pertama-tama dilakukan dalam penelitian ini adalah melaksanakan kegiatan sesuai dengan desain yang telah dibuat sebelumnya. Sebelum  Model Pembelajaran Talking Stick diterapkan, terlebih dahulu peneliti mengadakan anlisa data pada pra tindakan , yang hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.


Tabel 1 : Ketuntasan Hasil Belajar PKNpada Pra Tindakan
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
10
43%
65 – 100
13
57%
Jumlah
23
100 %
Sumber: Data yang diolah

Berdasarkan analisis data pada  Pra Tindakan , diperoleh data, yang mendapat nilai <65 sebanyak 10 siswa atau sebesar 43%, dan yang mendapat  nilai 65-100 sebanyak 13 siswa atau sebesar 57%, dengan demikian pada Pra tindakan, siswa yang mencapai ketuntasan masih rendah, yaitu di bawah 65%.
Selanjutnya , peneliti mengadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan Model Pembelajaran Talking Stick pada siklus I, pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “ Hidup Gotong Royong”,  denagan tahap-tahap yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya.
Adapun hasil belajar pada siklus I, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2 : Ketuntasan Hasil Belajar PKN pada Siklus I

Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
7
30%
65 – 100
16
70%
Jumlah
23
100 %
Sumber: Data yang diolah

Berdasarkan analisis data pada  siklus I , diperoleh data, yang mendapat nilai <65 sebanyak 7 siswa atau sebesar 30%, dan yang mendapat  nilai 65-100 sebanyak 16 siswa atau sebesar 70%, dengan demikian pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar , namun masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terjadi karena beberapa siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan. Selanjutnya, diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II, dengan menyempurnakan kekurangan yang terjadi pada siklus I. Dan hasilnya adalah.

Tabel 3 : Ketuntasan Hasil Belajar PKn  pada Siklus II

Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
2
9%
65 – 100
21
91%
Jumlah
23
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas , dapat diketahui analisis data pada  Siklus II, diperoleh data, yang mendapat nilai <65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 9%, dan yang mendapat  nilai 65-100 sebanyak 21 siswa atau sebesar 91%, dengan demikian pada siklus II dinyatakan tuntas secara klasikal sehingga penelitian tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas hasil belajar pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II,  dapat disajikan pada garfik dan tabel di bawah ini.

Grafik 1: Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas II SD Negeri Karangpring 01  pada Pra Tindakan , siklus I, dan Siklus II
 













Sumber : Data yang diolah

Tabel 3 : Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas II SD Negeri Karangpring   pada Pra Tindakan , siklus I, dan Siklus II
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
10
43%
7
30%
2
9%
65 – 100
13
57%
16
70%
21
91%
Jumlah
23
100%
23
100%
23
100%
Sumber : data yang diolah

 Pembahasan
Penerapan model pembelajaran Kooperatif Talking Stick mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  materi ajar “Hidup Gotong Royong” berdampak pada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa. Peningkatan kedua aspek tersebut juga diiringi dengan adanya peningkatan aspek psikologis penting lainnya, yakni minat siswa terhadap meteri pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa  perbandingan ketuntasan hasil belajar dari siklus I dan siklus II tampat pada grafik sebagaimana digambarkan diatas. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya meskipun penelitian dilaksanakan pada bidang studi dan tingkat kelas yang berbeda. Arifin (2000) menemukan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif Talking Stick terbukti efektif dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Hal tersebut juga dikatakan selaras atau mendukung teori-teori yang ada. Lebih lanjut Moedjiono dan Dimyati (1992) menyatakan bahwa metode ini dapat m enumbuhkan partisipasi aktif di kalangan siswa untuk berani mengungkapkan pendapat, sikap menghargai pendapat orang lain, menentukan pengambilan keputusan, sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan.
Pengajaran dengan metode, ini memungkinkan siswa lebih aktif dalam proses belajar, antara lain keberanian untuk mengemukakan pendapat mengenai topik yang sedang di diskusikan dan mencari keputusan yang terbaik berdasarkan keputusan bersama, selain itu memberikan rasa tanggung jawab yang lebih besar, berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan siswa.
Peningkatan Hasil Belajar yang Dicapai Siswa. Hasil belajar yang diukur menggunakan tes hasil belajar meliputi hasil belajar sebelum penelitian tindakan dilaksanakan, hasil belajar pada siklus I dan hasil belajar pada siklus II. Perbandingan ketiga hasil belajar tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif Talking Stick meningkatkan hasil belajar  secara meyakinkan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data tersebut diatas, maka hasil penelitian tindakan kelas peneliti simpulkan bahwa : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Talking Stick Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Hidup Gotong Royong” Siswa Kelas II SDN Karangpring 01. Dari kondisi awal ketuntasan baru mencapai 57%, meningkat menjadi 70 % pada siklus pertama dan siklus kedua menjadi 91%.


Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan hasil belajar maka peneliti memberi saran-saran sebagai berikut : Untuk guru, hendaknya berupaya untuk selalu meningkatkan profesionalisme salah satunya dengan mengadakan Penelitian Tindakan Kelas, Untuk sekolah, hendaknya memberi dukungan kepada guru dan siswa dengan menyiapkan sarana prasarana untuk lancarnya pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan oleh guru.

DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas. 2005. Kurikulum  Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta. Diknas.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi belajar. Jakarta : Rineka cipta
Ernawaty dan Kune, syarifuddin. 2009. Ikhtisar Filsafat Pendidikan.
Kasbolah , K 1998.Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Jakarta: Dirjendikti Depdiknas.
Lie, A. 2002. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia.

Zuhairini, Dkk. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Surabaya., Usaha Nasional.