Senin, 23 April 2018

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) MATERI PERBANDINGAN TRIGONOMETRI SUATU SUDUT PADA SEGITIGA SIKU–SIKU UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XG MAN 2 JEMBER


Sarifah Indiana

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas X MAN 2 JEMBER 2 melalui penerapan model Pembelajaran Kooperatif type Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut Pada Segitiga Siku–Siku. Rancangan penelitian ini adalah PTK dengan tahapan: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, (4) refleksi. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan: 1)Penerapan model Pembelajaran Kooperatif type Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut Pada Segi tiga Siku–Siku dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X MAN 2 Jember. Siswa 100 % aktif dalam pembelajaran. Dari hasil analisis tes 1 diperoleh rata-rata ketuntasan siswa secara klasikal sebesar 75,50%, tes II sebesar 88,66% dan tes akhir siklus 3 sebesar 96,6%. Sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal sebesar 60%, tes II sebesar100%, dan tes akhir siklus 3 sebesar 100%. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Kata Kunci: STAD, Aktivitas dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dan terus dilakukan, begitu juga dilakuka di MAN 2 Jember. Pembelajaran matematika juga merupakan salah satu pelajaran yang mendapat perhatian, karena tingkat ketercapaian ketuntasan hasil belajar masih belum seperti yang diharapkan, masih banyak siswa yang belum mencapai KKM sebesar 75, maka perlu dilakukan perbaikan pembelajaran melalui PTK.
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika di MAN 2 Jember dengan menerapkan model kooperatif type STAD (Student Teams Achievement Divisions). Berdasarkan data di MAN 2 Jember hasil belajar matematika di kelas X MAN 2 Jember, masih rendah masih banyak siswa yang belum mencapai standar ketuntasan minimal secara individual sebesar 75. Penerapan Model Pembelajaran kooperatif type STAD (Student Teams Achivement Divisions) dipandang tepat karenm Model pembelajaran kooperatif type STAD memiliki kelebihan sebagai berikut:1)Melatih siswa dalam mengembangkan aspek kecakapan sosial di samping kecakapan kognitif; 2) Menggalakkan interaksi secara aktif dan positif dan kerjasama anggota kelompok menjadi lebih; 3)Peran guru juga menjadi lebih aktif dan lebih terfokus sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator 4) Dalam model ini, siswa memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar. Yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar ; 5) Dalam model ini, siswa saling membelajarkan sesama siswa lainnya atau pembelajaran oleh rekan sebaya (peerteaching) yang lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru; 6) Hasil belajar yang baik bisa didapatkan oleh semua anggota kelompok (Rusman, 2012; Slavin, 2009).
Di MAN 2 Jember siswa masih mengalami beberapa kesulitan dalam memahami dan menggunakan aturan perbandingan trigonometri suatu sudut siku-siku. Penerapan Model Kooperatif type STAD, dipandang yang paling sederhana dan paling langsung daripada type pembelajaran kooperatif lainnya. Dalam STAD (Students Teams Achievement Divisions) para siswa di dalam kelas dibagi menjadi 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap tim mempunyai kelompok yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya (tinggi, sedang, rendah). Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik, dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim. Tiap siswa atau tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individu atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan (Nurhadi. dkk, 2004:61-62).
STAD (Student Teams Achievement Divisions ) terdiri atas lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual, rekognisi tim (Slavin, 2009:143-147 ), dijabarkan sebagai berikut:
1).Presentasi kelas. Materi dalam STAD ( Student Teams Achievement Divisions ) pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi didalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering kali dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi bias juga memasukkan presentasi audiovisual. Bedanya presentasi kelas dengan pengajaran biasa hanyalah bahwa presentasi tersebut haruslah benar-benar terfokus pada unit STAD. Dengan cara ini, para siswa akan menyadari penuh bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena dengan demikian akan sangat membantu mereka mengerjakan kuis-kuis, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka;
2)Tim terdiri dari enam atau tujuh siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras etnisitas. Fungsi utama dari tim adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan lebih khususnya lagi, adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar kegiatan atau materi lainnya. Yang paling sering terjadi, pembelajaran itu melibatkan pembahasan permasalahan bersama, membandingkan jawaban, dan mengoreksi tiap kesalahan pemahaman apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.Tim merupakan komponen yang paling penting dalam STAD. Pada tiap poinnya, yang ditekankan adalah membuat anggota tim melakukan yang terbaik untuk tim, dan tim pun harus melakukan yang terbaik untuk membantu tiap anggota. Tim ini memberikan dukungan kelompok bagi kinerja akademik penting dalam pembelajaran, dan itu adalah untuk memberikan perhatian dan respek yang nutual yang penting untuk akibat yang dihasilkan seperti hubungan antar kelompok, rasa harga diri, penerimaan terhadap siswa mainstream;
3)Kuis, Setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim, para siswa akan mengerjakan kuis individual. Para siswa tudak diperbolehkan untuk saling membantu dalam mengerjakan kuis. Sehingga, tiap siswa bertanggung jawab secara individual untuk memahami materinya;
4)Skor Kemajuan Individual.Gagasan dibalik skor kemajuan individual adalah untuk memberikan kepada tiap siswa tujuan kinerja yang akan dapat dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang baik daripada sebelumnya. Tiap siswa dapat memberikan kontribusi poin yang maksimal kepada timnya dalam sistem skor ini, tetapi tak ada siswa yang dapat melakukan tanpa memberikan usaha mereka yang terbaik. Tiap siswa diberikan skor “awal“, yang diperoleh dari rata rata kinerja siswa tersebut sebelumnya dalam mengerjakan kuis yang sama. Siswa selanjutnya akan mengumpulkan poin untuk tim mereka berdasarkan tingkat kenaikan skor kuis mereka bandingkan dengan skor awal mereka;
5) Rekognisi Tim.Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu. Skor tim siswa dapat juga digunakan untuk menentukan 20% dari peringkat mereka 9Slavin 2009; Suprijono, 2013).
Berdasarkan penjelasan di atas maka dipandang penerapan model pembelajaran Kooperatif Type STAD dipandang paling tepat dalam menyelesaikan problematika pembelajaran Matematika yang ada di MAN 2 khususnya pada materi: “Materi Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut Pada Segitiga Siku–Siku”.

Rumasan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan permasalahan adalah :
1. Apakah penerapan model Pembelajaran Kooperatif type Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut Pada Segitiga Siku–Siku dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X MAN 2 JEMBER ?
2. Apakah penerapan model Pembelajaran Kooperatif type Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut Pada Segitiga Siku–Siku dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas X MAN 2 JEMBER ?

Tujuan penelitian
  1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X MAN 2 JEMBER 2 melalui penerapan model Pembelajaran Kooperatif type Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut Pada Segitiga Siku–Siku .
  2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X MAN 2 JEMBER 2 melalui penerapan model Pembelajaran Kooperatif type Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut Pada Segitiga Siku–Siku .

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberi manfaat : 1)Bagi siswa, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika.; 2) Bagi Guru, terutama guru matematika sebagai informasi untuk bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas pengajaran Matematika di Sekolah.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama (Arikunto, 2008:3). Rancangan penelitian ini menggunakan model Hopkins, yaitu model skema yang menggunakan prosedur kerja yang dipandang sebagai suatu siklus spiral. Siklus ini terdiri dari empat fase yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini direncanakan menggunakan dua siklus. Langkah-langkahnya sebagai berikut:


Subyek Penelitian
Subyek penelitian siswa kelas X G MAN Jember 2 yang berjumlah 40 siswa dengan jumlah siswa laki-laki 14 orang dan siswa perempuan 26 orang.

Prosedur Penelitian
Sebelum melaksanakan siklus pertama, dilakukan tindakan pendahuluan. Hasil dari tindakan pendahuluan akan digunakan untuk mempersiapkan siklus. Dalam tindakan pendahuluan ini, diadakan kegiatan observasi di kelas X G pada saat pembelajaran berlangsung. Hal ini bertujuan untuk mengetahui saat guru memberikan materi pembelajaran.
Pelaksanaan siklus
Penelitian ini direncanakan sebanyak dengan tahapan: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, (4) refleksi. Jika dalam siklus pertama ini belum tercapai ketuntasan hasil belajar secara klasikal maka penelitian dilanjutkan pada siklus kedua dengan tahapan yang sama tetapi dengan perencanaan berbeda.
  1. Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan pada tahap ini meliputi :
  1. Menyusun perangkat pembelajaran (RPP 1 & 2) materi perbandingan trigonometri suatu sudut segitiga siku-siku dengan menggunakan model STAD (Student Teams Acviement Divisions)
  2. Menyusun daftar sekelompok belajar
  3. Menyusun lembaran kerja siswa atau lembar tugas kelompok
  4. Menyusun soal tes individu yang diberikan pada akhir tindakan
  5. Membuat pedoman observasi dan pedoman interview
  1. Tindakan
Tindakan yang dilakukan dalam tahap ini adalah :
  1. Melaksanakan pembelajaran model STAD (Student Teams Achievement Divisions) materi perbandingan trigonometri suatu sudut pada segitiga siku-siku
  2. Melakukan tes hasil belajar siswa. Selama kegiatan berlangsung peran guru hanyalah sebagai fasilitator sehingga bimbingan yang diberikan kepada siswa atau kelompok pada saat diperlukan saja.
  1. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan bersama-sama dengan pelaksanaan tindakan. Dalam kegiatan observasi ini peneliti dibantu oleh 2 orang observer yang masing-masing observer mengamati aktivitas siswa dalam satu kelompok yaitu perhatian terhadap pelajaran, bertanya (pada guru), bekerja dalam kelompok, berdiskusi antar siswa dan pengerjaan tugas.
  1. Refleksi
Refleksi adalah upaya untuk mengkaji atau memikirkan apa dan mengapa dampak dari suatu tindakan kelas. Tahap ini dilakukan dengan cara menganalisis, memahami, menjelaskan, menyimpulkan hasil tes observasi dan interview. Peneliti bersama observer menganalisis dan merenungkan hasil tindakan pada siklus 1. Jika hasil tes ketuntasan belajar siswa mencapai 75% atau lebih, maka siklus II tidak dilakukan. Namun jika ketuntasan belajar kurang dari 75% maka pelaksanaan siklus diperlukan.

Metode pengumpulan data dan Analisis Data
Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yaitu observasi, tes dan interview atau wawancara. Analisis data pada penelitian ini adalah analisis deskriftif kualitatif dan kuantitatif. Pada analisa data deskriftif kualitatif akan dihasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang diamati. Pada Analisis kuantatif digunakan rumus
  1. Persentase yang digunakan untuk menentukan persentase keaktifan siswa dapat dicari dengan rumus :
P =
Keterangan :
P = persentase keaktifan siswa
N = Jumlah Skor
M = Jumlah Skor Maksimum
Sedangkan untuk menghitung persentase keaktifan siswa secara klasikal :
Untuk mencari persentase ketuntasan hasil belajar siswa digunakan rumus
E =
E = Tingkat ketuntasan belajar siswa; n = Jumlah siswa yang tuntas belajar
N = Jumlah seluruh siswa (Ali, dalam Ayu. 2009:22)

HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN
Peneliti tidak menggunakan tes pendahuluan, nilai untuk pembagian kelompok diambil dari nilai ulangan akhir materi perbandingan trigonometri suatu sudut pada segitiga siku-siku.
Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini, kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah: 1)Menyusun perangkat pembelajaran (RPP 1&2) materi perbandingan trigonometri suatu sudut segitiga siku-siku dengan menggunakan model STAD (Student Teams Achievement Divisions); 2). Menyusun daftar sekelompok belajar
Tindakan
Pada tahap ini dilaksanakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) materi perbandingan trigonometri suatu sudut pada segitiga siku-siku siswa kelas XG MAN 2 Jember .
  1. Pembelajaran pertemuan pertama
Pembelajaran pada tahap ini berlangsung selama 2 x 40 menit. Sebelum pelaksanaan pembelajaran, peneliti memberikan penjelasan sekilas tentang model STAD (Student Teams Achievement Divisions). Mereka dibagi dalam beberapa kelompok belajar untuk mempelajari materi dan diberi matovasi untuk saling bekerja sama dan bertanya pada teman sekelompoknya jika ada materi yang tidak dimengerti.
Pertemuan kedua pelaksanaan tes 1
Pelaksanaan tes 1 ini berlangsung. Dalam tes 1 ini siswa mengerjakan 2 soal tes esay.
Pembelajaran pertemuan ketiga
Pembelajaran pada pertemuan ketiga ini berlangsung selama 2 x 40 menit, mulai pukul 10.30 sampai 12.00 WIB. Sebelum pembelajaran dimulai, peneliti mengumumkan tentang poin perkembangan yang diperoleh siswa dan skor kelompok beserta tingkat penghargaan yang diperoleh tiap kelompok, kemudian memberikan penghargaan pada kelompok yang memiliki nilai tertinggi.
Pertemuan keempat pelaksanaan tes II
Kegiatan tes II ini mengenai materi perbandingan trigonometri suatu sudut sigitiga siku-siku diberbagai kuadran yang berlangsung selama 2 x 40 menit mulai pukul 07.00 sampai 08.20 WIB. Setelah melaksanakan pembelajaran materi perbandingan trigonometri suatu sudut pada segitiga siku-siku menggunakan metode STAD (Student Teams Achievement Divisions) sebanyak 2 tahap,

e. Pertemuan kelima pelaksanaan tes akhir
Tes akhir dilaksanakan sebanyak tiga butir soal esay. Dalam tes akhir ini waktu yang digunakan hanya 1 jam mata pelajaran, karena disekolah akan diadakan rapat wali murid.

f. Pertemuan keenam pengumuman nilai yang dicapai siswa
Peneliti menginformasikan nilai yang diperoleh oleh siswa dalam tes akhir ini. Peneliti juga mengadakan interview secara lisan oleh siswa tentang tanggapan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dan materinya.

Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan untuk mengamati semua kegiatan yang terjadi dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, baik secara individual maupun kelompok. Pada kegiatan ini, peneliti dibantu oleh 2 observer (Bp.Hariyanto dan B.Yuan ).
Interpretasi Data dan Refleksi
Analisis keaktifan siswa dan kelompok
Penilaian observasi siswa dan kelompok dalam kegiatan pembelajaran dengan model STAD diamati oleh observer dengan menggunakan pedoman observasi kelompok dalam proses kegiatan pembelajaran. Observasi dilakukan oleh 2 observer yang dibagi dalam 2 tahap.
Pembelajaran pertemuan pertama menurut hasil analisis pada aspek penilaian perhatian terhadap pelajaran diketahui 8,35% siswa hanya sesekali mendengarkan penjelasan guru (poin 1), 45% atau siswa mendengarkan dan mencatat penjelasan guru (poin 2), dan 38,3% siswa yang mendengar, mencatat, dan menanyakan pelajaran yang kurang jelas (poin 3).
P r e s e n t a s e

Pembelajaran pertemuan

Gambar 2. Grafik Hasil Aspek Penilaian Perhatian Terhadap Pelajaran
Pembelajaran pertemuan pertama dari hasil analisis pada aspek penilaian bekerja kelompok diketahui 80% siswa aktif bekerja sama dalam mengerjakan lembar kerja dan membantu teman kelompok yang kurang jelas dalam memahami materi pelajaran (poin 3). Sedangkan 13,4% siswa yang hanya berinteraksi baik dengan teman, tetapi tidak aktif dan membantu teman yang mengalami kesulitan dalam memahami materi (poin 2).
Pembelajaran pertemuan

P r e s e n t a s e


Gambar 3. Grafik Hasil Aspek Penilaian Bekerja Kelompok
Pembelajaran pertemuan pertama dari hasil analisis pada aspek penilaian siswa dalam pengerjaan tugas diketahui 56,5% siswa dapat berinteraksi dengan teman sekolompok, membantu teman yang kesulitan dalam mempelajari lembar tugas (poin 3), 35% siswa dapat berinteraksi dengan teman sekelompok tetapi tidak mau membantu teman yang kesulitan dalam mempelajari lembar tugas (poin 2) dan 1,5% siswa tidak dapat berinteraksi baik dengan teman satu kelompok (poin 1).
Pembelajaran pertemuan

Pr e s e n t a s e

Gambar 4. Grafik Hasil Aspek Penilaian Pengerjaan Tugas

Pembelajaran pertemuan pertama dari hasil analisis pada aspek penilaian diskusi siswa diketahui siswa sangat aktif dalam mengeluarkan pendapat, menerangkan, bertanya dalam kelompok disaat pembelajaran berlangsung. Ini dapat dilihat dari hasil analisis yang mencapai 75% (poin 3). Sedangkan 18% siswa hanya bertanya pada kelompok dan mengeluarkan pendapat (poin 2).

Pembelajaran pertemuan

P r e s e n t a s e


Gambar 5. Grafik Hasil Aspek Penilaian Diskusi
Pembelajaran pertemuan pertama dari hasil analisis pada aspek penilaian bertanya diketahui 26,7% siswa sering bertanya pada guru lebih dari 3 kali, 10% siswa bertanya maksimal 3 kali, dan 4% siswa diam saja menerima pelajaran yang dijelaskan oleh guru.
Pada pertemuan ketiga atau pembelajaran kedua siswa kurang aktif dalam bertanya tentang materi pelajaran selama pembelajaran berlangsung, dan siswa dominan menerima apa yang dijelaskan oleh guru. 63,3% siswa tidak bertanya (poin 1), dan 36.7% siswa bertanya maksimal 3 kali (poin 2)
P r e s e n t a s e

Pembelajaran pertemuan


Gambar 6. Grafik Hasil Aspek Penilaian Bertanya
Gambaran lengkap tentang hasil penilaian pada pertemuan pertama atau tahap 1 secara singkat dapat dituliskan dalam tabel 12 berikut :






Tabel 12. Hasil penilaian diskusi kelompok tahap 1
No
Kelompok
Aspek Penilaian
Kualitas Interaksi
Keterlibatan Anak Dalam Kelompok
Hasil kerja Kelompok
1
I
66,67%
66,67%
66,67%
2
II
100%
83,34%
100%
3
III
100%
100%
100%
4
IV
100%
83,34%
66,67%
5
V
100%
100%
100%
6
VI
66,67%
83,34%
66,67%
Sumber data :data yang diolah
Berdasarkan data hasil penilaian pada pertemuan atau tahap 1 didapat hasil dari 6 kelompok, jika dinilai dari berbagai aspek baik kualitas interaksi, keterlibatan anak dalam kelompok, dan hasil kerja kelompok terlihat bahwa hasil yang diperoleh sangat bervariasi.

Tabel 13. Hasil penilaian diskusi kelompok tahap II
No
Kelompok
Aspek Penilaian
Kualitas Interaksi
Keterlibatan Anak Dalam Kelompok
Hasil kerja Kelompok
1
I
100%
100%
100%
2
II
100%
100%
100%
3
III
100%
100%
100%
4
IV
100%
100%
100%
5
V
100%
100%
100%
6
VI
100%
100%
100%
Sumber data: data yang diolah
P r e s e n t a s e

Pembelajaran pertemuan

Gambar 7. Grafik Aktivitas kelompok pada pembelajaran
Analisis Hasil Tes 1, Tes II, dan Tes Akhir
Berdasarkan hasil analisis tes awal yang dilakukan oleh guru bidang studi terdapat 17 siswa yang belum tuntas belajarnya. Sehingga ketuntasan hasil belajar secara klasikal dicapai sebesar 43,3%.
Setelah proses tindakan kelas dilaksanakan, maka diadakan tes 1. Dari hasil tes 1 diperoleh data berupa angka-angka. Rata-rata ketuntasan klasikal tes 1 siswa yaitu 75,50%.
Kemudian dari analisis hasil tes II seluruh siswa tuntas belajarnya dan ketuntasan hasil belajar secara klasikal 100%. Soal-soal yang diujikan pada tes II sebanyak 2 butir berbentuk essay. Rata-rata ketuntasan secara klasikal tes II siswa mencapai 88,66%. Pada pertemuan kelima diadakan tes akhir yang mencakup semua materi yang diajarkan dengan menggunakan model STAD (Student Teams Achievement Divisions).

Temuan Penelitian
Berdasarkan pelaksanaan siklus penelitian tindakan yang dimulai dari tes pertama hingga tes akhir dan pelaksanaan siklus dapat diperoleh beberapa temuan penelitian. Temuan-temuan selama pelaksanaan tindakan pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) adalah sebagai berikut:
  1. Dari hasil tes pendahuluan yang dilakukan oleh guru bidang studi diketahui bahwa 56,7% siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang menggunakan perbandingan trigonometri suatu sudut segitiga siku-siku, siswa kurang teliti dalam menyelesaikan soal dari nilai perbandingan trigonometri sudut segitiga situ-siku.
  2. Pada presentasi kelas pertemuan pertama oleh guru banyak siswa aktif dalam mengeluarkan pendapat, namun pada pertemuan ke 2 siswa kurang aktif dalam bertanya dan mengemukakan pendapat, siswa hanya menerima penjelasan dari guru. Menurut sebagian siswa mereka malu karena ada kepala sekolah pada waktu itu.
  3. Dalam diskusi kelompok, siswa terlihat senang menyelesaikan LKS bersama-sama dengan cara berdiskusi. Mereka sangat senang dengan adanya kelompok yang mereka lakukan dengan anggota yang tidak ditentukan sendiri, mereka lebih leluasa bertanya pada teman yang lebih pintar dari pada bertanya kepada guru. Siswa yang mempunyai kemampuan tinggi benar-benar memberi bantuan bagi teman yang kurang, agar kelompoknya berhasil.
  4. Kesulitan yang dialami selama kegiatan pembelajaran ini adalah pada saat pengorganisasian kelompok menjadi kelompok yaitu pada awal pembelajaran siswa gaduh menata meja kursi untuk membentuk kelompok dan mondar mandir mencari anggota kelompoknya. Namun setelah dilakukan pendekatan siswa dapat dikondisikan pada pertemuan 2 dan berjalan dengan lancar tidak gaduh lagi seperti pertemuan pertama.
  5. Dalam pelaksanaan tes berjalan dengan lancar. Dari analisis tes 1 dan 2 diketahui sebagian besar kesalahan siswa adalah kurang teliti dalam memahami pertanyaan soal dan menuliskan rumus yang digunakan untuk menyelesaikan soal.
  6. Setelah diadakan tes, siswa mendapatkan poin perkembangan. Skor dasar yang digunakan untuk menentukan poin perkembangan pada tahap I dan tahap II. Pada tahap I ada dua kelompok yang termasuk tim super yaitu (kelompok II dan III), 2 kelompok tim hebat (I dan VI), dan dua kelompok tim bagus (IV dan V). Pada tahap II tim super didapat oleh kelompok V, tiga kelompok tim hebat (III,IV, dan VI), dua kelompok tim bagus (kelompok I dan II).
  7. Dari hasil analisis tes 1 diperoleh rata-rata ketuntasan siswa secara klasikal sebesar 75,50%, tes II sebesar 88,66% dan tes akhir sebesar 96,6%. Sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal sebesar 60%, tes II sebesar100%, dan tes akhir 100%. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
  8. Dari hasil wawancara secara lisan dengan siswa tentang pembelajaran kooperatif model STAD, siswa merasa senang karena siswa lebih leluasa bertanya pada teman dari pada bertanya pada guru, dapat meningkatkan keakraban dengan teman yang lain, dapat memotivasi siswa dalam belajar karena adanya poin perkembangan yang akan disumbangkan untuk keberhasilan kelompoknya, dan dapat meningkatkan semangat belajar karena suasana tegang.

PEMBAHASAN
Dari hasil analisis aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, aspek penilaian kerja kelompok mengalami peningkatan. Pada tahap I aspek penilaian kerja kelompok yang dicapai sebesar 88,8% dan pada tahap II meningkat menjadi 100%. Aspek penilaian perhatian terhadap pelajaran juga mengalami peningkatan. Pada tahap I dicapai 74,4% dan tahap II meningkat 78,9%. Dari kegiatan kelompok menggunakan LKS (Lembar Kerja Siswa) siswa terlihat senang dalam menyelesaikan tugas-tugas. Dari analisis aktivitas kelompok dalam mengerjakan lembar kerja dari tahap 1 dan tahap II mengalami peningkatan. Pada tahap 1 rata-rata yang diperoleh anggota kelompok mencapai 86,12%, sedangkan pada tahap II meningkat menjadi 100%
Pada pelaksanaan tes 1 masih banyak siswa yang belum tuntas dalam belajar, ini disebabkan siswa yang tidak siap dalam mempersiapkan diri untuk ujian dan tidak teliti siswa dalam memahami soal-soal. Dari analisi hasil tes 1 masih terdapat 12 siswa yang tidak tuntas belajar sehingga ketuntasan klasikal yang dicapai mencapai 60%.
Pada tes 2 hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Dari analisis hasil tes 2 diketahui bahwa siswa mencapai ketuntasan klasikal sebesar 100%. Pada tes 2 ini siswa lebih siap dalam mempersiapkan diri untuk tes. Bukan hanya tes 2, tetapi pada kelompok siswa juga lebih siap dalam menerima pelajaran dan mengerjakan lembar kerja siswa.
Pada tes akhir, hasil siswa juga mengalami peningkatan. Walaupun tidak semua mendapat nilai sempurna, namun sudah diatas rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 75% dan ketuntasan secara klasikal ≥ 85%.
Pada pembagian skor individu ini, banyak siswa yang mendapat skor tinggi ini dapat dilihat dari peningkatan hasil tes siswa. Nilai siswa meningkat, maka skor yang diperoleh juga meningkat. Pada tes I rata-rata yang dicapai sebesar 75,50% dan pada tes II rata-rata meningkat menjadi 88,6%.
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa dengan pelaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) dan dibentuknya kelompok yang heterogen sangat baik dan dapat melatih siswa lebih berani dalam mengeluarkan pendapat, bertanya, menjawab pertanyaan dan menjalin keakraban antar siswa meskipun hal ini tidak berlaku untuk keseluruhan. Dengan pembelajaran kooperif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) memungkinkan belajar siswa menjadi aktif dan mengurangi kecendrungan siswa pasif, hanya duduk-duduk, mendengarkan, menghafal rumus, dan mengikuti semua perintah guru tanpa mengetahui konsep diperoleh. Dengan pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) dengan dibentuk kelompok ini dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan: Penerapan model Pembelajaran Kooperatif type Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada materi Perbandingan Trigonometri Suatu Sudut Pada Segitiga Siku–Siku dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X MAN 2 Jember; Dari hasil analisis tes 1 diperoleh rata-rata ketuntasan siswa secara klasikal sebesar 75,50%, tes II sebesar 88,66% dan tes akhir siklus 3 sebesar 96,6%. Siswa 100 % aktif dalam pembelajaran, Sedangkan ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal sebesar 60%, tes II sebesar100%, dan tes akhir siklus 3 sebesar 100%. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, S. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Ayu, N. 2009. Pembelajaran matematika dengan Pendekatan kooperatif Model STAD Berorientasi Social Skill Sub Pokok Bahasan Pertidaksamaan Kuadrat pada Siswa Kelas X.3 Semester Ganjil SMA Negeri Kalisat Jember Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi. Tidak dipublikasikan.
Muslich, M. 2008. KTSP pembelajaran berbasis kompetensi dan konstektual. Jakarta: Bumi Aksara
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran.Bandung: Seri manajemen Sekolah bermutu
Silberman, M.L. 2006. Active Learning 101 cara belajar siswa aktif edisi revisi. Bandung: Nusa Indah
Slavin,R. 2009. Cooperative Learning. Bandung: Nusa indah
Sudjana dan Ibrahim. 1989. penelitian dan penilaian pendidikan. Bandung: Sinar Baru
Agus Suprijono. 2013 .Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pusaka Pelajar