Minggu, 21 Desember 2014

Upaya Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar Mahasiswa Melalui Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Mata Kuliah Ekonomi Indonesia


UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA MATA KULIAH EKONOMI INDONESIA

Agus Santoso

Abstraks: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan , observasi dan refleksi. Hasil penelitian model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik pada mata kuliah ekonomi Indonesia. Peningkatan hasil belajar dari kondisi awal ketuntasan hanya mencapai 40 % pada sisklus pertama meningkat menjadi 60 % dan selanjutnya pada siklus ke dua ketuntasan mencapai 92%. Peningkatan keaktifan belajar peserta didik dari kondisi awal yang cukup aktif dan aktif sebanyak 50 % meningkat pada siklus pertama menjadi 70 % dan pada siklus kedua meningkat menjadi 90 %.

Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, Keaktifan dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pendidikan adalah salah satu pilar utama yang memungkinkan suatu negara mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang dan memerlukan biaya besar. Kalau bidang ini salah ditangani dan hanya dijadikan sebagai ladang mainan bagi penguasa, akan berakibat fatal, karena dampaknya langsung berhubungan dengan manusia. Sebaliknya, bila berhasil dikembangkan dan dikelola, maka dalam jangka panjang akan memberikan sumbangan yang besar bagi bangsa dan negara.
Dalam bidang pendidikan, pengembangan dan penguasaan pengetahuan kita tertinggal jauh dari banyak negara di dunia, bahkan dari negara tetangga yang dulu setingkat dengan kita. Tentunya kita perlu dan harus mau mengejar ketinggalan itu supaya kita sungguh-sungguh menjadi negara yang merdeka dalam segala hal. Maksudnya kita tidak tergantung dalam banyak hal kepada negara dan bangsa lain, tetapi ikut aktif menyumbangkan secara positif dalam hubungan saling tergantung antar negara dan bangsa.
Banyak faktor yang menjadi rendahnya hasil belajar, salah satunya adalah ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran yang digunakan guru di kelas. Kenyataan menunjukkan bahwa selama ini guru menggunakan model pembelajaran yang bersifat konvensional dan banyak didominasi guru (Abbas, 2000: 2). Pola pembelajaran ini harus diubah dengan cara menggiring peserta didik mencari ilmunya sendiri. Guru hanya sebagai fasilitator, sedangkan peserta didik harus menemukan konsep-konsep secara mandiri.
Untuk mengantisipasi masalah di atas, guru dituntut mencari dan menemukan suatu cara yang dapat menumbuhkan motivasi belajar. Pengertian ini mengandung makna, bahwa guru diharapkan dapat mengembangkan suatu model pembelajaran yang yang dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan, menemukan, menyelidiki dan mengungkapkan ide siswa itu sendiri. Dengan kata lain diharapkan guru atau dosen mampu meningkatkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah peserta didik (Krulik dan Reys, 1980:3). Oleh karena itu kemampuan pemecahan masalah hendaknya diberikan, dilatihkan, dan dibiasakan sedini mungkin.
Misi Kurikulum akan tercapai bila proses pembelajarannya tidak menggunakan pendekatan yang selama ini digunakan, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru/dosen , sedangkan siswa menerimanya secara pasif. Beraneka ragam model pembelajaran tersebut jelas dimaksudkan untuk lebih memberi kesempatan yang luas kepada para siswa untuk aktif belajar. Menurut Hamalik (2003: 100) model-model pembelajaran itu untuk mengupayakan agar pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher oriented) berubah menjadi terpusat pada siswa (student oriented).
Situasi pembelajaran yang berpusat pada siswa/mahasiswa (student oriented) akan tercapai, apabila guru/dosen dapat menggunakan berbagai strategi mengajar yang fleksibel. Ruseffendi (1991:248) mengemukakan bahwa pembelajaran yang efektif memperhatikan prinsip-prinsip belajar dan belajar akan berhasil jika diikuti dengan sungguh-sungguh oleh murid. Pemilihan strategi pembelajaran sangat penting karena strategi yang dipilih akan ada kaitannya dalam menentukan metode mengajar yang sesuai. Kurikulum hanyalah salah satu komponen dalam pembelajaran, dan komponen yang lebih penting adalah guru yang bertanggung jawab tentang jalannya proses pembelajaran, termasuk dalam memilih model pembelajarannya (Nur, M., Ibrahim, M., 2000; Sumarmo, 2000:4)
Dengan demikian untuk melaksanakan pembelajaran, guru perlu mengenal dan dapat melaksanakan dengan baik berbagai pendekatan pembelajaran yang dapat membangkitkan minat dan intelektual peserta didik, meningkatkan pemahaman dan penerapan secara mendalam, menerapkan teknologi dan alat bantu lainnya.
Berdasarkan fenomena di atas kemudian timbul pertanyaan, model pembelajaran seperti apa yang dapat melibatkan aktivitas siswa secara . Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu siswa berlatih memecahkan masalah adalah model pembelajaran berbasis masalah. Model ini merupakan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah otentik (nyata), sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang tinggi dan menemukan, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan dirinya (Arends, 1997: 288). Pada model ini peran guru adalah mengajukan masalah, mengajukan pertanyaan, memberikan kemudahan suasana berdialog, memberikan fasilitas penelitian, dan melakukan penelitian.
Model pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pendekatan ini membantu peserta didik untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajarn ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan, 2000: 8).
Jika mengacu pada teori belajar Gagne (Dahar, 1996: 138) kemampuan berpikir tinggi ini banyak berkaitan dengan kemampuan memecahkan masalah. Lebih lanjut Dahar mengemukakan bahwa pada dasarnya kemampuan untuk memecahkan masalah merupakan tujuan setiap proses pendidikan. Selain itu kemampuan pemecahan masalah merupakan satu diantara hasil belajar yang akan dicapai dalam pengajaran di tingkat sekolah manapun (Sumarmo, 1994: Semiawan 2000). Dengan demikian pembelajaran hendaknya selalu diorientasikan pada terwujudnya kemampuan pemecahan masalah, selain agar siswa dapat menguasai materi dengan baik, juga dapat berprestasi secara optimal. Maka kreativitas dan dedikasi guru dituntut dalam mencapi alternatif-alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
Belajar pemecahan masalah pada hakekatnya belajar berpikir atau belajar bernalar. Yang dimaksud dengan belajar berpikir atau belajar bernalar tersebut adalah berpikir atau bernalar dalam mengaplikasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya untuk digunakan dalam memecahkan permasalahan yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Ruseffendi (1991a: 241) berpendapat bahwa pendekatan pemecahan masalah adalah suatu pendekatan yang bersifat umum yang lebih menekankan kepada proses dari pada hasilnya.
Gagne (dalam Ruseffendi, 1991a: 169) berpendapat bahwa pemecahan masalah adalah tipe belajar yang paling tinggi karena lebih kompleks dari pada tipe belajar sebelumnya. Pengelompokan tipe belajar yang dilakukan oleh Gagne adalah tipe belajar isyarat, stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan dan pemecahan masalah.
Menurut Slavin (1994: 225), pemberian keterampilan berpikir dan pemecahan masalah kepada siswa memerlukan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, misalnya teman sejawat atau guru. Untuk menyikapi hal ini, maka perlu dilakukan upaya pembelajaran berdasarkan teori kognitif yang di dalamnya termasuk teori belajar konstruktivis. Menurut Teori konstruktivis keterampilan berpikir dan memecahkan masalah dapat dikembangkan jika siswa melakukan sendiri, menemukan, dan memindahkan kekomplekan pengetahuan yang ada. Dalam hal ini secara sepontanitas siswa akan mencocokan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang dimilikinya kemudian membangun kembali aturan pengetahuannya jika terdapat aturan yang tidak sesuai (Slavin, 1994: 225).
Ruseffendi (1991a: 169) berpendapat bahwa ada lima langkah yang harus dilakukan dalam proses pemecahan masalah, yaitu menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas, menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih operasional, menyusun hipotesis alternatif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik, menguji hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya, dan menguji kembali hasil yang telah diperoleh. Jadi penekanan pada pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah adalah pada apa yang harus dipecahkan dan bagaimana dapat memecahkan masalah tersebut secara sistematis dan logis.
Memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan model pembelajaran berbasis masalah dan pentingnya kemampuan pemahaman dan pemecahan masalah.


Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa ?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penelitian bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah.
Manfaat Penelitian
Dengan tercapainya tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang diharapkan,
dapat memberikan informasi mengenai penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Dapat meningkatkan keaktifan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah.
METODE PENELITIAN
Tempat penelitian, di Jurusan Pendidikan Ekonomi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial IKIP PGRI Jember. Subyek penelitian adalah para mahasiswa yang menempuh matakuliah Ekonomi Indonesia pada semester genap tahun akademik 20013/2014.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan, yang terdiri dari 4 tahap yaitu : merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merefleksi. Menurut tim pelatih proyek PGSM (1999:7),
Sesuai dengan gambar spiral penelitian tindakan kelas model Hopkins, penelitian ini terdiri dari 4 fase, yaitu : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Empat Fase tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Perencanaan
Kegiatan yang akan ditakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut :
  1. Menetapkan dan memilih Materi yang dijadikan bahan dalam pelaksanaan penelitian.
  2. Membuat skenario pembelajaran yang terdiri dari program perencanaan pembelajaran.
  3. Membuat lembar observasi yang digunakan peneliti untuk menilai keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.
2) Tindakan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan tindakan pengajaran berdasarkan pada perencanaan yang telah dibuat. Tindakan tersebut difokuskan pada respon siswa terhadap materi yang disampaikan guru dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah.

  1. Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung yaitu dengan menilai motivasi belajar siswa. Adapun hal-hal yang di observasi adalah : a) Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran; b) Semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajamya; c) Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya; d) Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru.

  1. Refleksi
Tahap Refleksi dilakukan untuk mengkaji kembali basil tindakan dan basil observasi, yang kemudian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan yang akan dilakukan kemudian. Dengan melakukan refleksi peneliti mengetahui kekurangan-kekurangan apa yang perlu diadakan tindakan perbaikan.

Metode Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian disamping menggunakan metode yang tepat juga perlu memillih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a)Metode Observasi; b) Metode Dokumentasi; c)Metode dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data yang berasal dari bukti tertulis yang ada pada tempat penelitian; d) Metode Tes
Tes merupakan suatu cara yang digunakan dalam rangka pengukuran penelitian, berbentuk pemberian tugas yang berupa pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik sehingga dapat dihasilkan nilai yang mengembangkan tingkah laku atau prestasi peserta didik. Data hasil belajar siswa yang telah tercapai dapat diketahui dengan menggunakan metode tes. Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa setelah mempelajari materi yang diajarkan. Isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran .
Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Data yang dianalis dalam penelitian ini adalah: 1) kegiatan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi; 2) hasil tugas dan ulangan harian siswa.
Untuk mengukur ketuntasan hasil belajar dalarn hal ini menggunakan standar ketuntasan yaitu Ketuntasan belajar individu dinyatakan tuntas apabila tingkat presentase ketuntasan minimal mencapai 65%, sedangkan untuk tingkat klasikal, minimal mencapai 85% (Depdikbud: 1994). Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah keaktifan siswa aktif dalam pembelajaran, Indikator ketuntasan individual 65, sedangkan secara klasikal sebesar 85 % dari jumlah siswa.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Ada lima langkah yang dilakukan dalam proses pemecahan masalah, yaitu: 1) menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas; 2) menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih operasional; 3) menyusun hipotesis alternatif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik; 4) menguji hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya, dan; 5) menguji kembali hasil yang telah diperoleh. pada pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah Penekanan adalah pada apa yang harus dipecahkan dan bagaimana dapat memecahkan masalah tersebut secara sistematis dan logis.
Berdasarkan hasil interview diketahui bahwa dalam pembelajaran jika mengggunakan pembelajaran berbasis masalah siswa tertantang maka dengan sungguh-sungguh berusaha memecahkan masalah tersebut.
. Pelaksanaan tindakan awal yaitu melaksanakan tes pendahuluan. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran. Sebelum tes dimulai peneliti menginformasikan agar setiap peserta didik menuliskan nama dan nomor absen sebagai identitas pada tes pendahuluan. Tes pendahuluan berlangsung selama 60 menit dengan 10 soal essay. Bedasarkan tes pendahuluan ternyata masih banyak siswa yang mendapat nilai dibawah 60. Peserta didik yang tuntas belajarnya hanya 20 siswa dari 50 pesertadidik s. Sehingga ketuntasan belajar siswa secara klasikal 40%.
Dilaksanakan pembelajaran Siklus I. Model pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran berbasis masalah. Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, siswa diberikan penjelasan tentang pembelajaran berbasis masalah dan tentang tujuan pembelajaran tersebut.
Pada saat siswa melaksanakan diskusi guru memberikan pertanyaan kepada siswa sesuai dengan nomor yang telah disebutkan oleh guru. Guru memberikan waktu untuk berfikir dengan teman kelompoknya lalu diberikan kesempatan kepada siswa yang nomornya disebutkan untuk menjawab pertanyaan. Selama kegiatan pembelajaran suasana tampak kondusif terlihat dari aktivitas siswa dalam melakukan diskusi dan menjawab pertanyaan.
Dalam kegiatan pembelajaran masing-masing siswa mengumpulkan tugas, serta memberikan hasil tugas kelompok. Setelah itu peneliti menginformasikan tentang keaktifan kelompok. Hasil belajar siklus I ketuntasan belajar siswa mencapai 30 siswa atau 60%, yang belum tuntas 20 peserta didik atau 40 %.
Pelaksanaan siklus II ini sama dengan pelaksanaan siklus I. Setelah pelaksanaan pembelajaran II selesai, guru meminta kepada siswa untuk mempersiapkan diri menghadapi tes akhir. Sebelum tes akhir dilaksanakan, peneliti meminta kepada siswa untuk mengumpulkan tugas dan Proyek II serta menginformasikan hasil dari tugas kelompok pada pembelajaran II. Tes akhir berlangsung selama 60 menit. Berdasarkan hasil tes akhir diperoleh bahwa 4 orang belum tuntas sebesar atau 8 %, dari 50 peseta didik mencapai ketuntasan belajar akhir dari sebesar 92%. sehingga dikatakan tuntas belajar. Selanjutnya peneliti mengadakan analisa ketuntasan hasil belajar secara keseluruhan dapat di lihat tabel di bawah ini:







Tabel. Hasil Belajar peserta didik kondisi awal, Siklus I dan siklus II

Kategori Hasil Belajar
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Peserta
didik
%
Peserta
didik
%
Peserta
didik
%
<60
30
60%
20
40%
4
8%
61-75
15
30%
22
44%
36
74%
76-100
5
10%
8
16%
10
20%
Jumlah
50
100%
50
100%
50
100%
Sumber : Data yang diolah


Grafik Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus 1 dan 2
Berdasarkan tabel di atas tampak dari kondisi awal yang cukup memprihatinkan, setelah diterapkan tindakan siklus pertama hasilnya meningkat secara signifikan ketuntasan belajar meningkat menjadi 60 %, yang pada mulanya ada 60 % yang belum tuntas dan yang tuntas hanya 40 %. Pada siklus ke dua sangat menggembirakan karena peningkatan ketuntasan belajar mencapai 32 % yakni yang tuntas menjadi 92 %. Sehingga jika dibandingkan dengan indikator kinerja berarti sudah mencapai target yang diharapkan.
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa ataupun aktivitas kelompok dan untuk mengamati aktivitas guru (peneliti) dalam kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan ini, peneliti yang bertugas mengamati aktivitas guru sebagai refleksi kegiatan pembelajaran dan 2 observer yang bertugas mengamati aktivitas siswa dan aktivitas kelompok.
Kegiatan Pembelajaran pada umumnya berjalan lancar. Hal tersebut dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam berdiskusi dalam kelompoknya dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh dosen.
Kegiatan diskusi kelompok berlangsung secara umum siswa sudah terlihat saling bekerjasama untuk mengerjakan tugas kelompok dan membantu teman yang mendapat pertanyaan dari dosen. Observer menilai aktivitas (kinerja dan proses) siswa baik secara individu atau kelompok. Pada waktu yang sama dosen berkeliling pada tiap kelompok untuk mengetahui jalannya diskusi kelompok serta membantu siswa yang mengalami masalah pada saat mengerjakan tugas kelompok. Sebelum kegiatan pembelajaran diakhiri, memberi proyek untuk tugas mandiri serta memberikan motivasi agar selalu belajar dengan rajin. Kemudian dilakukan tes akhir, pada saat pelaksanaan tes akhir ini siswa mengerjakan secara individu dan terlihat sangat konsentrasi. Tes akhir dapat berjalan lancar dan tertib.

Hasil observasi dipaparkan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel. Keaktifan Dalam Pembelajaran peserta didik Pada kondisi awal, Siklus I dan siklus II

Keaktifan
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Peserta
didik
%
Peserta
didik
%
Peserta
didik
%
Kurang Aktif
25
50%
15
30%
5
10%
Cukup Aktif
15
30%
25
50%
20
40%
Aktif
10
20%
10
20%
25
50%
Jumlah
50
100%
50
100%
50
100%
Sumber : Data yang diolah

Grafik keaktifan dalam proses pembelajaran:


Berdasarkan analisis data diperoleh, kondisi awal siswa yang kurang aktif ada 25 peserta didik atau 50 %. Cukup aktif sebanyak 25 % dan aktif sebanyak 10 peserta didik atau 20 %. Pada siklus pertama yang tidak aktif 15 peserta didik atau 30 %, yang cukup aktif sebanyak 25 peserta didik atau 50%. Pada siklus ke dua yang tidak aktif sebanyak 10% atau 5 peserta didik. Yang cukup aktif sebanyak 20 peserta didik atau 40 %, , yang katagori aktif sebanyak 50 % atau sebanyak 25 siswa.
Peningkatan keatifan dan peningkatan hasil belajar dapat dipahami karena Pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah mempunyai beberapa keuntungan Beberapa keuntungan pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah menurut Killen (1998, 109-111) adalah : 1)Pemecahan masalah dapat mengembangkan jawaban yang bermakna terhadap permasalahan yang akan membawa siswa menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai suatu materi; 2)Pemecahan masalah dapat memberikan tantangan kepada siswa sehingga siswa akan mendapatkan kepuasan dengan menemukan pengetahuan baru; 3)Pemecahan masalah dapat membuat siswa selalu aktif dalam pembelajaran; 4)Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mempelajari bagaimana cara untuk mentransfer pengetahuan ke dalam permasalahan kehidupan sehari-hari; 5)Pemecahan masalah dapat membuat siswa lebih bertanggung jawab untuk membentuk dan mengarahkan pembelajaran; 6)Pemecahan masalah dapat membantu siswa mengembangkan pengetahuan baru dan merasa bertanggung jawab pada proses pembelajarannya; 7)Pemecahan masalah dapat mendorong siswa untuk mengevaluasi proses belajar mereka sendiri;8)Pemecahan masalah dapat mengajarkan kepada siswa bahwa jawaban siswa harus dapat dijelaskan serta dipertanggungjawabkan;9)Pemecahan masalah dapat mengembangkan kepercayaan diri; 10)Pemecahan masalah dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik dan memberi penghargaan kepada siswa; 11)Pemecahan masalah dapat menyenangkan dan memberi dorongan kepada siswa untuk belajar; 12)Pemecahan masalah dapat mengembangkan ketrampilan berpikir kritis setiap siswa dan kemampuan siswa untuk beradaptasi dengan situasi belajar yang baru; 13)Pemecahan masalah dapat menjaga rasa ingin tahu setiap siswa; 14)Pemecahan masalah dapat mendorong siswa untuk dapat membahas tentang konsep yang sedang dipelajari; 15)Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengevaluasi pemahaman siswa dan mengidentifikasi ide-ide yang ada dalam pemikiran siswa; 16)Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk membuat penilaian berdasarkan informasi yang diterimanya; 17)Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan nyata; 18)Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk dapat memecahkan permasalahan di kehidupan sehari-hari dengan cara menggabungkan pengetahuan yang diperoleh dari berbagai materi yang berbeda; 19)Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan rasa percaya diri dan harga diri siswa; 20)Pemecahan masalah dapat menciptakan tiga jenis kondisi yang mampu membantu dalam pemilihan informasi baru yang tepat guna yaitu penggunaan pengetahuan yang utama, mengaplikasikan informasi yang telah dipelajari dan kesempatan untuk menjelaskan informasi tersebut; 21)Pemecahan masalah dapat membuat siswa berinteraksi dan bekerja dalam kelompok dan akan meningkatkan serta memperkuat ketrampilan interpersonal setiap siswa (Killen, 1998; Johnson, DW, Johnson RT dan Holubec, EJ , 1994).

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik pada mata kuliah ekonomi Indonesia. Peningkatan hasil belajar dari kondisi awal ketuntasan hanya mencapai 40 % pada sisklus pertama meningkat menjadi 60 % dan selanjutnya pada siklus ke dua ketuntasan mencapai 92%. Peningkatan keaktifan belajar peserta didik dari kondisi awal yang cukup aktif dan aktif sebanyak 50 % meningkat pada siklus pertama menjadi 70 % dan pada siklus kedua meningkat menjadi 90 %.

DAFTAR RUJUKAN
Abbas, N. (2000). Penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem-based instruction) dalam pembelajaran . Jakarta: Depdiknas.
Arends, R. I. (1997). Classroom instruction and management. New York: McGraw-Hill.
Dahar, R.W. (1996). Teori-teori belajar. Jakarta: Erlangga
Depdiknas. (2001). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Tim PGSM
Driver, R., Leach, J. (1993). A constructivist view of learning: Children’s conceptions and nature of science. In what research says to science teacher. 7, 103-112. Washington: National Science Teachers Assosiation.
Hamalik, O (2003). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nur, M., Ibrahim, M.(2000), Pengajaran berdasarkan masalah. Surabaya: UNESA-University Press.
Ruseffendi, E.T. (1994). Dasar-dasar penelitian pendidikan dan non eksakta lainnya. Semarang: IKIP Semarang Press.
Semiawan, C. (2000). Relevansi kurikulum pendidikan masa depan. In Sindhunata (Ed). Membuka masa depan anak-anak kita. Yogyakarta: kanisius
Slavin, R.E. (1995). Cooperative Learning Theory, Research and Practice Massachusetts : Allyn and Bacon.
Sumarmo, U. (2000). Kecenderungan pembelajaran matematika pada abad 21. Makalah pada Seminar Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung.
Killen, R. (1998). Effective Teaching Strategies Lessons from Research and Practice. Australia : Social Science Press.
Krulik, S. Dan Reys, R.E. (1980). Problem Solving in School Mathematics. Virginia : NCTM.
Johnson, DW, Johnson RT dan Holubec, EJ (1994). Cooperative Laerning in the Clasroom. Alexandria: ASCD