Minggu, 21 Desember 2014

Efektivitas Model Inkuiri Sosial Yang Dikontrol Dengan Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Ekonomi


EFEKTIVITAS MODEL INKUIRI SOSIAL YANG DIKONTROL DENGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM PEMBELAJARAN EKONOMI


Shendy Andrie Wijaya
ABSTRAK: Pembelajaran inkuiri sosial melibatkan siswa secara aktif, menekankan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis sehingga memperoleh hasil belajar yang optimal. Tujuan penelitian: (1) Menguji keefektifan model inkuiri sosial dibandingkan dengan model konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa. (2) Menguji keefektifan model inkuiri sosial dibandingkan dengan model konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi dan rendah. (3) Menguji interaksi antara model inkuiri sosial dengan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini dilakukan di kelas X MAN 2 Jember. Hasil penelitian ini adalah: (1)Pembelajaran inkuiri sosial lebih efektif daripada pembelajaran konvensional, (2) Pembelajaran inkuiri sosial lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi maupun rendah, dan (3) Tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis siswa.

Kata kunci: Inkuiri sosial, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar

Dalam proses pembelajaran seorang guru dituntut untuk kreatif, variatif dan mengembangkan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Hal itu dapat dilakukan dengan memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan sifat materi atau bahan ajar, dan sesuai dengan kondisi yang diinginkan oleh siswa. Selain itu, agar pembelajaran berhasil guru harus memahami dan memperhatikan aktivitas yang dimiliki siswa, agar materi yang disampaikan dapat diterima oleh semua siswa. Pembelajaran yang baik dapat dikembangkan melalui belajar mandiri yaitu discovery atau penemuan, penemuan ini didasarkan pada dua asumsi. Asumsi yang pertama, bahwa siswa belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, sehingga akan memperoleh pengetahuan. Asumsi yang kedua bahwa siswa menciptakan sendiri kerangka kognitif dan mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan atau diperoleh sebelumnya (Wheatley, 1991:12).
Pembelajaran yang menekankan proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah sosial melalui pengujian hipotesis yang didasarkan pada fakta dan terlibat secara aktif dalam pembentukan konsep sehingga dapat mewujudkan siswa yang mandiri dalam mengembangkan pengetahuannya. disebut dengan pembelajaran model inkuiri sosial. Wilson (Trowbridge, 1990), menyatakan bahwa model inkuiri adalah sebuah model proses pembelajaran yang merupakan suatu cara mengajar murid-murid bagaimana belajar menggunakan keterampilan, proses, sikap dan pengetahuan berpikir rasional.
Pembelajaran dengan inkuiri sosial memacu keinginan siswa untuk mengetahui dan memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya sampai mereka menemukan jawabannya. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki keterampilan berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisis dan menangani informasi. Dalam proses inkuiri, siswa belajar dan dilatih bagaimana mereka harus berpikir kritis dan ketika siswa belajar berpikir kritis, mereka akan memperlihatkan pikiran-pikiran dan proses-proses misalnya dalam mengajukan pertanyaan sampai membuat kesimpulan. Dampak proses pembelajaran model inkuri sosial pada siswa, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi, serta kemampuan siswa dalam berpikir kritis yang lebih tinggi dalam memecahkan permasalahan, baik dalam menganalisis suatu soal, membuat suatu argumen yang baik dalam menyelesaikan permasalahan, pemahaman konsep-konsep ekonomi menjadi lebih baik.
Kemampuan berpikir kritis merupakan bagian penting dalam segala aspek kehidupan seseorang, digunakan dalam berbagai situasi dan kesempatan dalam upaya memecahkan persoalan kehidupan, menjadikan siswa untuk belajar tentang bagaimana mengatasi permasalahan tanpa melalui proses belajar dengan tidak secara otomatis tetapi melalui proses. Untuk itu perlu adanya upaya mengajarkan tentang bagaimana berpikir kritis kepada siswa di sekolah sedini mungkin. Upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi, menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut. Akan tetapi, apabila setiap siswa mampu berpikir secara kritis, masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah dicari solusinya. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi pada dasarnya akan menghasilkan nilai hasil belajar yang tinggi pula. Hal ini disebabkan pola pikir siswa yang sudah terbentuk dengan sendirinya mengakibatkan keberhasilan dalam proses pembelajaran.
Beberapa hasil penelitian mengungkapkan bahwa model pembelajaran inkuiri sosial dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian tersebut antara lain dilakukan oleh Zaelan (2005) juga menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri sosial dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa secara signifikan dalam pembelajaran. Demikian pula penelitian yang juga dilakukan oleh Djollong (2009) memberikan hasil bahwa penggunaan model inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa ditinjau dari kemampuan berpikir kritis siswa.

METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan quasai experiment dengan desain factorial 2 x 2, desain yang digunakan pada penelitian (Gall, dkk, 2003:404). Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MAN 2 Jember. Sampel penelitian ini sebanyak 4 kelas yang diambil secara acak, yaitu 2 kelas sebagai kelas eksperimen dan 2 kelas sebagai kelas kontrol. Sebelum penelitian dilakukan peneliti mengukur kemampuan awal siswa dari nilai ulangan mata pelajaran ekonomi untuk diuji homogenitas dan normalitas agar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki kemampuan awal yang hampir sama. Peneliti juga melakukan validasi dan uji coba instrumen. Instrumen berupa instrumen hasil belajar, instrumen berpikir kritis dan perangkat pembelajaran.

HASIL
Berdasarkan hasil analisis data menggunakan analisis ANAVA dua jalur, maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) Pembelajaran inkuiri sosial lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dengan pembelajaran inkuiri sosial lebih baik dari kelas kontrol yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Dalam hal ini hipotesis penelitian diterima sesuai dengan hasil uji analisis. Dimana H0 pada uji analisis ditolak yang berarti dapat disimpulkan bahwa siswa kelas X MAN 2 Jember yang belajar menggunakan inkuiri sosial lebih efektif dibandingkan dengan siswa yang belajar secara konvensional, (2) Pembelajaran inkuiri sosial lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi dan rendah. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dengan pembelajaran inkuiri sosial lebih baik dari kelas kontrol yang mendapatkan pembelajaran konvensional pada siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi maupun siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis rendah. Dalam hal ini hipotesis penelitian diterima sesuai dengan hasil uji analisis. Dimana H0 pada uji analisis ditolak yang berarti dapat disimpulkan bahwa hasil belajar ekonomi pada siswa kelas X MAN 2 Jember yang belajar menggunakan inkuiri sosial lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar secara konvensional, baik pada siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi maupun siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis rendah, dan (3) Ada interaksi antara model inkuiri sosial dengan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini berbeda dari hasil analisis bahwa tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan berpikir kritis terhadap hasil belajar ekonomi. Berdasarkan hipotesis yang dibuat maka hasil ini menolak hipotesis. Dimana H0 pada uji analisis diterima yang berarti dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran yang dipergunakan dengan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran inflasi siswa kelas X MAN 2 Jember.
PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis hasil penelitian, siswa yang diberikan pembelajaran inkuri sosial memiliki rata-rata nilai hasil belajarnya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diberikan pembelajaran konvensional. Selanjutnya pembelajaran inkuiri sosial juga lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi maupun siswa yang memliki kemampuan berpikir kritis rendah. Hal ini dapat dipahami karena kelebihan dari pembelajaran inkuiri sosial adalah keterlibatan siswa dalam menggunakan kemampaun berdiskoveri, siswa secara aktif dapat mengembangkan dirinya.
Pada siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri sosial lebih aktif dan lebih agresif serta teliti dalam mengerjakan langkah-langkah merumuskan hipotesis, menganalisis data serta berkembang penalarannya. Hal ini sesuai denga pendapat Kosasih Djahiri (1978/1979:128) mendefinisikan, model pembelajaran inkuiri sebagai salah satu cara belajar penelaahan sesuatu yang bersifat mencari sesuatu secara kritis-analisis-argumentatif ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan karena didukung baik oleh data, fakta, realita maupun argumentasi. Pada saat uji tes (post test) mereka lebih siap karena sudah memahami persoalan yang diujikan serta penguasaan konsep yang ada terutama pada materi inflasi. Menurut kamus besar Indonesia hasil belajar merupakan penguasaan pengetahuan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditujukan dengan nilai tes/angka yang diberikan oleh guru. Selanjutnya hasil belajar menurut Sudjana (2005:19) yaitu suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Dari dua definisi di atas dapat dikatakan siswa yang memiliki kemampuan pada mata pelajaran ekonomi yang dibelajarkan dengan pembelajaran inkuiri sosial lebih menonjol baik dalam nilai rata-rata total ataupun rata-rata tinggi.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Febriyawati (2011) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan konvensional. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zaelan (2005) juga menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri sosial dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa secara signifikan dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri lebih efektif daripada pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Winkel (1996:162) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.
Hasil yang dicapai oleh siswa dalam penelitian ini sudah melewati tahapan-tahapan seperti pada tahap apersepsi, guru sudah melakukan kegiatan menghubungkan konsep awal dan siswa mengungkapkan dugaan sementara terhadap konsep yang mau dipelajari. Saat berdiskusi dan penjelasan konsep, siswa mengkomunikasikan hasil temuannya, guru menjadi fasilitator dalam menampung dan membantu siswa membuat kesepakatan kelas, selanjutnya pada tahap proses guru memberikan gambaran konsep kepada siswa dan mengarahkan siswa dalam mengevaluasi serta siswa membuat kesimpulan melalui bimbingan guru dan menerapkan pemahaman konseptual yang telah diperoleh melalui pembelajaran saat itu melalui pengerjaan tugas.
Dari penilaian tahapan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bagi siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri sosial lebih aktif dalam memberikan pendapatnya pada saat membuat kesimpulan akan memperoleh hasil yang lebih tinggi. Sedangkan ada beberapa siswa yang hasil belajarnya rendah memang terlihat di saat mengadakan penelitian tidak seaktif temannya, mereka hanya mengikuti apa yang ada di buku tanpa mengkaji apa yang dilakukannya, sehingga pemahaman konsep terasa sangat kurang. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran menggunakan strategi inkuiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan.
Pada pandangan lain, teori mengajar discovery inquiry adalah teori mengajar yang dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa siswa memiliki kemampuan untuk percaya pada diri sendiri dengan cara berpikir dan belajar sendiri sehingga ia mampu menemukan jawaban dan analisisnya sendiri hingga pada akhirnya mampu menjelaskan hasil belajarnya sendiri (Richard Schuman, 1962). Dalam mempraktekkan teori mengajar maka seorang guru diharapkan mampu mendekati, mengenali, menggali dan mengembangkan potensi-potensi belajar anak. Berdasarkan pemikiran ini maka teori mengajar discovery inquiry akan lebih bermanfaat dan efektif untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar bisa mandiri dalam belajar dan berfikir tentang sesuatu hingga mereka memiliki pemahaman berdasarkan pola dan proses belajar yang ia alami sendiri. Inkuiri banyak dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif. Menurut aliran ini belajar pada hakikatnya dalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Belajar lebih dari sekedar proses menghafal dan menumpuk ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana ilmu pengetahuan yang diperolehnya bermakna untuk siswa melalui keterampilan berpikir. Dengan kata lain, model pembelajaran ini mengajak siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya, yang nantinya akan berdampak baik pada hasil belajar siswa.
Hal ini berbeda dari hasil analisis, bahwa tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan berpikir kritis terhadap hasil belajar ekonomi. Artinya model pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis siswa tidak saling mempengaruhi terhadap hasil belajar ekonomi, baik siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi maupun siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis rendah. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran yang dipergunakan dengan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran inflasi siswa kelas X MAN 2 Jember. Berdasarkan hasil penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Siti Aliah (2012) menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran inkuiri terbimbing dan konvensional dengan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap pembelajaran fisika. Artinya model pembelajaran yaitu inkuiri terbimbing dan konvensional tidak berpengaruh pada prestasi belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi maupun siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis rendah.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran inkuiri sosial lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dengan pembelajaran inkuiri sosial lebih baik dari kelas kontrol yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Jadi dapat disimpulkan bahwa siswa kelas X MAN 2 Jember yang belajar menggunakan inkuiri sosial lebih efektif dibandingkan dengan siswa yang belajar secara konvensional. Selanjutnya pembelajaran inkuiri sosial lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi dan rendah. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dengan pembelajaran inkuiri sosial lebih baik dari kelas kontrol yang mendapatkan pembelajaran konvensional pada siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi maupun siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis rendah. Berarti dapat disimpulkan bahwa hasil belajar ekonomi pada siswa kelas X MAN 2 Jember yang belajar menggunakan inkuiri sosial lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar secara konvensional, baik pada siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi maupun siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis rendah. Serta yang terakhir tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar ekonomi. Berdasarkan hipotesis yang dibuat maka hasil ini menolak hipotesis. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran yang dipergunakan dengan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran inflasi siswa kelas X MAN 2 Jember.
Saran
Berdasarkan dari hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang diberikan adalah siswa untuk dapat lebih mengembangkan kemampuan intelektualnya secara bebas dalam hal memecahkan masalah. Karena hal ini akan berdampak pada siswa untuk memiliki kemampuan percaya pada diri sendiri dengan cara berpikir dan belajar sendiri sehingga siswa mampu menemukan jawaban dan analisisnya sendiri hingga pada akhirnya mampu menjelaskan hasil belajarnya sendiri. Bagi guru mengingat hasil penelitian ini yang menunjukkan pembelajaran inkuiri sosial lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, maka perlu dirancang untuk menggunakan variasi model pembelajaran inkuiri yang lebih tinggi untuk meningkatkan berpikir kritisnya seperti inkuiri terbuka atau inkuiri modifikasi yang nantinya siswa dapat lebih mengeksplorasi pengetahuannya. Serta seorang guru diharapkan mampu mendekati, mengenali, menggali dan mengembangkan potensi-potensi belajar anak melalui kognisi pengetahuan dan pengalamannya selama ini, karena akan lebih bermanfaat dan efektif untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar bisa mandiri dalam belajar dan berfikir tentang sesuatu hingga mereka memiliki pemahaman berdasarkan pola dan proses belajar yang siswa alami sendiri.
Bagi Sekolah MAN 2 Jember, pihak sekolah hendaknya memperhatikan dan menigkatkan sarana prasarana yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar. Hal ini nantinya dapat berdampak pada siswa dalam memperoleh informasi-informasi untuk menambah pengetahuannya. Sedangkan saran bagi peneliti selanjutnya idealnya peneliti selanjutnya juga mencoba melakukan pengujian terhadap hasil belajar yang meliputi ranah kognitif dan afektif pada siswa. Serta bagi peneliti selanjutnya bisa dilakukan pengujian model pembelajaran yang nantinya berpengaruh pada peningkatan kemampuan berpikir kritisnya dan hasil belajarnya. Dengan kata lain, hasil interaksi yang akan diperoleh bisa membuktikan bahwa model pembelajaran terdapat interaksi dengan kemampuan berpikir kritis dalam meningkatkan hasil belajar siswa.


DAFTAR RUJUKAN
Clark. Leonardo, H. Klein. 1973. Teaching Social Studies in Secondary Schools. Macmillan Publishing Co., Inc. New York.
Djahiri Kosasih. (1986). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Jurusan PBB-IKIP Bandung.
Djollong, (2009). Penggunaan metode inkuiri dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial untuk meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar ditinjau dari kemampuan berpikir kritis. Bandung: UPI.
Ennis, R, H. 1996. Critical Thinking. New Jersey: Prentice-Hall Inc.
Sound & Trowbridge. 1973. Teaching Sicience by Inquiry in the Scondary School. Columbus: Charles E. Marvil Publishing Company.
Sudjana, Nana. (2005). Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Trowbridge, L.W. & R. W. Bybee. 1990. Becoming a Secondary School Science Teacher. Melbourne: Merill Publishing Company.
Watson, G dan Glaser, E. M. 1980. Critical Thinking Appraisal. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Wheatley. 1991. Constructivist Perspectives on Science and Mathematics Learning, Journal of in Science Teaching. New York: Jhon wiley & Son 35 (1).