Minggu, 21 Desember 2014

Penerapan Model Direct Instruction Dengan Media Recorder Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Musik Ansambel


PENERAPAN MODEL DIRECT INSTRUCTION DENGAN MEDIA RECORDER UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MUSIK ANSAMBEL

SUTANI

Abstrak: Musik ansambel merupakan jenis permainan alat music yang dilakukan secara bersama-sama, sehingga lebih efektif apabila penerapan pembelajaranya menggunakan model pembelajaran yang sesuai, serta media alat musik. Model Direct Instruction merupakan model pembelajaran dimana guru menjelaskan konsep materi di depan kelas, Guru menjelaskan materi berupa petunjuk memainkan alat music, serta siswa diminta untuk menirukan petunjuk materi yang disampaikan dengan menggunakan media. Model Pembelajaran ini sangat sesuai dengan pembelajaran musik ansambel, karena melibatkan media berupa media recorder. Pendekatan penelitian ini penelitian tindakan kelas dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil dalam penelitian ini adalah bahwa model Direct Instruction,pada siklus I terdapat 11 siswa tidak tuntas, dan 29 siswa tuntas, rata-rata hasil belajar 71,2 dengan ketuntasan klasikal mencapai 77,5%, sedangkan siklus II rata-rata hasil belajar 86, ketuntasan klasikal mencapai 87,5%, dengan 5 siswa tidak tuntas, dan 35 siswa tuntas. Dari hasil penelitian tersebut bahwa Penerapan Model Direct Instruction dengan Media Recorder dapat meningkatkan hasil belajar music ansambel.

Kata Kunci : Hasil belajar, Direct Instruction, Media recorder,


PENDAHULUAN
Pendidikan memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Melalui pendidikan, manusia belajar menghadapi berbagai permasalahan kehidupan sehingga pendidikan merupakan kebutuhan utama manusia. Pendidikan merupakan salah satu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia karena melalui pendidikan, manusia memperoleh pengetahuan dan berbagai pengalaman serta pengembangan kemampuan berpikir sehingga tingkat berpikirnya akan meningkat dan sanggup menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Seni Budaya di sekolah, merupakan salah satu pembelajaran yang menekankan aspek skill/keterampilan kepada siswa (Depdiknas: 2006). Salah satu aspek pembelajaran seni budaya di sekolah adalah pembelajaran seni musik. Pembelajaran seni musik di sekolah mempunyai tujuan (1) memupuk rasa seni pada tingkat tertentu dalam diri tiap anak melalui perkembangan kesadaran musik, tanggapan terhadap musik, sehingga memungkinkan anak mengembangkan kepekaan terhadap dunia sekelilingnya, (2) mengembangkan kemampuan apresiasi musik melalui intelektual dan artistik sesuai dengan budaya bangsa (Jamalus, 1998:91). Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran seni musik di sekolah adalah membina kepribadian dan karakter siswa. Kepekaan estetis dan nilai-nilai positif dari kegiatan bermusik diharapkan dapat membina perilaku, sikap, dan watak siswa.
Menyadari akan peran penting pembelajaran seni budaya di sekolah, khususnya seni musik, maka pembelajaran seni musik hendaknya dapat dilaksanakan dengan efektif. Namun selama ini belajar seni musik masih kurang diminati oleh para siswa, bahkan sedikit sekali minat siswa untuk belajar bermain musik. Banyak kendala yang dialami guru untuk membelajarkan seni musik di sekolah. Minimnya sarana dan prasarana yang ada di sekolah, menyebabkan pembelajaran seni musik bukan merupakan mata pelajaran pokok (ekstrakulikuler). Kurangnya sumber daya manusia yang ahli di bidang seni, juga masih menjadi kendala
Bermain musik ansambel merupakan salah satu kompetensi dasar di dalam KTSP mata pelajaran Seni Budaya. Di dalam bermain musik ansambel, siswa diminta memainkan musik bersama-sama dengan menggunakan alat musik sejenis. Tujuan pembelajaran ini agar siswa dapat menyajikan alat musik secara bersama-sama sehingga menghasilkan nada yang harmonis. Akan tetapi, hasil belajar siswa pada materi bermain musik ansambel sangat rendah. Rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi oleh ketidaksesuaian model pembelajaran serta media yang tidak ada. Hal ini berdampak terhadap rendahnya kreativitas dan imajinasi siswa dalam memainkan alat musik.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan siswa kelas VIIID Tanggal 7 Oktober 2011 di SMPN 3 Tanggul, terbukti bahwa kurangnya kreativitas siswa dalam bermain musik ansambel disebabkan tidak adanya fasilitas media yang memadai. Hasil belajar musik ansambel pada materi sebelumnya ketuntasan secara klasikal mencapai 62% (lampiran 1). Ketersediaan media yang tidak relevan dg kondisi siswa, berimplikasi terhadap pola pikir bermusik yang abstrak. Stimuli lingkungan sangat berpengaruh dalam mengorganisasikan ide siswa untuk bermain musik. Pengorganisasian pembelajaran sangat tergantung dari guru sebagai fasilitator. Oleh karena itu, setiap anak perlu diberikan kesempatan dalam bermain musik dengan memberikan media nyata yang bisa digunakan siswa dalam bermain musik ansambel.
Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif dalam bermain musik adalah model pembelajaran Direct Instruction. Model pembelajaran Direct Instruction menekankan kegiatan mendengarkan (melalui ceramah) dan kegiatan mengamati (melalui demonstrasi), sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran Seni budaya khususnya seni musik. Apabila guru menggunakan model Direct Instruction ini, guru mempunyai tanggung jawab untuk mengidentifikasi aturan-aturan maupun langkah dalam bermain musik. Guru bertanggung jawab terhadap penstrukturan isi materi atau keterampilan yang perlu dikuasai siswa sebelum bermain musik. Setelah itu, mendemontrasikan cara bermain musik, dan siswa mengikuti instruksi yang diberikan oleh guru hingga selesai. Siswa diberikan kesempatan untuk berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang telah dipelajari serta memberikan umpan balik.
Selain itu penggunaan media recorder merupakan salah satu media alternatif dalam mengajarkan musik ansambel. Media recorder merupakan salah satu media yang relevan dengan bermain music ansambel. Recorder merupakan alat melodis yang sumber bunyinya berasal dari tekanan udara dan dimainkan dengan cara ditiup (Jusan, 2009:2). Teknik memainkan recoreder yang terstruktur memudahkan siswa dalam belajar, sehingga relevan dalam pembelajaran seni music, khusunya music ansambel. Model Pembelajaran Direct Instruction adalah model pembelajaran langsung yang menekankan kegiatan mendengarkan (melalui ceramah) dan kegiatan mengamati (melalui demonstrasi). Musik Ansambel merupakan bentuk penyajian musik yang dilakukan secara bersama-sama dengan menggunakan alat musik melodis sejenis, sehingga menghasilkan nada yang harmonis.Media Recorder adalah jenis alat musik melodis yang dibunyikan dengan cara ditiup. Alat music recorder yang digunakan adalah recorder sopran.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka akan dilakukan penelitian yang berjudul “Penerapan model pembelajaran Direct Instruction dengan media recorder untuk meningkatkan hasil belajar musik ansambel pada siswa kelas VIIID di SMPN 3 Tanggul Tahun Pelajaran 2011/2012”.

Berdasarkan uraian latar belakang, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut.
a. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Direct Instruction dengan media recorder untuk meningkatkan hasil belajar musik ansambel pada siswa kelas VIIID di SMPN 3 Tanggul ?

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk mengkaji penerapan model pembelajaran Direct Instruction dengan media recorder untuk meningkatkan hasil belajar musik ansambel pada siswa kelas VIIID di SMPN 3 Tanggul.
b. Untuk meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa kelas VIIID setelah mengikuti model pembelajaran Direct Instruction dengan media recorder
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi peneliti, peneliti akan mengetahui secara langsung permasalahan di dalam kelas, khususnya dalam menyajikan music ansambel
b. Bagi siswa, hasil penelitian ini akan memberikan pengalaman berharga untuk mempelajari alat musik melodis recorder secara bersama-sama.
c. Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran seni budaya khususnya materi musik ansambel

Model Pembelajaran Direct Instruction adalah model pembelajaran langsung yang menekankan kegiatan mendengarkan (melalui ceramah) dan kegiatan mengamati (melalui demonstrasi),
2. Musik Ansambel merupakan bentuk penyajian musik yang dilakukan secara bersama-sama dengan menggunakan alat musik melodis sejenis, sehingga menghasilkan nada yang harmonis.
3. Media Recorder adalah jenis alat musik melodis yang dibunyikan dengan cara ditiup. Alat music recorder yang digunakan adalah recorder sopran.


METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMPN 3 tanggul Jember semester gasal tahun ajaran 2011/2012. Subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIIID SMPN 3 tanggul Jember tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang.
Pada penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempatnya mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan/peningkatan proses pembelajaran (Aqib, 2007:174). Adapun karakteristik PTK yaitu sebagai berikut:
  1. didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran;
  2. adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya;
  3. penelitian sekaligus sebagai praktik untuk melakukan refleksi;
  4. bertujuan memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik instruksional;
  5. dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus;
  6. pihak yang melakukan tindakan adalah guru sendiri sedangkan yang melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti, bukan guru yang sedang melakukan tindakan.





Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menurut Kemmis dan Mc Taggart (dalam Sunardi, 2007:13). Model PTK berbentuk spiral dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Keempat fase tersebut merupakan suatu siklus dalam sebuah penelitian tindakan kelas yang digambarkan dengan menggunakan spiral seperti pada gambar di bawah ini.
RENCANA

REFLEKSI


TINDAKAN& OBSERVASI

PERENCANAAN ULANG


REFLEKSI


TINDAKAN& OBSERVASI


PERENCANAAN ULANG


Gambar . Alur Penelitian ( Kemmis dan Mc Taggart dalam Sunardi,2007)
Penelitian ini menggunakan desain penelitian yang terdiri dari dua siklus. Siklus I diawali dengan tindakan pendahuluan, perencanaan, tindakan, observasi dan melakukan refleksi. Jika pada siklus I ketuntasan hasil belajar siswa belum mencapai ketuntasan klasikal yaitu minimal 65% dari jumlah siswa yang telah mencapai skor ≥ 65 dari skol maksimal 100 maka akan dilaksanakan siklus II. Pelaksanaan kegiatan pada siklus kedua akan mengikuti langkah-langkah seperti pada siklus pertama, hanya mungkin merupakan perbaikan dari siklus sebelumnya bila ada beberapa materi yang belum mengalami ketuntasan.


Prosedur Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Apabila pada siklus I tidak mengalami ketuntasan belajar, maka akan dilanjutkan pada siklus II dengan tujuan dapat mengalami ketuntasan belajar. Jika pada siklus I ketuntasan hasil belajar siswa mencapai ketuntasan klasikal yang ditetapkan sekolah yaitu jumlah siswa yang tuntas mencapai ≥ 65 %, maka siklus II tetap dilaksanakan dengan berbagai perbaikan RPP dan soal-soal setelah mengadakan refleksi pada siklus I. Siklus kedua ini dilaksanakan untuk untuk mengetahui persentase tingkat keberhasilan siswa dengan diterapkanya model pembelajaran ini.
  1. Pelaksanaan Siklus I
Pelaksanaan siklus I berlangsung berdasarkan hasil diagnostik dan refleksi yang diperoleh peneliti pada tahap prasiklus.. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada siklus ini adalah sebagai berikut :
  1. Perencanaan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan meliputi :
  1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pertemuan 1 dan pertemuan 2 yang meliputi rencana pembelajaran pokok bahasan music ansambel sesuai dengan kurikulum satuan tingkat pendidikan dengan menerapkan model pembelajaran Direct Instruction
  2. Menyiapkan media pembelajaran berupa media recorder sopran
  3. Menyusun lembar soal test akhir di tiap awal siklus.
  4. Menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan pada kegiatan pembelajaran.
  5. Membuat pedoman wawancara pada siswa untuk mengetahui kesulitan dalam memainkan recorder
  1. Tindakan
Pelaksanaan pada siklus I ini disesuaikan dengan rencana pembelajaran yang telah disusun pada perencanaan. Peneliti berupaya meningkatkan hasil tes unjuk kerja siswa dengan melakukan tindakan yaitu menerapkan model Direct Instruction dengan media rekorder dengan langkah-langkah sebagai berikut :
        1. Menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran.
        2. Menyampaikan motivasi tentang pentingnya materi yang akan disampaikan.
        3. Menginformasikan model pembelajaran Direct Instruction
        4. Guru memberikan materi berkaitan dengan musik ansambel
        5. Siswa diminta mempersiapkan alat music recorder masing-masing
        6. Guru memberikan petunjuk lubang penjarian recorder melalui demonstrasi di depan kelas
        7. Siswa mempraktikan cara penjarian recorder
        8. Siswa membunyikan recorder sesuai dengan penjarian
        9. Siswa membunyikan recorder secara bersama-sama dengan lagu “Bunga Nusa Indah”
        10. Guru memberikan pengarahan, dan motivasi kepada siswa.


    1. Observasi
Pengamatan atau observasi dilakukan secara bersamaan dalam pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini peneliti bersama observer rekan sejawat untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Hal-hal yang akan diamati adalah aktivitas siswa yang meliputi aktivitas teknik penjarian recorder, keharmonisan nada, dan kesesuain tangga nada dengan suara.
Kegiatan observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi sebagai pedoman disamping catatan bebas. Selanjutnya hasil observasi tersebut dicatat dan didiskusikan oleh peneliti bersama observer untuk menyepakati aspek–aspek pembelajaran yang perlu diperbaiki. Setelah proses pembelajaran selesai dilakukan, maka hasil evaluasi segera dianalisis untuk mengetahui keberhasilan prestasi belajar siswa.


    1. Refleksi
Refleksi merupakan suatu upaya untuk mengkaji dampak dari suatu tindakan kelas. Refleksi pada tindakan ini adalah mengidentifikasi hasil belajar yang dicapai siswa sehingga dapat diketahui kelemahan dan kendala yang dihadapi ketika pembelajaran berlangsung. Hasil ketuntasan belajar ini digunakan sebagai upaya pertimbangan untuk menentukan pelaksanaan siklus selanjutnya.

  1. Pelaksanaan Siklus II
Siklus II merupakan tindakan perbaikan yang berdasarkan pada refleksi pelaksanaan siklus I. Pelaksanaan siklus II tidak jauh beda dengan alur siklus I, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan siklus II ini perencanaanya dilakukan secara matang, karena telah merefleksi hasil dari siklus sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Pada umumnya siklus II dilaksanakan karena hasil belajar siswa belum tuntas secara klasikal, meskipun ada beberapa siswa telah mencapai nilai tuntas. Apabila dalam pelaksanaanya hasil belajar siswa telah mencapai kriteria ketuntasan secara klasikal, maka siklus II tetap dilaksanakan untuk mengetahui presentase tingkat keberhasilan siswa dengan diterapkanya model pembelajaran ini.


Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitif berupa nilai dan skor siswa yang diperoleh dari hasil tes unjuk kerja di tiap siklus, pokok bahasan bahasan music ansambel. Data kuantitatif didapatkan dari hasil tes kemampuan siswa dalam mengerjakan LKS dan Tes Akhir.
Data kualitatif berupa hasil observasi dan wawancara terhadap siswa serta hasil observasi terhadap terhadap siswa. Data wawancara digunakan untuk memperkuat hasil observasi dan hasil tes. Data observasi berupa catatan aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung yang perlu diamati untuk mendukung data (table terlampir) serta untuk mengetahui penerapan pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran ini.

Metode Pengumpulan Data.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, observasi, wawancara dan tes.
  1. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode untuk memperoleh data melalui penelitian terhadap benda–benda atau hal–hal yang tertulis seperti buku–buku, majalah, dokumen catatan harian, transkip, surat kabar, prasasti dan lain sebagainya (Arikunto, 2006:15). Data dokumentasi yang diperlukan dalam penelitian ini adalah daftar nama siswa kelas VIIID SMPN 3 Tanggul, nilai hasil ulangan siswa (Lampiran 1
  1. Observasi
Observasi merupakan cara untuk mengadakan pengamatan terhadap objek baik secara langsung maupun tidak langsung (Arikunto, 2006:72). Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan pada tindakan pendahuluan dan pelaksanaan tindakan. Observasi terhadap siswa pada saat pembelajaran berlangsung, dilakukan oleh peneliti dengan memperhatikan pedoman observasi yang telah disusun. Observasi yang dilakukan adalah observasi secara langsung terhadap aktivitas siswa dan aktivitas guru selama pembelajaran berlangsung. Hal ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peranan guru dan aktivitas siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran model Direct Instruction.
  1. Wawancara
Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari yang terwawancara (Arikunto, 2006:155). Wawancara adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan melalui tanya jawab atau pendapat secara langsung dari sumber data untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Menurut Arikunto (2006:227), secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara yaitu:
  1. pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan.
  2. pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check list.
  1. Tes
Menurut Arikunto (2006:139) tes merupakan serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau tim. Pada penelitian ini akan dilakukan tes unjuk kerja ketika pembelajaran model Direct Instruction selesai dilakukan.

Analisis Data
Analisis data merupakan langkah terpenting dan paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul, sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan. Analisis data pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif terhadap data yang didapat dari hasil tes dan wawancara. Sedangkan data yang dianalisis dalam penelitian ini berupa :
  1. Bagaimana penerapan model pembelajaran Direct Instruction untuk meningkatkan hasil belajar musik ansambel pada siswa kelas VIIID di SMPN 3 Tanggul ?
        1. Ketuntasan hasil belajar siswa diperoleh dari skor hasil tes unjuk kerja siswa akhir setelah mengikuti kegiatan pembelajaran Presentase ketuntasan hasil belajar siswa adalah sebagai berikut :
P = × 100 %
Keterangan : P = Persentase ketuntasan hasil belajar siswa.
= Jumlah siswa yang mendapat nilai tuntas.
= Jumlah seluruh siswa.
Kriteria ketuntasan hasil belajar di SMPN 3 Tanggul adalah sebagai berikut :
  1. Daya serap perorangan, seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila mencapai skor ≥ 65 dari skol maksimal 100.
  2. Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas belajar apabila minimal 65% yang telah mencapai skor ≥ 65 dari skol maksimal 100.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
  1. Tahap Pendahuluan
Tahap pendahuluan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh peneliti sebelum melaksanakan tindakan. Pada tahap ini, guru menyusun jadwal penelitian yang akan dilaksanakan dalam 1 bulan di SMPN 3 tanggul Jember
Siklus I
  1. Perencanaan
Kegiatan ini meliputi:
  1. Membuat perencanaan kegiatan pembelajaran. Materi yang dipelajari pada siklus I adalah sub pokok bahasan bermain musik ansambel
  2. melengkapi alat dan media pembelajaran
  3. Membuat lembar observasi
  4. Mendesain alat evaluasi
  1. Pelaksanaan tindakan dan observasi
Berdasarkan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya, maka pada hari Jumat 11 Oktober 2011 di kelas VIIID SMPN 3 tanggul diadakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) pada mata pelajaran Seni Budaya materi musik ansambel. Langkah pertama yang dilakukan dalam pembelajaran adalah guru membuka pembelajaran dengan salam, memotivasi siswa dengan meminta siswa untuk mempersiapkan media recorder yang digunakan di dalam pembelajaran.
Langkah selanjutnya guru menyajikan informasi tahap demi tahap tentang konsep dasar music ansambel. Siswa diminta melakukan percobaan dan guru membimbing siswa dalam melakukan percobaan dengan benar, memberikan umpan balik (pujian) pada aspek-aspek yang sudah benar dan memodelkan lagi hal-hal yang masih salah ketika siswa berlatih. Langkah terakhir dalam kegiatan pembelajaran yaitu tes unjuk kerja dalam memainkan alat music recorder. Secara berkelompok siswa diminta unutk memainkan alat musik recorder di depan kelas. Penilaian dilakukan bagaimana siswa bisa memainkan recorder dengan penjarian yang benar, serta bagaimana siswa bisa membunyikan alat music recorder sehingga menghasilkan nada yang harmonis.
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus 1, pembelajaran masih belum optimal. Dalam model explicit instruction yang dilakukan guru, masih banyak siswa yang belum memahami bagaimana teknik memainkan recorder. Selain itu, siswa masih canggung dalam membunyikan recorder, sehingga nada yang dihasilkan kurang harmonis.
c) Refleksi
Selama proses pembelajaran pada siklus 1 diketahui bahwa dengan penerapan model pembelajaran langsung ( Direct Instruction) pada pokok bahasan musik ansambel telah mencapai ketuntasan hasil belajar, yaitu 77,5%. Penelitian akan tetap dilanjutkan ke siklus 2 untuk pemantapan.
Hambatan-hambatan yang dihadapi pada siklus 1 diselesaikan dengan cara:
  1. Demontrasi yang dilakukan guru dianggap belum optimal, sehingga masih banyak siswa yang belum memahmi teknik penjarian rekorder
  2. Siswa belum terbiasa menggunakan rekorder, sehingga mengalami kesulitan dalam memahami penjarianya
  3. guru harus lebih membimbing siswa dalam teknik penjarian rekorder, sehingga nada yang dihasilkan siswa lebih harmonis
Berdasarkan analisa hasil observasi pada pertemuan pada siklus I, persentase hasil pembelajaran telah mencapai ketuntasan individu dan ketuntasan klasikal. Maka pembelajaran dilanjutkan pada siklus kedua untuk pemantapan


Siklus II
  1. Perencanaan
Sebelum pelaksanaan tindakan pada siklus II ini, dilakukan wawancara terhadap salah satu siswa yang belum tuntas belajarnya yaitu Angga. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa salah satu hal yang menjadi kendala pada ketidaktuntasan belajar siswa adalah siswa yang tidak mampu dalam menunjukan penjarian recorder, dikarenakan konsep tentang alat music recorder masih belum dipahami. Selain itu adanya tes unjuk kerja yang dilakukan di akhir pembelajaran, juga belum dapat maksimal karena siswa masih cenderung kurnag percaya diri dalam memainkan recorder,sehingga nada yang dihasilkan kurang harmonis. Pada kegiatan pendahuluan juga dilakukan perencanaan. Kegiatan ini meliputi:
  1. Membuat perencanaan kegiatan pembelajaran. Materi yang dipelari pada siklus II adalah sub pokok bahasan bermain alat musik ansambel dengan lagi Bunga Nusa Indah
  2. Melengkapi alat dan media pembelajaran
  3. Membuat lembar observasi
  4. Melakukan proses penilaian

  1. Pelaksanaan tindakan dan observasi
Berdasarkan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya, maka Siklus II pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 Oktober 2011, dan pertemuan kedua dilaksanakan 1 November 2011. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) pada mata pelajaran Seni budaya materi music ansambel, melanjutkan pembelajaran pada siklus 2 sebagai pemantapan. Langkah pertama yang dilakukan dalam pembelajaran adalah guru membuka pembelajaran dengan salam, memotivasi siswa dengan menanyakan apakah sudah bisa memahami teknik penjarian alat music recorder dengan benar, selanjutnya menyampaikan tujuan pembelajaran.
Langkah selanjutnya guru membimbing siswa bagimana teknik penjarian alat music recorder, sehingga menghasilkan nada yang harminis. Guru membimbing secara perorangan maupun kelompok, sehingga siswa dapat memahami materi teknik penjarian dengan baik.
Setelah mendemonstrasikan di depan kelas, guru menyajikan bentuk penggunaan alat music recorder, dan kegiatan terakhir adalah siswa diminta untuk menampilkan hasil karya aransemen lagu “Bunga Nusa Indah” dengan menggunakan media recoder di depan kelas (1 penampilan 4 orang). Tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes unjuk kerja, dengan aspek yang diamati meliputi teknik penjarian, kualitas suara yang dihasilkan dan kesesuaian dengan aransemen lagu yang dibawakan.
Setelah siswa selesai melakukan penyajian, guru memberikan refleksi terhadap pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan media recorder.
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus 2, pembelajaran sudah optimal. Dalam demonstrasi yang dilakukan guru terjadi siswa sudah bisa tenang, dan sudah mulai tertib dalam pembelajaran, penggunaan media recorder juga sudah optimal. Pelaksanaan tes unjuk kerja dapat berjalan dengan tertib dan lancar karena siswa dapat menampilkan hasil karyanya dalam membawakan aransemen lagu “ Bunga Nusa Indah” dengan menggunakan rekorder.


  1. Refleksi
Selama proses pembelajaran pada siklus 2 diketahui bahwa dengan penerapan model pembelajaran langsung ( Direct Instruction) pada pokok bahasan musik ansambel telah mencapai ketuntasan hasil belajar, yaitu 87,5%. Pembelajaran sudah berjalan dengan baik, begitu juga peningkatan hasil belajar tampak dalam penerapan Direct Instruction dengan media rekorder. Hambatan-hambatan yang terjadi di Dalam penelitian, juga dapat diantisipasi, sehingga pembelajaran berjalan dengan lancer.












Analisis Data
  1. Analisis Data Hasil Observasi
  1. Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Hasil observasi aktivitas siswa dapat dilihat pada lampiran. Dari hasil observasi secara keseluruhan disimpulkan bahwa aktivitas siswa termasuk kategori aktif. Hal ini dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel. Hasil Analisis Aktivitas Siswa
Pelaksanaan Pembelajaran

Persentase Ketuntasan Aktivitas Siswa
Siklus 1
70,2%
Siklus 2
80,5%
Keterangan: Berdasarkan Analisis Aktivitas pada tabel di atas ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus 1 mengalami peningkatan sebesar 10,3% .
Aktivitas Siswa selama pembelajaran gerak benda dengan menggunakan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) dapat dilihat pada Gambar 4.1
Grafik 4.1 Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran

Secara keseluruhan, rata-rata aktivitas siswa pada siklus 1 dan siklus 2 yang meliputi mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, menyampaikan pendapat, bertanya, dan memperhatikan pendemonstrasian yang dilakukan gurur meningkat.
Mengenai persentase aktivitas siswa secara klasikal untuk setiap siklus adalah sebagai berikut:
  1. Siklus 1 = 70,2% (aktif)
  2. Siklus 2 = 80,5% (sangat aktif)
Persentase aktivitas siswa secara individu maupun klasikal dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan dan menunjukkan siswa semakin aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran langsung (Direct Instruction ) pada pokok bahasan gerak dapat meningkatkan aktivitas siswa.

Analisis Data Hasil Tes
Hasil analisis tes formatif siklus 1 dapat dilihat pada lampiran 2, dimana terdapat 40 orang siswa terdapat 11 orang siswa yang memperoleh skor kurang dari 70 dari skor maksimal 100. Ketuntasan klasikal yang diperoleh adalah 77,5%. Rata-rata hasil belajar mencapai 71, 2. Menurut kriteria ketuntasan klasikal, skor ini termasuk dalam kategori tuntas, akan tetapi penelitian ini tetap dilanjutkan pada siklus 2 untuk mengetahu sejauh mana peningkatan hasil pembelajaran setelah menerapkan model Direct Instruction dengan media rekorder .
Pada hasil tes unjuk kerja, yang dilaksanakan pada siklus II, terdapat 5 orang siswa yang tidak tuntas belajar. Ketuntasan klasikal mencapai 87,5%. Nilai paling rendah yang diperoleh pada siklus 2 ini adalah 60, Sedangkan nilai tertinggi adalah 90. Rata-rata hasil belajar pada siklus II mencapai 86,10.
Tabel 4.2 Analisis Ketuntasan Belajar Siswa
Pelaksanaan Pembelajaran
Persentase Ketuntasan
Siklus 1
77,5%
Siklus 2
87,5%
Keterangan: Tabel di atas menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa sebesar 10%.
Sesuai data yang diperoleh, terjadi kenaikan skor ketuntasan hasil belajar. Pada siklus 1, skor yang diperoleh adalah 77,5%, dan pada siklus 2 skor yang diperoleh adalah 87,5%, maka kenaikan yang diperoleh adalah 10%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) pada pokok bahasan musik ansambel dapat meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa.

Pembahasan
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran, bagaimana aktivitas siswa selama proses pembelajaran, dan bagaimana persentase ketuntasan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran materi musik ansambel dengan menerapkan model pembelajaran Direct Instruction pada siswa kelas VIIID SMPN 3 tanggul Jember tahun ajaran 2010/2011.
Penerapan pembelajaran model pembelajaran Direct Instruction, meskipun ada beberapa hambatan yang dihadapi namun hambatan tersebut dapat diselesaikan pada pertemuan selanjutnya. Pembelajaran pada pertemuan pertama dimulai dengan penjelasan materi musik ansambel kepada siswa, kemudian siswa diminta untuk mendengarkan penjelasan dari guru tentang music ansambel. Stelah menjelaskan musik ansambel, guru menjelaskan langkah-langkah pembelajaran dengan media recorder secara langsung di depan kelas. Siswa diminta mengamati teknik penjarian yang digunakan guru dalam pembelajaran. Siswa sangat antusias mendengarkan penjelasan dari guru meskipun ada beberapa siswa yang sibuk mempermainkan media yang dibawa. Hal ini terbukti dengan antusias siswa pada aspek memperhatikan penjelasan guru pada pertemuan pertama sudah mencapai 70,2%. Pada pertemuan kedua guru menyampaikan kepada siswa bahwa pembelajaran tetap menggunakan model pembelajaran langsung. Pertemuan kedua menekankan bagaimana teknik penjarian dalam bermain rekorder sehingga menghasilkan nada yang harmonis.
Pembelajaran dengan melakukan pembelajaran langsung dan praktek oleh siswa pada awalnya mengalami kesulitan. Hal ini dikarenakan siswa belum pernah memainkan alat musik recorder secara langsung. Guru masih membimbing siswa untuk memahami bagaimana teknik penjarian yang benar, sehingga menghasilkan nada yang harmonis. Selanjutnya siswa diminta untuk menampilkan performance melalui tes unjuk kerja. Hasil tes unjuk kerja pada Siklus I menunjukan bahwa terdapat 11 orang siswa yang tidak tuntas, dengan kriteria ketuntasan mencapai 77,5 % (lampiran 2). Hal ini menunjukan bahwa pada siklus I, pembelajaran dapat dikatakan tuntas, karena secara klasikal sudah memenuhi kriteria yang ditentukan yaitu >75%
Persentase ketuntasan hasil belajar secara klasikal yang dicapai pada siklus pertama adalah 70,2% dan berada pada kriteria tuntas. Jumlah siswa yang memperoleh nilai < 70 ada 14 orang siswa, dan jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 mencapai 33 orang siswa. Berdasarkan kriteria ketuntasan hasil belajar, persentase yang dicapai pada siklus pertama ini dinyatakan sesuai dengan standar ketuntasan yang ditetapkan, yaitu hanya mencapai 70%, penelitian dilanjutkan pada siklus kedua untuk pemantapan.
Pada siklus 2, pembelajaran dengan melakukan pembelajaran langsung dengan media recorder sudah mengalami peningkatan. Hambatan dan kesulitan yang dialami siswa pada siklus I, sudah dapat diantisipasi. Guru menjelaskan cara memainkan recorder dengan aransemen iringan sebuah lagu. Siswa aktif dalam memainkan music recorder dengan menggunakan aransemen sebuah lagu “Bunga Nusa Indah”. Pembimbingan terhadap beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam penjarian recorder juga masih tetap dilakukan, Guru membimbing secara perorangan maupun kelompok sehingga kesulitan bermain recorder dapat teratasi. Selanjutnya siswa diminta untuk menampilkan performance melalui tes unjuk kerja. Pada siklus II siswa diminta untuk menampilkan aransemen lagu Bunga Nusa Indah secara individu (4 orang dalam 1 penampilan). Hasil tes unjuk kerja pada siklus II, nilai tertinggi diperoleh dengan nilai 90, sedangkan nilai terendah diperoleh dengan nilai 60. Rata-rata hasil belajar siswa mencapai 83,6 dengan 35 siswa tuntas dan 5 orang siswa tida tuntas. Sehingga Ketuntasan klasikal pada siklus II mencapai 87,5%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 10%, sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan model Direct Instruction dengan media recorder dapat meningkatkan hasil belajar music ansambel.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Penerapan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) dengan media recorder materi bermain musik ansambel dapat berjalan dngan baik, sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. hal tersebut dapat di lihat dari rata-rata aktifitas siswa pada siklus pertama sebesar 70,2%, dan meningkat pada siklus kedua menjadi sebesar 80,5%.
2. Penerapan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) dengan media recorder materi bermain musik ansambel telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal. Hal ini ditunjukkan dari persentase ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal sebesar 77,5% pada siklus pertama dengan 11 orang siswa yang belum tuntas, sedangkan yang tuntas adalah 29 orang siswa. Sedangkan, pada siklus kedua persentase ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 87,5% dengan 5 orang siswa yang belum tuntas, sedangkan yang tuntas mencapai 35 siswa.

Saran
1. Penerapan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) dengan media recorder materi bermain musik ansambel, sudah sesuai dengan sintaks pembelajaranya, mungkin perlu dikaji lebih ulang kelanjutanya bagaimana seberapa besar pengaruh pembelajaran Direct Instruction terhadap hasil belajar music ansambel. Hal ini dapat di tindak lanjuti oleh peneliti, manakala ingin melakukan penelitian eksperimen.
2. Penggunaan recorder sebagai media pembelajaran harus benar-benar diperhatikan,baik teknik penjarianya, cara membunyikanya, sehingga benar-benar dapat menghasilkan bunyi nada yang harmonis.
3. Pembelajaran dapat dijadikan sebagai latihan untuk membiasakan siswa dalam melakukan praktek dan pengamatan.
4. Berdasarkan temuan penelitian di lapangan, penerapan model pembelajaran langsung (Direct Instruction) dengan media recorder, dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif bagi pembelajaran seni musik, khususnya musik ansambel.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, S.2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Arsyad. 2007. Media Pembelajaran. Bandung: Rineka Cipta
Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas, 2006. Kurikulum KTSP:
_______ . 2007. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara
Kardi, 2004. Model pembelajaran Langsung. http; diakses tanggal 21 Februari 2012
Mujanto, 1996. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : Erlangga
Pamadhi, 2009. Pembelajaran Seni Budaya. Yogyakarata: Universitas Negeri Yogyakarta
Sudrajat, 2011. Pembelajaran Explicit Instruction. Malang: Jurnal Pendidikan Univ Negeri malang
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif , Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung
Sutadji, Muhadjir 2006. Pembelajaran Seni Rupa. Malang: Universitas Negeri Malang
Tim abdi Guru, 2007. MGMP Seni Budaya. Jember: Dinas Pendidikan Kabupaten Jember
Trianto, 2011. Model-model pembelajaran inovatif. Bandung: Bumi Aksara
Tyas, H. 2007. Seni Musik Untuk SMP kelas IX. Jakarta: Erlangga