Senin, 10 Agustus 2020

TRADISI UPACARA KASADA SEBAGAI SUMBER NILAI PENDIDIKAN KARAKTER BAGI GENERASI MUDA

TRADISI UPACARA KASADA SEBAGAI SUMBER NILAI PENDIDIKAN KARAKTER BAGI GENERASI MUDA

Pi’i
piirawi@gmail.com


Abstrak:Tujuan karya tulis ilmiah ini adalah;(1) menguraikan sejarah tradisi upacara Kasada, (2) menguraikan tahapan upacara Kasada, dan (3) merumuskan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam upacara Kasada. Berdasarkan kajian bahwa tradisi upacara Kasada merupakan upacara keagamaan sebagai wujud rasa syukur masyarakat Tengger kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Tradisi upacara Kasada terkait dengan kepercayaan masyarakat Tengger tentang pengorbanan leluhurnya yang berasal dari Majapahit, yaitu Roro Anteng dan Joko Seger untuk keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan masyarakat Tengger. Peristiwa pengorbanan tersebut secara turun temurun diperingati masyarakat Tengger, dan bertahan hingga masa kini.Tradisi upacara Kasada di Gunung Tenggerdewasa ini telah menjadi wisata budaya dan wisata alam. Tradisi upacara Kasada tersebut memiliki potensi nilai-nilai pendidikan karakter antara lainmeliputi; nilai religius, nilai toleransi, nilai cinta damai, nilai gotong royong, nilai pengorbanan, nilai tanggung jawab sosial. Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut dapat dimanfaatkan generasi muda sebagai acuan dalam bersikap dan berperilaku, dan mencegah atau mengurangi pengaruh negatif perkembangan arus globalisasi.

Kata Kunci : Upacara Kasada, Nilai Karakter, Generasi Muda.

PENDAHULUAN
Generasi muda merupakan generasi harapan bangsa, generasi penerus pembangunan dan generasi yang memiliki tugas dan tanggung jawab menjaga keutuhan bangsa, dan membawa kemajuan rakyat Indonesia yang selaras dengan jatidiri bangsa. Proses pembinaan kepada generasi muda merupakan tanggung jawab bersama semua elemen bangsa. Pemerintah, lembaga pendikan, lembaga agama, lembaga adat, dan institusi lainnya, serta masyarakat memiliki tugas dan tanggung jawab bersama melakukan pembinaan kepada generasi muda. Diharapkan generasi muda mampu menggali dan mengembangkan potensinya, menguasai iptek, dan berkarakter untuk menyiapkan masa depan diri dan bangsanya.
Proses pembinaan kepadagenerasi muda bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi di tengah-tengah perkembangan arus globalisasi yangtelah mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat, terutama pengaruhnya terhadap sikap dan perilaku generasi muda. Memang tidak dapat dipungkiri, dengan perkembangan arus globalisasi telah membawa pengaruh positif terhadap generasi muda antara lain yaitu; melimpahnya ketersediaan referensi yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan berfikir, tumbuhnya keterampilan bidang Information technology (IT), dan terbukanya peluang usaha dan jasa terutama pada sektor informal terkait dengan perkembangan IT tersebut.
Namun di sisi lain, perkembangan arus globalisasi menimbulkan pengaruh negatif atau permasalahan-permasalahan baru bagi generasi muda. Pengaruh negatif tersebut antara lain yaitu; rendahnya sikap menghormati kepada orang tua, dekadensi moral, pergaulan bebas, penyalahgunaan obat-obat terlarang, intoleransi, dan menjalarnya faham radikalisme.Pengaruh negatif lainnya perkembangan arus globalisasi terhadap generasi muda yaitu;mementingkan diripribadi,serta memudarnya semangatnasionalisme dan patriotisme (Widiono, 2019: 12).
Berbagaipengaruh negatif perkembangan arus globalisasi terhadap generasi muda tersebut menunjukkan betapa rendahnya kapasitas moral generasi muda. Hal ini menimbulkan kekuatiran karena generasi muda merupakan penerus kelangsungan kehidupan suatu bangsa. Salah satu upaya untuk mencegah atau mengurangi pengaruh negatif perkembangan globalisasi tersebut yaitu dengan menggali dan mengenalkan tradisi, adat, dan budaya tradisionalkepada generasi muda. Salah satu tradisi, adat dan budaya tradisional yang terdapat di Jawa Timur adalah upacara Kasada. Upacara Kasada merupakan upacara tradisional masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo. Upacara ritual Kasada telah menjadi wisata budaya, dan wisata alam yang mampu memanjakan keindahan dan keunikan bagi para wisatawan domestikdan mancanegara. Upacara tradisional masyarakat Tengger tersebut dapat dijadikan sebagai sumber nilai pendidikan karakter yang bermanfaat bagi generasi muda.
Berdasarkan uraian tersebut, perlu kiranya untuk melakukan kajian secara seksama tentang tradisi upacara Kasada. Melalui kajian diharapkan mampu menangkap nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi, adat, dan budaya masyarakat Tengger tersebut. Nilai-nilai pendidikan karakter yang diperoleh, diharapkan mampu menjadi acuan dalam mengembangkan sikap dan perilaku generasi muda, serta mencegah atau mengurangi pengaruh negatif perkembangan arus globalisasi. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan penelitian ini yaitu sebagai berikut; (1) menguraikan sejarah tradisi upacara Kasada, (2) menguraikan tentang tahapan upacara Kasada, dan (3) merumuskan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam upacara Kasada, dan untuk diimplementasikan generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.


KAJIAN PEMBAHASAN

SEJARAH TRADISI UPACARA KASADA
Orang Tengger adalah suku atau masyarakat yang hidup di lereng-lereng, perbukitan, dataran tinggi, di kawasan Taman Nasional Bromo. Secara administratif tempat tinggal (desa) orang Tengger merupakan bagian dari wilayah kabupaten Malang (desa Ngadas), kabupaten Pasuruan (antara lain desa Wonokitri), kabupatem Probolinggo (antara lain desa Ngadisari) dan kabupaten Lumajang (desa Ranu Pani). Orang Tengger hingga kini masih melestarikan tradisi, adat, dan budaya leluhurnya secara turun-temurun. Merekapercaya adanya roh-roh halus, roh nenek moyang, Dewaatau Sang Hyang Widi (Tuhan Yang Maha Pencipta). Merekajuga percayaadanya tempat-tempat yang keramat, suci yang memiliki nilai-nilaireligi (Widyaprakosa, 1994: 4). Gunung Bromo diyakini sebagai tempat suci yang dilambangkan sebagai Dewa Brahma (Sudiro, 2001: 100). Merekahidup secara damai, aman, teratur, menghormati perbedaan agama, menjunjung toleransi, rajin bekerja, dan selalu gembira. Angka kejahatan dalam masyarakat Tengger dapat dikatakan nol persen. Hingga kini orang Tengger menjunjung tinggi kejujuran dan ketulusan (Sutarto, 2006: 1).
Orang Tengger mempercayai bahwa dirinya merupakan keturunan dari Majapahit. Tengger, menurut cerita rakyat setempat (legenda) berasal dari perpaduan nama belakang nenek moyang mereka yang berasal dari Majapahit yaitu Roro Anteng dan Joko Seger. Sementara itu, juga terdapat orang yang berpendapat bahwa Tengger diidentikan dengan kata tenger atau tengering (Jawa) artinya pertanda. Jika dihubungkan dengan tradisi, adat, dan kepercayaan, maka Tengger (tenger) dapat diartikan sebagai “tengering budi luhur (Jawa)” atau pertanda memiliki budi luhur (Masmuh, 2003:145, Kusumadinata, 2015: 19). Pendapat tersebut dapat dipandang sebagai suatu penguatan terhadap legenda tersebut,bahwa orang Tengger itu berbudi luhur atau masih menjunjung tinggi tradisi, adat, dan kepercayaan leluhurnya.
Dalam kajian sejarah, kawasan Tengger ternyata memiliki sejarah lebih panjang dibandingkan dengan keyakinan orang Tengger bahwa leluhurnya berasal dari Majapahit. Berdasarkan kajian sejarah, sebelum zaman Majapahit kawasan Tengger ternyata telah dihuni oleh masyarakat Walandit yang disebut hulun hyang yaitu orang yang mengabdikan hidupnya untuk dewata. Tanah di sekitar desa Walandit disebut hila-hila atau suci. Hal ini didasarkan pada prasasti zaman Mpu Sendok, yaitu prasasti yang berangka tahun 851 Saka (929 M) (Sutarto, 2006: 3). Masyarakat Walandit juga diceritakan dalam prasasti (masa Majapahit) berangka tahun 1327 Saka (1405) yang ditemukan di daerah Penanjakan, desa Wonokitri, Pasuruan. Pada saat itu masyarakat Walandit telah melakukan pemujaan ke gunung Bromo (Sutarto, 2006: 3, Suprapta, 2007: 20-21).
Ketika kerajaan Majapahit mengalami kemunduran, dan semakin meluasnya pengaruh Islam, mendorong orang-orang Majapahit mengungsi ke kawasan Tengger dan Bali. PengungsiMajapahit ke Tengger semakin meningkat ketika daerah Karsyan Prawira dan sekitarnya berhasil diislamkan olehtentara Demak pada abad ke-16 M(Sutarto, 2006: 3). Para pengungsi Majapahit mudah diterima, beradaptasi, bahkan terjadi proses perpaduan dengan masyarakat Walandit. Taufik Abdullah (2002:78)menyatakan bahwa pengungsi Majapahit dan masyarakat (Walandit) dipegunungan itu menjadi leluhur orang Tengger (Wong Tengger) masa kini.
Mudah diterimanya para pengungsi Majapahit dalam lingkungan masyarakat Walandit, bahkan terjadinya perpaduan antara keduanya antara lain disebabkan kegiatan beragama para pengungsi Majapahit tidakjauh berbeda atau mungkin sama dengan masyarakat Walandit, yaitu kegiatan keagamaan yang bercorak Hindu-Budha(Sutarto, 2006: 3). Selain itu, kemungkinan masyarakat Walandit merasa dirinya sebagai penduduk (rakyat) Majapahit sehingga ketika kedatangan para pengungsi Majapahit beserta kalangan istana, kaum bangsawan dan pejabat kerajaan lain diterima dengan baik, karena masyarakat Walandit merasa terhormat kedatangan para junjungannya itu. Jika demikian, maka kepercayaan masyarakat Tengger yang menyatakan bahwa nenek moyangnya merupakan keturunan dari Majapahit, hal itu selaras dengan pembuktian sejarah atau setidak-tidaknya mendekati dengan kajian sejarah.
Orang Tengger memiliki banyak upacara adat yang hingga kini masih dilestarikan. Upacara adat tersebut antara lain yaitu; upacara Karo, Unan-Unan, Entas-Entas, Pujan Mubeng, Tugel Kuncung atau Tugel Gombak, Barikan, Liliwei dan Kasada. Dari berbagai upacara adattersebut, terdapat satu upacara adatmasyarakat Tengger yang dikenal masyarakat luas bahkan hingga mancanegara yaitu upacara Kasada atau disebut pula Yadnya Kasada. Upacara Kasada dilaksanakan setiap tahun sekali pada tanggal 14 atau 15 malampurnama pada bulan ke-12 (Kasada). Upacara Kasada merupakan hari raya korban bagi masyarakat Tengger dengan memberikan sesaji yang dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai bentuk rasa syukur dan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Harta benda yang dikorbankan atau disesajikan berupa hasil pertanian seperti sayur-sayuran, buah-buahan. Selain itu, berupa hewan ternak seperti ayam atau kambing, bahkan ada yang mengorbankan berupa uang.
Perayaan hari raya Kasada tidak terlepas dari legendamasyarakat Tengger tentang para leluhurnya yang berasal dari Majapahit (Roro Anteng dan Joko Seger). Roro Antheng adalah seorang remaja putri yang sangat cantik dan berperilaku baik, keturunan raja Majapahit, sedangkan Joko Seger adalah seorang remaja yang tampan dan baik, anak seorang Brahmana Majapahit. Keduanya menjalin asmara dan sepakat membentuk kehidupan rumah tangga. Pada awalnya kehidupan rumah tangganya sangat bahagia. Beberapa tahun kemudian kebahagiaan rumah tangga itu surut atau terjadi kegalauan karena belum dikaruniai keturunan.Berbagai usaha telah dilakukan tetapi belum menampakkan hasil, akhirnya keduanya melakukan tapabrata di puncak Bromo memohon kepada Dewa agar dikaruniai keterunan.
Perjuangan pasangan suami-istri itu tidak sia-sia karena Dewa bersedia mengabulkan permohonan itu, bahkan akan mengaruniai 25 anak, dengan suatu syarat bahwa anak terakhir harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Roro Antheng dan Joko Seger tidak keberatan atau menyanggupi persyaratan tersebut. Sembilan bulan kemudianpasangan suami-istri itu dikarunia seorang anak. Pada tahun-tahun berikutnya, setiap tahunnya pasangan suami-istri itu dikarunia anak hinggaberjumlah 25 anak sebagaimana yang dijanjikan oleh dewa.
Raden Kusuma, anak ke-25 merupakan anak terakhir, dia anak yang baik dan tampan, disayangi saudara-saudaranya, orang tuanya, dan lingkungannya.Roro Antheng dan Joko Seger meski hidupnya tampak bahagia bersama anak-anaknya, tetapi hatinya merasa galau sejak lahirnya anak ke-25. Mereka teringat perjanjian dengan Dewa. Mereka tidak mungkin mengingkarinya, meski sama sekali tidak tega dengan nasib anaknya. Dalam benaknya, mengingkari perjanjian sama dengan mendatangkan malapetaka. Bahkan, Dewa juga telah mengingatkan kembali bahwa jika perjanjian itu diingkari, maka Dewaakan memberi malapetaka kepada Masyarakat Tengger dengan memuntahkan api dari perut Gunung Bromo. Raden Kusuma akhirnya mengetahui faktor penyebab kegalauan kedua orang tua. Raden Kusuma tetap tegar, ikhlas, dan bahkan meminta kepada orang tuanya untuk segera melaksanakan amanah Dewa demi keselamatan dan kedaiaman masyarakat Tengger.Dengan berbagai pertimbangan dan desakan dari Raden Kusuma akhirnya Roro Anteng dan Joko Seger dengan keteguhan hati mengorbankan anak bungsunya ke kawah Bromo. Beberapa saat kemudian terndengar suara dari mulut kawah Gunung Bromo sebagai berikut ““Dulurku sing isih urip ana ngalam donya, ngalam padang, mbesuk akusaben wulan Kasada kirimana barang samubarang sing ana rupa tuwuh, rupasandhang pangan, saanane sandhang pangan sing rika pangan ana ngalam donya,weruh rasane, apa sing rika suwun mesti keturutan kekarepane rika, ya keturutanpanjaluke rika ya mesti kinabulna.” Artinya “Saudara-saudaraku yang masih hidup di dunia,di alam terang, kelak setiap bulan Kasada, kirimkan kepadaku hasil pertanianmu, danmakanan yang kalian makan di dunia, agar aku dapat merasakannya. Keinginanmudan permintaanmu pasti kukabulkan” (Sutarto, 2006:7).


TAHAPAN RITUAL UPACARA KASADA
Perayaan Kasada pada dasarnya merupakan komunikasi masyarakat Tengger dengan Sang Hyang Widhi, roh-roh halus, dan para leluhurnya yang menjaga wilayah Tengger. Komunikasi itu dilakukan melalui para dukun Tengger sebagai pewaris aktif tradisi Tengger (Sutarto, 2006: 6). Dukun Tengger adalah orang yang memiliki kemampuan religi, hafalmantra-mantra, pemimpin hari raya Kasada, dan upacara keagamaan lainnya. Komunikasi para dukun dengan membaca mantra-mantra atau doa-doa untuk memohon keselamatan keluarga, masyarakat Tengger dan masyarakat pada umumnya, serta meminta berkah atau pemujaan, dan sebagai bentuk rasa syukur kepada yang menjaga Gunung Bromo.
Masmuhmenyatakan upacara Kasada terdiri atas 3 tahapan yaitu; (1) pengambilan air suci, (2) pembukaan hari raya Kasada, dan upacara ritual di Poten(2003:107), demikian pula Juli Astutik menyatakan hal yang sama (dalam Anas, 2013 : 26-33). SedangkanSupriyono menyatakan bahwa upacara Kasada terdiri atas 8 tahapan yang meliputi; (1) puja purkawa, (2) manggala upacara, (3) nglukat umat, (4) tri sandiya, (5), muspa, (6) pembagian bija, (7) diksa widhi, dan (8) penyerahan sesaji di kawah gunung Bromo (dalam Sudiro, 2001: 104). Dua pernyataan tentang tahapan ucara Kasada itu pada prinsipnya sama. Artinya 3 tahapan upacara Kasada terutama yang dimaksudkan Juli Astutik juga meliputi seperti pada pernyataan kedua. Untuk memudahkan pemahaman, meskipun memiliki pengertian yang sama, penulis lebih cenderung menyatakan bahwa upacara Kasada terdiri atas 5 tahapan yaitu sebagai berikut.
Pertama, pengambilan air (tirta) suci. Beberapa hari sebelum hari H, para dukun dari berbagai desa di kawasan Tengger dengan melakukan ritual tertentu mengambil air suci ditaruh dalam botol antara lain pengambilan air suci di Gunung Widodaren. Air (tirta) suci dimanfaatkan untuk nglukat umat, penyucian jiwa masyarakat Tengger di Pure Luhur Poten. Sementara itu, masyarakat sibuk membuat ongkek dan menyiapkan harta benda yang akan dikorbankan.Ongkek adalah bambu yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk suatu pikulan (Pramita dkk, 2013: 57). Ongkek tersebut dimanfaatkan untuk menaruh sesaji berupa hasil pertanian maupun hewan ternak.
Kedua, pembukaan hari raya Kasada. Acara pembukaan dilaksanakan di desa Ngadisari yang dihadiri pejabat pemerintah daerah/pusat, parisada, para dukundari seluruh desa di kawasan Tengger, para sesepuh (legen), tokoh masyarakat, dan masyarakat pada umumnya. Acara pembukaan hari raya Kasada dirangkai dengan pertunjukan Sendratari Roro Anteng dan Joko Seger, dan diramaikan dengan berbagai hiburan yang diikuti oleh para pemuda dari berbagai daerah di Jawa Timur. Sekitar pukul 23.00, para dukun dan umatnya meninggalkan desa Ngadisari, menuju Pure Poten Luhur yang terletak di lautan pasir kawasan Bromo untuk melaksanakan upacara ritual kasodoan.
Ketiga, upacara ritual Kasada di Pure Luhur Poten. Acara sakral Kasada dilakukan pada pada tanggal 15 malam purnama pada bulan Kasada, sekitar pukul 02.00-07.00 WIB. Dalam acara tersebut, para dukun, para legen, dan masyarakat yang akan berkorban, menempati ruang-ruang, dan tempat-tempat yang telah ditentukan sesuai dengan perannya masing-masing. Upacara Kasada diawali dengan nembang kidung-kidung, puji-pujian religi diringi gamelan, dilanjutkan dengan nglukat tempat-tempat persembahyangan, pembacaan kitab suci Weda, pembacaan sejarah Kasada, nglukat umatatau menyucikan, memberihkan jiwa umat (suku Tengger) yang meliputi; (a) pembagian bija, (b) pembakaran dwipa, (c) pemberian wewangen, dan (d) memercikkan tirta suci. Acara ritual Kasada ini diakhiri dengan muspa atau persembahyangan yang dipimpin pinandito yang dibantu para dukun. Umat duduk bersila, kedua telapak tangan mengapit kembang (bunga) kemudian mengangkat tangan ke atas menempel kepala, berdoa bersama dipimpin pinandito. Kemudian dilanjutkan membaca doa untuk hajat pribadi, keluarga, atau doa untuk masing-masingdesa (Anas, 2013 : 28-29).
Keempat, pemilihan dan penetapan dukun. Seseorang warga Tengger dapat ditetapkan menjadi dukun antara lain harus memenuhi syarat; (a) pernah menjadi legen selama beberapa tahun, (b) mampu menghafalkan sebagian besar mantra-mantra atau doa-doa, dan (c) apabila di tahun sebelumnya atau 44 hari sebelum hari raya Kasada di desanya tidak ada orang yang meninggal (Anas, 2013: 31). Penetapan menjadi dukun dilaksanakan setelah persembayangan dan menjelang kegiatan pelemparan harta benda yang dikorbankan, yang disaksikan para pejabat, pimpinan parisada, pemangku adat dan sebagian besar rakyat Tengger yang hadir dalam kegiatan kasodoan tersebut.
Kelima, acara pelemparan sesaji di kawah Gunung Bromo. Setelah penetapan para dukun sekitar pukul 06.00 dilanjutkan acara persembahan (lelabuhan) dengan cara melemparkan harta benda yang dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Acara ini berjalan secara tertif dan teratur. Meraka berbaris berjalan dari Pure Poten Luhur ke kawah Gunung Bromo sesuai dengan rombongan masing-masing. Rombongan pertama para pejabat pemerintah bersama pejabat Parisada Hindu Dharma, dilanjutkan rombongan para dukun, para legen dan peserta upacara (wong Tengger) dengan membawa ongkek atau benda-benda yang dikorbankan, dan rombongan terakhir masyarakat umum yang ikut turut berkorban atau hanya sekedar menyaksikan acara korban (Anas, 2013 : 29). Sebelum/sesudah melempar benda-benda yang dikorbankan, mereka berdoa atau membaca mantra-mantra sesuai dengan niatnya masing-masing. Pada hari berikutnya, sebagai penutup hari raya Kasada setiap desa mengadakan acara selamatan (pepujan) di pura, sanggar atau balai desa yang dipimpin oleh para dukun yang dibantu para legen dan Kepada Desa.


NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER TRADISI UPACARA KASADA DAN IMPLEMENTASINYA BAGI GENERASI MUDA
Tradisi upacara Kasada dilaksanakan setiap tahun sekali pada malam purnama pada bulan Kasada. Jika kita cermati upacara Kasada banyak mengandung nilai karakter. Nilai karakter merupakan nilai yang berkaitan dengan sikap, perilaku, motivasi, dan keterampilan sebagai perwujudan nilai dan kapasitas moral dalam menghadapi kesulitan (Sriwilujeng, 2002: 2). Nilai karakter dapat pula diartikan sebagai kepribadian yang terpuji seseorang yang menunjukkan jatidirinya (Hadi, 2017: 231). Nilai karakter yang tercermin dalam upacara Kasada sangat bermanfaat bagi generasi muda maupun masyarakat pada umumnya, yaitu sebagai acuan dan arahan dalam berfikir, bersikap dan berperilaku yang memperkuat jati diri sebagai bangsa yang beradap, serta sebagai benteng terhadap pengaruh negatif semakin gencarnya perkembangan arus globalisasi.
Salah satu nilai karakter yang dapat dipetik dari pelaksanaan upacara Kasada adalah nilai religius. Nilai religius merupakan nilai yang mencerminkan keimanan terhadap Tuhan yang diwujudkan melalui perilaku yang selaras dengan agama yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi toleransi, hidup rukun dan cinta damai (Sriwilujeng, 2002: 8). Nilai religius ini sangat melekat dan tercermin pada setiap tahapan upacara Kasada, dan bahkan nilai religius menjadi nilai karakter yang dominan. Melekatnya nilai-nilai religius, tidak terlepas dari tujuan pelaksanaan upacara Kasada sebagai upacara keagamaan, sebagai wujud rasa syukur, dan sebagai media untuk memohon berkah kepadayang menjaga Gunung Bromo.
Nilai pendidikan karakter yang juga dominan dalam upacara Kasada adalah nilai gotong royong dan pengorbanan. Semua warga Tengger,anak-anak, tua, muda, laki-laki, perempuan, tiap keluarga dan warga lingkungan turut terlibat aktif, bergotong-royong, saling menolong, rajin berkerja, bekerja keras, dan pantang menyerah untuk mewujudkan acara ritual itu dengan lancar dan sukses. Sikap rela berkorban, tanpa pamrih, kejujuran, ketulusan dan keikhlasan selalu mereka junjung tinggi sebagai bentuk rasa syukur kepada roh-roh halus, roh nenek moyang, dan Sang Hyang Widi yang telah menganugerahi kesehatan, keberkahan, keselamatan, kedamaian kepadamasyarakat Tengger. Mereka dengan ikhlas mengorbankan harta bendanya ke kawah Gunung Bromo, berupa hasil tanaman yang bagus, seperti kentang, bawang, wortel,jagung, kubis, atau juga binatang ternak, seperti ayam atau kambing (Hadi, 2017: 235).
Nilai pendidikan karakter yang lain dalam upacara Kasada yaitu nilai kepatuhan. Masyarakat Tengger setiap tahun sekali patuh melaksanakan tradisi upacara Kasada, dan tidak pernah sekalipun meninggalkan tradisi tersebut. Sesaji yang dipersembahkan diupayakan disesuaikan dengan yang digariskan oleh leluhurnya. Nilai kepatuhan tersebut pada dasarnya merupakan penggambaran sikap patuh masyarakat Tengger terhadap tradisi, adat, dan budaya leluhurnya. Nilai kepatuhan masyarakat Tengger dalam menjalankan tradisi, adat dan budayanya dapat dikatakan sebagai perwujudan kepatuhan Raden Kesuma kepada kedua orang, yang siap untuk menjadi korban demi keselamatan dan kedamaian masyarakat Tengger.
Pelaksanakan upacara Kasada juga mengandung nilai tanggung jawab sosial. Nilai tanggung jawab sosial, mereka tunjukkan dengan melaksanakan berbagai kewajiban dan mendukung berbagai prosesi dari awal sampai akhir, termasuk menampilkan berbagaiatraksi ataupun menghormati pelaksanaan berbagai acara(Hadi, 2017: 235).Perwujudan dari nilai tanggung jawab sosial yang berkualitas, dan adanya keterlibatan pemerintah dalam menyediakan fasilitas umum, dan daya dukung lainnya untukmendukung kelacaran dan kesuksesan acara ritual itu, dan menjadikan kawasan Bromo sebagai asset wisata budaya dan alam yang berkualitas. Hampir setiap pelaksanaan hari raya kasodoanselalu dihadiri ribuan para wisatawandomestik maupun mancanegara. Para wisatawan ini, tidak hanya menyaksikan upacara Kasada, tetapi juga menikmati keindahan kawasan Bromo. Adanya wisatawan tersebut, secara ekonomi berpengaruh positif terhadap pendapatan orang-orang Tengger. Terhadap para wisatawan ini, masyarakat Tengger merespon secara positif, terbuka, toleran, dan tetap menunjukkan sikaphidup rukun dan cinta damai.
Nilai-nilai pendidikan karakter dapat diperoleh melalui sosialisasi informal dan formal. Sosialisasi secara informal dapat diperoleh secara langsung menyaksikan pelaksanaan upacara Kasada. Selain itu, sosialisasi informal dapat diperoleh melalui youtobe, film, TV, medsos, atau melalui wawancara, serta membaca melalui akses internet, medsos, prosiding, jurnal maupun buku tentang tradisi, adat, dan budaya upacara Kasada. Sedangkan sosialisasi formal dapat dilakukan dengan memasukkan materi tradisi, adat atau budaya upacara Kasada ke dalam mata pelajaran sejarah atau diintegrasikan ke dalam mata pelajaran sejarah. Untuk jenjang pendidikan SMA/MA, materi tradisi, adat, atau budaya upacara Kasada dapat dimasukkan ke dalam matari pembelajaran sejarah pada KD. 3.6 dan KD. 4.6 pada mata pelajaran “Sejarah Indonesia” kelas X. Sosialisasi secara formal juga dapat diperoleh melalui kajian-kajian dalam kegiatan seminar, dialog, sarasehan dan sejenisnya tentang materi tradisi, adat, atau budaya upacara Kasada.
Nilai-nilai pendidikan karakter baik yang diperoleh melalui proses sosialisasi informal maupun formal untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lingkungan sekolah penanaman nilai pendidikan karakter sebaiknya dilakukan secara terprogram dan berkelanjutan. Agar penanaman nilai karakter berjalan efektif maka perlu adanya keteladanan, pembiasaan dan budaya sekolah yang berkarakter. Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut dapat dijadikan sebagai acuan generasi muda dalam mengembangkan sikap dan perilaku di tengah-tengah perkembangan arus globalisasi, dan bermanfaat untuk mencegah atau mengurangi pengaruh negatif perkembangan arus globalisasi tersebut.

SIMPULAN
Tradisi upacara Kasada merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pencipta(Syang Hyang Widhi) yang telah melimpahkan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan kepada masyarakat Tengger. Tradisi upacara tradisional ini telah berlangsung secara turun-temurun dan mampu bertahan hingga masa kini. Pada dasarnya tradisi upacara Kasada bertujuan untukmemperingati pengorbanan para leluhurnya yang berasal dari Majapahit yang berupaya menjaga keselamatan dan kedamaian masyarakat Tengger, melestarikan alam dan Gunung Bromo, serta menjalin hubungan baik dengan Tuhan Yang Maha Pencipta(Syang Hyang Widhi). Upacara tradisional tersebut pada masa kini telah menjadi wisata budaya dan alam yang banyak dikunjungi para wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tradisi upacara Kasada terdiri atas lima tahap yaitu sebagai berikut; (1) pengambilan air (tirta) suci di berbagai lokasi yang diyakini sebagai air suci, (2) pembukaan hari raya Kasada antara lain dihadiri para pejabat pemerintah, pimpinan Parisada Hindu, dan para dukun,serta ditampilkan pertunjukan sendratari Roro Anteng dan Joko Seger, (3) upacara ritual Kasada di Pure Luhur Poten, berupa rangkaian acara ritual yang dakhiri dengan persembahyangan, (4) pemilihan dan penetapan para dukun masyarakat Tengger, dan (5) lelabuhan atau pelemparan sesaji/harta benda yang dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Pada hari berikut masing-masing desa mengadakan selamatan sebagai penutup hari raya kasodoan.
Tradisi upacara Kasada banyak mengandung nilai-nilai pendidikan karakter antara lain meliputi; nilai religius, nilai toleransi, nilai cinta damai, nilai gotong royong, nilai pengorbanan, nilai tanggung jawab sosial. Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut diperoleh melalui proses secara informal maupun formal, untuk implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam bersikap dan beperilaku, dan bermanfaat untuk mencegah atau mengurangi pengaruh negatif perkembangan globalisasi. Untuk lingkungan sekolah, proses sosialisasi nilai-nilai pendidikan karakter perlu diprogramkan dan berkelanjutan. Agar sosialisasi berjalan efektif perlu didukung adanya keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah yang berkarakter.


DAFTAR RUJUKAN
Abdullah,Taufik. 2002.Agama dan Upacara.Jakarta:Jayakarta Agung Offset.
Anas, Mohamad. 2013. Telaah Metafisik Upacara Kasada, Mitos dan Kearifan Hidup Dalam Masyarakat Tengger, dalam Kalam, Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume 1, Juni 2013.
Hadi, Nur. 2017. Menggali Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Berwawasan Kebangsaan Dari Tradisi Kasada Pada Masyarakat Tengger di Kantong Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, dalam Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 Vol. 1 No. 1 2017
Kusumadinata AA. 2015. Proses Enkulturasi Dalam Budaya Entas-Entas, Praswala Gara, Dan Pujan Kapat (Sistem Sosial Lokal: Antar Etnis Kabupaten Probolinggo), dalam Jurnal Komunikatio 1(1).
Lampiran Permendikbud RI Nomor 37 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Permendikbud RI Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran Pada Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pramita, Nindya Helvy, dkk. 2013. Etnobotani Upacara Kasada Masyarakat Tengger, di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, dalam Journal of Indonesian Tourism andDevelopment Studies, E-ISSN : 2338-1647.
Masmuh, Abdullah, dkk. 2003. Agama Tradisional. Yogyakarta: Lkis.
Suprapta, Basilius. 2007. Kawasan Dataran Tinggi Malang: Dari Masa Prasejarah Hingga Hindu-Budha, Malakah Disampaikan Dalam kegiatan Subject Content SMA Negeri 10 Malang tgl 26-27 Oktober 2007, Malang: Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, UM.
Sudiro. 2001. Legenda dan Religi Sebagai Media Integrasi Bangsa, dalam Jurnal Humaniora, Volume VIII, 1 Februari 2001.
Sutarto, Ayu. 2006. Sekilas Tentang Masyarakat Tengger. Makalah disampaikan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, tanggal 7-10 Agustus 2016.
Sriwilujeng, Dyah. 2002. Panduan Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter. Jakarta: Esensi Erlangga Grup.
Widiono, S. 2019. Pengembangan Nasionalisme Generasi Muda di Era Globalisasi, dalam Jurnal PopulikaVolume 7, Nomer 1, Januari 2019
Widyoprakoso, Simanhadi. 1994. Masyarakat Tengger:Latar Belakang DaerahTamanNasional Bromo. Yogyakarta: Kanisius.



PENERAPAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MATERI AJAR “PERUBAHAN BENDA” SISWA KELAS VI SDN TUGUSARI 05




PENERAPAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MATERI AJAR “PERUBAHAN BENDA” SISWA KELAS VI SDN TUGUSARI 05

SAIFUL BAHRI

Abstrak: Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas adalah meningkatkan hasil belajar melalui, Penerapan Metode Eksperimen Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020. Rancangan penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas , yaitu penelitian yang bersifat kolaboratif yang di dasarkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Perubahan benda” di kelas VI SD Negeri Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember tahun pelajaran 2019/2020. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model penelitian tindakan Hopkins dengan tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Hasil penelitian: Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa Penerapan Metode Eksperimen Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020.


Kata Kunci : Metode Eksperimen Dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Alam adalah salah satu mata pelajaran yang banyak disukai siswa khususnya siswa sekolah dasar. Menurut mereka Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran yang menarik dan tidak membosankan dikarenakan Ilmu Pengetahuan Alam membahas tentang lingkungan alam atau kejadian-kejadian dialam. Namun meski mereka menyukai mata pelajaran ini, hasil belajarnya atau nilainya pada mata pelajaran ini masih dibilang rendah, dikarenakan siswa hanya mempelajari teorinya saja.
Mereka tidak ditugaskan untuk membuktikan suatu fakta yang terdapat pada mata pelajaran jadi mereka dapat dengan mudah melupakan suatu hal yang dipelajarari dan guru guru kebanyakan hanya menggunakan metode yang itu itu saja.
Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam khususnya materi ajar “Perubahan Benda” di Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 masih relatif rendah dibandingkan dengan pada mata pelajaran lain. Hasil belajar siswa dapat diketahui dari nilai yang diperoleh yaitu hanya 13 siswa atau hanya 59% dari seluruh jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar.
Berdasarkan hal tersebut diatas peneliti yang juga sebagai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam melaksanakan perbaikan pembelajaran dengan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan metode eksperimen dengan harapan metode ini dapat membuat jangka waktu ingatan siswa terhadap hal hal yang sudah dipelajari dapat bertahan lebih lama. Dalam metode eksperimen mengharuskan siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri hal hal yang sudah dipelajari.
Metode eksperimen adalah sebuah penyajian pelajaran yang dimana para siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen ini, para siswa diberi kesempatan oleh guru untuk mengalami atau melakukan sendiri, membuktikan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan, atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran, atau mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya itu (Wina Sanjaya, 2010).
Metode Eksperimen dibedakan menjadi dua, yaitu eksperimen yang terencana atau terbimbing dan eksperimen bebas.
  1. Metode eksperimen terbimbing adalah metode yang seluruh jalannya percobaan telah dirancang oleh guru sebelum percobaan dilakukan oleh siswa, baik dari langkah langkah percobaan, peralatan yang harus digunakan apa yang harus diamati dan diukur semuanya sudah ditentukan sejak awal oleh guru.
Beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru dalam eksperimen terbimbing yaitu :
  • Memilih eksperimen apa yang akan ditugaskan kepada siswa
  • Merencanakan langkah langkah percobaan seperti, apa tujuan percobaan, apa saja alat perlengkapan percobaan yang akan digunakan, bagaimana menganalisis data, dan apa kesimpulannya
  • Guru mempersiapkan semua peralatan peralatan yang akan digunakan sehingga pada saat siswa memulai kegiatan semuanya sudah siap dan berjalan dengan baik
  • Pada saat percobaan berlangsung guru berkeliling melihat bagaimana siswa melakukan percobaannya dan memberikan masukan kepada siswa
  • Bila saat ada alat percobaan yang sedang macet, guru bisa membantu siswa untuk menjalankan/memperbaiki alat tersebut
  • Guru dapat membantu para siswa untuk menarik kesimpulan dengan percobaan yang dilakukan
  • Bila siswa membuat laporan, guru harus melihat/mengeceknya
  • Guru sebaiknya mempersiapkan petunjuk dan langkah langkah percobaan dalam satu lembar kerja sehingga memudahkan siswa berkerja
Hal-hal yang harus dilakukan oleh siswa dalam percobaan antara lain sebagai berikut :
  • Siswa harus membaca petunjuk percobaan dengan teliti
  • Mencari alat yang diperlukan
  • Merangkaikan alat alat sesuai dengan skema percobaan
  • Mulai mengamati jalannya percobaan
  • Mencatat data yang diperlukan
  • Mendiskusikan dalam kelompok untuk mengambil kesimpulan dari data yang ada
  • Membuat laporan percobaan dan mengumpulkannya
  • Dan dapat pula siswa mempresentasikan percobaannya didepan kelas
  1. Metode eksperimen bebas yaitu dalam eksperimen guru tidak memberikan petunjuk pelaksanaan percobaan terinci, dengan kata lain siswa harus lebih banyak berfikir sendiri, bagaimana akan merangkai rangkaian, apa yang harus diamati, diukur dan dianalisis serta disimpulkan. Dengan percobaan bebasmenantang siswa untuk merencanakan percobaan sendiri tanpa banyak dipengaruhi oleh arahan guru dan dapat membangun kreativitas siswa.
Tujuan metode eksperimen :
  • Mengajar bagaimana menarik kesimpulan dari berbagai fakta, informasi atau data yang berhasil dikumpulkan melalui pengamatan terhadap proses eksperimen
  • Mengajar bagaimana menarik kesimpulan dari fakta yang terdapat pada hassil eksperimen, melalui eksperimenyang sama
  • Melatih siswa merancang, mempersiapkan, melaksanakan, dan melaporkan percobaan
  • Melatih siswa menggunakan logika induktif untuk menarik kesimpulan dari fakta, informasi atau data yang terkumpul melalui percobaan (W. Gulo,  2008; Moedjiono dan Dimyati, 2002)
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan metode eksperimen adalah agar siswa siswi dapat merancang, mempersiapkan, melaporkan,  melaksanakan, membuktikan serta menarik kesimpulan dari berbagai fakta dan informasi yang didapat ketika mereka melakukan percobaan sendiri.

Langkah langkah Metode Eksperimen
Menurut Moedjiono dan Moh Dimyati, prosedure pemakaian metode eksperimen, langkah langkahnya :
  1. Mempersiapakan pemakaian metode eksperimen yang mencakup kegiatan-kegiatan :
  • Menetapkan kesesuaian metode eksperimen terhadap tujuan  tujuan yang hendak dicapai
  • Menetapkan kebutuhan peralatan, bahan, dan sarana lain yang dibutuhkan dalam eksperimen sekaligus memeriksa ketersediannya disekolah
  • Mengadakan uji eksperimen (guru mengadakan eksperimen sendiri untuk menguji ketetapan proses dan hasilnya) sebelum menugaskan kepada siswa, sehingga guru dapat mengetahui apa apa saja kemungkinan yang akan terjadi
  • Menyediakan peralatan, bahan, dan sarana lain yang dibutuhkan untuk eksperimen yang akan dilakukan
  • Guru menyediakan lembar kerja
  1. Melaksanakan pemakaian metode eksperimen, dengan kegiatan kegiatan :
  • Mendiskusikan dengan bersama sama seluruh siswa mengenai prosedur, peralatan, dan bahan untuk eksperimen serta hal hal yang perlu dicatat dan diamati selama eksperimen
  • Membantu, membimbing, dan mengawasi eksperimen yang dilakukan oleh siswa dimana para siswa mengamati serta mencatat hal hal yang dieksperimenkan
  • Para siswa membuat kesimpulan dan laporan tentang eksperimennya
  1. Tindak lanjut pemakaian metode eksperimen, melalui kegiatan kegiatan
  • Mendiskusikan hambatan hambatan yang ditemui dan hasil hasil eksperimen
  • Membersihkan dan mengumpulkan peralatan peralatan lalu disimpan, bahan atau saran lainnya
  • Evaluasi akhir eksperimen oleh guru
Kelebihan Dan Kekurangan metode eksperimen
Kelebihan Metode Eksperimen
    1. Membuat siswa percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya
    2. Dapat membina siswa untuk membuat terobosan terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia
    3. Hasil dari percobaan para siswa yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat


Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan dicarikan solusinya dirumuskan sebagai berikut, Penerapan Metode Eksperimen Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 ?

Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas adalah mengkaji tentang, Penerapan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020.

Manfaat Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan ini diharapkan dapat bermanfaat,
  1. Bagi siswa, dari penelitian ini diharapkan siswa dapat mengembangkan cara belajar bersama dan menjadi lebih kreatif serta aktif dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan,
  2. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan teknik/metode pembelajaran yang dapat digunakan,
  3. Bagi sekolah, dapat meningkatkan mutu pembelajaran yang diharapkan akan memberikan sumbangan bagi peningkatan mutu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.


METODE PENELITIAN

Waktu Dan Tempat/Lokasi Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 dan dilaksanakan di Kelas VI SD Negeri Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.

Subyek Dan Obyek Penelitian
Yang menjadi subyek dan sekaligus menjadi obyek dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah seluruh siswa Kelas VI SD Negeri Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 yang berjumlah sebanyak 22 siswa, serta proses pembelajarandan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar ”Perubahan Benda” melalui penerapan metode eksperimen.

Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas , yaitu penelitian yang bersifat kolaboratif yang di dasarkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Perubahan benda” di kelas VI SD Negeri Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember tahun pelajaran 2019/2020.
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model penelitian tindakan Hopkins dengan tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Siklus yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini bersifat fleksibel, jika pada siklus I telah tercapai seperti yang diinginkan yaitu meningkatkan hasil belajar siswa, maka pelaksanaan siklus berikutnya di hentikan, maksudnya pelaksanaan siklus akan berakhir jika tujuan sudah tercapai dan jika belum tercapai maka berlaku siklus II, III, hingga tujuan yang diharapkan tercapai. (Sukidin, 2002; Arikunto, 2012)
Pelaksanaan siklus yang akan diterapkan dalam penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang telah di desain dalam faktor­faktor yang diselidiki. Observasi tersebut meliputi : faktor siswa, faktor guru, proses pembelajaran, hasil belajar siswa. Adapun desain siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut :









Penelitian ini di rencanakan menggunakan tiga siklus, narnun apabila pada siklus I diperoleh ketuntasan secara klasikal maka penelitian selesai dan apabila belum mencapai ketuntasan maka penelitian ini akan dilanjutkan pada siklus berikutn

Tindakan Pendahuluan
Tindakan pendahuluan dilakukan sebagai langkah awal sebelum pelaksanaan siklus. Beberapa kegiatan pendahuluan itu adalah :
  1. Observasi
Kegiatan observasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui metode eksperimen dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada materi ajar “Perubahan Benda”.
  1. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada siswa kelas VI tentang pembelajaran selama ini.

Pelaksanaan siklus
Siklus yang dilaksanakan terdiri dari tahapan perencanaan, tindakan observasi, dan refleksi. Apabila dalam siklus pertama telah tercapai hasil yang diinginkan, yaitu ketuntasan belajar siswa mencapai minimal ≥ 85% dari seluruh jumlah siswa maka pelaksanaan siklus dihentikan, tetapi jika belum dicapai maka siklus kedua perlu dilakukan dan seterusnya. Adapun kegiatan dalam setiap siklus adalah sebagai berikut :
  1. Perencanaan Pembelajaran
Kegiatan perencanaan ini meliputi :
  • Menetapkan kesesuaian metode eksperimen terhadap tujuan  tujuan yang hendak dicapai
  • Menetapkan kebutuhan peralatan, bahan, dan sarana lain yang dibutuhkan dalam eksperimen sekaligus memeriksa ketersediannya disekolah
  • Mengadakan uji eksperimen (guru mengadakan eksperimen sendiri untuk menguji ketetapan proses dan hasilnya) sebelum menugaskan kepada siswa, sehingga guru dapat mengetahui apa apa saja kemungkinan yang akan terjadi
  • Menyediakan peralatan, bahan, dan sarana lain yang dibutuhkan untuk eksperimen yang akan dilakukan
  • Guru menyediakan lembar kerja
  1. Tindakan
Melaksanakan pemakaian metode eksperimen, dengan kegiatan kegiatan :
  • Mendiskusikan dengan bersama sama seluruh siswa mengenai prosedur, peralatan, dan bahan untuk eksperimen serta hal hal yang perlu dicatat dan diamati selama eksperimen
  • Membantu, membimbing, dan mengawasi eksperimen yang dilakukan oleh siswa dimana para siswa mengamati serta mencatat hal hal yang dieksperimenkan
  • Para siswa membuat kesimpulan dan laporan tentang eksperimennya
  • Mendiskusikan hambatan hambatan yang ditemui dan hasil hasil eksperimen
  • Membersihkan dan mengumpulkan peralatan peralatan lalu disimpan, bahan atau saran lainnya
  • Evaluasi akhir eksperimen oleh guru
  1. Observasi
Kegiatan observasi dilakukan bersama-sama dengan pelaksanaan tindakan. Hal yang diobservasi adalah aktivitas siswa di dalam mengikuti pembelajaran, aktivitas siswa di dalam kelas maupun aktitivitas siswa antar kelompok selama proses pembelajaran.
  1. Refleksi
Kegiatan refleksi diperlukan untuk menemukan kekurangan-kekurangan yang terjadi, sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasi serta menetapkan sasaran perbaikan baru, menyusun perencanaan baru, mengimplementasikan tindakan baru atau menjelaskan penyebab terjadinya kegagalan sehingga perlu dilakukan perbaikan atau tidak.
Hasil dari refleksi digunakan untuk menetapkan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya untuk mencapai tujuan Penelitian Tindakan Kelas. Tujuan ini guna mengetahui hasil tindakan pada siklus I dan hasil belajar yang dicapai, kelemahan serta kendala yang dialami. Jika klasikal pencapaian nilai ≥85 % maka siklus II tidak dilakukan, namun apabila belum mencapai standar ketuntasan klasikal maka dilakukan silkus II.

Pelaksanaan Siklus II
  1. Revisi Perencanaan
Revisi perencanaan pada siklus II sama dengan siklus I tetapi lebih menekankan pada perbaikan dari perencanaan siklus I.
  1. Pelaksanaan tindakan
Tindakan pada siklus II ini tidak jauh beda dengan siklus I yaitu melaksanakan metode eksperimen dalam pembelajaran namun apabila pencapaian nilai sesuai dengan standar ketuntasan hasil belajar maka tidak perlu melanjutkan siklus selanjutnya, sebaliknya apabila belum berhasil dari pencapaian siklus II maka perlu dilakukan siklus III (berikutnya)
  1. Observasi
Kegiatan pada tahap ini sama dengan observasi pada siklus I hal yang diobservasi adalah kegiatan guru (peneliti) dan aktivitas siswa dan kelompok.
  1. Refleksi
Refleksi dilakukan berdasarkan hasil observasi dan hasil evaluasi yang meliputi tugas rumah (PR), proyek, LKS dan tes akhir. Tujuannya guna mengetahui hasil tindakan pada siklus I dan hasil belajar yang dicapai, kelemahan serta kendala yang dialami. Jika secara klasikal ketuntasan belajar siswa telah mencapai ≥85 % mencapai nilai ≥ 65 maka siklus II tidak dilakukan apabila belum mencapai standar ketuntasan klasikal maka akan dilakukan siklus berikutnya sampai mengalami ketuntasan belajar yang diharapkan.

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data (Arikunto, 1993:136). Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, dokumentasi, wawancara dan tes.
Observasi
Observasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengamatan yang dilakukan observer kepada siswa untuk melihat aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis seperti buku-buku, majalah, catatan harian. Peraturan-peraturan, notulen rapat dan sebagainya. Obyek yang menjadi perhatian penelitian dapat berupa tulisan dan kertas (paper), tempat (place) atau orang (person).

Wawancara
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terpimpin, dimana peneliti sudah menyiapkan terlebih dahulu pertanyaan yang akan diajukan pada penjawab atau responden. Wawancara ini berisi pertanyaan tentang tanggapan beberapa siswa mengenai metode eksperimen dan model pembelajaran konvensional. Wawancara diarahkan untuk memperoleh data tentang model pembelajaran yang diterapkan.
Tes
Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan, bakat yang dimiliki individu atau kelompok (Arikunto, 2006:150). Sebagai instrumen pengumpul data, tes dibedakan menjadi 2 yaitu :
  1. Tes buatan guru, yaitu tes yang disusun oleh guru dengan prosedur tetapi belum mengalami uji coba berkali-kali sehingga tidak diketahui ciri-ciri dan kebaikannya atau kekurangannya.
  2. Tes terstandar (standardized test), yaitu tes yang biasanya sudah tersedia di lembaga testing, yang sudah terjamin kualitas dan validitasnya karena sudah mengalami uji coba berulang kali.
Dalam setiap tes terstandar selalu terdapat petunjuk pelaksanaan, waktu yang dibutuhkan, bahan yang tercakup, validitas maupun reliabilitas tes tersebut (Arikunto, 2002:146-147).
Bentuk dari tes tertulis ada 2 macam, yaitu :
  1. Tes subyektif, yang pada umumnya berbentuk essay (uraian) yaitu sejenis tes kemampuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata.
  2. Tes obyektif, adalah tes yang ada dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara obyektif (Arikunto, 2002:162-164).
Tes hasil belajar yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda dan uraian essay. Karena dengan soal pilihan ganda dapat mencakup materi secara keseluruhan sedangkan soal uraian digunakan untuk mengukur kreativitas siswa dalam berfikir sehingga dapat diketahui apakah benar-benar menguasai dengan baik materi yang telah diberikan.

Analisis Data
Analisis data merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul, sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan. Data dianalisis dengan menggunakan deskriptif yaitu mendiskripsikan besarnya kejadian atau fenomena yang terjadi di dalam populasi penelitian (Nawawi, 1999:63).
Analisis data adalah cara yang paling menetukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenaranya. Data yang akan di analisis dalam penelitian ini adalah : 1) Kegiatan siswa selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi yaitu meliputi aspek, afektif, psikomotor, 2) hasil dari tugas dan ulangan harian siswa (aspek kognitif).
Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila guru dapat menerapkan metode eksperimen pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Perubahan Benda” dengan baik, sehingga dapat meningkatkan efektifitas belajar siswa dan ketuntasan hasil belajar siswa.




HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Hasil observasi yang dilakukan saat pembelajaran konvensional pada kondisi awal dapat diketahui bahwa, hanya beberapa siswa saja yang terlihat antusias dalam belajar. Keantusiasan siswa dapat dilihat pada saat berdiskusi baik kelompok maupun diskusi kelas dan siswa pun mau mengerjakan tugas mandiri. Dalam hal ini guru menjelaskan materi pelajaran dan aktivitas siswa, hanya mendengarkan.
Pada pembelajaran kondisi awal ini siswa masih sering kurang paham akan materi yang yang diajarkan terlebih jika ada kata-kata sulit. Suasana kelas pun seringkali nampak tegang sehingga berpengaruh terhadap daya serap siswa dalam menerima pelajaran.
Hasil belajar Siswa yang diajarkan dengan model konvensional pada kondisi awal ini masih belum mencapai ketuntasan seperti yang diharapkan, yaitu dari 22 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebesar 41% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 13 siswa atau sebesar 59%. Nilai tersebut diatas menjadi titik tolak dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini. Selanjutnya ketuntasan hasil belajar dapat dilihat pada tabel sebagai berikut,

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 Pada Kondisi Awal

Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase (%)
<65
9
41%
65-100
13
59%
Jumlah
22
100%
Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan ketuntasan hasil belajar yang diperoleh pada kondisi awal di atas, selanjutnya peneliti melaksanakan perbaikan pembelajarn untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode Eksperimen pada siklus I.
Metode eksperimen adalah sebuah penyajian pelajaran yang dimana para siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen ini, para siswa diberi kesempatan oleh guru untuk mengalami atau melakukan sendiri, membuktikan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan, atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran, atau mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya itu. Pada akhir pembelajaran siklus I dilaksankan analisa data melaui tes yang hasilnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini,
Selanjutnya analisis data untuk memperoleh ketuntasan maka peneliti melanjutkan analisis pada siklus I, sebagaimana tabel di bawah ini.




Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Melalui Metode Eksperimen Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 Pada Siklus I
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase (%)
<65
4
18%
65-100
18
82%
Jumlah
22
100%
Sumber : Data yang diolah

Tabel 2 diatas menjelaskan bahwa pada siklus I, hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Perubahan Benda” yaitu, dari 22 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 18% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 menjadi sebanyak 18 siswa atau sebesar 82%. Meskipun ketuntasan belajar siswa pada siklus I sudah mencapai peningkatan ketuntasan hasil belajar namun secara klasikal masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal seperti yang diharapkan.
Untuk memperoleh ketuntasan belajar yang lebih baik maka penelitian dan analisa data dilanjutkan pada siklus II. Pelaksanaan siklus II hanya sebagai pengulangan dan penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Pada siklus II masih menerapkan metode dan materi ajar yang sama dengan siklus I.
Hasil analisa data pada akhir pembelajaran siklus II, dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini,

Tabel 3. Ketuntasan Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Melalui Metode Eksperimen Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 Pada Siklus II
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase (%)
<65
1
5%
65-100
21
95%
Jumlah
22
100%
Sumber : Data yang diolah

Tabel 3 diatas menjelaskan bahwa, hasil belajar siswa pada siklus II, dari 22 siswa hanya 1 siswa atau hanya sebesar 5% yang mendapat nilai < 65 dan yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 21 siswa atau sebesar 95%. Dengan demikian pada hasil belajara siswa pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal dan penelitian tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Peningkatan hasil belajar siswa mulai dari kondisi awal sampai dengan siklus II dapat dilihat dengan lebih jelas pada tabel dan grafik perbandingan di bawah ini,







Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Kriteria
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
(%)
Siswa
(%)
Siswa
(%)
< 65
9
41%
4
18%
1
5%
65-100
13
59%
18
82%
21
95%
Jumlah
22
100%
22
100%
22
100%
Sumber : Data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Sumber : Data Yang Diolah

Pembahasan
Peningkatan ketuntasan hasil belajar yang diperoleh siswa dalam penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa penerapan metode eksperimen sangat cocok diterapkan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam khususnya materi ajar “Perubahan Benda”. Hal ini dapat dipahami karena metode eksperimen membuat siswa percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya. Metode ini dapat membina siswa untuk membuat terobosan terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, serta hasil dari percobaan para siswa yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat.
Hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model konvensional pada kondisi awal ini masih belum mencapai ketuntasan seperti yang diharapkan, yaitu dari 22 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebesar 41% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 13 siswa atau sebesar 59%. Nilai tersebut diatas menjadi titik tolak dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini.
Pada siklus I pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan metode eksperimen, hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Perubahan Benda” yaitu, dari 22 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 18% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 menjadi sebanyak 18 siswa atau sebesar 82%. Meskipun ketuntasan belajar siswa pada siklus I sudah mencapai peningkatan ketuntasan hasil belajar namun secara klasikal masih belum mencapai ketuntasan secara klasikal seperti yang diharapkan.
Untuk memperoleh ketuntasan belajar yang lebih baik maka penelitian dan analisa data dilanjutkan pada siklus II. Pelaksanaan siklus II hanya sebagai pengulangan dan penyempurnaan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Pada siklus II masih menerapkan metode dan materi ajar yang sama dengan siklus I.
Hasil belajar pada siklus II, dari 22 siswa hanya 1 siswa atau hanya sebesar 5% yang mendapat nilai < 65 dan yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 21 siswa atau sebesar 95%. Dengan demikian pada hasil belajara siswa pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal dan penelitian tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Nilai hasil belajar yang diperoleh dalam penelitian ini, adalah hasil dari nilai tugas yang diperoleh melalui observasi saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Hasil belajar diperoleh melalui lembar pedoman observasi penilaian yang diberikan pada observer dengan maksud untuk membantu peneliti mengamati dan menilai proses belajar mengajar pada awal hingga akhir proses pembelajaran, seadangkan nilai hasil belajar siswa diperoleh dari nilai ulangan harian dan nilai tugas.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa Penerapan Metode Eksperimen Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Perubahan Benda” Siswa Kelas VI SDN Tugusari 05 Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020.

Saran-Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini ada beberapa saran yang perlu dipertimbangkan lain: 1)Kepada guru hendaknya dapat menerapkan metode Eksperimen untuk materi ajar yang lain; 2)Kepada pengambil kebijakan hendaknya memperhatikan dan dapat proaktif terhadap penerapan model-model pembelajaran yang aktual.

DAFTAR RUJUKAN
Agus Mulyadi, 2002, Penyusunan Karya Tulis Ilmiah, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Arikunto, Suhardjono dan Supardi. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Dimyati, Mujiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: ASMP; Mahasatya.
Syaiful Bahri, Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Rineka Cipta 2013
Roestiyah NK., 1988, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara.
Suardi, M. 2015. Belajar Dan Pembelajaran. Yogyakarta : Deepublish
Syaiful Sagala, 2010. Konsep Dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alvabeta.
Sudjana, N. 2011. Penilaian Hasil Proses Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
W. Gulo,  2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Gramedia.
Wina Sanjaya, 2010.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan . Jakarta: Kencana.