Minggu, 21 Desember 2014

Penggunaan Media Kertas Lipat Untuk Meningkatkan Kemampuan Belajar Matematika Materi Pokok Bilangan Pecahan


PENGGUNAAN MEDIA KERTAS LIPAT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR MATEMATIKA MATERI POKOK
BILANGAN PECAHAN

Wiwik Murniati

Abstrak: Penggunaan media dan strategi pengajaran yang tepat, materi akan lebih mudah diterima oleh peserta didik. Kajian dalam penelitian ini adalah bagaimana cara guru meningkatkan kemampuan belajar Matematika melalui media kertas lipat., dengan demikian rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah melalui media kertas lipat dapat meningkatkan kemampuan belajar bilangan pecahan pada siswa? Sedang tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan belajar matematika materi pokok bilangan pecahan. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Langkah- langkah penelitian ini adalah: perencanaan, pelaksanaan, tindakan,observasi dan refleksi.. Hasil penelitian menunjukkan melalui media kertas lipat kemampuan belajar Matematika materi pokok Bilangan Pecahan dapat ditingkatkan.

Kata-kata kunci: Kemampuan Belajar, Matematika, Kertas Lipat.

PENDAHULUAN
Pendidikan pada dasarnya merupakan usaha pengembangan sumber daya manusia, meskipun pengembangan sumber daya manusia bukan hanya dilakukan melalui pendidikan formal. Dalam rangka usaha peningkatan mutu pendidikan telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah mulai pembaharuan kurikulum dengan diberlakukannya kurikulum 1984 sampai dengan kurikulum KTSP, pengadaan buku teks serta buku penunjang lainnya dalam berbagai mata pelajaran bagi guru maupun bagi para siswa; pengadaan sarana / alat bantu belajar mengajar, penataran bagi para guru, kepala sekolah,maupun pengawas sekolah.
Program peningkatan mutu pendidikan dasar menuntut peningkatan kemampuan guru secara profesional agar kegiatan belajar mengajar yang telah ditentukan mencapai hasil yang optimal. Peningkatan kemampuan guru secara sistematik baik yang datang dari pembinaan secara struktural maupun atas inisiatif sendiri telah dilakukan melalui berbagai kegiatan misalnya penataran, pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, diklat pelatihan, atau belajar sendiri.
Namun demikian, pengalaman para guru itu dirasakan belum memadai untuk mengantisipasi tuntutan perkembangan pembaharuan pendidikan dasar yang menyangkut berbagai aspek seperti relevansi materi dengan perkembangan lingkungan, metode penyampaian, pendekatan psikologis, perkembangan anak. Pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi penggunaan media, alat peraga, dan aspek lian yang secara langsung atau tidak langsung membantu proses belajar. Peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar merupakan bagian dari usaha peningkatan mutu pendidikan, dimana guru mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu sebagai dinamisator kurikulum dan bahan ajaran yang dilaksanakan sesuai dengan tingkat dan perkembangan peserta didik melalui penguasaan didaktik dan metodik. Faktor luar yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar adalah model penyajian materi, pribadi guru, suasana belajar, kompetensi guru dan kondisi luar” ( Ruseffendi, 1991:12 : Sudjana,1989). Variabel guru yang paling dominan mempengaruhi kualitas pengajaran adalah kompetensi profesional yang dimilikinya”. Dengan kata lain menepatgunakan metode dan media akan memungkinkan siswa akan lebih aktif dalam belajar serta meningkatkan prestasinya.Proses belajar berlangsung dalam waktu tertentu dan merupakan proses yang panjang dari satu fase ke fase berikutnya. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, bukan menghafal atau bukan mengingat (Nana Sujana, 1987:28). Begitu juga dengan belajar matematika karena melibatkan suatu struktur hirarki dari konsep-konsep tingkat lebih tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang telah terbentuk sebelumnya (Herman Hudoyo, 1979:89). Selanjutnya menurut Ruseffendi (1980:148) “belajar matematika berarti mempelajari fikiran-fikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran”.
Mohammad Soleh (1998:3) “belajar matematika adalah belajar tentang bilangan, belajar menjumlah, mengurangi dan membagi yang terdapat dalam aljabar, aritmatika dan geometri”.
Pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar matematika adalah melibatkan diri yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran yang telah tersusun secara hirarki dari konsep-konsep yang rendah sampai konsep-konsep yang lebih tinggi.
Kenyataan di lapangan yang tidak dapat dipungkiri adalah pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di kelas cukup memprihatinkan, para pakar dan pengamat pendidikan, karena terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara tuntutan dunia modern yang makin kompleks dan cepat berubah dengan bekal yang diberikan pada anak didik yang lebih banyak dilatih untuk mendengarkan, mengingat dan menghafalkan fakta-fakta saja. Anak-anak kurang terlatih untuk berpikir kritis, mandiri, bertanggung jawab seperti tuntutan kurikulum. Di samping itu, ditemui juga bahwa guru-guru tertentu lebih mampu melakukan tugasnya dengan baik bukan karena pendidikan atau berpengalaman, atau ditunjang dengan sarana yang baik, kelas kecil atau adanya buku teks, tetapi semata-mata karena memiliki ketrampilan mengajar yang lebih baik serta hubungan baik dengan siswanya.
Sebagai tindak lanjut temuan-temuan hasil penelitian tersebut maka dikembangkan model peningkatan mutu pendidikan dasar melalui pembinaan profesional dan cara belajar siswa aktif.
Peningkatan mutu pendidikan harus diupayakan secara terus menerus terencana dan bertahap. Salah satu upaya yang telah dilaksanakan ke arah tersebut adalah pengembangan metode dan strategi pengajaran. Dimana metode ini merupakan salah satu penyampaian materi secara spesifik sehingga memudahkan siswa untuk memahami dan menguasai materi pelajaran (Suherman, 2001). Pembaharuan pengajaran tidak harus disertai dengan pemakaian perlengkapan yang serba hebat, tetapi lebih menekankan pada pengembangan cara-cara baru belajar yang lebih efektif dan sesuai dengan kemampuan peserta didik. Pembelajaran akan efektif bila guru dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi di kelasnya, kemudian menganalisa dan menentukan faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab utama, yang selanjutnya menentukan tindakan pemecahannya.
Tuntutan peningkatan kualitas profesional guru belum memenuhi persyaratan yang diinginkan atau diharapkan, karena antara petunjuk pelaksanaan yang sudah ada banyak terdapat kendala bagi para pelaksana pendidikan utamanya guru, terbukti dengan dampak yang di lapangan antara lain:
    1. Keterampilan berhitung pada anak didik masih sangat rendah, terutama tentang keterampilan menyelesaikan soal-soal pecahan.
    2. Tingkat pengetahuan dan prestasi siswa dalam mata pelajaran matematika lebih rendah dari mata pelajaran yang lain.
    3. Pengelolaan kelas yang kurang dipahami oleh guru, serta
    4. Penggunaan media atau alat peraga yang memadai yang kurang diperhatikan.
Sekolah adalah Lembaga Pendidikan tempat guru mengajar dan siswa belajar, sehingga terjadi proses belajar mengajar. Tujuan akhir dari proses belajar mengajar untuk memperoleh hasil belajar, yang biasa disebut prestasi belajar. Hasil belajar atau prestasi belajar adalah cermin dari pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diperoleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Banyak hal yang bisa dilakukan oleh guru dalam usaha meningkatan prestasi muridnya. Misalnya pemanfaatan sarana dan prasarana, pengelolaan kelas yang baik, maupun pemberian motivasi yang tepat bagi muridnya. Dalam hal belajar, sikap profesionalisme guru sangat penting, sikap profesionalisme adalah syarat mutlak untuk guru.
Program pembaharuan pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan selalu diupayakan baik melalui pengembangan mutu pendidikan selalu diupayakan baik melalui pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran. Kenyataan di lapangan banyak dijumpai gaya guru belum memanfaatkan kemampuannya secara maksimal.
Keberhasilan siswa dalam belajar matematika dipengaruhi banyak faktor, baik itu dalam siswa sendiri (intern) maupun dari luar (ekstern). Salah satu faktor yang berasal dari luar adalah metode yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Ditinaju dari fungsinya, metode mengajar matematika merupakan suatu cara tersendiri yang dipergunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran tertentu kepada siswa. Apalagi materi pelajaran matematika merupakan perpaduan antara materi yang bersifat abstrak dan konkrit atau benda nyata. Ketepatan atau efektifitas penggunaan metode mengajar di samping dipengaruhi oleh karakter pribadi seorang guru itu sendiri, juga dipengaruhi oleh jenis materi yang perlu diajarkan. Jadi penggunaan metode mengajar harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa.
Tidak semua metoda mengajar cocok dengan materi pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh karena metode ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya: tujuan, tingkat kematangan siswa yang berbeda, tingkat sosial ekonomi yang berbeda, pribadi guru dan kemampuan profesional yang berbeda-beda. Oleh karena itu sulit untuk memberikan satu klasifikasi yang jelas mengenai metode yang pernah dikenal di dalam pengajaran. Namun demikian ada sifat umum menjadi mungkin untuk mengadakan klasifikasi yang jelas tetapi tetap fleksibel.
Dalam mengajar, guru hendaknya menaruh perhatian tentang penggunaan alat peraga, RM. Thomas yang dikutip dari Oemar Hamalik (2005 :45) menandaskan sebagai berikut:
  1. Pengalaman melalui benda sebenarnya merupakan pengalaman yang diperoleh dengan jalan mengalami secara langsung dalam kondisi yang sesungguhnya.
  2. Pengalaman melalui benda-benda pengganti merupakan pengalaman yang diperoleh dengan jalan mengamati benda-benda yang sebenarnya.
Pandangan yang selaras dengan yang dikemukakan Edger Bale yang dikutip oleh Piet Sahertian dan Fran Mahameru (2006:146) tentang penagalaman belajar ada 10 macam, antara lain: “1. Benda sesungguhnya 2. Benda tiruan/model 3. Dramatisasi 4. Demonstrasi 5. Darmawisata 6. Pameran 7. Bioskop 8. Radio 9. Lambang benda 10. Lambang kata”
Selanjutnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur (2004:2) menegaskan: Upaya peningkatan kemampuan mutu pendidikan perlu dilakukan secara menyeluruh meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai. Pengembangan aspek-aspek tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan kecakapan hidup (life skills) melalui seperangkat kompetensi, agar siswa dapat bertahan hidup, menyesuaikan diri dan berhasil dimasa datang.
Berdasarkan kenyataan tersebut di atas, tentu saja pelu dilakukan upaya-upaya perbaikan yang mendasar di tingkat perumusan kebijakan nasional, salah satunya adalah melakukan “reorientasi penyelenggaraan pendidikan”, yaitu dari manajemen (peningkatan mutu) berbasis pusat menuju manajemen (peningkatan mutu) berbasis sekolah.
Adapun rumusan masalahnya “ Apakah melalui media kertas lipat dapat meningkatkan kemampuan belajar matematika materi pokok bilangan pecahan pada siswa kelas IV SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember ?
Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah menghasilkan pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan belajar pecahan melalui media kertas lipat pada siswa kelas IV SD Negeri Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember. Dengan demikian secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan belajar belajar siswa terhadap mata pelajaran Matematika materi pokok bilangan pecahan melalui media kertas lipat.
Hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi peneliti khususnya sebagai instropeksi dalam pengelolaan pembelajaran. Selain itu, untuk mengukur tingkat motivasi siswa terhadap pelajaran Matematika. Selain bermanfaat bagi peneliti, tindakan kelas ini akan bermanfaat bagi :
Bagi Kepala Sekolah, sebagai bahan masukan atau input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memotivasi guru dalam pengelolan pembelajaran..Bagi Guru, sebagai bahan masukan untuk dijadikan dasar bagi mata pelajaran lain. Sehingga apabila guru menemui suatu kesulitan pada mata pelajaran tertentu, akan melakukan penelitian tindakan seperti yang dilakukan peneliti. Bagi Siswa, dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tepat dan benar, karena guru dalam menyampaikan mata pelajaran menggunakan media atau metoda yang benar.

METODE PENELITIAN
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan cara kolaborasi yaitu penelitian yang akan melibatkan orang lain di samping peneliti yaitu sebagai praktikan maupun observer. Penelitian ini menggunakan alur tahapan (perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi disajikan dalam tiga siklus) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan utama tentang bagaimana meningkatkan hasil belajar matematika materi pokok bilangan pecahan pada siswa kelas IV SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember.
Penelitian ini direncanakan dilakukan 3 siklus, pada satu sekolah dan pada kelas dan guru yang sama, dengan langkah-langkahnya diilustrasikan sebagai berikut: Dengan demikian rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan melalui kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan, meliputi:
    1. Refleksi Awal
Penelitian dilakukan bersama praktisi yaitu 1 (satu) Guru, mengidentifikasi permasalahan penggunaan media kertas lipat untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi pokok bilangan pecahan.
Peneliti dan Praktisi merumuskan permasalahan secara operasional. Peneliti dan Praktisi merumuskan hipotesis tindakan. Oleh karena itu, penelitian tindakan lebih menitik beratkan pada pendekatan naturalistik, sehingga hipotesis tindakan yang dirumuskan bersifat tentatif yang mungkin mengalami perubahan sesuai dengan keadaan lapangan.
    1. Menetapkan dan merumuskan rancangan yang di dalamnya meliputi:
    1. Menetapkan indikator-indikator desain variasi pembelajaran.
    2. Menyusun rancangan strategi penyampaiandan pengelolaan strategi pembelajaran yang merupakan bahan intervensi (rancangan program, bahan, strategi belajar mengajar dan evaluasi)
    3. Menyusun media dan alat perekam data berupa tes, catatan lapangan, pedoman wawancara, pedoman analisis dokumen, dan catatan harian.
    4. Menyusun rencana pengelolaan data, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif.


Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Peneliti bersama praktisi melaksanakan desain pembelajaran penggunaan media kertas lipat dalam menyelesaikan soal pecahan sebagaimana ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan.
Peneliti dan Praktisi melakukan pengamatan secara sistematis terhadap kegiatan yang dilakukan siswa. Kegitan pengamatan dilakukan komprehensif dengan memanfaatkan alat perekam, pedoman pengamatan, serta catatan lapangan.


Refleksi
Peneliti dan Praktisi mendiskusikan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Kegiatan yang dilakukan meliputi: analisis, sintetis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data dan informasi yang berhasil dikumpulnya. Hasil yang diperoleh berupa temuan tingkat efektifitas penggunaan media kertas lipat yang dirancang dari daftar permasalahan yang muncul di lapangan yang selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang.

Subyek Penelitian
Subyek penelitian tindakan ini adalah siswa kelas IV SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember.

Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini tidak terlepas dari teknik pengumpulan data yang akan digunakan, karena penelitian ini merupakan suatu usaha yang sengaja dan direncanakan. Dalam penelitian ini, untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya maka perlu teknik pengumpulan data melalui dokumentasi, observasi dan interview.
Penggunaan teknik dokumentasi dengan pertimbangan (1) sebagai alat yang tepat dan cepat untuk mencatat data hasil observasi dan interview (2) dapat mengetahui langsung keadaan yang terjadi pada siswa. Untuk menjaga keabsahan data hasil observasi, peneliti ditemani 1 (satu) observer.

Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, dokumen, wawancara dan tes akhir

Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif, yang bersifat sirkuler. Secara garis besar kegiatan analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
        1. Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan. Penelaahan data dilakukan dengan cara menganalisis, mensistesis, memaknai, menerangkan dan menyimpulkan. Kegiatan penelaah pada prinsipnya dilaksanakan sejak awal data dikumpulkan.
        2. Mereduksi data yang di dalamnya melibatkan kegiatan pengkategorian dan pengklasifikasian. Hasil yang diperoleh berupa pola-pola yang berlaku dalam pelaksanaan pembelajaran.
        3. Menyimpulkan dan memverifikasi. Dari kegiatan reduksi selanjutnya dilakukan penyimpulan akhir yang selanjutnya diikuti dengan kegiatan verifikasi atau pengujian terhadap temuan penelitian.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan dilaksanakan dengan alur tahapan (perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi disajikan dalam tiga siklus) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan utama kemampuan belajar Matematika pada siswa.
Perencanaan
a.Menyusun skenario pembelajaran melalui RPP
  1. dilaksanakan dalam dua kali tatap muka ( 2 x 35 menit )
  2. Membuat format lembar kerja siswa (LKS).
Pengaturan kegiatan setiap siklusnya disesuaikan dengan tujuan penelitian ini, dimana peneliti merencanakan sebagai berikut :
    1. Pada siklus I, pembelajaran dilakukan tanpa menggunakan media / metoda, dengan tujuan ingin mengetahui sejauhmana kemampuan materi pembelajaran yang dimiliki oleh siswa.
    2. Pada siklus II, pembelajaran dilakukan dengan media / metoda, dengan tujuan melatih daya ingat / pengetahuan dalam materi pembelajaran yang diterima oleh siswa.
    3. Pada siklus III, pembelajaran dilakukan dengan media / metoda dan tanpa media / metoda yang ditetapkan, sehingga kemampuan siswa seperti yang diharapkan.

Pelaksanaan
Praktisi / guru melaksanakan pembelajaran selama 2 x 35 menit sesuai dengan desain yang disusun dengan langkah-langkah pembelajaran (1) Kegiatan awal 10 menit, (2) Kegiatan inti 45 menit, dan (3) Kegiatan akhir 15 menit, sesuai dengan prosedur yang telah tertuang dalam rencana pembelajaran.

Siklus I ( sebelum tindakan )
Pada tatap muka I, Siswa duduk ditempat masing-masing, guru memberikan pre tes tentang Matematika khususnya tentang bilangan pecahan. Selanjutnya guru menjelaskan secara lesan dengan berdasarkan buku paket, sedangkan siswa sambil mendengar juga membuka buku paket Matematika. Setelah kegiatan awal berakhir, siswa diberi Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk diselesaikan dan selanjutnya dikumpulkan.
Pada tatap muka II, Siswa duduk ditempat masing-masing, guru memberikan pre tes tentang Matematika khususnya tentang bilangan pecahan. Selanjutnya guru menjelaskan ulang seperti pada tatap muka yang ke I secara lesan dengan berdasarkan buku paket, sedangkan siswa sambil mendengar juga membuka buku paket matematika. Setelah kegiatan awal berakhir, siswa diberi Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk diselesaikan dan selanjutnya dikumpulkan.

Siklus II ( dengan tindakan )
Tatap muka I :
Duduk siswa diatur secara kelompok, ada lima kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 8 siswa. Sebelum kelompok diberikan LKS, guru menerangkan cara menggunakan media kertas lipat. Contoh mengerjakan soal melalui papan tulis diberikan berulang-ulang dan siswa diberi kesempatan untuk bertanya, bila ada yang kurang paham dalam menggunakan media kertas lipat. Setelah jelas dan dimengerti maka setiap kelompok diberi satu lembar LKS yang sudah direvisi untuk didiskusikan dan tiap kelompok sudah tersedia beberapa lembar kartu lipat. LKS yang diberikan siswa melalui kelompoknya, berisikan perintah untuk mengerjakan soal menghitung bilangan pecahan dengan, dimana kertas lipat yang sudah dibentuk sesuai dengan perintah soal langsung ditempelkan pada LKS dan bagian tertentu ditandai dengan arsiran / pensil warna..
Sebelum mengerjakan soal pecahan, siswa disuruh untuk mendekatkan diri / berkumpul pada kelompoknya terlebih dahulu, lalu siswa diperintahkan segera menyelesaikan soal yang diberikan dengan waktu yang telah ditentukan harus berakhir selesai maupun tidak. ( 45 menit ).
Setelah waktu yang ditentukan berakhir, siswa diperintahkan untuk segera menyerahkan LKSnya dan duduk pada bangkunya masing-masing. Dengan cepat pula guru mengumumkan hasil / nilai yang diperoleh oleh kelompoknya. Selanjutnya siswa ditugaskan untuk mengerjakan dan latihan soal dengan menggunakan media kertas lipat dirumah dengan kerja kelompok.

Tatap muka II :
Siswa menempati tempat duduknya sendiri, guru meminta kelompok untuk mengumpulkan hasil pekerjaan rumahnya. Selanjutnya guru memberikan / membagikan LKS beserta media kertas lipat kepada masing-masing siswa, dengan waktu yang ditentukan siswa langsung mengerjakan dan mengumpulkan hasilnya kepada guru ( selesai atau tidak ). Berikutnya guru membahas beberapa kertas lipat hasil pekerjaan siswa dan beberapa soal pecahan ditulis dipapan oleh guru, bagi siswa yang bisa segera mengacungkan jarinya untuk menjawab. Guru secara adil memberikan kesempatan pada yang lain ( yang belum menjawab) secara bergiliran kepada semua siswa.

Siklus III ( sesudah tindakan )
Tatap muka I :
Duduk siswa diatur secara kelompok, ada lima kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 8 siswa. Guru menerangkan kembali tentang materi pada pertemuan sebelumnya, selanjutnya siswa diberi LKS untuk dikerjakan dan didiskusikan pada kelompoknya.
Setelah waktu yang ditentukan berakhir, siswa diperintahkan untuk segera menyerahkan LKSnya dan duduk pada bangkunya masing-masing. Guru mengumumkan hasil / nilai yang diperoleh oleh kelompoknya.

Tatap muka II :
Siswa menempati tempat duduknya sendiri, guru meminta kelompok untuk mengumpulkan hasil pekerjaan rumahnya. Siswa diajak melihat kepapan tulis, guru menulis beberapa soal untuk dijawab oleh siswa dengan cara maju kepapan tulis.
Selanjutnya guru memberikan / membagikan LKS secara perorangan / individu, dengan waktu yang ditentukan siswa langsung mengerjakan dan mengumpulkan hasilnya kepada guru.
Pengamatan
Pengamatan dilaksanakan dalam proses pembelajaran, pengamatan yang meliputi; aktifitas guru, aktifitas siswa, pengembangan materi, terakhir pada prestasi siswa dalam tes akhir dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan sebagaimana seperti dalam lampiran.
Hasil pengamatan pada siklus I pada umumnya siswa tekun mengerjakan lembar LKS, suasana kelas berjalan dengan tenang tidak ramai mereka berusaha menyelesaikan soal yang diberikan guru seperti dalam buku paket Matematika. Siswa merasa kesulitan untuk menjawab / menyelesaikan soal-soal tersebut, dibuktikan dengan waktu yang diberikan terasa tidak cukup. Sehingga banyak siswa berusaha melihat pekerjaan teman didekatnya.
Dengan waktu yang terbatas yang diberikan, hasilnya tetap tidak memuaskan, guru memberi waktu untuk mengajukan pertanyaan apabila ada kesulitan, sekalipun ada yang bertanya tetapi materi pertanyaan menunjukkan mereka tidak bisa mengerjakan dengan cepat dan benar.
Selanjutnya pada siklus II, masing-masing siswa siap dibangkunya sendiri menunggu tugas berikutnya yang diberikan guru, setelah pekerjaan rumah secara kelompok diminta dikumpulkan, maka guru membagikan LKS dan beberapa lembar kertas lipat kepada masing-masing siswa. Suasana pembelajaran berjalan lancar dan baik, masing-masing siswa sibuk dengan pekerjaannya. Dari hasil yang didapat terlihat mayoritas siswa dapat terbantu dalam menyelesaikan soal pecahan. Suasana kelas menjadi hidup dan sangat aktif ketika guru mulai memberikan soal pecahan secara lesan, sedangkan siswa asyik membuat sisa kertas lipat yang ada untuk menjawab soal pecahan yang dimaksud, mayoritas siswa terlihat ada perubahan yang menggembirakan tentang pemahaman pecahan dengan media kertas lipat.
Pada siklus II penerapan pembelajaran pecahan menggunakan media kertas lipat sangat efektif, hal ini disebabkan siswa mengerjakannya dengan senang, menggerakan jari tangannya, dan pengalaman barunya, disamping itu LKS baru yang diberikan telah direvisi seperti tuntutan pada siklus I.
Pada siklus III, siswa duduk menempati tempat duduknya, pembelajaran dilakukan secara individu. Penerapan pembelajaran pecahan menggunakan media kertas lipat sangat efektif, hal ini disebabkan siswa mengerjakannya dengan senang, hasil pengamatannya sendiri, dan pengalaman barunya, LKS yang diberikan dapat diselesaikan dengan baik. Suasana pembelajaran berjalan lancar dan baik, masing-masing siswa sibuk dengan pekerjaannya. Dari hasil yang didapat terlihat mayoritas siswa dapat terbantu dalam menyelesaikan soal pecahan. Suasana kelas menjadi hidup dan sangat aktif ketika guru mulai memberikan soal yang ditulis dipapan tulis, mereka berebut untuk menjawab dengan mengacungkan jarinya untuk maju mengerjakannya, dan guru secara adil menunjuk secara bergantian agar merata.
Refleksi
Dari hasil tindakan dan pengamatan diperoleh data bahwa tugas yang dibebankan pada siswa kurang efektif terutama pada siklus I, sehingga perlu dibuatkan format LKS yang baru. Diskusi hasil pengamatan termasuk lembar jawaban siswa dan kegiatan pembelajaran setelah dianalisis perlu menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya.
Hal ini terlihat dari rekapitulasi nilai pada siklus I, siswa yang mendapatkan nilai dibawah 6 ada 24 siswa, nilai 6 ada 7 siswa, sedangkan yang mendapatkan nilai 7 ada 6 siswa. 3 siswa sisanya mendapatkan nilai 8.
Juga pada siklus II, siswa yang mendapatkan nilai dibawah 6 ada 18 siswa, nilai 6 ada 10 siswa, sedangkan yang mendapatkan nilai 7 ada 8 siswa, dan 4 siswa sisanya mendapatkan nilai 8.
Demikian pula pada siklus III, siswa yang mendapatkan nilai dibawah 6 ada 6 siswa, nilai 6 ada 17 siswa, sedangkan yang mendapatkan nilai 7 ada 9 siswa, dan 5 siswa mendapatkan nilai 8, bahkan ada yang memperoleh nilai 9 yaitu ada 3 siswa.
Melihat hasil yang didapat terlihat ada peningkatan kemampuan siswa, maka perbaikan metoda dan rencana pembelajarannya sangat diperlukan.

Pembahasan
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember kelas IV. Dari tindakan yang telah dilaksanakan dapat dilaporkan adanya peningkatan kemampuan belajar pecahan melalui media kertas lipat siswa kelas IV SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung.
Peningkatan kemampuan mengajar tersebut antara lain:
          1. Kebiasaan mengajar yang membiasakan guru aktif menjelaskan dan menerangkan mulai berkurang dan berubah menjadi membimbing dan mengembangkan inisiatif siswa.
          2. Kebiasaan siswa yang biasa pasif, berubah menjadi aktif dalam mengidentifikasi permasalahan.
          3. Setiap akhir pelajaran, siswa memperoleh hasil belajar selama proses belajar berlangsung melalui diskusi kelompok maupun individu.
          4. Pada saat pembelajaran, guru selalu memperhatikan:
            • Perbedaan individu
            • Pengorganisasian kelas
            • Inisiatif siswa
            • Isi materi ajar
            • Variasi pembelajaran
            • Guru lebih banyak mendorong siswa berkreatif, dan
            • Iklim belajar yang kondusif.
Data dikumpulkan melalui, pengamatan, catatan lapangan, wawancara secara mendalam dan studi dokumen.
  1. Teknik penggunaan media dan kerja kelompok dapat digunakan untuk menilai proses pembelajaran dan peningkatan kreatifitas siswa.
  2. Teknik bertanya dapat digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran, kaitannya metode pembelajaran.
  3. Teknik studi dokumen digunakan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa.

Hasil penelitian pada siklus I direfleksi untuk bahan penyempurnaan pada siklus II dan juga pada siklus III. Dari penelitian yang telah dilakukan pada siswa kelas IV SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember, dapat diketahui bahwa peningkatan prestasi tersebut disebabkan antara lain :
    1. Pemahaman belajar pecahan melalui kertas lipat, membuat siswa lebih mudah menerima materi dibanding dengan melalui ceramah atau hanya sekedar membaca materi.
    2. Kebiasaan siswa yang biasa pasif, berubah menjadi aktif dalam mengidentifikasi permasalahan.
    3. Semangat anak belajar telah nampak pada diskusi kelompok dan pada diskusi kelas.
    4. Setiap akhir pelajaran, siswa memperoleh hasil belajar (produk) selama proses belajar berlangsung melalui diskusi kelompok maupun individu.
    5. Guru selalu memberi penghargaan kepada siswa yang menghasilkan nilai baik dan memberi semangat kepada siswa yang kurang mampu.
Secara umum, keseluruhan tindakan dapat menjadi indikasi bahwa upaya peningkatan kemampuan tentang bilangan pecahan dapat dilakukan dengan baik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan siswa tentang pecahan melalui media kertas lipat ada peningkatan yang signifikan dari siklus pertama ke siklus berikutnya. Selanjutnya profil peningkatan prestasi belajar berhitung dari siklus dapat dirangkum tabel berikut :

Tabel . Hasil Tes Akhir Pada Siklus I

JUMLAH SISWA
SKOR
NILAI RATA-2 KELAS
< 6
%
40
24
60
5,7

Data hasil observer pada Siklus I masih menunjukkan bahwa kurangnya mengoptimalkan metode mengajar, identifikasi masalah pembelajaran di kelas ditemukan bahwa siswa kelas IV Guru SD Negeri Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember, hasil belajarnya belum optimal karena masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Berdasarkan permasalahan tersebut disusun perencanaan pembelajaran melalui media kertas lipat. Selama pembelajaran dilakukan observasi dan pengukuran hasil pembelajaran sebagai bahan refleksi. Dalam refleksi diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran melalui media alat bantu pada Siklus I, masih banyak siswa yang belum mampu, maka dilakukan perencanaan pembelajaran yang baru sesuai dengan sumber permasalahannya.
Dari data tersebut setelah dianalisa kemudian diadakan evaluasi dan refleksi selanjutnya hasil siklus II sebagai rekaman data observasi sebagai berikut:

Tabel .Hasil Tes Akhir Pada Siklus II

JUMLAH SISWA
SKOR
NILAI RATA-2 KELAS
< 6
%
40
18
45
6,0

Setelah dilakukan penyempurnaan, baik dalam metode mengajar maupun perbaikan LKS yang diberikan ke siswa, kemudian diadakan evaluasi dan refleksi selanjutnya hasil siklus III sebagai rekaman data observasi sebagai berikut :

Tabel. Hasil Tes Akhir Pada Siklus III

JUMLAH SISWA
SKOR
NILAI RATA-2 KELAS
< 6
%
40
6
15
6,8

Pembahasan dan Pengambilan Keputusan
Pembahasan terhadap permasalahan penelitian maupun hipotesis tindakan berdasarkan analisa data kualitatif dan profil tingkat pemahaman bilangan pecahan dengan media kertas lipat dengan hasil-hasil sebagai berikut:

Permasalahan I: Apakah siswa kelas IV SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember memiliki kemampuan belajar bilangan pecahan dengan media kertas lipat ?

Kesimpulan : hasil dialog dan diskusi memberikan gambaran bahwa dengan menggunakan media kertas lipat, anak tampak lebih cepat dan bersemangat mengerjakan soal-soal dan merasakan bahwa belajar sambil bermain menggunakan media, lebih cepat dan mudah mengerjakan soal-soal yang diberikan guru.
Permasalahan II : Bagaimana guru mengubah pola mengajar dari memberikan soal-soal yang diberikan melalui buku paket atau soal-soal yang telah disiapkan ?

Kesimpulan : siswa dapat membuat soal dan mengerjakan soal-soal yang dibuat sendiri mulai dari tingkat yang mudah menuju ke yang sulit.
Pembahasan dan kesimpulan hasil dialog dan diskusi, menunjukkan dorongan siswa untuk meningkatkan kemampuan kemampuan belajar dan siswa lebih aktif dan kreatif dan termotivasi untuk belajar.

Berikut tabel peningkatan kemampuan belajar berhitung dari Siklus I, II dan III

Tabel. Perbandingan Hasil Tes Akhir Pada Siklus I, II dan III


Siklus
NILAI
%
Rata-2
< 6
6
7
8
9
10
I
24
7
6
3
--
--
60
5,7
II
18
10
8
4
--
--
45
6,0
III
6
17
9
5
3
--
15
6,8


Interpretasi :
Dari tabel perbandingan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan media kertas lipat cenderung adanya peningkatan prestasi pada siswa. Dari kemampuan siswa, pada tahap sebelum tindakan terlihat pada siklus I ada 60 % siswa mendapat nilai dibawah 6 dan setelah dilakukan tindakan menurun menjadi 45 % pada sikus II, lalu terjadi penurunan kembali menjadi 15 % pada siklus III, hal ini disebabkan siswa semakin aktif dan antusias. Hal ini tampak dalam mengidentifikasi observasinya untuk kajian kelompoknya dan dapat ditunjukkan pada diskusi kelas. Siswa lebih banyak action, ini berarti pembelajaran tidak lagi didominasi oleh guru, tetapi pembelajaran menjadi terpusat pada keaktifan siswa. Dari hasil siklus 1 ke siklus 2 lalu ke siklus 3 menunjukkan peningkatan kemampuan belajar yang berarti.
Pengelolaan pembelajaran dengan media dari siklus I dari rata-rata skor (5,7 ) naik menjadi ( 6,0 ) pada siklus II dan naik menjadi (6,8) pada siklus III yang artinya ada peningkatan sebesar ( 1,1 ). Ini tampak pada guru dalam menyampaikan pendahuluan, pengorganisasian siswa dalam kelompok belajar, membimbing siswa dalam mengajukan pertanyaan dan cara menanggapinya, menyampaikan pendapat, mendengarkan secara aktif, bekerja dan belajar bersama, membimbing kelompok dalam memilih masalah untuk kajian kelompok dan kajian kelas, menentukan metode pembelajaran, dan membimbing cara pengerjaan tugas yang benar cepat. Hal ini berarti guru mampu mengefektifkan pembelajaran sehingga siswa termotivasi dalam belajar secara aktif. Pengelolaan pembelajaran pada siklus 1 ke 3 menunjukkan peningkatan yang berarti.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Untuk melaksanakan peningkatan kemampuan memahami bilangan pecahan dengan menggunakan media kertas lipat pada siswa kelas IV SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember, anak tampak lebih senang dan bersemangat mengerjakan soal-soal dan merasakan bahwa belajar sambil bermain menggunakan tangannya memainkan kertas lipat dan mudah mengerjakan soal-soal yang diberikan guru. Siswa dapat membuat soal sendiri dan mengerjakan soal-soal yang dibuat sendiri mulai dari tingkat yang mudah ke tingkat yang sulit.
Terdapat peningkatan yang sangat signifikan terhadap kemampuan bilangan pecahan melalui media kertas lipat pada siswa kelas IV SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember, dari siklus I sampai Siklus III.

Saran-saran
Pembelajaran pemahaman media kertas lipat hendaknya tidak hanya dikembangkan di SDN Ajung 01 Kecamatan Ajung Kabupaten Jember, melainkan dapat dikembangkan di sekolah-sekolah yang lain. Guru hendaknya membiasakan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi menarik.

DAFTAR RUJUKAN

Rachman Syaiful, dkk, (2006), Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah, Surabaya: SIC
Oemar Hamalik , (2005), Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.
Herman Hudoyo. (1979). Teori Dasar Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.
Mohammad Soleh. (1998). Pokok-pokok Pengajaran Matematika Sekolah. Jakarta: Depdikbud.
Nana Sujana, (1987), Motivasi Belajar Sebuah Pendekatan, Jakarta: Rineka Cipta.
Sukidin, dkk, (2002), Manajemen Penelitian Tindakan Kelas, Surabaya: Insan Cendikia.
Ruseffendi, ET, (1980), Pengajaran Matematika Modern, Bandung : Tarsito
Ruseffendi, E.T. (1991). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika CBSA. Bandung: Tarsito.
Poerwadarminto. (1983). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sudjana, N. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru.
Suherman, dkk. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : JICA-UPI.