Minggu, 21 Desember 2014

Implementasi Team Assisted Individualization (TAI) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Karangan Anak” Siswa Kelas Iv Sd Negeri Slateng 03



IMPLEMENTASI TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI AJAR “KARANGAN ANAK” SISWA KELAS IV SD NEGERI SLATENG 03

SURASMI

Abstraks: Assisted Individualization adalah model pembelajaran menekankan pada penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan memperoleh kesempatan yang sama untuk berbagi hasil pada setiap anggota kelompok.Tujuan penelitian adalah mengkaji tentang: Implementasi Team Assisted Individualization (TAI) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Karangan Anak” Siswa Kelas IV SD Negeri Slateng. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas sebab peneliti ingin meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan ini dilakukan dengan mengikuti langkah­-langkah pokok PTK yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan refleksi dan perencanaan ulang jika belum mencapai ketuntasan. Berdasarkan hasil analisis data yang telah peneliti laksanakan disimpulkan sebagai berikut: Implementasi Team Assisted Individualization (TAI) dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Karangan Anak” Siswa Kelas IV SD Negeri Slateng 03

Kata Kunci : Team Assisted Individualization (TAI), dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengantarkan anak untuk tumbuh dan berkembang menuju ke arah kedewasaan. Pengajaran Bahasa Indonesia mempunyai peran penting, sebab pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan penalaran, serta kemampuan emosional dan rasional.Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan manusia Indonesia.
Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya (Depdiknas, 2006).
Tidak ada satu bangsapun yang tidak memiliki pendidikan baik dalam bentuk bahasa, agama maupun dalam bentuk-bentuk yang lain. Dapat kita tandaskan bahwa hanya dengan pendidikan, manusia secara minimal dapat mempertahankan eksistensinya.
Dalam proses pembelajaran terjadi proses interaksi antara guru dengan siswa. Dalam pembelajaran terdapat dua konsep kegiatan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya yaitu belajar dan mengajar. Menurut Hamalik (2005: 27) belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi mengalami, aktivitas dan hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan temannya melalui latihan dan pengalaman. Kata kuncinya adalah suatu proses perubahan tingkah laku, yaitu dalam bentuk prestasi yang telah direncanakan terebih dahulu (Mulyasa, 2007; Moedjiono dan Dimyati, 1992).
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada seseorang yang mengarah pada suatu penguasaan terhadap suatu pengetahuan tertentu (Djamarah, S B. 1996). Aktivitas dan hasil belajar menunjukkan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajaranya atau perubahan hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa setelah melakukan proses belajar (Gulo, W. 2002; Usman, C. 1997.). Dalam pembelajaran di dalamnya terjadi interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan siswa dengan lingkungan, dalam hal ini belum tampak selama peneliti melakukan observasi.
Rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia adalah kegagalan siswa dalam belajar yang disebabkan oleh kurang efektifnya pelaksanaan pembelajaran, apalagi dengan metode pembelajaran yang tidak variatif.
Team Assisted Individualization adalah salah satu jenis pembelajaran kooperatif yang mengkombinasikan keunggulan pengajaran kooperatif dan program pengajaran individual. Pada pelaksanaannya, model pembelajaran ini lebih menekankan pada penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan memperoleh kesempatan yang sama untuk berbagi hasil pada setiap anggota kelompok.
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah dikemukakan permasalahan sebagai berikut: Implementasi Team Assisted Individualization (TAI) Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Karangan Anak” Siswa Kelas IV SD Negeri Slateng 03 Kecamatan Ledokombo Jember ?
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini ialah untuk mengkaji tentang: Implementasi Team Assisted Individualization (TAI) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Karangan Anak” Siswa Kelas IV SD Negeri Slateng 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.
Manfaat hasil penelitian tindakan kelas bagi siswa, guru dan sekolah sebagai berikut :
  1. Bagi siswa, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat mengembangkan penalaran dan kelancaran membaca serta kemampuan emosional.
  2. Bagi guru, hasil penelitian ini sebagai masukan untuk meningkatkan proses pembelajaran di kelas.
  3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian selanjutnya.
  4. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian sejenis.



METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Slateng 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember di kelas IV. Subjek penelitian seluruh siswa kelas IV berjumlah 44 siswa.






Rancangan Penelitian
Adapun desain siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut :
4. Reflection
1. Plan



2. Action
3.Observation
Tuntas Tidak
Revised of Plan
4. Reflection




Tuntas Tidak
4. Reflection
2. Action
3.Observation




Tuntas Tidak
2. Action
3.Observation


Gambar I. Model Penelitian Hopkins (PGSM, 1999:8)
Rancangan penelitian merupakan strategi penelitian yang berisi gambaran penelitian yang mencakup langkah-langkah penelitian secara berurutan dan sistematis guna mencapai tujuan.
Penelitian ini direncanakan dalam 3 siklus (bersifat tentatif) jika berdasarkan analisis data dan refleksi telah menunjukkan keberhasilan maka dianggap cukup dan siklus tidak diteruskan. Ada beberapa langkah dalam setiap siklus yang harus dilakukan meliputi:
  1. Tahap perencanaan.
  2. Tahap pelaksanaan.
  3. Tahap observasi.
  4. Tahap refleksi untuk setiap siklus.

  1. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini akan direncanakan segala sesuatu yang akan digunakan selama proses penelitian di kelas, mendiskusikan tentang skenario dan seting penelitian, menyiapkan rencana pembelajaran, menyiapkan alat seperangkat evaluasi dan menyiapkan kapan waktu yang cocok dan menyiapkan catatan bekas bebas dan angket.

  1. Tahap Pelaksanaan
Tahap ini guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disiapkan yaitu melaksanakan proses pembelajaran eksperimen disertai LKS, berikut evaluasinya.

  1. Tahap Observasi
Pada tahap ini, guru Ilmu Pengetahuan Sosial akan melakukan observasi tentang pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, baik pada proses pembelajaran maupun diakhir proses pembelajaran. Pada kegiatan ini menggunakan lembar observasi dan dilengkapi dengan angket pedoman wawancara dan catatan.

  1. Tahap Refleksi
Pada tahap refleksi, guru Ilmu Pengetahuan Sosial melakukan proses pengkajian terhadap serangkaian kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil kajian ini akan dijadikan sebagai dasar-dasar pertimbangan untuk meningkatkan proses penilaian selanjutnya yaitu siklus II dan seterusnya. Setelah semuanya dipertimbangkan secara seksama, maka persiapkanlah pelaksanaan siklus selanjutnya.
Untuk siklus-siklus selanjutnya aktivitas selalu diawali dengan tahap perencanaan yang baru sebagai hasil siklus I, selanjutnya diteruskan dengan tahap observasi dan refleksi. Pada kegiatan siklus lanjutan kadar pelaksanaannya karena permasalahannya semakin mengecil.

Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik pengamatan, catatan lapangan, wawancara dan studi dokumenter.

Analisis Data
Analisis dilakukan secara diskripsi kualitatif berdasarkan hasil observasi terhadap peningkatan prestasi belajar dengan langkah-langkah berikut:
  1. Melalui reduksi, yaitu mengecek dan mencatat kembali data-data yang telah dikumpulkan.
  2. Melakukan interpretasi, yaitu menafsirkan yang diwujudkan dalam bentuk pernyataan.
  3. Melakukan inferensi, yaitu menyimpulkan apakah dalam pembelajaran ini terjadi peningkatan prestasi belajar atau tidak (berdasarkan hasil observasi).
  4. Tahap tindak lanjut, dilakukan perumusan langkah-langkah perbaikan untuk siklus berikutnya atau dalam pelaksanaan di lapangan setelah siklus I berakhir berdasarkan inferensi yang telah diterapkan.
  5. Simpulan diambil berdasar analisis hasil-hasil observasi yang disesuaikan dengan tujuan penelitian ini, kemudian dituangkan bentuk interprestasi pernyataan.
Kegiatan analisis menggunakan pedoman indikator sebagai berikut :
  1. Minat membaca.
  2. Kemampuan penalaran.
  3. Menulis ide karangan anak.
Adapun kriteria peningkatan prestasi belajar adalah sebagai berikut :
    1. Rumus untuk menentukan peningkatan prestasi belajar siswa setiap indikator adalah :
Peningkatan Prestasi = Jumlah Siswa yang Aktif X 100%
Jumlah Siswa yang Masuk
    1. Peningkatan prestasi belaiar siswa dinyatakan dengan ketentuan sebagai berikut :
      • Motivasi berprestasi dinyatakan meningkat jika rata-rata persentase masing-masing kegiatan dinilai lebih dari hasil 70 %.
    2. Meningkatnya prestasi belaiar siswa ditandai dengan indikator hasil belajar (nilai hasil ulangan harian formatif) menjadi lebih baik daripada hasil belajar sebelumnya.

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah dikemukakan permasalahan sebagai berikut : Implementasi Team Assisted Individualization (TAI) Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Karangan Anak” Siswa Kelas IV SD Negeri Slateng 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember ?

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I
Kegiatan pembelajaran ini diawali dengan membuat kesepakatan tentang tata tertib siswa dalam PBM.
  • Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil.
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan LKS.
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan secara pribadi kepada guru tentang segala hal yang berhubungan dengan materi yang belum dipahaminya.
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlomba meraih nilai yang terbaik.
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi.
Langkah awal ini terbukti memberikan dampak positif terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan proses pembelajaran ini siswa merasa lebih senang di dalam belajar dan merasakan kebebasan di dalam belajar.
Siswa menjawab 20 item tes pada LKS dengan mencari dan menemukan sendiri dalam buku paket dan penunjang Bahasa Indonesia dan media yang telah disediakan oleh peneliti dan siswa.
Guru juga memberikan kesempatan secara individu untuk menanyakan segala sesuatu yang berhubungan dengan materi yang belum di mengerti atau pahami, beberapa soal tidak ditemukan jawabannya di dalam buku paket dijelaskan peneliti secara klasikal. Sedang pertanyaan-pertanyaan lain yang bersifat individu dijawab pula secara individu.
Beberapa hal yang perlu dicatat pada pertemuan pertama ini antara lain:
  1. Waktu yang digunakan siswa belum merata.
  2. Penelitian kalimat belum sempurna, anak kurang teliti.
  3. Pengembangan dan penalaran kurang sehingga siswa belum begitu paham apa yang dibacanya.
Hasil belajar pada kondisi awal sebelum penerapan model Team Assisted Individualization menunjukkan bahwa terdapat 18 siswa siswa yang mendapat nilai <65 dengan persentase sebesar 41%. Sedangkan siswa yang mendapat nilai 66-100 berjumlah 26 siswa atau 59% dari jumlah seluruh siswa. Kondisi tersebut dinyatakan belum tuntas belajar.
Peningkatan hasil belajar siswa mulai muncul ketika penerapan Team Assisted Individualization (TAI) mulai dilakukan, karena siswa merasa proses pembelajaran lebih menyenangkan. Peningkatan hasil belajar tersebut dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas IV SDN Slateng 03 Siklus I sebagai berikut :
Kriteria
Siswa
Persentase
< 65
10
23 %
65 – 100
34
77 %
Jumlah
44
100 %
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan analisis data, minat dan hasil belajar tabel diatas dapat diketahui bahwa siswa pada Siklus I yang mendapat nilai < 65 sebanyak 10 siswa atau sebesar 23%, yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 34 siswa atau 77%. Maka pada siklus I berdasarkan analisis data secara klasikal dinyatakan tuntas belajar.
Pada tahap selanjutnya, guru mengajak siswa untuk membahas hasil pengerjaan LKS dengan cara memberikan kebebasan kepada siswa untuk menulis jawaban di papan tulis. Kemudian dilakukan pembahasan bersama tentang jawaban yang telah ditulis di papan tulis tadi sesuai dengan buku paket dan penunjang Bahasa Indonesia yang mereka miliki. Siswa yang jawabannya salah/kurang sempurna harus menyempurnakan jawabannya (pembetulan) sesuai dengan jawaban yang ada, hal ini dimaksudkan agar kegiatan selanjutnya tidak mengalami kesalahan. Jika tidak melakukan pembetulan jawaban kesalahan ini akan terbawa pada kegiatan selanjutnya.
Dari jawaban siswa di papan tulis soal 20 item tes soal yang dikerjakan siswa menunjukkan belum dikuasi sepenuhnya. Mengerjakan soal yang salah perlu disempurnakan berupa kekurang telitian tulisannya, hal ini dimaksudkan untuk lebih memberikan motivasi belajar para siswa, bahwa semakin sempuma dan teliti jawabannya akan mendapatkan penghargaan/nilai yang lebih baik.
Guru memberikan kesempatan pada siswa secara berkelompok untuk menghasilkan jawaban yang sudah dibetulkan di atas dengan melakukan tanya jawab antar kelompok selama 15 menit.
Berdasarkan hasil ulangan harian (formatif) yang dilaksanakan, bahwa sudah ada hasil peningkatan prestasi belajar siswa daripada pertemuan sebelum dilaksanakannya penelitian ini walaupun hasilnya belum signifikan.
Beberapa siswa memang telah menunjukkan hasil yang sempurna namun masih ada beberapa siswa yang nilainya masih rendah. Pembelajaran melalui penerapan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia namun demikian masih perlu perbaikan terhadap beberapa siswa.

Refleksi
Walaupun pada siklus I ini baik dan proses pembelajarannya menunjukkan hasil yang cukup baik, tetapi beberapa catatan penyempurnaan masih perlu dilakukan, antara lain :
  1. Tata tertib belajar perlu disempumakan antara lain meliputi :
    1. Perlu adanya batasan waktu dalam pengerjaan LKS.
    2. Penyempumaan tulisan, tanda baca, huruf besar dan kelengkapan huruf dalam kalimat
  1. Peneliti sebaiknya menuliskan nomor-nomor soal di papan tulis, siswa tinggal menuliskan jawaban pada nomor yang telah disediakan oleh peneliti, hal ini dilakukan pada pembahasan LKS. Selain itu peneliti juga menunjuk siswa untuk mengisi LKS yang ada di papan tulis dengan berurutan supaya situasi kelas lebih teratur.
  2. Pada saat diskusi kelompok, tempat duduk siswa sebaiknya berdekatan dengan kelompok anggotanya, hal ini dimaksudkan agar lebih cepat pelaksanaan diskusinya.
  3. Penukaran hasil pengerjaan LKS harus dilakukan pemeriksaan silang.

Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II
Dengan melihat hasil rekomendasi pada siklus I, telah diadakan penyempurnaan dengan hasil sebagai berikut :
Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Belajar Bahasa Indonesia
Pada saat pembukaan pembelajaran, peneliti memberikan pengarahan ulang tentang cara belajar yang disempurnakan dari siklus I, yang meliputi :
    1. Peneliti memberikan batasan waktu pada siswa dalam mengisi jawaban dan tata cara pengerjaan LKS, hal ini dimaksudkan agar target waktu pada pertemuan tersebut tercapai.
    2. Peneliti meminta agar siswa meningkatkan ketelitian penelitian dan pengerjaan soal.
Beberapa siswa akan merasa terkurangi kebebasannya dan peneliti telah menduga sebelumnya hal ini pasti terjadi, tetapi dengan memberikan penyempurnaan akan dapat diukur sejauh mana peningkatan prestasi dalam pembelajarannya.
Berikut ini data aktifitas siswa yang menunjukkan peningkatan prestasi belajar siswa pada siklus II pada saat pengerjaan LKS.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia pada Siklus II sebagai berikut:
Kriteria
Siswa
Persentase
< 65
2
5 %
65 – 100
42
95 %
Jumlah
44
100 %
Sumber : Data yang diolah
Dari data di atas dapat dilihat bahwa pada siklus II ini terjadi peningkatan prestasi belajar siswa pada saat pengerjaan LKS di siklus I. Ketuntasan mencapai 95% yakni sebanyak 42 siswa hal ini menunjukkan tingkat ketuntasannya tinggi, yang belum tuntas hanya 2 siswa atau 5%. Dengan demikian pada siklus II dikatakan tuntas belajar secara signifikan sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Untuk lebih jelas, perbandingan ketuntasan hasil belajar Bahasa Indonesia materi “Karangan Anak” dengan penerapan model Team Assisted Individualization (TAI) dapat dilihat pada grafik 1 di bawah ini.
Grafik1:Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia siklus I&II
Sumber : data yang diolah
Data di atas menunjukkan bahwa pada siklus II peningkatan hasil belajar siswa masih tetap tinggi dan rata-rata meningkat. Pada siklus I, peningkatan hasil belajar siswa dalam pembahasan LKS sangat menggembirakan.
Pada siklus II ini siswa diberi waktu 10 menit untuk menghafalkan jawaban LKS, secara berkelompok dengan berdiskusi. Pelaksanaan diskusi sangat bagus dan semangat karena masing-masing kelompok saling mempertahankan kemenangan pada siklus I dan pada siklus II pun mereka ingin merebut kemenangannya. Sehingga disini munculah persaingan sehat antar kelompok tenaga, hal ini menjadi motivasi dan peningkatan prestasi belajar siswa.
Keikutsertaan siswa dalam melaksanakan diskusi cukup tinggi, yaitu mencapai 95% (Siklus II), meningkat dibanding hasil siklus I (77%) rata-rata peningkatan belajar siswa dalam mengikuti diskusi mengalami peningkatan.

Pembahasan
Hasil belajar siswa diraih pada siklus II ini sangat meningkat dan peningkatannya signifikan. Keteraturan yang diciptakan oleh peneliti dalam pembelajaran ini membuahkan hasil yang positif berupa kenaikan hasill belajar dari siklus I ke siklus II. Dalam hal ini oleh peneliti, dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar melalui penerapan pendekatan komunikatif di SDN Slateng 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Semester genap tahun pelajaran 2012/2013 menunjukkan hasil sebagai berikut : Berdasarkan analisis data, minat dan hasil belajar tabel diatas dapat diketahui bahwa siswa pada Siklus I yang mendapat nilai < 65 sebanyak 10 siswa atau sebesar 23%, yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 34 siswa atau 77%. Maka pada siklus I berdasarkan analisis data secara klasikal dinyatakan tuntas belajar.
Ketuntasan pada siklus II mencapai 95% yakni sebanyak 42 siswa hal ini menunjukkan tingkat ketuntasannya tinggi, yang belum tuntas hanya 2 siswa atau 5%. Dengan demikian pada siklus II dikatakan tuntas belajar, sehingga tidak perlu diadakan analisis berikutnya, mengingat pencapaian target pembelajaran melalui Penerapan Model TAI di kelas IV SDN Slateng 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember . menunjukkan keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran pada metode tersebut. Guru sekaligus sebagai peneliti perlu program perbaikan dan pengayaan melalui lembar-lembar soal, lembar kerja siswa, pekerjaan rumah dan penugasan lain yang relevan dengan materi Bahasa Indonesia.
Dalam hal ini untuk membantu siswa dalam melancarkan kegiatan belajar bahasa Indonesia dengan materi ajar “Karangan anak” dengan tujuan anak mempunyai kemampuan mengarang serta menyusun kalimat dengan benar disesuaikan kurikulum Sekolah Dasar.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian tindakan kelas (PTK) yang telah peneliti laksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut : Implementasi Team Assisted Individualization (TAI) Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Karangan Anak” Siswa Kelas IV SD Negeri Slateng 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten .

Saran-Saran
Berdasarkan hasil dan kesimpulan dalam penelitian tindakan kelas ini saran-saran yang peneliti sampaikan :
  1. Sebaiknya siswa rajin membaca dan menulis dengan tujuan siswa dapat membuat karangan anak dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena dengan kegiatan seperti ini akhirnya siswa akan menjadi terampil Berbahasa Indonesia, berkomunikasi dan memahami dengan mudah pengetahuan yang dibacanya,
  2. Pada penggunaan Team Assisted Individualization (TAI) diharapkan pembelajaran Bahasa Indonesia lebih meningkat dalam proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru terhadap siswa.

DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas, 2006. Pedoman Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur
Djamarah, S B. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik , OE.2004. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Moedjiono dan Dimyati.1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud Dijen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Mulyasa. 2007. Menjadi guru Profesional menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem.Jakarta: Rineka Cipta.
Suryadi. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar Bandung: Mandar Maju.
Tantra, D K. 1998. Penelitian Tindakan Kelas Dasar dan Pelaksanaan. Singaraja: P3M STKIP Singaraja.
Usman, C. 1997. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.