Minggu, 21 Desember 2014

Efektivitas Pendekatan CTL Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Penguasaan Konsep Dan Inkuiri Dalam Pembelajaran Sejarah


EFEKTIVITAS PENDEKATAN CTL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENGUASAAN KONSEP DAN INKUIRI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

Mohamad Na’im

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk :1).Mengkaji efektivitas pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk meningkatkan kemampuan penguasaan konsep-konsep sejarah; 2).Mengkaji efektivitas pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam meningkatkan kemampuan inkuiri siswa. Desain penelitian yang diterapkan adalah Nonequivalent (Pretest and Posttest) Control-Group Design. Hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan: 1)Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learnig (CTL) efektif untuk meningkatkan penguasaan konsep sejarah; 2) Penerapan pendekatan Contextual Teaching anf Lerning (CTL) efektif untuk meningkatkan kemampuan inkuiri siswa.

Kata Kunci: CTL, konsep dan inkuiri

PENDAHULUAN
Pembelajaran sejarah memiliki unsur sentral dalam masyarakat beradab. Prinsip-prinsip penting yang digunakan untuk mendidik generasi muda selalu berasal dari masa lampau masyarakat tersebut (Fitzgerald, 1977: 138). Sejarah memiliki peran strategis dalam konteks pendidikan generasi penerus, maka sejarah memiliki fungsi utama dalam mengembangkan dan membentuk kesadaran siswa terhadap sejarah bangsa dan negaranya. Di samping itu, pembelajaran sejarah akan mengembangkan pemahaman siswa terhadap kejadian masa lampau untuk dijadikan acuan dasar dalam berperilaku di masa kini khususnya dalam menghadapi perkembangan masyarakat yang serba dinamis saat ini.
Pendidikan sejarah bukan semata-mata dimaksudkan agar siswa tahu dan hafal tentang peristiwa masa lalu bangsa dan negaranya, namun bagaimana mereka dapat menjadikan pengetahuan dan pemahaman terhadap sejarah sebagai bahan refleksi diri dalam memahami dinamika kehidupan saat ini, sehingga dalam diri mereka tumbuh dan berkembang rasa cinta dan tanggung jawab terhadap bangsanya. Mata pelajaran sejarah dipakai sebagai alat pendidikan yang strategis. Hal ini disebabkan di dalamnya termuat pengetahuan empiris (empirical knowledge) serta pengetahuan normative (normative knowledge). Sebagai empirical knowledge menekankan pada penyajian substansi kesejarahan bersifat akademis (kajian ilmiah) untuk membangun kecerdasan. Sebagai normative knowledge menyajikan subtansi kesejarahan dipilih menurut ukuran nilai dan makna dari peristiwa tersebut sesuai dengan tujuan yang bersifat normatif yaitu tujuan pendidikan nasional yakni membangun watak. Keduanya diperlakukan secara selaras dan seimbang dalam penyelenggaraan pendidikan nasional dan pembangunan bangsa (Suryo, 1999: 14). Hal ini selaras dengan Tujuan Pendidikan Nasional yaitu: untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”, selaras dengan yang ingin dicapai dalam pembelajaran sejarah.
Mata pelajaran IPS materi sejarah yang diberikan pada jenjang SMP berorientasi pada: Kemampuan memahami fakta, konsep dan generalisasi tentang waktu, keberlanjutan dan perubahan serta menerapkannya untuk: a)Menganalisis keterkaitan antara manusia, waktu, tempat dan kejadian; b)Merekonstruksi masa lalu, memaknai masa kini, dan memprediksi masa depan; c)Menghargai berbagai perbedaan serta keragaman sosial, cultural, agama, etnis, dan politik dalam masyarakat dari pengalaman belajar peristiwa sejarah (Depdiknas , 2003: 9)
Melalui belajar sejarah diharapkan tumbuh jiwa nasionalisme dan patriotisme dikalangan peserta didik, sehingga mereka nantinya menjadi warga negara yang berperan aktif dalam pembangunan nasional yang telah, sedang, dan akan terus dilakukan dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia.Tanpa pemahaman dan penghayatan sejarah bangsanya, suatu masyarakat tidak akan pernah memiliki pengetahuan tentang bagaimana mereka terbentuk dan nilai-nilai dasar apa yang menyebabkan mereka terikat dalam suatu jalinan kehidupan sebagai suatu bangsa dan negara. Melalui pembelajaran Sejarah siswa akan diperkenalkan tentang peristiwa-peristiwa masa lalu yang mengiringi terbentuknya masyarakat dan bangsa di mana mereka hidup saat ini (Hasan, 1996:24).
Pembelajaran sejarah memiliki esensi dan substansi yang mendasar, sehubungan dengan upaya menumbuhkan dan mempribadikan nilai-nilai kesejarahan kepada siswa, sehingga mereka dapat memahami dengan baik identitas diri dan bangsanya. Untuk itu, maka guru sebagai pelaku pembelajaran harus mampu menumbuhkan dan mengembangkan keaktifan dan kreativitas siswa terhadap pelajaran sejarah dengan menerapkan beraneka ragam metode, pendekatan dan model pembelajaran, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hal itu belum sepenuhnya dilakukan. Indikasi dari kecenderungan terakhir ini dapat dilihat dari proses pembelajaran yang berkembang selama pembelajaran sejarah, dimana kelas cenderung pasif, pembelajaran kurang interaktif dan kurang produktif.
Pengajaran sejarah memiliki tugas untuk menanamkan semangat berbangsa dan bertanah air, membangkitkan kesadaran empati (emphatic awareness) di kalangan peserta didik, sikap simpati dan toleransi terhadap sesama, berjiwa demokratik serta memperkenalkan pengalaman kolektif dan masa lampau bangsanya. Dengan demikian pengajaran sejarah akan membangkitkan kesadaran hidup bersama dan sense of solidarity, rasa bangga pada tanah air dan bangsanya sendiri, apabila pendidikan dilakukan berulang kali secara baik dan benar (Wiriaatmadja, 1993: 102). Jelaslah bahwa pengajaran sejarah memiliki posisi yang cukup strategis asal dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Akhir-akhir ini ada beberapa permasalahan berkaitan dengan pembelajaran sejarah, yakni ada kecenderungan siswa kurang begitu tertarik dan berminat terhadap pengajaran sejarah bahkan cenderung meremehkan. Hal ini tidak terlepas dari adanya persepsi bahwa pelajaran sejarah tidak sepenting pelajaran matematika atau fisika yang berkaitan langsung dengan tuntutan kebutuhan teknologi di era global (Zamroni, 2007: 6). Sering terdengan isu-isu adanya kemerosotan minat terhadap pembelajaran sejarah, adanya keluhan bahwa pembelajaran sejarah tidak menarik dan membosankan karena merupakan mata pelajaran hafalan. Ada juga isu adanya semangat kebangsaan dan patriotisme generasi muda makin mengendor hal ini berbahaya bagi integrasi NKRI (Suryo, 1999; Lu’aili, 2008).
Kurangnya penghargaan terhadap pembelajaran sejarah banyak dirasakan para guru mata pelajaran sejarah. Pada umumnya suasana kelas pada saat pembelajaran sejarah berlangsung, siswa banyak yang berwajah muram, lesu dan murung. Sikap dan perilaku yang kurang etis, sering dilakukan pada saat pembelajaran (Umamah, 2007: 89). Partisipasi siswa rendah, banyak siswa menganggap bahwa mengikuti pelajaran hanya sekedar rutinitas belum diiringi kesadaran akan arti penting mempelajari sejarah. Akibatnya, siswa kurang berpartisipasi, kurang terlibat dan tidak memiliki inisiatif serta kontribusi baik secara intelektual maupun emosional dalam pembelajaran (Sumiyanto, 2008: 9). Masih ada yang memandang mata pelajaran sejarah bukanlah mata pelajaran yang penting, tidak menyenangkan, sebagai mata pelajaran yang dianggap antik dan dibuang sayang (Hasan, 2012: 60). Berarti masih ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
Wiriaatmadja (2002 : 158) mengatakan: Kelemahan-kelemahan yang tampak dalam pembelajaran sejarah adalah kurang mengikutsertakan siswa, dan membiarkan ‘budaya diam’ berlangsung di dalam kelas. Kondisi demikian menyebabkan pengajaran sejarah, dan sejarah nasional khususnya, kurang berhasil dalam menggairahkan pembelajaran siswa untuk penghayatan nilai-nilai secara mendalam yang ditunjukkan dengan pengungkapan ekspresi secara vokal. Faktor-faktor lain yang kurang menunjang ialah luasnya cakupan bahan pengajaran, bertumpangtindihnya materi dengan pengajaran lain yang sejenis, dan dukungan buku teks dan bahan bacaan lainnya yang bersifat informatif dari pada merangsang daya nalar dan berpikir kritis
Beberapa permasalahan di atas, dan berdasarkan hasil pengamatan yang penulis lakukan di SMP, kondisi pembelajaran sejarah saat ini adalah sebagai berikut: Pembelajaran sejarah masih bersifat teacher centered. Sebagian besar guru masih mendominasi kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan ceramah monoton, sehingga kurang terbuka pada tuntutan pembaharuan atau inovasi sebagaimana tuntutan kurikulum. Pendekatan belajar ini mengakibatkan guru lebih aktif sedangkan siswa akan terkesan pasif dan juga tidak menumbuhkan kreatifitas siswa. Pembelajaran dititikberatkan pada penguasaan fakta dan konsep, yang bersifat hafalan, kurang mengembangkan aspek-aspek yang lain seperti keterampilan berpikir, dan bekerjasama. Padahal pembelajaran Sejarah juga diharapkan dapat menanamkan aspek-aspek tersebut. Pembelajaran sejarah tidak lebih dari hanya sekedar transfer of knowledge belaka.
Keadaan tersebut sangat memprihatinkan mengingat peranan mata pelajaran Sejarah amat penting dalam membentuk kepribadian siswa agar dapat memiliki rasa nasionalisme dan patriotisme yang kuat, serta siap memasuki masa depan. Sjamsuddin (1999: 15) mengemukakan bahwa: Melalui sejarah, siswa bukan hanya memahami apa yang telah terjadi, melainkan juga mengapresiasi masa lalu. Siswa dituntut untuk mengalami empati dan mengapresiasi apa yang menjadi tujuan-tujuan, prestasi-prestasi, dan penderitaan-penderitaan orang yang dikisahkan dalam sejarah. Reaksi-reaksi emosional dan sentimental tersebut dapat menentukan tingkah laku di masa yang akan datang.
Hasan (1999:7) mengemukakan bahwa kemampuan dan sifat kepribadian tersebut dikembangkan melalui kemampuan berpikir kronologis dan sikap toleran. Menurutnya kondisi pembelajaran sejarah yang berkembang di dunia persekolahan dewasa ini, merupakan suatu kenyataan yang harus diakui bahwa proses pengembangan kemampuan berpikir kronologis yang merupakan kemampuan berpikir dasar dalam sejarah maupun sikap toleransi yang dikembangkan baru sebagai nurturant effect, bukan sebagai suatu instructional effect.
Dipertegas oleh Taufik Abdullah (1996: 5) bahwa sejarah sebagai ingatan kolektif, sebagai sumber inspirasi ataupun sebagai landasan nilai akan memperkokoh integrasi nasional. Sementara itu, Krug (1967: 22)  berpendapat bahwa pengajaran sejarah bangsa merupakan upaya terbaik untuk memperkuat kesatuan nasional dan untuk menanamkan semangat cinta tanah air dan jiwa patriotic, selaras juga dengan pendapat Vanderburg (1985: 272) bahwa, pembelajaran sejarah nasional berupaya membentuk model-model perilaku yang memupuk nasionalisme.
Tujuan pendidikan sejarah yang ada harus diperkuat dan disesuaikan dengan tuntutan dan tantangan kehidupan yang dihadapi sekarang dan masa mendatang pendidikan sejarah harus mengembangkan tujuan pendidikannya lebih dari yang ada sekarang. Pendidikan sejarah harus; memaksimumkan kemampuannya dan mengambil peran yang lebih banyak dalam mempersiapkan anak didik memasuki kehidupan masa mendatang yang penuh kejutan berdasarkan kekuatan yang dimiliki peristiwa sejarah (Hasan, 1997:7).
Metode atau pendekatan yang digunakan guru dalam proses pembelajaran, selayaknya tidak hanya ceramah monoton yang kering pada sepanjang semester atau bahkan sepanjang tahun ajaran, tanpa diselingi dengan metode atau pendekatan yang lain, padahal tujuan yang akan dicapai pada setiap pokok bahasan tentulah berbeda, untuk mencapai tujuan yang berbeda, tentulah dilakukan dengan metode atau pendekatan yang berbeda pula, bukan malah menyamaratakan tujuan yang akan dicapai dengan metode ceramah dari awal hingga akhir semester, tanpa mempertimbangkan karakteristik dari setiap topik yang harus dibelajarkan. Seharusnya menurut Hasan (2002:109) “cara peserta didik belajar ditentukan oleh tujuan yang akan dicapai, materi dari pokok/sub pokok bahasan, sumber, media yang tersedia dan dikembangkan untuk pokok bahasan tersebut, kondisi kelas, tempat belajar dan yang tak kalah pentingnya adalah karakteristik peserta didik”.
Pembelajaran sejarah idealnya dikembangkan berdasar tiga pendekatan, yaitu: (1) keterkaitan pelajaran sejarah dengan kehidupan sehari-hari siswa, (2) pemahaman dan kesadaran akan karakteristik cerita sejarah yang tidak pernah bersifat final, dan (3) perluasan tema sejarah politik yang menguasai sebagian besar isi mata pelajaran Sejarah saat ini dengan tema sejarah sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi. (Hasan ,1999:9) Mata pelajaran Sejarah juga dianggap, sebagai sesuatu yang final yang tidak dapat diganggu gugat seperti dokumen yang mati, padahal hal ini tidak benar. Selain itu, sampai saat ini pelajaran sejarah berisi peristiwa politik di masa lampau yang tidak terkait dengan peristiwa-peristiwa di bidang lain yang justru lebih menonjol dalam masyarakat, seperti ekonomi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar sejarah pada jenjang SMP, merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak untuk dilakukan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang mengatasi keresahan tersebut adalah pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL).
Contextual Teaching and Learning, menurut Shawn M. Glynn and Anna K. Scott dari University of Georgia (2003) adalah “an approach/perspective to teaching and learning that recognize and addresses the situated nature of knowledge”. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dikaitkan dengan pengetahuan siswa dalam situasi nyata sehari-hari.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), sebagai suatu pendekatan yang diterapkan pada kelas eksperimen. Pendekatan ini ditandai dengan adanya tujuh komponen pokok dalam proses pembelajaran, sebagaimana yang dikemukakan oleh Depdiknas (2002:5), yaitu: (1) kontrukstivisme (constructivism), (2) menemukan (inquiry), (3) bertanya (questioning), (4) masyarakat belajar (learning community), (5) pemodelan (modeling). (6) refleksi (reflection), dan (7) penilaian yang sebenarnya (authentic assesment). Suatu kelas dikatakan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL),merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.
Salah satu sebab siswa kurang bergairah dalam mengikuti pembelajaran sejarah adalah karena pembelajaran sejarah dianggap tidak dapat mengaplikasikan untuk mengetahui secara lebih jauh apa yang diperlajarinya, karena itu pembelajaran sejarah dianggap hanya sekedar untuk kepentingan “sesaat” di sekolah sebagai suatu mata pelajaran yang wajib diikuti, tanpa ada manfaat praktis dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning, siswa akan dapat memahami manfaat praktis dalam kehidupan sehari-hari tentang pembelajaran sejarah yang mereka terima di kelas.
Penguasaan Konsep, adalah kemampuan siswa dalam memahami dan memaknai kata-kata yang mengklasifikasi, mengkategorisasi dan menjabarkan seperangkat fakta yang saling berkaitan (Wiriaatmadja, 2002:300). Kemampuan siswa untuk dapat memperoleh, mengklasifikasi dan mengkategorikan pengetahuan sendiri melalui sumber belajar, karena pada dasarnya anak memiliki potensi untuk mencari, menemukan dan mengembangkan hasil perolehannya dalam bentuk fakta dan informasi yang direkonstruksi menjadi satu konsep yang mudah dipahami.
Apabila materi pembelajaran sejarah tidak diajarkan secara kreatif oleh guru, dengan menggunakan metode atau pendekatan yang bervariasi, maka siswa cepat merasa bosan. Menurut Wragg, E.C., (1996:14) “siswa bertingkah laku buruk karena pembelajaran membosankan” Hasan (1996a) mengatakan bahwa “materi Sejarah sebaiknya dikembangkan dengan memperhatikan kematangan psikologis siswa, dan diorganisir secara kronologis agar memudahkan mereka dalam memahaminya”. Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang demikian, guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai dalam memilih dan menerapkan metode dan strategi pembelajaran. Guru harus mampu meningkatkan potensi kemampuan akademis dan keterampilan belajar siswa dengan memberikan dorongan terhadap perkembangan psikologis, akademis dan sosial siswa secara optimal. Siswa harus dibangun kemampuan unkuiri sebagai modal untuk menghadapai tanggan masa depan yang semakin kompetitif. Kemampuan Inkuiri, adalah “suatu strategi yang berpusat pada siswa dimana kelompok-kelompok siswa dihadapkan pada suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digariskan secara jelas (Hamalik,1991). Yang dimaksukan dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam mencari sumber belajar, informasi, termasuk kegiatan siswa dalam mencari makna yang lebih dalam, yang mengharuskan mereka berbuat sesuatu dengan melakukan kegiatan intelektual (diskusi kelompok dan diskusi kelas), agar menghayati pencapaian pemahamannya tentang materi yang dipelajari.
Berdasarkan analisis empiris, ternyata masih banyak guru yang belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk memilih dan mengaplikasikan berbagai metode atau pendekatan pembelajaran yang mampu meningkan kegairahan, keaktifan, kreativitas, dan motivasi belajar siswa. Di samping itu, tidak jarang siswa kesulitan dalam menangkap isi pesan yang disampaikan oleh guru selama berlangsungnya pembelajaran, karena metode yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik materi pelajaran, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan kondusif, dan mampu memfasilitasi siswa untuk melakukan inkuiri terhadap materi yang dibelajarkan. Hal ini penting dilakukan oleh guru, mengingat pembelajaran sejarah yang disampaikan secara "kering" dapat mematikan gairah dan minat belajar siswa (Kartodirdjo, 1999:77).
Dari analisis konseptual dan empiris menyangkut pembelajaran sejarah dan pendekatan yang digunakan oleh guru dalam belajar sebagaimana yang diuraikan di atas, maka pemahaman yang seksama terhadap karaktetistik topik dan kepentingan belajar siswa dalam mempelajari sejarah merupakan salah satu hal yang diduga dapat mengeliminir permasalahan siswa dalam mempelajari sejarah. Guru hendaknya mampu memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan harapan siswa dalam mempelajari sejarah.
Penelitian ini akan difokuskan pada upaya pengembangan dan pemahaman guru terhadap pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran sejarah, dan penelusuran terhadap faktor-faktor yang menjadi pendukung dan kendala dalam menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) di SMP. Hal ini penting dilakukan, mengingat pendekatan merupakan salah satu kunci keberhasilan siswa dalam mempelajari sejarah.
Sesuai dengan uraian yang telah dikemukakan di atas, penulis berkeyakinan bahwa penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran sejarah akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, baik proses maupun product. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Apakah pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) efektif untuk meningkatkan kemampuan penguasaan konsep sejarah ?
  2. Apakah pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) efektif untuk meningkatkan kemampuan inkuiri siswa ?

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1.Mengetahui efektivitas pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk meningkatkan kemampuan penguasaan konsep siswa .
2.Mengetahui efektivitas pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk meningkatkan kemampuan inkuiri siswa .
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat meningkatkan kemampuan bagi guru mata pelajaran sejarah yang bertanggung jawab sebagai pendidik, dalam mengembangkan pembelajaran dengan menggunakan berbagai pendekatan belajar. Bagi siswa dengan pendekatan ini, diharapkan dapat memperoleh pengalaman baru dalam mempelajari sejarah, dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa. Bagi peneliti bidang sejenis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dirujuk untuk penelitian selanjutnya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning, untuk mengembangkan kemampuan memahami konsep dan kemampuan inkuiri dengan melihat ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning, dengan siswa yang melakukan pembelajaran dengan pendekatan konvensional yang biasa dilakukan di SMPN Gumukmas Jember. Untuk mengetahui penguasaan konsep dengan instrumen tes pengusaan konsep. Untuk mengetahui kemampun inkuiri dengan rubrik penilaian proses dan kinerja.
Dalam penelitian ini mempertimbangkan aspek performansi siswa ketika proses pembelajaran berlangsung, melalui penilaian yang sebenarnya (assesment authentic). Penilaian yang sebenarnya (assesment authentic) adalah penilaian yang dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran terhadap aspek keterampilan (performansi) yang diperoleh siswa. Dalam assessment authentic yang dilihat adalah “apakah siswa-siswa belajar?”, bukan hanya “apa yang sudah diketahui siswa” (Depdiknas, 2003:19)..
Jenis disain kuasi eksperimen yang peneliti gunakan dalam kajian ini, adalah disain Nonequivalent (Pretest and Posttest) Control-Group Design. Menurut Creswell (1994: 132) Nonequivalent (Pretest and Posttest) Control-Group Design adalah “In this design, a popular approach to quasi-exsperiments, the experimental group A and the control B are selected without random assignment. Both group take a pretest and posttest, and only the experimental group received the treatment.” A adalah kelas eksperimen, dan B adalah kelas kontrol, diambil dengan menggunakan tekni cluster sampling. Kedua kelompok memperoleh pretes dan postes, dan hanya kelompok eksperimen yang menerima perlakuan. Jadi eksperimen yang dilakukan dengan dua kelompok sampel, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning Sedangkan kelas kontrol merupakan kelas yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan konvensional dalam bentuk ceramah, siswa belajar secara klasikal yaitu cara biasa yang digunakan di kelas tersebut. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analaisis komparasi dilanjutkan dengan analisis efektivitas.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan tabulasi data dan dianalisis dengan menggunakan program SPSS maka dapat diperoleh hasil analisis data pretes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, setelah dianalisis kedua kelompok tersebut, diperoleh : bahwa nilai rata-rata kedua kelas tidak berbeda secara signifikan baik pemahaman maupun kemampuan inkuiri dalam pembelajaran sejarah. Nilai rata-rata pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri kelas eksperimen masing-masing adalah 2,3 dan 1,2,. Sedangkan nilai rata-rata pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri kelas kontrol masing-masing adalah 2,5 dan 1,2. Sebagai uji persyaratan dilakukan uji homogenitas varians terhadap nilai pretes kedua kelas (kelas eksperimen dan kontrol) pada taraf signifkansi = 0.05 disimpulkan bahwa varians kedua kelas homogen.

Analisis Perbedaan Rata-Rata Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Berdasarkan nilai pos tes kelas kontrol dan eksperimen setelah dilakukan pengujian perbedaan rata-rata data hasil postes terhadap pemahaman konsep, kemampuan inkuiri serta kemampuan siswa secara keseluruhan dalam pembelajaran sejarah dengan menggunakan uji-t pada taraf signifikansi = 0.05 (uji dua pihak, ½ = 0.025) dengan kriteria pengujian: H0 diterima jika -< < +, sedangkan pada keadaan lain H0 ditolak.

Pengujian Hipotesis 1:
Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah “kemampuan penguasaan konsep siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih tinggi dari pada kemampuan siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional”.
Berdasarkan hipotesis penelitian yang diajukan tersebut, hipotesis nol (H0) yang diuji adalah sebagai berikut:
H0: tidak terdapat perbedaan kemampuan penguasaan konsep siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional.
Dari perhitungan perbedaan rata-rata menggunakan uji t pada = 0,05, df 29 diperoleh thitung = 5.174, sedangkan ttabel = 1.699. Karena menggunakan uji dua pihak, maka daerah penerimaannya adalah -ttabel ≤ thitung ≤ ttabel, sementara itu thitung < ttabel, oleh karena itu maka H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa kemampuan penguasaan konsep siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih tinggi bila dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional.

Pengujian Hipotesis 2:
Hipotesis 2 yang diajukan pada penelitian ini adalah “kemampuan inkuiri siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih tinggi dari pada kemampuan siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional”.
Berdasarkan hipotesis penelitian yang diajukan tersebut, hipotesis nol (H0) yang diuji adalah sebagai berikut:
H0: tidak terdapat perbedaan kemampuan inkuiri siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional.
Dari perhitungan perbedaan rata-rata menggunakan uji t pada = 0,05, df 29, diperoleh thitung = 4.89 Sedangkan ttabel = 1.699. Karena menggunakan uji dua pihak, maka daerah penerimaannya adalah -ttabel ≤ thitung ≤ ttabel, sementara itu thitung < ttabel, oleh karena itu maka H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa kemampuan inkuiri siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih tinggi bila dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional.

Peningkatan Kemampuan Siswa Setelah Pendekata Contextual Teaching and Learning (CTL) Dilaksanakan
Untuk melihat peningkatan pemahaman konsep siswa, kemampuan inkuiri siswa serta kemampuan siswa secara keseluruhan dalam dalam pembelajaran sejarah, antara siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), dan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan konvensional adalah dengan menghitung gain kedua kelompok dengan menggunakan rumus gain ternormalisasi. Hasil perhitungan gain ternormalisasi selengkapnya sebagai berikut:
Gain ternormalisasi pemahaman konsep, kemampuan inkuiri serta kemampuan siswa secara keseluruhan dalam pembelajaran sejarah pada kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Sebelum digunakan uji perbedaaan rata-rata dengan uji-t terhadap gain kedua kelas, maka gain kedua kelas (kelas kontrol dan eksperimen) harus memenuhi asumsi kenormalan dan homogenitas.
Berdasarkan pengujian normalitas dengan menggunakan uji chi-square (2) pada taraf signifikansi = 0.05 terhadap pemahaman konsep, kemampuan inkuiri serta kemampuan siswa secara keseluruhan, diperoleh kesimpulan bahwa perolehan skor gain ternormalisasi kelas kontrol dan kelas eksperimen berdistribusi normal. Hasil ringkas uji normalitas terhadap skor gain ternormalisasi dengan menggunakan uji statistik chi-squre pada kelas eksperimen dan kelas kontrol . Setelah skor gain ternormalisasi berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan melakukan pengujian kecocokan (homogenitas) varians terhadap kelas kontrol dan kelas eksperimen pada pemahaman, kemampuan imkuiri serta kemampuan siswa secara keseluruhan, dengan taraf signifikansi = 0.05 dengan kriteria pengujian: jika ≤ maka disimpulkan bahwa varians kedua kelas homogen, sedangkan jika > maka disimpulkan bahwa varians kedua kelas tidak homogen. Hasil perhitungan homogenitas data skor gain ternormalisasi terhadap kedua kedua kelas (kelas eksperimen dan kontrol) menunjukan bahwa variansi gain ternormalisasi pemahaman konsep, kemampuan inkuiri serta kemampuan siswa secara keseluruhan, pada kedua kelas (eksperimen dan kontrol) adalah sama (homogen).
Selanjutnya dilakukan pengujian perbedaan rata-rata data gain ternormalisasi terhadap pemahaman konsep, kemampuan inkuiri serta kemampuan siswa secara keseluruhan, dengan menggunakan uji-t pada taraf signifikansi = 0.05 (uji dua pihak, ½ = 0.025). Hasil perhitungan gain ternormalisasi dengan menggunakan uji-t diperoleh:
Harga thitung untuk gain pemahaman konsep sebesar 7,8 maka dapat disimpulkan bahwa gain kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol atau pada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and learning (CTL), terjadi peningkatan yang signifikan pada pemahaman konsep daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan konvensional.
Harga thitung untuk gain kemampuan inkuiri sebesar 6,7 maka dapat disimpulkan bahwa gain kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol atau pada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and learning (CTL), terjadi peningkatan yang signifikan pada kemampuan inkuiri daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan konvensional.
Harga thitung untuk gain keseluruhan kemampuan siswa secara keseluruhan (gabungan pemahaman konsep dengan kemampuan inkuiri) sebesar 13.24, maka dapat disimpulkan bahwa gain kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol atau pada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and learning (CTL), terjadi peningkatan yang signifikan pada kemampuan siswa secara keseluruhan (gabungan pemahaman konsep dengan kemampuan inkuiri) daripada siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan konvensional.
Pengamatan terhadap aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), dilakukan oleh peneliti dengan menggunkan lembar observasi. Secara umum pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), berjalan dengan baik. Pada awal pembelajaran guru melaksanakan apersepsi, dengan melemparkan beberapa masalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal siswa, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dalam kelompok masing-masing, dalam diskusi kelompok tersebut siswa mengidentifikasi tentang permasalahan, hubungan permasalahan yang dibahas dengan kehidupan atau keadaan sehari-hari siswa, kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelas untuk menemukan jawaban permasalahan, dan menuliskan jawaban yang dihasilkan dari hasil diskusi menurut bahasa masing-masing. Menjelang berakhirnya pembelajaran guru meminta kepada beberapa siswa (biasanya antara tiga hingga empat orang) untuk menyimpulkan sambil mengulang materi yang telah didiskusikan, dan memberikan beberapa tugas untuk dikerjakan dan dibahas dalam bentuk diskusi kelas pada minggu depan, namun sebelum dibahas dalam bentuk diskusi kelas guru menegaskan kembali supaya masing-masing kelompok sudah mencari sumbernya dan mendiskusikan pada kelompok masing-masing di perpustakaan atau di rumah.
Beberapa hal yang dapat diamati selama pembelajaran, antara lain diuraikan berikut ini:
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), merupakan pendekatan pembelajaran yang baru bagi siswa maupun guru. Karena itu pada pertemuan pertama dan bahkan pada pertemuan kedua siswa masih tampak kaku. Beberapa siswa mengaku tidak tahu apa yang harus dikerjakan sehingga tahapan-tahapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), (membaca/mencari informasi) dan tahap diskusi kelompok, tidak berjalan dengan optimal. Tetapi pada pertemuan berikutnya siswa terlihat antusias mengikuti pembelajaran. Mereka secara umum tidak ragu lagi mengeluarkan pendapat, sehingga diskusi kelas menjadi lebih hidup dan suasana belajar menjadi lebih kondusif.
Penerapan pendekatan pembelajaran baru ini, setelah siswa memahami apa yang harus mereka kerjakan, seperti ; dalam mencari sumber belajar, informasi, melakukan kegiatan diskusi untuk memecahkan masalah, mengakibatkan meningkatnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) ini, berhasil menciptakan suasana baru bagi siswa sehingga pembelajaran lebih kondusif. Antara lain dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa serta meningkatkan sikap positif siswa terhadap pembelajaran sejarah. Selama ini belajar sejarah selalu dimulai dari guru menjelaskan, siswa memperhatikan dengan seksama dan mencatat, sesekali siswa bertanya kemudian dijawab guru, materi pembelajaran lebih banyak dalam bentuk hal-hal yang bersifat faktual, jarang melibatkan siswa sebagai subjek belajar, serta jarang pula menghubungkan dengan dunia nyata di sekitar siswa, dan situasi kekinian. Namun dengan pendekatan baru ini justru siswa yang menjadi subjek belajar.
Pada pertemuan pertama siswa dibagi kedalam enam kelompok, pembagian kelompok dilakukan oleh guru, karena siswa yang pintar cenderung untuk berkelompok sesama yang pintar. Guru membagi kelompok dengan membaur secara akademis antara yang pintar, sedang, dan yang kurang, kemudian juga dibaur secara jenis kelamin, dengan membagi perimbangan jumlah siswa putra dan putri, setiap kelompok beranggotakan lima orang, setelah kelompok terbentuk guru memberikan penjelasan tugas apa yang harus siswa kerjakan untuk mengantarkan mereka memahami materi yang dipelajari. Pada pertemuan kedua ditemui siswa masih mengalami kesulitan dalam mencari sumber belajar. Namun pada pertemuan berikutnya tidak ada lagi. Siswa terlihat termotivasi dan lebih semangat belajar. Mereka mengatakan bahwa mereka lebih mengerti apa yang mereka lakukan, karena telah menentukan sendiri apa yang mereka harus lakukan pada saat diskusi kelompok. Namun dari hasil yang mereka buat belum mencerminkan sepenuhnya dari keadaan masalah yang diselesaikan.
Penggunaan waktu empat puluh menit setiap satu kali pertemuan, pada dua kali pertemuan yang pertama ternyata kurang. Hal ini terjadi terutama karena siswa masih kaku dalam mengikuti pembelajaran sehingga banyak waktu yang terbuang. Tetapi setelah mendapat arahan dari guru, dan siswa telah memahami apa yang harus mereka kerjakan, pada pertemuan berikutnya berlangsung dengan lancar dan dari segi manajemen waktu, telah dapat diatasi oleh guru.
Segi proses belajar, kemampuan inkuiri yang telah dicapai oleh sebagian besar siswa sejak pertemuan kedua hingga pertemuan kelima, sudah menampakkan kemajuan yang sangat berarti; siswa rajin mencari dan membaca sumber belajar, berani menyampaikan pendapat, mampu bekerja sama, menghargai pendapat teman, mendorong teman untuk berani berbicara, bertanggung jawab, menghargai waktu, dapat berargumentasi, dan pandai memimpin diskusi. Dari segi peraihan ilmu (penguasaan konsep) dan keterampilan menganalisis, siswa dapat menghubungkan dengan keadaan kekinian, dapat menghubungkan atau memberi contoh dengan keadaan di daerah lain (sinkronis), dapat menyusun laporan secara kronologis (diakronis), dapat menganalisis dan menyimpulkan, dan menyelesaikan tugas tepat waktu.
Keenam, dari suasana belajar terlihat bahwa siswa bergairah dan menikmati kegiatan pembelajaran, hal ini terlihat dari hasil tes yang diadakan pada jam pelajaran terakhir pertemuan keenam, menunjukkan adanya peningkatan dalam aspek kualitas dan produk belajar. Berdasarkan hasil wawancara, tidak ada siswa yang mengatakan tidak senang dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), menurut siswa cara belajar seperti ini membuat mereka menjadi aktif, tidak ngantuk, tidak terasa waktu sudah habis, menjadi berani mengemukakan pendapat, menjadi kompak, termotivasi untuk menguasai seluruh materi supaya bisa menjawab pertanyaan teman, berusaha menguasai seluruh materi supaya dapat menemukan masalah untuk ditanyakan (berarti rajin membaca). Ada pula yang mengatakan bahwa mereka menyukainya karena melatih debat, serta tidak menegangkan.
Bentuk tanggapan lain yang muncul dan dikemukakan siswa pada penghujung pelaksanaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), adalah siswa merasakan dan memberi penilaian bahwa guru sejarah menjadi semakin baik, karena selalu memberikan motivasi, bimbingan, melayani, dan bersifat demokratis, karena itu pembelajaran sejarah dirasakan tidak membosankan, sebaliknya siswa menjadi semakin rajin dan senang belajar sejarah.


Pemahaman Konsep dan Kemampuan Inkuiri
Dari hasil tes secara keseluruhan (gabungan hasil postes penguasaan konsep dan inkuiri) dapat dilihat bahwa, nilai pretes terendah kelas kontrol 2.0 nilai tertinggi 6,0 rata-rata 3,70, sedangkan nilai postes terendah pada kelas kontrol adalah 4,0 nilai tertinggi 7,0 dan rata-rata adalah 5,63. berarti pada kelas kontrol yang hanya dilaksanakan proses pembelajaran dengan pendekatan konvensional yang dilakukan oleh guru selama ini, terdapat peningkatan nilai rata-ratanya sebesar 1,97.
Sedangkan pada kelas eksperimen nilai pretes terendah yang diperoleh siswa adalah 2.0 nilai tertinggi 60 rata-rata 3,57, namun terjadi peningkatan perolehan nilai hasil belajar yang lebih baik yaitu dengan nilai postes terendah 6.5 tertinggi 9,0 rata-rata 7,4, terdapat peningkatan nilai rata-rata sebesar 2,8.
Hasil pembahasan di atas diuji melalui uji hipotesis statistik menggunakan uji-t pada taraf signifikansi 0,05. Dari uji hipotesis 1, 2, dan 3 yaitu perbedaan rata-rata kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri kelompok eksperimen dan kelompok kontrol maupun rata-rata kemampuan siswa secara keseluruhan ditemukan perbedaan yang signifikan antara kemampuan siswa dalam pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri, siswa yang mengikuti pembelajaran melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), dengan kemampuan siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional.
Bila dibandingkan antara perolehan nilai hasil belajar siswa pada kelas kontrol dengan nilai hasil belajar yang diperoleh pada kelas eksperimen, maka terjadi peningkatan perolehan nilai hasil belajar pada kelas kontrol sebesar 1,97, sedangkan pada kelas eksperimen terjadi peningkatan sebesar 2,83. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peningkatan nilai rata-rata postes kelas eksperimen lebih besar dari pada kelas kontrol, adalah dikarenakan pengaruh dari pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang digunakan. Maka dapat dikatakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah efektif dilakukan dalam proses belajar mengajar sejarah.
Hasil yang diperoleh tersebut, memperlihatkan bahwa siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) memberikan perolehan hasil yang lebih baik dari pada siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional. Hal ini dimungkinkan karena proses pembelajaran telah merubah, semulanya paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered), menjadi berorientasi kepada pembelajaran yang menekankan pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered), yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
Temuan ini sesuai dengan pendapat Nurhadi (2003) “bahwa pendekatan CTL dapat meningkatkan pemahaman makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan konteks kehidupan sehari-hari”, dan hasil penelitian Knapp pada tahun 1995 (Nur, 2000:24) yang mengatakan bahwa pendekatan-pendekatan belajar yang bersifat konstruktivis, efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam proses pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), siswa diberi tugas mulai dari mencari sumber belajar sendiri, untuk menemukan keterkaitan antara materi yang dipelajari dengan dunia kehidupan mereka secara nyata, meringkas, dan mereka diskusikan dalam kelompok heterogen yang terdiri dari lima orang siswa, mempresentasikan atau memperagakan hingga merefleksikan hasil pekerjaaan mereka. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Nurhadi (2003) CTL merupakan pembelajaran yang mengarahkan dan menekankan keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata.
Dalam pembelajaran ini pada awal pembelajaran siswa didorong untuk mengetahui serta merencanakan terlebih dulu apa yang diperlukan dan yang akan dilakukannya dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga mereka menjadi lebih termotivasi untuk terlibat dalam kegiatan diskusi kelompok maupun diskusi kelas.
Kegiatan diskusi kelas pada pembelajaran ini dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran, di mana siswa subjek belajar saling berinteraksi untuk menyampaikan, menanggapi, serta menjawab pendapat maupun pertanyaan yang diajukan temannya yang lain. Pembelajaran ini dimulai dari usaha masing-masing individu dalam kelompok atau secara bersama-sama mencari sumber belajar yang diteruskan dengan diskusi kelompok, dalam kelompok siswa diwajibkan saling membantu, karena keberhasilan kelompok tergantung pada keberhasilan setiap individu dalam kelompok tersebut. Dengan demikian terjadi peningkatan interaksi antar siswa dalam kelompok sehingga siswa yang pintar akan dapat meningkatkan dan memunculkan kemampuannya sedangkan siswa yang kurang pintar dapat terbantu oleh siswa yang pintar. Di samping itu siswa yang semulanya kurang pintar akan menjadi berpengalaman dan terbiasa dengan cara-cara belajar yang dilakukan oleh temannya yang pintar, dengan sendirinya ia mendapat pengalaman tentang cara belajar dari teman-temannya yang lain.
Selaras dengan pendapat Slavin (1995:50) bahwa belajar dalam kelompok kecil dapat memacu perkembangan berfikir dan kemampuan pemecahan masalah, serta dapat memenuhi kebutuhan sosial dan prestasi akademik siswa jauh lebih meningkat bila dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Kegiatan inkuiri dan diskuisi dalam belajar untuk mendorong siswa dalam memecahkan masalah dan berfikir tingkat tinggi, dalam inkuiri dan diskusi akan terjadi pola interaksi belajar serba arah. Jadi dengan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa akan merombak cara belajar lama yang monoton satu arah, serta akan melahirkan siswa-siswa yang terlatih dengan kebiasaan mencari sumber, mengolah dan mendiskusikannya dengan teman sekelompok atau sekelasnya. Dengan demikian bahwa siswa akan mempunyai perkembangan sifat positif dan persepsi yang baik tentang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL).
Fakta lain menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman konsep dan inkuiri siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), lebih baik dari siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional. Dari temuan di atas terbukti bahwa kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri siswa berkembang lebih baik pada siswa yang mengikuti pembelajaran sejarah dengan dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), dibandingkan dengan yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan konvensional.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Setelah peneliti memaparkan beberapa kondisi dan proses pembelajaran, maka peneliti menarik beberapa kesimpulan: 1)Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learnig (CTL) efektif untuk meningkatkan penguasaan konsep sejarah; 2) Penerapan pendekatan Contextual Teaching anf Lerning (CTL) efektif untuk meningkatkan kemampuan inkuiri siswa.
Berdasarkan kesimpulan sebagaimana yang telah diuraikan, maka dapat dikemukakan beberapa rekomendasi dalam pelaksanaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), sebagai berikut: 1) Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), agar dapat dilaksanakan secara efektif, maka sebelum melaksanakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), guru terlebih dahulu membuat rencana pembelajaran dengan deskripsi secara jelas langkah-langkah yang harus dilakukan oleh guru dan siswa, agar proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia. Untuk pengembangan lebih lanjut, perlu dilakukan penelitian lanjutan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman yang lebih luas kepada guru-guru, tentang pendekatan pembelajaran yang dapat merangsang aktivitas dan kreativitas siswa sehingga kualitas proses dan hasil pembelajaran IPS khususnya sejarah, dapat lebih meningkat lagi di masa-masa yang akan datang.

DAFTAR RUJUKAN
Abdullah, T. (2001).  Nasionalisme dan Sejarah. Bandung: Satya Historika
Corebima D, et al, (2002), Pembelajaran Konstektual, Jakarta, Depdiknas
Creswell, J.W., (1994), Research Design Qualitative & Quantitative Approaches, London, New Delhi, Sage Publications.
Depdiknas, (2003a), Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah, Jakarta
Fitzgerald, J. (1977). Towards a Theory of HistoryTeching. Dalam Judi macinolty and woman little (Eds.) A new look at history teaching (hal. .137-161). Sydney: the history teachers association of new south wales.
Glynn, S.M. & Scott, A.K., (2003), Implementing Contextual Teaching and Learning: Case Study of Sarah, a Middle School Science Novice Teacher, University of Georgia.
Hamalik, O. (1993). Strategi Belajar Mengajar, Bandung; Mandar Maju.
Hasan, S.H., (1996), Pendidikan Ilmu Sosial, Jakarta, Depdikbud, P2TA
Hasan, S. H, (1999), “Pendidikan Sejarah Untuk Membangun Manusia Baru Indonesia”, Mimbar Pendidikan, 2/XVIII, 4-11
Hasan, S. H, (2002), Pendidikan Sejarah Dalam Rangka Pengembangan Memori Kolektif, Makalah Dalam Dialog Peran Guru Sejarah di Pontianak, Proyek Pemanfaatan Sejarah Purbakala, Dept. Kebudayaan dan Pariwisata
Hasan, S.H., (2004), “Pandangan Dasar Mengenai Kurikulum Pendidikan Sejarah”, Historia, (9), V, 1-25.
Lu’aili, N.(2008). Hubungan Prestasi Belajar Sejarah, Wawasan Kebangsaan dengan Sikap Nasionalisme Siswa SMPN I Sukowono. Jurnal Pendidikan dan Humaniora. FKI-FKIP UNEJ Jember. Vol. 15 Th.2008: 79-94.
Nurhadi, (2003), Pendekatan Konstektual (Contextual Teaching and Learning), Jakarta, Ditjen Dikdasmen Depdiknas
Sjamsuddin, H., (1996), Metodologi Sejarah, Jakarta, Depdikbud, P2TA
Sjamsuddin, H, (1999), Sejarah dan Pendidikan Sejarah, Mimbar Pendidikan, 2/XVIII, 12-17
Slavin, R.E. (1995). Cooperative Learning Theory, Research and Practice Massachusetts : Allyn and Bacon.
Sumiyanto, D. (2008). Studi Perbandingan Prestasi Belajar Dan Tingkat Keaktifan Dengan Pembelajaran Kooperatif Model STAD dan Konvensional Pada Mata Pelajaran Sejarah Siswa MAN 2 Jember. Tesis Pada PPSPIPS Kanjuruhan Malang: Tidak diterbitkan.
Suryo, Dj. (1999). Pengajaraan sejarah dan globalisasi Kehidupan. Makalah. Seminar pengajaran sejarah dan perubahan sosial di IKIP Semarang.
Vos, J. dan Dryden G., (1999), The Learning Revolution, Bandung, Kaifa

Umamah, N. (2007). Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Dalam Mata Kuliah Sejarah Asia Barat Daya .Jurnal IPS FKIP UNEJ-HISPISI . VOLUME 7 NOMOR 1 2007.88-100.
Widja, I.G., (1989), Dasar-Dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajarah Sejarah, Jakarta, Proyek PLPTK, Dirjen Dikti, Depdikbud
Wiriaatmadja, R., (2002), Pendidikan Sejarah di Indonesia, Bandung, Historia Utama Press.
Wineburg, S., (2001), Historical Thinking and Other Unnatural Acts Charting the Future of Teaching the Past, Philadelphia, Temple University Press.
Wragg, E.C., (1996), Pengelolaan Kelas, Jakarta, Grasindo.
Zamroni. (2007). Pendidikan dan Demokrasi dalam Transisi: Prakondisi Menuju Era Globalisasi. Jakarta: PSAP