Senin, 08 Februari 2016

MEMBANGUN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN MENGOPTIMALKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI DEEP DIALOGUE/CRITICAL THINKING (DD/CT) DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIC  

Shendy Andrie Wijaya

Abstrak: Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) merupakan  transformasi diri melalui pembukaan diri sendiri terhadap orang lain yang mempunyai pola pikir berbeda. DD/CT merupakan kegiatan proses pembelajaran yang dapat membentuk pola pikir peserta didik yang dampaknya bisa memahami cara pandang serta menghargai pendapat orang lain. Baik pendidik maupun peserta didik akan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman secara ilmiah. Peserta didik memiliki hak untuk berbicara secara kritis di kelas yang kemudian ditanggapi dan didampingi oleh pendidik. Pendidik dan peserta didik akan terbina secara dialogis kritis analitis sehingga mampu membangun kemampuan berpikir kritis dan hasil belajarnya dapat meningkat.

Kata kunci: Deep Dialogue/Critical Thinking, Berpikir Kritis dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 mengharapkan peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis & analitis sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Sesuai dengan paradigma baru kurikulum 2013 menuntut pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teachers-centered) menjadi pembelajaran yang berpusat kepada pesertadidik (student-centered,) dari suasana pembelajaran menegangkan ke suasana pembelajaran yang menye¬nangkan. Tuntutan paradigm baru bagi pendidik ialah sebagai fasilitator, kolaborator, navigator pengetahuan, mitra belajar, pembimbing/konselor memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab pada setiap peserta didik dalam proses pembelajaran (Kemendikbud, 2013:102).
Belajar akan bermakna bagi peserta didik apabila menemukan konsep sendiri dan aktif membangun pengetahuan dan keterampilannya (Bruner, 1999: 48). Menurut standar proses pendidikan bahwa pengetahuan diperoleh melalui aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi. Pada Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang sistem evaluasinya tidak hanya berorientasi pada pengetahuan (cognitive) saja, akan tetapi penilaiannya mencakup juga ranah sikap (afektif) dan ketrampilan (psikomotor). Peserta didik di dalam pembelajaran difasilitasi untuk terlibat secara aktif mengembangkan potensi dirinya menjadi kompetensi. Pendidik menyediakan pengalaman belajar bagi peserta didik untuk melakukan berbagai kegiatan yang memungkinkan mereka mengembangkan potensi yang dimiliki pesertadidik.Pendidik mendorong peserta didik untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada  dalam  ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi yang sesuai dengan lingkungan dan jaman  tempat dan waktu  ia  hidup. Implementasi Kurikulum tentang Pedoman Umum Pembelajaran dijelaskan bahwa kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pendidik ke peserta didik. Kurikulum 2013 tidak menghendaki pendidik menggunakan metode ceramah sebagai satu-satunya metode paling dominan dalam kegiatan pembelajaran, akan tetapi peserta didik yang seharusnya mengkonstruksi sendiri pengetahuan kognitifnya. Kurikulum 2013 diarahkan untuk mendorong peserta didikguna mencari tahuinformasi.Pendidik tidak dianggap selalutahu tentang segalanya.
Peserta didik diharapkan untuk lebih aktif mencari informasi sendiri, tanpa harus bergantung pada pendidik. Sesuai dengan pembelajaran berbasis kontruktivisme yang menekankan aktivitas peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dengan pemikirannya, akan melatih pesertadidik dalam memecahkan masalahnya sendiri dengan berfikir secara mandiri, kritis serta mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional (Umamah, 2008:38-39). Tujuan umum diberlakukannya kurikulum 2013, yaitu mempersiapkan insan Indonesia untuk memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia (Hasan, 2013:16). Kurikulum 2013 mengacu pada Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2012 yaitu tentang pengelolaan dan penyelenggaraan program pendidikan, yang bertujuan untuk membangun landasan bagi dikembangkannya suatu potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: (1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia dan kepribadian luhur; (2) berilmu, cakap, kritis, kreatif dan inovatif; (3)sehat, mandiri, dan percaya diri dan; (4) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.
Relevan dengan tuntutan kurikulum diatas, maka pembelajaran salah satunya bertujuan untuk mendidik peserta didik agar berilmu, cakap, kritis dan inovatif. Terdapat kesenjangan antara tuntutan paradigma baru dengan kenyataan yang terjadi di sekolah. Paradigma baru mengharapkan pendidik dan peserta didik untukaktif dalam proses pembelajaran, sedangkan di sekolahanya pendidik saja yang aktif menjelaskan. Rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik menyebabkan tujuan pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum 2013 bahwa tidak tercapai. Pembelajaran harus mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap, rasa ingintahu, kreativitas, kerjasama, dengan kemampuan intelektual yang dimiliki peserta didik (Kemendikbud, 2013:8).Usaha untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan metode dan pendekatan pembelajaran yang efektif dan efisien, guna mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Dalam penerapan pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dapat melatih peserta didik untuk mampu berpikir kritis dan imajinatif. Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) menuntut peserta didik menggunakan logika, menganalisis fakta-fakta dan melahirkan imajinatif atas ide-ide lokal dan tradisional, sehingga dapat meningkatkan peserta didik untuk berfikir mandiri (Swidler, 2013:1). Pembelajaran dengan Deep dialogue/critical thinking (DD/CT) lebih menekankan pada nilai, sikap, kepribadian, mental, emosional dan spiritual sehingga peserta didik belajar dengan menyenangkan dan antusias. Pendekatan scientific adalah pendekatan yang menggunakan langkah pembelajaran sesuai dengan pendekatan ilmiah. Pendekatan scientific lebih mengutamakan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran selama kegiatan proses pembelajaran. Proses pembelajaran semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan, danberpikir kritis (Depdikbud, 2013:7). Inti dalam pembelajaran melalui DD/CT dengan pendekatan scientific adalah menuntut siswa untuk mampu berpikir kritis, kreatif dan imajinatif, dengan menggunakan logika dan menganalisis suatu pelajaran.
Kelebihan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific bagi pendidik dan peserta didik yaitu, memperoleh pengetahuan, pengalaman dan membiasakan keduanya untuk saling membelajarkan (Kamdi, 2007:30). Penelitian dalam Global Dialogue Institute (2013), Menyatakan Deep Dialogue(dialog mendalam) adalah percakapan antara orang-orang dalam hubungan interpersonal, saling ada keterbukaan, jujur dan mengandalkan kebaikan yang diwujudkan sebagai dialog. CriticalThinking (berpikir kritis) ialah kegiatan berpikir dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat serta melaksanakannya secara benar. Penelitian yang dilakukan Swidler (2013:3) menyatakan bahwa metode DD/CT menuntut peserta didik untuk berusaha untuk memahami setepat mungkin apa yang dipikirkan. Peserta didik diharapkan untuk berpikir kritis guna memahami, menganalisis, masalah yang ada.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka  perlu dikaji secara analitis :
1.      Apakah penerapan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa?
2.      Apakah penerapan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam kajian kritis ini penelitian ini adalah: untuk mengkaji secara kritis analitis meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar melalui penerapan Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific.


PEMBAHASAN

A.Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/ CT)
Proses pembelajaran merupakan proses dialog, Sebagai proses dialog, praktek pembelajaran memerlukan prasyarat kesiapan fisik dan mental pelaku penyampai pesan dan penerima pesan pembelajaran. Secara sederhana, dialog adalah percakapan antara dua orang atau lebih yang memiliki pandangan berbeda-beda untuk bertukar ide, informasi dan pengalaman.Deep dialogue (dialog mendalam), adalah percakapan diwujudkan dalam hubungan yang interpersonal, saling keterbukaan, jujur dan mengandalkan kebaikan (GDI, dalam Kamdi. 2007:26). Critical thinking (berpikir kritis) adalah kegiatan berpikir untuk menganalisis, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksanakannya secara benar (Kamdi, 2007:26).Indikator dalam berpikir kritis menurut Chance (1986) dikelompokkan menjadi 7 aspek, yaitu: (1) menyampaikan pendapat; (2) mempertahankan pendapat; (3) memecahkan masalah; (4) membuat perbandingan; (5) menarik kesimpulan; (6) menganalisis fakta; (7) mengevaluasi argumen.
Pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dapat melatih peserta didik untuk mampu berpikir kritis dan imajinatif, sehingga dapat meningkatkan peserta didik untuk berfikir mandiri. Sistem pembelajaran akan lebih efektif karena pembelajaran ini tidak hanya mengacu pada pendidik, tapi juga kepada peserta didik. Peserta didik juga dilatih untuk berani berbicara di depan kelas. Pada pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dapat didefinisikan juga sebagai transformasi diri melalui pembukaan diri sendiri terhadap orang lain yang mempunyai pola pikir yang berbeda. DD/CT merupakan proses yang diharapkan dapat membentuk pola pikir yang bisa memahami cara pandang serta menghargai pendapat orang lain (Swidler, 2000:105). Biasanya dalam suatu pembelajaran, pendidik yang membelajarkan peserta didik. Hal ini berbeda dengan metode Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT), baik pendidik maupun peserta didik akan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman.Peserta didik memiliki hak untuk berbicara secara kritis di kelas yang kemudian ditanggapi dan didampingi oleh pendidik. Hubungan antara pendidik dan peserta didik akan terbina secara dialogis kritis. Pembelajaran berbasis Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) membiasakan pendidik dan peserta didik untuk saling membelajarkan, dan belajar hidup dalam keberagaman.
Sasaran kajian pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking DD/CT yaitu berfokus untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman peserta didik. Melalui dialog secara mendalam dan berpikir kritis, tidak saja menekankan keaktifan akan tetapi juga aspek intelektual, sosial, mental, emosional dan spiritual. Peserta didik yang belajar di kelas yang menggunakan metode DD/CT, diharapkan akan memiliki perkembangan kognisi dan psikososial yang lebih baik. Peserta didik juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap dirinya dan orang lain, Oleh karena itu akan memperkuat penerimaan dan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan. Ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan DD/CT menurut Ngalimun (2012:77), yaitu:  1) peserta didik dan pendidik nampak aktif; 2) mengoptimalisasikan potensi intelligensi peserta didik; 3) menggunakan pendekatan dialog mendalam dan berpikir kritis; 4) peserta didik dan pendidik dapat menjadi pendengar, pembicara, dan pemikir yang baik; 5) dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari; 6) Adanya inovasi-inovasi di bidang pendidikan akan memberikan harapan besar bagi peningkatan mutu lulusan pendidikan. Sehingga dari hasil peningkatan sumber daya manusia (SDM), diharapkan dapat membantu Indonesia menjadi negara yang lebih maju dan bisa bersaing di era global dan SDgs.

B.Pengembangan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT)
Pengembangan Deep Dialogue/ Critical Thinking DD/CT yang diimplementasikan secara tahap demi tahap seperti proses pembelajaran pada umumnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Sudjana (dalam Kamdi, 2007:33) yakni:
1)      Tahap pra instruksional
Tahap pra instruksional merupakan tahap awal yang ditempuh pada saat memulai proses pembelajaran, antara lain melalui kegiatan:
a.       memberi kesempatan pada peserta didik untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasai dari pelajaran yang sudah dibelajarkan.
b.      mengajukan pertanyaan pada peserta didik mengenai bahan yang telah dibelajarkan
c.       mengulang secara singkat semua aspek yang telah dibelajarkan
2)      Tahap instruksional
Tahap instruksional merupakan tahap pemberian atau pelaksanaan kegiatan pembelajaran yakni:
a.       materi, tugas dan contoh-contoh
b.      penggunaan alat bantu untuk memperjelas perolehan belajar
c.       serta menyimpulkan hasil pembelajaran.
3)      Tahap evaluasi
Tahap evaluasi dan tindak lanjut merupakan tahapan yang diperlukan untuk mengetahui keberhasilan dari tahap instruksional.
Metode DD/CT merupakan metode yang membantu pendidik untuk menjadikan pembelajaran bermakna bagi peserta didik. Dalam DD/CT pembelajaran terpusat pada peserta didik (student centered), namun demikian pendidik harus tetap memantau dan mengarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.


 Prinsip-prinsip dalam Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT)
Metode pembelajaran Deep Dialogue/ Critical Thinking DD/CT memiliki prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penerapannya.Terdapat 7 prinsip dalam penerapan pembelajaran Deep Dialogue/ Critical Thinking  DD/CT menurut Swidler (2013:1-7) yaitu:
1)            Pemahaman Diri
Pertemuan diri sendiri dengan orang lain akan membuat kita menyadari bahwa orang lain akan memiliki pandangan yang berbeda dengan kita. Perbedaan pandangan seperti ini akan tampak pada proses pembelajaran, khususnya ketika peserta didik mendiskusikan tentang materi pelajaran. Dialog mendalam yang melibatkan berpikir kritis akan membuat peserta didik memahami perbedaan pikiran antar sesama teman tanpa adanya pemaksaan. Pembelajaran akan menyenangkan jika peserta didik bisa saling menghargai pendapat. 
2)            Transformasi  diri  melalui  empati
Sikap yang berbeda antara peserta didik membuat mereka mempelajari kebiasaan, bahasa, tata cara, pola kehidupan orang lain sehingga menumbuhkan pengendalian dan penguasaan diri. Pembiasaan sikap yang seperti ini dalam metode pembelajaran DD/CT diharapkan akan membantu pembentukan watak peradaban bangsa yang bermartabat. Peserta didik akan mendapatkan jaminan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran yang memberikan pengalaman.
3)            Pembiasaan  diri
Pembiasaan diri merupakan usaha untuk bisa memahami pandangan dan pendapat orang lain. Pembiasaan diri dapat dilakukan pada saat diskusi. Hal tersebut dimaksudkan agar mereka memiliki sikap kehati-hatian kesimpulan  atau  penilaian  terhadap  orang  lain.
4)            Memperluas Visi
Setelah mengetahui bahwa pandangan dan pengetahuan berbeda dengan orang lain, maka peserta didik akan memikirkan cara agar bisa memahami pikiran orang lain dengan pikiran yang terbuka.
5)            Paradigma Baru
Dialog dan pemikiran secara kritis membangkitkan paradigma baru secara radikal. Peserta didik akan mulai menyadari bahwa perspektifnya dengan orang lain berbeda. Peserta didik harus mempertahankan pendapatnya, sehingga mereka tidak akan mengabaikan orang lain serta tetap pada pendiriannya.
6)            Kebangkitan Global
Banyaknya perbedaan pandangan akan memperkaya pemahaman diri terhadap orang lain dan lingkungan sekitar. Peserta didikharus memiliki: (a) pemahaman mendalam terhadap diri sendiri dan orang lain yang memiliki pemahaman yang berbeda-beda; (b) dialog yang dinamis,komunikatif,  membuka  diri  terhadap  orang  lain,  lingkungan  masyarakatsekitar; (c) Kebangkitan global akan membawa kedewasaan sikap dan  perilaku  yangmerupakan  cahaya  baru.
7)            Transformasi Global
Kesadaran yang baru harus dipraktekkan dalam memahami dirinya sendiri ataupun orang lain. Kesadaran ini mengubah pola  pikir  dalam  memahami  keberadaan  diri, orang  lain,  dan  lingkungan  sekitar.
Langkah-langkah penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT)
Implementasi DD/CT perlu memperhatikan langkah-langkah yang ada. Langkah-langkah penerapan pembelajaran DD/CT menurut Kamdi (2007:35-39) adalah sebagai berikut:
1)            Kegiatan Awal
Proses pembelajaran dimulai dengan salam, menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang akan dicapai. Kemudian membangun komunitas, yang bertujuan mempersiapkan peserta didik berkonsentrasi sebelum mengikuti pembelajaran.Aktivitas pada tahap ini dilalui sebagai berikut:
Membuka pelajaran pendidik selalu mengajak peserta didik untuk berdoa atau hening menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Tujuan dari berdoa adalah memusatkan fisik, mental, perasaan, dan pikiran peserta didik agar mengikuti pembelajaran dengan mudah. Metode pembelajaran dengan DD/CT memiliki beberapa keunggulan seperti pembelajaran diawali dan diakhiri dengan “hening’’. Hal ini selain dapat menciptakan situasi tenang sebelum pembelajaran, juga menghadirkan hati dan pikiran pendidik dan peserta didik pada pembelajaran. Kebiasaan selalu berdoa secara langsung telah mengajarkan peserta didik menjadi insan yang religius.
2)            Kegiatan Inti
Kegiatan ini sebagai pengembangan dan pengorganisasian materi pembelajaran. Adapun tahapan yang dilalui sebagai berikut:
Tahap pertama, pendidik melaksanakan kegiatan dengan menggali informasi dengan memberikan pertanyaan yang yang berhubungan dengan materi untuk menciptakan kondisi dialog mendalam dan berpikir kritis. Pada tahap ini peserta didik diberikan pengalaman melalui proses usaha menemukan informasiantar sesama. Setiap perbedaan pendapat, pandangan dan pemikiran harus dikomunikasikan. Sehingga dalam diri peserta didik tertanam rasa menerima dan menghormati perbedaan, toleransi, empati dan terbuka. Konsep dan definisi digali oleh peserta didik melalui Concept Attainment. Proses kegiatan ini adalah membangun ketercapaian sebuah konsep sampai pengertian atau definisi. Tujuan dari kegiatan ini adalah (1) memotivasi dan menumbuhkan kesadaran bahwa pendidik dan peserta didik sama-sama belajar. Pendidik hanyalah salah satu sumber, peserta didik dan sumber-sumber lain ada disamping pendidik; (2) memberi bukti pada peserta didik bahwa kemampuan menyusun definisi atau pengertian juga dapat dilakukan peserta didik; (3) memberi pengalaman belajar menuju ketuntasan belajar bermakna, bukan ketuntasan materi saja.
3)            Kegiatan Akhir
Tahap ini merupakan tahap pengambilan simpulan dari semua yang dibelajarkan, sekaligus penghargaan atas segala aktivitas peserta didik. Tahap ini dilakukan penilaian hasil belajar.
Tahap berikutnya adalah refleksi. Kegiatan ini merupakan kegiatan pembelajaran yang penting dalam DD/CT. Kegiatan ini bukan menyimpulkan materi pembelajaran, tetapi pendapat peserta didik tentang apa saja yang dirasakan, dialami dan dilakukan di masa lalu. Peserta didik menyampaikan secara bebas perasaan dan keinginan yang terkait dengan pembelajaran.

C.Pendekatan Scientific
Pendekatan adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan pembelajaran, pendekatan ialah pola umum kegiatan pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah digariskan (Trianto, 2007:85).  Pendekatan Scientific merupakan pendekatan yang sering digunakan atau diterapkan pada kurikulum 2013. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan yang dilakukan dalam pembelajaran pada kurikulum sebelumnya. Pada setiap langkah inti proses pembelajaran, pendidik akan menggunakan langkah pembelajaran sesuai dengan pendekatan ilmiah.
Kriteria pendekatan Scientific menurut Kemendikbud (2013:8-10) sebagai berikut:
1)      Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu.Bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda atau dongeng semata.
2)      Penjelasan pendidik, respon peserta didik dan interaksi edukatif pendidik-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta merta.Pemikiran sebjektif atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
3)      Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analitis dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami memecahkan masalah dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
4)      Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan satu sama lain dari materi pembelajaran.
5)      Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6)      Berbasis pada konsep, teori dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
7)      Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
Dari uraian kriteria pendekatan ilmiah, maka peserta didik perlu untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis akan mendorong peserta didik mengembangkan pola pikirnya dalam merespon materi pembelajaran.Proses pembelajaran kurikulum 2013 lebih menekankan pada kompetensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan Scientific. Langkah pembelajaran dengan pendekatan Scientific menurut Permendikbud no. 81 tahun 2013 lampiran IV, Proses pembelajaran terdiri atas pengalaman belajar pokok yaitu: (a) mengamati; (b) menanya; (c) mengumpulkan informasi; (d) mengasosiasi; dan (e) mengkomunikasikan. Kelima pokok pembelajaran tersebut dapat dilihat seperti tabel dibawah ini:

Tabel  Keterkaitan antara Langkah Pembelajaran dengan Kegiatan Belajar dan Maknanya
Langkah Pembelajaran
Kegiatan Belajar
Kompetensi Yang Dikembangkan
Mengamati
Membaca, mendengar, menyimak, danmelihat (tanpa atau dengan alat)
Melatih kesungguhan, kesabaran, ketelitian dan kemampuan membedakan informasi yang umum dan khusus, kemampuan berpikir analitis, kritis, deduktif, dan komprehensif
Menanya
Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati. (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik)
Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk critical minds yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat
Mengumpulkan informasi
- Melakukan eksperimen
- membaca sumber lain selain buku teks
- mengamati objek/kejadian/
aktivitas
- wawancara dengan nara sumber
Mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Mengasosiasikan/
mengolah informasi
-  Mengolah informasi dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun kegiatan mengamati atau mengumpulkan informasi.
-  Pengolahan informasi dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari sumber yang memiliki pendapat berbeda dan bertentangan.
Mengembangkan sikap
jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.

Mengkomunikasikan
-Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya
Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
(Kemendikbud, 2013:285-287),


Langkah pembelajaran dengan pendekatan Scientific menurut tabel diatas diperinci sesuai dengan Kemendikbud (2014:33-36) sebagai berikut:
a.        Mengamati
Metode mengamati bermanfaat untuk memenuhi rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran sangat bermakna. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah diantaranya: (1) menentukan objek yang akan diobservasi; (2) membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi; (3) menentukan secara jelas data-data yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder; (4) menentukan tempat observasi; (5) menentukan observasi untuk mengumpulkan data; (6) menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi.
b.        Menanya
Kegiatan menanya dalam proses pembelajaran dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami peserta didik. Untuk memancing peserta didik agar aktif bertanya, sebaiknya pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya.
c.        Mengumpulkan informasi/eksperimen
Kegiatan pembelajaran dengan mengumpulkan informasi/ eksperimen antara lan: (1) melakukan eksperimen; (2) membaca sumber lain selain buku teks; (3) mengamati objek/ kejadian/ aktivitas; (4) wawancara dengan nara sumber. 
d.       Mengasosiasi/ mengolah informasi
Dalam kegiatan mengasosiasi/mengolah informasi terdapat kegiatan menalar. Kegiatan menalar dalam kerangkan proses pembelajaran dengan pendekatan Scientificyang dianut dalam kurikulum 2013 menggambarkan bahwa pendidik dan peserta didik harus berperan aktif dalam proses pembelajaran.
e.        Mengkomunikasikan
Dalam kegiatan mengkomunikasikan dapat dilakukan dengan pembelajaran kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan pendidik lebih bersifat direktif atau menajer belajar, sedangkan peserta didik harus lebih aktif pada proses pembelajaran.

C. Kemampuan Berpikir Kritis
Kemampuan berpikir kritis merupakan keterampilan yang diperlukan peserta didik dalam mengetahui dan memahami suatu pengetahuan pada suatu materi pelajaran. Kemampuan berpikir kritis peserta didik yang akan di ukur pada penelitian ini yaitu: (1) menyampaikan pendapat; (2) mempertahankan pendapat; (3) memecahkan masalah; (4) membuat perbandingan; (5) menarik kesimpulan; (6) menganalisis fakta; (7) mengevaluasi argumen. Berpikir kritis membantu peserta didik dalam mengkritik suatu materi pembelajaran melalui diskusi didasarkan pada pemikiran memahami subjek dan menganalisa masalah yang diajukan melalui suatu pertanyaan (Hashemi, 2011:64). Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir secara logis, reflektif, dan produktif yang diaplikasikan untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik (Desmita, 2012:153). Dari beberapa pandangan tersebut, diartikan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan keterampilan memecahkan masalah-masalah yang ada, dengan cara menganalisis masalah, mencari alternatif solusi dari permasalahan dan kemudian memecahkan masalah-masalah tersebut.
Tujuan dari berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman. Pemahaman yang dimaksud adalah memahami sesuatu yang dapat membuat kita mengerti apa yang di maksud di balik ide yang mengarahkan hidup kita sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Johnson, 2007:185, bahwa pemahaman mengungkapkan makna yang terjadi di balik suatu kejadian. Pendidik diharapkan mampu menerapkan pembelajaran yang dapat membangkitkan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam diri peserta didik.

D. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu yang berlangsung secara terus-menerus (Slameto, 2010:28). Pengukuran hasil belajar berdasarkan pada kemampuan peserta didik untuk memfasilitasi pemikirannya dalam kehidupan nyata (Umamah, 2008:336-337).Hasil belajar peserta didik dapat diukur dari kemampuan peserta didik dalam kemampuannya memecahkahkan suatu masalah dengan berpikir kritis.
     Terdapat tiga ranah hasil belajar yang dibedakan atas aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Ketiga ranah tersebut adalah: Ranah kognitif, terdapat enam proses kognitif menurut Bloom dalam (Anderson & Krathworlh, 2010:99-133), yaitu: mengingat (C1), memahami (C2), mengaplikasikan (C3), adalah menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), mencipta (C6). Hasil belajar yang ingin dicapai dalam penelitian Deep Dialogue/ Critical Thinking dengan pendekatan Scientific adalah kognitif analisis (C4). Dimensi proses kognitif (C4) adalah kemampuan memisahkan materi kedalam beberapa komponen dan menghubungkannya untuk memperoleh pemahaman atas konsep secara utuh. Proses dimensi kognitif yang ingin dicapai adalah K.I 3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural yang berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait dengan fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajianyang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
Ranah afektif adalah penilaiaan sikap pada saat pembelajaran berlangsung (Bloom dalam Sudjana, 2011:28).Hasil belajar afektif tampak pada saat pembelajaran berlangsung di tunjukkan dengan peserta didik memperhatikan pelajaran, semangat dalam belajar, menghargai pendidik dan peserta didik lain. Hasil belajar ranah afektif dalam penelitian ini tidak di ukur karena peneliti hanya menfokuskan pada penilaian proses dan produk dari penelitian ini.
Ranah psikomotor akan terlihat pada keterampilan (skill) peserta didik yaitu ada enam aspek, diantaranya adalah (1) keterampilan dalam mencari dan mengumpulkan  data, (2) keterampilan dalam mengeluarkan pendapat, (3) keterampilan menelaah, (4) keterampilan dalam mengajukan pertanyaan dan berinteraksi pada saat diskusi, (5) keterampilan bercerita. Hasil belajar psikomotor penelitian metode Deep Dialogue/Critical Thinking dengan strategi Scientific adalah K.I 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. Pada penelitian ini indikator psikomotor yang diukur menggunakan indikator kemampuan berpikir kritis menurut Chance (1986), yaitu menganalisis dan memecahkan masalah. Dari hasil belajar akan melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui keterampilan dan pengetahuan yang terintegerasi.
Ranah sikap menggamit transformasi subtansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”. Ranah keterampilan menggamit transformasi subtansi atau materi ajar agar ”tahu bagaimana”. Ranah pengetahuansikap menggamit transformasi subtansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa”. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skill), memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skill) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan (Kemendikbud, 2013:12). Pencapaian ketiga ranah (sikap, pengetahuan dan keterampilan) diharapkan peserta didik tidak hanya memiliki kecakapan materi saja, melainkan mempunyai sikap dan keterampilan yang baik dalam mengikuti proses pembelajaran.

E. Membangun Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar  Peserta Didik  melalui Penerapan Metode Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan Pendekatan Scientific
Metode DD/CT dengan pendekatan Scientific merupakan penerapan metode dan pendekatan yang menuntut peserta didik untuk berpikir secara kritis. Kemampuan berpikir kritis yang dimaksud adalah dengan menemukan fakta, menganalisis dan mengimplementasikannya dengan benar.Deep Dialogue/ Critical Thinking dengan pendekatan Scientific termasuk dalam pembelajaran yang menganut paham konstruktivisme. Sasaran pembelajaran DD/CT dengan pendekatan Scientific menurut Kemendikbud (2014:68) mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan.Sikap dapat diperoleh dari aktivitas peserta didik melalui menerima, menjalankan, menghargai, menghayati dan mengamalkan. Pengetahuan diperoleh dari aktivitas peserta didik dengan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Sedangkan keterampilan diperoleh dari aktivitas peserta didik melalui mengamati, menalar, menyaji, dan mencipta. Proses pembelajaran  akan menyenangkan dan bermakna jika pendidik menggunakan inovasi-inovasi dalam proses pembelajaran, salah satunya dengan menerapkan Deep Dialogue/Critical Thinking dengan pendekatan Scientific untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik.
Penerapan Deep Dialogue/Critical Thinking  DD/CT dengan pendekatan Scientificdalam proses pembelajaran akan membantu pendidik menciptakan suasana kelas yang aktif, kondusif dan menyenangkan. Pendidik dan peserta didik akan terjalin hubungan yang untuk saling membelajarkan. Pada penelitian Deep Dialogue/Critical Thinking dengan pendekatan Scientific dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik. Indikator kemampuan berpikir kritis menurut Chance (1986) antara lain: (1) menyampaikan pendapat; (2) mempertahankan pendapat; (3) menarik kesimpulan; (4) membuat perbandingan; (5) mengevaluasi argumen. Hasil belajar peserta didik yang diukur adalah aspek kognitif dan psikomotor. Aspek psikomotor dengan indikator menganalisis fakta dan memecahkan masalah.
Pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking memiliki kelebihan. Kelebihan metode DD/CT dengan pendekatan Scientific adaptasi (Kamdi2007:29-30 dan Kemendikbud 2014:75) sebagai berikut:
1)      Deep Dialogue/Critical Thinking dengan pendekatan Scientific dapat digunakan melatih peserta didik untuk mampu berpikir kritis dan imajinatif. Dengan menggunakan logika, menganalisis fakta-fakta dan melahirkan imajinatif atas ide-ide lokal dan tradisional. Sehingga peserta didik mampu membedakan mana yang disebut berpikir baik dan tidak baik, mana yang benar dan tidak benar. Dialog mendalam dan berpikir kritis bertujuan untuk mendapatkan pemahaman paling lengkap. Melalui dialog dan berpikir kritis peserta didik memahami bagaimana mereka berhubugan dengan orang lain dan lingkungannya. Berpikir kritis membantu peserta didik menemukenali sekaligus menguji sikap mereka sendiri, serta menghargai nilai-nilai yang dipelajari. 
2)      Deep Dialogue/Critical Thinking dengan pendekatan Scientific merupakan dua sisi mata uang, dan merupakan hal inhernt dalam kehidupan peserta didik. Pembelajaran DD/CT berkaitan dengan kehidupan nyata sehingga memudahkan peserta didik mengerti dan memahami manfaat dari isi pembelajaran.
3)      Deep Dialogue/Critical Thinking dengan pendekatan Scientific menekankan pada nilai, sikap, kepriibadian, mental, emosional dan spiritual. Oleh karena itu peserta didik akan belajar dengan menyenangkan dan bersemangat.
4)      Melalui pembelajaran Deep Dialogue/Critical Thinking dengan pendekatan Scientific, baik pendidik maupun peserta didik akan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman. Dialog mendalam dan berpikir kritis mampu memasuki ranah intelektual, fisikal, sosial, mental dan emosional seseorang.
5)      Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, serta memberikan ruang untuk membangun kreativitas peserta didik.
6)      Hubungan antara pendidik dan peserta didik akan terbina secara dialog kritis. Pembelajaran DD/CT membiasakan pendidik dan peserta didik untuk saling membelajarkan, dan belajar hidup dalam keberagaman.
Seiring dengan perubahan paradigma baru pembelajaran menuntut peserta didik untuk berperan aktif dalam proses kegiatan pembelajaran (Permendikbud, 2013:1). Pembelajaran berpusat pada peserta didik, sedangkan pendidik hanya sebagai fasilitator dan motivator yang mengarahkan peserta didik. Paradigma baru dalam pembelajaran juga menuntut peserta didik untuk berpikir kritis dalam memmecahkan masalah. Berpikir kritis adalah pengambilan keputusan rasional tentang apa yang diyakini dan harus dilakukan (Slavin, 2006:40). Kemampuan berpikir kritis juga dapat membantu siswa untuk membuat keputusan yang tepat dengan cara melaksanakan proses menggali, mengenali, dan menilai segala untuk menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Penggunaan metode dan pendekatan yang kurang tepat dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik.
Dalam penerapan pembelajaran Deep Dialogue and Critical Thinking DD/CT dan pendekatan Scientific merupakan variasi metode dan pendekatan yang mengacu pada peserta didik untuk menemukan dan menyelesaikan masalah yang akan dipecahkan. Pembelajaran Deep Dialogue and Critical Thinking dan pendekatan Scientific sangat diharapkan partisipasi aktif seluruh peserta didik dalam memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, serta berargumentasi. Dengan demikian pembelajaran Deep Dialogue and Critical Thinking DD/CT dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar. Dampak dari keberhasilan tersebut membuat peserta didik akan merasa bahwa belajar akan menjadi menyenangkan.

KESIMPULAN
Berdasarkan kajian kritis analitis  di atas maka dapat  disimpulkan  sebagai berikut:  Deep Dialogue/Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific  jika diterapkan  dalam pembelajaran akan dapat membangun kemampuan berpikir kritis  peserta didik dan dapat meningkatkan  hasil siswa.

DAFTAR RUJUKAN
Anderson & Karthwohl. 2010. Kerangka Landasan untuk Pembelajaran,Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bruner, J. (1999). The Proccess of Education. United States of America: President andFellows of Harvard College.
Chance, P. (1986). Thinking in the classroom: A survey of programs. New York: TeachersCollege, Columbia University.
Hashemi. S. A.2011.The Use Of Critical Thinking In Social Science Textbooks Of High School: A Field Study Of Fars Province In Iran. Journal of InstructionVol.4, (1).
Interreligious Intercultural Dialogue.
Johnson, E. B. 2007. Contextual Teaching & Learning. Bandung: MLC.
Kamdi, W. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Malang: Universitas Negeri Malang.
Kemendikbud. 2013. Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kemendikbud. 2013. Konsep Pendekatan Scientific. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kemendikbud. 2014. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014 Mata Pelajaran SMA/SMK. Jakarta: Badan Pengembangan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.
NewYork and Evanston
Ngalimun. 2012. Strategi Dan Model Pembelajaran. Yogjakarta: Aswaja Pressindo.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Swidler, L. 2013.More than Deep-Dialogue / Critical-Thinking / Competitive-Cooperation.J. Educ. Teach, 3 (1): 36-41, 2013.
Trianto. 2007. Model Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrutivistik. Surabaya:  Prestasi Terbuka.
Umamah, Nurul. 2008.  Bahan Ajar Perencanaan Pembelajaran Bidang Studi. Malang.
Uno, H. B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
Walsh, W.H. 1967. Philosophyof History An Introduction. New York. Publishers