Senin, 22 Desember 2014

Peningkatan Kompetensi Belajar Menganalisis Tindakan, Motif Dan Prinsip Ekonomi Melalui Penerapan Model Bukan Empat Mata


PENINGKATAN KOMPETENSI BELAJAR MENGANALISIS TINDAKAN, MOTIF DAN PRINSIP EKONOMI MELALUI PENERAPAN MODEL BUKAN EMPAT MATA

Slamet Heriyadi

Abstrak: IPS merupakan mata pelajaran yang kurang diminati siswa, peminat mata pelajaran ini biasanya berasal dari siswa yang memiliki tingkat kompetensi yang lebih rendah. Di kalangan para guru, masih banyak yang memberi materi kepada siswa dengan cara yang kurang menarik dan bersifat konvensional. Kenyataan ini menggugah peneliti untuk meningkatkan kompetensi belajar IPS dikarenakan IPS sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu cara meminimalkan permasalahan ini melalui pendekatan model bukan empat mata (ala Tukul Arwana). Adapun penelitian ini mengambil subyek dari siswa SMP Negeri 2 Tenggarang kelas 7a Semester I tahun pelajaran 2013-2014. Sedangkan data dari penelitian ini di analisis dengan tehnik analisis kuantitatif untuk hasil tes dan teknik analisis deskriptif kualitati dengan: menganalisis hasil observasi, wawancara dan hasil angket refleksi . Dari data tersebut diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran IPS dengan penerapan model bukan empat mata (ala Tukul Arwana) efektif untuk peningkatan kompetensi belajar IPS siswa dalam menganalisis Tindakan, Motif dan Prinsip Ekonomi.

Kata Kunci: Peningkatan Kompetensi, Pembelajaran Bukan Empat Mata

PENDAHULUAN
Dalam dunia pendidikan, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kalangan siswa sekolah tingkat SMP/MTs cenderung sebagai pembelajaran yang bersifat monoton dan cenderung membosankan. Pola interaksi antara siswa dan guru dalam proses pembelajaran lebih bersifat guru sentries (pola ceramah). Sedangkan Idealnya pembelajaran IPS menerapkan pembelajaran dengan pendekatan Paikem. Oleh karenanya guru harus tepat dalam memilih dan menerapkan model, metode atau teknik pembelajaran sesuai karakteristik tiap-tiap pokok bahasan.
Kurangnya pemahaman guru terhadap tehnik penyampaian bahan pembelajaran mengakibatkan proses pembelajaran berjalan kaku dan kurang menyentuh pola pikir siswa. Kondisi pembelajaran yang demikian kurang mendapat respon positip sehingga siswa kebanyakan yang diam dan seolah-olah paham terhadap pembelajaran yang disampaikan guru.
Di samping itu, kecenderungan yang terjadi, orientasi pembelajaran masih kepada penyelesaian target materi dan nilai pengetahuan ( kognitif) semata daripada target perubahan sikap (afektif), dan ketrampilan (psikomotorik) sehingga siswa dapat memahami materi secara tuntas. Selama ini pembelajaran IPS tidak membuat siswa aktif dan kreatif yang salah satunya ditunjukkan dengan tidak adanya umpan balik (Feed Back), siswa hanya pasip menerima apa adanya dari materi yang disampaikan guru. Minimnya umpan balik siswa pada pembelajaran IPS salah satunya dapat dilihat dari rendahnya kemampuan siswa dalam menganalisis pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi. Hudojo (1998), pembelajaran konvensional sudah saatnya ditinggalkan sama sekali dan digantikan model pembelajaran yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk merekontruksi pengetahuan sendiri dan mengembangkan diri.
Salah satu model pembelajaran yang perlu diterapkan guru dalam upaya memberdayakan kemampuan siswa dalam memberikan umpan balik pada pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi adalah model pembelajaran bukan empat mata (ala Tukul Arwana). Dengan pembelajaran model bukan empat mata (ala Tukul Arwana) akan memotivasi siswa lebih berani mengungkapkan pendapat dan menemukan konsep-konsep yang sulit dikarenakan mendiskusikan dengan bantuan tutor teman sebaya. Atas dasar pertimbangan tersebut maka pembelajaran dengan model bukan empat mata ala Tukul Arwana sebagai salah satu alternative model pembelajaran Paikem dan strategi pemberdayaan kemampuan siswa dalam memberikan umpan balik (Feed Back) dalam menganalisa tindakan, motif dan prinsip ekonomi perlu dipertimbangkan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami melakukan penelitian untuk meningkatkan kompetensi pembelajaran IPS dalam rangka mencari solusi terbaik dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.
Ada beberapa faktor yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya kompetensi siswa dalam pembelajaran IPS baik dari factor guru atau factor siswa. Faktor yang berasal dari guru, meliputi:1) masih banyak guru yang kurang menguasai IT, 2) Buku materi pengayaan guru kurang lengkap, 3) Banyaknya tugas tambahan yang di bebankan kepada guru sehingga kurang fokus dalam pembelajaran, 4) Kurang memahami model, metode dan strategi pembelajaran, 5) kurang melatih siswa dalam melakukan scientific approach, dan 6) Kesibukan lain dalam rumah tangga. Sedangkan factor dari siswa, meliputi: 1) Minat siswa dalam pembelajaran IPS rendah, 2) Materi IPS sangat luas mencakup 4 bidang mata pelajaran, 3) materi ini lebih bersifat hafalan, 4) siswa kurang mampu dalam menganalisis materi dan 5) kurang latihan dalam berargumentasi.
Seiring dengan penyempurnaan pemberlakuan KTSP pada akhir tahun 2013 dan akan diberlakukannya kurikulum 2013, di mana pada tahun ini sudah mulai diberlakukan pilot project pada sekolah-sekolah yang ditentukan oleh Pemerintah, yang mana pemberlakuan kurikulum ini lebih menekankan pada scientific approach dan konektivitas pada berbagai disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial. Oleh karenanya peran guru dalam proses pembelajaran harus lebih ditingkatkan agar mencapai tujuan yang diharapkan. Kualitas proses pembelajaran diukur dari seberapa jauh guru dapat meningkatkan kompetensi siswa secara komprehensif. Oleh sebab itu guru perlu mempersiapkan perencanaan pembelajaran termasuk pada mata pelajaran IPS dengan baik dan menerapkan model pembelajaran yang bisa membangkitkan minat siswa untuk lebih aktif dengan pemberian umpan balik (Feed Back) yang ditunjukkan dengan kemampuan mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membuat jejaring. Hal tersebut merupakan salah satu indicator keberhasilan proses pembelajaran IPS dengan pokok bahasan Tindakan, motif dan prinsip ekonomi.
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, model pembelajaran yang digunakan adalah metode-metode mengajar utama dan metode serta tekhnik mengajar lainya yang cocok dengan karakteristik IPS sebagaimana yang dikemukakan oleh Abdul Wahab. (2007). Abdul Wahab telah melakukan seleksi dan membaginya kedalam beberapa model pilihan sebagai berikut:
  1. Metode ceramah
  2. Metode Inkuiri (menemukan sendiri dan Pemecahan Masalah)
  3. Metode Diskusi
  4. Metode Tanya Jawab
  5. Metode Simulasi, meliputi:
  • Bermain Peran (Role Playing)
  • Drama kehidupan masyarakat (Socio drama)
  • Simulasi dan Bermain simulasi
  • Metode berdebat Ala Inggris ( British style Debate)
  • Tekhnik Pengadilan ( Juri-Trial Technique)
Berdasar model pembelajaran yang disampaikan diatas, maka sudah sepatutnyalah pendidik materi pelajaran IPS mau dan mampu memberdayakan model pembelajaran yang sudah ada atau bahkan memperkaya lagi model pembelajaran dengan membaca buku Active Learning yang didalamnya termuat 101 model pembelajaran.
Dalam penelitian ini model pembelajaran yang digunakan bisa dikategorikan pengembangan dari metode simulasi khususnya role playing. Yang mana metode ini nampak di acara televisi dan di modivikasi sendiri, seperti model bukan empat mata (ala Tukul Arwana) yang akan penulis paparkan.
Penerapan model pembelajaran bukan empat mata (ala Tukul Arwana) memerlukan waktu yang cukup lama bagi siswa maupun bagi guru sehingga terkadang menghambat guru dalam mencapai target kurikulum.Adapun tahap-tahap atau langkah pembelajarannya dapat penulis jelaskan sebagai berikut:
  • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.
  • Guru membentuk dan membagi peserta didik dalam kelompok-kelompok sesuai dengan banyaknya sub materi yang ada.
  • Guru membantu siswa dan mendampingi dalam mengorganisasikan kelompok-kelompok yang ada dan yang akan tampil sebagai pemeran tokoh yang menguasai bahan materi pokok.
  • Guru Memberikan dorongan untuk memperluas wawasan yang sesuai, kepada tiap-tiap kelompok dan pemecahan masalahnya.
  • Guru melotre atau memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok yang akan tampil memerankan tokoh yang menguasai materi sebagai bintang tamu saat itu
  • Guru mengatur jalannya permainan dengan mendampingi tokoh yang menjadi bintang tamu untuk melakukan bincang-bincang santai tentang materi yang dikuasai tokoh dan juga sekaligus mengatur agar peserta merespon materi yang disampaikan tokoh yang selanjutnya membantu tokoh dalam memberikan ulasan-ulasan.
  • Guru memberi kesempatan peserta menanggapi permasalahan baik bertanya ataupun menanggapi permasalahan.
Oleh karena itu guru harus pandai-pandai dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran dengan mempersiapkan tugas-tugas dalam bentuk Lembar Kerja Siswa. Tugas tersebut dikerjakan baik secara Individu maupun kelompok dengan alokasi waktu yang ditetapkan secara ketat untuk setiap kegiatan. Berdasarkan latar belakang masalah diatas masalah yang diajukan adalah: apakah penerapan model pembelajaran bukan empat mata (ala Tukul Arwana) dapat meningkatkan Kompetensi siswa dalam pembelajaran IPS pokok bahasan Tindakan, Motif dan Prinsip Ekonomi?
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam pembelajaran IPS pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi dengan penerapan model bukan empat mata (ala Tukul Arwana). Manfaat penelitian ini adalah: 1. Bagi Siswa a) dapat belajar dengan suasana yang kondusif sesuai dengan harapan siswa yang menjadikan belajar sebagai tempat bermain yang serius. B)Dapat meningkatkan ketajaman berpikir kritis dan konstruktif serta rasa percaya diri yang kuat karena penentuan metode pembelajaran yang tepat dan sistematis yang mempermudah merespon pembelajaran. C) Dapat meningkatkan aspek Kognitif, Afektif dan Psikomotorik siswa dalam model pembelajaran empat mata (ala Tukul Arwana) guna peningkayan kompetensi belajar siswa terhatap mata pelajaran IPS; 2. Bagi Guru a) Dapat mempersiapkan diri sebelum, saat dan sesudah pembelajaran berlangsung di kelas. b) Dapat menggunakan model pembelajaran secara bervariasi sehingga dapat mengefektifkan pelaksanaan KBM dan memperoleh hasil yang optimal. c) Berusaha memaksimalkan dirinya untuk menjadi fasilitator yang terbaik dan mau memahami dan mengerti kebutuhan dan karakteristik pembelajaran yang akan disampaikan pada peserta didik.

METODE PENELITIAN
Penilitian direncanakan dengan mengimplementasikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang meliputi tahapan-tahapan perencanaan (planing), tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting). Jangka waktu penelitian selama 1 bulan yaitu bulan Oktober 2013 sampai dengan Nopember 2013.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Tenggarang dengan melibatkan beberapa guru sebagai kolaborator. Subyek penelitian ini adalah guru mata pelajaran IPS dan siswa kelas 7A semester gasal tahun pelajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa sebanyak 33 siswa.
Variabel yang akan diselidiki antara lain: input meliputi siswa, guru, materi pelajaran, bahan tes, sumber dan lingkungan belajar, proses pembelajaran meliputi: interaksi belajar mengajar, model, metode dan tehnik mengajar guru ya itu model bukan empat mata (ala Tukul Arwana) dan output meliputi keberanian jadi tokoh, kemampuan bertanya dan kemampuan mengemukakan pendapat dalam pembelajaran.
Sesuai dengan rancangan penelitian dan segala persiapan yang dilakukan dapat di gambarkan bahwa hasil dari siklus I akan digunakan sebagai dasar merencanakan tidakan siklus berikutnya dengan berbagai modifikasi menuju kearah peningkatan kemampuan siswa dalam menganalisis tindakan, motif dan prinsip ekonomi.
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Metode Observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian. Dalam mengunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen sebagaimana diungkapkan Arikunto (2010:77).
  2. Metode Wawancara dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang persepsi, pandangan, wawasan atau aspek kepribadian para siswa yang diberikan secara lisan dan spontan. Dalam Arikunto (2010;271) diungkapkan bahwa wawancara harus dilaksanakan secara efektif, artinya dalam kurun waktu yang sesingkat-singkatnya dapat diperoleh dari sebanyak-banyaknya. Bahasa harus jelas, terarah. Suasana harus tetap rileks agar data yang diperoleh data yang obeyektif dan dapat dipercaya.
  3. Metode Tes adalah teknik penilaian yang biasa digunakan untukmengukur kemampuan siswa dalam mencapai suatu kompetensi tertentu (Sanjaya, 2006:82)
  4. Metode Angket disebut juga metode Kuesioner merupakan metode yang mempunyai banyak kebaikan dalam pengumpulan data, namun cara dan pengadaannya harus mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam penelitian. Dalam Arikunto (2010:268) sebelum kuesioner disusun harus dilalui prosedur: 1) merumuskan tujuan; 2) Mengidentifikasikan variabel;3) Menjabarkan setiap variabel menjadi sub variabel yang spesifik; dan 4) Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus teknik unuk menganalisisnya.
  5. Metode Dokumentasi adalah mencari data menegnai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya (Arikunto,2010;274).
Analisis data yang peneliti gunakan adalah analisis data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes belajar dan analis data deskriptif kualitatif dengan: menganalisis hasil observasi, wawancara dan hasil angket refleksi siswa tentang model bukan empat mata (ala Tukul Arwana) dalam meningkatkan kompetensi belajar IPS pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi. Dari hasil observasi, wawancara, hasil angket refleksi serta data hasil pelaporan dapat dinyatakan dalam presentase, selanjutnya dari hasil analisis tersebut dilakukan pendeskripsian data untuk diperoleh hasil penelitian lebih lanjut.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  1. Penelitian Awal
Pada penelitian awal telah dilakukan pengambilan hasil tes siswa yang telah diberi materi dengan metode ceramah dengan tujuan untuk mengetahui peminat mata pelajaran IPS, sebagaimana yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini:

Tabel 1.1. Nilai Hasil Tes dengan Metode Ceramah
No
Rentang Nilai
Jumlah
Persen
Peminat IPS
Persen
Peminat Mat dan IPA
Persen
Keterangan
1
< 70
6
18%
2
6 %
4
12%
Tidak Tuntas
2
70 - 80
14
42%
4
12 %
10
30 %
Tuntas

80 - 90
11
33%
4
12 %
7
21%
Tuntas
4
>90
2
6%
-
0 %
2
6 %
Tuntas
Jumlah






82% Tuntas Klasikal

Dari tabel 1.1 diatas dapat disimpulkan bahwa peminat mata pelajaran IPA dan matematika lebih mendominasi dari peminat mata pelajaran IPS. Bila dicermati lebih mendalam bahwasanya peminat mata pelajaran IPS lebih rendah nilai kompetensinya dibanding dengan peminat mata pelajaran IPA dan Matematika yakni pada nilai kompetensi > 90 yang menyenangi mata pelajaran IPS 0% sedangkan mata pelajaran matematika dan IPA 12 % (dari 2 siswa), sedangkan yang mendapat nilai 80 – 90 yang menyenangi mata pelajaran IPS hanya 4 siswa atau 12% sedangkan mata pelajaran IPA dan Matematika sebanyak 7 siswa atau 21%. Sedangkan untuk siswa yang belum tuntas sebanyak 6 siswa atau 18 % sedangkan yang tuntas sebanyak 27 siswa atau 82 % (tabel 1.1) dengan perolehan skor rata-rata 72, 27 ( Tabel 1.2).





Tabel 1.2. Deskripsi Skor Hasil Tes
STATISTIK
NILAI STATISTIK
Subjek
33
Skor Ideal
100
Skor Tertinggi
95
Skor Terendah
45
Rentang Skor
50,00
Skor Rata-rata
72.27
Median
70.00

  1. Penelitian Utama
Berdasarkan hasil Observasi , Interview dan angket serta refleksi dari berbagai rangkaian kegiatan yang telah dilakukan selama 1 bulan dalam proses kegiatan belajar mengajar, dapatlah di deskripsikan data tentang peningkatan kompetensi belajar IPS dalam menganalisis pokok bahasan tindakan, motif dan prinsip ekonomi melalui penerapan model bukan empat mata (Ala Tukul Arwana) pada siswa kelas 7A Tahun Pelajaran 2013/2014 SMP Negeri 2 Tenggarang sebagaimana tersebut di bawah ini. Dari hasil pendiskripsian, ada beberapa hal yang dapat diinterpretasikan guna menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian yang sudah ditetapkan.
Pada saat pelaksanaan tindakan kelas pada siklus pertama yang dilakukan bulan Oktober 2013 pada Minggu kesatu dan minggu kedua yang diperankan oleh 2 kelompok dengan waktu masing-masing kelompok 30 menit, pada saat kelompok pertama tampil nampak aktifitas siswa belum tahu tentang tugas apa yang mesti harus dilakukan. Namun setelah diberi pengarahan dan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk peningkatan kompetensi belajar IPS pada siswa kelas 7A SMP Negeri 2 Tenggarang nampaklah kemajuan walaupun masih ada rasa malu, rasa kurang percaya diri ataupun salah tingkah karena belum terbiasanya siswa melakukan hal tersebut, terlebih dengan kehadiran kolaborator yang mengamati jalannya proses pembelajaran. Beberapa menit kemudian setelah guru mengarahkan tentang pelaksanaan model bukan empat mata ini dengan membagi pelaksanaan menjadi 2 sesi yakni sesi pemeranan tokoh dalam menyajikan materi dan sesi respon peserta terhadap pemaparan materi yang disampaikan tokoh, maka barulah muncul ide-ide untuk merespon tokoh yang memaparkan materi dengan tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan beragam yang disampaikan .
Adapun manfaat pelaksanaan tindakan kelas dengan menggunakan Model bukan Empat Mata (Ala Tukul Arwana), yang diberlakukan selama 1 bulan : Hasil siklus pertama pada bulan Oktober 2013 dapat dilihat pada tabel Angket Refleksi Siswa sebagai berikut :
Tabel 2.1. Angket sikap siswa terhadap Penerapan Model Bukan Empat Mata (Ala Tukul Arwana)
No
Rentangan
Kriteria
Frekwensi
Prosentase
1
0 - 8
Tidak Baik
4
12,12%
2
8 - 16
Cukup baik
15
45,46%
3
16 - 24
Baik
14
42,42%
Jumlah
33
100 %


Dari tabel 2.1. dapat dijelaskan bahwa Model Bukan Empat Mata (Ala Tukul Arwana) dari refleksi siswa yang berjumlah 33 siswa menunjukkan bahwa 42,42 % siswa mengemukakan Model Bukan Empat Mata (ala Tukul Arwana) baik untuk diterapkan., 45,46 % siswa mengemukakan Model Empat Mata (ala Tukul Arwana) dengan ragu-ragu dan 12,12 % siswa mengemukakan Model Empat Mata (ala Tukul Arwana) tidak baik.Dengan demikian dari hasil analisis data diketahui bahwa frekwensi terbesar ada pada rentangan skor 8 – 16 yaitu 45,46 % yang mengemukakan bahwa Model Bukan Empat Mata (ala Tukul Arwana) yang berarti masih meragukan untuk diterapkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Dengan Perencanaan yang dipersiapkan secara matang, sebelum melakukan tindakan maka terlebih dahulu peneliti menetapkan indikator-indikator yang akan diukur tentang upaya peningkatan kompetensi belajar IPS yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Dengan pengamatan dan wawancara serta pelaporan yang dihasilkan oleh siswa selama melakukan aktivitas pada siklus kesatu bulan Oktober 2013 maka dapat di interpretasikan sebagai berikut:
Tabel 2.2. Penilaian Psikomotorik tentang Peningkatan Kompetensi Belajar IPS
No
Uraian
Minggu kesatu
Minggu Kedua
Sesi I
Sesi II
Sesi I
Sesi II
N
S
R
N
S
R
N
S
R
N
S
R
1
Keberanian Jadi Tokoh


0


2


3


2
2
Keberanian Berpendapat


1


3


4

6

3
Kemampuan Bertanya


2


4

5

7


NB. Untuk mengisi uraian dilakukan dengan skala yang ditentukan , sebagai berikut:
  1. Pengisian skala
  • Dikatakan Baik dengan skala 10 keatas
  • Dikatakan Sedang dengan skala 5 - 9
  • Dikatakan Rendah dengan skala 0 - 4
  1. Rentang yang ditulis pada kolom sejumlah 33 siswa
Dari tabel 2.2 Penilaian Psikomotorik tentang Peningkatan Kompetensi Belajar IPS siklus I bulan Oktober 2013 dapat disimpulkan bahwa Peningkatan Kompetensi Belajar IPS pada psikomotorik siswa mengalami perubahan dari Minggu kesatu sampai dengan minggu kedua bulan Oktober 2013. Bila diinterpretasikan data tabel 1.2 sebagai berikut;:
  • Keberanian jadi Tokoh
Keberanian jadi Tokoh peserta didik yang memerankan tokoh mengalami kemajuan, yang mana minggu kesatu dari 2 sesi yang diperankan tokoh menunjukkan, pada sesi pertama, sebagai berikut:
  • Pada minggu pertama pada sesi pertama hanya 0 siswa yang bersedia berarti 0 % hal ini menunjukkan keberanian jadi tokoh pada sesi pertama masuk kategori rendah
Sedangkan pada pada sesi kedua
  • Pada Minggu pertama sesi kedua ini mengalami kenaikan menjadi 2 siswa yang bersedia berarti 6,06 % hal ini menunjukkan keberanian jadi tokoh pada sesi kedua masuk kategori rendah
selanjutnya pada minggu kedua sesi pertama
  • Pada minggu kedua sesi pertama ini mengalami kenaikan menjadi 3 siswa yang bersedia berarti 9,09 % hal ini menunjukkan keberanian jadi tokoh pada sesi pertama minggu kedua masuk kategori rendah
Sedangkan minggu kedua pada sesi kedua
  • Pada minggu kedua sesi kedua ini mengalami penurunan menjadi 2 siswa yang bersedia berarti 6,06 % hal ini menunjukkan keberanian jadi tokoh pada sesi kedua minggu kedua masuk kategori rendah. Penurunan ini dikarenakan memang hanya 1 kelompok yang belum maju.


  • Keberanian Berpendapat
Keberanian berpendapat peserta didik yang memerankan tokoh mengalami kemajuan, yang mana minggu kesatu dari 2 sesi yang diperankan tokoh menunjukkan, pada sesi pertama, sebagai berikut:
  • Pada minggu pertama pada sesi pertama hanya 1 siwa yang bersedia berarti 3,03 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Keberanian berpendapat pada sesi pertama masuk kategori rendah
Sedangkan pada pada sesi kedua
  • Pada Minggu pertama sesi kedua ini mengalami kenaikan menjadi 3 siswa yang bersedia berarti 9,09 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian. Hal ini menunjukkan Keberanian berpendapat pada sesi kedua masuk kategori rendah
selanjutnya pada minggu kedua sesi pertama
  • Pada minggu kedua sesi pertama ini mengalami kenaikan menjadi 4 siswa yang bersedia berarti 12,12 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal l ini menunjukkan Keberanian berpendapat pada sesi pertama minggu kedua masuk kategori rendah
Sedangkan minggu kedua pada sesi kedua
  • Pada minggu kedua sesi kedua ini mengalami penurunan menjadi 6 siswa yang bersedia berarti 9,09 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Keberanian berpendapat pada sesi kedua minggu kedua masuk kategori sedang


  • Kemampuan Bertanya
Kemampuan bertanya peserta didik yang memerankan tokoh mengalami kemajuan, yang mana minggu kesatu dari 2 sesi yang diperankan tokoh menunjukkan, pada sesi pertama, sebagai berikut:
  • Pada minggu pertama pada sesi pertama hanya 2 siswa yang bersedia berarti 6,06 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Kemampuan bertanya pada sesi pertama masuk kategori rendah
Sedangkan pada pada sesi kedua
  • Pada Minggu pertama sesi kedua ini mengalami kenaikan menjadi 4 siswa yang bersedia berarti 12,12 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Kemampuan bertanya pada sesi kedua masuk kategori rendah
selanjutnya pada minggu kedua sesi pertama
  • Pada minggu kedua sesi pertama ini mengalami kenaikan menjadi 5 siswa yang bersedia berarti 15,15 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Kemampuan bertanya pada sesi pertama minggu kedua masuk kategori sedang
Sedangkan minggu kedua pada sesi kedua
  • Pada minggu kedua sesi kedua ini mengalami kenaikan menjadi 7 siswa yang bersedia berarti 21,21 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Kemampuan bertanya pada sesi kedua minggu kedua masuk kategori sedang
Adapun manfaat pelaksanaan tindakan kelas dengan menggunakan Model bukan Empat Mata (Ala Tukul Arwana), yang diberlakukan selama 1 bulan yaitu Hasil siklus kedua pada bulan Oktober 2013 dapat dilihat pada tabel Angket Refleksi Siswa sebagai berikut :






Tabel 3.1. Angket sikap siswa terhadap Penerapan Model Bukan Empat Mata (Ala Tukul Arwana)


No
Rentangan
Kriteria
Frekwensi
Prosentase
1
0 - 8
Tidak Baik
2
6,06 %
2
8 - 16
Cukup Baik
4
12,12 %
3
16 - 24
Baik
27
81,82 %
Jumlah
33
100 %


Dari tabel 3.1. dapat dijelaskan bahwa Model Bukan Empat Mata (Ala Tukul Arwana) dari refleksi siswa yang berjumlah 33 siswa menunjukkan bahwa 81,82 % siswa mengemukakan Model Bukan Empat Mata (ala Tukul Arwana) baik untuk diterapkan., 12,12 % siswa mengemukakan Model Empat Mata (ala Tukul Arwana) dengan ragu-ragu dan 6,06 % siswa mengemukakan Model Empat Mata (ala Tukul Arwana) tidak baik.Dengan demikian dari hasil analisis data diketahui bahwa frekwensi terbesar ada pada rentangan skor 16 – 24 yaitu 81,82 % yang mengemukakan bahwa Model Bukan Empat Mata (ala Tukul Arwana) memang baik untuk diterapkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Dengan Perencanaan yang dipersiapkan lebih matang lagi pada siklus kedua, sebelum melakukan tindakan maka terlebih dahulu peneliti menetapkan indikator-indikator yang akan diukur tentang upaya peningkatan kompetensi belajar IPS yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Dengan pengamatan dan wawancara serta pelaporan yang dihasilkan oleh siswa selama melakukan aktivitas pada siklus kedua bulan Oktober 2013 maka dapat di interpretasikan sebagai berikut:
Tabel 3.2. Penialaian Psikomotorik tentang Peningkatan Kompetensi Belajar IPS
No
Uraian
Minggu ketiga
Minggu Keempat
Sesi I
Sesi II
Sesi I
Sesi II
N
S
R
N
S
R
N
S
R
N
S
R
1
Keberanian Jadi Tokoh

4


6


6

10


2
Keberanian Berpendapat

6


8


8

10


3
Kemampuan Bertanya

6


8

10


12


NB. Untuk mengisi uraian dilakukan dengan skala yang ditentukan , sebagai berikut:
  1. Pengisian skala
  • Dikatakan Naik dengan skala 10 keatas
  • Dikatakan Sedang dengan skala 5 - 9
  • Dikatakan Rendah dengan skala 0 - 4
  1. Rentang yang ditulis pada kolom sejumlah 33 siswa
Dari tabel 3.2 Penilaian Psikomotorik tentang Peningkatan Kompetensi Belajar IPS siklus 2 bulan Oktober 2013 dapat disimpulkan bahwa Penigkatan Kompetensi Belajar IPS pada psikomotorik siswa mengalami perubahan dari Minggu ketiga sampai dengan minggu ke empat bulan Oktober 2013. Bila diinterpretasikan data tabel 1.2 sebagai berikut;
  • Keberanian jadi Tokoh
Keberanian jadi Tokoh peserta didik yang memerankan tokoh mengalami kemajuan, yang mana minggu ketiga dari 2 sesi yang diperankan tokoh menunjukkan, pada sesi pertama, sebagai berikut:
  • Pada minggu ketiga pada sesi pertama hanya 4 siswa yang bersedia berarti 12,12 % hal ini menunjukkan keberanian jadi tokoh pada sesi pertama masuk kategori rendah
Sedangkan pada pada sesi ke dua
  • Pada Minggu ketiga sesi kedua ini mengalami kenaikan menjadi 6 siswa yang bersedia berarti 18,19 % hal ini menunjukkan keberanian jadi tokoh pada sesi kedua masuk kategori sedang
selanjutnya pada minggu ke empat sesi pertama
  • Pada minggu ke empat sesi pertama ini mengalami kenaikan menjadi 6 siswa yang bersedia berarti 18,19 % hal ini menunjukkan keberanian jadi tokoh pada sesi pertama minggu ke empat masuk kategori sedang
Sedangkan minggu kedua pada sesi kedua
  • Pada minggu ke empat sesi kedua ini mengalami penurunan menjadi 10 siswa yang bersedia berarti 30,30 % hal ini menunjukkan keberanian jadi tokoh pada sesi ke empat minggu kedua masuk kategori rendah.
  • Keberanian Berpendapat
Keberanian berpendapat peserta didik yang memerankan tokoh mengalami kemajuan, yang mana minggu ketiga dari 2 sesi yang diperankan tokoh menunjukkan, pada sesi pertama, sebagai berikut:
  • Pada minggu ketiga pada sesi pertama hanya 6 siswa yang bersedia berarti 18,18 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Keberanian berpendapat pada sesi pertama masuk kategori rendah
Sedangkan pada pada sesi kedua
  • Pada Minggu ketiga sesi kedua ini mengalami kenaikan menjadi 8 siswa yang bersedia berarti 24,24 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian. Hal ini menunjukkan Keberanian berpendapat pada sesi kedua masuk kategori sedang
selanjutnya pada minggu ke empat sesi pertama
  • Pada minggu ke empat sesi pertama ini mengalami kenaikan menjadi 8 siswa yang bersedia berarti 24,24 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal l ini menunjukkan Keberanian berpendapat pada sesi pertama minggu ke empat masuk kategori sedang
Sedangkan minggu ke empat pada sesi kedua
  • Pada minggu ke empat sesi kedua ini mengalami kenaikan menjadi 10 siswa yang bersedia berarti 30,30 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Keberanian berpendapat pada sesi kedua minggu ke empat masuk kategori naik


  • Kemampuan Bertanya
Kemampuan bertanya peserta didik yang memerankan tokoh mengalami kemajuan, yang mana minggu ketiga dari 2 sesi yang diperankan tokoh menunjukkan, pada sesi pertama, sebagai berikut:
  • Pada minggu ketiga pada sesi pertama hanya 6 siswa yang bersedia berarti 18,18 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Kemampuan bertanya pada sesi pertama masuk kategori rendah
Sedangkan pada pada sesi kedua
  • Pada Minggu ketiga sesi kedua ini mengalami kenaikan menjadi 8 siswa yang bersedia berarti 24,24 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Kemampuan bertanya pada sesi kedua masuk kategori sedang
selanjutnya pada minggu ke empat sesi pertama
  • Pada minggu ke empat sesi pertama ini mengalami kenaikan menjadi 10 siswa yang bersedia berarti 30,30 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Kemampuan bertanya pada sesi pertama minggu ke empat masuk kategori sedang
Sedangkan minggu ke empat pada sesi kedua
  • Pada minggu ke empat sesi kedua ini mengalami kenaikan menjadi 12 siswa yang bersedia berarti 36,36 % dari 33 siswa yang menjadi obyek penelitian . Hal ini menunjukkan Kemampuan bertanya pada sesi kedua minggu ke empat masuk kategori naik.
Seiring dengan peningkatan kompetensi belajar IPS dengan penggunaan model empat mata (ala Tukul Arwana) diikuti dengan adanya kemajuan pada hasil tes yang diperoleh siswa pada akhir tes, yang bisa peneliti deskripsikan sebagai berikut:
Tabel 4.1. Nilai Hasil Tes dengan Model empat mata (ala Tukul Arwana)
No
Rentang Nilai
Jumlah
Persen
Peminat IPS
Persen
Peminat Mat dan IPA
Persen
Keterangan
1
< 70
2
6%
2
6 %
0
0%
Tidak Tuntas
2
70 - 80
10
30%
8
24 %
2
6 %
Tuntas

80 - 90
17
52%
10
30 %
7
21%
Tuntas
4
>90
4
12%
2
6 %
2
6 %
Tuntas
Jumlah






94% Tuntas Klasikal

Dari tabel 4.1 diatas dapat disimpulkan bahwa peminat mata pelajaran IPA dan matematika mengalami perubahan dari peminat mata pelajaran IPS. Bila dicermati lebih mendalam bahwasanya peminat mata pelajaran IPS meningkat nilai kompetensinya dibanding dengan peminat mata pelajaran IPA dan Matematika yakni pada nilai kompetensi > 90 yang menyenangi mata pelajaran IPS 6% sedangkan mata pelajaran matematika dan IPA 0 % (dari 2 siswa), sedangkan yang mendapat nilai 80 – 90 yang menyenangi mata pelajaran IPS hanya 8 siswa atau 24% sedangkan mata pelajaran IPA dan Matematika sebanyak 2 siswa atau 6%. Sedangkan untuk siswa yang belum tuntas sebanyak 2 siswa atau 6 % sedangkan yang tuntas sebanyak 31 siswa atau 94 % (tabel 4.1) dengan perolehan skor rata-rata 72, 27 ( Tabel 4.2).
Tabel 4.2. Deskripsi Skor Hasil Tes
STATISTIK
NILAI STATISTIK
Subjek
33
Skor Ideal
100
Skor Tertinggi
95
Skor Terendah
75
Rentang Skor
20,00
Skor Rata-rata
72.27
Median
85.00



KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang telah dicapai dalam Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan pada Siklus Pertama dan Siklus Kedua Bulan Oktober 2013, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
  1. Dalam penelitian awal dengan metode ceramah tanpa melibatkan peran serta siswa dalam pembelajaran IPS nampak kurang perhatian dan antusias siswa sehingga siswa seolah merasa kurang diperhatikan. Hal ini dapat ditunjukkan dari peroleh skor rata-rata 72,27 dengan median 70,00 pada siklus I berubah menjadi perolehan skor rata-rata 72,27 dengan median 85 pada siklus II dan diikuti peningkatan ketuntasan siswa secara klasikal, dimana pada siklus I hanya 82% pada siklus ke II naik menjadi 94%.
  2. Dalam Penelitian utama dengan model empat mata (ala Tukul Arwana) yang melibatkan peran serta siswa dalam pembelajaran IPS, dalam perlakuan ini siswa merasa di orangkan sehingga berdampak pada minat siswa pada pembelajaran IPS semakin meningkat. Hal ini dapat ditunjukkan dalam penelitian awal minat siswa pada pembelajaran Matematika dan IPA pada nilai >90 yang dicapai 2 siswa, yang menyukai pembelajaran Matematika dan IPA sejumlah 2 siswa atau 6% sedangkan yang menyukai pembelajaran IPS tidak ada sama sekali atau 0%. Sedangkan pada penelitian utama nampak terjadi perubahan dari 4 siswa yang mendapat nilai >90, yang menyukai pembelajaran matematika dan IPA serta menyukai pembelajaran IPS berbanding sama yakni 2 siswa atau 6% menyukai pembelajaran matematika dan IPA dan 2 siswa atau 6% menyukai pembelajaran IPS.
Disamping itu dengan penggunaan model empat mata (ala Tukul Arwana) dapat meningkatkan kinerja guru dalam pengelolaan PBM atau pengelolaan kelas sehingga pembelajaran bermakna dan berkualitas tersaji dengan baik. Hal ini berdampak pada terciptanya iklim yang kondusif dalam pembelajaran sehingga tidak lagi muncul kejenuhan pada siswa dalam belajar.
Saran
Bertolak dari hasil Penelitian Tindakan Kelas seperti diuraikan diatas, maka saran-saran yang perlu disampaikan adalah:
  1. Penerapan model pembelajaran empat mata (ala Tukul Arwana) adalah salah satu alternatif model pembelajaran IPS sehingga siswa memiliki kecenderungan minat untuk belajar IPS dibanding minat untuk belajar matematika dan IPA.
  2. Untuk meningkatkan kompetensi hasil belajar IPS maka direkomendasikan agar guru bidang studi IPS dapat menerapkan model pembelajaran empat mata (ala Tukul Arwana) ini dengan komposisi perubahan yang relevan dengan tokoh yang dimunculkan.


DAFTAR RUJUKAN


Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Bobbi De Porter & Mike Hernacki. 2005, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Bandung: PT Mizan Pustaka.
Dalyono,M. 2005. Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Moeliono, Anton dkk. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Nurhadi, Senduk Agus Gerrad. 2003. Pembelajaran Konstektual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Sanjaya. 2006, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Kencana Perdana Group.
Silberman Mel. 2002, Active Learning, Yokyakarta: Yappendis
Syafi’I, Imam. 1985 Retorika dan Menulis, Jakarta : Depdikbud.
Wahab Abdul Aziz, H. 2007, Metode dan Model-Model Mengajar IPS Alfabetha:; Bandung