Minggu, 21 Desember 2014

Meningkatkan Hasil Belajar PKn Materi Ajar ” Makna Kesatuan Wilayah Indonesia ” Melalui Penerapan Teams Games Tournament


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn MATERI AJAR ” MAKNA KESATUAN WILAYAH INDONESIA ” MELALUI PENERAPAN
TEAMS GAMES TOURNAMENT


SUPRIONO

Abstraks: Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada materi ajar ”Makna Kesatuan wilayah Indonesia”, melalui penerapan Teams Games Tournament (TGT) . Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian menunjukkan Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar ” Makna Kesatuan Wilayah Indonesia ” Melalui Penerapan Teams Games Tournament (TGT).


Kata Kunci : Hasil Belajar, Penerapan Teams Games Tournament (TGT)

PENDAHULUAN
Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Penerapan model TGT (Teams Games Tournament)dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Diusahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, dan santun. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehingga terjadi diskusi kelas.
Model pembelajaranTeams Games Tournament (TGT) adalh model pembelajaran yang melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsure permainan. Pencapaian kompetensi adalah pengetahuan pengertian, dan ketrampilan yang dikuasai sebagai hasil pengalaman pendidikan khusus. Pengethuan sebagai bagian tertentu dari suatu informasi. Pengertian kemampuan adalah mengeksplorasi pengetahuan keberbagai cara ,melihat hubungan dengan pengetahuan lain dan dapat mengaplikasikannya kesituasi baru, contoh dan masalah. Ketrampilan adalah mengetahui bagian mengerjakan sesuatu (Lie, 2002).
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas, 2005)
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang sangat mutlak diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Masalah pendidikan adalah masalah manusia dan bangsa manapun di dunia ini, krisis pendidikan menyebabkan krisis multidimensional. Manusia lahir membawa tiga potensi kejiwaan yaitu cipta, rasa dan karsa, potensi inilah yang terus dikembangkan dalam eksistensi kehidupannya sehingga manusia tergolong sebagai makhluk pendidikan.
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, bangsa Indonesia dituntut untuk mampu beradaptasi dengan meningkatkan kualitas dan sumber daya manusianya. Hal ini sangat penting untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Dalam menghadapi kemajuan Ilmu Pengetahuan yang semakin pesat maka pemerintah memberikan perhatian terhadap pendidikan dengan berbagai perbaikan dibidang pendidikan, antara lain perbaikan pada kurikulum yaitu diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), palaksanaan seminar bagi para guru, pelaksanaan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), pengadaan buku paket dan lain sebagainya. Namun, keberhasilan pendidikan belum mencapai hasil yang dinginkan.
Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah merumuskannnya dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menjelaskan bahwa pendidikan dilakukan agar mendapatkan tujuan yang diharapkan bersama yaitu: “ pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kapada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Undang-undang dasar 1945 pasal 31 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Sedangkan ayat (3) menyatakan bahwa “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”. Oleh karena itu,seluruh komponen bangsa baik orang tua, masyarakat maupun pemerintah bertanggung jawab mencerdaskan bangsa melalui pendidikan.
Keberhasilan pendidikan, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal, dimana yang dimaksud dalam faktor internal adalah dari dalam diri murid itu sendiri sedangkan faktor eksternal adalah dari guru, orang tua, masyarakat dan lain sebagainya. Oleh karena itu, salah satu peranan guru yaitu menguasai materi yang diajarkan dan terampil dalam menyajikannya. Faktor internal yang berupa motivasi, dalam proses pembelajaran sangat berperan penting sebab seseorang yang tidak termotivasi dalam belajar, maka tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar secara efektif (Mar’at. 1982).
Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menentu kebutuhannya. Segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat orang tertentu selama itu tidak bersentuhan dengan kebutuhunnya. Maslow sangat percaya bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetik. Kebutuhan-kebutuhan inilah menurut maslow yang mampu memotivasi tingkah laku individu. Oleh karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri (Mueller, 1992).
Pada proses pembelajaran PendidikanKewarganegaraan (PKn), guru mempunyai peranan penting dalam menentukan keberhasilan murid dalam belajar. Dalam meningkatkan hasil belajar murid khususnya hasil belajar pada mata pelajaran PKn sangat dibutuhkan kemampuan dari guru untuk mengembangkan kreasi mengajar, mampu menarik minat murid untuk belajar PKn. Dengan demikian guru tidak hanya mentransfer ilmu yang dimilikinya melainkan juga mempertimbangkan aspek intelegensi dan kesiapan belajar murid, sehingga murid tidak mengalami depresi mental seperti kebosanan, mengantuk, frustasi bahkan anti pati terhadap mata pelajaran PKn (Zuhairini, 1983).
Berdasarkan masalah di atas, maka peneliti menerapkan sebuah model pembelajaran yaitu Penerapan Teams Games Tournament (TGT). Model pembelajaran ini dipilih karena model ini belum pernah diterapkan di tempat penelitian dan karena adanya kesesuaian antara permasalahan pokok bahasan dengan Penerapan Teams Games Tournament (TGT). Dengan diterapkannya model ini diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya sehingga metode ini dapat digunakan sebagai alternatif oleh guru untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas. Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah: Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100. Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.
Pendidikan memegang peranan penting dalam pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Pembaharuan-pembaharuan dalam pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, salah satunya adalah pembaharuan model pembelajaran di sekolah (Mu’arifah, 2005:1).
Banyak kalangan siswa menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan, duduk berjam-jam dengan mencurahkan perhatian dan pikiran pada suatu pokok bahasan, baik yang sedang disampaikan guru maupun yang sedang dihadapi di meja belajar. Kegiatan itu hampir selalu dirasakan sebagai beban daripada upaya aktif untuk memperdalam ilmu (Sukidin, 2002: 152).
Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti di sekolah-sekolah dasar, diperoleh data bahwa pembelajaran masih menggunakan metode ceramah, guru mendominasi proses pembelajaran, guru memberikan fakta dan konsep untuk dipelajari dan dihafal dan guru memberikan waktu yang sedikit untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat. Sehingga dari beberapa hal tersebut kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru bidang studi khususnya PKn belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengolah konsep dan ide sendiri, sehingga tidak tampak pola kontruktivis pada siswa dan terjadi penurunan gairah belajar siswa. Penurunan tersebut disebabkan oleh ketidaktepatan metode/model pembelajaran.
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah mata pelajaran yang menekankan moralitas warga negara dan pengetahuan lingkungan sosial budaya serta nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan Dunia (Depdiknas, 2006). Dalam mata pelajaran PKn siswa diharapkan untuk dapat berfikir kritis dalam memanfaatkan pengetahuan untuk memahami kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Semua guru dalam mengajar mempunyai tujuan yaitu agar murid memahami materi yang telah disampaikan, sedangkan kebehasilan dalam proses pembelajaran ini dapat dilihat dari keaktifan siswa dan hasil belajar.
Dengan metode yang lama banyak siswa beranggapan bahwa pembelajaran PKn sangat membosankan karena pembelajaran metode yang digunakan yaitu metode konvensional dimana pembelajaran berpusat pada guru dan tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan mengemukakan pendapatnya. Untuk itu perlu pembaharuan dalam metode atau model pembelajaran khususnya pembelajaran PKn.
Metode/model mengajar sangat diperlukan oleh seorang guru, dimana guru sebagai pemegang manajemen kelas yang akan menentukan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan yang hendak dicapai. Dalam proses pembelajaran guru harus menggunakan metode atau model yang tepat agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif ( Jamarah, 2008). Maka pemilihan strategi pembelajaran dengan memilih model dan metode pembelajaran yang tepat untuk siswa, tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bidang studi PKn di SDN Sumberlesung 01 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember dapat diketahui bahwa permasalahan dan hambatan yang timbul dalam proses, belajar mengajar sebelumnya dalah ketidaksesuaian metodepembelajaran dengan pokok bahasan yang diajarkan, sehingga siswa merasa kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan.
Berdasarkan masalah di atas, maka peneliti mencoba menerapkan sebuah model pembelajaran yaitu Penerapan Teams Games Tournament (TGT). Model pembelajaran ini dipilih karena model ini belum pernah diterapkan di tempat penelitian dan karena adanya kesesuaian antara permasalahan pokok bahasan dengan Penerapan Teams Games Tournament (TGT).
Dengan diterapkannya model ini diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya sehingga metode ini dapat digunakan sebagai alternatif oleh guru untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas.
Rumusan masalah dalam penelitian tindakankelasini adalah:Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar ” Makna Kesatuan Wilayah Indonesia ” Melalui Penerapan Teams Games Tournament (TGT) Siswa Kelas V SDN Sumberlesung 01.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, adalah :
  1. Mengetahui peningkatan hasil belajar pada materi ajar ”Makna Kesatuan wilayah Indonesia”, melalui penerapan Teams Games Tournament (TGT) pada siswa kelas V SDN Sumberlesung 01 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.
Adapun manfaat hasilpenelitiantindakankelas ini adalah:
  1. Bagi peneliti, penelitian ini memberikan pengalaman dalam mengembangkan pengetahuan tentang disiplin ilmu yang ditekuni.
  2. Bagi sekolah, sebagi irformasi dalam pembelajaran dan alternatif metode mengajar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
  3. Bagi peneliti lain dapat dijadikan bahan pengembangan untuk penelitian lebih lanjut.


METODE PENELITIAN
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SDN Sumberlesung 01 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013. Subyek adalah Siswa Kelas V SDN Sumberlesung 01 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember . Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas .
Adapun desain/rancangan siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins , yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi: perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).
Penelitian ini direncanakan menggunakan 2 siklus jika pada siklus pertama hasil belajar sudah mencapi ketuntasan maka siklus akan dihentikan begitu sebaliknya.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu memperoleh data-data yang relevan dan akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Metode observasi 2) Metode wawancara 3) Metode tes 4) Metode dokumentasi.
Analisis merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif terhadap data-data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara oleh peneliti seperti tanggapan guru dan siswa mengenai penerapan Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dan kegiatan guru selama proes pembelajaran berlangsung sedangkan analisis data deskriptif kuantitatif diperoleh dari hasil tes.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HasilPenelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sumberlesung 01 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut Kegiatan pertama-tama dilakukan dalam penelitian ini adalah melaksanakan kegiatan sesuai dengan desain yang telahdibuat sebelumnyayaitu Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Padatahap ini persiapan telah dilakukan, baik yang berkaitan dengan persiapan mengajar (Rencana Pembelajaran, alat evaluasi dan perencanaan setting pembelajaran) lembar observasi, panduan wawancara, dan persiapan latihannya. Pada tahap pelaksanaan Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT).Guru mengajarmateri Mata Pelajaran Pendidika Kewarganegaraan sesuai rencana yang telahdirencanakan, guru lebih menekan kan pada aktivitas belajarsiswa.
Langkah-langkah dalam pembelajaran pertama-tama guru menjelaskan ruang lingkup materi kemudian guru menjelaskan garis besar materi Pendidikan Kewarganegaraan, selanjutnyasiswadiberitugasdiskusikelompokdengantopik yang telahditetapakansebelumnya, kemudian dipresentasikan siswa yang mau maju kedepan. Langkah selanjutnya guru memberin kesempatan kepada para siswa untukbertanya.Setelah proses diskusiselesal, setiap siswa diminta membuat kesimpulan hasildiskusi selanjutnya diberitugas soal.
Kegiatan observasi Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dilakukanpa dasaat proses pembelajaran berlangsung. Observasi utamanya dilakukanoleh guru (sebagai peneliti) dan dibantu oleh guru lain, observasi difokuskan pada proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran utamanya berkaitan dengan Makna Kesatuan Wilayah Indonesia.
Dalam hal ini sebelum Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dilaksanakan maka pada kondisi awal diperoleh nilai< 65 sebanyak 18 siswa dengan prosentase 43%, dan yang mendapatnilai 65-100 sebanyak 24 siswadenganprosentase 57%, berdasarkan analisis data danpengolahan data hasilbelajar, maka kondi sisawa pembelajaran belum mencapai ketuntasan.
Padatahapan-tahapan ini akan dijelaskan pada pembelajaran berikutnya yakni Siklus I danSiklus II yang tujuannya untuk mencari ketuntasan hasil belajar pada Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT).
Alasan ketertarikan terhadap metode pembelajaran ini belum pernah diterapkan, siswa lebih aktif dalam belajar dan siswa. Berkaitan dengan hasil belajar akan dijelaskan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
Perencanaan
Kegiatan perencanaan Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT),
Tindakan
Dalam kegiatan tindakan meliputi seluruh proses kegiatan belajar mengajar melalui Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT).
Observasi
Dalam kegiatan observasi adalah kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan proses Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT), meliputi peningkatan minat belajar, aktivitas dan kemampuan menyelesaikan tugas.
Refileksi
Dalam kegiatan refleksi yang dilakukan antara lain, meliputi kegiatan analisis hasil pembelajaran sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara kolaborasi dengan Guru Kelas V Sumberlesung 01 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember yang membantu dalam pelaksanaan observasi dan refleksi selama penelitian berlangsung, sehingga secara tidak langsung kegiatan penelitian ini bisa terkontrol sekaligus menjaga kevalidan hasil penelitian.
Penjelasan Per Siklus
Penelitian tentang sikap terhadap MaknaKesatuanwilayah Indonesia dengan Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)melalui beberapa tahapan yakni perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi dan dilaksanakan dalam 3 (tiga) siklus (tentative) sebagai berikut.
  1. Siklus I (Pertama)
Dalam siklus I (pertama) ini penulis melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan proses sebagai berikut:
  1. Perencanaan
Kegiatan perencanaan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini meliputi :
  1. Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT).
  2. Menyiapkan data MaknaKesatuan Wilayah Indonesia sesuai dengan permasalahan.
  3. Menyiapkan blangko observasi.
  4. Menyiapkan blangko evaluasi.
  1. Tindakan
Kegiatan tindakan dalam penelitian kelas ini meliputi :
  1. Menjelaskan kegiatan belajar secara umum.
  2. Membentuk kelompok (4 Kelompok @ 10/11 anak).
  3. Memberikan beberapa data Pemerintah Pusat.
  4. Tiap kelompok memilih masalah sendiri.
  5. Diskusi kelompok membahas masalah masing-masing.
  6. Membantu secukupnya pada masing-masing kelompok.
  7. Melaporkan hasil diskusi kelompok.
  1. Observasi
Kegiatan observasi dalam penelitian kelas ini sebagai berikut :
  1. Mengamati perilaku siswa terhadap penggunaan Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)
  2. Memantau diskusi / kerjasama antar siswa.
  3. Mengamati proses transfer kelompok.
  4. Mengamati pemahaman masing-masing anak.
  1. Refleksi
Kegiatan refleksi dalam kegiatan penelitian kelas ini meliputi :
  1. Mencatat hasil observasi.
  2. Mengevaluasi hasil observasi.
  3. Menganalisa hasil Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)
  4. Memperbaiki kelemahan untuk siklus berikutnya.


  1. Siklus II (Kedua)
Dalam siklus II (kedua) ini peneliti menetapkan langkah dan proses sebagai berikut :
    1. Perencanaan
Kegiatan perencanaan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi :
  1. Menyusun rencana perbaikan.
  2. Memadukan hasil refleksi siklus I agar siklus II lebih efektif.
  3. Menyiapkan blangko observasi.
  4. Menyiapkan blangko evaluasi.
    1. Tindakan
Kegiatan tindakan dalam penelitian kelas ini meliputi :
  1. Menjelaskan kegiatan belajar mengajar dan informasi pada siklus I
  2. Membentuk kelompok (4 Kelompok @ 10/11 anak).
  3. Memberikan beberapa data pengaruh globalisasi.
  4. Tiap kelompok memilih masalah sendiri.
  5. Diskusi kelompok membahas masalah masing-masing.
  6. Membantu secukupnya pada masing-masing kelompok.
  7. Melaporkan hasil diskusi kelompok.
    1. Observasi
Kegiatan observasi dalam penelitian kelas ini adalahmengamati perilaku siswa terhadap penggunaanPembelajaran Teams Games Tournament (TGT).

Pencapaianketuntasanhasilbelajar yang telahdijelaskantahapan-tahapandiatas ,makatabeldibawahinimenjelaskanketuntasanberdasarkanpadaanalisis data KondisiAwal, Siklus I, danSiklus II.

Tabel 2.PerbandinganKetuntasanHasil BelajarPKnKelas V denganPenerapan Teams Games Tournament (TGT) Semester GanjilTahunPelajaran2012/2013padaKondisiAwal, Siklus I, danSiklus II .

Kriteria Nilai
KondisiAwal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
18
43%
7
17%
2
5%
65 - 100
24
57%
35
83%
40
95%
Jumlah
42
100%
42
100%
42
100%
Sumber : Data yang diolah
Pada analisa data ,Kondisi Awal sudah dijelaskan di atas , dan belum mencapaiketuntasan, sehinggadilanjutkananalisa data hasilbelajarmelaluipenerapanTeams Games Tournament (TGT)matapelajaranPKnkelas V Siklus I, yang mendapatnilai<65 sebanyak 7 siswadenganprosentase 17% dan yang mendapatnilai 65-100 sebanyak 35 siswadenganprosentase 83%, makapadasiklus I secaraklasikaldinyatakantuntasbelajar.
Untukmencapai target ketuntasan, analisa data berikutnyadilakukanpadasiklus II, denganpencapaiannilai<65 sebanyak 2 siswadenganprosentase 5% dan yang mendapatnilai 65-100 sebanyak 40 siswadenganprosentase 95%, dengan demikian hasil analisis data padasiklus data padasiklus II, secarasignifikantuntasbelajar. Dan tidak perlu diadakan analisis berikutnya mengingat sudah mencapai target ketuntasan secara signifikan.
Untukmemperjelashasilketuntasanbelajar, makadapatdigambarkanpadagrafikdibawahini .
Grafik 1.Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar PKn Kelas V dengan Penerapan Teams Games Tournament (TGT) padaKondisiAwal, Siklus I, danSiklus II .
Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis kuantitatif diskriptif di atas, menunjukan bahwa kadar proses pembelajaran siswa mengalami peningkatan dari tindakan pertama dibanding yang kedua. Dari semua jenis aktivitas. Lebih jelas dapat dilihat pada grafik dan tabel di atas.
Peningkatan ini dapat kita pahami karena pada dasarnya adalahPenerapan Teams Games Tournament (TGT).Tugas guru adalah mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa PembelajaranPenerapan Teams Games Tournament (TGT) adalah suatu strategi yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam menemukan prinsip-prinsip untuk mereka sendiri melalui penyelidikan secara sistematis, kritis, logis dan analitis berdasarkan konsep dan prinsip-­prinsip. Oleh karena itu proses pengajaran harus memberikan stimulus agar peserta didik dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu guru juga berperan untuk mendorong siswa agar memiliki pengalaman dan melakukan percobaan.
Peningkatan yang dicapai oleh siswa pada tindakan pertama yang cukup signifikan ini, akan menjadi dasar bagi peneliti untuk meneruskan model pembelajaran ini dengan tindakan kedua, khususnya untuk mencapai kriteria ketuntasan belajar secara klasikal walaupun model pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada waktu proses belajar mengajar cukup bervariasi, akan belum banyak memberikan perubahan pada upaya optimalisasi peningkatan proses pembelajaran yang tuntas.
Tingkat ketuntasan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : motivasi, suasana kelas, materi pembelajaran, kompetensi (profesi guru) dan lain-lain. Khusus guru berdasarkan pengamatan peneliti, relatif kurang dasar profesi keguruannya, Keadaan seperti itu, akan mempengaruhi seorang guru dalam proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kadar proses pembelajaran siswa, khusus variasi-variasi model pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung dari interaksi guru dan siswa. Interaksi guru dan siswa dapat dilihat dalam hal tanya jawab yang dilakukan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar (Sudjana,1990) dan proses interaksi akan berjalan bila siswa memiliki reaksi cepat terhadap stimulus yang diberikan oleh guru.
Peran guru dalam mendorong peningkatan hasil belajar siswa masih diperlukan terutama dalam memberikan stimulus dan mengkondisikan belajar yang kondusif karena dengan selalu memperhatikan kondisi tersebut dalam pemberian stimulus oleh guru akan dapat mendorong siswa untuk semakin mandiri, pembelajaran mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat meningkatkan proses pembelajaran.
Pemberian motivasi untuk memanfaatkan sarana pembelajaran yang tersedia dan selalu memanfaatkan belajar kelompok akan dapat meningkatkan kadar proses pembelajaran optimal dan akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa sebagaimana diharapkan bersama, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin mengglobal sekarang.
Peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik suatu mata pelajaran adalah merupakan suatu kemampuan seorang pendidik untuk memiliki daya kreatif dan inovatif melalui suatu percobaan tindakan dikelas. Kegiatan ini harus dilakukan terus menerus oleh seorang pendidik, sampai mendapatkan model pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan karakteristikmata pelajaran yang dibinanya.
Hasil ini apabila dilaksanakan akan dapat mendorong siswa untuk meningkatkan motivasi belajar melalui kolaborasi model pembelajaran dalam rangka untuk mencapai suatu target pembelajaran yang direncakan. Tercapainya target pembelajaran itu harus didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai dan representative. Kondisi lingkup pembelajaran yang kondusif dan sarana yang reprentatif akan membuat siswa belajar lebih giat, senang dan kreatif dalam belajar. Kondusif pembelajaran yang dimiliki oleh sekolah ini sudah cukup memadai dan representative, untuk selanjutnya merupakan kewajiban seorang pendidik menyusun dan melaksanakan proses pembelajaran yang dapat mendorong dan memanfaatkan kondisi yang semaksimal mungkin dalam meningkatkan kadar proses pembelajaran yang berkualitas, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas hasil pembelajaran yang berdaya saing tinggi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis di atas penelitian tindakan kelas, kami simpulkan sebagai berikut : Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar ” Makna Kesatuan Wilayah Indonesia ” Melalui Penerapan Teams Games Tournament (TGT) Siswa Kelas V SDN Sumberlesung 01.

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas peneliti memberikan saran-saran : 1)Untuk mengajar hendaknya menerapkan Teams Games Tournament (TGT), karena dapat Meningkatkan hasil belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan; 2) Bagi lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat merupakan bahan masukan yang berguna dan juga sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan kegiatan belajar mengajar dimasa mendatang.

DAFTAR RUJUKAN
Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta : Erlangga.
Depdiknas. 2006. Pedoman Penyusunan Silabus. Jakarta: Puskur.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka cipta
Gerungan, W.A. 1982. Psychologi Sosial. Bandung. Eresco.
Kasbolah , K 1998.Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Jakarta: Dirjendikti Depdiknas.
Lie, A. 2002. Cooperative Learning Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-ruang
Kelas. Jakarta: Grasindo.
Mar’at. 1982. Sikap Manusia, perubahan dan Pengukurannya. Jakarta. Ghalia Indonesia.
Mueller, DJ.. 1992. Pengukuran Sikap Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukidin, Dkk. 2005. Managemen Pnenelitian Tindakan Kelas. Surabaya: I Cendikia
Zuhairini, Dkk. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Surabaya., Usaha Nasional.