Senin, 08 Februari 2016

LOCAL GENIUS DALAM SENI BANGUNAN KOMPLEKS MAKAM SUNAN SENDANG KABUPATEN LAMONGAN

Miftahul Munir

                Abstract: Local genius is one theme than ussually used in antrhopology science, but its also can applied to the other social science like history. Local genius means the local abillity adapting the culture difussion. Indonessian middle age architecture specially in Sendang Duwur site gives us a clue than local genius is used in material and unmaterial culture form.

                Kata Kunci: Local Genius, Sunan Sendang, Kebudayaan Material dan Non  
                                     Material

PENDAHULUAN
Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beragam. Hal tersebut merupakan hasil perkembangan dari masa ke masa yang  banyak mendapat pengaruh dari luar. Kebudayaan di Indonesia dipengaruhi kehidupan spiritual masyarakatnya yang mendapat pengaruh dari beberapa arus pemikiran dunia yang paling tinggi, seperti Budhisme, Hinduisme, dan Islam (Wertheim, 1999: 233). Oleh sebab itu, muncul sebuah pembabakan masa sejarah kebudayaan di Indonesia menjadi beberapa bagian seperti kebudayaan Indonesia-Asli, Indonesia-Hindu, dan Indonesia Islam.
Agama Islam mayoritas dipeluk oleh masyarakat Jawa. Pigaeud (dalam Burger 1983:49) mengemukakan bahwa, seni dan peradaban Jawa, dalam perkembangannya selama beberapa abad telah mengalami segala macam pengaruh. Selain pengaruh dari luar tadi masyarakat Indonesia pada waktu itu menurut Werthheim (1999:233) juga selalu memainkan peranan aktif dalam kontak budaya. Peranan masyarakat lokal atau yang lebih dikenal dengan istilah local genius amat penting karena ia akan menentukan sifat dan bentuk kebudayaan masyarakat yang sedang berkembang (Sjafei dalam Ayatrohaedi, 1986:99).
Kompleks makam Sunan Sendang menarik untuk dikaji mengingat kompleks makam ini adalah peninggalan jaman Islam yang dibuktikan dengan adanya bangunan masjid serta makam Sunan Sendang namun di sampingnya berdiri gapura candi bentar dan gapura candi paduraksa yang umum dikenal dalam kebudayaan jaman Indonesia-Hindu. Selain itu, ornamen yang ada dikompleks makam ini juga memperlihatkan ciri khas lokal yang membedakannya dengan kompleks makam lain. 
Penelitian ini ingin melihat kompleks makam Sunan Sendang dari sudut pandang local genius dalam konteks sejarah. Penelitian yang ada selama ini mayoritas masih mengkaji kompleks makam Sunan Sendang dalam kajian antropologis. Kalaupun ada yang menyinggung sejarahnya, hal tersebut sangat terbatas dan memiliki proporsi pembahasan yang sangat minim. Dalam hal ini ingin dikaji latar sejarah situasi sosial budaya masyarakat terkait perkembangan agama dan kepercayaannya serta peran local genius masyarakat Lamongan terutama Sunan Sendang pada waktu itu sehingga menghasilkan akulturasi budaya pada benda-benda peninggalannya. Adapun ytujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk : (1) mendiskripsikan kondisi sosial budaya masyarakat di Lamongan pra-Islam; (2) menganalisis peranan Sunan Sendang dalam Islamisasi di Lamongan; (3) menganalisis serta mendiskripskan wujud local genius dalam kompleks makam Sunan Sendang.

 PEMBAHASAN
A.      Keadaan Sosial-Budaya Lamongan Pra Islam
Kabupaten Lamongan adalah kabupaten di Jawa Timur yang terletak antara 6° 50’ 54’’ sampai 7° 23’ 6 Lintang Selatan dan antara 112° 4’41’’ sampai dengan 112° 33’ 12’’ Bujur Timur. Topografi Lamongan secara umum dapat dibagi dua yakni daerah perbukitan dan pantai di bagian utara sampai tengah dan dataran rendah yang relatif subur untuk pertanian dan genangan rawa pada bagian tengah ke selatan menjadikan daerah ini penting pada masa lalu. Lamongan memberikan fungsi vital sebagai daerah pelapis (benteng kerajaan), penghasil produk pertanian, perniagaan, pelabuhan, dan akses transportasi baik darat maupun laut (Munir, 2009).         
Keadaan sosial-budaya di Lamongan dapat dibagi menjadi beberapa fase. Daerah Lamongan sebelum masa Islam berada di bawah pemerintahan kerajaan Kahuripan berdasar prasasti Sendang Rejo yang menyebut nama moksa Airlangga, i hino Sri Sanggramawijaya dan memuat angka tahun 965 Saka atau 1043 M (Suhadi,1986). Setelah itu, kerajaan Majapahit dengan bukti empat prasasti Biluluk yang terbuat dari tembaga dari jaman raja Hayam Wuruk (1350-1389) dan Wikramawardhana (1389-1429). Prasasti Biluluk I-IV berangka tahun 1288-1317 Saka atau tahun 1366-1395 M. Berdasarkan prasasti Biluluk dapat diketahui beberapa unsur kebudayaan Hindu berupa kepercayaan (religi), tulisan, tata pemerintahan, perekonomian, serta bentuk arsitektur masa Hindu.
Pembahasan pertama adalah bidang kepercayaan (religi) yang dihubungkan ke kerajaan Majapahit yang mengenal jabatan jurisdiksi keagamaan Dharmmadhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa dan Dharmmadhyaksa ring Kasogatan untuk agama Budha (Poesponegoro,dkk., 1984:454). Keberadaan mereka membuktikan bahwa ada dua agama resmi yang dianut serta dikelola oleh kerajaan Majapahit, yakni agama Hindu dan Budha. Melihat persebaran arca Siwa yang cukup banyak mengindikasikan agama mayoritas yang dianut masyarakat Lamongan masa itu adalah agama Hindu Siwa, sedangkan bukti peninggalan agama Budha di Lamongan sampai saat ini belum ditemukan. Selain itu, bila melihat poin pertama prasasti Biluluk dapat diketahui selain agama Hindu masyarakat Lamongan pada waktu tersebut juga mempunyai ritual tersendiri yang diadakan setiap setahun sekali. Tidak dijelaskan apakah ritual tersebut merupakan ritual agama Hindu atau kepercayaan asli masyarakat, namun dapat diperkirakan ritual tersebut sudah berlangsung cukup lama dan berlangsung meriah mengingat statusnya yang disebut tersendiri dalam prasasti.
Bidang kedua adalah huruf dan bahasa. Prasasti-prasasti di Lamongan menggunakan huruf dan bahasa Jawa kuna yang merupakan turunan atau modifikasi dari huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta dari India. Pada bidang ini terlihat local genius masyarakat Jawa pada waktu itu yang dapat memodifikasi tulisan yang masuk ke Nusantara dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat Jawa pada waktu itu.       Ketiga adalah tata pemerintahan, status swatantra Biluluk dan Tanggulunan memperkuat pola pemerintahan Majapahit yang bersifat teritorial dan desentralistik. Keberadaan daerah swatantra yang dipimpin oleh paduka bhatara (raja daerah) memberikan bukti bahwa secara struktural administratif dan politis wilayah ini termasuk wilayah Majapahit. Konsep desantralistik ini juga mungkin dipengaruhi kepercayaan yang bersifat kosmologis (Poesponegoro, dkk., 1984:451-453). Daerah swatantra Biluluk dan Tanggulunan sebagai daerah perdikan karena telah berjasa dalam bidang perekonomian Majapahit serta mungkin pula disebabkan perannya yang strategis sebagai benteng pelapis keamanan kerajaan Majapahit dari serangan dari arah laut.
Keempat adalah dalam bidang perekonomian. Melihat isi prasasti Biluluk I-IV dapat diketahui bahwa Lamongan menjadi salah satu pemasok sumber perekonomian kerajaan. Dari kegiatan pertanian dan perdagangan ini Majapahit memperoleh keuntungan. Wilayah yang otonom membuat wilayah ini bebas dari berbagai macam cukai yang biasanya dibebankan dalam kegiatan perekonomian. Dari prasasti ini pula (prasasti Biluluk poin d) diketahui bahwa ritual agama juga dibebani cukai seperti pembakaran jenazah dan peringatan kematian.
Kelima adalah kebudayaan Hindu bidang arsitektur. Meskipun bangunan yang memang berfungsi sebagi candi tidak dijumpai namun bila melihat beberapa arsitektur bangunan peralihan dari masa Hindu ke Islam seperti kompleks makam Sunan Derajat dan Sunan Sendang maka ada kemungkinan besar corak bangunan suci Hindu pada waktu itu menyerupai bangunan makam ini. Corak bangunan arsitektural yang mengindikasikan bangunan jaman Hindu adalah gapura candi baik candi Bentar maupun Paduraksa, pola hias ornamental seperti teratai dan surya. Bahkan konsep yang diambil dari jaman prasejarah seperti atap puncak bangunan masjid yang berbentuk meru, konsep punden berundak dan pemilihan lokasi tempat yang dianggap penting di gunung atau perbukitan mencirikan lokasi bangunan yang memang sudah digunakan pada jaman Hindu (Soekmono, 1973b:76-77; Kusen dalam Kartodirdjo, dkk. 1993:91).

B.     Peranan Sunan Sendang dalam Islamisasi
Majapahit menjadi lemah dalam abad ke-15 kemudian diteruskan oleh kerajaan-kerajaan pelabuhan di pesisir pantai utara pada ke-15 dan ke-16. Pada permulaan abad ke-16 Demak memegang kekuasaaan tertinggi. Wilayah Lamongan terutama pesisir akhirnya juga menjadi wilayah kekuasaan Demak. Penguasaan Demak atas wilayah pantai utara Lamongan dibuktikan dengan pengesahan pemegang kekuasaan di Desa Perdikan Derajat (sekarang masuk Kecamatan Paciran) yang sejak 1442 Ç atau 1522 M dipegang oleh keturunan Sunan Derajat dengan Retnayu Condrosekar (TBS2D, 1998:131-132).      
Raden Nur Rahmat atau lebih dikenal dengan Sunan Sendang lahir tahun 1442 Saka atau 940 Hijriyah yang sama dengan tahun 1520 M (Hasan, 1994:1). Sunan Sendang memusatkan dakwahnya di desa Sendang Duwur, termasuk wilayah Kecamatan Paciran sekarang ini. Desa ini sebelumnya bernama Dukuh Tunon. Sebuah desa yang terletak di daerah Amintuno, perbukitan Kendil dengan ketinggian sekitar 75 m dpl.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, ayah beliau berasal dari Baghdad yang sebelumnya singgah di Campa kemudian terdampar di Sedayu (wawancara dengan H. Ali dan Masrur Hasan, 31 Agustus 2008). Ayahnya bernama Abdul Qohar bin Malik bin Syeikh Abu Yazid Al-Baghdadi sedangkan ibunya bernama Dewi Sukarsih putri Tumenggung Sedayu, Jaya Sasmitro. Dari garis genealogis ibu tersebutlah maka Raden Nur Rahmat berhak memiliki gelar kebangsawanan raden.
Secara geneologis dari jalur ayah garis keturunan Sunan Sendang sampai pada Nabi Muhammad Saw. Sumber primer berupa tulisan maupun peninggalan lain memang tidak ditemukan. Sumber yang ada sampai saat ini hanya berupa cerita folklor dan catatan kertas berbahasa Jawa yang dibuat oleh keturunan Sunan Sendang, Masrur Hasan. Urutan tersebut menemui kelemahan ketika sampai pada Syeikh Jumadil Kubro, penyebar Islam di Jawa yang diperkirakan berasal dari Mesir dan meninggal di Troloyo, Trowulan pada tahun 1465 M (Sunyoto, 2008). Sehingga hubungannya dengan Syeikh Abu Yazid yang berasal dari Baghdad menimbulkan kerancuan. Namun perkiraan Abu Yazid sebagai tokoh yang berasal dari Baghdad dan Abdul Qohar dari Campa bisa saja benar bila dikaitkan dengan ramainya jalur perdagangan internasional waktu itu dari Arab melewati Campa sampai ke Jawa.
Berdasarkan cerita foklor yang beredar di masyarakat pemilihan syiar di Sendang Duwur disebabkan pertempuran antara serangan Ranggalawe atas Indro Suwarno (seorang lelaki dari suku Dayak) yang merebut pemerintahan Tumenggung Jaya Sasmitro setelah menolak pinangannya kepada kakak Dewi Sukaresih (ibu Sunan Sendang) yakni Dewi Turun Tangis. Kebenaran peristiwa tersebut sulit untuk dibuktikan mengingat ketiadaan sumber yang memadai. Tokoh Ranggalawe dalam kisah Sunan Sendang nampaknya juga bukan tokoh Ranggalawe jaman Raden Wijaya mengingat jangka waktu peristiwa tersebut yang cukup jauh. Bila kejadian tersebut melibatkan ayah Sunan Sendang berarti kejadian tersebut terjadi setelah tahun 1520 yakni setelah tahun kelahiran Sunan Sendang, sedangkan masa hidup Ranggalawe sampai tahun 1295 yakni ketika ia meninggal dalam serangan Majapahit ke Tuban (Poesponegoro, dkk., 1975:426-429). Terlepas benar atau tidaknya peristiwa tersebut namun yang pasti keberadaan Ketumenggungan Sedayu memang bisa dibuktikan dari peninggalan Prarasti Karang Bogem yang dibuat pada masa Majapahit masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Kisah yang beredar di masyarakat Sendang Duwur sebagaimana yang ditulis Hasan (1994) menyatakan bahwa sewaktu Sunan Sendang dan ibunya Dewi Sukaresih datang ke bukit Amintuno, wilayah ini masih berbentuk hutan belantara yang belum terjamah. Sunan Sendanglah yang membuka hutan tersebut menjadi perkampungan. Namun, kemungkinan Sendang Duwur (Dukuh Tunon/ Patunon) telah ada sebelum kedatangan Sunan Sendang bisa saja terjadi. Penemuan arca Siwa di sekitar situs masjid Sendang Duwur memperlihatkan keberadaan komunitas Hindu di daerah ini. Perlu diketahui bahwa di situs kompleks makam Sendang Duwurlah ditemukan salah satu bukti konkret keberadaan agama Hindu di daerah pantai utara Lamongan.
Dukuh Tunon atau Patunon di bukit Amintuno mengingatkan kita pada kata Tunon (bahasa Jawa) berarti pembakaran. Menurut cerita di masyarakat, Desa Sendang Duwur adalah desa tempat pembakaran mayat, sebagaimana diketahui jenazah pemeluk Hindu dikremasi atau dibakar (wawancara dengan H. Ali, 2008; Syaifulloh, 2009). Proses pembakaran jenazah ini juga dilakukan oleh masyarakat Hindu di Lamongan sebagaimana tertuang dalam prasasti Biluluk poin keempat. Letak desa yang berada di perbukitan dan berhadapan dengan pantai mencirikan konsep ajaran Hindu. Dalam masa Majapahit dikenal komunitas khusus kaum resi, yaitu kaum agamawan yang menyingkirkan diri dari dunia ramai dan hidup menyepi guna mendekatkan dirinya kepada dewa-dewa di lereng gunung (Munandar dalam Tim Museum Nasional, 2000:21-22). Sebagaimana diungkapkan Atmadi (dalam Kartodirdjo, dkk., 1993:124-125), orientasi dalam menentukan tata ruang dan letak bangunan di Majapahit dan Jawa pada waktu itu adalah berorientasi kepada alam sekitarnya seperti gunung, dataran dan laut. Gunung disimbolkan sebagai tempat suci dan laut sebagai tempat yang kurang suci. Dari konsepsi inilah kemungkinan pemilihan bukit Amintuno sebagai tempat ideal bagi pertapaan para resi dilangsungkan, sehingga tempat ini lebih mirip sebuah mandala yakni komunitas agama di desa yang biasanya memang ditempatkan di daerah yang terpencil seperti di bukit yang berhutan (Kartodirdjo, dkk., 1993:44).
Berdasarkan Negarakertagama pupuh 78 Syair 7c (dalam TBS2D, 1998:187-188) disebut empat monumen perabuan pertapaan dari empat asrama yaitu Pacira, Bulwan, Luwanwa dan Kupang mereka dibantu dan dirawat oleh desa di sekitarnya”. Keempat wanasrama atau mandala tersebut berkembang menjadi Lamongan sekarang ini. Perabuan dan pertapaan Pacira sangat identik dengan nama kecamatan Paciran. Desa Sendang Duwur Kecamatan Paciran memang terletak di puncak bukit dan sebelum mencapai desa tersebut pengunjung harus memasuki Desa Sendanglebak atau Sendang Agung terlebih dahulu. Kata sendang tersebut diambil dari nama sebuah sendang yang terdapat di wilayah ini yang oleh masyarakat dikenal dengan nama Sendang Padusan. Bila dihubungkan dengan konsepsi mandala di atas maka bisa jadi Sendang Duwur adalah mandala dan desa Sendanglebak adalah desa yang merawatnya.
Mandala ini merupakan pusat-pusat agama dengan kebudayaannya sendiri yang juga merupakan komunitas para pengrajin, seperti pandai besi, pengecat, dan pembuat keramik (Van Naerssen dalam Wertheim, 1999: 227). Melihat ukiran yang sangat indah dan rumit pada gapura Sendang Duwur tentu proses pengerjaannya dilakukan oleh para pengrajin atau pemahat yang profesional. Bisa jadi mandala tempat resi juga berfungsi sebagai perabuan atau pembakaran jenazah.
Bila dugaan ini benar, maka pemilihan Dukuh Tunon sebagai tempat syi`ar cukup beralasan. Meskipun Sunan Derajat telah memiliki tanah perdikan di Derajat yang kemudian menjadi pondok pesantren namun nampaknya tidak semua wilayah di Paciran telah memeluk Islam. Dukuh Tunon diperkirakan sebagai sisa kantong pemeluk Hindu yang kuat mengingat statusnya sebagai mandala yang juga difungsikan sebagai tempat pembakaran mayat (perabuan). Kalaupun Sunan Sendang dan ibunya datang ke Dukuh Tunon dan diterima di komunitas Dukuh Tunon yang beragama Hindu mungkin disebabkan penghormatan sosial sebagai ganjaran yang utama dalam pengabdian pada keluarga raja atau penguasa birokrasi (Kartodirdjo dkk.,1993:41).
Kisah-kisah bernuansa religio-magis Sunan Sendang juga banyak melibatkan Sunan Derajat. Keberadaan peninggalan kedua sunan seperti makam serta bangunan dan cerita kedua tokoh dalam historigrafi tradisional mengindikasikan keberadaan mereka, namun hal yang masih perlu dicari adalah kebenaran kisah yang mereka alami. Dari penelusuran sumber, ternyata kedua tokoh tersebut hidup dalam jaman yang berbeda. Sunan Derajat adalah tokoh penyebar Islam yang hidup di sekitar pertengahan abad ke-15 sampai perempat pertama abad ke-16. Sunan Derajat meninggal tahun 1522 M (TBS2D, 1998:54). Sunan Sendang sendiri lahir pada tahun 1520 M dan meninggal dalam tahun 1507 Ç atau 1585 M (Stuterhein dalam Hasan, 1994:9). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kedua tokoh hidup tidak sejaman yakni Sunan Derajat telah meninggal ketika Sunan Sendang berusia dua tahun.
Pertemuan keduanya bisa saja dilakukan, hanya mungkin yang dimaksud Sunan Derajat di sini bukanlah Raden Qasim akan tetapi dengan keturunan beliau. Desa perdikan Derajat tetap dijabat oleh keturunan Sunan Derajat sampai tahun 1956. Putra Sunan Derajat yang sejaman dengan Sunan Sendang adalah Raden Arif (1522-1554) dengan gelar Panembahan Agung dan Raden Permadi yang bergelar Pangeran Adikusumo (1554-1600) (TBS2D, 1998:131-132). Pemimpin daerah tersebut juga dikenal dengan nama daerah yang dipimpinnya yakni Derajat. Penggunaan nama berdasarkan daerah kekuasaan ini memang umum digunakan masa itu seperti sebutan Sunan Giri dan keturunannya (Sunan Giri I, II dan seterusnya) di Giri Kedaton (Hayati, dkk., 2000:39).
Kisah yang menceritakan Sunan Derajat dan Sunan Sendang bersama istrinya menghadiri undangan Sunan Giri juga bisa saja terjadi. Giri menjadi pusat pemerintahan dan studi Islam yang besar saat itu. Mengingat  fase fungsi Giri Kedaton yakni antara tahun 1480-1487, sebagai salah satu pusat pendidikan agama Islam. Fase tahun 1487-1748, sebagai pusat pendidikan dan pemerintahan Islam, terutama sampai Sunan Prapen (Sunan Giri IV) tahun 1605. Fase setelah 1605, fase monumental dimana Giri hanya berfungsi sebagai monumen bekas kebesaran kedaton dan pusat pendidikan Islam pasca serangan Mataram di bawah Amangkurat II yang bekerjasama dengan VOC (Widodo, dkk., 2004:49). Melihat masa hidup masing-masing tokoh, pertemuan yang dilakukan antara Sunan Derajat dan Sunan Sendang dengan Sunan Giri bisa diperkirakan berlangsung sekitar fase kedua Kedaton Giri.
Kisah yang berkembang mengenai keberadaan masjid Nur Rahmat juga melibatkan seorang tokoh dari Mantingan, Jepara yakni Ratu Kalinyamat atau Mbok Randa Mantingan putri Sultan Trenggana. Apabila Sultan Hadiwijaya di Pajang mengurusi wilayah Jawa bagian pedalaman maka Mbok Randa Kalinyamat adalah penguasa pesisir Jawa. Kekuasaan Mbok Randa Kalinyamat menyebar sampai ke Jawa Timur termasuk Surabaya sampai Tuban. Melihat posisi Sedayu yang berada di antara pelabuhan Surabaya dan Tuban, maka kemungkinan Sedayu juga adalah termasuk wilayah kekuasaan Mbok Randa Kalinyamat (Tjandrasasmita, 1975:56; Hayati, dkk., 2000:37-38).
Secara arkeologis, bentuk arsitektural maupun hias ornamental masjid yang ada di Desa Sendang Duwur dengan masjid Mantingan memang memiliki kesamaan. Tahun pembuatannyapun tidak terlalu jauh, masjid Mantingan diketahui dibangun pada tahun 1481 Ç atau sama dengan 1559 M dari candrasengkala “rupa brahmana warna sari”, sedangkan masjid Sendang Duwur dibangun pada tahun 1483 Ç sama dengan tahun 1561 M dari candrasengkala yang berbunyi “gunaning sarira tirta hayu” (Tjandrasasmita, 1975:56; Hasan, 1994:6-7). Menurut Tjandrasasmita (1975) ada dua kemungkinan untuk hal ini yakni pertama, Sunan Sendang mendatangkan tukang yang sama dari Mantingan untuk membangun masjid di Sendang Duwur atau kedua, bisa jadi tukang dari Sendang Duwur belajar di Mantingan setelah itu kembali ke Sendang Duwur yang kemudian membangun masjid Sendang Duwur.
Sunan Sendang menikah dengan Raden Ayu Tilaresih putri Pangeran Ngrenget dari Kudus. Dari pernikahan tersebut Sunan Sendang memperoleh tujuh orang anak. Sunan Sendang meninggal pada tahun 1507 Ç sama dengan tahun 1585 M atau sekitar 24 tahun sejak membangun masjid. Hal itu bisa diketahui dari prasasti yang ada pada ukiran dalam cungkup makam Sunan Sendang, oleh Stuterhein dibaca 7051 yang kalau dibaca terbalik menjadi 1507. Guna mengingat jasa beliau diadakan haul setiap tanggal 15 Sya`ban atau 15 Ruwah menurut penanggalan Jawa (Hasan, 1994:9-10; Nursalim, 1995). 

C.    Wujud Local Genius dalam Kompleks Makam Sunan Sendang
Situs Sendang Duwur terdiri dari kompleks himpunan artefak jenis fitur (feature) berukuran besar seperti gapura makam, masjid beratap tumpang, makam Raden Nur Rahmat (Sunan Sendang) dan sumur giling. Selain benda fitur tersebut, ada juga peninggalan lain seperti bedug, keramik, mimbar, memala (sisa-sisa kayu bangunan masjid), arca kayu, arca batu, dan gentong (Nursalim, 1995).          
Wujud budaya tersebut dapat dikaji dari dua segi sebagaimana diutarakan oleh Soekmono (1973a:9) yakni segi materiil yakni berwujud benda-benda fisik yang dapat dijangkau oleh panca indra dan kerohanian (non materiil) yang berisi ide-ide atau gagasan alam fikiran dan perasaan manusia. Hasil karya seni budaya di atas menurut Sutrisno, dkk. (1993:137-138) terbentuk dari materi dalam arti materials yakni bahan-bahan yang menghasilkan hal-hal yang indrawi (sensous) dan materi dalam arti matter yakni sumber asali yang menjiwai setiap pengalaman estetik yang tidak nampak hanya dari luar suatu karya seni. Keduanya terintegrasi dan membentuk sebuah karya seni manusia yang utuh.


1. Wujud Material Local Genius Kompleks Makam Sunan Sendang
a. Bangunan Masjid
                        Masjid kompleks makam ini bernama masjid Nur Rahmat diambil dari nama asli Sunan Sendang yakni Raden Nur Rahmat (Hasan, 1994). Masjid tersebut didirikan pada tahun 1463 Ç atau tahun 1561 M berdasarkan chronogram atau candrasengkala yang terpasang di atas pintu tengah masjid yang berbunyi Gunaning Sarira tirta Hayu (Hasan, 1994:7). Bangunan masjid sekarang ini sebagian merupakan hasil renovasi dan perbaikan dari tahun ke tahun. Hal tersebut dapat diketahui dari candrasengkala berbahasa Arab, pembangunan ulang masjid yang dibuat pada tahun 1851 Jawa yang oleh Pijper (dalam Nursalim,1995) dibaca “I`lamu anna haadzal masjida buniya marrotaini al-uulaa fii sanati 1483 jawi. Almuwafaqoti li sanati 971 hijriyyah was tsaniyatu fii sanati 1851 jawi. Almuwafaqqooti 1339 hijriyyah …” artinya kurang lebih “Ketahuilah olehmu semua sesungguhnya masjid ini dibangun dua kali. Pertama dalam tahun 1483 Jawi bersamaan dengan tahun 971 Hijriyah dan kedua dalam tahun 1851 Jawi atau bersamaan dengan tahun 1339 Hijriyah…”.
                        Bentuk local genius yang dapat dijumpai dalam masjid ini adalah penggunaan campuran bahasa. Penggunaan campuran bahasa telah digunakan pada artefak peninggalan Islam. Kedatangan Islam telah membawa pengaruh bahasa pada prasasti di Indonesia yang sebelumnya dengan huruf Pallava dan bahasa Sansekerta dan Jawa kuna. Campuran bahasa itu terlihat dari penggunaan bahasa Arab tapi juga Jawa dalam chronogram pembuatan masjid dan prasasti renovasi bangunan masjid tahun 1920 yang dipahat di tiga pintu masuk dengan tiga huruf yang berbeda yakni arab, latin, dan jawa.
                        Local genius masjid ini juga terlihat dari susunan kubah masjidnya yang beratap tumpang tiga dan memiliki puncak yang disebut mustaka yang merupakan ciri khas lokal bangunan masjid Jawa. Penerapan kubah pada masjid pertama kali digunakan pada Qubhat al-Sakhra di Jerussalem (678 M) dan kubah pada masjid Damaskus yang dibangun oleh Khalifah Al-Walid dari Dinasti Umayah. Pada masa Nabi Muhammad bentuk kubah hanya berbentuk atap datar, bahkan sebenarnya pemakaian kubah berbentuk setengah lingkaran pada awalnya ditemukan pada makam istri Nabi Muhammad, Maimunah bin Harits yang meninggal tahun 65 H atau 680 M (Situmorang, 1993:29-30).    

b. Gapura Makam
                        Bangunan gapura pada kompleks makam Sunan Sendang berbentuk bentar dan paduraksa. Gapura bentar adalah gapura yang berbentuk seperti candi yang dibelah dua, untuk meluangkan jalan keluar masuk. Sedangkan gapura paduraksa adalah gapura yang berbentuk seperti candi hanya saja fungsinya sebagai pintu keluar masuk maka bagian tubuhnya terdapat lubang pintu (Soekmono, 1973b:91). Menurut Kamus Istilah Arkeologi jenis gapura bentar dan paduraksa digolongkan ke dalam jenis bangunan candi (Ayatrohaedi, dkk., 1981:19-20) sehingga gapura pada kompleks makam Sunan Sendang juga bisa dikategorikan sebagai bangunan candi.
                        Terdapat lima gapura candi yang membagi kompleks makam ini menjadi 4 (empat) halaman, 3 (tiga) halaman utama dan 1 (satu) halaman tambahan. Gapura makam terletak di sebelah utara, barat dan selatan masjid yang membagi bagian makam tersebut menjadi empat halaman sebelum menuju makam Sunan Sendang. Selain candi Bentar dan Paduraksa tadi pada makam ini juga terdapat bangunan candi Laras atau candi pengalih (utara gapura B) yakni semacam pagar yang menghubungkan antara bangunan candi Bentar dan candi Paduraksa dan mengelilingi bangunan inti tersebut. Gapura berbentuk bentar dan paduraksa mencirikan bangunan pada masa Indonesia-Hindu. Bentuk gapura candi Bentar pertama adalah candi Bentar di Panataran, Blitar yang dibuat tahun 1242 Ç atau 1320 M. Sampai saat ini model bangunan bentar dan paduraksa masih dipakai oleh masyarakat Hindu Bali pada bangunan-bangunan yang dianggap suci dan sakral seperti pure (Soekmono dalam Kartodirdjo, dkk.,1993:76).
                        Pembagian halaman menjadi empat bagian tersebut mengindikasikan perubahan gugusan candi pada masa Islam. Bangunan yang disakralkan pada masa Hindu-Budha seperti candi umumnya terdiri dari tiga halaman sesuai konsep Triloka Candi yakni kaki candi (bhurloka) yakni dunia tempat manusia berpijak. Kedua adalah tubuh candi (bhuwarloka) yakni dunia tempat manusia mencapai kesucian dan kesempurnaan dan karenanya dapat berhadapan dengan dewa atau dengan nenek moyang yang ia puja. Ketiga adalah atap candi (swarloka) yakni dunia para dewa dan roh nenek moyang. Ketiga susunan tersebut tersusun secara vertikal dan bila diposisikan secara horisontal maka akan terbentuk susunan tiga halaman yang menepatkan posisi termulya (swarloka) pada bagian paling belakang (Soekmono dalam Kartodirdjo, dkk., 1993:78). Meskipun pembagian gapura candi kompleks makam Sunan Sendang terbagi menjadi empat halaman, namun tetap cungkup makam Sunan Sendang menempati halaman paling belakang dan paling tinggi.
                        Pola hias ornamental gapura juga memperlihatkan hal yang sama. Unsur budaya Hindu-Budha terlihat dari hiasan antefiks berupa pucuk daun dan teratai seperti yang terdapat dalam mustaka masjid dan sumur giling. Selain motif flora, di gapura ini juga terdapat motif-motif fauna seperti sayap burung garuda di Gapura B dan E yang pada bagian E sudah tidak nampak akibat gempa yang terjadi dalam tahun 1950, burung merak, naga dan stiliran kepala gajah. Ukiran sayap burung yang berkembang bergaya naturalis tampak menonjol dengan bagian kanan-kiri tubuh gapura B yang kaya hiasan motif flora dan fauna dan ada juga hiasan stiliran kepala gajah. Sayap gapura sebelah barat tampak lebih besar jika dibandingkan dengan sayap sebelah timur. Sayap sebelah barat menempel di atas pagar dan ujungnya menempel pada bagian pemuncak dari pilar pagar tersebut, sedangkan sayap sebelah timur menempel di atas tanah tebing. Burung garuda dikenal dalam ajaran Hindu sebagai kendaraan Dewa Wisnu.
                        Hiasan naga dengan mulut terbuka (menganga) dalam mitos Hindu-Budha adalah pewujudan makara yakni binatang yang memiliki kekuatan luar biasa juga terdapat di sini. Naga dengan wujud makara dalam mitologi Hindu adalah wujud capricornus dan digambarkan dengan kepala dan kaki menjangan dengan badan dan berekor ikan (Tim Cipta Adi Pustaka, 1990:59). Nursalim (1995) mengaitkan ukiran yang ada di gapura makam Sunan Sendang dengan cerita kesusatraan Jawa yakni cerita kluwung (bahasa Jawa = pelangi). Ukiran tersebut menggambarkan ular naga yang berkepala dua berwujud seperti kepala kijang terbang di atas pulau Jawa. Satu kepalanya menghisap air laut dari arah utara dan kepala yang lain menghisap air dari Laut Selatan. Bayangan air tersebut membentuk pelangi yang menghubungkan jalan surga antara langit dan bumi. Pelangi ini menjadi jalan para bidadari dan roh-roh manusia.
                        Motif lokal juga terlihat dalam kompleks makam ini seperti relief alam seperti motif gunung pada puncak gapura E. Motif lokal yang lain adalah ukiran pohon jambu air, yang mungkin sebagai unsur lokal adaptasi seniman Sendang Duwur terhadap kehidupan lingkungan alamnya. Secara simbolis belum bisa diartikan, namun hal tersebut bisa jadi menggambarkan situasi masyarakat pada waktu itu. Alam sekitar menjadi salah satu pencitraan manusia dalam karya seni dilakukan oleh masyarakat Sendang Duwur dengan mencitrakan tanaman jambu air sebagai salah satu objek hiasan dalam gapura. Diperkirakan pohon jambu air telah ada di daerah Lamongan sejak jaman tersebut. Sampai sekarang di sepanjang daerah pesisir pantai utara Lamongan banyak dijumpai pohon jambu air. Motif lainnya adalah pohon kelapa atau mungkin saja adalah pohon siwalan yang memang banyak terdapat di daerah ini. Ukiran khas lokal situs ini adalah ukiran berbentuk rumah joglo di gapura B yang sangat mungkin adalah bentuk bangunan masyarakat Sendang Duwur waktu itu.
                        Bentuk local genius lain terlihat pada gapur E. Gapura ini pernah dipugar oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur pada tanggal 14 - 24 Februari 1990. Karena kondisinya yang miring dan hampir runtuh maka perbaikan atappun dilakukan. Satu hal yang menarik ketika dilakukan pemugaran adalah mengenai isian pada atap gapura. Dari pemugaran itu diketahui bahwa bagian dalam atap tidak tersusun dari batuan yang sama dengan bagian luar akan tetapi menggunakan semacam bongkahan batu kapur dan celah-celahnya diisi dengan serbuk batu putih (istilah masyarakat Sendang Duwur disebut ladu) (Tim Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur,1990). Konstruksi bangunan seperti ini belum pernah dijumpai pada bangunan jaman Madya tempat lain, hal ini menandakan salah satu bentuk local genius masyarakat Sendang Duwur waktu itu.

c. Makam Sunan Sendang
                        Makam Sunan Sendang dan istrinya yakni Raden Ayu Tilarsih terletak di sisi barat masjid atau tepatnya berada dalam cungkup pada halaman III. Makamnya berdiri di atas teras dan diberi pelindung bangunan beratap (cungkup). Pada teras cungkup tersebut terdapat bingkai dari batu yang mempunyai hiasan relief motif flora. Dahulu terdapat dua patung singa dari kayu yang kini tinggal bekas kakinya saja. Salah satu patung telah rusak dan satu buah patung singa yang lain di bawa ke Museum Nasional Jakarta (Tjandrasasmita, 1975:15).
                        Pada bagian bawah dari cungkup juga kaya akan hiasan seperti panel-panel heksagonal yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk tumpal, flora, batu-batuan, bangunan seperti pendopo bersayap dan motif sulur-suluran. Selain itu terdapat juga motif roset yang di dalamnya berisi motif daun dan bunga-bunga. Bagian atasnya terdapat hiasan motif rantai dari daun-daunan yang membentuk segi tiga dan lingkaran.
                        Bagian tubuh cungkup terbuat dari kayu yang sebagian juga ada hiasannya. Bagian yang ada hiasannya berada di sisi depan (selatan), dipisahkan oleh rangka-rangka yang membentuk panel-panel hiasan yang pada bagian tengah berisi motif tumpal dan heksagonal sedangkan panel lainnya berisi motif-motif flora dan sulur-suluran. Pada panel yang berbentuk heksagonal di dalamnya terdapat hiasan berbentuk batu-batuan dan ada juga yang berbentuk flora yang keluar dari pot. Di atasnya terdapat motif bunga berbentuk lotus pada bagian ini ditemukan sedikit tulisan Jawa kuna yang mungkin merupakan tahun meninggalnya Sunan Sendang juga pendirian bangunan cungkup tersebut yakni 1507 Ç.
                        Pintu masuk ke cungkup tampak kecil dan indah berbentuk persegi empat. Di bagian pintu ini juga terdapat hiasan motif sulur-suluran dan bunga. Ada juga panel yang berbentuk heksagonal yang diisi motif sulur-suluran (motif arabesque). Pada bagian panel tengah memiliki hiasan motif roset berisi bunga lotus dan ada juga yang berisi daun-daunan. Pada panel tengah yang lain ada hiasan motif sulur-suluran dan bunga, ada juga bentuk bunga lotus, motif tumpal dan bentuk sudut 16 serta motif roset dalam sebuah lingkaran.

2. Wujud Non Material Local Genius Kompleks Makam Sunan Sendang
                        Agama Islam masuk setelah kepercayaan asli masyarakat yang mendapat pengaruh Hindu dan Budha nampaknya juga ikut mewarnai dan diwarnai oleh kebudayaan masyarakat lokal Indonesia. Pengaruh Islam dalam bidang ukiran atau ornamen dalam kompleks makam Sunan Sendang nampak pada bentuk ukiran stiliran kepala kala dan gajah juga perubahan fungsi dan makna bangunan lama. Hal itu memperlihatkan local genius dalam bangunan material ternyata juga memiliki fungsi dan makna tersendiri yang telah disesuaikan dengan ajaran Islam. Pola hias ornamen pohon kelapa, burung garuda, burung merak, bunga teratai, ornamen berbentuk gunungan dan susunan atap ganjil kubah masjid juga memiliki arti secara sufistik (Munir, 2009).
                        Kompleks makam yang terletak di atas bukit Amintuno terpengaruh alam fikiran kebudayaan Indonesia-kuna (megalitik) yang berlanjut pada masa Indonesia-Hindu, Lereng dan puncak merupakan tempat yang terpilih untuk makam atau tempat pemujaan. Pemilihan syiar di bukit Amintuno, Sendang Duwur yang merupakan mandala, kantong pemeluk Hindu sekaligus tempat pembakaran jenazah masyarakat Hindu waktu itu nampaknya dipilih Sunan Sendang dengan pertimbangan sosio-kultural masyarakat Sendang Duwur. Letak makam yang berada di tempat yang tinggi juga mungkin dipengaruhi oleh status sosial Sunan Sendang sebagai bangsawan dan muballigh (wali) Jawa. Seperti makam muballigh lain keturunan bangsawan Jawa umumnya keletakan makamnya di perbukitan seperti Sunan Giri, Sunan Derajat, Sunan Murya hal tersebut bisa kita bandingkan dengan para muballigh (wali) non Jawa seperti Sunan Ampel atau makam Maulana Malik Ibrahim yang berada di daerah dataran. Kalaupun ada makam wali yang tidak berada di daerah yang tinggi bisa jadi karena metode dakwahnya dilakukan secara berkeliling seperti Sunan Kalijaga di Kadilangu. 
                        Gugusan bangunan gapura yang dimulai dari sebuah kolam dan berakhir pada makam Sunan Sendang pada bagian paling belakang dan tertinggi mengindikasikan pesan yang ingin disampaikan bahwa untuk mencapai sebuah tempat tertinggi (bagian tersuci) harus dimulai dari sesuatu yang suci yang ditandai dengan kolam pada halaman pintu masuk (Gapura G). Bangunan candi berjenis pertirtaan yang biasanya berdiri sendiri dalam kompleks makam ini disatukan sebagai sebuah gugusan yang integral. Konsep local genius terlihat dari bagaimana masyarakat Sendang Duwur memadu padankan kepercayaan Hindu-Budha dengan Islam.
                             
KESIMPULAN
                        Pembahasan di atas membawa pada kesimpulan bahwa local genius juga berpengaruh terhadap hasil kebudayaan jaman Madya. Local genius tersebut berwujud material dan non material. Wujud material tersebut berupa hasil kebudayaan pada seni bangunan kompleks makam Sunan Sendang yang masih menggunakan pola dan konsep arsitektural pengaruh kebudayaan asli dan kebudayaan Hindu dengan memasukkan unsur Islam terhadap bangunan tersebut seperti bentuk-bentuk ukiran yang distilir. Sedangkan wujud non material local genius tersebut berupa penyesuaian konsep serta adaptasi ajaran Islam dengan mengkomunikasikannya dalam hasil kebudayaan yang ada. Sehingga secara fisik seni bangunan yang ada memperlihatkan arsitektural kebudayaan Indonesia-Asli dan Indonesia-Hindu akan tetapi secara makna filosofis bangunan telah berubah fungsi dan maknanya sesuai dengan ajaran Islam.


DAFTAR RUJUKAN
Ayatrohaedi, dkk. Kamus Istilah Arkeologi. Jakarta: Pusat pembinaan dan Panegembangan Bahasa Depdikbud. 1981.
Ayatrohaedi. (Ed.). Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Cetakan I. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya. 1986.
Burger. D.H. Perubahan-Perubahan Struktur dalam Masyarakat Jawa. Cetakan II. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. 1983.
Hasan, M. Sejarah Raden Nur Rahmat (Sunan Sendang). Lamongan: (Koleksi Pribadi). 1994.
Hayati, C. dkk. Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI. Jakarta: Depdiknas. 2000.
Kartodirdjo, S. dkk. 700 Tahun Majapahit (1293-1993), Suatu Bunga Rampai. (Edisi kedua). Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. 1993.
Poesponegoro, M.D. dkk., Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka. 1984.
Situmorang, O. Seni Rupa Islam, Pertumbuhan dan Perkembangannya. Bandung: Angkasa. 1993.
Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Jakarta: Kanisius. 1973a.
Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Jakarta: Kanisius. 1973b.
Sudibyo, Z.H. Babad Tanah Jawi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kabudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra. 1980.
Sutrisno, S. dkk. (Eds.). Bahasa, Sastra, Budaya: Ratna Manikam Untaian Persembahan Kepada Prof. Dr. P. J. Zoetmulder. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1991.
TBS2D (Tim Peneliti dan Penyusun Buku Sejarah Sunan Drajat). Sejarah Sunan Drajat dalam Jaringan Masuknya Islam di Nusantara. Surabaya: Tim Peneliti dan Penyusun Buku Sejarah Sunan Drajat. 1998.
Tim Museum Nasional. Kajian Ilmiah, Temuan Satu Abad (1900-1999). Jakarta: Museum Nasional. 2000.
Tim Cipta Adi Pustaka. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 10. Cetakan I. Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka. 1990.
Tjandrasasmita, U. Transleted by Styawati Suleiman. Islamic Antiquities of Sendang Duwur. Jakarta: Djambatan. 1975.
Wertheim, W.F. Alih bahasa oleh Zulfa Elizabet. Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Kajian Perubahan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1999.
Widodo, D.I., dkk. Grissee Tempo Doeloe. Gresik: Pemerintah Kabupaten Gresik. 2004.
Nursalim. “Nelusuri Masjid: Makam Kuna ing Sendang Duwur”. Artikel Penyebar Semangat. Mojokerto: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. 1995.
Suhadi, M. “Laporan Penelitian Epigrafi Jawa Timur (Tahap II)”. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Departemen Pendidikan dan Kabudayaan. 1986.
Sunyoto, A., dkk. “Refleksi Dakwah Syaikh Jumadil Kubro”. Mojokerto: Panitia Saresehan Nasional Sehari Mengkaji dan Merefleksi Dakwah Syeikh Jumadil Kubro (Perspektif Sejarah). 2008.
Tim Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur. “Laporan Pembongkaran Atap Gapura E Komplek Makam Sendang Duwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan 1989/1990”. Mojokerto. Depdikbud. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur. 1990.

Munir, M. “Local Genius dalam Seni Bangunan Indonesia Jaman Madya: Tinjauan Historis pada Kompleks Makam Sunan Sendang Kabupaten Lamongan”. Tidak Dipublikasikan. Skripsi. Jember: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas jember. 2009.